Makin dekat hari Lebaran, surau Eyang Mus makin ramai. Lepas saat berbuka puasa jemaah lelaki dan perempuan mulai berdatangan. Mbok Wiryaji dan suaminya pun sudah berangkit meninggalkan Lasi seorang diri di rumah. Semula Lasi hendak ikut serta, tetapi kemudian mengurungkan niat begitu menyadari dirinya baru sehari menjadi janda. Lasi merasa belum sanggup hadir di tengah
orang banyak; tak sanggup menahan tatapan mata mereka.
Sendiri di rumah, Lasi merasa terkepung kebimbangan. Lasi tak bisa menentukan apa yang layak dilakukannya. Maka Lasi duduk di ruang depan dan membiarkan segala sesuatu berlalu tanpa tanggapan. Telinganya mendengar suara beduk dari surau Eyang Mus. Juga suara anak-anak, atau kadang suara
burung-burung bluwak berebut tempat menginap dalam rumpun bambu di atas
rumah orangtuanya. Lasi juga tak tertarik akan ulah seekor kupu-kupu yang terbang mengedari lampu gantung di depannya. Namun Lasi setidaknya menggerakkan bola matanya ketika ia melihat dari balik jeruji kayu ada sosok samar di halaman. Sosok itu berjalan mendekat dan makin lama makin jelas. Seorang lelaki, dan langkahnya lurus menuju pintu depan.
Pardi? Bukan. Dia belum lama pergi dan dia tak pernah memakai baju lengan panjang. Kanjat? Mustahil. Lasi sudah mengirim pesan lewat Pardi bahwa dia tak mau bertemu anak Pak Tir itu. Jadi lelaki yang sudah berdiri di depan itu bukan Kanjat. Tetapi Lasi terkejut ketika mendengar suara lelaki di sana. Dada
Lasi gemuruh: senang, gagap, atau tak menentu.
Kanjat melangkah masuk begitu Lasi membukakan pintu. Kelugasan seorang
lelaki tampak pada citra wajahnya. Matanya menatap Lasi. Dari rona wajah Lasi, matanya yang menyala, Kanjat segera mengerti kedatangannya bukan sesuatu yang tak disukai. Kanjat tersenyum. Lasi tersenyum. Kemudian mereka duduk berhadapan. Lasi berdiri untuk membesarkan nyala lampu tetapi Kanjat bergerak mendahuluinya. Tangan mereka bersinggungan. Mereka sama-sama
tersenyum lagi dan sampai sekian jauh mulut mereka tetap rapat. Kanjat menelan ludah.
"Las," katanya mengakhiri kebisuan yang kaku dan janggal.
"Apa?"
"Maafkan, aku datang meskipun kata Pardi kamu tak ingin kutemu."
Lasi tersenyum. Matanya berkilat. Dalam hati Lasi malah bersorak justru karena Kanjat berani melanggar pesan yang dibawa Pardi. Lasi tertawa dan keindahan lekuk pipinya paripurna. Giliran dada Kanjat yang gemuruh.
"Las..."
"Ya?"
"Kamu diam?"
"Aku harus bilang apa?"
"Kamu tidak marah?"
Lasi menggelengkan kepala. Menunduk. Kadang alisnya terkesan menyimpan beban berat.
"Kau baik-baik saja, bukan?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Ya, kamu kelihatan lebih segar."
"Kamu memujiku?"
Kanjat tersenyum.
"Kudengar kamu sudah selesai sekolah dan kini kamu jadi dosen. Enak, ya?"
Kanjat tersipu.
"Las, fotomu masih kusimpan. Kamu tahu mengapa?"
"Sama. Fotomu juga masih kusimpan. Dan kamu tahu mengapa?"
Mereka beradu pandang dan bertukar senyum.
"Las, aku ingin bicara. Kamu mau mendengarnya, bukan?"
Lasi mengangkat wajah. Terlihat ada kecamuk dalam bola matanya. Wajahnya mendadak kaku. Intuisinya bilang, Kanjat akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan sebutan barunya: janda. Ya. Sinar mata Kanjat telah terbaca. Ada pusaran yang membuat hati Lasi serasa terberai. Lasi tergagap bahkan sebelum Kanjat membuka mulut. Napasnya pendek-pendek. Dalam
kecamuk itu Lasi mencobamempertimbangkan mencegah Kanjat menyampaikan maksud yang sedikit-banyak sudah bisa dirabanya itu. Sulit.
Namun membiarkan Kanjat mengatakan isi hatinya sama dengan sengaja mendatangkan kebimbangan besar yang tak akan mudah menyingkirkannya. Sulitnya lagi, Lasi juga menyimpan kerinduan untuk mendengar kata-kata manis dari lelaki muda di hadapannya, kerinduan yang tak bisa disepelekan. Lasi
mendesah panjang.
"Kamu mau bilang apa, Jat?"
Ganti Kanjat yang gugup.
"Banyak yang ingin kukatakan. Kamu bisa merasakannya?"
Lasi mengangguk.
"Jadi masih perlukah aku mengatakannya?"
Lasi menggeleng.
"Jat, itu tak mungkin."
"Tak mungkin? Siapa bilang?"
"Aku sendiri. Aku seorang janda dan usiaku lebih tua. Kamu perjaka, terpelajar, dan anak orang berada. Pokoknya, aku tak pantas buat kamu. Dan sangat banyak gadis sepadan yang lebih pantas jadi istri kamu."
"Las..."
"Kita harus berani melupakan keinginan yang sekuat apa pun bila kita tak mau
menyesal kelak."
"Tidak. Apa yang kamu katakan tadi sudah lama tak kupedulikan."
"Tetapi jangan lupa, ini Karangsoga. Pernah kamu dengar seorang jejaka mengawini janda di sini?"
"Itu pun sudah lama tak kupikirkan."
"Tetapi orangtuamu?"
"Las, aku sudah dewasa. Aku..."
"Jat, tetapi aku tak bisa. Tidak bisa. Kamu harus tahu aku memang tak bisa."
Lasi menelungkupkan wajah di atas daun meja. Mengisak. Kanjat terpana. Hening. Kupu-kupu itu datang lagi dan kembali terbang mengedari lampu. Lasi terus mengisak. Dan tiba-tiba Kanjat merasa harus memperhatikan ucapan Lasi terakhir, "Kamu harus tahu bahwa aku memang tak bisa." Ya. Kanjat ingat
cerita tetangga kiri-kanan bahwa ada seorang overste purnawira membantu proses perceraian Lasiya.
"Las, apa kamu sudah punya rencana lain?"
Lasi mengangkat wajah. Mengusap mata dan mendesah. Kemudian dengan nada sangat berat Lasi mengiyakan pertanyaan Kanjat. Sepi. Lasi menatap wajah Kanjat, ingin melihat pantulan reaksi di sana. Kanjat membeku. Namun tak lama. Ada semangat tiba-tiba menguak dan terbit dalam cahaya wajahnya.
"Overste purnawira itu, Las?"
"Ya. Kamu sudah tahu."
"Semua orang tahu dari cerita yang berkembang di balai desa."
"Ya. Begitulah, Jat. Maka kubilang aku tak bisa. Aku sudah punya rencana dengan orang lain."
Kanjat termangu dan menelan ludah. Kemudian terdengar ucapannya yang
bergetar dalam,
"Kamu bersungguh-sungguh dengan rencana itu? Maksudku, tak bisa lagi ditawar?"
"Ditawar?"
"Maksudku, kamu tak bisa membatalkan rencana itu?"
Mata Lasi membulat. Ada citra kebimbangan menyaput wajahnya. Bibirnya bergetar.
"Sayang tak bisa. Sungguh, aku tak bisa," desah Lasi hampir tak terdengar. "Aku tak bisa menyalahi janji yang telanjur kuucapkan. Jat, kamu bisa mengerti, bukan?"
Kanjat diam, lama. Lalu mengangguk. Jakunnya turun-naik.
"Kamu juga mengerti perasaanku?"
Kanjat menatap Lisi langsung pada bola matanya. Ada pertukaran rasa yang sangat intensif melalui cahaya mata, bahkan gerak urat wajah yang samar. Kemudian Kanjat mengangguk kigi. Dan wajahnya hampa.
"Las, aku sangat sulit menerima kenyataan ini. Tetapi baiklah."
Kanjat tak meneruskan kata-katanya. Suasana terasa kering dan janggal. Lasi
mempermainkan cincin di jari. Cahaya kebiruan berpendar dari mata berliannya. Kanjat menggosok-gosokkin telapak tangan pada daun meja. Dan kupu-kupu itu masih terbang mengedari lampu. Kanjat bangkit dan
mengulurkan tangan, minta diri. Lasi terpana, namun disambutnya juga tangan Kanjat. Keduanya merasa ada getaran hangat dalam telapak tangan masing-masing. Lasi makin erat menggenggam tangan Kanjat. Matanya berlinang. Bibirnya bergetar. Kanjat bergerak ke pintu. Bisu. Tetapi tiba-tiba Lasi menahan langkahnya.
"Jat, tunggu. Aku punya pesan untuk orangtuamu. Tolong katakan, besok pagi
aku akan menemui mereka."
"Kamu akan pergi ke rumahku?"
"Ya. Aku akan mengembalikan uang gadai kebun kelapa kepada ayahmu. Kamu ingat aku menggadaikan kebun kelapa untuk biaya pengobatan Kang Darsa, eh, dudaku?"
Plas. Ada tamparan sengit mendarat di hati Kanjat. Ada ironi sangat tajam terasa menusuk dada. Kanjat tiba-tiba merasa dirinya dipaksa kembali menatap nasib para penyadap. Memang, kini Lasi kelihatan makmur dan tidak lagi bergelut dengan gula kelapa. Tetapi di luar diri Lasi, masalah gadai-menggadai kebun kelapa, satu-satunya sumber hidup kebanyakan orang Karangsoga, adalah nyala dan hampir selalu melibatkan ayah Kanjat.
"Jat, kamu bagaimana? Kamu marah? Kamu tak suka aku pergi ke rumah orangtuamu?"
Kanjat terkejut.
"Kamu sakit? Kok pucat?"
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku tak keberatan kamu datang kapan saja kamu suka. Maafkan. Sekarang, permisi."
Kanjat tersenyum janggal, lalu berbalik dan melangkah keluar. Selama masih terkena cahaya lampu, tubuh Kanjat adalah bayangan remang yang bergerak menjauh. Kemudian lenyap. Pada detik yang sama Lasi merasa ada debur dalam kehampaan hatinya. Tetapi Lasi tak bisa apa-apa kecuali memejamkan mata untuk mencoba menekan perih yang menggigit hati. Telinganya berdenging.
Menjadi istri Handarbeni, ternyata, bermula dari sebuah upacara ringan. Itulah yang dirasakan Lasi. Pemikahan dilaksanakan di rumah Pak Han di Slipi. Semua petugas diundang dari Kantor Urusan Agama, dan para saksi didatangkan entah dari mana. Tak ada keramaian. Tamu pun tak seberapa, hanya beberapa lelaki teman Pak Han, Bu Koneng, Bu Lanting, dan si Kacamata. Untung, si Betis
Kering dan si Anting Besar tak muncul. Lalu kenduri.
Semula Lasi merasa sedih karena tak seorang kerabat pun, bahkan juga emaknya, hadir pada upacara di suatu pagi hari Minggu itu. Namun perasaaan demikian tak lama mengendap di hati Lasi karena suasana yang terjadi pada
acara pernikahan itu terasa enteng, cair, dan seperti main-main sehingga kehadiran seorang emak terasa tak perlu. Ya, seperti main-main. Betul, "main-main" adalah kata yang paling bagus untuk melukiskan perasaan Lasi dan
suasana pada saat itu. Aneh. Lasi sendiri heran mengapa hati dan jiwanya tidak ikut menikah, tidak ikut kawin. Mengapa, bahkan Lasi teringat masa kecil dulu ketika sering bermain kawin-kawinan bersama teman ketika bocah. Bagi Lasi, kawin-kawinan adalah permainan yang lucu, asyik, menyenangkan; namun tetap sebagai sesuatu yang tak mengandung kesungguhan, apalagi kesejatian.
Lasi sering mencoba memahami perasaan sendiri. Jangan-jangan hanya karena Kanjat tak bisa dilupakan, perkawinannya dengan Handarbeni terasa sebagai main-main. Lasi ingat betul ketika terjadi ijab-kabul, pada detik yang sama jiwa Lasi penuh berisi Kanjat. Tetapi Lasi kemudian sadar, sangat sadar, Kanjat adalah sesuatu yang sudah sangat jauh untuk diraih. Atau Lasi sendiri yang telanjur menjauh. Lasi juga sadar bahwa jauh sebelum hari perkawinan itu dia sudah menyatakan bersedia menjadi istri Pak Han. Lalu dari mana datang perasaan main-main itu?
Ah, Lasi terkejut ketika menemukan jawahan yang pasti. Hati dan jiwa Lasi mengatakan, perasaan itu justru datang dari suasana yang tercipta oleh sikap Handarbeni sendiri. Terasa oleh Lasi apa yang terjadi pada pagi hari Minggu itu adalah sesuatu yang tidak mendalam bagi Handarbeni, sesuatu yang berada di luar teras kehidupan pribadi lelaki gemuk itu. Ya. Dari kesahajaannya Lasi
merasa bahwa perkawinannya kali ini sama sekali lain dari perkawinannya dulu dengan Darsa, betapapun Darsa telah bertindak kurang ajar kepadanya.
Hari-bari pertama menjadi Nyonya Handarbeni adalah pelajaran yang harus diikuti oleh Lasi, terutama tentang hubungan suami-istri atau bahkan hubungan lelaki-perempuan dengan cara yang baru. Atau sesungguhnya pelajaran itu sudah diberikan oleh Pardi pada hari pertama Lasi kabur dari Karangsoga. Pacar-pacar Pardi yang ada pada setiap warung yang disinggahinya itu; mereka melayani Pardi tanpa kesadaran sebagai kewajiban, lalu melayani setiap lelaki lain yang datang tanpa rasa bersalah. Pardi pun tentu mengerti bahwa pacar-pacarnya akan melayani juga setiap lelaki yang membeli mereka. Dan, Pardi
kelihatan biasa-biasa saja, tak peduli.
Di warung Bu Koneng, Lasi mendapat pelajaran lebih banyak. Di sana Lasi mendapat pengetahuan baru bahwa perintimin antara lelaki dan perempuan tak dibungkus dengan berbagai aturan. Gampang, murah. Di sana Lasi melihat perintiman sebagai sesuatu yang semudah orang membeli kacang. Dan ternyata
para pelakunya seperti si Anting Besar atau si Betis Kering tetap manusia biasa. Mereka bisa bergaul, pergi ke pasar, tertawa di pinggir jalan, dan mendengarkan musik dari radio sambil berjoget.
"Las, ini bukan Karangsoga," demikian Bu Lanting pernah bilang.
"Las, hidup ini seperti anggapan kita. Bila kita anggap sulit, sulitlah hidup ini. Bila kita anggap menyenangkan, senanglah hidup ini. Las, aku sih selalu menganggap hidup itu enak dan kepenak. Maka aku selalu menikmati setiap
kesempatan yang ada. Kamu pun mestinya demikian." Itu ceramah Bu Lanting yang dulu pernah didengar Lasi. Dan dari sekian banyak pitutur Bu Lanting buat Lasi, satu yang mengena dalam hatinya, "Barangkali sudah sampai titi-mangsane kamu menjalani ketentuan dalam suratanmu sendiri, pandum-mu sendiri bahwa kamu harus jadi istri orang kaya. Lho, bila memang merupakan pandum kemujuranmu, mengapa kamu ragu?"
Ya. Maka Lasi mulai belajar menikmati dunianya yang baru, berusaha yakin bahwa dirinya memang cantik dan pantas menjadi bagian dari kehidupan orang-orang kaya, dan semua itu adalah pandum yang tak perlu ditolak. Jadi Lasi bisa merasa benar-benar senang ketika misalnya, suatu kali diajak Handarbeni terbang ke Bali. Atas desakan Handarbeni Lasi pun akhirnya bersedia terjun ke kolam dalam sebuah hotel mewah di sana dengan pakaian renang yang tipis dan sangat ketat. Handarbeni tertawa-tawa di pinggir kolam. Banyak mata lelaki menatap Lasi. Dan lama-kelamaan Lasi merasa nikmat jadi pusat perhatian banyak lelaki.
Hampir satu tahun menjadi istri Handarbeni, Lasi sudah larut menjadi bagian kehidupan golongan kaya kota Jakarta. Apa-apa yang dulu hanya terbayang dalam mimpi, Handarbeni mendatangkannya dengan nyata bagi Lasi. Bu Lanting benar ketika berkata, selama Lasi bisa menjadi boneka cantik yang penurut, ia akan mendapat apa yang diinginkannya. Betul. Handarbeni memanjakan Lasi sebagai seorang penggemar unggas menyayangi bekisarnya.
Tetapi dalam satu tahun itu pula Lasi tahu secara lebih mendalam apa dan siapa Handarbeni. Benar pula kata Bu Lanting, Handarbeni sudah mempunyai dua istri sebelum mengawini Lasi. Maka dalam satu minggu Handarbeni hanya tiga kali pulang ke Slipi. Yang ini tidak mengapa karena Lasi mendapat kompensasi berupa kemakmuran yang sungguh banyak. Lasi juga akhirnya tahu
bahwa sesungguhnya Handarbeni adalah laki-laki yang hampir impoten. Kelelakiannya hanya muncul bila ada bantuan obat-obatan. Yang ini terasa menekan hati Lasi, namun tak mengapa karena pada diri Lasi masih tersisa keyakinan hidup orang Karangsoga; seorang istri harus narima, menerima suami apa adanya. Tetapi Lasi menjadi sangat kecewa ketika menyadari bahwa perkawinannya dengan Handarbeni memang benar main-main. Lasi merasa dirinya hanya dijadikan pelengkap untuk sekadar kesenangan dan gengsi.
"Ya, Las. Kamu memang diperlukan Pak Han terutama untuk pajangan dan gengsi," kata Bu Lanting suatu kali ketika Lasi berkunjung ke rumahnya di Cikini. "Atau barangkali untuk menjaga citra kejantanannya di depan para
sahabat dan relasi. Ya, bagaimana juga suamimu itu seorang direktur utama sebuah perusahan besar. Lalu, apakah kamu tidak bisa menerimanya?"
"Bukan tak bisa. Saya sadar harus menerimanya meski dengan rasa tertekan."
"Maksudmu?"
"Secara keseluruhan, Mas Han memang baik. Maka saya bisa menerimanya, kecuali satu hal."
"Apa?"
Lasi diam dan tertunduk.
"Anu, maaf, Las, kamu tidak kenyang?"
"Bukan hanya itu," jawab Lasi tersipu.
"Maksudmu?"
"Keterlaluan, Bu. Yang ini saya benar-benar tidak bisa menerimanya."
"Yang mana?"
Lasi tertunduk. Jelas sekali Lasi sulit mengemukakan perasaannya.
"Yang mana, Las?" ulang Bu Lanting.
Lasi tetap tertunduk. Ingatannya melayang pada suatu malam ketika ia dalam kamar bersama Handarbeni. Malam yang menjengkelkan. Handarbeni benar-benar kehilangan kelelakiannya meski obat-obatan telah diminumnya. Untuk menutupi kekecewaan Lasi akibat kegagalan semacam biasanya Handarbeni mengobral janji membelikan ini-itu dan keesokan harinya semuanya akan ternyata bernas. Tetapi malam itu Handarbeni tak memberi janji apa pun
melainkan sebuah tawaran yang membuat Lasi merasa sangat terpojok, bahkan terhina.
"Las, aku memang sudah tua. Aku tak lagi bisa memberi dengan cukup. Maka, bila kamu kehendaki, kamu aku izinkan meminta kepada lelaki lain. Dan syaratnya hanya satu: kamu jaga mulut dan tetap tinggal di sini menjadi
istriku. Bila perlu, aku sendiri yang akan mencarikan lelaki itu untukmu."
Lasi memejamkan matanya rapat-rapat. Bu Lanting tersenyum.
"Lho, Las. Kamu belum menjawab pertanyaanku."
Lasi mendesah. Kemudian dari mulutnya mengalir pengakuan dalam ucapan-ucapan yang patah-patah. Lasi berharap pengakuan itu akan mendapat tanggapan yang sejuk, penuh pengertian. Namun yang kemudian didengarnya dari mulut Bu Lanting adalah ledakan tawa. Dan gerakan kedua tangan yang
mirip orang berenang.
"Oalah, Las, kubilang juga apa. Pak Han lelaki yang luar biasa baik, bukan? Oalah, Lasi, mujur amat nasibmu!"
Lasi membatu di tempatnya. Ia memandang Bu Lanting hanya dengan sudut mata. Jijik, kecewa, dan tak bisa dimengerti.
"Lalu kamu bagaimana, Las?"
"Aku bagaimana?"
"Iya. Kamu mendapat tawaran yang begitu menyenangkan. Bisa bersenang senang dengan lelaki pilihan atas restu suami sendiri yang tetap kaya. Lho, apa nggak senang? Lalu kamu bagaimana?"
Ada ruang hampa tiba-tiba mengambang dalam dada Lasi. Kosong. Lengang. Dan buntu. Lasi ingin cepat mengalihkan pokok pembicaraan, tetapi Bu Lanting terus mengejarnya.
"Misalkan iku menjadi kamu Las, wah!"
"Tidak, Bu. Yang satu ini saya tak sanggup melakukannya."
"Tetapi ini Jakarta, Las. Di sini, banyak perempuan atau istri yang saleh. Itu, aku percaya. Tapi istri yang tak saleh pun banyak juga. Jadi yang begitu-begitu itu, yang dikatakan suamimu agar kamu melakukannya, tidak aneh. Ah, kamu pun nanti akan terbiasa. Enteng sajalah..."
"Sungguh, Bu. Saya tak sanggup."
"Las, kamu jangan berpura-pura. Aku tahu kamu masih sangat muda. Pasti kamu masih memerlukan yang begitu-begitu. Atau, nanti dulu; kamu tak bisa mencari...?"
"Ah, tidak. Bukan itu."
"Lho, kalau kamu tak bisa, jangan khawatir. Aku yang akan mencarikannya buat kamu."
"Tidak, Bu. Tidak. Saya betul-betul tidak bisa melaksanakan hal seperti itu."
"Las, kamu jangan sok alim. Mau dibuat enak dan kepenak kok malah tak mau. Apa itu bukan bodoh namanya?"
Lasi tersinggung. Wajahnya mendung.
"Masalahnya bukan alim atau tidak alim, melainkan lebih sederhana. Melakukan hal seperti itu, bahkan baru membayangkannya, bagi saya terasa sangat ganjil. Itu saja."
"Ganjil? Ganjil? Apa yang ganjil?"
Bu Lanting tertawa lagi, lalu mendadak berhenti. Mengusap air mata yang menetes dari hidung dan menatap Lasi dengan pandangan yang serius. Nada suaranya merendah.
"Eh, Las, begini saja. Aka punya saran. Minta cerai saja. Jangan khawatir. Aku jamin kamu tidak akan lama menjadi janda. Dan soal suami pengganti, itu urusanku. Itu gampang. Akan kucarikan buat kamu suami yang lebih kaya, dan yang penting lebih muda. Ee... percayalah kepadaku. Bagaimana?"
Lasi tertegun. Wajahnya beku.
"Entahlah. Yang demikian tak pernah terpikir. Pokoknya entahlah."
"Ah, kamu ini bagaimana? Kamu cuma bisa bilang entahlah. Kalau begitu apa perlunya kamu datang kepadaku?"
Entahlah. Lasi memang merasa entahlah, entah yang akan dilakukannya. Suatu kali Lasi memutuskan benar-benar ingin menerima suami sepenuhnya, termasuk impotensinya. Lasi merasa keputusan itu tidak buruk. Ia akan menekan perasaan demi suami yang telah banyak memanjakannya dengan kemakmuran
yang sungguh banyak. Apalagi dalam hati Lasi sudah tumbuh rasa kasihan terhadap Handarbeni. Kasihan, karena Lasi tahu Handarbeni berusaha menyenangkannya setiap hari. Juga setiap gilir malam meskipun yang ini Handarbeni lebih sering gagal. Namun keputusan demikian sulit terlaksana karena Handarbeni sendiri sering mengulang apa yang pernah dikatakan kepada Lasi, "Kamu boleh minta kepuasan kepada lelaki lain. Yang penting kamu jaga mulut dan tetap tinggal jadi istriku di rumah ini."
Dan akhirnya menjadi kebiasaan yang terasa sangat menjijikkan. Setiap kali gagal menyenangkan Lasi, Handarbeni selalu mengulang ucapan itu. Usaha Lasi untuk menghentikannya tak dihiraukan oleh Handarbeni. Lasi protes. Lasi uring-uringan. Suatu kali Lasi bilang bahwa dia benar-benar tidak mau lagi mendengar Handarbeni menawarkan peluang nyeleweng.
"Kenapa sih, Mas Han suka bilang seperti itu?"
"Kenapa?"
"Ya, kenapa?"
"Karena aku tahu kamu masih sangat muda. Juga karena aku tidak merasa keberatan selama kamu jaga mulut dan tidak minta cerai. Jelas?"
Lasi menangis karena sangat sulit percaya bahwa yang baru didengar betul-betul keluar dari mulut suaminya. Dunia yang baginya terasa begitu ganjil tiba-tiba terbentang dan Lasi dipersilakan masuk. Lasi protes lebih keras. Lasi minta pulang sementara ke Karangsoga. "Kangen sama Emak," itu alasan yang keluar dari mulutnya. Mula-mula Handarbeni mengerutkan kening, namun kemudian tersenyum. Lasi diizinkannya berangkat.
****
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar