Jarang terjadi bulan Puasa jatuh pada musim kemarau. Tetapi hal yang jarang itu selalu dinanti oleh para penyadap, karena sudah menjadi kebiasaan pada saat seperti itu harga gula akan naik dan bisa mencapai titik tertinggi. Para penderes sendiri tidak mengerti mengapa harga gula naik pada bulan Puasa,
terutama sejak sepuluh hari menjelang Lebaran. Mereka hanya tahu dari pengalaman sejak lama bahwa harga dagangan mereka membaik bahkan melonjak menjelang akhir bulan itu. Tetapi para tengkulak seperti Pak Tir bisa mengatakan bahwa kenaikan harga gula disebabkan oleh melonjaknya tingkat konsumsi di kota-kota besar. "Pada bulan Puasa banyak orang membuat makanan manis, terutama di kota."
Harga jual gula yang sangat baik pada bulan Puasa dan mudahnya kayu bakar didapat pada musim kemarau adalah dua hal yang bersama-sama mampu sejenak menjernihkan wajah masyarakat penyadap. Pada musim ini para
penyadap nuerasa pekerjaan mereka jauh lebih ringan. Selain mudah mendapat kayu bakar, batang kelapa tidak licin karena lumut yang melapisinya mengering. Nira juga sangat bernas. Inilah hari-hari para penyadap sejenak bisa tersenyum dan tertawa. Mereka untuk sementara cukup makan dan mungkin bisa menyisihkan sedikit uang untuk mengganti baju anak-anak. Dan karena hati terasa ringan, sering terdengar mereka berdendang ketika mereka membelah kayu atau bahkan ketika mereka sedang tersiur-siur pada ketinggian
pohon kelapa. Anak-anak mereka pun berubah. Pipi mereka jadi montok dan betis mereka jadi berisi. Mereka bergembira dan sering bertembang ramai-ramai di bawah sinar bulan. Ada sebuah tembang yang sangat mereka sukai, tembang tentang harapan di bulan Puasa bagi anak-anak yang sehari-hari tak
cukup sandang dan pangan.
Dina Bakda uwis leren nggone pasa
Padha ariaya seneng-seneng ati raga
Nyandhang anyar sarta ngepung sega punar
Bingar-bingar mangan enak nganti meklar
Di hari lebaran sudah kita purnakan puasa
Kita berhari raya, bersenang jiwa dan raga
Berbusana baru, menyantap nasi paten
Riang gembira santap enak hingga perut
kenyang benar
Malam hari, sementara anak-anak berlarian atau bertembang di bawah sinar bulan, beberapa lelaki biasa berkumpul di surau Eyang Mus. Ketika hidup terasa kepenak; tak sia-sia, dan perut terasa aman, mereka punya peluang memikirkan sesuatu yang tak pernah hilang dalam jiwa tetapi sering mereka
lupakan ketika lapar: sangkan paraning dumadi. Para penyadap yang selalu menyebut Gusti Allah untuk membuka kesadaran terdalam demi keselamatan mereka, sering lupa pergi ke surau karena mereka bingung menjawab pertanyaan yang menggigit; mana yang harus didulukan, oman atau iman? Oman adalah tangkai bulir padi, perlambang keamanan perut. Oman dan iman adalah kebingungan para penyadap yang muncul dalam ungkapan yang sering mereka ucapkan, "Bagaimana kami bisa lestari berbakti bila perhatian kami habis oleh ketakutan akan tiadanya makanan untuk besok pagi?"
Maka ketika ketakutan itu hilang, para penyadap sangat ingin membuktikan diri bahwa mereka sebenarnya adalah orang-orang yang tetap eling dan tetap berhati rumangsa di hadapan kemahakuasaan Gusti. Mereka berpuasa karena dalam suasana perut aman mereka justru tak ingin lagi berkata, "Buat apa
puasa karena tanpa puasa pun perut kami selalu kosong." Dan hanya di surau Eyang Mus mereka bisa menemukan jalan untuk menyatakan hubungan yang mendalam antara jiwa mereka dan Sang Mahajiwa melalui cara yang mereka bisa. Mereka sembahyang malam bersama, kemudian melantunkan slawatan atau kadang suluk sisingiran secara barungan; satu orang membaca dan yang
lain menirukan bersama-sama di belakang.
Namun tak jarang, setelah lelah membaca slawatan atau suluk mereka terlibat dalam percakapan tentang hukum dan biasanya Eyang Mus menjadi sumber rujukan. Malam ini ada sebuah pertanyaan sangat khas yang selalu menggantung, karena setiap kali diajukan, Eyang Mus lebih suka menghindar
daripada menjawabnya. Pertanyaan itu sudah diajukan Mukri pada Puasa tahun kemarin dulu: apakah seorang penderes seperti Mukri tetap wajib berpuasa sementara in harus naik-turun 40 pohon kelapa pagi dan sore hari?
"Eyang Mus, malam ini saya minta jawaban yang jelas. Saya tidak tahan lebih lama dalam kebingungan; tidak puasa takut salah, tetapi bila berpuasa kaki saya sering gemetar ketika naik-turun pohon kelapa. Apalagi bila hari hujan."
"Betul, Eyang Mus," sela Sang Kardi. "Sudah sekian tahun Eyang Mus tak mau menjawab pertanyaan ini. Sekarang Eyang Mus kami minta menjawabnya."
Suasana mendadak jadi sepi. Terdengar dengan jelas suara anak-anak yang berebutan kunang-kunang di halaman. Eyang Mus menunduk sehingga kelihatan jelas iket wulung yang membalut kepalanya. Terbatuk lirih lalu mengangkat muka. Senyumnya yang tulus menghias wajahnya yang tua.
"Ah, kalian tak pernah bosan mengajukan pertanyaan ini. Begini, Anak-anak. Dhawuh berpuasa hanya untuk mereka yang percaya, dan dasarnya adalah ketulusan dan kejujuran. Intinya adalah pelajaran tentang pengendalian
dorongan rasa. Mukri, bila kamu kuat melaksanakan puasa meski pekerjaanmu
berat, dhawuh itu sebaiknya kamu laksanakan."
"Bila tak kuat?" potong Mukri.
"Di sinilah pentingnya kejujuran itu. Sebab kamu sendirilah yang paling tahu kuat-tidaknya kamu berpuasa sementara pekerjaanmu memang menguras banyak tenaga. Apabila kamu benar-benar tidak kuat, ya jangan kamu
paksakan. Nanti malah mengundang bahaya. Dalam hal seperti ini kukira kamu bisa mengganti puasamu dengan cara berderma atau menebusnya dengan berpuasa pada bulan lain. Gampang?"
Mukri dan San Kardi saling pandang. Keduanya tampak gembira karena merasa
sudah terlepas dari kebimbangan yang lama menindih hati mereka.
"Jelasnya, Yang, bila saya tak kuat berpuasa karena pekerjaan yang sangat berat, saya boleh berbuka?"
Eyang Mus mengangguk dan tertawa. "Asal kamu tulus dan jujur."
"Eyang Mus..."
"Nanti dulu, aku belum selesai bicara. Meski kalian bisa memperoleh kemudahan, jangan lupa bahwa dalam bulan Puasa seperti sekarang ini kalian tetap diminta berlatih mengendalikan nafsu, perasaan, dan keinginan. Karena, itulah inti ajaran puasa."
"Baik, Yang. Tetapi itu, lho. Jawaban Eyang Mus ternyata sederhana. Lalu mengapa Eyang Mus menundanya sampai bertahun-tahun?"
Eyang Mus terkekeh. Mulutnya yang sudah ompong terbuka. "Mau tahu jawabku? Begini, Anak-anak. Aku memang membatasi diri berbicara soal puasa. Sebab aku tahu kalian bekerja sangat berat dan berbahaya, sementara pekerjaanku hanya memelihara sebuah kolam ikan, itu pun tidak seberapa luas. Itulah, maka aku tak berani mengatakan puasamu harus sama seperti puasaku."
"Dan itulah, maka sampai sekian lama Eyang Mus tak berani berterus terang kepada kami?" seloroh Mukri.
Mereka tertawa. Eyang Mus juga tertawa.
Bulan tua sudah meninggi ketika orang-orang turun meninggalkan saran Eyang Mus. Terdengar kentongan menandakan pukul sebelas, hampir tengah malam. Anak-anak sudah lama masuk dan tidur dalam pelukan udara kemarau yang dingin. Sunyi. Hanya suara tokek dari lubang pada pohon sengon dan suara gangsir. Kepak sayap kelelawar. Suara terompah kayu Eyang Mus mengiringi
langkahnya pulang. Desah pintu bambu yang digeser. Eyang Mus masuk. Di luar, bulan yang tinggal sebelah mulai merambat menuruni langit sebelah barat. Namun semuanya bisu dan hampir tak ada gerak. Karangsoga sudah nyenyak karena dinginnya malam kemarau. Hanya ada cericit suara tikus busuk di pinggir kolam. Ada kucing melintasi halaman tanpa suara, hanya bola matanya memantulkan sepasang cahaya kebiruan. Di langit yang tanpa noda sering membersit lintasan cahaya bintang berpindah. Dan samar-samar dua ekor
keluang terbang membentuk sepasang bayangan yang bergerak beriringan
dalam keheningan.
Makin dekat Lebaran orang Karangsoga makin banyak senyum karena harga gula kelapa terus naik. Pada puncaknya nanti mungkin harga sekilo gula bisa sepadan dengan satu setengah atau bahkan dua kilo beras. Apabila keadaan ini tercapai, meskipun tidak lima tahun sekali dan mungkin hanya berlangsung
beberapa hari, orang Karangsaga merasa beruntung justru karena mereka adalah penyadap nira. Setelah tersedia beberapa kilo beras dan sedikit uang untuk menyambut Lebaran, mereka merasa bahwa hidup adalah kenikmatan yang pantas disyukuri. Dalam rasa beruntung seperti ini mereka pergi menyadap, menembus kabut pagi yang dingin dengan hati yang ringan. Mereka berbagi kegembiraan bila saling berpapasan di jalan dengan tertawa atau bersenandung bahkan ketika mereka sedang berada di ketinggian pohon kelapa.
Memang, mereka sangat sadar bahwa harga gula yang pantas tidak pernah berlangsung lama. Namun kesadaran itu pula yang mengharuskan para penderes Karangsoga menikmati hari-hari yang langka dan sangat berharga itu. Tertawalah selagi ada peluang, meski hanya sejenak.
Sudah menjadi kebiasaan di Karangsoga sejak lama, hari-hari mereka bermula dengan suara beduk subuh dari saran Eyang Mus. Lalu suara panggilan yang berbaur kokok ayam jantan dan kicau burung-burung. Dan bunyi terompah kayu beberapa lelaki tua yang setia memenuhi panggilan itu. Kecipak air di kolam yang ada di samping surau. Dengung ribuan lebah madu yang merubung pepohonan yang sedang berbunga, dan teriakan angsa di halaman rumah Pak Tir. Kelentang-kelentung suara pongkor mulai terdengar dan di timur langit
mulai terang. Beberapa pohon kelapa mulai bergoyang pertanda sudah ada lelaki Karangsoga menembus kabut kemarau yang dingin dan mulai bekerja menyadap nira.
Sinar matahari belum menjamah pucuk-pucuk pohon kelapa ketika sebuah sedan keluar dari jalan raya, membelok ke kanan menelusuri jalan kampung yang menanjak, dan terus menanjak menuju Karangsoga. Para penderes yang melihat kedatangan mobil itu yakin hari ini Pak Tir punya tamu tauke yang sering datang bersama keluarga. Hubungan dagang yang sudah berlangsung puluhan tahun membuat Pak Tir kelihatan sangat akrab dengan keluarga taukenya. Mereka sudah kelihatan seperti bersaudara.
Sedan itu terus merayap di atas jalan sempit yang naik-turun dan berbatu. Ayam-ayam berlarian menghindar. Seekor anak kambing mengembik dan segera lari bergabung dengan induknya. Sepasang angsa menegakkan leher dan si jantan berteriak nyaring dan serak. Beberapa orang perempuan muncul di pintu
dan bergumam; sepagi ini Pak Tir punya tamu. Hadiah apa lagi yang bakal diterima dari taukenya?
Tetapi sedan itu tidak membelok ke halaman rumah Pak Tir. Terus merayap dan baru berhenti di sebuah mulut lorong beberapa puluh meter ke selatan. Mesin mati dan tak lama kemudian keluar seorang lelaki lima puluhan, kurus dan berpeci. Dari pintu mobil sebelah kiri muncul seorang perempuan muda
berkulit sangat bersih dengan rambut tergerai agak sebahu. Mereka mulai menarik perhatian orang-orang yang tinggal di sekitar sedan itu berhenti. Dua anak lelaki malah lari mendekat. Kemudian seorang gadis kecil dengan adik di
punggungnya. Seorang penyadap yang sedang mengiris manggar pun berhenti untuk lebih leluasa memandang ke bawah; siapakah lelaki dan perempuan yang mengendarai sedan itu?
Makin banyak anak-anak berdatangan mengelilingi mobil pendatang. Seorang anak laki-laki yang agak besar merasa pasti bahwa dia belum pernah mengenal lelaki kurus dan berpeci itu, tetapi merasa pernah tahu si perempuan. Siapa? Dan bagi anak lelaki itu semuanya menjadi jelas setelah ia melihat Mbok Wiryaji keluar dari rumah, lari sepanjang lorong sambil berseru, "Las, Lasi, Lasiyah! Kamu pulang? Gusti, anakku pulang?"
"Ya, Mbok," jawab Lasi dengan nada biasa. Wajahnya pun tidak menggambarkan kegembiraan yang meluap. Jabat tangan untuk emaknya juga ringan saja.
Mbok Wiryaji tak bisa berkata-kata lagi. Dadanya sesak. Terengah-engah. Air matanya mulai meleleh. Emak Lasi itu benar-benar menangis. Ia begitu gembira dan ingin merangkul anaknya tetapi mendadak ada rasa segan muncul dalam hati. Emak yang sudah sekian bulan memendam kangen itu berdiri kaku, merasa tak diberi peluang untuk menumpahkan kerinduannya. Mbok Wiryaji
merasa Lasi telah berubah: pakaiannya, tata rambutnya, selopnya, bahkan gerak-geriknya, pandangan matanya, segalanya. Aneh, di mata Mbok Wiryaji, Lasi sudah lain, sangat lain. Dingin. Lasi kelihatan seperti seorang nyonya,
artinya istri tauke Cina atau istri priyayi yang makmur dan cantik. Dan di atas segalanya, Lasi seperti tidak kangen kepada emaknya sendiri meski sudah lama tak bertemu. Dingin. Lalu apa pula artinya, Lasi datang dengan mobil bersama seorang lelaki asing?
"Mbok, ini Pak Min, sopir," ujar Lasi memperkenalkan lelaki kurus itu.
Pak Min mengangguk dalam, membuat Mbok Wiryaji risi. Seumur-umur dia belum pernah mendapat perlakuan seperti itu. Mbok Wiryaji juga merasa Pak Min bersikap sangat sopan terhadap Lasi seperti terhadap majikan. Jadi benar, Lasi sudah lain. Itu perasaan Mbok Wiryaji. Padahal Lasi sendiri merasa banyak
bagian dirinya tetap utuh. Paru-parunya masih peka terhadap kejernihan udara pagi di desanya. Penciumannya masih tajam terhadap bau pakis-pakisan yang tumbuh lebih pada dinding-dinding parit di sekitarnya. Telinganya masih sempurna menikmati kicau si ekor kipas yang terbang-hinggap dengan licah dalam kerimbunan rumpun bambu. Dan Lasi sejenak tertegun ketika melihat jauh di sana, di balik sapuan kabut, sebatang pohon kelapa bergoyang. Tampak seorang penyadap turun dengan dua pongkor tergantung dan berayun-ayun dari pinggangnya. Lasi melihat dunia lamanya terputar kembali di depan mata.
Masih dengan perasaan tak keruan Mbok Wiryaji mengiringi Lasi berjalan sepanjang lorong. Pak Min di belakang, menjinjing sebuah koper. Iring-iringan kecil itu bergerak menuju rumah Mbok Wiryaji karena ternyata Lasi tidak ingin masuk kembali ke rumah sendiri yang memang sudah lama dikosongkan. Di depan pintu, Lasi berhadapan dengan Wiryaji, ayah tirinya yang juga paman Darsa. Keduanya hanya bertatapan, saling sapa dengan basa-basi yang dingin dan terasa janggal.
Lasi datang dari Jakarta membawa sedan, itulah celoteh terbaru yang segera merambat ke semua sudut Karangsoga. Dan cerita pun menuruti kebiasaan di sana, berkembang tak terkendali ke segala arah. Meskipun demikian segala cerita orang Karangsoga bisa disimpulkan, mereka mempertanyakan bagaimana bisa, hanya dalam enam bulan Lasi berubah menjadi demikian makmur. Penampilannya menjadi demikian mengesankan sehingga para tetangga bahkan
emaknya sendiri merasa terpisahkan oleh jarak yang sukar diterangkan. Anehnya rata-rata orang Karangsoga sudah menduga Lasi mendapat kemakmuran dari kecantikannya. "Kalau bukan karena cantik, di Jakarta Lasi
paling-paling jadi babu," kata mereka.
Dengan mengatakan bahwa Lasi jadi makmur berkat kecantikannya, orang Karangsoga bermaksud memperhalus dakwaan mereka. Mereka tak berani mengatakan kecurigaan mereka bahwa Lasi telah melacurkan diri. Bila tidak, masakan secepat itu Lasi punya sedan. Pakaian dan perhiasannya hanya bisa
dibandingkan dengan milik istri tauke yang sering datang ke rumah Pak Tir.
Hari-hari berikut celotch orang Karangsoga terus berkembang. Tetapi mereka tak lagi bicara soal dari mana Lasi mendapat kemakmuran. Mereka beralih ke topik yang baru; Lasi sedang menuntut cerai dari Darsa. Namun topik ini pun cepat padam karena di luar dugaan semua orang Karangsoga, proses perceraian itu sangat cepat dan lancar. Mereka mengatakan bahwa Lasi membawa "surat
sakti" dari seorang overste purnawira di Jakarta yang ditujukan kepada Kepala Desa Karangsoga dan Kepala Kantor Urusan Agama. Karena silau oleh tanda tangan seorang overste, kata tukang celoteh di Karangsoga, Kepala Desa bersegera membawa Darsa menghadap Kepala KUA. Bahkan tanpa kehadiran Lasi di kantor itu talak Darsa pun jatuh.
*****
Pada usia hampir dua puluh lima tahun Kanjat lulus sebagai insinyur. Di hari-hari pertama menjadi sarjana Kanjat merasakan kegembiraan, dan juga kebanggaan. Tetapi hari-hari berikut terasa membawa kekaburan. Kanjat tak mudah menjawab pertanyaan sendiri; sesudah menyandang gelar sarjana, lalu apa? Beberapa teman seangkatan segera meninggalkan kampus untuk melamar
pekerjaan menjadi pegawai negeri Departemen Pertanian. Dan Kanjat, entah mengapa, tak ingin mengikuti langkah mereka. Mungkin karena Kanjat tahu, melamar pekerjaan seperti itu sering berarti berhadapan dengan sistem
birokrasi yang absurd dan adakalanya seperti meminta belas kasihan.
Seorang teman mengajak Kanjat mencoba melamar menjadi pegawai perkebunan milik para konglomerat yang makin banyak dibuka terutama di luar Pulau Jawa. Atau menjadi pegawai bagi pemegang hak pengusahaan hutan. Kata teman tadi, pada sektor swasta semacam itu pelamaran tidak begitu rumit
dan aspek profesional lebih diperhitungkan. Entahlah, tawaran ini pun tak menarik hati Kanjat, terutama karena ia tahu para pengusaha HPH, termasuk keputusan-keputusan yang melahirkannya, punya andil besar dalam pembotakan hutan-hutan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Irian Jaya.
Kanjat tidak ingin ikut menjadi sel kanker yang menggerogoti kehijauan bumi.
Sesungguhnya ada satu tawaran lain, dan kali ini diberikan oleh Doktor Jirem. Kanjat diminta tetap tinggal di kampus menjadi asisten dosen. Mulanya Kanjat tidak tertarik pada tawaran ini. Gaji seorang asisten dosen tidak menarik dan lebih lagi Kanjit merasa kurang bisa tekun dalam tugas sebagai pengajar.
Namun ketika Pak Jirem bilang bahwa dengan tetap menjadi warga kampus Kanjat punya peluang lain, pikirannya berubah. Menurut Pak Jirem, Kanjat bisa bergabung dalam kelompok peneliti yang sudah satu tahun dipimpinnya. Dan Kanjat terkejut ketika Pak Jirem bertanya dengan gaya lugas.
"Jat, kamu sudah lupa akan skripsi yang baru kemarin kamu tulis? Maksud saya, apakah di hatimu masih ada keterpihakanmu kepada kehidupan para penyadap yang dulu sangat menggebu?"
Karena gagap Kanjat hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
"Ah, sarjana baru zaman sekarang! Baru kemarin kamu bilang soal keprihatinan, bahkan keterpihakan. Dan sekarang kamu sudah lupa. Semangat tempe?"
Kanjat tersenyum pahit. Menggaruk-garuk kepala. Wajahnya berubah merah dan napasnya tertahan. Nyata betul hati Kanjat tersinggung oleh kata-kata seniornya. Doktor Jirem pun kemudian sadar ucapannya memakan hati anak muda di depannya. Menyesal, tetapi semuanya telah telanjur.
"Pak Jirem," kata Kanjat dengan suara berat. "Saya sih, sampai kapan pun tetap anak Karangsoga. Saya selalu merasa kaum penyadap di sana adalah sanak famili saya sendiri. Jadi kepahitan hidup mereka adalah keprihatinan dan beban jiwa saya juga, beban yang tak ringan."
Kanjat berhenti. Gelisah. Pak Jirem memperhatikannya, masih dengan rasa
menyesal.
"Jadi beban?" tanya Pak Jirem karena lama ditunggu Kanjat belum juga meneruskan kata-katanya.
"Ya. Karena, sementara saya bisa merasakan kesusahan mereka, saya boleh dibilang tak mampu berbuat sesuatu. Pak, mungkin perasaan saya salah. Namun memang saya merasa dalam kondisi kehidupan yang dikuasai oleh perekonomian pasar bebas seperti sekarang, segala keterpihakan terhadap kehidupan pinggiran kurang mendapat dukungan. Malah, jangan-jangan obsesi saya untuk membantu para penyadap merupakan sesuatu yang sia-sia. Seperti
pernah saya katakan dulu, jangan-jangan nanti ada orang menyebut saya Don Kisot."
Junior dan senior sama-sama terdiam. Namun tak lama kemudian Pak Jirem tersenyum. Kedua tangannya masih dalam saku celana.
"Ya, saya mengakui ada kebenaran dalam kata-katamu. Namun saya juga mengakui masih ada kebenaran dalam pepatah lama; lebih baik berbuat sesuatu, meskipun kecil, daripada tidak sama sekali. Dalam hal perdagangan gula kelapa, karena sudah lama terkuasai oleh tangan gurita yang begitu kuat,
kita mungkin tak bisa berbuat banyak. Tetapi apakah tak ada sisi lain dalam kehidupan masyarakat penyadap yang perlu kita bantu?"
"Banyak!" jawab Kanjat cepat. Begitu cepat sehingga Jirem merasa napasnya terpotong. Tetapi Jirem tersenyum karena melihat ada semangat tergambar dalam wajah Kanjat.
Dengan gairah Kanjat menghitung segi-segi kehidupan para penyadap yang bisa ditangani sebagai bahan penelitian. Kanjat tahu betul para penyadap sangat disulitkan oleh nira, yang cepat berubah menjadi asam. Penemuan bahan kimia pengawet yang murah dan mudah didapat tentu sangat menolong mereka. Bahan kimia lain yang bisa membantu pengerasan gula juga sangat dibutuhkan para penyadap. Kanjat merasa yakin, dengan bantuan beberapa teman yang tahu urusan kimia kedua bahan itu bisa dibuat. Para penderes juga perlu mendapat pengetahuan bahwa pohon kelapa mereka memerlukan pemupukan,
suatu hal yang sama sekali tak pernah mereka sadari kegunaannya. Tetapi Kanjat merasa berat ketika mengatakan kepada Pak Jirem, soal bahan bakar pengganti.
"Para penyadap tetap menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Juga limbah kilang padi berupa sekam. Tungku mereka merupakan sebuah sistem pemborosan energi yang luar biasa. Dalam penelitian saya ketahui hanya
sekitar 20 persen panas yang termanfaatkan."
"Hanya dua puluh persen?"
"Ya. Dan kita tahu kayu, bahkan sekam, harus mereka beli. Bila harga gula jatuh, mereka tak mungkin mengolah nira kecuali dengan cara mencuri kayu di hutan tutupan. Atau menebang kayu apa saja yang mereka miliki."
"Ya, saya sudah tahu dari keterangan dalam skripsimu. Kebutuhan bahan bakar para penderes punya andil paling besar dalam kerusakan hutan di sekitar Karangsoga."
"Juga, proses pembentukan bunga tanah berhenti karena di musim kemarau para penderes menyapu bersih sampah daun dari hutan di sekitar mereka. Dan yang satu ini tak tertulis dalam skripsi saya. Bahkan pohon soga hampir atau sudah hilang dari Karangsoga. Apabila keborosan akan kayu bakar tak dihentikan, kampung saya akan berubah menjadi wilayah monokultur karena
selain kelapa semua pepohonan terancam masuk tungku."
"Jadi, Jat, sebenarnya kamu ingin melakukan banyak hal. Dan yang kamu perlukan sekarang, mungkin, adalah sebuah momentum untuk menghilangkan keraguan, momentum untuk mendorong kamu segera bertindak."
Atas bantuan Doktor Jirem, Kanjat berhasil menyusun sebuah tim peneliti. Joko Adi tahu soal kimia, Topo Sumarso tahu urusan produksi pertanian, dan Hermiati bisa menyusun hasil penelitian tim menjadi bahan tulisan untuk media massa. Kanjat sendiri mengambil bagian masalah dampak lingkungan kegiatan produksi gula kelapa.
Kegiatan tim kecil yang dipimpin Kanjat menjadi bagian kegiatan penelitian yang sudah lama diketuai Doktor Jirem. Mereka berkantor di sebuah ruang sempit di kompleks kampus. Tetapi ketika mereka harus berkerja di lapangan, rumah orangtua Kanjat di Karangsoga sering menjadi basis kegiatan. Kanjat dan tiga temannya sering berkumpul untuk membicarakan koordinasi ataupun
kemajuan bidang garapan masing-masing.
Adalah Pak Tir yang sering menggeleng-gelengkan kepala bila melihat kegiatan anak-anak muda itu, terutama anaknya sendiri, Kanjat. Apa maksudnya dan apa gunanya membuat tungku-tungku percobaan yang katanya bisa menghemat kayu bakar? Apa guna mencatat punahnya berbagai jenis kayu dan perdu yang katanya disebabkan kerakusan tungku para penderes? Juga apa perlunya banyak bertanya tentang tetek bengek kegiatan para penyadap itu?
"Lho, kalau cuma ingin bisa membuat tungku atau mengakrabi orang Karangsoga, mengapa aku harus menyekolahkan dia sampai jadi insinyur?" kata Pak Tir kepada istrinya suatu hari.
"Memang lucu ya, insinyur kok kerjanya seperti itu. Yang kudengar, insinyur itu adalah pegawai, orang berpangkat yang berkantor di kota."
"Ya, tetapi itulah anakmu. Coba, ajaklah dia bicara dan apa maunya."
"Ah, biarlah, Pak. Nanti bila dia marah lalu memilih kerja di tempat yang jauh, lalu aku malah jadi susah. Kan bagaimana juga, katanya, dia menjadi dosen."
"Dosen tungku?"
"Sampeyan jangan menyakitinya. Dia bungsu kita."
"Itulah. Kamu memang selalu memanjakannya. Maka ulahnya aneh-aneh.
Masakan sudah jadi dosen masih repot dengan tanah liat untuk membuat tungku, dengan kayu bakar. Dosen apa itu? Daripada berbuat macam-macam lebih baik kamu suruh anakmu itu mencari calon istri."
Istri Pak Tir diam. Emak Kanjat itu tahu, suaminya sedang kecewa terhadap anaknya namun tak berani berterus terang terhadap Kanjat. Bila pembicaraan diteruskan suasananya bisa berubah menjadi tegang. Tidak. Anehnya, Mbok Tir diam-diam juga setuju dengan suaminya, tak ingin melihat anaknya melakukan hal yang aneh-aneh di kampung. Bedanya, Mbok Tir begitu sayang kepada bungsunya dan sangat khawatir anaknya pergi jauh dari Karangsoga.
Tim yang dipimpin Kanjat sudah satu bulan bekerja. Banyak temuan telah dicatat oleh Kanjat sendiri maupun Joko dan Topo. Giliran Hermiati merangkum hasil penelitian ketiga temannya itu untuk disusun sebagai naskah
artikel untuk media massa. Kanjat sendiri masih sibuk di Karangsoga, memperbaiki model tungku hemat kayu api yang dimodifikasi dari model tungku temuan Ir. Johannes. Bungsu Pak Tir itu sedang bekerja di bengkelnya ketika Pardi muncul tiba-tiba. Pertanyaannya pun nyalawadi, mengandung
rahasia,
"Mas Kanjat sudah dengar?"
"Dengar apa?"
"Dia sudah resmi jadi janda."
"Maksudmu Lasi?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia. Mau bertaruh dengan saya tentang siapa yang akan pertama datang ke rumah Mbok Wiryaji untuk melamar Lasi?"
Kanjat tersenyum.
"Mas Kanjat sudah bertemu dia?"
"Belum. Jujur saja, Di. Entah mengapa di kampung sendiri aku merasa serba salah bila hendak menemui Lasi. Padahal sih, aku ingin melihatnya juga."
"Saya bisa mengerti. Masalahnya, sekarang Lasi sudah resmi menjadi janda. Tak ada salahnya bila seorang lelaki, apalagi masih sendiri, pergi ke sana. Atau Mas Kanjat tak khawatir keduluan orang?"
Kanjat tersenyum, lalu meminta Pardi lebih mendekat. Wajah Kanjat berubah-ubah ketika mengatakan sesuatu kepada Pardi. Tetapi mereka mengakhiri pertemuan dengan senyum ringan. Pardi malah tertawa.
Kemudian terbukti sore ini Pardi-lah orang pertama yang melangkah menuju rumah Mbok Wiryaji untuk bertemu Lasi. Langkahnya ringan, wajahnya tanpa beban, dan asap rokok tak berhenti mengepul dari mulutnya. Pardi, sopir yang sangat berpengalaman menghadapi banyak perempuan, tak sedikit pun kelihatan canggung ketika sudah duduk berhadapan dengan Lasi. Namun apa yang serta-merta dilakukan Lasi terhadap Pardi adalah sesuatu yang mengejutkan sopir Pak Tir itu. Lasi meletakkan beberapa lembar uang di bawah
mata Pardi.
"Di, aku belum tahu apa keperluanmu datang kemari. Namun terimalah uang itu lebih dulu agar utangku kepadamu lunas. Dan terima kasih atas kebaikanmu."
Pardi tercengang namun langsung mengerti maksud Lasi. Gagu. Menggelengkan kepala. Pardi merasa tak bisa berbuat lain kecuali menerima kembali uang yang diberikannya kepada Lasi enam bulan berselang.
"Nah, Di, sekarang kamu boleh mengatakan apa maumu," ujar Lasi dengan senyum.
Pardi gelisah. Senyum itu membuat jantungnya berdebar. Tetapi Pardi hanya
bisa menelan ludah.
"Las, aku berharap belum seorang pun datang mendahuluiku. Aku melamarmu pada hari pertama kamu jadi janda. Bisa kamu terima?"
Lasi membelalakkan mata.
"Hus. Brengsek! Dasar lelaki. Dasar sopir. Sontoloyo! Yang kamu pikir hanya itu-itu melulu. Kamu tak tahu sakitnya orang seperti aku? Tidak?"
"Las, aku tidak main-main."
"Tidak."
"Dengar dulu..."
"Tidak, tidak!"
"Baiklah, tetapi jangan berteriak seperti itu. Sayang, secantik kamu berteriak-teriak seperti angsa jantan."
"Kamu yang brengsek. Kurang ajar."
Pardi tertawa.
"Katakanlah semaumu."
Pardi tertawa lagi. Cengar-cengir, menoleh kiri-kanan.
"Mana emakmu?"
"Di dalam."
Pardi cengar-cengir lagi. Lalu merogoh saku baju dan meletakkan sebuah surat di atas meja tepat di hadapan Lasi. Sesaat setelah tahu siapa pengirimnya, wajah Lasi menegang. Bibirnya bergetar. Bisu. Lengang, sehingga terdengar jelas suara korek api yang dinyakikan Pardi. Lasi membuka surat itu yang
ternyata hanya berisi beberapa kalimat. Ada langkah mendekat dari ruang dalam. Lasi cepat menyembunyikan surat itu dalam genggamannya. Mbok Wiryaji muncul.
"Oh, kamu, Di?"
"Ya, Mbok. Malu-malu apa, saya mau melamar Lasi," kata Pardi sambil senyum.
"Siapa tahu anak Mbok yang sudah kayak Jepang tulen ini mau menerima seorang lelaki brengsek."
"Nah, pernah mendengar ada orangtua mau menerima calon menantu brengsek?" kata Mbok Wiryaji dengan wajah sedingin bibir tempayan. Lalu masuk lagi. Pardi dan Lasi sama-sama tersenyum.
"Las, Mas Kanjat ingin bertemu kamu. Bisa, kan?"
Wajah Lasi kembali tegang. Menunduk. Membaca lagi surat yang berada di tangannya. Mendesah.
"Bagaimana, Las? Kok malah bengong?" tanya Pardi lirih.
"Bagaimana ya, Di? Aku bingung," jawab Lasi sambil mendesah.
"Bingung?"
Lasi mengerutkan kening. Menelan ludah. Matanya yang sipit kelihatan makin sipit. Pardi menatapnya, menikmatinya. Kadang Pardi merasa begitu sial karena Kanjat, anak majikannya, lebih dahulu naksir Lasi. Andaikan tidak!
"Las, dalam surat itu Mas Kanjat bilang mau ketemu kamu, bukan?"
"Ya. Tetapi aku bingung."
Diam. Pardi mengisap rokoknya dalam-dalam. Lasi menunduk seperti kehilangan kata untuk diucapkan. Tanpa mengaku bingung pun perasaan itu tergambar jelas pada wajahnya, pada gerik tangannya yang tak menentu.
"Las, aku kan cuma disuruh Mas Kanjat mengantar surat buat kamu. Nah, surat ini sudah kamu terima. Aku permisi."
Lasi gagap. Pardi mengira Lasi akan mengucapkan sesuatu untuk disampaikan
kepada Kanjat. Tetapi lama ditunggu bibir Lisi hanya bergerak-gerak tanpa suara. Pardi membalikkan badan dan melangkah.
"Tunggu, Di. Dengar dulu. Aku pun ingin bertemu Kanjat. Tetapi kukira aku tak bisa. Di, memang sebaiknya aku tidak bertemu dia." Lasi menunduk dan mendesah.
"Kok?"
Lasi kembali mendesah. Mengusap mata yang basah. Menggigit bibir. Ada dua pernik perlahan muncul di mata dan meleleh pada pipinya yang bersih.
"Kamu benar-benar tak mau bertemu Mas Kanjat?"
Lasi mengangguk.
"Jadi aku harus mengatakan kepadanya bahwa kamu tak ingin dia temui?"
Lasi mengangguk lagi. Pardi mendesah. Tetapi Pardi merasa ada sesuatu yang tak wajar; ada jarak antara kesan pada wajah Lasi dan kata-kata yang diucapkannya. Tetapi Pardi merasa tak berdaya, buntu. Maka ia mengisap
rokoknya dalam-dalam lalu bangkit.
"Baiklah. Akan kukatakan kamu tak mau ketemu Mas Kanjat."
Lasi tak menjawab apa pun. Diam dan menunduk. Namun keraguan muncul dengan jelas pada wajahnya. Bangkit dan melangkah meninggalkan Pardi yang tetap berdiri dan bingung.
*****
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar