Jumat, 20 November 2015

Musibah Adalah Karena Dosa Kita 

Musibah Adalah Karena Dosa Kita 

Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)

Berbagai musibah terjadi di negeri yang kita cintai ini, dari mulai gempa, angin kencang, longsor, banjir, dan berbagai macam wabah penyakit serta berbagai bentuk krisis, baik krisis ekonomi, keamanan, maupun akhlak. Semua itu, satu persatu, silih berganti datang menjelang, belum selesai tertangani masalah yang satu, muncul masalah yang lain.

Ada apa gerangan? Simaklah sebuah kabar yang tidak mungkin salah dan pasti benarnya, yang berasal dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman :

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” (QS. Asy-Syuuraa: 30).

Ibnu Katsiir rahimahullah menjelaskan,

وقوله وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم أي مهما أصابكم أيها الناس من المصائب فإنما هو عن سيئات تقدمت لكم ويعفو عن كثير أي من السيئات ، فلا يجازيكم عليها بل يعفو عنها، ولو يؤاخذ الله الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة

“Dan firman-Nya (yang artinya) dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian maksudnya wahai manusia! musibah apapun yang menimpa kalian, semata-mata karena keburukan (dosa) yang kalian lakukan. “Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” maksudnya adalah memaafkan dosa-dosa kalian, maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun (Faathir: 45) (Tafsir Ibnu Katsiir: 4/404).


Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada satupun musibah yang menimpa hamba-hamba-Nya, baik musibah yang menimpa tubuh, harta, anak, dan menimpa sesuatu yang mereka cintai serta (musibah tersebut) berat mereka rasakan, kecuali (semua musibah itu terjadi) karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan dan bahwa dosa-dosa (mereka) yang Allah ampuni lebih banyak.

Karena Allah tidak menganiaya hamba-hamba-Nya, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun, dan menunda siksa itu bukan karena Dia teledor dan lemah.

Tidak ada satupun musibah yang menimpa seorang hamba, demikian pula musibah yang lebih besar (dan luas) darinya, kecuali karena sebab dosa yang Allah mengampuninya hanya dengan (cara menimpakan) musibah tersebut (kepadanya) atau  Allah hendak mengangkat derajatnya (kepada suatu derajat kemuliaan) hanya dengan (cara menimpakan) musibah tersebut (kepadanya).

Merupakan perkara yang selayaknya diketahui bahwa dosa dan maksiat itu berdampak buruk. Pastilah dampak buruknya di hati seperti bahayanya racun yang menjalar di tubuh.

Apakah yang telah menyebabkan kedua orangtua kita (Nabi Adam ‘alahis salam dan Hawa) dikeluarkan dari Surga, negeri (yang penuh dengan) kelezatan, kenikmatan, keceriaan dan kesenangan, menuju (dunia) negeri yang terdapat di dalamnya: penderitaan, kesedihan dan musibah?”

Apakah (penyebab) yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi (dari kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam), sampai-sampai air (banjir) meninggi melampaui puncak gunung? Apakah yang telah menyebabkan angin memporak-porandakan kaum ‘Aad sampai-sampai mayat-mayat mereka mati berserakan layaknya batang pohon kurma yang sudah lapuk? Dan menghancurkan segala yang dilaluinya berupa rumah-rumah , sawah ladang dan binatang-binatang mereka, hingga mereka menjadi pelajaran bagi seluruh umat sampai hari kiamat?.
Dan apakah yang menyebabkan datangnya pekikan suara menggelegar yang tertuju kepada kaum Tsamud, hingga mencopot jantung-jantung mereka dalam rongga tubuh mereka, lalu mereka semua mati?”

Dan apakah penyebab yang  telah mengangkat kampung Nabi Luth ‘alaihis salam, sampai-sampai Malaikat mendengar lolongan anjing-anjing mereka, kemudian kampung tersebut dibalik, bagian atas menjadi bawah, lantas (Allah) membinasakan mereka seluruhnya? Kemudian Allah iringi dengan menurunkan hujan batu dari langit yang menimpa mereka?.

Dan apakah penyebab yang menenggelamkan firaun dan kaumnya kedalam laut, kemudian ruh mereka dipindahkan ke neraka Jahanam. Jasad-jasad mereka ditenggelamkan, sedangkan ruh mereka dibakar?.

Apakah penyebab yang menenggelamkan qarun, rumahnya, hartanya dan orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya (ke dalam bumi)?.

Merupakan perkara yang selayaknya diketahui bahwa dosa dan maksiat itu berdampak buruk. Pastilah dampak buruknya di hati seperti bahayanya racun yang menjalar di tubuh, sesuai dengan tingkatan keganasan racun tersebut. Adakah satu keburukan dan adakah satu penyakitpun  yang tidak disebabkan oleh dosa dan kemaksiatan?.

Beriman dengan bertauhid dan beramal shaleh serta taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh Syari'at Allah membuahkan kemakmuran, ketentraman, dan kebahagiaan di dunia akhirat

Kesimpulan:

1. Sebab dari segala musibah adalah dosa dan maksiat.

2. Semakin besar sebuah dosa, dampaknya lebih buruk daripada dosa-dosa yang lebih kecil.

3. Biang terbesar musibah adalah kesyirikan, karena kesyirikan adalah dosa terbesar.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada putranya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang (paling) besar” (QS. Luqman: 13).

Ibnu Katsiir rahimahullah mengatakan,

وهو يوصي ولده الذي هو أشفق الناس عليه وأحبهم إليه، فهو حقيق أن يمنحه أفضل ما يعرف; ولهذا أوصاه أولا بأن يعبد الله وحده ولا يشرك به شيئا ، ثم قال محذرا له إن الشرك لظلم عظيم أي هو أعظم الظلم .

“Beliau (Luqman) berwasiat kepada putranya, manusia yang paling beliau sayangi dan cintai. Beliau sangatlah pantas memberikan kepadanya sesuatu yang paling bermanfa’at yang beliau ketahui. Oleh karena inilah, beliau berwasiat kepadanya, yang pertama: (agar putranya) menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian beliau berkata memperingatkannya, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar, maksudnya adalah (Sesungguhnya syirik) adalah kezaliman yang (paling) besar” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/184).

Di samping itu, kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya” (QS. An -Nisaa`: 116).

4. Beriman dengan bertauhid dan beramal shaleh serta taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh Syari’at Allah membuahkan kemakmuran, ketentraman, dan kebahagiaan di dunia akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa tetap kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An-Nur: 55).

Ayat ini termasuk di antara janji-janji Allah yang benar, yang telah disaksikan fakta dan isi beritanya. Allah telah berjanji kepada orang yang beriman dan beramal shalih dari kalangan umat ini untuk menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. 

Mereka akan menjadi para khalifah di muka bumi, yang mengatur urusan mereka dan (Allah) meneguhkan “bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka”, yaitu agama Islam yang telah mengalahkan seluruh agama selainnya, yang Allah ridhai untuk umat ini karena keutamaan, kemuliaan dan kenikmatan Allah atasnya. 

(Bentuk peneguhan agama mereka tersebut adalah) mereka leluasa dalam menegakkannya dan menegakkan syari’at baik lahir maupun batin, pada diri mereka maupun selain mereka. Sebab, orang-orang selain mereka dari kalangan para pemeluk agama selain (Islam) dan seluruh orang-orang kafir telah kalah dan hina. 

Dan Allah menggantikan keadaan mereka “sesudah mereka berada dalam ketakutan ” yang (sebelumnya) salah seorang dari mereka tidak mampu menampakkan agama (Islam) dan ibadahnya kecuali dengan banyak gangguan dari orang-orang kafir, serta jumlah kaum muslimin yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan selain mereka, dan seluruh penduduk bumi menyerang mereka dan berbuat aniaya dengan melakukan berbagai macam keburukan. 

Allah menjanjikan hal-hal tersebut untuk mereka pada saat turunnya ayat ini, namun kekhalifahan di bumi dan kekuasaannya belum dapat disaksikan saat itu. Yang dimaksud dengan kekuasaan disini adalah kekuasaan menegakkan agama Islam dan keamanan yang sempurna, di mana mereka beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan mereka tidak takut kecuali hanya kepada Allah.

Maka jayalah generasi awal umat ini, dengan iman dan amal soleh yang menyebabkan mereka berada di atas umat lainnya, maka Allah jadikan mereka menguasai berbagai negeri dan kaum, serta dibukakan kekuasaan dari timur ke barat sehingga terwujud keamanan dan kekuasaan yang sempurna. Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan dan indah.

Dan hal tersebut akan senantiasa berlangsung hingga (mendekati) hari kiamat, selama mereka menegakkan iman dan amal soleh pastilah mereka akan mendapatkan apa yang telah Allah janjikan untuk mereka. Namun terkadang orang kafir dan munafikin menguasai mereka dan mengalahkan kaum muslimin disebabkan kelalaian kaum muslimin dalam menegakkan iman dan amalan yang shalih.

5. Bukan berarti untuk meraih  kemakmuran dan ketentraman negara serta kesejahteraan rakyat di dunia, dengan meninggalkan sebab-sebab teknis keduniaan yang bermanfaat yang tidak melanggar syari’at dalam berbagai bidang (ekonomi, teknologi, dan selainnya)! Tidaklah demikian!

Justru tuntutan keimanan dan amal shalih adalah mengambil usaha yang bermanfaat, selama itu tidak melanggar syari’at, dengan tetap bertawakal kepada Allah Ta’ala.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah dan jangan engkau lemah! (HR. Muslim).

Namun, sebab yang terpokok bagi kemakmuran sebuah negara dan masyarakat adalah melaksanakan perintah Allah yang terbesar, yaitu tauhid serta sebab yang terpokok kehancuran sebuah negara, adalah melanggar larangan Allah yang terbesar, yaitu syirik dan kekufuran! Maka haruslah hal ini mendapat perhatian pertama dan paling utama!

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (kesyirikan), mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” (QS. Al-An’aam: 82).

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa jika seseorang bertauhid (beriman) dan tidak menyekutukan Allah (tidak syirik), akan mendapatkan ganjaran berupa ketentraman dan keamanan serta hidayah di dunia dan akhirat. Semoga Allah Ta’ala menjadikan negeri kita sebagai negeri yang tentram dan aman dari berbagai macam ancaman krisis, baik krisis ekonomi, krisis keamanan (teror), krisis mental/akhlak dan yang lainnya dengan bertauhid secara sempurna, beriman dan beramal shaleh, taat kepada Allah dengan melaksanakan seluruh syari’at Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...