Lasi masih megap-megap. Tangannya terlepas dari genggaman Kanjat dan bergerak tak menentu.
"Ah, aku sangat senang karena kamu datang. Kamu sudah gede, gagah. Eh! Kamu tahu bagaimana keadaan Emak?"
Kanjat masih canggung. Ia jadi salah tingkah. Meski sudah yakin siapa yang berdiri di depannya, Kanjat masih sulit percaya bahwa perempuan cantik dengan kimono merah itu adalah Lasi. Sejak diberitahu oleh Bu Koneng bahwa Lasi tinggal bersama seorang kaya, Kanjat punya kesimpulan Lasi bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Tetapi sosok yang kini berdiri di depannya sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda seorang babu. Dalam rias dan busana seperti itu Lasi bahkan membuat jantung Kanjat berkisar-kisar. Lekuk
pipi Lasi yang sejak dulu sangat manis di mata Kanjat terkesan bertambah indah. Lasi seperti kayu dipoles pernis; masih tampak pola garis seratnya tetapi terlihat jauh lebih terawat dan indah. Kanjat menelan ludah.
"Eh, Jat, maaf. Ayo masuk. Kamu bertamu di rumah ini dan aku, anggaplah yang punya rumah, karena Ibu kebetulan belum lama keluar."
Kanjat hanya tersenyum. Matanya tetap pada sekujur tubuh Lasi. Yang diamati jadi rikuh. Lasi salah tingkah.
"Maaf, Jat, apakah aku kelihatan nganyar-anyari? Atau malah aneh? Lucu?"
Kanjat tiaak bisa menjawab. Dan menunduk ketika pandangannya tersambar mata Lasi yang bercahaya.
"Kamu pantas menjadi nyonya rumah ini," gumam Kanjat.
"Jangan begitu, Jat. Aku malu."
"Kamu pantas jadi nyonya rumah ini," ulang Kanjat.
Wajah Lasi memerah.
"Ayolah masuk. Atau kamu lebih suka duduk di teras ini?"
Kanjat mengangguk lalu mengambil kursi rotan yang ada di dekatnya. Lasi pun duduk berseberangan meja yang kecil dan lonjong.
"Jat, kamu belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana keadaan Emak?"
"Baik. Kemarin masih kulihat emakmu menjual gula. Dan dari pembicaraannya aku tahu dia susah karena kamu tinggal pergi."
Lasi menelan ludah.
"Emak tahu bahwa kamu akan datang kemari?" tanya Lasi.
Kanjat menggeleng.
"Jadi kamu datang kemari tanpa pesan apa pun untuk aku?"
Kanjat mengangguk. Ia tampak canggung. Dan hatinya rusuh lagi karena Lasi menatap dengan matanya yang kaput, mata Sakura.
"Jadi kamu datang kemari hanya karena ingin ketemu aku? Atau apa?"
Kanjat mengangguk lagi. Dan senyumnya tertahan.
"Kamu tak suka aku datang?"
"Oh, tidak. Tidak..."
Lasi tak bisa meneruskan ucapannya. Mendadak hatinya ikut rusuh. Keduanya membisu. Dan lengang. Tetapi kadang Kanjat mencuri pandang. Mereka
bertukar senyum. Hati Lasi juga riuh. Ah, kenangan masa kanak-kanak. Dulu, bila ada anak Karangsoga yang tidak ikut-ikutan meleceh Lasi, dialah Kanjat. Dulu, bila ada bocah yang berusaha membela ketika Lasi diganggu anak nakal, Kanjatlah dia. Dan dulu, bila ada anak Pak Tir yang bongsor dan lucu sehingga Lasi senang menganggapnya sebagai adik, Kanjat juga orangnya. Bahkan kalau bukan malu karena merasa dirinya anak miskin, sesungguhnya sejak dulu Lasi ingin selalu manis pada Kanjat.
"Las, aku sendiri tak bisa mengatakan dengan pasti mengapa aku datang kemari. Mungkin hanya karena aku ingin melihat kamu. Atau entahlah."
Lasi diam, mendengarkan Kanjat yang berbicara sambil menunduk dan gelisah.
"Tetapi setelah sampai kemari aku tahu jawabnya. Aku ingin kamu kembali ke Karangsoga. Eh, tetapi hal itu terserah kamu. Apalagi suamimu sudah mengawini Sipah. Oh, maaf. Aku tak sengaja memberi kamu kabar buruk."
Lasi mengerutkan kening dan matanya menyempit. Napasnya yang pendek-pendek mewakili ombak besar yang tiba-tiba melanda hatinya. Air matanya terbit karena luka lama yang tak sengaja tergesek keras.
"Las, kalau aku boleh bertanya, bagaimana cerita sampai kamu tinggal di rumah ini?"
"Bu Koneng tidak mengatakannya kepadamu?"
"Dia, setelah kami desak-desak, mengatakan kamu ikut Bu Lanting. Tak ada cerita lainnya."
"Memang begitu. Aku ikut Ibu pemilik rumah ini dan dia menganggapku sebagai anaknya. Di sini aku tidak bekerja apa pun kecuali menemani Ibu jalan-jalan dan memelihara bunga."
Kanjat diam. Tetapi hatinya tetap rusuh.
"Jadi kamu betah tinggal di sini?"
"Bagaimana, ya? Aku tak bisa menjelaskannya. Aku hanya merasa lebih baik berada di sini daripada tinggal di rumah karena bagiku amatlah sulit dimadu bareng sabumi, dimadu dalam satu kampung. Tetapi, Jat, mengapa kamu bertanya seperti itu?"
Kanjat menunduk. Sesungguhnya ia ingin berkata bahwa ia menduga mungkin ada sesuatu di balik kebaikan Bu Lanting terhadap Lasi. Namun perasaan itu tetap tertahan dalam hati.
"Aku juga tidak bisa menjelaskannya. Yang bisa kukatakan, aku punya keinginan kamu kembali ke Karangsoga. Pulanglah ke rumah emakmu bila tak ingin berkumpul kembali dengan suamimu."
Lasi menggeleng dan menggeleng. Tangannya sibuk menghapus air mata yang tiba-tiba keluar menderas.
"Kenapa?"
"Jat," jawab Lasi setelah lama hanya sibuk dengan air matanya. "Untuk apa aku pulang? Tak ada guna, bukan? Rumah tanggaku sudah hancur. Suamiku tak bisa lagi kupercaya. Dan aku anak orang miskin yang menderita sejak aku masih kecil. Bila aku kembali aku merasa pasti semua orang Karangsoga tetap seperti
dulu atau malah lebih: senang menyakiti aku."
"Las, kamu jangan berkata seperti itu karena aku pun anak Karangsoga."
"Maaf. Kamu memang satu-satunya..."
Tiba-tiba Lasi berhenti berkata. Matanya yang redup menatap Kanjat dengan pandangan yang dalam. Entah mengapa Lasi merasa ingin mengulang masa kanak-kanak, minta perlidungan Kanjat bila menghadapi gangguan anak nakal. Berputar kembali dengan jelas rekaman pengalaman masa bocah: Lasi bergegas pulang sekolah, siap melintas titian pinang sebatang. Tetapi di seberang sudah
berdiri tiga anak lelaki merintang jalan. Seorang lagi yang paling kecil kelihatan bimbang. Lasi mengusir tiga anak lelaki itu setelah menakuti mereka dengan
kayu penggaris. Anak yang paling kecil kelihatan ingin membela Lasi tetapi tak berdaya. Si kecil Kanjat hanya terpaku dan minta dimengerti dirinya tidak ikut nakal. Tetapi dulu Kanjat lebih kecil. Sekarang anak itu sudah jadi lelaki berbadan besar, berkumis, dan lengannya berbulu.
"Jat, bagaimana sekolahmu?"
"Alhamdulillah, hampir selesai. Las, sebentar iagi aku insinyur."
"Oh? Syukur. Kamu bahkan hampir insinyur. Nah, sekarang aku jadi ingin bertanya. Kamu anak orang kaya, calon insinyur, lalu mcngapa kamu mau bersusah payah mencari aku di sini? Aku yang sejak bocah selalu diremehkan
oleh orang Karangsoga!"
"Las!"
Lasi menangis lagi. Pipinya yang putih merona merah. Kanjat terpojok oleh pertanyaan Lasi sehingga ia tak mudah menemukan kata untuk diucapkan.
"Maafkan, Las, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Malah aku balik bertanya. Sebenarnya kamu mau pulang apa tidak?"
Kali ini pun Lasi hanya menggelengkan kepala. Matanya yang merah melekat pada wajah Kanjat. Ingin dicarinya sasmita yang bisa menerangkan mengapa Kanjat terus mengajaknya pulang. Samar, sangat samar, Lasi menangkap apa yang dicari pada senyum dan mata Kanjat. Dada Lasi berdenyut. "Ah, tetapi betulkah perasaanku? Sejatikah sasmita sekilas yang kutangkap dari kedua mata Kanjat? Mungkin tidak. Aku hanya seorang janda kepalang, melarat, dan malah
dua tahun lebih tua. Dia perjaka, terpelajar, dan anak orang paling kaya di Karangsoga. Mustahil dia menaruh harapan kepadaku. Dia dengan mudah dapat menemukan gadis yang lebih muda dan sepadan. Tidak!"
"Bagaimana, Las?"
"Jat, aku bungah kamu menyusul aku kemari. Tetapi aku tidak ingin pulang. Biarlah aku di sini. Aku ingin ngisis dari kegerahan hidupku sendiri."
"Tidak kasihan sama Emak? Dia kelihatan begitu menderita."
Hening. Lasi menunduk dan mengusap mata.
"Jadi sudah tidak bisa ditawar lagi, kamu tidak mau pulang?"
Lasi mengangguk. Kanjat menyandar ke belakang. Wajahnya buntu. Kanjat kelihatan sulit meneruskan pembicaraan.
"Baiklah, Las. Jauh-jauh aku datang kemari memang hanya untuk meminta kamu pulang. Tetapi bila kamu tak mau, aku menghargai keinginanmu tinggal di sini. Meski begitu apakah aku boleh sekali-sekali datang lagi kemari?"
"Oalah, Gusti, aku senang bila kamu tidak melupakan aku. Seringlah datang lagi. Aku juga tidak akan lupa kamu. Dan kamu tidak marah, bukan? Jat, aku khawatir kamu marah."
Kanjat menggelengkan kepala dan tersenyum tawar lalu bangkit sambil menyodorkan tangan minta bersalaman. Lasi terkejut.
"Mau pulang?"
"Ya, sudah cukup. Kasihan Pardi yang sudah lama menungguku."
"Tetapi betul, kan, kamu tidak marah?"
"Betul." Dan Kanjat tersenyum paksa.
"Nanti dulu..."
Lasi lari ke dalam dan muncul lagi dengan sebuah foto di tangan. "Aku titip ini buat Emak. Tolong sampaikan. Tolong juga katakan aku baik-baik di sini."
Kanjat memperhatikan foto Lasi dalam kimono merah itu. Tak pernah terkirakan Lasi bisa menjadi demikian menarik. Kanjat menggigit bibir.
"Maaf, Las, bagaimana bila foto ini kuminta?"
Lasi terpana. Mulutnya komat-kamit tanpa bunyi.
"Kamu suka?"
Kanjat mengangguk. Dan senyumnya membuat wajah Lasi merah.
"Bila suka, ambillah. Tetapi jangan dirusak, ya. Dan apa kamu juga mau memberi aku fotomu?"
Kanjat terkejut.
"Sayang aku tidak membawanya. Oh, tunggu."
Tangan Kanjat merogoh dompet di saku belakang, membukanya dengan tergesa. Senyumnya mengembang ketika ketemu apa yang dicarinya. Sebuah pasfoto dirinya dalam hem putih dan dasi hitam. Mata Lasi berbinar ketika menerima lalu menatap foto itu.
Kanjat tersenyum sambil memasukkan foto Lasi ke dalam saku bajunya, menatapnya dengan mata bercahaya, lalu minta diri.
Lasi tak menemukan kata-kata untuk melepas Kanjat. Keduanya hanya beradu pandang. Bertukar senyum. Tangan Lasi berkeringat ketika berjabat. Matanya terus mengikuti Kanjat yang berjalan meninggalkannya. Kanjat terus melangkah tanpa sekali pun menoleh ke belakang dan menghilang di balik pagar halaman. Pada saat yang sama Lasi memejamkan mata rapat-rapat.
Kembali duduk seorang diri Lasi malah jadi bimbang. Lasi menyesal tidak minta ketegasan Kanjat mengapa anak Pak Tir itu datang dan memintanya pulang. Tanpa maksud tcrtentu rasanya tak mungkin Kanjat bersusah payah
datang diri Karangsoga. Lalu mengapa Kanjat tidak berterus terang? "Karena bagaimana juga Kanjat tahu aku masih istri Darsa?" Ah, ya. Lasi juga menyesal mengapa terlalu cepat menolak diajak Kanjat pulang. Padahal pulang sebentar
bersama Kanjat berarti kesempatan melihat keadaan Emak atau bahkan membereskan urusannya dengan Darsa.
Angan-angan Lasi bubrah ketika sebuah mobil biru tua masuk ke halaman. Jam lima kurang sedikit. Lasi sadar tamu yang harus disambutnya sudah datang. Sebelum tamu itu turun dari mobilnya Lasi bergegas masuk untuk menghapus sisa tangisnya. Rias yang rusak cepat diperbaiki sebisanya. Lalu keluar untuk membuka pintu depan. Dan tamu itu sudah berdiri di teras. Hal pertama yang
terkesan oleh Lasi adalah cincin emas besar dengan batu berwarna biru melingkar di jarinya. Jam tangannya pun kuning emas. Lalu tubuhnya yang bundar tanpa pinggang dan perutnya yang menjorok ke depan. Wajahnya yang gemuk hampir membentuk bulatan. Tengkuk dan dagunya tebal. Hidungnya gemuk dan berminyak. Lasi juga mencium wewangian yang dikenakan tamu itu.
Lasi merasa tatapan tamu itu sekilas menyambar mata dan menyapu sekujur
tubuhnya. Tetapi hanya sejenak. Detik berikut tamu itu sudah tersenyum seperti seorang guru tua sedang memuji muridnya yang pandai dan cantik. Senyum itu mencairkan kegugupan Lasi.
"Selamat sore, aku Pak Han," salam Handarbeni. Senyumnya mengembang lagi.
"Selamat sore, Pak. Mari masuk."
"Terima kasih. Tetapi nanti dulu. Aku mau bilang, Bu Lanting beruntung. Dia bilang punya anak angkat yang cantik. Kamulah orangnya?"
Lasi terkejut oleh pertanyaan yang sama sekali tidak diduganya. Wajah Lasi merona. Dan ia hanya bisa mengangguk kaku untuk menjawab pertanyaan itu. Dari cara Pak Han memandang Lasi sadar bahwa tamu itu adalah lelaki yang ingin melihat perempuan berkimono seperti yang dikatakan Bu Lanting. Lasi
bertambah gagap. Tetapi Handarbeni malah senang. Ia menikmati kegagapan perempuan muda di depannya.
"Aku juga sudah tahu namamu. Lasi?"
Lasi mengangguk lagi. Dan menunduk. Bermain dengan jemari tangan yang kukunya bercat merah saga. Dan dengan sikap Lasi itu Handarbeni malah punya kesempatan lebih leluasa memandang bekisar yang akan dibelinya. Bahkan Handarbeni tiba-tiba mendapat kesenangan aneh karena merasa menjadi kucing jantan yang sangat berpengalaman dan sedang berhadapan dengan tikus betina yang bodoh dan buta. Handarbeni amat menikmati kepuasan itu karena dia terlalu biasa menghadapi tikus-tikus berpengalaman tetapi malah selalu
merangsang-rangsang ingin diterkam. Atau Handarbeni sering merasa seperti disodori pisang yang sudah terkupas; tak ada sisi yang tersisa sebagai wilayah perburuan atau tempat rahasia keperempuanan masih tersimpan. Pisang-pisang yang kelewat matang yang kadang menyebalkan.
"Kamu sangat pantas dengan pakaian itu. Kudengar ayahmu memang orang Jepang?"
Lasi senyum tertahan. Tetapi lekuk pipinya malah jadi lebih indah. Entahlah, dulu di Karangsoga Lasi terlalu risi bahkan jengkel bila disebut rambon Jepang. Namun sekarang sebutan itu terdengar sejuk. Mungkin karena orang Karangsoga mengucapkan sebutan itu sebagai pelecehan sedangkan Bu Lanting, dan kini Pak Han, menyebutnya sebagai pujian? Entahlah.
"Pak, mari masuk," kata Lasi untuk menghindari pertanyaan Pak Han lebih
jauh.
"Ya. Mana Ibu?"
"Ibu sedang keluar sebentar. Saya diminta mewakilinya menemui Pak Han sampai Ibu kembali."
Handarbeni tersenyum, mengangguk-angguk dan maklum. Si tua Lanting memang licin. Tetapi kali ini Handarbeni berterima kasih atas kelicinan itu. Wajahnya makin meriah.
"Oh? Kalau begitu ayolah duduk bersamaku. Aku sudah biasa datang kemari seperti saudara kandung ibu angkatmu. Jadi kamu jangan rikuh. Kamu sudah jadi anak Jakarta. Siapa yang pemalu tidak bisa jadi anak kota ini. Kamu senang tinggal di Jakarta, bukan?"
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar