Senin, 17 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 13

BAGIAN KELIMA 01
 
 
 Lampu utama di kamar Lasi sudah lama padam. Yang tinggal menyala adalah lampu kecil bertudung plastik biru yang berada di pojok ruangan. Sunyi sekali. Lasi sudah lama berbaring di tempat tidur. Tetapi Lasi tak dapat memejamkan mata. Dari jauh terdengar penjual sekoteng mendentingkan mangkuknya. Dentang jam pukul dua tengah malam. Lasi yang makin gelisah bangkit untuk 
mematikan lampu kecil itu. Pekat seketika. Dalam kegelapan yang menelan sekeliling, Lasi mencoba mengendapkan hati dan kembali merebahkan diri menanti kantuk. Tetapi kegelisahannya malah makin menjadi-jadi. 
 
 Pada layar malam yang sangat pekat Lasi melihat dengan jelas sosok Kanjat yang datang seminggu lalu. Anak Pak Tir itu! Dia sudah besar dan gagah. Dia datang dengan senyum dan sinar mata seorang lelaki dewasa; senyum dan sinar mata yang mendebarkan. Tetapi, sudahlah. Lasi harus berusaha melupakan 
Kanjat. Karena malam ini ada hal lain yang lebih menggelisahkan hatinya. Handarbeni! Tadi sore Lasi diajak Bu Lanting berkunjung ke rumah lelaki itu di Slipi. Sebuah bangunan baru yang gagah. 
 
 Sebenarnya Lasi sudah mulai terbiasa dengan rumah-rumah bagus di Jakarta. Maka Lasi tak begitu heran lagi dengan rumah Pak Han yang lantainya lebih putih daripada piring yang biasa dipakainya di Karangsoga. Ruangan dan kamarnya besar-besar, dapurnya mengilap, dan ada kolam ikan di ruang tengah. Perabotnya serba kayu jati dengan bantalan tebal dan empuk. Setiap ruang tidur dilengkapi kamar mandi mewah. 
 
 Tidak. Lasi tidak begitu heran lagi. Tetapi ketika berada di rumah Pak Han itu Lasi berdebar-debar karena ada sebuah potret besar berbingkai perak terpajang pada tembok ruang tengah. Dan potret itu adalah foto Lasi sendiri dalam kimono merah. 
 
 Lasi sangat ingin bertanya mengapa potret dirinya bisa terpajang di sana. Ia ingin sekali bertanya kepada tuan rumah namun terasa segan meskipun Pak Han demikian ramah dan manis ketika mengantar Lasi dan Bu Lanting berkeliling rumah. Hanya Bu Lanting yang berhati peka tahu perasaan Lasi. 
 
 "Las, akulah yang memberikan potretmu kepada Pak Han. Sudah kubilang, Pak Han menyukai perempuan dalam pakaian kimono. Tetapi yang memasang potretmu di sana mungkin Pak Han sendiri." 
 
 "Lho iya, dan apa pendapatmu? Sangat pantas, bukan?" ujar Pak Han. 
 
 "Amat sangat pantas," jawab Bu Lanting. Lasi menunduk dan tersipu. "Lebih pantas lagi andaikan Lasi sendiri yang menghias rumah baru ini. Nah, Pak Han, sekarang saya balik bertanya, apa pendapat Anda?" 
 
 "Susah payah kubangun rumah ini, kaukira buat siapa?" 
 
 "Anda tidak berolok-olok, bukan?" tanya Bu Lanting. 
 
 "Aku bukan anak-anak lagi. Buat apa berolok-olok?" 
 
 Handarbeni dan Bu Lanting sama-sama tertawa dan sama-sama mencari tanggapan pada wajah Lasi. Merah rona dan tersenyum malu. Lasi merasa sesak di dada, gerah, dan berkeringat. Dan ingin sekali segera meninggalkan rumah itu. Untung, Handarbeni memang segera mengajak mereka keluar untuk makan malam. Tetapi Lasi kehilangan selera karena hatinya terus gelisah. Bahkan 
kegelisahan Lasi masih terkesan di wajah meskipun Handarbeni sudah membawanya jalan-jalan ke Pasaraya di tingkat atas restoran itu dan membelikannya baju dan sebuah tas tangan yang sangat mahal. 
 
 Keesokan hari Bu Lanting mengajak Lasi duduk-duduk di teras depan. Dengan jemari sibuk pada benang dan jarum renda, Bu Lanting membawa ingatan Lasi kembali ke rumah Handarbeni. 
 
 "Las, apa kamu belum tahu mengapa Pak Han memasang potretmu di rumahnya yang baru itu?" tanya Bu Lanting tanpa menoleh kepada Lasi. 
 
 Lasi langsung menundukkan kepala dan menggeleng. Tetapi hati kecilnya sudah merasa, sesuatu yang mengejutkan akan segera didengarnya. 
 
 "Las, aku mau bilang sama kamu, ya. Aku harap kamu sangat senang mendengarnya. Las, sebenarnya Pak Han menaruh harapan kepadamu. Pak Han suka sama kamu dan ingin kamu man menjadi istrinya. Katanya, dia sungguh tidak main-main." 
 
 Lasi terbelalak. Sejenak terpana dan tiba-tiba sulit bernapas. Wajahnya pucat oleh guncangan yang mendadak menggoyang jiwanya. Sepasang alisnya merapat. Lasi gelisah. Tetapi Bu Lanting tak ambil peduli. 
 
 "Bila kamu mau, rumah Pak Han yang baru itu akan menjadi tempat tinggalmu. Aku sendiri ikut senang bila kamu menjadi Nyonya Handarbeni. Nah, apa kataku dulu. Kamu memang cantik sehingga seorang kaya seperti Pak Han bisa jatuh hati kepadamu. Bagaimana, Las, kamu mau menerima tawaran itu, bukan?" 
 
 Lasi tidak menjawab. Ia tetap menunduk. Tangannya gemetar dan mulai sibuk mengusap air mata. 
 
 "Las, bila aku jadi kamu, harapan Pak Han akan kuterima sebagai keberuntungan. Memang Pak Han tidak muda lagi. Bahkan kukira dia sudah punya satu atau dua istri. Namun dia punya kelebihan; dia akan mampu 
mencukupi banyak keinginanmu."

Bu Lanting berhenti sejenak karena harus mengambil gulungan benang renda yang jatuh ke lantai. 
 
 "Las, kamu sendiri sudah berpengalaman menjadi istri yang bekerja sangat keras sambil mengabdi sepenuhnya kepada suami. Tetapi apa hasilnya? Selama itu, menurut cerita kamu sendiri, terbukti kalung sebesar rambut pun tak mampu kamu beli, malah kamu dikhianati suami. Pakaianmu lusuh dan badanmu rusak. Kini ada peluang bagimu untuk mengubah nasib. Dan karena kamu memang sudah pantas menjadi istri orang kaya, jangan sia-siakan kesempatan ini." 
 
 Bu Lanting berhenti lagi, kali ini karena haus. Diangkatnya gelas teh manis yang baru diletakkan di hadapannya oleh pembantu. Dan tangannya segera kembali ke benang renda. 
 
 Air mata Lasi sudah reda. 
 
 "Bagaimana, Las?" 
 
 "Bu," jawab Lasi gagap dan makin gelisah. Suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Bibirnya bergetar. "Sebenarnya saya belum berpikir tentang segala macam itu. Saya malu. Saya masih punya suami. Dan hati saya belum 
tenang dari kesusahan yang saya bawa dari kampung. Lagi pula, apa betul Pak Han mengharapkan saya? Bu, saya cuma perempuan dusun yang miskin dan hanya tamat sekolah desa. Jadi apa yang diharapkan Pak Han dari seorang seperti saya?" 
 
 Bu Lanting terkekeh tetapi mata dan tangannya tetap lekat pada benang renda. Tetap tanpa memandang Lasi, Bu Lanting terus berceramah, sesekali diselingi dengan derai tawa. 
 
 "Oalah, Las, dasar kamu perempuan dusun. Kamu tidak tahu bahwa kamu punya sesuatu yang disukai setiap lelaki: wajah cantik dan tubuh yang bagus. Kamu mungkin juga tidak tahu bahwa sesungguhnya lelaki kurang tertarik, atau malah segan terhadap perempuan yang terlalu cerdas apalagi berpendidikan terlalu tinggi. Bagi lelaki, perempuan yang kurang pendidikan dan miskin tidak jadi soal asal dia cantik. Apalagi bila si cantik itu penurut. Jadi lelaki memang 
bangsat. Nah, kamu dengar? Kini kamu tahu kenapa Pak Han suka sama kamu? Sebabnya, kamu cantik dan diharapkan bisa menjadi boneka penghias rumah dan kamar tidur. Maka percayalah, kamu akan selalu dimanjakan, ditimang-timang selama kamu tetap menjadi sebuah boneka; cantik tetapi penurut." 
 
 Tawa Bu Lanting kembali pecah. Sebaliknya, Lasi diam dan tak mengerti apa yang dikatakan Bu Lanting. Kerut-kerut di keningnya makin jelas. 
 
 "Bu, tetapi bagaimana juga saya masih punya suami. Rasanya tidak patut berbicara tentang lelaki lain selagi surat cerai pun belum ada di tangan." 
 
 "Ah, itu mudah," potong Bu Lanting dengan suara datar dan dingin, bahkan tanpa sedikit pun memalingkan wajah. "Sangat mudah. Kalau mau, kamu malah bisa punya surat cerai tanpa menunggu talak dari suamimu dan kamu tak perlu pulang kampung. Uang, Las, uang. Dengan uangnya Pak Han atau siapa saja bisa mendapat apa saja, apalagi sekadar surat ceraimu." 
 
 "Ya, Bu. Tetapi, tetapi sedikit pun saya belum berpikir tentang perkawinan. Ah, bagaimana mungkin, saya masih punya suami." 
 
 Lasi tak bisa meneruskan kata-katanya. Air mata yang kembali deras membuat lidahnya kelu. Dan bayangan Kanjat muncul sekejap. Bu Lanting tetap tenang, tetap suntuk dengan benang dan jarum rendanya. 
 
 "Sudah kubilang, yang penting kamu bersedia menerima Pak Han dan kamu akan beruntung. Lagi pula buat apa mengingat-ingat suami pengkhianat. Masalah surat cerai dan lain-lain, mudah diatur."

Lasi mengerutkan kening. 
 
 "Apa kira-kira saya boleh pikir-pikir dulu, Bu? Soalnya, urusan seperti ini sangat penting, bukan?" 
 
 "Bukan hanya sangat penting melainkan juga keberuntungan yang sangat besar bagimu." 
 
 "Tadi Ibu bilang Pak Han sudah punya satu atau dua istri?" 
 
 "Betul. Dan juga terlalu tua bagi kamu. Tetapi, Las, apa artinya itu semua jika Pak Han bisa memberi kamu rumah gedung dengan perlengkapannya yang mewah, pakaian bagus, dan mungkin juga simpanan uang di bank atau 
kendaraan. Las, aku sama seperti kamu, perempuan. Aku sudah cukup pengalaman hidup. 
 
 Dulu, aku pun berpikiran seperti kamu. Tak sudi berbagi suami karena aku pun punya kesetiaan. Makan tak makan tidak jadi soal, yang penting akur, ayem tentrem. Suami hendaknya yang sepadan dan gagah. Itu dulu. Sekarang, Las, ternyata kemakmuran itulah yang terpenting. Buat apa menjadi istri satu-
satunya dan punya suami muda bila kita tinggal di rumah kumuh, tak sempat merawat badan, dan selalu dikejar kekurangan? Las, hidup hanya satu kali; mengapa harus miskin seumur-umur? Nah, kinilah waktunya kamu mengubah nasib. Jangan biarkan peluang ini lewat karena mungkin tidak bakal datang dua 
kali seumur hidupmu." 
 
 Lasi diam dan menggigit bibir. Lidahnya serasa terkunci oleh kepandaian Bu Lanting menyusun kata-katanya. 
 
 "Ya, Bu. Namun bagaimana juga saya minta waktu untuk berpikir."

"Mau pikir apa lagi, Las?" sambung Bu Lanting.

 "Masalahnya sudah jelas, kamu mendapat peluang jadi wong kepenak, orang yang beruntung. Kenapa harus kamu pikir dua kali? Ah, tetapi baiklah. Kamu boleh pikir-pikir dulu. Namun aku pesan, jangan kecewakan orang yang berniat baik terhadap kamu. Besok kamu 
harus memberi jawaban, sebab Pak Han sudah menunggu. Ingat, jangan kecewakan aku dan Pak Han. Kalau kamu menampik peluang yang dia tawarkan, jadilah kamu orang tak tahu diuntung. Dan tak mau berterima kasih 
kepadaku!" 
 
 Bu Lanting bangkit dengan wajah beku dan pekat. 
 
 Dan Lasi tersentak karena mendengar bunyi jam tiga dini hari. Sambil menggeliat gelisah Lasi mengeluh, "Besok aku harus memberi jawaban. Tetapi apa?" 
 
 Sesungguhnya Lasi tahu jawaban yang harus diberikan hanya satu di antara dua: ya atau tidak. Namun kedua jawaban itu amat sulit dicari karena keduanya bersembunyi dalam rimba ketidakjelasan, keraguan, malah 
ketidaktahuan. Segalanya serba samar dan baur. Lasi jadi gagap karena merasa dihadapkan kepada dua pilihan yang tiba-tiba muncul di depan mata. 
 
 Dua pilihan? Oh, tidak. Hanya satu pilihan! Tiba-tiba Lasi sadar dirinya sedang berhadapan dengan hanya satu pilihan. Lasi hampir mustahil bilang "tidak". Lasi 
merinding ketika menyadari dirinya sudah termakan oleh sekian banyak pemberian: penampungan oleh Bu Lanting, segala pakaian, bahkan juga makan-minum. Uang dan perhiasan. Belum lagi hadiah-hadiah dari Pak Han. Lasi merasa terkepung dan terkurung oleh segala pemberian itu. Lasi terkejut dan 
merasa dikejar oleh aturan yang selama ini diyakini kebenarannya. Bahwa tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan. Dan siapa mau menerima harus mau pula memberi. "Ya ampun, ternyata diriku sudah tertimbun rapat oleh utang kabecikan, utang, utang budi, atau apalah namanya. Bila aku masih punya muka, aku harus menuruti kemauan Bu Lanting untuk membayar kembali utang itu. Aku tak mungkin menampik Pak Han. Tak mungkin?"

Lasi mendesah kemudian mengisak. Hati terasa pepat. Ia teringat pada pertemuannya dengan Kanjat. Dan tetap tak mengerti, getun, mengapa Kanjat tidak mengambil sikap lugas, berjanji mau hidup bersama misalnya, lalu 
mengajaknya lari entah ke mana. Lasi mendesah lagi. 
 
 Anehnya, dalam kegelisahan yang makin rumit Lasi masih bisa merasakan kadar kebenaran dalam ucapan Bu Lanting; bahwa hidup sebagai istri penyadap memang tidak banyak harapan. Lasi merasakan sendiri, para penderes bekerja hari ini untuk makan hari ini. Bahkan sering lebih buruk dari itu yakni ketika 
harga gula mencapai titik terendah. Atau ketika gula mereka gemblung, lembek, dan gagal dicetak. Para penyadap bertahan dalam kehidupan yang getir itu hanya karena mereka sudah membiasakan diri dengan segala macam kepahitan. Bahkan selama hidup bersama Darsa, Lasi pun tidak pernah ingin 
melarikan diri dari kegetiran hidup sebagai istri penyadap. Sama seperti orang-orang Karangsoga, Lasi tidak merasa perlu mempermasalahkan kesulitan hidup dan kemiskinan karena mereka tak pernah mampu melihat jalan keluar. Atau keduanya sudah diterima sebagai bagian keseharian yang sudah menyatu dan telanjur akrab sehingga tak perlu mempertanyakannya lagi. 
 
 Atau sesungguhnya Lasi sendiri sering menemukan celah kenikmatan dalam 
kepahitannya sebagai seorang istri penyadap. Misalnya, puasnya hati ketika gula yang diolahnya keras dan kuning; segarnya mandi curah di sumur yang terlindung rumpun bambu setelah lama bekerja di depan tungku; nikmatnya makan nasi dengan sayur bening dan sambal terasi ketika lapar demikian 
menggigit setelah keringat bercucuran. Semua tak bisa dirasakannya lagi setelah Lasi lari dari Karangsoga. Semuanya tak bisa diganti dengan kemanjaan hidup yang kini diterimanya setelah Lasi tinggal bersama Bu Lanting, menjadi bagian kehidupan Jakarta. 
 
 Atau puasnya hati ketika menerima uang hasil penjualan gula kepada Pak Tir. Meski tak seberapa, bahkan Lasi selalu merasa tidak menerima jumlah yang semestinya, tetapi selalu ada kenikmatan ketika menerimanya. Kini Lasi tahu betul apa yang menyebabkan kenikmatan itu: gamblangnya asal-usul uang yang diterima yakni cucuran keringat suami dan dirinya sendiri. Perolehan uang semacam itu tidak menimbulkan beban dalam hati. Sangat berbeda ketika Lasi menerima uang dari Bu Lanting yang sering dikatakan sebagai titipan dari Pak Han; Lasi selalu merasa ada sesuatu yang terbeli atau tergadai. Dan Lasi 
merasakan sakit bila mengingat dirinya sudah kehilangan kemampuan untuk mengelak dari pemberian-pemberian seperti itu.

Dentang jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Meski kamarnya tetap gelap, Lasi mencoba menatap langit-langit. Tetapi yang terbayang di pelupuk mata adalah semua orang Karangsoga. Oh, mereka tetap seperti dulu, suka meremehkan Lasi. Dan Lasi memejamkan mata kuat-kuat ketika teringat 
pengkhianatan Darsa. "Ah, tidak! Aku takkan kembali ke Karangsoga meskipun sebenarnya aku tak pernah menolak menjadi istri seorang penyadap, asal bukan Darsa." 
 
 Ya. Tetapi apa? Pertanyaan itu datang lagi dan mengepung lagi. Sekejap Lasi teringat pada Kanjat. Malah terlintas niat untuk mempertimbangkan kemungkinan lari menyusul anak Pak Tir itu. Namun pikiran demikian hanya sejenak singgah di kepalanya. Lasi tak bisa membayangkan dia punya 
keberanian lari dari rumah Bu Lanting. Bahkan Lasi tak tahu ke mana harus menyusul Kanjat. Atau Lasi malu dan tak ingin dikatakan sebagai bubu yang mengejar ikan. Apalagi Lasi juga sadar, Kanjat belum pernah berterus terang 
menyatakan harapannya. 
 
 "Tidak. Aku tidak akan lari menyusul Kanjat." 
 
 Ya, tetapi apa? Lasi makin gelisah. Entah sudah berapa kali ia mengubah posisi tubuhnya! Miring ke kiri, ke kanan, tengadah, atau telungkup. Meskipun demikian keresahan hati malah kian mengembang. Dan Lasi merasa tiba di jalan buntu ketika sadar memang hanya tinggal satu kemungkinan yang harus diterimanya: menuruti anjuran Bu Lanting menjadi istri Pak Han. "Menjadi istri 
Pak Han? Apakah aku bisa? Apakah benar kata Bu Lanting, enak menjadi istri orang kaya?" 
 
 Mungkin. Atau entahlah, karena Lasi belum pernah merasakannya atau bahkan sekedar membayangkannya. Seperti semua istri penyadap, Lasi merasa dunia makmur bukan dunianya. Dunia makmur adalah dunia asing. Di Karangsoga Lasi melihat dunia makmur pada kehidupan Pak Tir. Meski tinggal bersama puluhan penderes dan dalam banyak hal Pak Tir bisa brayan, membaur dengan mereka, namun tengkulak itu tetap lain, tetap asing. Pak Tir bisa bersikap tawar, tanpa rasa bersalah, misalnya ketika mengatakan harga gula jatuh. Sejak anak-anak Lasi tahu dunia makmur adalah dunia orang seperti Pak Tir yang tidak ikut susah, tidak mau peduli terhadap kepahitan hidup masyarakat penyadap.

Di Karangsoga juga pernah ada Pak Talab. Dengan bantuan saudaranya yang konon jadi orang penting, Pak Talab menjadi pemborong karbitan yang selalu memenangkan tender untuk proyek-proyek Inpres. Pak Talab jadi orang kaya mendadak, orang kaya tiban. Lasi tahu betul, orang-orang Karangsoga merasa 
risi dengan tingkah Pak Talab. Apabila Pak Tir terlihat asyik sendiri dengan kekayaannya, Pak Talab lain lagi. Dia dan keluarganya bertingkah ketemben, pamer dengan kemakmuran yang mendadak mereka terima. Ulah mereka 
macam-macam dan selalu dapat dibaca sebagai usaha menarik perhatian dan minta pengakuan akan kelebihan mereka di bidang harta. 
 
 Pak Talab juga jadi jarang bergaul dengan para tetangga. Dia seperti takut dikatakan masih satu lapisan dengan orang kebanyakan. Apabila mendapat pengakuan, biasanya berupa pujian, Pak Talab bungah seperti anak kecil yang dimanjakan. Namun bila pengakuan tak didapat, polahnya bisa tak terduga: 
kadang merajuk, marah, atau malah jadi pamer dan pongah. Lasi tahu betul, kebanyakan orang Karangsoga risi, bahkan malu. Pokoknya mereka tak suka direpotkan oleh tingkah Pak Talab. 
 
 Masalahnya, aku harus bagaimana andaikata aku sendiri sudah menjadi istri Pak Han? Haruskah aku menghindari perilaku seperti Pak Talab agar aku tidak membikin risi dan repot orang lain? 
 
 Atau! 
 
 Atau! 
 
 Atau biarlah aku meniru Pak Talab untuk mencolok mata Darsa bahwa aku tidak pantas dia perlakukan seenaknya? Juga untuk menunjukkan kepada semua orang Karangsoga bahwa aku, Lasi, bisa meraih peluang untuk membalas sikap mereka yang selalu meremehkan aku?

Dalam kegelapan kamarnya Lasi bangkit dan duduk bersimpuh di tempat tidur. Amat lengang. Namun Lasi tersenyum dan turun untuk menyalakan lampu. Matanya menyipit karena silau oleh cahaya yang tiba-tiba membuat kamarnya benderang. Tanpa maksud tertentu Lasi duduk di depan kaca rias. Lasi 
berhadap-hadapan dengan dirinya sendiri. Subjek dan bayangannya saling tatap dengan pandangan menusuk kedalaman hati. Ada kesadaran yang tiba-tiba terbit dan mendorong keduanya berbincang empat mata. 
 
 "Las!" 
 
 "Iya." 
 
 "Mungkin benar kata Bu Lanting; enak lho, jadi istri orang kaya." 
 
 "Tak tahulah." 
 
 "Mau mencoba?" 
 
 "Entahlah. Aku bingung." 
 
 "Tetapi kamu tak bisa mengelak. Hayo, kamu mau apa bila tidak patuh sama Bu Lanting?" 
 
 "Itulah sulitnya." 
 
 "Sudahlah, Las. Tak usah banyak pikir. Biarkan terjadi apa yang agaknya harus terjadi. Mungkin sudah jadi suratanmu. Kalau bukan, mengapa kamu sampai terdampar di rumah ini?"

"Baiklah. Aku akan membiarkan terjadi apa yang agaknya harus terjadi." 
 
 "Tidak hanya itu, Las. Kamu harus memanfaatkan peluang yang ada di depanmu. Kamu sudah cukup pengalaman hidup menjadi istri penyadap yang serba susah. Nanti kamu boleh menikmati kemakmuran yang ada di tanganmu. Kamu juga sudah cukup menderita karena sikap orang-orang Karangsoga yang 
selalu dengki kepadamu. Nanti kamu harus tunjukkan kepada mereka siapa kamu sebenarnya dan apa saja yang bisa kamu lakukan terhadap mereka." 
 
 "Apa aku bisa?" 
 
 "Bisa saja." 
 
 "Kok kamu tahu?" 
 
 "Jadi kamu bingung?" 
 
 "Memang aku bingung." 
 
 Bingung. Dan Lasi bangkit lagi, berjalan ke tempat tidur dengan hati dan jiwa yang sangat lelah. Agaknya aku harus rela hanyut pada apa yang akan terjadi, keluhnya beberapa kali. Lasi merebahkan diri. Dan tekanan yang menyesak 
dada terasa menurun setelah Lasi beberapa kali mengosongkan dada dengan melepas desah panjang. Angan-angan yang lintang pukang mulai mengendap dan samar. Matanya mulai terasa berat. Jagat besarnya makin susut, susut, dan lenyap ke dalam jagat kecilnya kelika Lasi menarik napas yang lentur pertanda ia mulai melayang ke alam mimpi. Tidur yang tak seberapa lama tergoda mimpi 
yamg menakutkan. Lasi seakan masih tinggal di Karangsoga dan suatu ketika menyaksikan Darsa terbanting dari ketinggian pohon kelapa. Tubuhnya terluka parah karena terbelah oleh arit sendiri yang selalu terselip di pinggang. Darsa meninggal dalam genangan darah. Lasi tergagap-gagap dan bangun karena mendengar dentang lonceng jam enam pagi. 
 
 Ketika Lasi bertemu di meja makan untuk sarapan, Bu Lanting menagih janji. 
 
 "Sudah punya keputusan?" 
 
 Sejenak Lasi termangu tetapi kemudian mengangguk perlahan. 
 
 "Bagaimana? Kamu ikuti kata-kataku, bukan?" 
 
 "Bu, sebenarnya saya tidak bisa memutuskan apa-apa. Saya hanya akan menurut; semua terserah Ibu bagaimana baiknya. Saya pasrah. Tetapi, Bu, sebenarnya saya takut." 
 
 "Takut? Kok?" 
 
 "Ya, Bu. Bagaimana juga saya adalah seorang perempuan kampung. Apa saya bisa mendampingi Pak Han?" 
 
 "Las. kamu sudah lebih dari pantas jadi orang kota. Sekarang ini malah tak akan ada orang percaya bahwa kamu orang kampung. Jadi jangan ragu menerima tawaran Pak Han. Memang, kamu belum pernah jadi istri orang kaya. Ah, itu gampang, Las. Nanti kamu akan tahu sendiri bahwa semuanya biasa dan 
mudah." 
 
 Lasi diam lagi, memain-mainkan sendok di piring.

"Bu, masih ada lagi yang menjadi pikiran saya; bagaimana soal surat cerai? Saya ingin bicara blak-blakan, tanpa surat cerai dari bekas suami, saya tidak mungkin mau kawin lagi." 
 
 Wajah Bu Lanting berubah beku dan dingin. 
 
 "Kamu jangan khawatir tentang kemampuan Pak Han. Seperti sudah kubilang, kamu bisa memperoleh surat cerai di sini. Las, di Jakarta ini segala sesuatu bisa ditembak. Surat cerai, oh iya, juga surat pindahmu bisa ditembak di sini dengan duit. Nah, agar urusan jadi cepat dan mudah, serahkan semuanya kepada Pak Han. Kamu tinggal tahu beres. Enak, bukan?" 
 
 Lasi termenung. Kedua alisnya merapat. 
 
 "Tetapi, Bu, soal surat cerai saya menghendaki yang asli, yang saya peroleh dari bekas suami. Saya juga ingin minta restu orangtua." 
 
 "Oh, aku tahu. Maksudmu, kamu ingin pulang dulu ke kampung?" 
 
 "Iya." 
 
 Bu Lanting diam. Ia memikirkan kemungkinan Lasi tak kembali kepadanya bila sudah sampai di Karangsoga. Ah, tidak. Bekisar itu masih amat lugu. Lasi bisa dipercaya. 
 
 "Baik, Las. Kamu boleh mengurus sendiri perceraianmu, sekalian minta surat pindah. Aku juga tahu, kira-kira kamu sudah kangen sama emakmu. Tetapi kukira Pak Han ingin bertemu kamu sebelum kamu berangkat. Lho iya, Las. Ini soal perjodohan. Jadi bagaimana juga kamu harus berbicara dulu berdua-dua 
dengan dia. Ah, kamu sudah bisa pacaran. Menyenangkan, bukan?" 
 
 Tawa Bu Lanting deras seperti talang bocor. Tetapi Lasi malah menunduk dengan wajah dingin. 
 
 "Lho, Las. Pacaran penting untuk kesenangan hidup. Malah kamu tahu aku yang tak muda lagi ini pun masih suka pacaran. Ya, kan?" 
 
 Bu Lanting tertawa lagi. Dan Lasi makin menunduk. 
 

 
                               *****



Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...