Senin, 03 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 10

BAGIAN KEEMPAT 01
 
 
 Kalau bukan karena Pak Handarbeni, boleh jadi Bu Lanting tak pernah mendengar nama Haruki Wanibuchi. Overste purnawira yang berhasil merebut jabatan terpenting pada PT Bagi-bagi Niaga bekas sebuah perusahaan asing yang dinasionalisasi, sering menyebut nama itu. Dari Pak Han itulah Bu Lanting tahu bahwa Haruko adalah seorang bintang film Jepang yang potretnya sering menghias majalah hiburan dan kalender. Bagi Pak Han Haruko adalah khayalan romantis, bahkan kadang mimpi berahi yang paling indah. Kecantikannya, kata Pak Han, melebihi Naoko Nemoto, geisha yang beruntung pernah menjadi penghuni Istana Negara itu. 
 
 "Lho, kok Anda tidak ambil saja dia dari Jepang? Bukankah bisa diatur agar Haruko diperhitungkan sebagai harta rampasan perang?" demi kian Bu Lanting pernah bergurau dengan Pak Han "Soal biaya tak jadi masalah bagi seorang direktur PT Bagi-bagi Niaga, bukan?" 
 
 "Ndak gitu. Untuk nyicipi seorang gadis Jepang mudah. Aku punya uang. Namun 
untuk memboyong dia ke rumah ada halangan politis, atau halangan tata krama, atau semacam itu." 
 
 "Kok?" 
 
 "Mbakyu lupa kita orang Jawa? Di Istana sudah ada Naoko Nemoto. Nah, bila aku juga membawa gadis Jepang seperti Haruko, itu namanya ngembari srengenge, mengembari matahari. Kita orang Jawa pantang melakukan sesuatu yang merupakan prestise pribadi Pemimpin Besar. Mau kualat apa?" 
 
 "Takut kualat? Bekas tentara dan pejuang kok takut?" 
 
 "Boleh dibilang begitu. Tetapi masalahnya, aku tak ingin repot." 
 
 "Terus teranglah. Tak ingin kehilangan kursi direktur utama PT Bagi-bagi Niaga. Iya, kan?" 
 
 "Ah, sudahlah. Yang jelas rumahku yang baru di Slipi masih kosong. Aku ingin segera mengisinya bukan dengan seorang Haruko, cukuplah dengan yang kini sedang banyak dicari."

"Saya tahu, saya tahu." 
 
 "Kata teman-teman yang sudah punya, hebat lho, Mbakyu." 
 
 "Pernah melihat anak tinggalan tentara Jepang yang kini banyak diburu itu?" 
 
 "Seorang teman menunjukkannya kepadaku. Teman itu sungguh membuat aku merasa iri. Dan dia bilang Mbakyu-lah pemasoknya." 
 
 "Barang langka selalu menarik. Seperti benda-benda antik. Atau bekisar. Dan Anda meminta saya mencarinya?" 
 
 "Langka atau tidak, antik atau bukan, aku tidak main-main, lho." 
 
 "Saya percaya Anda tidak main-main. Anda butuh bekisar untuk menghias istana Anda yang baru. Ya, bekisar, kan?" 
 
 "Bekisar bagaimana?" 
 
 "Bekisar kan hasil kawin campur antara ayam hutan dan ayam kota. Yang kini banyak dicari adalah anak blasteran macam itu, bukan? Blasteran Jepang-Melayu. Memang, Pak Han, hasil kawin campur sering menarik. Entahlah, 
barangkali bisa menghadirkan ilusi romantis, atau bahkan ilusi berahi. Khayalan-khayalan kenikmatan berahi. Eh, saya kok jadi saru." 
 
 "Entahlah, Mbakyu. Yang penting aku ingin bersenang-senang."

"Ya, saya tahu Anda beruntung, punya biaya untuk menghadirkan apa saja untuk bersenang-senang." 
 
 "Nasib, Mbakyu. Barangkah memang sudah jadi nasib. Aku merasa sejak muda nasibku baik. Dulu, pada zaman perang kemerdekaan aku melepaskan kartu domino untuk bergabung dengan para pejuang sekadar ikut ramai-ramai. Yang penting gagah-gagahan. Dan kalau kebetulan ada kontak senjata aku senang karena, rasanya, aku sedang main petasan. Jujur saja, sejak dulu aku lebih 
menikmati bunyi petasan daripada yang dibilang orang sebagai perjuangan. Pokoknya aku ikut grudak-gruduk, dar-der-dor, dan lari. Orang muda kan suka yang rusuh dan brutal. Banyak temanku mati, eh, aku sekali pun tak pernah terluka. Malah dapat pangkat letnan. Dan kini..." 
 
 "Dapat kursi direktur utama..." 
 
 "He-heh-heh... Nasib, Mbakyu, nasib." 
 
 Dan hanya tiga bulan sejak pembicaraan itu, pagi ini Bu Lanting mengirimkan potret Lasi kepada Pak Han melalui si Kacamata. Dalam pengantarnya Bu Lanting menulis, apabila suka dengan calon yang disodorkan, Pak Han harus 
lebih dulu menepati janji. Pak Han harus menyerahkan kepada Bu Lanting Mercedes-nya yang baru. Plus biaya operasi pencarian sekian juta. Bila tak dipenuhi, calon akan diberikan kepada orang lain, salah seorang bos Pertamina, perusahaan minyak milik negara. 
 
 Di ruang kerjanya, Handarbeni mengamati tiga foto yang baru diterimanya. Satu foto seluruh badan, satu foto setengahnya, dan satu lagi foto wajah close-up. Mata lelaki 61 tahun itu menyala. Tersenyum. Wajahnya hidup. Lalu 
bangkit dan berjalan ke arah cermin dan menyisir rambutnya yang sudah jarang tetapi selalu bersemir. Merapikan leher bajunya. Dan kembali ke meja untuk menatap tiga foto Lasi Nyata benar yang tergambar di sana bukan Haruko Wanibuchi meski terkesan penuh sebagai seorang gadis Jepang, bahkan alis dan rambutnya dirias mirip aktris film negeri Sakura itu. Merah kimononya persis yang dipakai Haruko dalam penampilannya pada sebuah kalender. Tetapi secara keseluruhan daya tarik yang muncul sama. Atau bahkan lebih kuat? 
 
 Ada keluguan, atau kemalu-maluan sehingga perempuan dalam foto itu terkesan tidak terlalu masak. Ah, Overste Purnawira Handarbeni sudah kenyang pengalaman. Menghadapi perempuan yang kelewat matang sering menyebalkan. Perempuan dalam foto itu juga menampilkan sesuatu yang terasa 
ingin disembunyikan, ditahan-tahan pada senyumnya yang setengah jadi. Citra keluguan perempuan kampung? Mungkin. Ah, Handarbeni teringat seloroh seorang teman. "Kenapa, ya, ayam kampung kok lebih enak daripada broiller? Apa karena ayam kampung tetap makan cacing dan serangga sementara broiller diberi makanan buatan pabrik?" 
 
 Atau, hanya karena sudah terlalu lama ngebet dengan seorang gadis Jepang, di mata Handarbeni perempuan dalam foto itu menjadi sangat cantik? 
 
 Handarbeni meraih telepon, memutar nomor dengan tergesa dan kelihatan kurang sabar menanti Bu Lanting mengangkat pesawatnya. 
 
 "Aku sudah melihat potret itu. Ah, boleh juga. Aku ingin bertemu dengan orangnya. Di mana? Di situ?" 
 
 "Eh, sabar, Raden. Perhatikan dulu baik-baik. Sebab meski ayahnya seorang Jepang tulen betapa juga dia bukan Haruko." 
 
 "Tapi mirip, kok." 
 
 "Meski demikian dia tetap bukan Haruko, kan!"

"Tak apa. Tak apa. Yang penting dia sangat mengesankan. Siapa namanya?" 
 
 "Las, Lasi... ah, bahkan saya lupa nama lengkapnya. Yang jelas, umurnya 24 dan masih punya suami." 
 
 "Tak urusan! Yang kutanya, di mana dia? Kapan aku bisa bertemu?" 
 
 "Pak Han, sudah saya bilang, sabar! Bekisar Anda ada di suatu tempat dan belum akrab dengan suasana Jakarta. Dia belum jinak. Saya sendiri harus penuh perhitungan dalam menanganinya. Sebab, salah-salah dia bisa tak kerasan dan terbang lagi ke hutan." 
 
 "Ya, ya. Tetapi sekadar ingin lihat, boleh, kan?" 
 
 "Itu bisa diatur. Pak Han, pada tahap pertama ini saya hanya ingin bilang bahwa bekisar pesanan Anda sudah saya dapat. Dan agaknya Anda berminat. Begitu?" 
 
 "Ya, ya." 
 
 "Terima kasih. Eh. Jangan lupa janji, lho." 
 
 "Tentu, tentu. Kapan bisa kukirim? Atau Mbakyu ambil?" 
 
 "Ah. saya hanya mengingatkan bahwa Anda punya janji. Semua akan saya ambil bila bekisar sudah ada di tangan Anda." 
 
 Dan Bu Lanting meletakkan gagang telepon. 
 
 Tersenyum, dan mendesah panjang. Niaga yang berliku dan rumit sudah memperlihatkan bayangan keuntungan. Si tua Handarbeni yang berkantong sangat tebal bernafsu terhadap bekisar dari Karangsoga. Namun pada saat yang sama Bu Lanting sadar, pekerjaan belum selesai bahkan sedang memasuki tahapan peka. Bu Lanting tahu, berdasarkan pengalaman ada kemungkinan bekisarnya tidak bisa jinak; menolak lelaki yang menghendakinya. Tetapi berdasarkan pengalaman pula Bu Lanting mengerti, kemakmuran adalah umpan yang sangat manjur untuk menjinakkan bekisar-bekisar kampung yang kebanyakan punya latar kemelaratan. 
 
 Bu Lanting makin sering mengajak Lasi keluar; makan-makan di restoran, belanja di Pasaraya, atau beranjang-sana ke rumah teman. Atau menghadiri resepsi perkawinan di gedung pertemuan yang megah. Lasi mulai terbiasa 
dengan sepatu, jam tangan, serta sudah bisa berbicara lewat telepon dan menghidupkan televisi. Bu Lanting mengamatinya dengan saksama dan yakin bekisar itu menikmati semuanya. Kadang Bu Lanting tersenyum bila 
memperhatikan perubahan fisik bekisarnya. Putih kulitnya makin hidup. Rambutnya bercahaya, dan bila tersenyum gigi Lasi sudah putih dan begitu indah. Tumitnya yang dulu pipih dan pecah-pecah sudah membentuk bulat telur dan halus. Lasi sudah lain, meski sisa kecanggungannya masih tampak bila 
berhadapan dengan orang yang tak dikenalnya. Dan kemarin Bu Lanting mendengar Lasi bernyanyi kecil menirukan biduan di televisi. "Bekisarku sudah jinak dan betah di kota." 
 
 Bu Lanting teringat Handarbeni yang sudah berkali-kali menelepon ingin diberi kesempaLan melihat Lasi. Kemarin-kemarin Bu Lanting selalu berusaha menunda pertemuan itu, khawatir segalanya belum siap. Tetapi sekarang lain; Bu Lanting percaya situasinya sudah matang. Sudah tiba saatnya Handarbeni dipertemukan dengan bekisar yang ingin dibelinya. Telepon pun diangkat untuk 
memberitahu Handarbeni bahwa lelaki itu boleh bertemu Lasi nanti sore di rumah Bu Lanting sendiri.

"Jadi selama ini bekisar itu ada di rumahmu?" 
 
 "Ya. Kenapa?" 
 
 "Kalau aku tahu begitu, sejak dulu aku ke situ dengan atau tanpa izinmu." 
 
 "Sudahlah. Nanti sore Anda bisa melihatnya. Tetapi tolong, Pak Han, haluslah cara pendekatan Anda." 
 
 "Halus bagaimana?" 
 
 "Halus, ya tidak kasar. Soalnya saya belum bilang apa-apa kepada Lasi. Menyebut nama atau gambaran tentang Anda pun belum." 
 
 "Jadi aku harus bagaimana?" 
 
 "Bertamulah seperti biasa sebagai teman saya jam lima sore nanti." 
 
 "Mengapa harus nanti sore? Sekarang bagaimana?" 
 
 "Saya mengerti, Pak Han, Anda tidak sabar. Tetapi jangan sekarang. Sungguh. Kami tidak siap." 
 
 "Baik, nanti sore pun jadilah. Dan apakah aku perlu membawa oleh-oleh?"

"Bila Anda sediakan buat saya, boleh. Boleh. Tetapi bukan untuk Lasi. Tak lucu, baru bertemu langsung memberi oleh-oleh. Lagi pula Anda harus yakin dulu bahwa bekisar itu memang pantas mengisi rumah Anda yang baru. Sejauh ini Anda baru melihat fotonya, bukan?" 
 
 Jam lima sore. Namun belum lagi jam tiga Bu Lanting sudah meminta Lasi mandi. Lasi mengira dirinya akan diajak keluar karena hal itu sudah terlalu sering terjadi. Apalagi selesai mandi Lasi melihat induk semangnya sudah 
berdandan. Dan pertanyaan mulai muncul dalam hati Lasi ketika Bu Lanting menyuruhnya mengenakan kimono. Lasi belum pernah diajak pergi dengan pakaian seperti itu. 
 
 "Kita mau ke mana sih, Bu? Saya kok pakai kimono?" 
 
 "Tidak ke mana-mana, Las. Kita tidak akan pergi. Aku mau menerima tamu. Tamuku ingin melihat cara orang memakai baju adat Jepang ini." 
 
 "Teman Ibu?" 
 
 "Ya tentu, Las. Masakan aku menerima tamu yang belum kukenal. Dia lelaki yang baik, Las." 
 
 Lasi agak terkejut. "Laki-laki?" 
 
 "Ya, laki-laki. Mengapa heran? Las, temanku bahkan lebih banyak lelaki daripada perempuan. Dan yang akan datang nanti orangnya baik. Sangat kaya. Rumahnya ada empat atau lima. Pokoknya sangat kaya. Nah, kamu lihat, semua temanku adalah orang-orang seperti itu."

Dan orang seperti itu ingin melihat aku dalam pakaian kimono? pikir Lasi. 
 
 Tetapi Lasi kehabisan kata-kata. Lasi tetap duduk dan diam sampai Bu Lanting menyuruhnya masuk ke kamar dan mulai berdandan. Tak lama kemudian Bu Lanting pun ikut masuk, membantu Lasi merias wajah dan menata rambut. Bu Lanting harus lebih banyak campur tangan ketika Lasi mulai memasang kimono merahnya. 
 
 "Las, aku tak pernah bosan mengatakan kamu memang gadis Jepang." 
 
 "Apa iya, Bu?" 
 
 "Betul." 
 
 "Bila saya memang gadis Jepang, bagaimana?" 
 
 "Banyak yang mau!" 
 
 Lasi terdiam, merapikan pakaiannya, lalu berjalan ke depan kaca. 
 
 "Las, bagaimana bila ada lelaki mau sama kamu? Soalnya, sudah kubilang, kamu masih sangat muda dan menarik. Tidak aneh bila akan ada lelaki, bahkan mungkin yang kaya, melirik kepadamu." 
 
 Lasi tidak segera menjawab. "Bu, saya belum berpikir tentang suami. Ibu tahu, kan, saya lari ke sini pun gara-gara suami."

"Aku mengerti, Las. Cuma, salahmu sendiri mengapa kamu cantik. Jadi salira-mu sendiri yang mengundang para lelaki. Ah, begini saja, Las. Kelak kamu kubantu memilih lelaki yang pantas jadi suamimu. Betul, kamu akan kubantu." 
 
 "Ibu kok aneh. Saya belum punya surat janda, lho." 
 
 Bu Lanting tertawa. 
 
 "Bagi seorang lelaki yang berduit, surat janda bukan masalah. Kamu akan segera memperolehnya kapan kamu suka." 
 
 "Sudah cukup, Bu?" kata Lasi mengalihkan pembicaraan. 
 
 "Ya, sudah. Dan, Las, sekarang baru jam empat kurang. Kamu tinggal dan menunggu tamu itu. Aku mau keluar sebentar. Sebentar..." 
 
 "Keluar? Bagaimana..." 
 
 "Tak lama. Betul. Syukur aku bisa kembali sebelum tamu itu datang. Bila tidak, tolong wakili aku menerimanya dan tunggu sampai aku kembali." 
 
 "Tetapi saya malu, Bu." 
 
 "Eh, tidak boleh begitu. Kamu sudah lama jadi anakku, kenapa masih malu bertemu orang? Lagian kamu tak punya sesuatu yang memalukan. Kamu cantik. Aku bilang, kamu adalah anakku dan cantik."

Lasi masih ingin mengelak namun Bu Lanting sudah bergerak membelakanginya. Lasi hanya bisa memandang induk semangnya meraih tas 
tangan di meja tengah, berjalan seperti bebek manila, keluar halaman, dan melambaikan tangan di pinggir jalan raya untuk menghentikan sebuah taksi. Suara rem berdecit. Kemudian suara pintu mobil ditutup dan derum taksi yang menjauh. 
 
 Duduk di kamar seorang diri, Lasi merasa ada kerusuhan besar dalam hatinya. Takut tak mampu mewakili Bu Lanting menerima tamunya. Takut berhadapan dengan lelaki yang belum dikenal, dan siapa dia sebenarnya? Lasi gelisah. Lasi bangkit dan duduk lagi di depan cermin besar. Dipandangnya kembaran dirinya 
dalam kaca, dan tiba-tiba rasa takutnya malah menyesakkan dada. "Jangan-jangan Bu Lanting benar, sekarang aku cantik. Dan sebentar lagi ada laki-laki datang untuk melihat aku memakai kimono?" Lasi makin gelisah. 
 
 Lamunan Lasi mendadak terputus ketika terdengar bel berdering. Duh, Gusti, tamu itu datang. Lho? Ini belum lagi jam setengah lima? Lasi bergegas menuju ruang depan, menenangkan diri sejenak, lalu memutar tombol pintu. 
 
 Lalu terperanjat. Kedua matanya terpaku pada seorang lelaki yang berdiri kurang dari dua meter di depannya. Jelas sekali lelaki itu juga kaget, sama seperti yang dirasakan Lasi. Keduanya saling tatap pada kedalaman mata 
masing-masing. Keduanya seakan mati langkah. Bibir Lasi bergetar. 
 
 Dalam pelupuk matanya yang terbuka lebar tiba-tiba Lasi melihat dirinya masih seorang bocah sedang berlari di malam terang bulan. Di belakangnya menyusul seorang bocah lelaki yang montok dan ingin bersembunyi bersama 
dalam permainan kucing-kucingan. Lasi merasa geli sebab teman ciliknya itu terlalu rapat menempel ke tubuhnya. 
 
 Bayangan masa kanak-kanak terus bermain di mata Lasi, tetapi ia mendengar lelaki di depannya mendesah panjang. Lelaki itu kelihatan sudah kenbali menguasai perasaannya. Tetapi ketika membuka mulut suaranya terdengar parau.

"Las." 
 
 "Kanjat? Oalah, Gusti, aku agak pangling!" Lasi bergerak ingin menepuk pundak Kanjat, tetapi gerakannya tertahan. Anehnya Lasi membiarkan tangannya lama dalam genggaman Kanjat. 
 
 "Ya, aku tadi juga pangling." 
 
 "Kok kamu tahu aku berada di sini?" 
 
 "Bu Koneng yang memberikan alamat rumah ini." 
 
 "Bu Koneng?" 
 
 "Ya. Aku ikut Pardi mengangkut gula. Pardi memang biasa istirahat di warung Bu Koneng. Tetapi tadi kami harus bertengkar dulu dengan pemilik warung makan itu." 
 
 "Bertengkar?" 
 
 "Ya. Karena pada mulanya perempuan itu bersikeras tak mau menunjukkan di mana kamu berada. Pardi mengancam akan memanggil polisi bila Bu Koneng tetap ngotot."




Bersambung.... 
_____________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...