Hujan tampaknya belum lama berhenti ketika sore hari Lasi tiba di Karangsoga. Bersama Pak Min yang mengendarai Mercy baru, Lasi datang ke rumah orangtuanya, kali pertama setahun sejak ia menjadi istri Handarbeni.
Turun dari mobil Lasi segera merasa sesuatu yang sangat berbeda; udara segar. Bau alami lumut dan pakis-pakisan yang baru tersiram hujan. Bau tanah kelahiran. Lasi merasa kedatangannya menjadi perhatian orang tetapi mereka tidak mau mendekat. Kecuali beberapa anak. Mereka mengelilingi mobil Lasi, masing-masing dengan mata membulat.
Mbok Wiryaji keluar, lari sepanjang lorong setapak karena sudah merasa pasti siapa yang datang. Bunyi langkah kaki yang menginjak tanah basah berbaur dengan letup kegembiraan. Anehnya Mbok Wiryaji berhenti beberapa langkah di depan Lasi. Ada jarak yang tak tertembus olehnya sampai Lasi mendekat dan mengulurkan tangan. Biasa, tak terkesan rasa kangen. Untung, Mbok Wiryaji
lega karena setidaknya Lasi mau tersenyum dan bertanya tentang kesehatannya.
Lasi masih berdiri di samping mobil sambil memandang sekeliling, memandang
Karangsoga yang kuyup. Teringat olehnya betapa sukar mengolah nira di kala hari hujan namun hasilnya tak cukup untuk sekilo beras. Namun Lasi merasa hanyut oleh kenangan masa lain ketika hidungnya mencium bau nira hampir masak. Dalam rongga matanya terlihat tengguli menggelegak dan uap yang menggumpal dan naik menembus atap. Dan putaran kenangan itu mendadak putus ketika bayangan Darsa muncul. Lasi memejamkan mata lalu bergerak menyusul Mbok Wiryaji dan Pak Min yang mendahului masuk rumah dengan barang-barang bawaan.
Lepas magrib Mukri dan istrinya datang. Juga istri San Kardi dan beberapa tetangga lain. Dan malam itu pun Lasi merasakan sesuatu yang amat berbeda: sikap Mukri dan para tetangga itu. Sangat jelas mereka mengambil jarak.
Mereka lebih banyak menunggu sampai Lasi bertanya sesuatu kepada mereka. Wajah mereka, sinar mata mereka, lain. Lasi tahu istri Mukri sangat terkesan oleh gelang yang dipakainya. Hampir, Lasi membuka mulut untuk mengatakan harga gelang itu. Untung batal. Bila tidak, istri Mukri bisa amat sangat terkejut. Sebab andaikan rumah, tanah, dan pohon-pohon kelapa Mukri dijual pun takkan
terkumpul uang seharga gelang kecil di tangan Lasi itu. Bahkan Pak Tir, orang terkaya di Karangsoga, kelak akan tahu dari taukenya bahwa harga seluruh harta bendanya takkan cukup untuk membeli satu mobil yang dibawa Lasi.
Tiga hari berada di rumah orangtua di kampung halaman, Lasi belum mendapat
kepastian apa yang akan dilakukannya. Selama tiga hari itu Lasi hanya melangkahkan kaki seputar kampung tanpa tujuan tertentu. Selama tiga hari pula Lasi merasakan betapa sikap semua orang Karangsoga jauh berubah.
Semua orang ingin memperlihatkan keakraban kepadanya dan wajah mereka cerah ketika diajak bicara. Mata mereka mengatakan, mereka menyesal dan tidak ingin lagi merendahkan Lasi seperti yang terjadi pada masa lalu. Lasi sering ingin tersenyum menikmati perubahan sikap orang-orang sekampung. Terasa ada kepuasan karena dendam yang terbayar. Namun sesering itu pula Lasi teringat ada kata-kata yang pernah diucapkan emaknya, aja dumeh, jangan suka merasa diri berlebih.
Kemarin Lasi berjalan-jalan, sekadar mengenang kembali lorong-lorong kampung yang dulu dilaluinya setiap hari. Ada rasa nikmat ketika kakinya merambah titian batang pinang. Telinganya mendengar riang-riang atau kokok ayam betina yang sedang menggiring anak-anaknya. Dan akhirnya perjalanan tanpa tujuan tertentu itu membawa Lasi ke sebuah kolam ikan milik tetangga. Ada kakus dengan dinding compang-camping di atas kolam itu dan mendadak Lasi ingin buang hajat. Entahlah, meski sudah lama menjadi istri orang kaya, Lasi belum merasa pas dengan kakus duduk mewah yang ada di rumah suaminya di Slipi. Di bawah rimbun pepohonan, dengan semilir angin yang membawa bau-bauan alami tertentu, Lasi malah merasakan puasnya buang hajat.
Malam keempat hujan lebat kembali turun di Karangsoga. Lasi kembali merasakan nikmatnya masa lalu: tidur dalam udara sejuk dengan iringan suara hujan menimpa kelebatan rumpun bambu dan pepohonan di belakang rumah. Atau bunyi anak burung bluwak yang kedinginan dan mencari induknya. Serta suara bangkong yang bergema dari lereng jurang. Namun tengah malam Lasi
terbangun karena atap di atas tempat tidurnya bocor. Lasi uring-uringan dan sulit tidur lagi sampai terdengar suara beduk dari surau Eyang Mus. Aneh, dari soal atap bocor itu Lasi tanpa sengaja menemukan sesuatu yang pasti untuk dilakukannya selama berada di Karangsoga. Membangun kembali rumah
orangtuanya yang memang sudah lapuk. Mengapa tidak? Pagi-pagi Lasi bangun dengan semangat baru. Pak Min disuruhnya mengirim kabar ke Jakarta karena mungkin Lasi akan tinggal lama di Karangsoga. Kemudian Lasi bertanya pada kiri-kanan apakah Pak Talab masih menjadi pemborong pekerjaan bangunan. Mukri menjawab, ya. Lasi ke sana dan Pak Talab keluar menyambut ketika
melihat mobil Lasi berhenti di depan rumah. Buat kali pertama dalam hidupnya Lasi menerima keramahan pemborong itu.
Dalam sebuah pembicaraan yang singkat dan lugas, kesepakatan pun tercapai. Pak Talab akan membangun rumah Mbok Wiryaji dengan bentuk dan bahan-bahan yang sama sekali baru. Pulang dari rumah Pak Talab, Lasi mengemukakan rencana yang sudah diputuskannya sendiri kepada emaknya. Mbok Wiryaji membelalakkan mata.
"Las, kamu tidak main-main?"
"Tidak, Mak."
"Tetapi aku tidak pernah meminta kamu melakukan hal itu. Aku tidak..."
"Sudahlah, Mak. Emak memang tidak minta. Tapi saya sendiri melihat rumah ini sudah terlalu tua. Saya sendiri yang menghendaki rumah ini dibangun kembali dan Emak tinggal tahu beres. Mak, Saya tidak ingin Mas Han kebocoran bila suatu saat kelak suamiku itu menginap di sini."
Mulut Mbok Wiryaji tiba-tiba rasa terkunci. Ah, terasa ada kesadaran untuk mengakui betapa dirinya kini kecil, tidak banyak arti di depan kepentingan anaknya. Mbok Wiryaji tunduk dan menelan ludah. Terasa, betapa dirinya kini
sudah berubah menjadi sekadar pinggiran untuk kepentingan Lasi. Ya, perasaan itu mengembang dan terus mengembang. Dia, Mbok Wiryaji, kini merasa hanya bisa jadi penonton untuk kemakmuran yang sedang dinikmati anaknya.
Demikian kecil makna keberadaannya sehingga untuk membangun rumah sendiri pun Mbok Wiryaji boleh dibilang tak diajak bicara. Mbok Wiryaji menelan ludah lagi.
Dengan jaminan biaya yang lancar rumah Mbok Wiryaji selesai dalam waktu dua bulan. Dalam jangka waktu itu Lasi dua-tiga kali pulang-balik Jakarta-Karangsoga, sekali bersama Handarbeni. Orang Karangsoga sebetulnya heran mengapa suami Lasi begitu tua, layak menjadi ayahnya. Tetapi perasaan itu lenyap oleh citra bagus yang segera diperlihatkan oleh lelaki itu. Handarbeni ramah, mau berbicara dengan banyak orang, dan mau menyediakan dana untuk perbaikan beberapa jembatan kampung.
Karena kemakmuran yang terlihat dalam kehidupan Lasi, suatu saat Mukri datang.
"Las, kamu tidak ingin melihat Eyang Mus?"
"Eyang Mus? Oalah, Gusti! Aku hampir melupakan orang tua itu. Kang Mukri,
bagaimana keadian Eyang Mus?"
"Dia masih sehat. Tetapi apa kamu sudah dengar Mbok Mus sudah meninggal?"
"Meninggal? Innalillahi."
"Ya. Namun bukan itu yang ingin kukatakan padamu. Yang ingin kusampaikan kepadamu, surau Eyang Mus juga sudah tua. Kamu sudah selesai membangun rumah orangtuamu. Apa kamu tidak ingin beramal membangun surau Eyang Mus?"
Lasi diam.
"Bagaimana, Las?"
"Entahlah. Aku belum pernah memikirkannya. Aku bahkan baru teringat Eyang Mus karena kamu bercerita tentang suraunya."
"Kalau begitu apa salahnya kamu melihat Eyang Mus."
"Kamu benar, Kang. Aku akan pergi ke rumah Eyang Mus, kapan-kapan."
"Kok kapan-kapan?"
"Karena aku baru teringat sekarang."
Ternyata Lasi datang ke rumah Eyang Mus pada keesokan harinya. Benar kata Mukri, surau Eyang Mus sudah begitu tua, juga rumah Eyang Mus sendiri, sehingga Lasi merasa harus berhati-hati ketika membuka pintu depan. Eyang Mus yang sudah mendengar suara Lasi tetap duduk di kursi, hanya sedikit
menegakkan kepala. Setahun tak bertemu orang tua itu, Lasi melihat Eyang Mus banyak berubah, makin kurus dan lamban. Kantong matanya menggantung dan tulang pipinya makin menonjol. Suaranya terdengar dalam. Kasihan. Dari Mukri, Lasi tahu bahwa kini Eyang Mus tinggal sendiri. Makan-minum dicatu oleh seorang anaknya yang tinggal tak jauh dari sana.
"Yang..."
"Kamu, Las?"
"Ya, Yang."
Lasi terjebak keharuan. Dan rasa bersalah, karena sudah sekian lama berada di Karangsoga namun baru sekali menengok orang tua itu. Lasi menarik kursi di samping Eyang Mus. Makin jelas kerentaannya.
"Eyang Mus masih suka menabuh gambang?" tanya Lasi sekenanya sementara matanya melihat perangkat gambang Eying Mus masih di tempat biasa.
"Tidak. Tanganku sudah sering gamang, sering kesemutan. Aku tak bisa lagi memukul gambang."
"Yang..."
"Apa, Las?"
"Kang Mukri bilang, surau Eyang Mus perlu dipugar. Betul?"
Eyang Mus terperanjat. Matanya yang buram dan kelabu menatap Lasi.
"Apa betul, Yang?" ulang Lasi.
"Tidak," jawab Eyang Mus mantap.
Lasi terkejut dengan jawaban yang tak terduga itu.
"Tidak? Kenapa, Yang?"
"Aku bisa mengira-ngira, Mukri memintamu membiayai pemugaran surau kita itu. Iya, kan?"
"Ya."
"Kamu mau?"
"Ya, mau."
"Kamu ada cukup uang?"
"Cukup, Yang."
"Ah, tetapi tak perlu. Kukira surau kita masih baik. Artinya, masih bisa mendatangkan ketenteraman jiwa bagi siapa saja yang bersujud kepada Tuhan di sana. Surau kita masih membawa suasana yang akrab bagi orang-orang Karangsoga, masih lebih cocok dengan alam lingkungan dan kebiasaan mereka."
"Eyang Mus tidak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman," kata Lasi setelah agak lama terdiam.
Eyang Mus tersenyum.
"Tidak, Las. Aku malah khawatir surau yang terlalu bagus akan membuat suasana terasa asing bagi orang-orang yang biasa tinggal di rumah berdinding bambu dan tidur di atas pelupuh. Surau yang bagus mungkin bisa membuat orang-orang di sini merasa berada dalam ruangan yang tak akrab."
Lasi diam lagi.
"Kalau begitu, bagaimana bila saya membeli pengeras suara untuk surau kita? Eyang Mus, di mana-mana orang memasang pengeras suara untuk mesjid dan surau mereka."
"Las, itu pun tidak. Terima kasih. Mesjid balai desa sudah dipasangi corong. Setiap waktu salat suaranya terdengar sampai kemari. Bila surau kita juga dipasangi pengeras suara, nanti jadi berlebihan. Tidak, Las. Terima kasih."
Eyang Mus diam. Terlihat kesan risi karena telah menampik kebaikan yang ditawarkan Lasi.
"Las..."
"Apa, Yang?"
"Bila benar kau ingin mendermakan uang, saat ini mungkin ada orang yang sangat memerlukannya."
"Siapa, Yang?" kejar Lasi karena Eyang Mus lama terdiam.
"Kanjat."
"Kanjat?" Lasi terkejut untuk kali kedua.
"Ya."
"Anak Pak Tir perlu bantuan uang?"
"Begini. Kudengar Kanjat ingin membuat percobaan, mengolah nira secara besar-besaran. Semacam kilang gula kelapa. Ada orang bilang, dengan mengolah nira secara besar-besaran penggunaan bahan bakar bisa dihemat. Konon Kanjat akan menggunakan kompor pompa yang besar untuk mengolah
nira yang dibeli dari penduduk. Namun untuk biaya percobaan-percobaan itu Kanjat tak punya cukup uang."
"Ayahnya?"
"Kasihan anak muda itu. Pak Tir tak pernah setuju akan tetek bengek yang dilakukan anaknya. Pak Tir malah sangat kecewa karena Kanjat senang menggeluti urusan kaum penyadap yang menurut dia tak pantas dilakukan oleh seorang insinyur-dosen."
"Nanti dulu, Yang. Kanjat akan membeli nira dari para penyadap?"
"Begitu yang kudengar. Orang bilang, bila percobaannya berhasil, para penyadap bisa langsung menjual nira, bukan hasil pengolahannya. Dengan demikian mereka punya banyak waktu untuk kegiatan lain, seperti bekerja di ladang atau kebun."
"Jadi, jadi, para penyadap tak perlu lagi menjual gula?"
"Mestinya begitu. Atau, temuilah Kanjat. Kamu akan mendapat penjelasan langsung dari dia. Aku sendiri sebetulnya tak begitu paham. Aku hanya percaya Kanjat anak yang baik dan apa yang ingin dicobanya, aku percaya, bertujuan
baik pula. Maka, bantulah dia."
Sepi. Mata Lasi menatap datar tapi ia tak melihat sesuatu. Hanya ada Kanjat. Ya. Sesungguhnya nama itu selalu lekat di hatinya sejak Lasi berada kembali di Karangsoga. Tetapi bersembunyi di mana dia? Sudah bencikah dia? Entahlah, yang jelas sosoknya selalu tampak dalam angan-angan Lasi. Alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam. Kesederhanaannya. Tak banyak omongnya. Sikapnya yang sejak dulu selalu ingin melindunginya. Dada Lasi berdebar. Ada
pikiran nakal; membandingkan Handarbeni yang tua dengan Kanjat yang masih sangat muda.
Sampai tiba saat meninggalkan rumah Eyang Mus, Lasi tak memberi kesanggupan apa pun menyangkut rencana percobaan yang dilakukan Kanjat. Namun sampai di rumah orangtuanya Lasi segera memanggil istri Mukri. Lasi ingin tahu hari-hari Kanjat bisa ditemui di Karangsoga. Istri Mukri
menjelaskannya dengan semangat dan terperinci bahkan dengan tambahan
macam-macam.
Tambahan itu misalnya, kini ada seorang gadis, Hermiati, lengket dengan Kanjat. Hermiati selalu memakai celana panjang biru, ketat, rambutnya sebahu dan bila mengendarai sepeda motor gayanya seperti anak lelaki.
"Cantik? Apa dia... eh, siapa dia tadi?"
"Hermiati."
"Hermiati. Dia cantik?"
"Soal cantik, dia kalah sama kamu."
"Ah!"
"Betul. Lagi pula dia hanya naik sepeda motor dan kamu naik mobil."
"Tetapi dia lengket, kan?"
"Ya. Apalagi bila mereka naik satu sepeda motor. Lengket betul. Eh, Las, nanti dulu. Sejak tadi kamu belum mengatakan buat apa kamu mau bertemu Kanjat."
Wajah Lasi mendadak terasa hangat. Dia pun tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan keterkejutannya. Namun Lasi segera bisa mengatasi keadaan.
"Aku dengar dari Eyang Mus, Kanjat punya rencana ini-itu tetapi tak cukup biaya. Eyang Mus meminta aku membantu Kanjat. Jadi aku ingin bertemu dia."
Jawaban Lasi memuaskan istri Mukri yang juga tidak tahu bahwa selama berada di Karangsoga, sebenarnya Lasi merasa penasaran karena sekali pun belum pernah bertemu Kanjat. Padahal istri Mukri bilang, hampir setiap Sabtu siang Kanjat pulang ke Karangsoga, kadang sendiri, kadang dengan beberapa teman.
Adalah Pardi, suatu pagi terlihat sedang berbincang-bincang dengan Pak Min di gang depan rumah Mbok Wiryaji. Pardi tampak sedang menanyakan sesuatu tentang mobil bagus yang dipegang Pak Min. Lasi memanggilnya dan Pardi datang dengan gayanya yang khas. Rokok terus mengepul di mulutnya. Langkahnya ringan dan bibirnya cengar-cengir. Begitu duduk di kursi baru kata-
katanya langsung membuat Lasi terpojok.
"Ah, Nyonya Besar, ternyata kamu masih ingat padaku."
"Jangan gitu, Di. Aku tak pernah lupa, kalau bukan karena kamu, aku takkan sampai ke Jakarta."
"Kalau begitu, bagi-bagilah kemakmuranmu."
"Sungguh? Kamu mau beli rokok?"
"Tidak. Aku hanya berolok-olok."
"Nggak kirim gula ke Jakarta?"
"Aku malah baru pulang tadi pagi."
"Masih dengan Sapon?"
"Masih. Tetapi sekarang anak majikanku tak pernah lagi ikut aku naik truk gula. Kenapa ya, Las?"
"Maksudmu Kanjat?"
"Ah, siapa lagi?"
"Kenapa kamu tanyakan itu kepadaku?"
"Kenapa, ya?"
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar