Kamis, 20 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 14

BAGIAN KELIMA 02


Jam tujuh malam Handarbeni muncul di rumah Bu Lanting. Necis dengan baju kaus kuning muda dan celana hijau tua. Wajahnya cerah dengan senyum renyah dan sorot mata penuh kegembiraan. Rambutnya, meskipun sudah menipis, tersisir rapi dan hitam oleh semir baru. Handarbeni sudah tahu bekisar itu mau, 
atau setidaknya tidak menolak menjadi miliknya dari pembicaraan telepon dengan Bu Lanting tadi siang. Kini Handarbeni datang karena ingin berbicara sendiri dengan bekisarnya. 
 
 "Wah, Anda kelihatan lain, Pak Han," sambut Bu Lanting di teras. 
 
 "Lain? Aku masih biasa seperti ini."

"Pokoknya bila hati sedang menyala segalanya jadi lain; ya kelimis, ya necis, ya murah senyum. Ah, tetapi Anda memang layak bersenang hati malam ini. Hati siapa sih, yang tidak menyala mendapat bekisar cantik dan masih begitu segar?" 
 
 Handarbeni hanya membalas dengan senyum dan duduk sebelum nyonya rumah menyilakannya. Mengambil rokok dari saku baju dan menyalakannya. Gelisah. Bu Lanting tersenyum. Lucu. Ternyata, seorang kakek pun tetap bisa celala-celili, gampang salah tingkah ketika menunggu pacar keluar dari kamar. Masih dengan senyum, Bu Lanting masuk untuk memberitahu Lasi akan kedatangan tamunya. Lasi menanggapinya dengan sikap biasa, sangat biasa. Namun 
setidaknya Lasi mengangguk ketika Bu Lanting menyuruhnya mematut diri sebelum keluar menemui Handarbeni. 
 
 "Pak Han, kukira bekisar itu sudah jinak dan bisa Anda masukkan ke dalam sangkar yang sudah Anda sediakan. Namun pandai-pandailah membuat dia betah. Karena bekisar Anda akan menemui banyak hal yang sangat boleh jadi tak pernah dibayangkan sebelumnya, lebih lagi perjodohannya dengan Anda. Dia harus banyak melakukan penyesuaian dan bila gagal akan menjadikannya tidak betah tinggal dalam sarang yang paling bagus sekalipun. Pokoknya Anda barus merawatnya dengan sangat hati-hati." 
 
 "Aku sudah pernah bilang bahwa aku bukan anak muda lagi. Aku sudah bisa ngemong dan yang penting aku sudah biasa bersabar." 
 
 "Sebenarnya saya sudah tahu siapa dan bagaimana Anda. Namun saya merasa harus bicara sekadar mengingatkan Anda agar tetap berhati-hati. Nah, sekarang, Anda berdua mau cukup bertemu di sini atau bagaimana?" 
 
 "Kamu pasti tahu apa yang kuinginkan." 
 
 "Tahu! Anda ingin keluar berdua. Silakan. Saya pun punya janji malam ini."

"Jadi kamu juga mau keluar?" 
 
 Bu Lanting hanya tersenyum lebar. Handarbeni juga hendak tertawa tetapi tertahan karena Lasi muncul. Bu Lanting mengatur Lasi duduk pada kursi yang paling dekat dengan Handarbeni. Suasana terasa agak kaku dan akan terus demikian apabila Bu Lanting tidak mencairkannya. 
 
 "Kalau sudah begini saya tidak bisa bilang apa-apa selain ucapan selamat. Ah, setidaknya selamat berbicara dari hati ke hati buat Anda, Pak Han, serta kamu, Lasi. Dan tidak seperti waktu lalu, sekarang saya tidak boleh menjadi pihak ketiga di antara Anda berdua. Jadi..." 
 
 Sebuah mobil terlihat membelok masuk halaman. Bu Lanting segera tahu siapa yang datang. Si Kacamata turun setelah memberi aba-aba dengan klaksonnya. 
 
 "Ah, rupanya sayalah yang harus berangkat lebih dulu. Yang menjemput saya sudah datang. Pak Han, Lasi, silakan atur waktu Anda berdua. Saya berangkat. Selamat ya." 
 
 Bu Lanting bergerak agak tergesa seperti anak itik manila lari ke kubangan. Handarbeni memandangnya dengan senyum. Ada yang terasa lucu. Ternyata, seorang nenek pun bisa bertingkah seperti perawan ingusan bila sedang pacaran. 
 
 Hanya tinggal berdua, Handarbeni dan Lasi sejenak terjebak dalam kelengangan. Lasi bahkan merasa sangat berat untuk mengangkat muka. Ada kegelisahan mengusik hatinya, semacam rasa bersalah entah kepada siapa, karena Lasi seakan sudah menyediakan diri dimiliki oleh seorang lelaki lain. Dalam pandangan mata yang tiba-tiba membaur Lasi melihat dengan jelas bilik tidur dalam rumahnya di Karangsoga. Lasi juga melihat kain sarung Darsa terayun pada tali sampiran dalam bilik itu. Bahkan Lasi seakan merasakan kembali bau khas kain sarung itu meskipun yang sebenarnya mengambang 
adalah wangi parfum yang digunakan Handarbeni.

"Las," suara Handarbeni pelan dan datar. Tetapi tak urung Lasi tersentak dibuatnya. "Bu Lanting sudah bilang soal keinginanku kepadamu, bukan?" 
 
 Diam. Wajah Lasi menjadi permukaan air yang diam tanpa riak sekecil apa pun. Namun terlihat beban berat di balik tatapan matanya yang kosong. 
 
 "Bagaimana, Las?" 
 
 Lasi mengerutkan kening lalu samar-samar mengangguk. 
 
 "Kata Bu Lanting kamu menerima ajakanku. Begitu, bukan?" 
 
 Lasi kembali beku. Keraguan dan kehampaan muncul lagi di wajahnya. 
 
 "Bagaimana? Katakanlah, Las." 
 
 "Pak..." 
 
 "Ya?" 
 
 "Saya cuma menurut," kata Lasi pelan, tanpa mengangkat wajah. Handarbeni mendesah, lega. Tersenyum sendiri dan matanya lekat pada Lasi yang tetap menunduk.

"Las, aku ingin bicara agak banyak tetapi bukan di tempat ini. Kita keluar sekalian makam malam. Kamu mau, bukan?" 
 
 Lasi terdiam dan kelihatan ragu. 
 
 "Saya malu." 
 
 "Tak usah malu, Las. Kamu sudah lama menjadi anak Jakarta, menjadi anak Bu Lanting. Kalau mau hidup di kota ini, jangan terlalu banyak rasa malu. Ayolah." 
 
 Akhirnya Lasi mengangguk. Lasi merasa tak punya tempat lagi untuk bersembunyi. Handarbeni tersenyum. Matanya berkilat. 
 
 "Las, aku ingin mendengar suaramu." 
 
 "Ya, Pak." Suara Lasi lirih setelah sekian lama tetap membisu. 
 
 "Ah, meski aku memang sudah tua, aku lebih suka kamu panggil Mas. Bagaimana?" 
 
 "Ya, Pak. Eh. Ya, Mas." Suara Lasi lirih sekali dan terdengar agak terpaksa. 
 
 "Nah, begitu. Sekarang ambil baju hangat sebab udara di luar agak dingin." 
 
 Seperti wayang bergerak di tangan datang, Lasi bangkit. Namun Handarbeni mendadak menahannya. 
 
 "Nanti dulu, Las. Aku hampir lupa. Aku punya sesuatu untuk kamu." 
 
 Handarbeni merogoh saku celana dan mengambil sesuatu yang terbungkus kertas dan menyerahkannya kepada Lasi. "Bukalah di dalam dan kalau kamu suka, pakailah." 
 
 Lasi mengulurkan tangannya dengan canggung, mengucapkan terima kasih dengan suara yang hampir tak terdengar lalu melangkah masuk. Dalam kamar setelah menarik baju hangat dari gantungan, Lasi ingin melihat isi bungkusan yang tergenggam di tangannya. Sesuatu yang melingkar, dan agak berat. Ketika bungkusan terbuka mata Lasi terbelalak melihat sebuah gelang yang tidak 
terlalu besar namun bermata banyak. Tanpa sadar Lasi memasang gelang itu pada tangan kirinya. Cahaya putih kebiruan berjatuhan dari pernik-pernik permatanya. Lasi berdebar. Ia tidak mengerti tentang intan atau berlian. Namun terasa ada sihir yang membuatnya tersenyum. Ada sihir berbisik di hati mengatakan bahwa semua perempuan pasti menyukai dan membanggakan gelang seperti itu. Sihir itu pula yang mengatakan bahwa sangat bodoh bila Lasi menampik pemberian Pak Han itu. Lasi kembali tersenyum. 
 
 Dan senyum itu masih tersisa ketika Lasi kembali berhadapan dengan Handarbeni di ruang tamu. Senyum berhias lekuk pipi yang membuat Handarbeni terbayang pada wajah Haruko Wanibuchi meskipun bintang film 
Jepang itu hanya sempat dikenalnya melalui majalah hiburan. 
 
 "Sudah siap, Las?" tanya Handarbeni lembut dan santun seperti gadis kecil sedang memanjakan bonekanya. 
 
 "Sudah, Pak." 
 
 "Mas."

"Eh, iya. Saya sudah siap, Mas." 
 
 "Ayolah." 
 
 Lasi menurut ketika Handarbeni membimbing tangannya berjalan keluar. Seorang gentleman tua mengepit tangan pacarnya yang belia lalu dengan anggun membukakan pintu kiri mobil, memutar untuk mencapai pintu kanan, dan sesaat kemudian mesin pun mendesing lembut. Lasi membeku. Entahlah, mendadak Lasi merasa seharusnya ia tidak dalam keadaan berdua-dua dengan seorang lelaki, siapa pun dia. 
 
 "Ingin makan apa, Las; ayam goreng, rendang Padang, apa masakan Cina?" tanya Handarbeni setelah mobil meluncur di Jalan Cikini. 
 
 Lasi tetap membeku. 
 
 "Las?" 
 
 "Oh..." 
 
 "Kamu ingin makan apa?" 
 
 "Anu. Terserah. Saya ikut saja." 
 
 "Aku lebih senang kamu ada permintaan."

"Saya tak punya permintaan apa-apa, kok." 
 
 "Atau ayam Kalasan di Arya Duta?" 
 
 "Terserah saja." 
 
 "Ah, aku lupa. Setengah darahmu adalah Jepang. Sudah pernah menikmati sukiyaki atau tempura?" 
 
 "Apa itu?" 
 
 "Hidangan dari negeri ayahmu, Jepang." 
 
 "Namanya pun saya baru mendengar." 
 
 "Mau mencoba?" 
 
 "Pak... eh, Mas Han, sebenarnya saya ingin makan nasi dengan sambal terasi dan lalapan." 
 
 Senyap. Lasi terkejut dan menyesal atas keterus-terangannya. Malu, dan ingin mencabut kata-katanya andaikan bisa. Handarbeni tersenyum, nyaris menjadi tawa. Tetapi tua bangka itu segera sadar, menertawakan kejujuran orang, apalagi pacar, bukan tindakan seorang gentleman.

"Dengan senang hati, Las, kamu akan kuantar ke sana. Di Jakarta ini, apalah yang tiada. Percayalah, kita akan mendapat hidangan nasi putih dengan sambal terasi dan lalapan. Tambah sayur bening dan ikan asin?" 
 
 Lasi tertawa lirih dan menunduk. 
 
 "Semua itu hidangan untuk orang kampung seperti saya, Mas Han. Apa Mas Han juga suka?" 
 
 "Ya, aku juga suka." 
 
 "Bukan pura-pura suka?" 
 
 "Ah, Las. Bila soal makan tidak bercampur dengan urusan gengsi dan semacamnya, semuanya bisa sangat sederhana; yang penting sehat. Yang penting nilai gizinya, bukan jenis atau harganya atau dari mana asalnya." 
 
 "Jadi Mas Han benar-benar suka sambal terasi?" 
 
 "Hm, ya. Apalagi bila kamu yang membuatnya." Lasi tersipu. Suasana menjadi 
begitu menyenangkan sehingga hati Handarbeni berkobar, mendorong tangan 
kirinya bergerak dan jemarinya menggamit dagu Lasi. Dan Lasi menarik kepalanya ke belakang karena dia tidak siap menerima kemesraan seperti itu. 
 
 Di sebuah rumah makan khas Sunda, Lasi menemukan hidangan yang sudah sekian lama amat dirindukannya. Seluruh sistem pencernaannya yang sudah terbiasa dengan makanan sederhana menjadikan Lasi begitu menikmati makan malamnya. Pedasnya sambal terasi dan kuatnya rangsangan garam ikan asin membangkitkan selera aslinya sehingga Lasi menghabiskan sepiring penuh nasi. Malah kalau bukan karena malu kepada Handarbeni, Lasi ingin minta tambah. Handarbeni memperhatikan dengan penuh minat bagaimana pipi Lasi jadi makin merah oleh pedasnya cabe; bagaimana kesegaran muncul dengan sangat jelas pada wajah blasteran Jepang itu. Dan dada Handarbeni mengembang bila menyadari semua itu kini miliknya. 
 
 "Las, sehabis makan kamu ingin ke mana lagi?" 
 
 "Tak ingin ke mana-mana." 
 
 "Nonton?" 
 
 "Tidak tahu. Saya tidak ingin ke mana-mana." 
 
 "Kalau begitu lebih baik kita pulang ke Slipi. Kita omong-omong saja di rumah sendiri, pasti lebih leluasa. Kamu mau, bukan?" 
 
 Kali ini Handarbeni tak menunggu persetujuan Lasi. 
 
 "Tetapi jangan sampai terlalu malam." 
 
 "Kamu takut sama Bu Lanting?" 
 
 "Bukan takut, nggak enak."

"Kamu bisa telepon kepada Bu Lanting. Atau malah tak perlu. Kita sudah jadi calon suami-istri, bukan?" 
 
 Lasi terkejut. Tiba-tiba Lasi sadar bahwa Handarbeni memang punya cukup alasan untuk berkata seperti itu. 
 
 Dalam perjalanan ke rumah Handarbeni di Slipi, Lasi tak pernah bicara kecuali sekadar menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Lasi tengah mencoba mencairkan kebimbangan karena tidak sepenuhnya mengerti lakon apa yang sedang diperaninya. Perasaannya mengambang dan samar. Namun dari segala yang mengambang dan samar itu ada satu titik yang pasti: Lasi merasa tidak 
seharusnya berada dalam keadaan seperti sekarang ini. Dan perasaan asing itu makin memberat di hati setelah Lasi berada di dalam rumah Handirbeni yang baru dibangun itu. 
 
 "Las, ini bukan rumah siapa-siapa melainkan rumah kita. Kamu bukan orang asing di sini. Malah, kamu nyonya rumah." 
 
 "Bukan, Mas Han," ujar Lasi. 
 
 "Bukan? Ah, ya. Lebih tepat dikatakan kamu calon nyonya rumah ini. Meskipun begitu aku sudah menganggap kamu nyonya rumah sepenuhnya. Jadi jangan canggung. Kamu sudah tahu tempatnya bila kamu memerlukan makanan dan minuman. Juga lemari pakaianmu sudah tersedia dengan isinya. Tetapi maaf, aku belum mendapat pembantu yang cocok. Di sini baru ada Pak Min, sopir, dan Pak Ujang, penjaga." 
 
 Lasi seperti tak berminat mendengarkan penjelasan Handarbeni. Mungkin karena terlalu nikmat makan dengan sambal dan lalapan, Lasi kelihatan lelah. Ia duduk seperti orang yang mulai mengantuk. Handarbeni mendekat dan meminta Lasi pindah duduk di sofa. Mereka berdekat-dekat. Lasi kembali merasa tidak seharusnya berada dalam keadaan seperti itu. Lebih lagi karena kemudian Handarbeni melingkarkan tangan pada pundaknya. Risi. Tetapi Lasi tak berani berbuat sesuatu yang mungkin bisa menyinggung perasaan Pak Han. 

"Las..." 
 
 "Ya, Mas." 
 
 "Rumah ini sudah lengkap, kok. Maksudku, jika lelah malam ini kamu bisa tidur di sini. Ada banyak kamar. Kamu tinggal pilih. Ndak apa-apa kok, Las. Betul, ndak apa-apa." 
 
 Tak ada tanggapan. Lasi bermain dengan jemarinya. Dan menggeleng. 
 
 "Lho, daripada tidur di rumah Bu Lanting? Rumah itu takkan pernah menjadi milik kita, bukan?" 
 
 Lasi menggeleng lagi. Dan dalam hatinya terus berkembang perasaan bahwa dirinya tidak patut berdua-dua dengan Handarbeni. Bahkan akan menginap di bawah satu atap? Atau bahkan satu kamar? 
 
 Handarbeni bingung, seperti kehilangan acara. Bangkit, mengambil dua minuman kaleng dari lemari pendingin. Kembali ke sofa dan mendapati Lasi benar-benar mulai terkantuk. Handarbeni meletakkan minuman di atas meja 
kecil di samping sofa, duduk, dan menegakkan kepala karena Lasi minta diantar pulang ke rumah Bu Lanting. Handarbeni menepuk dahi sendiri dan tiba-tiba wajahnya cerah. Ada gagasan. "Tunggu sebentar, Las." 
 
 Handarbeni masuk ke sebuah kamar dan keluar lagi dengan sebuah proyektor kecil di tangan, meletakkannya di atas meja kemudian menghadapkannya ke tembok. Tangannya sibuk memasang film, mengulur kabel, lalu berjalan mencari stop kontak. Proyektor sudah hidup. Posisinya digeser-geser untuk mencari bidang sorot yang tepat. Lampu ruangan dipadamkan dan gambar hidup pun mulai. 
 
 Lasi hampir tertidur. Namun terkejut karena tiba-tiba lampu padam dan ada bioskop di tembok depan sana, Lasi kembali terjaga. Apalagi kemudian Handarbeni kembali duduk di sampingnya sambil melingkarkan tangan ke 
pundak. 
 
 "Las, jangan ngantuk. Kita nonton film." 
 
 Lasi diam dan meski terasa berat matanya mulai mengikuti adegan di depan sana. Sebuah suasana purba. Seorang lelaki prasejarah yang hampir telanjang dan berambut panjang, berjalan mengendap-endap di sepanjang bantaran sungai. Lelaki kekar dan masih muda itu bersenjatakan sepotong tulang besar, 
berjalan agak terbungkuk. Serangga dan burung-burung kecil beterbangan ketika si manusia purba berjalan menembus belukar. 
 
 Lasi menikmati tontonan itu. Pemandangan di sana mengingatkan Lasi pada pengalamannya sendiri ketika mengumpulkan kayu bakar di hutan. Ada serangga beterbangan, ada derik ranting kering terinjak, dan ada gemercik air 
di dasar jurang. Bau lumut dari dinding tebing. Ada kokok ayam hutan. Ada ramat laba-laba berpendar seperti jala benang sutera yang ditebar di udara. Tetapi Lasi merasa ngeri ketika bioskop memperlihatkan seekor buaya tiba-tiba muncul dan menyerang si lelaki purba. Dengan senjata tulangnya lelaki itu membela diri bahkan mengalahkan penyerangnya. 
 
 Lasi lega. Matanya terus lekat pada gambar hidup yang terproyeksi di tembok sana. Demikian asyik sehingga Lasi kurang menaruh perhatian terhadap tangan Handarbeni yang mulai sempoyongan, melingkari pinggangnya. 
 
 Manusia purba itu terus berjalan lalu berhenti di tubir lembah. Mata si purba memandang ke bawah, menatap sepasang kambing hutan yang sedang berkelamin. Si kambing jantan terlalu besar dan perkasa bahkan brutal 
sehingga si betina terlihat begitu payah melayaninya.

Selesai menonton kambing kawin lelaki purba itu meneruskan perjalanan, menembus hutan dengan pepohonan raksasa. Tetapi lagi-lagi ia berhenti dan menatap ke atas. Di sana, pada dahan besar yang tumbuh mendatar, ada 
sepasang munyuk, juga sedang berkelamin. Primitif, hewani. Steril. Lasi tersenyum atau memalingkan muka atau memejamkan mata. Sekali terdengar Lasi terkikih. Dan di luar kesadaran Lasi, Handarbeni makin lekat. Sementara Lasi makin hanyut dengan tokoh lelaki purbanya apalagi ketika si tokoh tiba-
tiba membalikkan badan, lari, dan terus lari menempuh jalur yang semula dilewatinya. Burung-burung kecil kembali beterbangan. Serangga berhamburan. Si purba terus lari menempuh semak, tanah terbuka, bibir tebing, kemudian tiba pada wilayah tepi sungai yang bergua-gua. Lelaki purba itu masuk ke dalam salah satu gua dan menarik keluar seorang perempuan yang sama purbanya. Perempuan itu dipaksa melepaskan anak kecil yang kebetulan sedang ditetekinya. 
 
 Lasi menahan napas. Tetapi di sebelahnya Handarbeni malah tertawa ngikik. Handarbeni sudah belasan kali melihat film cabul yang sedang diputarnya itu dan kini sengaja menyajikannya kepada Lasi demi sebuah tujuan. Dan Lasi kembali menahan napas ketika melihat si lelaki purba mulai memaksa 
perempuan pasangannya. Brutal seperti kambing jantan. Primitif, hewani, steril, seperti munyuk. Tidak. Lebih dari itu. Di mata Lasi adegan antara lelaki purba dan pasangannya di sana juga terasa liar, sangat tidak wajar, biadab, nirsila, menjijikkan, dan entah apa lagi, Lasi tak punya cukup perbendaharaan kata untuk melukiskannya. Yang jelas Lasi mulai merasa perutnya mual. Jantungnya berdebar. Kepalanya pening. Badannya basah oleh keringat dingin. Menggigil. Mendesah dalam keluhan yang tak jelas. Kemudian Lasi sungguh-sungguh memejamkan mata karena merasa tak sanggup lebih lama melihat apalagi mencerna adegan yang bagi penglihatannya, sangat, sangat, sangat cabul. Lebih dari brengsek dari segala brengsek yang pernah dilihat atau didengarnya. Satu hal saja cukup membuat bulu kuduk Lasi berdiri; sekadar jempol tangan suaminya pun Lasi belum pernah disuruh mengulumnya! Padahal 
yang baru ditontonnya sepuluh kali lebih brengsek. 
 
 Film habis tanpa Lasi mengetahui bagaimana akhir ceritanya. Tetapi Lasi malah merasa beruntung tidak melihatnya sampai selesai. Meskipun begitu perutnya tetap terasa mual. Kepalanya pusing. Lasi hampir muntah. 
Handarbeni cepat bangkit untuk menyalakan lampu. Dan terkejut ketika di bawah lampu yang terang terlihat wajah Lasi amat pucat dan shock. Lasi bergegas ke kamar mandi. Di sana, nasi putih, sambal terasi, dan lalapan yang 
baru disantapnya dengan penuh nikmat, tumpah ruah.

Handarbeni berjalan hilir-mudik menunggu Lasi keluar dari kamar mandi. Menggeleng-gelengkan kepala, penasaran. Dan terasa ada yang meleset. Dengan memutar film biru, sesungguhnya, Handarbeni ingin mencoba 
mengundang fantasi berahi untuk membakar Lasi. Bila api sudah berkobar Handarbeni akan berjerang dan mengendalikannya sepuas hati. Meleset. Lasi bukan hanya tak terbakar, kok malah muntah? Meleset. Handarbeni sungguh 
penasaran. Bahkan khawatir jangan-jangan Lasi jadi benar-benar sakit. Tetapi Handarbeni mencoba tenang ketika berhadapan dengan Lasi yang baru keluar dari kamar mandi. 
 
 "Las, kamu sakit?" 
 
 "Tidak," jawab Lasi sambil menggelengkan kepala. Tetapi wajahnya masih pucat. Bibirnya pasi. 
 
 "Kok muntah?" 
 
 "Mual dan pusing. Namun sekarang sudah hilang," jawab Lasi sambil duduk lesu. 
 
 "Untuk mual dan pusing di sini ada persediaan obatnya. Akan kuambil untukmu." 
 
 "Jangan repot, Mas Han. Saya sudah sembuh. Saya tak memerlukan obat," ujar Lasi bohong, padahal kepalanya masih berdenyut dan rasa mual belum hilang benar dari perutnya. 
 
 "Kalau begitu akan kubuatkan teh manis."

Handarbeni lenyap. Duduk seorang diri, Lasi merasa seperti baru datang dari tempat asing. Film yang baru ditontonnya itu! Lasi bergidik. Muskil, mustahil. Sebidang wilayah yang baginya sangat pribadi dan rahasia, yang bagi Lasi keindahannya justru terletak pada kerahasiaannya itu, bisa disontoloyokan dengan cara yang paling brengsek. Lasi bergidik lagi. Mual dan pusing lagi. Ada yang terasa terinjak-injak dalam jiwanya. Anehnya, kesontoloyoan itu juga 
membawa pertanyaan yang menusuk hati: mengapa kamu merasa terhina ketika melihat adegan brengsek itu? Untuk pertanyaan ini Lasi hanya punya jawaban sahaja, "Karena aku bukan kambing, bukan pula munyuk." 
 
 Atau Lasi malah berpikir, apakah bukan karena dirinya orang kampung, dia merasa muskil ketika berhadapan dengan kebrengsekan itu? Karena ternyata Lasi juga merasa, hal tergariskan sebagai orang kampung yang miskin, tak terdidik, dan tak berpengalaman mungkin adalah sebuah kesalahan nasib yang 
menyebabkan ketertinggalan. Dengan demikian kegagapannya menghadapi 
adegan tanpa rasa malu, seperti yang baru ditontonnya beberapa saat berselang, adalah sebuah kesalahan dan ketertinggalan pula. Dengan kata lain, mereka yang bisa mendapat kenikmatan dari tontonan cabul semacam itu, Pak Han misalnya, berada pada pihak yang tak salah dan tak tertinggal zaman. Karena itu mereka tak usah dipersamakan dengan kambing apalagi munyuk. Demikiankah seharusnya? 
 
 Atau bukan hanya Pak Han. Di warung Bu Koneng pun Lasi sudah melihat sesuatu yang baginya sangat ganjil mengenai perkelaminan. Para lelaki yang membeli si Anting Besar atau si Betis Kering di warung Bu Koneng; beberapa di antaranya kelihatan baru sekali bertemu dengan perempuan yang dibelinya. Hampir tanpa perkenalan, mereka bisa langsung masuk kamar. Lasi sering heran, sangat heran; keintiman semacam itu mereka lakukan tanpa keakraban hati dan jiwa? Jadi hanya penyatuan raga? Persetubuhan! Bukan peleburan dua 
pribadi secara total? 
 
 Lasi ingat, dulu, apa yang dilakukannya bersama Darsa adalah sesuatu yang dimulai dengan api yang memercik dalam jiwa. Tulus. Yang menyatu bukan hanya badan, melainkan ada yang lebih mendalam lagi. "Persetubuhan" adalah kata yang tak cukup memadai untuk menyebutkannya.

Ah! Lasi menggelengkan kepala. Dan tiba-tiba pikiran Lasi melayang ringan. Ingatannya kembali kepada film cabul itu. Entahlah, kini Lasi mengenangnya dengan pikiran yang cair, komis. Tanpa mengerti mengapa bisa terjadi, Lasi merasa telah berpindah sudut pandang. Dalam film cabul tadi ditampilkan gaya seekor kambing jantan yang brutal dan penuh tenaga. Mengerikan. Tetapi si munyuk? Lasi tersenyum. Binatang yang mirip manusia itu dalam penampilan perkelaminannya, tidak bisa tidak, terlihat menggelikan. Tampangnya blo'on. Lucu. Bila mengingatnya tak bisa lain Lasi harus tersenyum. Malah Lasi sedang 
terpingkal tanpa suara ketika Handarbeni datang membawa segelas teh manis. 
 
 "Kamu tertawa, Las?" 
 
 Lasi makin terpingkal hingga air matanya keluar. 
 
 "Tidak." 
 
 "Tidak? Kamu sedang tertawa, bukan?" 
 
 "Lucu." 
 
 "Lucu?" 
 
 "Ya. Ternyata munyuk bisa brengsek, kayak manusia." 
 
 Tawa Lasi meledak. Sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena lama 
terpingkal, Lasi menelungkup di atas meja dan terus tertawa. Handarbeni kecut. Lelaki itu pun ikut tertawa tetapi bukan karena merasa ada sesuatu yang lucu. Handarbeni tersodok oleh gaya pertanyaan Lasi. Ternyata, dalam 
perkelaminan munyuk ingin meniru kebrengsekan manusia? Entahlah. Yang jelas 
tawa telah menyatukan Lasi dan Handarbeni dalam suasana yang begitu cair.

Lasi merasa seperti daun bungur yang jatuh ke alas air Kalirong. Hanyut, mengapung, dan kadang menyerah ketika dipermainkan angin. 
 
 Ketika akhirnya tawa Lasi habis, yang tersisa adalah suasana yang akrab dan mengendap. Handarbeni merasa setengah berhasil. Memang dia gagal membakar berahi Lasi. Namun keakraban yang tercipta setidaknya membuat Handarbeni merasa tiada beban ketika harus berbicara tentang hal-hal yang 
sangat pribadi. Dia tidak bosan memuji keindahan mata dan lekuk pipi Lasi dan senang memanggilnya dengan Haruko. Dan ketika merasa jarak hati sudah demikian dekat Handarbeni, sekali lagi, meminta Lasi menginap. Mendengar pemintaan Pak Han, mendadak Lasi surut seperti siput menarik diri ke balik perlindungan rumah kapurnya. Ketika Handarbeni mengulang permintaannya, Lasi hanya menjawab dengan gelengan kepala. 
 
 Handarbeni diam. Menghadapi keteguhan Lasi terasa ada sodokan terarah ke lembaga moral yang sudah lama tak pernah menjadi pertimbangan perilakunya. Namun anehnya Handarbeni tersenyum. Lagi-lagi Handarbeni merasa ada pertahanan dalam keluguan perempuan kampung; pertahanan yang 
memerlukan perjuangan untuk menembusnya, sebuah tantangan yang membawa kadar kenikmatan. Handarbeni tersenyum lagi. Tetapi dadanya bergemuruh. Apalagi ketika Lasi pun menatap dengan senyumnya yang berhias 
lesung pipit. 
 
 "Jadi bagaimana, Las?" ucap Handarbeni dalam desah. 
 
 "Saya ingin pulang." 
 
 "Baik. Aku akan mengantarmu. Dengan senang hati." 
 
 "Bukan cukup dengan Pak Min?" 
 
 "Tidak. Kecuali kamu menolak kuantar pulang."

Lasi tersenyum dan membiarkan Handarbeni menggandeng dirinya keluar. Tetapi untuk kesekian kali Lasi merasa tidak seharusnya membiarkan diri digandeng seorang lelaki. Entahlah.



                            *****



Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...