Lasi tersenyum dan mengangguk karena ia percaya itulah yang diharapkan oleh tamunya. Tetapi ingatan Lasi sekilas melayang kepada Kanjat yang baru beberapa saat meninggalkannya. Sudah sampai ke mana dia berjalan pulang?
"Ya."
Dan Handarbeni menyalakan rokok. "Banyak orang kampung pergi ke kota karena hidup di sana susah. Apalagi kamu memang lebih pantas jadi orang kota."
"Apa iya, Pak. Saya kok belum percaya. Sebab saya bodoh. Saya tidak sekolah."
"Tidak sekolah?"
"Hanya tamat sekolah desa."
"Meski begitu kamu tetap lebih pantas jadi orang kota. Lho, kamu tahu mengapa aku bilang begitu?"
Lasi tersipu.
"Tahu?"
Lasi menggeleng. Handarbeni tertawa. Suasana berubah cair dan Lasi merasa
lebih leluasa.
"Sebab, kamu tidak lagi pantas bekerja di sawah di bawah terik matahari. Tidak lagi pantas menggendong bakul di punggung. Pokoknya kamu lebih layak jadi nyonya, tinggal di rumah yang bagus, dengan mobil..."
"Betul!" tiba-tiba terdengar suara Bu Lanting yang sebenarnya sudah agak lama berdiri di balik pintu. "Betul, tak seorang pun bisa membantah bahwa Lasi memang pantas jadi nyonya. Nah, Pak Han, apakah Anda punya calon untuk Lasi?"
"Kita cari dan pasti dapat. Kata orang sekolahan, yang terbaik selalu sudah ada
pemesannya. Iya, kan?"
"Betul, Pak Han. Barang yang demagang akan cepat laku."
Handarbeni dan Bu Lanting sama-sama tertawa. Lasi yang tak enak karena merasa jadi dagangan yang terlalu banyak dipuji, bangkit.
"Maaf, Bu, saya belum menyiapkan minuman. Tadi Pak Han menahan saya di ruang tamu ini."
"Oh? Tentu. Lelaki mana tak suka duduk berdua dengan kamu. Ya, sekarang ambillah minuman."
Hening sejenak. Handarbeni menyedot rokok dan mengembuskan asapnya ke atas. Punggungnya merebah ke sandaran, sangat santai.
"Ah, aku suka bekisarmu. Penampilannya hampir sepenuhnya Jepang. Malah lebih jangkung dari rata-rata gadis Sakura. Sekarang aku percaya, dalam urusan barang langka kamu memang sangat ahli!"
"Wah, wah, kalau hati gembira pujian pun keluar seperti laron di musim hujan."
"Betul. Kamu jempol. Kok bisa-bisanya kamu menemukan bekisar yang demikian bagus."
"Jangan berkata tentang apa-apa yang sudah nyata. Bahkan saya merasa belum berhasil seratus persen. Bekisar Anda itu, Pak Han, masih berjalan seperti perempuan petani. Serba tergesa dan kaku. Sangat jauh dari keanggunan. Sisi ini adalah pekerjaan rumah saya yang belum selesai."
"Ya. Sekilas aku telah melihatnya. Namun kamu harus tahu juga bahwa aku tak ingin dia sepenuhnya jadi anak kota. Sedikit sapuan kesan kampung malah aku suka."
"Ya. Saya tahu Anda sudah jenuh dengan penampilan yang serba artifisial seperti yang diperlihatkan kebanyakan perempuan kota. Anda ingin menikmati sisa keluguan. Iya, kan?"
Handarbeni tersenyum. Kedua kakinya diselonjorkan ke depan. Kepalanya terdongak berbantal sandaran kursi.
"Ah, andaikan mungkin, aku ingin membawa bekisarku pulang sekarang juga." Handarbeni tertawa tanpa mengubah posisi duduknya.
"Apa?"
"Tidak. Aku cuma berolok-olok."
"Jangan seperti anak kecil mendapat mainan baru. Pak Han, perjalanan kita masih cukup panjang. Lasi, meskipun saya tahu sudah sangat ingin berpisah dari suaminya, belum punya surat cerai. Ini sebuah masalah. Kedua, akhirnya kita harus dapat meyakinkan dia agar bersedia menjadi bekisar Anda. Ini adalah
soal yang paling peka."
"Ya, aku menyadari hal itu. Aku juga sadar giri lusi, jalma tan kena kinira, hati manusia tak bisa diduga. Jelasnya, urusan bisa runyam bila bekisar itu tak mau kumasukkan ke kandang yang kusediakan di Slipi."
"Iya. Maka Anda benar-benar harus sabar dan bijaksana. Kesabaran adalah kunci. Anda juga saya minta..."
Lasi keluar membawa minuman dan makanan kecil. Kemunculannya serta-merta menghentikan diskusi kecil antara Bu Lanting dan tamunya. Dan dari ekspresi wajahnya Lasi tidak menyadari dirinya sedang menjadi bahan
pembicaraan.
"Anda juga saya minta tidak menunjukkan minat yang berlebihan," sambung Bu Lanting setelah Lasi masuk kembali.
"Aku sudah enam puluh lebih."
"Oh, maaf. Saya percaya Anda sudah banyak pengalaman. Maksud saya, Anda saya minta bersikap pasif namun tetap manis. Selebihnya saya yang akan menggiring bekisar itu masuk kandang milik Anda, bukan sekadar masuk
melainkan dengan senang hati. Untuk mencapai hasil yang memuaskan, Pak Han, saya kira Anda harus mau menunggu sampai dua atau tiga bulan. Nah, saya ragu apakah Anda bisa memenuhi permintnan ini."
Handarbeni terkekeh. Lalu tersenyum.
"Jangan tersenyum dulu, sebab saya punya permintaan lain. Mulai sekarang segala biaya untuk pemeliharaan bekisar saya bebankan kepada Anda."
"Karena aku merasa bekisar itu sudah jadi milikku, sebenarnya kamu tak perlu berkata begitu. Sebelum kamu minta aku sudah bersedia menanggungnya. Bagi aku yang penting adalah jaminan hasil kerjamu."
"Anda percaya kepada saya, bukan?"
"Ya, sejauh ini kamu terbukti bisa kupercaya."
"Terima kasih. Asal Anda tahu, yang sudah saya lakukan adalah mengajari bekisar itu membiasakan diri dari hal menyikat gigi sampai merawat kuku-kukunya yang rusak. Dari mengenal nama-nama alat kecantikan sampai nama-nama makanan dan masakan. Dan yang saya belum sepenuhnya berhasil adalah meyakinkan bekisar itu bahwa dirinya bukan lagi perempuan kampung istri seorang penyadap. Ia masih punya rasa rendah diri dan belum sepenuhnya percaya akan kelebihan penampilannya. Ah, tetapi untung, bekisar itu cerdas. Ia cepat menangkap hal-hal baru yang saya ajarkan kepadanya."
"Baiklah, Bu Lanting, sementara kutitipkan bekisarku karena aku percaya kepadamu. Tetapi sekarang panggil dia karena aku ingin melihatnya sekali lagi sebelum aku pulang."
"Anda mau pulang?"
"Sore ini aku punya urusan dengan seorang teman."
Lasi keluar masih dengan kimono merahnya. Wajahnya merona ketika Handarbeni mengajaknya bersalaman setelah memujinya dengan acungan jempol.
"Aku senang bila kamu betah tinggal bersama Bu Lanting. Sudah pelesir ke mana saja selama di Jakarta?"
Lasi tersipu. Menunduk dan bermain jemari tangan.
"Belum banyak yang dilihat," sela Bu Lanting.
"Baik. Lain waktu kita jalan-jalan, pelesir bersama. Mau lihat Pantai Ancol atau nomon film di Hotel Indonesia?"
Lasi tetap tersipu.
"Pak Han, mengapa tidak mengundang kami lebih dulu datang ke rumah Anda sebelum Anda mengajak kami jalan-jalan?" tanya Bu Lanting.
"Oh, kamu betul. Ya, aku senang sekali bila kalian mau datang ke rumahku. Aturlah waktunya. Aku menunggu kedatangan kalian."
"Baik, nami Anda kami beritahu kapan kami akan datang. Tetapi katakan lebih dulu ke rumah Anda yang mana kami harus datang? Rumah yang baru Anda bangun di Slipi, bukan?"
Handarbeni tertawa mengiyakan. Matanya berkilat-kilat ketika sekali lagi mengangguk sambil tersenyum kepada Lasi.
*****
Sejak meninggalkan rumah Bu Lanting pikiran Kanjat terus lekat kepada Lasi. Bermacam-macam perasaan mendadak mengembang dalam hatinya. Penampilan fisik Lasi sangat di luar dugaan. Lasi menjadi jauh lebih menarik.
Dada Kanjat selalu berdenyut lebih keras bila membayangkannya. Namun lebih dari soal penampilan, kenyataan bahwa Lasi berada di rumah orang kaya yang tak dikenal sebelumnya membuat hati Kanjat terasa tak enak. Kanjat tak bisa menghindar dari pertanyaan tentang tujuan Bu Lanting membawa Lasi ke rumahnya. Dari berita yang sering terbaca di koran, bahkan dari berita yang beredar dari mulut ke mulut Kanjat sering mendengar tentang perempuan desa yang tertipu dan terpaksa menjadi pelacur di kota-kota besar. Kanjat berharap hal semacam itu tidak akan terjadi atas diri Lasi. Anehnya Kanjat tetap punya perasaan bahwa keberadaan Lasi di rumah gedung di daerah Cikini itu tidak wajar, setidaknya bukan kehendak Lasi sendiri. Memang Bu Koneng menjamin, Bu Lanting sekali-kali tidak akan menyengsarakan Lasi. Namun pemilik warung
nasi itu pun tidak berkata lebih jelas dan Kanjat tidak begitu percaya akan jaminan yang diberikannya.
"Bisa ketemu?" tanya Pardi serta-merta Kanjat turun dari taksi di depan warung Bu Koneng. Kanjat tak segera menjawab. Pardi bahkan melihat wajah anak majikannya itu berat. Pardi hanya dijawab dengan anggukan kepala.
"Kita terus pulang?" tanya Pardi lagi karena melihat Kanjat langsung naik ke kabin truk.
"Kamu sudah dapat muatan? Mana Sapon?"
"Lumayan, ada muatan barang rongsokan sampai ke Purwokerto. Si Sapon sudah ngorok di bak."
"Kalau begitu, ayolah, kita pulang."
Pardi bersiap dan tangannya bergerak hendak memutar kunci kontak. Tetapi tertahan karena tiba-tiba Kanjat menepuk pundaknya dari samping.
"Nanti dulu, Di. Aku ingin ngobrol sebentar."
"Ngobrol apa? Lasi?"
Kanjat tak menjawab. Tetapi tangannya merogoh saku baju dan dikeluarkannya foto Lasi yang langsung diperlihatkannya kepada Pardi. Sopir itu membuka mata lebar-lebar agar dapat mengenali siapa yang terpampang dalam gambar di tangannya.
"Mas Kanjat, ini si Lasi anak Mbok Wiryaji?"
"Kamu pangling?"
"Bukan main, Mas. Aku bilang bukan main. Hanya beberapa bulan pergi dari kampung Lasi sudah sangat lain. Sangat cantik, Mas. Tak memalukan buat dipacari! Dan meski hanya anak Mbok Wiryaji dan tidak gadis lagi, tetapi Lasi pantas menjadi istri seorang calon insinyur."
"Jangan ngawur."
"Saya tidak ngawur. Apa Mas kira saya tak tahu Mas Kanjat senang sama Lasi?"
Kanjat tersenyum kaku karena merasa terpojok. Diambilnya foto Lasi dari tangan Pardi lalu disimpannya kembali dalam saku.
"Apabila Lasi terus tinggal bersama Bu Lanting kira-kira apa yang bakal dialaminya?" tanya Kanjat tanpa menoleh kepada Pardi.
"Mas Kanjat mempunyai perkiraan yang tidak baik?"
"Terus terang, ya. Maka aku sesungguhnya merasa kasihan, dan khawatir Lasi akan dijadikan perempuan yang nggak bener. Menurut kamu apa perasaanku ini berlebihan?"
"Tidak, Mas. Sedikit atau banyak saya pun punya rasa yang sama. Namun, andaikan pcrasaan kita benar, apa yang ingin Mas Kanjat lakukan?"
"Karena Lasi bukan anak-anak lagi dan juga masih punya suami, yang patut kulakukan hanyalah memintanya pulang. Hal itu sudah kulakukan dan gagal. Lasi kelihatan senang tinggal bersama orang kaya. Dia juga kelihatan dimanjakan. Kamu tahu, Di, ketika aku datang Lasi mengenakan pakaian
seperti dalam foto itu."
"Cantik?"
"Jangan tanya, Di."
"Ya, itulah. Saya yakin Bu Lanting mau menampung Lasi karena kecantikannya.
Mas Kanjat, saya kira hal ini bisa berbuntut nggak bener. Maka saya setuju bila Mas Kanjat berusaha mengambil Lasi dari rumah Bu Lanting. Kasihan dia, Mas."
"Tidak mudah melakukannya, Di. Lagi pula, seperti sudah kubilang, Lasi masih punya suami. Tak enak, terlalu jauh mengurus istri orang. Apa kata orang Karangsoga nanti, apalagi bila ternyata kemudian... Ah, tidak."
Pardi tertawa.
"Mas Kanjat, pikiran itu tidak salah. Saya yang brengsek ini pun pantang mengganggu perempuan bersuami karena perempuan yang bebas amat banyak. Tetapi tentang Lasi, siapa yang kira-kira pantas menolongnya selain Mas
Kanjat?"
"Aku sudah mencobanya sebatas kepatutan."
"Mungkin belum cukup, Mas."
"Belum cukup? Jadi menurut kamu, aku harus bagaimana lagi?"
"Barangkali, lho, Mas Kanjat, Lasi mau pulang jika Mas Kanjat berjanji akan bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab? Ah, aku mengerti maksudmu. Aku harus berjanji mengawini Lasi bila dia sudah diceraikan suaminya?"
"Maaf, Mas Kanjat. Itu perkiraan saya belaka. Meskipun demikian saya juga menyadari tidak mudah bagi seorang insinyur, anak bungsu Pak Tir, melakukan itu semua. Karangsoga bakal geger; ada perjaka terpelajar dan kaya mengawini janda miskin, lebih tua pula. Bahkan sangat mungkin orangtua Mas Kanjat
sendiri tidak akan mau punya menantu bernama Lasi. Namun andaikan saya
adalah Mas Kanjat, andaikan."
"Ya, bagaimana?"
"Andaikan saya adalah Mas Kanjat, saya takkan peduli dengan omongan orang
Karangsoga. Bila saya suka Lasi, pertama saya harus jujur kepada diri saya sendiri. Lalu, masa bodoh dengan gunjingan orang. Toh sebenarnya Lasi perempuan yang baik. Apalagi sekarang dia makin cantik. Jadi yang pokok
adalah kejujuran."
Kanjat mendesah. Pardi mengambil rokok dan menawarkannya kepada Kanjat tetapi ditolak. Kabin truk segera penuh asap setdah Pardi menyalakan rokoknya.
"Di," kata Kanjat menghentikan keheningan.
"Ya, Mas?"
"Bahkan sesungguhnya aku merasa malu bila orang-orang Karangsoga tahu bahwa aku menyukai Lasi. Maka aku minta kamu jangan bocor mulut. Tahanlah lidahmu setidaknya selama Lasi belum bercerai dari suaminya."
"Ya, saya berjanji. Ah, Mas Kanjat, mulut saya masih mulut lelaki. Percayalah. Lagi pula saya merasa wajib mendukung keinginan Mas Kanjat. Setia kawan terhadap anak majikan. Dan yang lebih penting, bagaimana caranya agar Lasi tertolong. Betul, Mas Kanjat. Berbuatlah sesuatu untuk menyelamatkan Lasi."
"Ya. Tetapi sayang aku tak mungkin bertindak apa pun dalam satu atau dua minggu ini."
"Lho, kenapa?"
"Ujian. Aku harus menyiapkan diri menghadapi ujian. Maka paling cepat aku bisa kembali menemui Lasi bulan depan."
"Wah, terlalu lama, Mas."
"Aku pun ingin bertindak secepatnya. Tetapi apa boleh buat. Apakah aku harus menunda kcsempatan menyelesaikin sekolah?"
"Saya mengerti, Mas. Tetapi segalanya bisa terjadi atas diri Lasi selama jangka sebulan lebih itu."
"Bukan hanya kamu yang cemas, Di. Maka kubilang, apa boleh buat. Sekarang, ayo berangkat."
Pardi membuang rokoknya lalu memutar kunci kontak. Truk itu menderum dan roda-rodanya mulai bergulir kian cepat. Pardi beralih ke gigi tiga, empat, dan truk Karangsoga itu melesat ke timur. Duduk di samping Pardi, Kanjat
menyandarkan diri ke belakang. Dalam tatapan matanya yang kosong Kanjat melihat anak-anak berkejaran berebut kunang-kunang di malam terang bulan. Kanjat melihat ada pipi putih transparan sehingga jaringan urat darahnya tampak. Ada banyak tangan berhom-pim-pah, dan satu di antaranya paling putih. Tangan Lasi.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar