Wajah Lasi merah. Lasi tak pernah lupa, Pardi adalah satu-satunya orang yang tahu apa-apa tentang dirinya dengan Kanjat. Dada Lasi berdebar. Lidahnya jadi sulit untuk berkata-kata. Pardi cengar-cengir, senang melihat Lasi tergagap. Atau senang menikmati kecantikan Lasi, terutama pada keindahan seputar
matanya.
"Di, aku ingin ketemu dia. Tolong, ya. Kamu tahu caranya?"
Pardi tertawa. Rokok hampir jatuh dari mulutnya. Lasi merajuk.
"Las, dunia memang aneh, ya. Dulu, dia yang ngotot ingin bertemu kamu. Sekarang kamu yang merengek ingin ketemu dia. Dan, ini yang hebat: kamu lupa sudah punya suami? Mau apa lagi, toh kamu sudah demikian makmur?"
"Lho, Di. Aku hanya ingin ketemu anak majikanmu itu. Aneh?"
Pardi tertawa lagi. Jelas, ia meremehkan alasan yang baru didengarnya. Lasi tersipu.
"Jangan seperti anak kecil, Las. Hanya mau bertemu pacar kamu minta bantuan?"
"Pacar? Brengsek. Aka cuma minta tolong sampaikan pesan kepada Kanjat, aku ingin bertemu dia. Itu saja."
"Sungguh?"
Mata Pardi menyala ketika melihat pipi Lasi merona. Lasi menunduk. Senyumnya janggal tapi bernas.
"Jadi benar, kan, kamu ingin bertemu pacar? Awas, bisa kulaporkan kepada suamimu."
"Sudahlah, Di, aku tidak main-main."
"Baik, baik. Ah, ternyata memang benar, yang namanya pacar sukar dilupakan."
Pardi meninggalkan rumah Mbok Wiryaji sambil menggeleng-gelengkan kepala dan senyum yang tak mudah hilang. Lasi yang sudah makmur dan makin cantik masih ingin bertemu Kanjat? Mungkin, untuk memberinya bantuan keuangan. Tetapi mata Lasi sendiri banyak memberi aba-aba, keinginannya bertemu Kanjat bukan sekadar masalah bantuan uang. Pardi menggeleng lagi. Asap
rokok makin mengepul dari mulutnya.
Sebelum pertemuan dengan Kanjat benar-benar terlaksana, Lasi sudah membayangkannya dalam angan-angan yang manis. Kanjat menyusul Ke Jakarta dan menemuinya di sebuah tempat yang sangat pribadi. Lasi berterus terang bahwa sejak semula dirinya terbawa arus yang tak bisa dimengerti dan perkawinannya dengan Handarbeni pun seperti terjadi di luar dirinya.
"Jat, kamu mau menolongku, bukan?"
Kanjat menatapnya dengan sorot mata penuh keraguan.
"Menolong bagaimana? Kamu kan sudah jadi istri orang?"
"Jat, mungkin perkawinanku tidak akan lama. Mungkin aku akan minta cerai. Aku akan kembali jadi janda."
"Ya?"
"Kamu mau brayan urip-bersamaku, Jat?"
"Brayan urip? Kawin?"
"Ya. Ah, tetapi sebenarnya aku malu. Sebenarnya aku harus tahu diri karena aku janda. Malah dua kali janda. Aku juga lebih tua. Tetapi, Jat, bagaimana ya? Dan kata Bu Lanting, aku cantik. Benar, Jat, aku cantik?"
Kanjat tertegun.
"Ya, Las. Sejak bocah kamu sudah cantik."
"Betul?"
Kanjat mengangguk dan senyumnya nakal.
Dan Lasi kaget sendiri. Sadar dari lamunannya, Lasi tersenyum pahit karena
tak seorang pun berada di dekatnya, tidak pula Kanjat. Lalu, pada pertemuan sebenarnya keesokan harinya, Lasi mula-mula tak mudah omong. Mula-mula Lasi lebih sering menatap Kanjat dengan perasaan tak menentu. Ada harap, ada segan dan malu. Ketenangan yang diperlihatkan Kanjat malah membuat Lasi
merasa kecil. Anehnya, dada Lasi selalu berdebar bila mata Kanjat menyambarnya. Telapak tangannya berkeringat.
"Kamu memanggilku, Las?" tanya Kanjat setelah mengambil tempat duduk.
"Aku ingin bertemu kamu. Terima kasih, kamu mau datang. Ke mana saja kamu selama ini?"
"Aku pun sebenarnya ingin bertemu kamu. Tapi entahlah."
"Jat, kamu menghindar?"
"Tidak juga."
"Kukira, ya!"
"Sudahlah. Sekarang, apa yang ingin kamu katakan kepadaku? Pardi hilang kamu mau membantuku?"
"Jat..."
"Ya?"
"Kemarin aku memang ingin bicara dengan kamu soal bantuan yang mungkin bisa kuberikan kepadamu. Tetapi hal ini, nanti saja."
"Ya. Lalu?"
"Aku tak tahu. Ah, Jat. Mengapa kamu hanya seperti itu? Apa itu hanya alasan karena sebenarnya kamu tak mau duduk sebentar bersamaku?"
Kanjat diam dan merasa terpojok di jalan buntu. Ada riak menggetarkan jantungnya ketika dengan kekuatan matanya, Lasi menuntut sesuatu, entah apa.
"Jat, aku mau cerita. Kamu mau mendengarnya, bukan?"
"Ya, mau. Ceritalah yang banyak."
Lasi terlihat beherapa kali menelan ludah.
"Jat, kamu tahu aku sudah punya suami lagi. Iya, kan?"
"Tentu, Las. Sennua orang tahu kamu sudah kawin lagi."
"Tetapi apa kamu tahu bahwa aku cuma, anu... aku cuma, anu... cuma kawin-kawinan?"
Sepi. Kanjat menatap Lasi yang tiba-tiba menunduk.
"Kawin-kawinan? Maksudmu?"
"Kawin-kawinan, kamu tak tahu? Artinya, main-main. Tahu?"
Kanjat mengerutkan kening. Intuisinya bekerja keras untuk memahami kata-kata Lasi. Ya. Kanjat bukan anak kemarin sore. Ia sarjana. Tak terlalu sulit bagi Kanjat memahami maksud Lasi. Mungkin tidak seratus persen tepat. Namun sepanjang menyangkut keluhan seorang istri terhadap perkawinan sendiri,
Kanjat sudah tahu pasti ke mana muaranya. Kanjat mendesah.
"Jat, kamu sudah tahu, bukan?"
"Ya."
"Nah, aku puas karena kamu sudah tahu perkawinanku cuma kawin-kawinan. Sekarang, ganti soal. Eyang Mus bilang kamu punya rencana yang perlu biaya. Jat, mungkin aku bisa membantumu."
Kanjat tersenyum dan mengangguk-angguk. Tetapi dari senyum Kanjat itu Lasi melihat ketidakpastian. Apalagi Lasi melihat Kanjat menggeleng dan menggeleng lagi seperti memendam kebuntuan.
"Bagaimana, Jat?"
"Wah, terima kasih atas tawaranmu. Tetapi rencana itu ternyata sulit kami laksanakan."
"Maksudmu?"
Kanjat diam lagi. Tak mudah baginya menerangkan hasil sebuah penelitian ilmiah kepada orang seperti Lasi yang meski sudah jadi orang kaya, pendidikannya hanya tamat sekolah dasar. Namun Kanjat mencobanya juga.
"Dalam penelitian ulang kami menemukan, pengolahan nira secara masal dengan tungku modern yang kami rencanakan ternyata akan menghadapi banyak kesulitan. Dari penyadap tak akan mau menjual nira karena hal semacam itu baru bagi mereka. Para penyadap masih sangat sulit menerima
perubahan. Juga, penghasilan mereka jadi berkurang meskipun mereka memperoleh waktu luang untuk melakukan kegiatan lain. Mereka tak punya keterampilan lain untuk mengisi waktu luang itu. Jadi bagi para penyadap, mengolah nira adalah satu-satunya kegiatan produktif. Sayangnya kegiatan itu
baru membawa keuntungan bagi mereka apabila bahan bakar diperoleh secara cuma-cuma. Dengan kata lain, lingkungan, terutama hutan di sekitar Karangsoga, yang harus menerima beban biaya bahan bakar itu."
"Lalu?"
"Las, lebih dari satu tahun aku dan beberapa teman mencoba berbuat sesuatu bagi para penyadap di sini. Tetapi hasilnya boleh dibilang nihil. Kami hanya berhasil memperkenalkan bahan kimia pengawet nira serta bahan untuk membantu mengeraskan gula. Kami juga membuat tungku hemat kayu api. Tetapi sudah kubilang, para penyadap tidak mudah menerima perubahan. Maka hanya ada beberapa penyadap yang mau menggunakan tungku buatan kami."
Kanjat kelihatan getir. Tetapi senyumnya selalu membuat Lasi berdebar dan
tertunduk.
"Jadi gagal, Jat?"
"Kukira, ya. Tetapi bagaimanapun aku sudah mencobanya. Juga aku menjadi sadar bahwa permasalahan para penyadap di sini memang besar dan rumit sehingga tak bisa diselesaikan dengan cara kecil-kecilan. Segi-segi pandang
seperti kebiasaan, taraf pengetahuan, dan juga budaya terlibat di dalamnya. Dari luar, para penyadap menghadapi tata niaga gula yang demikian senjang dan tidak adil, namun sudah berhasil menciptakan ketergantungan yang
demikian mendalam. Jadi hanya dengan usaha besar-besaran, terencana dengan baik, serta ada kebijaksanaan politik dan dana yang banyak, taraf hidup para penyadap dapat diperbaiki. Las, kami tak punya kekuatan seperti itu. Las?"
"Ya. Eh, apa tadi? Kamu ngomong apa tadi? Para penyadap tergantung-gantung?"
Kanjat tertawa dan yakin sampai demikian jauh Lasi tidak mendengarkan kata-katanya. Tidak mendengarkan, atau Lasi tak mampu mengikuti jalan pikiran seorang insinyur. Suasana jadi lucu. Lasi akhirnya juga tersenyum. Kanjat ingin tidak memandang lekuk pipi yang sangat indah itu, mata spesifik yang sangat menawan itu, tapi tak bisa. Dan makin dipandang, denyut dalam dada Kanjat
makin seru. Lasi yang merasa sedang ditatap, membalasnya dengan senyum setengah jadi. Kanjat menarik napas panjang dan menyandar ke belakang.
"Las, persoalan kaum penyadap malah makin bertambah rumit. Kamu melihat pancang-pancang merah di pinggir jalan dan lorong-lorong?"
"Ya, ya. Aku melihatnya. Pancang apa itu?"
"Listrik, Las. Sebentar lagi Karangsoga dialiri listrik."
"Ya, aku pun sudah mendengarnya. Wah! Hebat, aku akan minta Pak Talab memasang listrik di rumah ini."
"Ya. Demi Tuhan, kita bersyukur karena listrik akan masuk ke Karangsoga. Dengan listrik orang Karangsoga bisa mendapat banyak kemudahan. Masalahnya, Las, lagi-lagi kaum penyadap itu. Banyak pohon kelapa tumbuh
berbaris sepanjang tepi jalan dan lorong kampung ini. Pohon-pohon kelapa seperti itu harus ditebang karena kawat listrik direncanakan lewat di sana."
"Ditebangi? Oh, ya. Aku baru sadar sekarang. Kawat listrik akan menjalar ke mana-mana. Banyak pohon kelapa akan dirobohkan."
"Ya. Banyak penyadap datang kepadaku karena mereka harus merelakan pohon-pohon kelapa sumber penghidupan mereka dirobohkan tanpa uang pengganti. Tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan kamu masih ingat Darsa?"
"Ah, ya. Kenapa Kang Darsa?"
"Bekas suamimu itu hanya punya dua belas batang kelapa, sepuluh di antaranya tumbuh sejajar di tepi lorong."
"Sepuluh itu yang akan dirobohkan?"
"Ya. Kemarin dia datang kepadaku, dia sudah kubilang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ketika kudatangi, Lurah pun tak bisa berbuat apa-apa."
"Kasihan Kang Darsa."
"Padahal bukan hanya Darsa. Dan di desa lain yang sudah lebih dulu dimasuki listrik, beberepa penyadap malah berjatuhan setelah tersengat setrum."
"Gusti. Sengatan listrik?"
"Ya. Karena tahu tak akan mendapat uang pengganti, mereka enggan menebang batang kelapa yang ada dekat jalur kawat. Apalagi kebanyakan penyadap memang tidak punya sumber penghasilan lain. Bila tak ada angin
atau hujan, mereka memang aman. Namun bila ada goyangan yang membuat pelepah-pelepah itu menyentuh kawat, semuanya menjadi lain."
Lasi menunduk dan mengerutkan kening. Kanjat terpesona. Ia selalu sadar dirinya wajib berusaha tidak menatap Lasi, tetapi selalu pula gagal. Ada getaran mengimbas aliran darah setiap kali matanya menangkap keindahan di
hadapannya.
"Jadi, jadi, Kang Darsa juga akan disengat listrik?"
"Tidak, karena pohon-pohon kelapa Darsa malah harus ditebang. Harus, karena jalur kawat akan lewat tepat di sana."
"Lalu?"
"Kudengar Darsa diminta pindah ke Kalimantan. Tetapi bekas suamimu itu tidak bersedia berangkat karena dia hanya bisa menyadap nira. Orang bilang, di tempat yang baru tidak tersedia pohon kelapa yang bisa digarap Darsa."
"Jadi? Jadi?"
Kanjat menggeleng. Ia kelihatan kehilangan semangat membicarakan persoalan kaum penyadap. Pada wajahnya tergambar kebuntuan. Tetapi tiba-tiba Kanjat menegakkan punggung. Kanjat seperti menemukan sesuatu yang penting.
"Las, malah kudengar penebangan pohon-pohon kelapa yang terkena jalur listrik akan dimulai di sini besok pagi. Kamu ingin melihat?"
"Pohon kelapa Kang Darsa bagaimana? Juga ditebang besok?"
"Ya, besok. Sebenarnya aku tak tega melihat mereka kehilangan sumber mata pencarian. Namun entahlah, rasanya aku pun ingin tinggal sampai besok. Sekarang kukira cukup, aku minta permisi."
"Jat!"
Kanjat urung bangkit. Ia melihat Lasi menatapnya sejenak, lalu menunduk.
"Jat, kamu tak ingin tinggal lebih lama?"
"Masih ada yang ingin kamu bicarakan?"
"Tidak. Cuma ngobrol saja. Mau, kan?"
Kanjat mengangkat alis dan tersenyum tawar.
"Kalau hanya ngobrol, kukira sudah cukup. Permisi, Las..."
"Sebentar, Jat. Kudengar kamu sudah punya pacar. Betul?"
Kanjat kaget, tetapi kemudian ia tertawa. Ia teringat pada Hermiati; hitam manis, mandiri, dan lugas. Hermi adalah teman yang menyenangkan. Di fakultas, ia adalah mahasiswinya yang pintar. Namun Kanjat tidak merasa dia sudah menjadi pacarnya.
"Betul, kan?"
"Tidak. Sudah lama aku tidak memikirkan soal itu."
"Maksudmu?"
"Ya, aku sudah lama tak ingin pacaran."
"Itu aku sudah dengar. Yang kumaksud, mengapa kamu begitu?"
Kanjat gelisah. Senyumnya muncul tetapi tawar dan kaku.
"Kamu tak marah bila aku tak mau berkata lebih banyak?"
"Aku marah."
"Kamu tak suka aku menyimpan perasaan pribadi?"
"Pokoknya aku marah," Lasi merajuk. Kanjat merasa jadi serba salah.
"Baiklah, Las. Aku berterus terang, tetapi hanya untuk kamu. Sejak aku merasa tak beruntung, aku jadi malas berpikir tentang pacaran. Dulu, kamu adalah istri Darsa. Sekarang kamu adalah istri orang lain lagi. Aku memang tak beruntung."
"Jadi, jadi, akulah penyebabnya?" tanya Lasi tanpa mengangkat muka. Mendadak pipi Lasi memerah dan bibirnya bergetar.
Kanjat diam. Ia hanya menarik napas panjang.
"Jat, kamu mau memaafkan aku, kan?"
"Kamu tak bersalah apa pun. Betul, Las, kamu tak punya salah sedikit pun kepadaku."
"Tetapi karena aku, kamu tak mau pacaran lagi, kan?"
"Ya. Tetapi hal itu semata-mata urusan pribadiku."
"Jat, aku sudah berterus terang mengatakan bahwa perkawinanku cuma main-mainan. Itu pengakuanku yang sangat jujur. Sekarang boleh kan, aku minta kejujuranmu pula?"
"Maksudmu?"
"Begini, Jat, cepat atau lambat, perkawinanku akan bubar lagi. Itu pasti. Jat, aku akan kembali jadi janda. Itu pasti..."
Lasi tak bisa meneruskan kata-katanya. Tangannya sibuk menghapus air mata. Kanjat kembali menarik napas panjang. Ia bahkan menopang dagu dengan tangan kirinya setelah Lasi, dengan nada yang sangat datar dan terputus-putus, menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Sudah kubilang, perkawinanku terasa sangat aneh. Ganjil. Maka siapa pun yang masih punya pikiran wajar tak mungkin tahan tinggal dalam perkawinan seperti itu."
Lasi bicara dan terus bicara. Tentang Bu Lanting yang menawarkan cara berahi bebas pun keluar juga dari mulut Lasi. Kanjat mendengarkannya dengan dahi berkerut dan alis yang merapat. Ah, Kanjat jadi tahu, di balik kemakmuran yang dari luar tampak sangat megah, Lasi menanggung beban yang tak kepalang justru karena ia masih ingin dikatakan punya pikiran wajar.
"Jat, bila aku mau jadi orang nggak bener, sangat gampang. Aku boleh dibilang punya semua kemudahan untuk melakukan hal itu. Bahkan sudah kubilang, suamiku pun mengizinkannya. Tetapi, Jat, aku masih eling. Masalahnya, kalau tak ada orang bener yang mau membawaku keluar dari persoalan ini, sampai kapankah aku bisa bertahan eling? Jelasnya, bila aku sudah jadi janda lagi nanti, apa yang mungkin akan terjadi pada diriku? Jat, kamu bisa mengatakannya?"
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar