HATI-HATI DENGAN RASA RINDU
Rindu menurut para ulama ialah sesuatu perkara yang berlaku karena terlalu mencintai seseorang. Maka terkadang rindu dibaluti dengan sikap gelisah. Terkadang ada juga yang terlalu berlebih-lebihan dalam mengungkapkan kalimat rindu sehingga melampaui batas yang diletakkan oleh syarak.
Rindu !! siapa yang tidak pernah merasakan rindu pada seseorang? bukanlah semua dari rasa rindu itu tidak baik, karena rindu yang dihiasi dengan iman dan taqwa akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi sang perindunya.
Rindu seperti yang kita ketahui, merupakan perkara yang berlaku selepas hadirnya cinta. Maksudnya, bila cinta mekar, maka rindu akan hadir secara tidak langsung. Rindu juga merupakan bagian dari hati yang mana manusia tiada kuasa untuk menghalangnya.
DR. 'Aidh al-Qarni dalam karya fenomenalnyayang sangat terkenal, La Tahzan, memperingatkan bahwa agar kita jangan pernah merindukan sesuatu secara berlebihan. Karena, yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam. Seorang muslim akan bahagia jika ia dapat menjauhi keluhan, kesedihan, dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mengatasi keterasingan, keterputusan, dan keterpisahan yang dikeluhkan para penyair. Betapapun yang demikian itu adalah kehampaan hati.
"Tidakkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Rabb-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?" (QS. Al-Jatsiyah:23)
ada sebuah bait syair mengatakan "Akulah yang menarik ujung kematian itu. Siapakah yang akan dituntut, ketika si korban sendiri yang terdakwa?". Maksud bait syair tersebut adalah kita berhak merasakan sakit dan menderita, sebab kita adalah penyebab utama dari semua yang terjadi.
Ibn Qayyim telah memberikan terapi yang sangat manjur tentang masalah ini dalam bukunya Ad Da'wad Dawa atau Al Jawab asy Syafi'an Man Sa'ala 'anid Dawa' asy Syafi. Buku ini sangat terkenal. Saya sarankan kepada pembaca untuk merujuk kepada kedua buku tersebut.
Rasa suka yang berlebihan itu banyak sebabnya. Di antaranya:
1. Hati yang tak terisi oleh rasa cinta, rasa syukur, dzikir, dan ibadah kepada Allah.
2. Membiarkan mata jalang. Mengumbar mata adalah jalan yang menghantarkan pada kesedihan dan keresahan.
"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya". (QS. An-Nur:30)
"Rasulullah SAW juga bersabda, "Pandangan (mata) itu adalah satu dari sekian banyak panah iblis."
Jika kauliarkan matamu kepada semua mata, maka semua pemandangan akan membuatmu lelah. kau lihat pemandangan, tetapi tak seluruhnya mampu kau lihat dan kau tatap.
3. Meremehkan Ibadah, Dzikir, do'a dan shalat nafilah.
"Sesungguhnya, shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar." (QS. Al-Ankabut:45)
Adapun cara kita untuk mengobatinya adalah..,
"Demikianlah, agar kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya, Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih." (QA. Yusuf:24)
1. Berusahalah untuk selalu berada di pintu-pintu ibadah dan memohon kesembuhan kepada Yang Maha Agung.
2. Merendahkan pandangan dan menjaga kemaluan.
3. Menjauhkan hati dari hal-hal yang bisa mengingat dan berusaha melupakannya.
4. Menyibukkan diri dengan amal saleh yang berguna.
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada kami dengan harap dan cemas." (QS. Al-Anbiya:21)
5. Menikah secara syar'i agar rasa rindu kita terhadap seseorang tersebut membuahkan pahala.
"Maka, kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi". (QS. AN-Nisa:3)
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya". (QS. Ar-Rum:21)
Rasulullah SAW bersabda, "Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, hendaklah menikah".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar