Minggu, 30 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 17

BAGIAN KELIMA 05


Hujan tampaknya belum lama berhenti ketika sore hari Lasi tiba di Karangsoga. Bersama Pak Min yang mengendarai Mercy baru, Lasi datang ke rumah orangtuanya, kali pertama setahun sejak ia menjadi istri Handarbeni. 
Turun dari mobil Lasi segera merasa sesuatu yang sangat berbeda; udara segar. Bau alami lumut dan pakis-pakisan yang baru tersiram hujan. Bau tanah kelahiran. Lasi merasa kedatangannya menjadi perhatian orang tetapi mereka tidak mau mendekat. Kecuali beberapa anak. Mereka mengelilingi mobil Lasi, masing-masing dengan mata membulat. 
 
 Mbok Wiryaji keluar, lari sepanjang lorong setapak karena sudah merasa pasti siapa yang datang. Bunyi langkah kaki yang menginjak tanah basah berbaur dengan letup kegembiraan. Anehnya Mbok Wiryaji berhenti beberapa langkah di depan Lasi. Ada jarak yang tak tertembus olehnya sampai Lasi mendekat dan mengulurkan tangan. Biasa, tak terkesan rasa kangen. Untung, Mbok Wiryaji 
lega karena setidaknya Lasi mau tersenyum dan bertanya tentang kesehatannya. 
 
 Lasi masih berdiri di samping mobil sambil memandang sekeliling, memandang 
Karangsoga yang kuyup. Teringat olehnya betapa sukar mengolah nira di kala hari hujan namun hasilnya tak cukup untuk sekilo beras. Namun Lasi merasa hanyut oleh kenangan masa lain ketika hidungnya mencium bau nira hampir masak. Dalam rongga matanya terlihat tengguli menggelegak dan uap yang menggumpal dan naik menembus atap. Dan putaran kenangan itu mendadak putus ketika bayangan Darsa muncul. Lasi memejamkan mata lalu bergerak menyusul Mbok Wiryaji dan Pak Min yang mendahului masuk rumah dengan barang-barang bawaan. 
 
 Lepas magrib Mukri dan istrinya datang. Juga istri San Kardi dan beberapa tetangga lain. Dan malam itu pun Lasi merasakan sesuatu yang amat berbeda: sikap Mukri dan para tetangga itu. Sangat jelas mereka mengambil jarak. 
Mereka lebih banyak menunggu sampai Lasi bertanya sesuatu kepada mereka. Wajah mereka, sinar mata mereka, lain. Lasi tahu istri Mukri sangat terkesan oleh gelang yang dipakainya. Hampir, Lasi membuka mulut untuk mengatakan harga gelang itu. Untung batal. Bila tidak, istri Mukri bisa amat sangat terkejut. Sebab andaikan rumah, tanah, dan pohon-pohon kelapa Mukri dijual pun takkan 
terkumpul uang seharga gelang kecil di tangan Lasi itu. Bahkan Pak Tir, orang terkaya di Karangsoga, kelak akan tahu dari taukenya bahwa harga seluruh harta bendanya takkan cukup untuk membeli satu mobil yang dibawa Lasi. 
 
 Tiga hari berada di rumah orangtua di kampung halaman, Lasi belum mendapat 
kepastian apa yang akan dilakukannya. Selama tiga hari itu Lasi hanya melangkahkan kaki seputar kampung tanpa tujuan tertentu. Selama tiga hari pula Lasi merasakan betapa sikap semua orang Karangsoga jauh berubah. 
Semua orang ingin memperlihatkan keakraban kepadanya dan wajah mereka cerah ketika diajak bicara. Mata mereka mengatakan, mereka menyesal dan tidak ingin lagi merendahkan Lasi seperti yang terjadi pada masa lalu. Lasi sering ingin tersenyum menikmati perubahan sikap orang-orang sekampung. Terasa ada kepuasan karena dendam yang terbayar. Namun sesering itu pula Lasi teringat ada kata-kata yang pernah diucapkan emaknya, aja dumeh, jangan suka merasa diri berlebih. 
 
 Kemarin Lasi berjalan-jalan, sekadar mengenang kembali lorong-lorong kampung yang dulu dilaluinya setiap hari. Ada rasa nikmat ketika kakinya merambah titian batang pinang. Telinganya mendengar riang-riang atau kokok ayam betina yang sedang menggiring anak-anaknya. Dan akhirnya perjalanan tanpa tujuan tertentu itu membawa Lasi ke sebuah kolam ikan milik tetangga. Ada kakus dengan dinding compang-camping di atas kolam itu dan mendadak Lasi ingin buang hajat. Entahlah, meski sudah lama menjadi istri orang kaya, Lasi belum merasa pas dengan kakus duduk mewah yang ada di rumah suaminya di Slipi. Di bawah rimbun pepohonan, dengan semilir angin yang membawa bau-bauan alami tertentu, Lasi malah merasakan puasnya buang hajat. 
 
 Malam keempat hujan lebat kembali turun di Karangsoga. Lasi kembali merasakan nikmatnya masa lalu: tidur dalam udara sejuk dengan iringan suara hujan menimpa kelebatan rumpun bambu dan pepohonan di belakang rumah. Atau bunyi anak burung bluwak yang kedinginan dan mencari induknya. Serta suara bangkong yang bergema dari lereng jurang. Namun tengah malam Lasi 
terbangun karena atap di atas tempat tidurnya bocor. Lasi uring-uringan dan sulit tidur lagi sampai terdengar suara beduk dari surau Eyang Mus. Aneh, dari soal atap bocor itu Lasi tanpa sengaja menemukan sesuatu yang pasti untuk dilakukannya selama berada di Karangsoga. Membangun kembali rumah 
orangtuanya yang memang sudah lapuk. Mengapa tidak? Pagi-pagi Lasi bangun dengan semangat baru. Pak Min disuruhnya mengirim kabar ke Jakarta karena mungkin Lasi akan tinggal lama di Karangsoga. Kemudian Lasi bertanya pada kiri-kanan apakah Pak Talab masih menjadi pemborong pekerjaan bangunan. Mukri menjawab, ya. Lasi ke sana dan Pak Talab keluar menyambut ketika 
melihat mobil Lasi berhenti di depan rumah. Buat kali pertama dalam hidupnya Lasi menerima keramahan pemborong itu. 
 
 Dalam sebuah pembicaraan yang singkat dan lugas, kesepakatan pun tercapai. Pak Talab akan membangun rumah Mbok Wiryaji dengan bentuk dan bahan-bahan yang sama sekali baru. Pulang dari rumah Pak Talab, Lasi mengemukakan rencana yang sudah diputuskannya sendiri kepada emaknya. Mbok Wiryaji membelalakkan mata. 
 
 "Las, kamu tidak main-main?" 
 
 "Tidak, Mak." 
 
 "Tetapi aku tidak pernah meminta kamu melakukan hal itu. Aku tidak..." 
 
 "Sudahlah, Mak. Emak memang tidak minta. Tapi saya sendiri melihat rumah ini sudah terlalu tua. Saya sendiri yang menghendaki rumah ini dibangun kembali dan Emak tinggal tahu beres. Mak, Saya tidak ingin Mas Han kebocoran bila suatu saat kelak suamiku itu menginap di sini." 
 
 Mulut Mbok Wiryaji tiba-tiba rasa terkunci. Ah, terasa ada kesadaran untuk mengakui betapa dirinya kini kecil, tidak banyak arti di depan kepentingan anaknya. Mbok Wiryaji tunduk dan menelan ludah. Terasa, betapa dirinya kini 
sudah berubah menjadi sekadar pinggiran untuk kepentingan Lasi. Ya, perasaan itu mengembang dan terus mengembang. Dia, Mbok Wiryaji, kini merasa hanya bisa jadi penonton untuk kemakmuran yang sedang dinikmati anaknya.

Demikian kecil makna keberadaannya sehingga untuk membangun rumah sendiri pun Mbok Wiryaji boleh dibilang tak diajak bicara. Mbok Wiryaji menelan ludah lagi. 
 
 Dengan jaminan biaya yang lancar rumah Mbok Wiryaji selesai dalam waktu dua bulan. Dalam jangka waktu itu Lasi dua-tiga kali pulang-balik Jakarta-Karangsoga, sekali bersama Handarbeni. Orang Karangsoga sebetulnya heran mengapa suami Lasi begitu tua, layak menjadi ayahnya. Tetapi perasaan itu lenyap oleh citra bagus yang segera diperlihatkan oleh lelaki itu. Handarbeni ramah, mau berbicara dengan banyak orang, dan mau menyediakan dana untuk perbaikan beberapa jembatan kampung. 
 
 Karena kemakmuran yang terlihat dalam kehidupan Lasi, suatu saat Mukri datang. 
 
 "Las, kamu tidak ingin melihat Eyang Mus?" 
 
 "Eyang Mus? Oalah, Gusti! Aku hampir melupakan orang tua itu. Kang Mukri, 
bagaimana keadian Eyang Mus?" 
 
 "Dia masih sehat. Tetapi apa kamu sudah dengar Mbok Mus sudah meninggal?" 
 
 "Meninggal? Innalillahi." 
 
 "Ya. Namun bukan itu yang ingin kukatakan padamu. Yang ingin kusampaikan kepadamu, surau Eyang Mus juga sudah tua. Kamu sudah selesai membangun rumah orangtuamu. Apa kamu tidak ingin beramal membangun surau Eyang Mus?" 
 
 Lasi diam.

"Bagaimana, Las?" 
 
 "Entahlah. Aku belum pernah memikirkannya. Aku bahkan baru teringat Eyang Mus karena kamu bercerita tentang suraunya." 
 
 "Kalau begitu apa salahnya kamu melihat Eyang Mus." 
 
 "Kamu benar, Kang. Aku akan pergi ke rumah Eyang Mus, kapan-kapan." 
 
 "Kok kapan-kapan?" 
 
 "Karena aku baru teringat sekarang." 
 
 Ternyata Lasi datang ke rumah Eyang Mus pada keesokan harinya. Benar kata Mukri, surau Eyang Mus sudah begitu tua, juga rumah Eyang Mus sendiri, sehingga Lasi merasa harus berhati-hati ketika membuka pintu depan. Eyang Mus yang sudah mendengar suara Lasi tetap duduk di kursi, hanya sedikit 
menegakkan kepala. Setahun tak bertemu orang tua itu, Lasi melihat Eyang Mus banyak berubah, makin kurus dan lamban. Kantong matanya menggantung dan tulang pipinya makin menonjol. Suaranya terdengar dalam. Kasihan. Dari Mukri, Lasi tahu bahwa kini Eyang Mus tinggal sendiri. Makan-minum dicatu oleh seorang anaknya yang tinggal tak jauh dari sana. 
 
 "Yang..." 
 
 "Kamu, Las?"

"Ya, Yang." 
 
 Lasi terjebak keharuan. Dan rasa bersalah, karena sudah sekian lama berada di Karangsoga namun baru sekali menengok orang tua itu. Lasi menarik kursi di samping Eyang Mus. Makin jelas kerentaannya. 
 
 "Eyang Mus masih suka menabuh gambang?" tanya Lasi sekenanya sementara matanya melihat perangkat gambang Eying Mus masih di tempat biasa. 
 
 "Tidak. Tanganku sudah sering gamang, sering kesemutan. Aku tak bisa lagi memukul gambang." 
 
 "Yang..." 
 
 "Apa, Las?" 
 
 "Kang Mukri bilang, surau Eyang Mus perlu dipugar. Betul?" 
 
 Eyang Mus terperanjat. Matanya yang buram dan kelabu menatap Lasi. 
 
 "Apa betul, Yang?" ulang Lasi. 
 
 "Tidak," jawab Eyang Mus mantap.

Lasi terkejut dengan jawaban yang tak terduga itu. 
 
 "Tidak? Kenapa, Yang?" 
 
 "Aku bisa mengira-ngira, Mukri memintamu membiayai pemugaran surau kita itu. Iya, kan?" 
 
 "Ya." 
 
 "Kamu mau?" 
 
 "Ya, mau." 
 
 "Kamu ada cukup uang?" 
 
 "Cukup, Yang." 
 
 "Ah, tetapi tak perlu. Kukira surau kita masih baik. Artinya, masih bisa mendatangkan ketenteraman jiwa bagi siapa saja yang bersujud kepada Tuhan di sana. Surau kita masih membawa suasana yang akrab bagi orang-orang Karangsoga, masih lebih cocok dengan alam lingkungan dan kebiasaan mereka." 
 
 "Eyang Mus tidak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman," kata Lasi setelah agak lama terdiam.

Eyang Mus tersenyum. 
 
 "Tidak, Las. Aku malah khawatir surau yang terlalu bagus akan membuat suasana terasa asing bagi orang-orang yang biasa tinggal di rumah berdinding bambu dan tidur di atas pelupuh. Surau yang bagus mungkin bisa membuat orang-orang di sini merasa berada dalam ruangan yang tak akrab." 
 
 Lasi diam lagi. 
 
 "Kalau begitu, bagaimana bila saya membeli pengeras suara untuk surau kita? Eyang Mus, di mana-mana orang memasang pengeras suara untuk mesjid dan surau mereka." 
 
 "Las, itu pun tidak. Terima kasih. Mesjid balai desa sudah dipasangi corong. Setiap waktu salat suaranya terdengar sampai kemari. Bila surau kita juga dipasangi pengeras suara, nanti jadi berlebihan. Tidak, Las. Terima kasih." 
 
 Eyang Mus diam. Terlihat kesan risi karena telah menampik kebaikan yang ditawarkan Lasi. 
 
 "Las..." 
 
 "Apa, Yang?" 
 
 "Bila benar kau ingin mendermakan uang, saat ini mungkin ada orang yang sangat memerlukannya." 
 
 "Siapa, Yang?" kejar Lasi karena Eyang Mus lama terdiam.

"Kanjat." 
 
 "Kanjat?" Lasi terkejut untuk kali kedua. 
 
 "Ya." 
 
 "Anak Pak Tir perlu bantuan uang?" 
 
 "Begini. Kudengar Kanjat ingin membuat percobaan, mengolah nira secara besar-besaran. Semacam kilang gula kelapa. Ada orang bilang, dengan mengolah nira secara besar-besaran penggunaan bahan bakar bisa dihemat. Konon Kanjat akan menggunakan kompor pompa yang besar untuk mengolah 
nira yang dibeli dari penduduk. Namun untuk biaya percobaan-percobaan itu Kanjat tak punya cukup uang." 
 
 "Ayahnya?" 
 
 "Kasihan anak muda itu. Pak Tir tak pernah setuju akan tetek bengek yang dilakukan anaknya. Pak Tir malah sangat kecewa karena Kanjat senang menggeluti urusan kaum penyadap yang menurut dia tak pantas dilakukan oleh seorang insinyur-dosen." 
 
 "Nanti dulu, Yang. Kanjat akan membeli nira dari para penyadap?" 
 
 "Begitu yang kudengar. Orang bilang, bila percobaannya berhasil, para penyadap bisa langsung menjual nira, bukan hasil pengolahannya. Dengan demikian mereka punya banyak waktu untuk kegiatan lain, seperti bekerja di ladang atau kebun." 
 
 "Jadi, jadi, para penyadap tak perlu lagi menjual gula?" 
 
 "Mestinya begitu. Atau, temuilah Kanjat. Kamu akan mendapat penjelasan langsung dari dia. Aku sendiri sebetulnya tak begitu paham. Aku hanya percaya Kanjat anak yang baik dan apa yang ingin dicobanya, aku percaya, bertujuan 
baik pula. Maka, bantulah dia." 
 
 Sepi. Mata Lasi menatap datar tapi ia tak melihat sesuatu. Hanya ada Kanjat. Ya. Sesungguhnya nama itu selalu lekat di hatinya sejak Lasi berada kembali di Karangsoga. Tetapi bersembunyi di mana dia? Sudah bencikah dia? Entahlah, yang jelas sosoknya selalu tampak dalam angan-angan Lasi. Alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam. Kesederhanaannya. Tak banyak omongnya. Sikapnya yang sejak dulu selalu ingin melindunginya. Dada Lasi berdebar. Ada 
pikiran nakal; membandingkan Handarbeni yang tua dengan Kanjat yang masih sangat muda. 
 
 Sampai tiba saat meninggalkan rumah Eyang Mus, Lasi tak memberi kesanggupan apa pun menyangkut rencana percobaan yang dilakukan Kanjat. Namun sampai di rumah orangtuanya Lasi segera memanggil istri Mukri. Lasi ingin tahu hari-hari Kanjat bisa ditemui di Karangsoga. Istri Mukri 
menjelaskannya dengan semangat dan terperinci bahkan dengan tambahan 
macam-macam. 
 
 Tambahan itu misalnya, kini ada seorang gadis, Hermiati, lengket dengan Kanjat. Hermiati selalu memakai celana panjang biru, ketat, rambutnya sebahu dan bila mengendarai sepeda motor gayanya seperti anak lelaki. 
 
 "Cantik? Apa dia... eh, siapa dia tadi?" 
 
 "Hermiati."

"Hermiati. Dia cantik?" 
 
 "Soal cantik, dia kalah sama kamu." 
 
 "Ah!" 
 
 "Betul. Lagi pula dia hanya naik sepeda motor dan kamu naik mobil." 
 
 "Tetapi dia lengket, kan?" 
 
 "Ya. Apalagi bila mereka naik satu sepeda motor. Lengket betul. Eh, Las, nanti dulu. Sejak tadi kamu belum mengatakan buat apa kamu mau bertemu Kanjat." 
 
 Wajah Lasi mendadak terasa hangat. Dia pun tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan keterkejutannya. Namun Lasi segera bisa mengatasi keadaan. 
 
 "Aku dengar dari Eyang Mus, Kanjat punya rencana ini-itu tetapi tak cukup biaya. Eyang Mus meminta aku membantu Kanjat. Jadi aku ingin bertemu dia." 
 
 Jawaban Lasi memuaskan istri Mukri yang juga tidak tahu bahwa selama berada di Karangsoga, sebenarnya Lasi merasa penasaran karena sekali pun belum pernah bertemu Kanjat. Padahal istri Mukri bilang, hampir setiap Sabtu siang Kanjat pulang ke Karangsoga, kadang sendiri, kadang dengan beberapa teman.

Adalah Pardi, suatu pagi terlihat sedang berbincang-bincang dengan Pak Min di gang depan rumah Mbok Wiryaji. Pardi tampak sedang menanyakan sesuatu tentang mobil bagus yang dipegang Pak Min. Lasi memanggilnya dan Pardi datang dengan gayanya yang khas. Rokok terus mengepul di mulutnya. Langkahnya ringan dan bibirnya cengar-cengir. Begitu duduk di kursi baru kata-
katanya langsung membuat Lasi terpojok. 
 
 "Ah, Nyonya Besar, ternyata kamu masih ingat padaku." 
 
 "Jangan gitu, Di. Aku tak pernah lupa, kalau bukan karena kamu, aku takkan sampai ke Jakarta." 
 
 "Kalau begitu, bagi-bagilah kemakmuranmu." 
 
 "Sungguh? Kamu mau beli rokok?" 
 
 "Tidak. Aku hanya berolok-olok." 
 
 "Nggak kirim gula ke Jakarta?" 
 
 "Aku malah baru pulang tadi pagi." 
 
 "Masih dengan Sapon?" 
 
 "Masih. Tetapi sekarang anak majikanku tak pernah lagi ikut aku naik truk gula. Kenapa ya, Las?"

"Maksudmu Kanjat?" 
 
 "Ah, siapa lagi?" 
 
 "Kenapa kamu tanyakan itu kepadaku?" 
 
 "Kenapa, ya?"




Bersambung.... 
______________________________________________

Minggu, 23 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 16

BAGIAN KELIMA 04



Makin dekat hari Lebaran, surau Eyang Mus makin ramai. Lepas saat berbuka puasa jemaah lelaki dan perempuan mulai berdatangan. Mbok Wiryaji dan suaminya pun sudah berangkit meninggalkan Lasi seorang diri di rumah. Semula Lasi hendak ikut serta, tetapi kemudian mengurungkan niat begitu menyadari dirinya baru sehari menjadi janda. Lasi merasa belum sanggup hadir di tengah 
orang banyak; tak sanggup menahan tatapan mata mereka. 
 
 Sendiri di rumah, Lasi merasa terkepung kebimbangan. Lasi tak bisa menentukan apa yang layak dilakukannya. Maka Lasi duduk di ruang depan dan membiarkan segala sesuatu berlalu tanpa tanggapan. Telinganya mendengar suara beduk dari surau Eyang Mus. Juga suara anak-anak, atau kadang suara 
burung-burung bluwak berebut tempat menginap dalam rumpun bambu di atas 
rumah orangtuanya. Lasi juga tak tertarik akan ulah seekor kupu-kupu yang terbang mengedari lampu gantung di depannya. Namun Lasi setidaknya menggerakkan bola matanya ketika ia melihat dari balik jeruji kayu ada sosok samar di halaman. Sosok itu berjalan mendekat dan makin lama makin jelas. Seorang lelaki, dan langkahnya lurus menuju pintu depan. 
 
 Pardi? Bukan. Dia belum lama pergi dan dia tak pernah memakai baju lengan panjang. Kanjat? Mustahil. Lasi sudah mengirim pesan lewat Pardi bahwa dia tak mau bertemu anak Pak Tir itu. Jadi lelaki yang sudah berdiri di depan itu bukan Kanjat. Tetapi Lasi terkejut ketika mendengar suara lelaki di sana. Dada 
Lasi gemuruh: senang, gagap, atau tak menentu. 
 
 Kanjat melangkah masuk begitu Lasi membukakan pintu. Kelugasan seorang 
lelaki tampak pada citra wajahnya. Matanya menatap Lasi. Dari rona wajah Lasi, matanya yang menyala, Kanjat segera mengerti kedatangannya bukan sesuatu yang tak disukai. Kanjat tersenyum. Lasi tersenyum. Kemudian mereka duduk berhadapan. Lasi berdiri untuk membesarkan nyala lampu tetapi Kanjat bergerak mendahuluinya. Tangan mereka bersinggungan. Mereka sama-sama 
tersenyum lagi dan sampai sekian jauh mulut mereka tetap rapat. Kanjat menelan ludah.

"Las," katanya mengakhiri kebisuan yang kaku dan janggal. 
 
 "Apa?" 
 
 "Maafkan, aku datang meskipun kata Pardi kamu tak ingin kutemu." 
 
 Lasi tersenyum. Matanya berkilat. Dalam hati Lasi malah bersorak justru karena Kanjat berani melanggar pesan yang dibawa Pardi. Lasi tertawa dan keindahan lekuk pipinya paripurna. Giliran dada Kanjat yang gemuruh. 
 
 "Las..." 
 
 "Ya?" 
 
 "Kamu diam?" 
 
 "Aku harus bilang apa?" 
 
 "Kamu tidak marah?" 
 
 Lasi menggelengkan kepala. Menunduk. Kadang alisnya terkesan menyimpan beban berat.

"Kau baik-baik saja, bukan?" 
 
 "Seperti yang kamu lihat." 
 
 "Ya, kamu kelihatan lebih segar." 
 
 "Kamu memujiku?" 
 
 Kanjat tersenyum. 
 
 "Kudengar kamu sudah selesai sekolah dan kini kamu jadi dosen. Enak, ya?" 
 
 Kanjat tersipu. 
 
 "Las, fotomu masih kusimpan. Kamu tahu mengapa?" 
 
 "Sama. Fotomu juga masih kusimpan. Dan kamu tahu mengapa?" 
 
 Mereka beradu pandang dan bertukar senyum. 
 
 "Las, aku ingin bicara. Kamu mau mendengarnya, bukan?" 
 
 Lasi mengangkat wajah. Terlihat ada kecamuk dalam bola matanya. Wajahnya mendadak kaku. Intuisinya bilang, Kanjat akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan sebutan barunya: janda. Ya. Sinar mata Kanjat telah terbaca. Ada pusaran yang membuat hati Lasi serasa terberai. Lasi tergagap bahkan sebelum Kanjat membuka mulut. Napasnya pendek-pendek. Dalam 
kecamuk itu Lasi mencobamempertimbangkan mencegah Kanjat menyampaikan maksud yang sedikit-banyak sudah bisa dirabanya itu. Sulit. 
Namun membiarkan Kanjat mengatakan isi hatinya sama dengan sengaja mendatangkan kebimbangan besar yang tak akan mudah menyingkirkannya. Sulitnya lagi, Lasi juga menyimpan kerinduan untuk mendengar kata-kata manis dari lelaki muda di hadapannya, kerinduan yang tak bisa disepelekan. Lasi 
mendesah panjang. 
 
 "Kamu mau bilang apa, Jat?" 
 
 Ganti Kanjat yang gugup. 
 
 "Banyak yang ingin kukatakan. Kamu bisa merasakannya?" 
 
 Lasi mengangguk. 
 
 "Jadi masih perlukah aku mengatakannya?" 
 
 Lasi menggeleng. 
 
 "Jat, itu tak mungkin." 
 
 "Tak mungkin? Siapa bilang?" 
 
 "Aku sendiri. Aku seorang janda dan usiaku lebih tua. Kamu perjaka, terpelajar, dan anak orang berada. Pokoknya, aku tak pantas buat kamu. Dan sangat banyak gadis sepadan yang lebih pantas jadi istri kamu." 
 
 "Las..." 
 
 "Kita harus berani melupakan keinginan yang sekuat apa pun bila kita tak mau 
menyesal kelak." 
 
 "Tidak. Apa yang kamu katakan tadi sudah lama tak kupedulikan." 
 
 "Tetapi jangan lupa, ini Karangsoga. Pernah kamu dengar seorang jejaka mengawini janda di sini?" 
 
 "Itu pun sudah lama tak kupikirkan." 
 
 "Tetapi orangtuamu?" 
 
 "Las, aku sudah dewasa. Aku..." 
 
 "Jat, tetapi aku tak bisa. Tidak bisa. Kamu harus tahu aku memang tak bisa." 
 
 Lasi menelungkupkan wajah di atas daun meja. Mengisak. Kanjat terpana. Hening. Kupu-kupu itu datang lagi dan kembali terbang mengedari lampu. Lasi terus mengisak. Dan tiba-tiba Kanjat merasa harus memperhatikan ucapan Lasi terakhir, "Kamu harus tahu bahwa aku memang tak bisa." Ya. Kanjat ingat 
cerita tetangga kiri-kanan bahwa ada seorang overste purnawira membantu proses perceraian Lasiya.

"Las, apa kamu sudah punya rencana lain?" 
 
 Lasi mengangkat wajah. Mengusap mata dan mendesah. Kemudian dengan nada sangat berat Lasi mengiyakan pertanyaan Kanjat. Sepi. Lasi menatap wajah Kanjat, ingin melihat pantulan reaksi di sana. Kanjat membeku. Namun tak lama. Ada semangat tiba-tiba menguak dan terbit dalam cahaya wajahnya. 
 
 "Overste purnawira itu, Las?" 
 
 "Ya. Kamu sudah tahu." 
 
 "Semua orang tahu dari cerita yang berkembang di balai desa." 
 
 "Ya. Begitulah, Jat. Maka kubilang aku tak bisa. Aku sudah punya rencana dengan orang lain." 
 
 Kanjat termangu dan menelan ludah. Kemudian terdengar ucapannya yang 
bergetar dalam, 
 
 "Kamu bersungguh-sungguh dengan rencana itu? Maksudku, tak bisa lagi ditawar?" 
 
 "Ditawar?" 
 
 "Maksudku, kamu tak bisa membatalkan rencana itu?"

Mata Lasi membulat. Ada citra kebimbangan menyaput wajahnya. Bibirnya bergetar. 
 
 "Sayang tak bisa. Sungguh, aku tak bisa," desah Lasi hampir tak terdengar. "Aku tak bisa menyalahi janji yang telanjur kuucapkan. Jat, kamu bisa mengerti, bukan?" 
 
 Kanjat diam, lama. Lalu mengangguk. Jakunnya turun-naik. 
 
 "Kamu juga mengerti perasaanku?" 
 
 Kanjat menatap Lisi langsung pada bola matanya. Ada pertukaran rasa yang sangat intensif melalui cahaya mata, bahkan gerak urat wajah yang samar. Kemudian Kanjat mengangguk kigi. Dan wajahnya hampa. 
 
 "Las, aku sangat sulit menerima kenyataan ini. Tetapi baiklah." 
 
 Kanjat tak meneruskan kata-katanya. Suasana terasa kering dan janggal. Lasi 
mempermainkan cincin di jari. Cahaya kebiruan berpendar dari mata berliannya. Kanjat menggosok-gosokkin telapak tangan pada daun meja. Dan kupu-kupu itu masih terbang mengedari lampu. Kanjat bangkit dan 
mengulurkan tangan, minta diri. Lasi terpana, namun disambutnya juga tangan Kanjat. Keduanya merasa ada getaran hangat dalam telapak tangan masing-masing. Lasi makin erat menggenggam tangan Kanjat. Matanya berlinang. Bibirnya bergetar. Kanjat bergerak ke pintu. Bisu. Tetapi tiba-tiba Lasi menahan langkahnya. 
 
 "Jat, tunggu. Aku punya pesan untuk orangtuamu. Tolong katakan, besok pagi 
aku akan menemui mereka."

"Kamu akan pergi ke rumahku?" 
 
 "Ya. Aku akan mengembalikan uang gadai kebun kelapa kepada ayahmu. Kamu ingat aku menggadaikan kebun kelapa untuk biaya pengobatan Kang Darsa, eh, dudaku?" 
 
 Plas. Ada tamparan sengit mendarat di hati Kanjat. Ada ironi sangat tajam terasa menusuk dada. Kanjat tiba-tiba merasa dirinya dipaksa kembali menatap nasib para penyadap. Memang, kini Lasi kelihatan makmur dan tidak lagi bergelut dengan gula kelapa. Tetapi di luar diri Lasi, masalah gadai-menggadai kebun kelapa, satu-satunya sumber hidup kebanyakan orang Karangsoga, adalah nyala dan hampir selalu melibatkan ayah Kanjat. 
 
 "Jat, kamu bagaimana? Kamu marah? Kamu tak suka aku pergi ke rumah orangtuamu?" 
 
 Kanjat terkejut. 
 
 "Kamu sakit? Kok pucat?" 
 
 "Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku tak keberatan kamu datang kapan saja kamu suka. Maafkan. Sekarang, permisi." 
 
 Kanjat tersenyum janggal, lalu berbalik dan melangkah keluar. Selama masih terkena cahaya lampu, tubuh Kanjat adalah bayangan remang yang bergerak menjauh. Kemudian lenyap. Pada detik yang sama Lasi merasa ada debur dalam kehampaan hatinya. Tetapi Lasi tak bisa apa-apa kecuali memejamkan mata untuk mencoba menekan perih yang menggigit hati. Telinganya berdenging.

Menjadi istri Handarbeni, ternyata, bermula dari sebuah upacara ringan. Itulah yang dirasakan Lasi. Pemikahan dilaksanakan di rumah Pak Han di Slipi. Semua petugas diundang dari Kantor Urusan Agama, dan para saksi didatangkan entah dari mana. Tak ada keramaian. Tamu pun tak seberapa, hanya beberapa lelaki teman Pak Han, Bu Koneng, Bu Lanting, dan si Kacamata. Untung, si Betis 
Kering dan si Anting Besar tak muncul. Lalu kenduri. 
 
 Semula Lasi merasa sedih karena tak seorang kerabat pun, bahkan juga emaknya, hadir pada upacara di suatu pagi hari Minggu itu. Namun perasaaan demikian tak lama mengendap di hati Lasi karena suasana yang terjadi pada 
acara pernikahan itu terasa enteng, cair, dan seperti main-main sehingga kehadiran seorang emak terasa tak perlu. Ya, seperti main-main. Betul, "main-main" adalah kata yang paling bagus untuk melukiskan perasaan Lasi dan 
suasana pada saat itu. Aneh. Lasi sendiri heran mengapa hati dan jiwanya tidak ikut menikah, tidak ikut kawin. Mengapa, bahkan Lasi teringat masa kecil dulu ketika sering bermain kawin-kawinan bersama teman ketika bocah. Bagi Lasi, kawin-kawinan adalah permainan yang lucu, asyik, menyenangkan; namun tetap sebagai sesuatu yang tak mengandung kesungguhan, apalagi kesejatian. 
 
 Lasi sering mencoba memahami perasaan sendiri. Jangan-jangan hanya karena Kanjat tak bisa dilupakan, perkawinannya dengan Handarbeni terasa sebagai main-main. Lasi ingat betul ketika terjadi ijab-kabul, pada detik yang sama jiwa Lasi penuh berisi Kanjat. Tetapi Lasi kemudian sadar, sangat sadar, Kanjat adalah sesuatu yang sudah sangat jauh untuk diraih. Atau Lasi sendiri yang telanjur menjauh. Lasi juga sadar bahwa jauh sebelum hari perkawinan itu dia sudah menyatakan bersedia menjadi istri Pak Han. Lalu dari mana datang perasaan main-main itu? 
 
 Ah, Lasi terkejut ketika menemukan jawahan yang pasti. Hati dan jiwa Lasi mengatakan, perasaan itu justru datang dari suasana yang tercipta oleh sikap Handarbeni sendiri. Terasa oleh Lasi apa yang terjadi pada pagi hari Minggu itu adalah sesuatu yang tidak mendalam bagi Handarbeni, sesuatu yang berada di luar teras kehidupan pribadi lelaki gemuk itu. Ya. Dari kesahajaannya Lasi 
merasa bahwa perkawinannya kali ini sama sekali lain dari perkawinannya dulu dengan Darsa, betapapun Darsa telah bertindak kurang ajar kepadanya.

Hari-bari pertama menjadi Nyonya Handarbeni adalah pelajaran yang harus diikuti oleh Lasi, terutama tentang hubungan suami-istri atau bahkan hubungan lelaki-perempuan dengan cara yang baru. Atau sesungguhnya pelajaran itu sudah diberikan oleh Pardi pada hari pertama Lasi kabur dari Karangsoga. Pacar-pacar Pardi yang ada pada setiap warung yang disinggahinya itu; mereka melayani Pardi tanpa kesadaran sebagai kewajiban, lalu melayani setiap lelaki lain yang datang tanpa rasa bersalah. Pardi pun tentu mengerti bahwa pacar-pacarnya akan melayani juga setiap lelaki yang membeli mereka. Dan, Pardi 
kelihatan biasa-biasa saja, tak peduli. 
 
 Di warung Bu Koneng, Lasi mendapat pelajaran lebih banyak. Di sana Lasi mendapat pengetahuan baru bahwa perintimin antara lelaki dan perempuan tak dibungkus dengan berbagai aturan. Gampang, murah. Di sana Lasi melihat perintiman sebagai sesuatu yang semudah orang membeli kacang. Dan ternyata 
para pelakunya seperti si Anting Besar atau si Betis Kering tetap manusia biasa. Mereka bisa bergaul, pergi ke pasar, tertawa di pinggir jalan, dan mendengarkan musik dari radio sambil berjoget. 
 
 "Las, ini bukan Karangsoga," demikian Bu Lanting pernah bilang. 
 
 "Las, hidup ini seperti anggapan kita. Bila kita anggap sulit, sulitlah hidup ini. Bila kita anggap menyenangkan, senanglah hidup ini. Las, aku sih selalu menganggap hidup itu enak dan kepenak. Maka aku selalu menikmati setiap 
kesempatan yang ada. Kamu pun mestinya demikian." Itu ceramah Bu Lanting yang dulu pernah didengar Lasi. Dan dari sekian banyak pitutur Bu Lanting buat Lasi, satu yang mengena dalam hatinya, "Barangkali sudah sampai titi-mangsane kamu menjalani ketentuan dalam suratanmu sendiri, pandum-mu sendiri bahwa kamu harus jadi istri orang kaya. Lho, bila memang merupakan pandum kemujuranmu, mengapa kamu ragu?" 
 
 Ya. Maka Lasi mulai belajar menikmati dunianya yang baru, berusaha yakin bahwa dirinya memang cantik dan pantas menjadi bagian dari kehidupan orang-orang kaya, dan semua itu adalah pandum yang tak perlu ditolak. Jadi Lasi bisa merasa benar-benar senang ketika misalnya, suatu kali diajak Handarbeni terbang ke Bali. Atas desakan Handarbeni Lasi pun akhirnya bersedia terjun ke kolam dalam sebuah hotel mewah di sana dengan pakaian renang yang tipis dan sangat ketat. Handarbeni tertawa-tawa di pinggir kolam. Banyak mata lelaki menatap Lasi. Dan lama-kelamaan Lasi merasa nikmat jadi pusat perhatian banyak lelaki. 
 
 Hampir satu tahun menjadi istri Handarbeni, Lasi sudah larut menjadi bagian kehidupan golongan kaya kota Jakarta. Apa-apa yang dulu hanya terbayang dalam mimpi, Handarbeni mendatangkannya dengan nyata bagi Lasi. Bu Lanting benar ketika berkata, selama Lasi bisa menjadi boneka cantik yang penurut, ia akan mendapat apa yang diinginkannya. Betul. Handarbeni memanjakan Lasi sebagai seorang penggemar unggas menyayangi bekisarnya. 
 
 Tetapi dalam satu tahun itu pula Lasi tahu secara lebih mendalam apa dan siapa Handarbeni. Benar pula kata Bu Lanting, Handarbeni sudah mempunyai dua istri sebelum mengawini Lasi. Maka dalam satu minggu Handarbeni hanya tiga kali pulang ke Slipi. Yang ini tidak mengapa karena Lasi mendapat kompensasi berupa kemakmuran yang sungguh banyak. Lasi juga akhirnya tahu 
bahwa sesungguhnya Handarbeni adalah laki-laki yang hampir impoten. Kelelakiannya hanya muncul bila ada bantuan obat-obatan. Yang ini terasa menekan hati Lasi, namun tak mengapa karena pada diri Lasi masih tersisa keyakinan hidup orang Karangsoga; seorang istri harus narima, menerima suami apa adanya. Tetapi Lasi menjadi sangat kecewa ketika menyadari bahwa perkawinannya dengan Handarbeni memang benar main-main. Lasi merasa dirinya hanya dijadikan pelengkap untuk sekadar kesenangan dan gengsi. 
 
 "Ya, Las. Kamu memang diperlukan Pak Han terutama untuk pajangan dan gengsi," kata Bu Lanting suatu kali ketika Lasi berkunjung ke rumahnya di Cikini. "Atau barangkali untuk menjaga citra kejantanannya di depan para 
sahabat dan relasi. Ya, bagaimana juga suamimu itu seorang direktur utama sebuah perusahan besar. Lalu, apakah kamu tidak bisa menerimanya?" 
 
 "Bukan tak bisa. Saya sadar harus menerimanya meski dengan rasa tertekan." 
 
 "Maksudmu?" 
 
 "Secara keseluruhan, Mas Han memang baik. Maka saya bisa menerimanya, kecuali satu hal."

"Apa?" 
 
 Lasi diam dan tertunduk. 
 
 "Anu, maaf, Las, kamu tidak kenyang?" 
 
 "Bukan hanya itu," jawab Lasi tersipu. 
 
 "Maksudmu?" 
 
 "Keterlaluan, Bu. Yang ini saya benar-benar tidak bisa menerimanya." 
 
 "Yang mana?" 
 
 Lasi tertunduk. Jelas sekali Lasi sulit mengemukakan perasaannya. 
 
 "Yang mana, Las?" ulang Bu Lanting. 
 
 Lasi tetap tertunduk. Ingatannya melayang pada suatu malam ketika ia dalam kamar bersama Handarbeni. Malam yang menjengkelkan. Handarbeni benar-benar kehilangan kelelakiannya meski obat-obatan telah diminumnya. Untuk menutupi kekecewaan Lasi akibat kegagalan semacam biasanya Handarbeni mengobral janji membelikan ini-itu dan keesokan harinya semuanya akan ternyata bernas. Tetapi malam itu Handarbeni tak memberi janji apa pun 
melainkan sebuah tawaran yang membuat Lasi merasa sangat terpojok, bahkan terhina. 
 
 "Las, aku memang sudah tua. Aku tak lagi bisa memberi dengan cukup. Maka, bila kamu kehendaki, kamu aku izinkan meminta kepada lelaki lain. Dan syaratnya hanya satu: kamu jaga mulut dan tetap tinggal di sini menjadi 
istriku. Bila perlu, aku sendiri yang akan mencarikan lelaki itu untukmu." 
 
 Lasi memejamkan matanya rapat-rapat. Bu Lanting tersenyum. 
 
 "Lho, Las. Kamu belum menjawab pertanyaanku." 
 
 Lasi mendesah. Kemudian dari mulutnya mengalir pengakuan dalam ucapan-ucapan yang patah-patah. Lasi berharap pengakuan itu akan mendapat tanggapan yang sejuk, penuh pengertian. Namun yang kemudian didengarnya dari mulut Bu Lanting adalah ledakan tawa. Dan gerakan kedua tangan yang 
mirip orang berenang. 
 
 "Oalah, Las, kubilang juga apa. Pak Han lelaki yang luar biasa baik, bukan? Oalah, Lasi, mujur amat nasibmu!" 
 
 Lasi membatu di tempatnya. Ia memandang Bu Lanting hanya dengan sudut mata. Jijik, kecewa, dan tak bisa dimengerti. 
 
 "Lalu kamu bagaimana, Las?" 
 
 "Aku bagaimana?" 
 
 "Iya. Kamu mendapat tawaran yang begitu menyenangkan. Bisa bersenang senang dengan lelaki pilihan atas restu suami sendiri yang tetap kaya. Lho, apa nggak senang? Lalu kamu bagaimana?" 
 
 Ada ruang hampa tiba-tiba mengambang dalam dada Lasi. Kosong. Lengang. Dan buntu. Lasi ingin cepat mengalihkan pokok pembicaraan, tetapi Bu Lanting terus mengejarnya. 
 
 "Misalkan iku menjadi kamu Las, wah!" 
 
 "Tidak, Bu. Yang satu ini saya tak sanggup melakukannya." 
 
 "Tetapi ini Jakarta, Las. Di sini, banyak perempuan atau istri yang saleh. Itu, aku percaya. Tapi istri yang tak saleh pun banyak juga. Jadi yang begitu-begitu itu, yang dikatakan suamimu agar kamu melakukannya, tidak aneh. Ah, kamu pun nanti akan terbiasa. Enteng sajalah..." 
 
 "Sungguh, Bu. Saya tak sanggup." 
 
 "Las, kamu jangan berpura-pura. Aku tahu kamu masih sangat muda. Pasti kamu masih memerlukan yang begitu-begitu. Atau, nanti dulu; kamu tak bisa mencari...?" 
 
 "Ah, tidak. Bukan itu." 
 
 "Lho, kalau kamu tak bisa, jangan khawatir. Aku yang akan mencarikannya buat kamu." 
 
 "Tidak, Bu. Tidak. Saya betul-betul tidak bisa melaksanakan hal seperti itu."

"Las, kamu jangan sok alim. Mau dibuat enak dan kepenak kok malah tak mau. Apa itu bukan bodoh namanya?" 
 
 Lasi tersinggung. Wajahnya mendung. 
 
 "Masalahnya bukan alim atau tidak alim, melainkan lebih sederhana. Melakukan hal seperti itu, bahkan baru membayangkannya, bagi saya terasa sangat ganjil. Itu saja." 
 
 "Ganjil? Ganjil? Apa yang ganjil?" 
 
 Bu Lanting tertawa lagi, lalu mendadak berhenti. Mengusap air mata yang menetes dari hidung dan menatap Lasi dengan pandangan yang serius. Nada suaranya merendah. 
 
 "Eh, Las, begini saja. Aka punya saran. Minta cerai saja. Jangan khawatir. Aku jamin kamu tidak akan lama menjadi janda. Dan soal suami pengganti, itu urusanku. Itu gampang. Akan kucarikan buat kamu suami yang lebih kaya, dan yang penting lebih muda. Ee... percayalah kepadaku. Bagaimana?" 
 
 Lasi tertegun. Wajahnya beku. 
 
 "Entahlah. Yang demikian tak pernah terpikir. Pokoknya entahlah." 
 
 "Ah, kamu ini bagaimana? Kamu cuma bisa bilang entahlah. Kalau begitu apa perlunya kamu datang kepadaku?"

Entahlah. Lasi memang merasa entahlah, entah yang akan dilakukannya. Suatu kali Lasi memutuskan benar-benar ingin menerima suami sepenuhnya, termasuk impotensinya. Lasi merasa keputusan itu tidak buruk. Ia akan menekan perasaan demi suami yang telah banyak memanjakannya dengan kemakmuran 
yang sungguh banyak. Apalagi dalam hati Lasi sudah tumbuh rasa kasihan terhadap Handarbeni. Kasihan, karena Lasi tahu Handarbeni berusaha menyenangkannya setiap hari. Juga setiap gilir malam meskipun yang ini Handarbeni lebih sering gagal. Namun keputusan demikian sulit terlaksana karena Handarbeni sendiri sering mengulang apa yang pernah dikatakan kepada Lasi, "Kamu boleh minta kepuasan kepada lelaki lain. Yang penting kamu jaga mulut dan tetap tinggal jadi istriku di rumah ini." 
 
 Dan akhirnya menjadi kebiasaan yang terasa sangat menjijikkan. Setiap kali gagal menyenangkan Lasi, Handarbeni selalu mengulang ucapan itu. Usaha Lasi untuk menghentikannya tak dihiraukan oleh Handarbeni. Lasi protes. Lasi uring-uringan. Suatu kali Lasi bilang bahwa dia benar-benar tidak mau lagi mendengar Handarbeni menawarkan peluang nyeleweng. 
 
 "Kenapa sih, Mas Han suka bilang seperti itu?" 
 
 "Kenapa?" 
 
 "Ya, kenapa?" 
 
 "Karena aku tahu kamu masih sangat muda. Juga karena aku tidak merasa keberatan selama kamu jaga mulut dan tidak minta cerai. Jelas?" 
 
 Lasi menangis karena sangat sulit percaya bahwa yang baru didengar betul-betul keluar dari mulut suaminya. Dunia yang baginya terasa begitu ganjil tiba-tiba terbentang dan Lasi dipersilakan masuk. Lasi protes lebih keras. Lasi minta pulang sementara ke Karangsoga. "Kangen sama Emak," itu alasan yang keluar dari mulutnya. Mula-mula Handarbeni mengerutkan kening, namun kemudian tersenyum. Lasi diizinkannya berangkat. 
 

 
                                 ****



Bersambung... 
______________________________________________

Sabtu, 22 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 15

BAGIAN KELIMA 03


Jarang terjadi bulan Puasa jatuh pada musim kemarau. Tetapi hal yang jarang itu selalu dinanti oleh para penyadap, karena sudah menjadi kebiasaan pada saat seperti itu harga gula akan naik dan bisa mencapai titik tertinggi. Para penderes sendiri tidak mengerti mengapa harga gula naik pada bulan Puasa, 
terutama sejak sepuluh hari menjelang Lebaran. Mereka hanya tahu dari pengalaman sejak lama bahwa harga dagangan mereka membaik bahkan melonjak menjelang akhir bulan itu. Tetapi para tengkulak seperti Pak Tir bisa mengatakan bahwa kenaikan harga gula disebabkan oleh melonjaknya tingkat konsumsi di kota-kota besar. "Pada bulan Puasa banyak orang membuat makanan manis, terutama di kota." 
 
 Harga jual gula yang sangat baik pada bulan Puasa dan mudahnya kayu bakar didapat pada musim kemarau adalah dua hal yang bersama-sama mampu sejenak menjernihkan wajah masyarakat penyadap. Pada musim ini para 
penyadap nuerasa pekerjaan mereka jauh lebih ringan. Selain mudah mendapat kayu bakar, batang kelapa tidak licin karena lumut yang melapisinya mengering. Nira juga sangat bernas. Inilah hari-hari para penyadap sejenak bisa tersenyum dan tertawa. Mereka untuk sementara cukup makan dan mungkin bisa menyisihkan sedikit uang untuk mengganti baju anak-anak. Dan karena hati terasa ringan, sering terdengar mereka berdendang ketika mereka membelah kayu atau bahkan ketika mereka sedang tersiur-siur pada ketinggian 
pohon kelapa. Anak-anak mereka pun berubah. Pipi mereka jadi montok dan betis mereka jadi berisi. Mereka bergembira dan sering bertembang ramai-ramai di bawah sinar bulan. Ada sebuah tembang yang sangat mereka sukai, tembang tentang harapan di bulan Puasa bagi anak-anak yang sehari-hari tak 
cukup sandang dan pangan.

Dina Bakda uwis leren nggone pasa 
 Padha ariaya seneng-seneng ati raga 
 Nyandhang anyar sarta ngepung sega punar 
 Bingar-bingar mangan enak nganti meklar 
 
 Di hari lebaran sudah kita purnakan puasa 
 Kita berhari raya, bersenang jiwa dan raga 
 Berbusana baru, menyantap nasi paten 
 Riang gembira santap enak hingga perut 
 kenyang benar 
 
 Malam hari, sementara anak-anak berlarian atau bertembang di bawah sinar bulan, beberapa lelaki biasa berkumpul di surau Eyang Mus. Ketika hidup terasa kepenak; tak sia-sia, dan perut terasa aman, mereka punya peluang memikirkan sesuatu yang tak pernah hilang dalam jiwa tetapi sering mereka 
lupakan ketika lapar: sangkan paraning dumadi. Para penyadap yang selalu menyebut Gusti Allah untuk membuka kesadaran terdalam demi keselamatan mereka, sering lupa pergi ke surau karena mereka bingung menjawab pertanyaan yang menggigit; mana yang harus didulukan, oman atau iman? Oman adalah tangkai bulir padi, perlambang keamanan perut. Oman dan iman adalah kebingungan para penyadap yang muncul dalam ungkapan yang sering mereka ucapkan, "Bagaimana kami bisa lestari berbakti bila perhatian kami habis oleh ketakutan akan tiadanya makanan untuk besok pagi?" 
 
 Maka ketika ketakutan itu hilang, para penyadap sangat ingin membuktikan diri bahwa mereka sebenarnya adalah orang-orang yang tetap eling dan tetap berhati rumangsa di hadapan kemahakuasaan Gusti. Mereka berpuasa karena dalam suasana perut aman mereka justru tak ingin lagi berkata, "Buat apa 
puasa karena tanpa puasa pun perut kami selalu kosong." Dan hanya di surau Eyang Mus mereka bisa menemukan jalan untuk menyatakan hubungan yang mendalam antara jiwa mereka dan Sang Mahajiwa melalui cara yang mereka bisa. Mereka sembahyang malam bersama, kemudian melantunkan slawatan atau kadang suluk sisingiran secara barungan; satu orang membaca dan yang 
lain menirukan bersama-sama di belakang. 
 
 Namun tak jarang, setelah lelah membaca slawatan atau suluk mereka terlibat dalam percakapan tentang hukum dan biasanya Eyang Mus menjadi sumber rujukan. Malam ini ada sebuah pertanyaan sangat khas yang selalu menggantung, karena setiap kali diajukan, Eyang Mus lebih suka menghindar 
daripada menjawabnya. Pertanyaan itu sudah diajukan Mukri pada Puasa tahun kemarin dulu: apakah seorang penderes seperti Mukri tetap wajib berpuasa sementara in harus naik-turun 40 pohon kelapa pagi dan sore hari? 
 
 "Eyang Mus, malam ini saya minta jawaban yang jelas. Saya tidak tahan lebih lama dalam kebingungan; tidak puasa takut salah, tetapi bila berpuasa kaki saya sering gemetar ketika naik-turun pohon kelapa. Apalagi bila hari hujan." 
 
 "Betul, Eyang Mus," sela Sang Kardi. "Sudah sekian tahun Eyang Mus tak mau menjawab pertanyaan ini. Sekarang Eyang Mus kami minta menjawabnya." 
 
 Suasana mendadak jadi sepi. Terdengar dengan jelas suara anak-anak yang berebutan kunang-kunang di halaman. Eyang Mus menunduk sehingga kelihatan jelas iket wulung yang membalut kepalanya. Terbatuk lirih lalu mengangkat muka. Senyumnya yang tulus menghias wajahnya yang tua. 
 
 "Ah, kalian tak pernah bosan mengajukan pertanyaan ini. Begini, Anak-anak. Dhawuh berpuasa hanya untuk mereka yang percaya, dan dasarnya adalah ketulusan dan kejujuran. Intinya adalah pelajaran tentang pengendalian 
dorongan rasa. Mukri, bila kamu kuat melaksanakan puasa meski pekerjaanmu 
berat, dhawuh itu sebaiknya kamu laksanakan." 
 
 "Bila tak kuat?" potong Mukri.

"Di sinilah pentingnya kejujuran itu. Sebab kamu sendirilah yang paling tahu kuat-tidaknya kamu berpuasa sementara pekerjaanmu memang menguras banyak tenaga. Apabila kamu benar-benar tidak kuat, ya jangan kamu 
paksakan. Nanti malah mengundang bahaya. Dalam hal seperti ini kukira kamu bisa mengganti puasamu dengan cara berderma atau menebusnya dengan berpuasa pada bulan lain. Gampang?" 
 
 Mukri dan San Kardi saling pandang. Keduanya tampak gembira karena merasa 
sudah terlepas dari kebimbangan yang lama menindih hati mereka. 
 
 "Jelasnya, Yang, bila saya tak kuat berpuasa karena pekerjaan yang sangat berat, saya boleh berbuka?" 
 
 Eyang Mus mengangguk dan tertawa. "Asal kamu tulus dan jujur." 
 
 "Eyang Mus..." 
 
 "Nanti dulu, aku belum selesai bicara. Meski kalian bisa memperoleh kemudahan, jangan lupa bahwa dalam bulan Puasa seperti sekarang ini kalian tetap diminta berlatih mengendalikan nafsu, perasaan, dan keinginan. Karena, itulah inti ajaran puasa." 
 
 "Baik, Yang. Tetapi itu, lho. Jawaban Eyang Mus ternyata sederhana. Lalu mengapa Eyang Mus menundanya sampai bertahun-tahun?" 
 
 Eyang Mus terkekeh. Mulutnya yang sudah ompong terbuka. "Mau tahu jawabku? Begini, Anak-anak. Aku memang membatasi diri berbicara soal puasa. Sebab aku tahu kalian bekerja sangat berat dan berbahaya, sementara pekerjaanku hanya memelihara sebuah kolam ikan, itu pun tidak seberapa luas. Itulah, maka aku tak berani mengatakan puasamu harus sama seperti puasaku."

"Dan itulah, maka sampai sekian lama Eyang Mus tak berani berterus terang kepada kami?" seloroh Mukri. 
 
 Mereka tertawa. Eyang Mus juga tertawa. 
 
 Bulan tua sudah meninggi ketika orang-orang turun meninggalkan saran Eyang Mus. Terdengar kentongan menandakan pukul sebelas, hampir tengah malam. Anak-anak sudah lama masuk dan tidur dalam pelukan udara kemarau yang dingin. Sunyi. Hanya suara tokek dari lubang pada pohon sengon dan suara gangsir. Kepak sayap kelelawar. Suara terompah kayu Eyang Mus mengiringi 
langkahnya pulang. Desah pintu bambu yang digeser. Eyang Mus masuk. Di luar, bulan yang tinggal sebelah mulai merambat menuruni langit sebelah barat. Namun semuanya bisu dan hampir tak ada gerak. Karangsoga sudah nyenyak karena dinginnya malam kemarau. Hanya ada cericit suara tikus busuk di pinggir kolam. Ada kucing melintasi halaman tanpa suara, hanya bola matanya memantulkan sepasang cahaya kebiruan. Di langit yang tanpa noda sering membersit lintasan cahaya bintang berpindah. Dan samar-samar dua ekor 
keluang terbang membentuk sepasang bayangan yang bergerak beriringan 
dalam keheningan. 
 
 Makin dekat Lebaran orang Karangsoga makin banyak senyum karena harga gula kelapa terus naik. Pada puncaknya nanti mungkin harga sekilo gula bisa sepadan dengan satu setengah atau bahkan dua kilo beras. Apabila keadaan ini tercapai, meskipun tidak lima tahun sekali dan mungkin hanya berlangsung 
beberapa hari, orang Karangsaga merasa beruntung justru karena mereka adalah penyadap nira. Setelah tersedia beberapa kilo beras dan sedikit uang untuk menyambut Lebaran, mereka merasa bahwa hidup adalah kenikmatan yang pantas disyukuri. Dalam rasa beruntung seperti ini mereka pergi menyadap, menembus kabut pagi yang dingin dengan hati yang ringan. Mereka berbagi kegembiraan bila saling berpapasan di jalan dengan tertawa atau bersenandung bahkan ketika mereka sedang berada di ketinggian pohon kelapa. 
Memang, mereka sangat sadar bahwa harga gula yang pantas tidak pernah berlangsung lama. Namun kesadaran itu pula yang mengharuskan para penderes Karangsoga menikmati hari-hari yang langka dan sangat berharga itu. Tertawalah selagi ada peluang, meski hanya sejenak. 
 
 Sudah menjadi kebiasaan di Karangsoga sejak lama, hari-hari mereka bermula dengan suara beduk subuh dari saran Eyang Mus. Lalu suara panggilan yang berbaur kokok ayam jantan dan kicau burung-burung. Dan bunyi terompah kayu beberapa lelaki tua yang setia memenuhi panggilan itu. Kecipak air di kolam yang ada di samping surau. Dengung ribuan lebah madu yang merubung pepohonan yang sedang berbunga, dan teriakan angsa di halaman rumah Pak Tir. Kelentang-kelentung suara pongkor mulai terdengar dan di timur langit 
mulai terang. Beberapa pohon kelapa mulai bergoyang pertanda sudah ada lelaki Karangsoga menembus kabut kemarau yang dingin dan mulai bekerja menyadap nira. 
 
 Sinar matahari belum menjamah pucuk-pucuk pohon kelapa ketika sebuah sedan keluar dari jalan raya, membelok ke kanan menelusuri jalan kampung yang menanjak, dan terus menanjak menuju Karangsoga. Para penderes yang melihat kedatangan mobil itu yakin hari ini Pak Tir punya tamu tauke yang sering datang bersama keluarga. Hubungan dagang yang sudah berlangsung puluhan tahun membuat Pak Tir kelihatan sangat akrab dengan keluarga taukenya. Mereka sudah kelihatan seperti bersaudara. 
 
 Sedan itu terus merayap di atas jalan sempit yang naik-turun dan berbatu. Ayam-ayam berlarian menghindar. Seekor anak kambing mengembik dan segera lari bergabung dengan induknya. Sepasang angsa menegakkan leher dan si jantan berteriak nyaring dan serak. Beberapa orang perempuan muncul di pintu 
dan bergumam; sepagi ini Pak Tir punya tamu. Hadiah apa lagi yang bakal diterima dari taukenya? 
 
 Tetapi sedan itu tidak membelok ke halaman rumah Pak Tir. Terus merayap dan baru berhenti di sebuah mulut lorong beberapa puluh meter ke selatan. Mesin mati dan tak lama kemudian keluar seorang lelaki lima puluhan, kurus dan berpeci. Dari pintu mobil sebelah kiri muncul seorang perempuan muda 
berkulit sangat bersih dengan rambut tergerai agak sebahu. Mereka mulai menarik perhatian orang-orang yang tinggal di sekitar sedan itu berhenti. Dua anak lelaki malah lari mendekat. Kemudian seorang gadis kecil dengan adik di 
punggungnya. Seorang penyadap yang sedang mengiris manggar pun berhenti untuk lebih leluasa memandang ke bawah; siapakah lelaki dan perempuan yang mengendarai sedan itu? 
 
 Makin banyak anak-anak berdatangan mengelilingi mobil pendatang. Seorang anak laki-laki yang agak besar merasa pasti bahwa dia belum pernah mengenal lelaki kurus dan berpeci itu, tetapi merasa pernah tahu si perempuan. Siapa? Dan bagi anak lelaki itu semuanya menjadi jelas setelah ia melihat Mbok Wiryaji keluar dari rumah, lari sepanjang lorong sambil berseru, "Las, Lasi, Lasiyah! Kamu pulang? Gusti, anakku pulang?" 
 
 "Ya, Mbok," jawab Lasi dengan nada biasa. Wajahnya pun tidak menggambarkan kegembiraan yang meluap. Jabat tangan untuk emaknya juga ringan saja. 
 
 Mbok Wiryaji tak bisa berkata-kata lagi. Dadanya sesak. Terengah-engah. Air matanya mulai meleleh. Emak Lasi itu benar-benar menangis. Ia begitu gembira dan ingin merangkul anaknya tetapi mendadak ada rasa segan muncul dalam hati. Emak yang sudah sekian bulan memendam kangen itu berdiri kaku, merasa tak diberi peluang untuk menumpahkan kerinduannya. Mbok Wiryaji 
merasa Lasi telah berubah: pakaiannya, tata rambutnya, selopnya, bahkan gerak-geriknya, pandangan matanya, segalanya. Aneh, di mata Mbok Wiryaji, Lasi sudah lain, sangat lain. Dingin. Lasi kelihatan seperti seorang nyonya, 
artinya istri tauke Cina atau istri priyayi yang makmur dan cantik. Dan di atas segalanya, Lasi seperti tidak kangen kepada emaknya sendiri meski sudah lama tak bertemu. Dingin. Lalu apa pula artinya, Lasi datang dengan mobil bersama seorang lelaki asing? 
 
 "Mbok, ini Pak Min, sopir," ujar Lasi memperkenalkan lelaki kurus itu. 
 
 Pak Min mengangguk dalam, membuat Mbok Wiryaji risi. Seumur-umur dia belum pernah mendapat perlakuan seperti itu. Mbok Wiryaji juga merasa Pak Min bersikap sangat sopan terhadap Lasi seperti terhadap majikan. Jadi benar, Lasi sudah lain. Itu perasaan Mbok Wiryaji. Padahal Lasi sendiri merasa banyak 
bagian dirinya tetap utuh. Paru-parunya masih peka terhadap kejernihan udara pagi di desanya. Penciumannya masih tajam terhadap bau pakis-pakisan yang tumbuh lebih pada dinding-dinding parit di sekitarnya. Telinganya masih sempurna menikmati kicau si ekor kipas yang terbang-hinggap dengan licah dalam kerimbunan rumpun bambu. Dan Lasi sejenak tertegun ketika melihat jauh di sana, di balik sapuan kabut, sebatang pohon kelapa bergoyang. Tampak seorang penyadap turun dengan dua pongkor tergantung dan berayun-ayun dari pinggangnya. Lasi melihat dunia lamanya terputar kembali di depan mata.

Masih dengan perasaan tak keruan Mbok Wiryaji mengiringi Lasi berjalan sepanjang lorong. Pak Min di belakang, menjinjing sebuah koper. Iring-iringan kecil itu bergerak menuju rumah Mbok Wiryaji karena ternyata Lasi tidak ingin masuk kembali ke rumah sendiri yang memang sudah lama dikosongkan. Di depan pintu, Lasi berhadapan dengan Wiryaji, ayah tirinya yang juga paman Darsa. Keduanya hanya bertatapan, saling sapa dengan basa-basi yang dingin dan terasa janggal. 
 
 Lasi datang dari Jakarta membawa sedan, itulah celoteh terbaru yang segera merambat ke semua sudut Karangsoga. Dan cerita pun menuruti kebiasaan di sana, berkembang tak terkendali ke segala arah. Meskipun demikian segala cerita orang Karangsoga bisa disimpulkan, mereka mempertanyakan bagaimana bisa, hanya dalam enam bulan Lasi berubah menjadi demikian makmur. Penampilannya menjadi demikian mengesankan sehingga para tetangga bahkan 
emaknya sendiri merasa terpisahkan oleh jarak yang sukar diterangkan. Anehnya rata-rata orang Karangsoga sudah menduga Lasi mendapat kemakmuran dari kecantikannya. "Kalau bukan karena cantik, di Jakarta Lasi 
paling-paling jadi babu," kata mereka. 
 
 Dengan mengatakan bahwa Lasi jadi makmur berkat kecantikannya, orang Karangsoga bermaksud memperhalus dakwaan mereka. Mereka tak berani mengatakan kecurigaan mereka bahwa Lasi telah melacurkan diri. Bila tidak, masakan secepat itu Lasi punya sedan. Pakaian dan perhiasannya hanya bisa 
dibandingkan dengan milik istri tauke yang sering datang ke rumah Pak Tir. 
 
 Hari-hari berikut celotch orang Karangsoga terus berkembang. Tetapi mereka tak lagi bicara soal dari mana Lasi mendapat kemakmuran. Mereka beralih ke topik yang baru; Lasi sedang menuntut cerai dari Darsa. Namun topik ini pun cepat padam karena di luar dugaan semua orang Karangsoga, proses perceraian itu sangat cepat dan lancar. Mereka mengatakan bahwa Lasi membawa "surat 
sakti" dari seorang overste purnawira di Jakarta yang ditujukan kepada Kepala Desa Karangsoga dan Kepala Kantor Urusan Agama. Karena silau oleh tanda tangan seorang overste, kata tukang celoteh di Karangsoga, Kepala Desa bersegera membawa Darsa menghadap Kepala KUA. Bahkan tanpa kehadiran Lasi di kantor itu talak Darsa pun jatuh.


                                  ***** 
 

 
 Pada usia hampir dua puluh lima tahun Kanjat lulus sebagai insinyur. Di hari-hari pertama menjadi sarjana Kanjat merasakan kegembiraan, dan juga kebanggaan. Tetapi hari-hari berikut terasa membawa kekaburan. Kanjat tak mudah menjawab pertanyaan sendiri; sesudah menyandang gelar sarjana, lalu apa? Beberapa teman seangkatan segera meninggalkan kampus untuk melamar 
pekerjaan menjadi pegawai negeri Departemen Pertanian. Dan Kanjat, entah mengapa, tak ingin mengikuti langkah mereka. Mungkin karena Kanjat tahu, melamar pekerjaan seperti itu sering berarti berhadapan dengan sistem 
birokrasi yang absurd dan adakalanya seperti meminta belas kasihan. 
 
 Seorang teman mengajak Kanjat mencoba melamar menjadi pegawai perkebunan milik para konglomerat yang makin banyak dibuka terutama di luar Pulau Jawa. Atau menjadi pegawai bagi pemegang hak pengusahaan hutan. Kata teman tadi, pada sektor swasta semacam itu pelamaran tidak begitu rumit 
dan aspek profesional lebih diperhitungkan. Entahlah, tawaran ini pun tak menarik hati Kanjat, terutama karena ia tahu para pengusaha HPH, termasuk keputusan-keputusan yang melahirkannya, punya andil besar dalam pembotakan hutan-hutan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Irian Jaya. 
Kanjat tidak ingin ikut menjadi sel kanker yang menggerogoti kehijauan bumi. 
 
 Sesungguhnya ada satu tawaran lain, dan kali ini diberikan oleh Doktor Jirem. Kanjat diminta tetap tinggal di kampus menjadi asisten dosen. Mulanya Kanjat tidak tertarik pada tawaran ini. Gaji seorang asisten dosen tidak menarik dan lebih lagi Kanjit merasa kurang bisa tekun dalam tugas sebagai pengajar. 
Namun ketika Pak Jirem bilang bahwa dengan tetap menjadi warga kampus Kanjat punya peluang lain, pikirannya berubah. Menurut Pak Jirem, Kanjat bisa bergabung dalam kelompok peneliti yang sudah satu tahun dipimpinnya. Dan Kanjat terkejut ketika Pak Jirem bertanya dengan gaya lugas. 
 
 "Jat, kamu sudah lupa akan skripsi yang baru kemarin kamu tulis? Maksud saya, apakah di hatimu masih ada keterpihakanmu kepada kehidupan para penyadap yang dulu sangat menggebu?"

Karena gagap Kanjat hanya bisa mengangguk dan tersenyum. 
 
 "Ah, sarjana baru zaman sekarang! Baru kemarin kamu bilang soal keprihatinan, bahkan keterpihakan. Dan sekarang kamu sudah lupa. Semangat tempe?" 
 
 Kanjat tersenyum pahit. Menggaruk-garuk kepala. Wajahnya berubah merah dan napasnya tertahan. Nyata betul hati Kanjat tersinggung oleh kata-kata seniornya. Doktor Jirem pun kemudian sadar ucapannya memakan hati anak muda di depannya. Menyesal, tetapi semuanya telah telanjur. 
 
 "Pak Jirem," kata Kanjat dengan suara berat. "Saya sih, sampai kapan pun tetap anak Karangsoga. Saya selalu merasa kaum penyadap di sana adalah sanak famili saya sendiri. Jadi kepahitan hidup mereka adalah keprihatinan dan beban jiwa saya juga, beban yang tak ringan." 
 
 Kanjat berhenti. Gelisah. Pak Jirem memperhatikannya, masih dengan rasa 
menyesal. 
 
 "Jadi beban?" tanya Pak Jirem karena lama ditunggu Kanjat belum juga meneruskan kata-katanya. 
 
 "Ya. Karena, sementara saya bisa merasakan kesusahan mereka, saya boleh dibilang tak mampu berbuat sesuatu. Pak, mungkin perasaan saya salah. Namun memang saya merasa dalam kondisi kehidupan yang dikuasai oleh perekonomian pasar bebas seperti sekarang, segala keterpihakan terhadap kehidupan pinggiran kurang mendapat dukungan. Malah, jangan-jangan obsesi saya untuk membantu para penyadap merupakan sesuatu yang sia-sia. Seperti 
pernah saya katakan dulu, jangan-jangan nanti ada orang menyebut saya Don Kisot."

Junior dan senior sama-sama terdiam. Namun tak lama kemudian Pak Jirem tersenyum. Kedua tangannya masih dalam saku celana. 
 
 "Ya, saya mengakui ada kebenaran dalam kata-katamu. Namun saya juga mengakui masih ada kebenaran dalam pepatah lama; lebih baik berbuat sesuatu, meskipun kecil, daripada tidak sama sekali. Dalam hal perdagangan gula kelapa, karena sudah lama terkuasai oleh tangan gurita yang begitu kuat, 
kita mungkin tak bisa berbuat banyak. Tetapi apakah tak ada sisi lain dalam kehidupan masyarakat penyadap yang perlu kita bantu?" 
 
 "Banyak!" jawab Kanjat cepat. Begitu cepat sehingga Jirem merasa napasnya terpotong. Tetapi Jirem tersenyum karena melihat ada semangat tergambar dalam wajah Kanjat. 
 
 Dengan gairah Kanjat menghitung segi-segi kehidupan para penyadap yang bisa ditangani sebagai bahan penelitian. Kanjat tahu betul para penyadap sangat disulitkan oleh nira, yang cepat berubah menjadi asam. Penemuan bahan kimia pengawet yang murah dan mudah didapat tentu sangat menolong mereka. Bahan kimia lain yang bisa membantu pengerasan gula juga sangat dibutuhkan para penyadap. Kanjat merasa yakin, dengan bantuan beberapa teman yang tahu urusan kimia kedua bahan itu bisa dibuat. Para penderes juga perlu mendapat pengetahuan bahwa pohon kelapa mereka memerlukan pemupukan, 
suatu hal yang sama sekali tak pernah mereka sadari kegunaannya. Tetapi Kanjat merasa berat ketika mengatakan kepada Pak Jirem, soal bahan bakar pengganti. 
 
 "Para penyadap tetap menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Juga limbah kilang padi berupa sekam. Tungku mereka merupakan sebuah sistem pemborosan energi yang luar biasa. Dalam penelitian saya ketahui hanya 
sekitar 20 persen panas yang termanfaatkan." 
 
 "Hanya dua puluh persen?"

"Ya. Dan kita tahu kayu, bahkan sekam, harus mereka beli. Bila harga gula jatuh, mereka tak mungkin mengolah nira kecuali dengan cara mencuri kayu di hutan tutupan. Atau menebang kayu apa saja yang mereka miliki." 
 
 "Ya, saya sudah tahu dari keterangan dalam skripsimu. Kebutuhan bahan bakar para penderes punya andil paling besar dalam kerusakan hutan di sekitar Karangsoga." 
 
 "Juga, proses pembentukan bunga tanah berhenti karena di musim kemarau para penderes menyapu bersih sampah daun dari hutan di sekitar mereka. Dan yang satu ini tak tertulis dalam skripsi saya. Bahkan pohon soga hampir atau sudah hilang dari Karangsoga. Apabila keborosan akan kayu bakar tak dihentikan, kampung saya akan berubah menjadi wilayah monokultur karena 
selain kelapa semua pepohonan terancam masuk tungku." 
 
 "Jadi, Jat, sebenarnya kamu ingin melakukan banyak hal. Dan yang kamu perlukan sekarang, mungkin, adalah sebuah momentum untuk menghilangkan keraguan, momentum untuk mendorong kamu segera bertindak." 
 
 Atas bantuan Doktor Jirem, Kanjat berhasil menyusun sebuah tim peneliti. Joko Adi tahu soal kimia, Topo Sumarso tahu urusan produksi pertanian, dan Hermiati bisa menyusun hasil penelitian tim menjadi bahan tulisan untuk media massa. Kanjat sendiri mengambil bagian masalah dampak lingkungan kegiatan produksi gula kelapa. 
 
 Kegiatan tim kecil yang dipimpin Kanjat menjadi bagian kegiatan penelitian yang sudah lama diketuai Doktor Jirem. Mereka berkantor di sebuah ruang sempit di kompleks kampus. Tetapi ketika mereka harus berkerja di lapangan, rumah orangtua Kanjat di Karangsoga sering menjadi basis kegiatan. Kanjat dan tiga temannya sering berkumpul untuk membicarakan koordinasi ataupun 
kemajuan bidang garapan masing-masing. 
 
 Adalah Pak Tir yang sering menggeleng-gelengkan kepala bila melihat kegiatan anak-anak muda itu, terutama anaknya sendiri, Kanjat. Apa maksudnya dan apa gunanya membuat tungku-tungku percobaan yang katanya bisa menghemat kayu bakar? Apa guna mencatat punahnya berbagai jenis kayu dan perdu yang katanya disebabkan kerakusan tungku para penderes? Juga apa perlunya banyak bertanya tentang tetek bengek kegiatan para penyadap itu? 
 
 "Lho, kalau cuma ingin bisa membuat tungku atau mengakrabi orang Karangsoga, mengapa aku harus menyekolahkan dia sampai jadi insinyur?" kata Pak Tir kepada istrinya suatu hari. 
 
 "Memang lucu ya, insinyur kok kerjanya seperti itu. Yang kudengar, insinyur itu adalah pegawai, orang berpangkat yang berkantor di kota." 
 
 "Ya, tetapi itulah anakmu. Coba, ajaklah dia bicara dan apa maunya." 
 
 "Ah, biarlah, Pak. Nanti bila dia marah lalu memilih kerja di tempat yang jauh, lalu aku malah jadi susah. Kan bagaimana juga, katanya, dia menjadi dosen." 
 
 "Dosen tungku?" 
 
 "Sampeyan jangan menyakitinya. Dia bungsu kita." 
 
 "Itulah. Kamu memang selalu memanjakannya. Maka ulahnya aneh-aneh. 
Masakan sudah jadi dosen masih repot dengan tanah liat untuk membuat tungku, dengan kayu bakar. Dosen apa itu? Daripada berbuat macam-macam lebih baik kamu suruh anakmu itu mencari calon istri." 
 
 Istri Pak Tir diam. Emak Kanjat itu tahu, suaminya sedang kecewa terhadap anaknya namun tak berani berterus terang terhadap Kanjat. Bila pembicaraan diteruskan suasananya bisa berubah menjadi tegang. Tidak. Anehnya, Mbok Tir diam-diam juga setuju dengan suaminya, tak ingin melihat anaknya melakukan hal yang aneh-aneh di kampung. Bedanya, Mbok Tir begitu sayang kepada bungsunya dan sangat khawatir anaknya pergi jauh dari Karangsoga. 
 
 Tim yang dipimpin Kanjat sudah satu bulan bekerja. Banyak temuan telah dicatat oleh Kanjat sendiri maupun Joko dan Topo. Giliran Hermiati merangkum hasil penelitian ketiga temannya itu untuk disusun sebagai naskah 
artikel untuk media massa. Kanjat sendiri masih sibuk di Karangsoga, memperbaiki model tungku hemat kayu api yang dimodifikasi dari model tungku temuan Ir. Johannes. Bungsu Pak Tir itu sedang bekerja di bengkelnya ketika Pardi muncul tiba-tiba. Pertanyaannya pun nyalawadi, mengandung 
rahasia, 
 
 "Mas Kanjat sudah dengar?" 
 
 "Dengar apa?" 
 
 "Dia sudah resmi jadi janda." 
 
 "Maksudmu Lasi?" 
 
 "Ya, siapa lagi kalau bukan dia. Mau bertaruh dengan saya tentang siapa yang akan pertama datang ke rumah Mbok Wiryaji untuk melamar Lasi?" 
 
 Kanjat tersenyum. 
 
 "Mas Kanjat sudah bertemu dia?" 
 
 "Belum. Jujur saja, Di. Entah mengapa di kampung sendiri aku merasa serba salah bila hendak menemui Lasi. Padahal sih, aku ingin melihatnya juga." 
 
 "Saya bisa mengerti. Masalahnya, sekarang Lasi sudah resmi menjadi janda. Tak ada salahnya bila seorang lelaki, apalagi masih sendiri, pergi ke sana. Atau Mas Kanjat tak khawatir keduluan orang?" 
 
 Kanjat tersenyum, lalu meminta Pardi lebih mendekat. Wajah Kanjat berubah-ubah ketika mengatakan sesuatu kepada Pardi. Tetapi mereka mengakhiri pertemuan dengan senyum ringan. Pardi malah tertawa. 
 
 Kemudian terbukti sore ini Pardi-lah orang pertama yang melangkah menuju rumah Mbok Wiryaji untuk bertemu Lasi. Langkahnya ringan, wajahnya tanpa beban, dan asap rokok tak berhenti mengepul dari mulutnya. Pardi, sopir yang sangat berpengalaman menghadapi banyak perempuan, tak sedikit pun kelihatan canggung ketika sudah duduk berhadapan dengan Lasi. Namun apa yang serta-merta dilakukan Lasi terhadap Pardi adalah sesuatu yang mengejutkan sopir Pak Tir itu. Lasi meletakkan beberapa lembar uang di bawah 
mata Pardi. 
 
 "Di, aku belum tahu apa keperluanmu datang kemari. Namun terimalah uang itu lebih dulu agar utangku kepadamu lunas. Dan terima kasih atas kebaikanmu." 
 
 Pardi tercengang namun langsung mengerti maksud Lasi. Gagu. Menggelengkan kepala. Pardi merasa tak bisa berbuat lain kecuali menerima kembali uang yang diberikannya kepada Lasi enam bulan berselang. 
 
 "Nah, Di, sekarang kamu boleh mengatakan apa maumu," ujar Lasi dengan senyum. 
 
 Pardi gelisah. Senyum itu membuat jantungnya berdebar. Tetapi Pardi hanya 
bisa menelan ludah.

"Las, aku berharap belum seorang pun datang mendahuluiku. Aku melamarmu pada hari pertama kamu jadi janda. Bisa kamu terima?" 
 
 Lasi membelalakkan mata. 
 
 "Hus. Brengsek! Dasar lelaki. Dasar sopir. Sontoloyo! Yang kamu pikir hanya itu-itu melulu. Kamu tak tahu sakitnya orang seperti aku? Tidak?" 
 
 "Las, aku tidak main-main." 
 
 "Tidak." 
 
 "Dengar dulu..." 
 
 "Tidak, tidak!" 
 
 "Baiklah, tetapi jangan berteriak seperti itu. Sayang, secantik kamu berteriak-teriak seperti angsa jantan." 
 
 "Kamu yang brengsek. Kurang ajar." 
 
 Pardi tertawa.

"Katakanlah semaumu." 
 
 Pardi tertawa lagi. Cengar-cengir, menoleh kiri-kanan. 
 
 "Mana emakmu?" 
 
 "Di dalam." 
 
 Pardi cengar-cengir lagi. Lalu merogoh saku baju dan meletakkan sebuah surat di atas meja tepat di hadapan Lasi. Sesaat setelah tahu siapa pengirimnya, wajah Lasi menegang. Bibirnya bergetar. Bisu. Lengang, sehingga terdengar jelas suara korek api yang dinyakikan Pardi. Lasi membuka surat itu yang 
ternyata hanya berisi beberapa kalimat. Ada langkah mendekat dari ruang dalam. Lasi cepat menyembunyikan surat itu dalam genggamannya. Mbok Wiryaji muncul. 
 
 "Oh, kamu, Di?" 
 
 "Ya, Mbok. Malu-malu apa, saya mau melamar Lasi," kata Pardi sambil senyum. 

"Siapa tahu anak Mbok yang sudah kayak Jepang tulen ini mau menerima seorang lelaki brengsek." 
 
 "Nah, pernah mendengar ada orangtua mau menerima calon menantu brengsek?" kata Mbok Wiryaji dengan wajah sedingin bibir tempayan. Lalu masuk lagi. Pardi dan Lasi sama-sama tersenyum. 
 
 "Las, Mas Kanjat ingin bertemu kamu. Bisa, kan?"

Wajah Lasi kembali tegang. Menunduk. Membaca lagi surat yang berada di tangannya. Mendesah. 
 
 "Bagaimana, Las? Kok malah bengong?" tanya Pardi lirih. 
 
 "Bagaimana ya, Di? Aku bingung," jawab Lasi sambil mendesah. 
 
 "Bingung?" 
 
 Lasi mengerutkan kening. Menelan ludah. Matanya yang sipit kelihatan makin sipit. Pardi menatapnya, menikmatinya. Kadang Pardi merasa begitu sial karena Kanjat, anak majikannya, lebih dahulu naksir Lasi. Andaikan tidak! 
 
 "Las, dalam surat itu Mas Kanjat bilang mau ketemu kamu, bukan?" 
 
 "Ya. Tetapi aku bingung." 
 
 Diam. Pardi mengisap rokoknya dalam-dalam. Lasi menunduk seperti kehilangan kata untuk diucapkan. Tanpa mengaku bingung pun perasaan itu tergambar jelas pada wajahnya, pada gerik tangannya yang tak menentu. 
 
 "Las, aku kan cuma disuruh Mas Kanjat mengantar surat buat kamu. Nah, surat ini sudah kamu terima. Aku permisi." 
 
 Lasi gagap. Pardi mengira Lasi akan mengucapkan sesuatu untuk disampaikan 
kepada Kanjat. Tetapi lama ditunggu bibir Lisi hanya bergerak-gerak tanpa suara. Pardi membalikkan badan dan melangkah.

"Tunggu, Di. Dengar dulu. Aku pun ingin bertemu Kanjat. Tetapi kukira aku tak bisa. Di, memang sebaiknya aku tidak bertemu dia." Lasi menunduk dan mendesah. 
 
 "Kok?" 
 
 Lasi kembali mendesah. Mengusap mata yang basah. Menggigit bibir. Ada dua pernik perlahan muncul di mata dan meleleh pada pipinya yang bersih. 
 
 "Kamu benar-benar tak mau bertemu Mas Kanjat?" 
 
 Lasi mengangguk. 
 
 "Jadi aku harus mengatakan kepadanya bahwa kamu tak ingin dia temui?" 
 
 Lasi mengangguk lagi. Pardi mendesah. Tetapi Pardi merasa ada sesuatu yang tak wajar; ada jarak antara kesan pada wajah Lasi dan kata-kata yang diucapkannya. Tetapi Pardi merasa tak berdaya, buntu. Maka ia mengisap 
rokoknya dalam-dalam lalu bangkit. 
 
 "Baiklah. Akan kukatakan kamu tak mau ketemu Mas Kanjat." 
 
 Lasi tak menjawab apa pun. Diam dan menunduk. Namun keraguan muncul dengan jelas pada wajahnya. Bangkit dan melangkah meninggalkan Pardi yang tetap berdiri dan bingung.



                               *****


Bersambung... 
______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...