“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.
Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.
Terjemahannya:
“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.
Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi).”
Minggu, 01 November 2015
PIWULANG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"
Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...
-
TIGA BAPA TERRIER dikenal sebagai orang berpendidikan. Ia tak hanya memelajari ilmu agama tapi juga banyak membaca filsafat, di ...
-
*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 05-02* Karya. : SH Mintardja “Minum, ambilkan aku minum.” Ken Umang berteriak. Seorang emban dengan b...
-
*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 27-02* Karya. : SH Mintardja “Jika aku berhasil menangkapnya hidup atau mati, maka aku akan menjadi o...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar