Kanjat meluruskan punggung dan menyandar ke belakang. Mengusap wajah dengan tangan kirinya, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ada yang terasa gawat dan canggih. Terasa ada keterpanggilan yang samar-samar mulai hadir mendekat. Tetapi Kanjat juga merasa objek keterpanggilan itu berada dalam sebuah kandang khayali dan Kanjat takkan begitu mudah memasukinya. Dan Kanjat mendengar Lasi mengisak.
"Jat, aku menyesal. Seharusnya aku tidak mengatakan semua ini kepadamu. Aku malu."
Kanjat malah makin merasa tak enak. Makin terpanggil. Tetapi ia belum juga bisa membuka mulut. Ketika akhirnya Kanjat menemukan kata untuk diucapkan, suaranya terdengar parau.
"Las, kamu tak perlu menyesal. Kamu tak salah mengatakan semua itu kepadaku."
"Tak salah? Jadi aku tak salah?"
"Ya."
"Kalau begitu kamu betul-betul tahu perasaanku?"
"Ya, aku tahu."
"Tahu?"
Kanjat mengangguk dan tersenyum. Anggukan itu, entah mengapa, sangat berkesan di hati Lasi yang kemudian melepas napas panjang. Lega. Entahlah, Lasi merasa lega. Senyumnya mengembang dan rasanya diberikan secara khusus buat Kanjat.
"Nah, aku permisi. Sudah cukup, kan?"
Lasi mengangguk. Matanya bercahaya. Senyumnya renyah lagi.
Kali ini Kanjat benar-benar bangkit, dijabatnya tangan Lasi sambil tersenyum. Kanjat merasa telapak tangan Lasi berkeringat dan agak bergetar. Sekilas terlihat kemanjaan, namun Lasi kelihatan berusaha melawannya. Kanjat
berangkat tanpa menoleh ke kiri-kanan. Lasi mengantarnya sampai ke pintu dan berdiri di sana. Matanya menerawang. Terasa ada sesuatu yang tertinggal dan masih menggumpal dalam hati. Ada hasrat yang tetap mengendap. Tetapi Kanjat sudah jauh. Bahkan tak tampak lagi sosoknya.
*****
Pagi ini Darsa bangun lebih awal setelah semalaman hampir tak bisa tidur. Pagi ini Darsa tak pergi menyadap nira karena sepuluh dari dua belas pohon miliknya akan dirobohkan. Jongkok di emper rumahnya, Darsa merenung dan merenung, mengapa hidupnya selalu susah. Belum lagi hati benar-benar terhibur akibat terpaksa berpisah dengan Lasi lebih dari setahun yang lalu, kini dia akan kehilangan satu-satunya sumber mata pencarian. Ada niat pergi ke rumah Eyang Mus untuk bertanya, mengapa orang bisa demikian menderita bukan oleh kesalahan sendiri? Dulu ketika Darsa menderita karena harus bercerai dengan Lasi, Eyang Mus bilang, itulah wohing pakarti. "Sekarang, ketika aku harus kehilangan sepuluh batang kelapa, siapa yang salah? Apa ini yang dibilang orang nasib? Kalau ya, adilkah itu?"
Darsa pusing. Darsa lumpuh. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan yang muncul dalam hati sendiri. Maka dalam puncak kelumpuhannya Darsa hanya bisa tertawa getir untuk mencoba berdamai dengan nasib buruk dan memaksa
dirinya percaya bahwa orang, terutama orang kecil seperti dirinya, paling-paling hanya bisa nrima pandum.
Dalam bulan-bulan terakhir sebenarnya hidup Darsa mulai terasa menyenangkan. Darsa mulai berhasil meredam rasa tak puas terhadap Sipah, istrinya, yang pincang dan terpaksa dinikahinya. Sipah sudah memberinya seorang bayi yang lucu dan putih, dan inilah keunggulan istrinya yang pincang
itu dibanding dengan Lasi. Bagi Darsa, seorang bayi adalah bukti kelelakian, bahkan bukti keberadaan. Bayi itu selalu bangun menjelang fajar dan ocehannya polos dan sangat menawan. Dengan seorang bayi di rumah, hidup Darsa terasa mapan dan gamblang. Bahwa Sipah tetap pincang, tak lagi jadi
persoalan yang terlalu mengganjal hatinya.
Darsa juga menemukan kenyataan yang dulu tak pernah terbayangkan. Mempunyai istri pincang, memang, berarti malas mengajaknya ke kondangan. Namun sebaliknya, Darsa tak pernah merasa khawatir meninggalkan Sipah
seorang diri, malam hari sekalipun, misalnya bila Darsa ingin suntuk nonton wayang. Bahkan akhirnya Darsa percaya kata orang bahwa istri bisa banyak, namun jodoh pastilah hanya seorang, dan yang seorang itu bagi Darsa adalah si pincang Sipah. Dan Darsa jadi lebih percaya bahwa Gusti Allah memang adil.
Sebab ternyata, dengan sikap nrima pandum, seorang istri pincang pun bisa memberi kesejukan. Perasaan semacam itu tak pernah didapatnya ketika Darsa mempunyai istri Lasi yang nirmala dan cantik.
Tetapi pagi ini ketenangan hidup yang sedang berseri itu harus pupus. Ketika matahari mulai naik, para pekerja yang akan merobohkan pohon-pohon kelapa yang kena jalur listrik mulai berdatangan. Mereka adalah orang-orang muda yang baru sekali muncul di Karangsoga. Mereka dingin, tak mau tahu akan kepedihan hati para penyadap yang akan kehilangan pohon-pohon kelapa. Dengan gergaji mesin mereka mulai bekerja; mekanis, lugas, bahkan pongah.
Dalam kebisingan suara chain saw mereka terus bekerja. Tak sampai dua menit sebatang kelapa akan roboh. Anak-anak yang belum tahu kepedihan orangtua mereka, bersorak-sorak setiap ada batang kelapa roboh ke bumi. Anak-anak itu baru sekali melihat gergaji mesin dan di mata mereka perkakas masinal itu sangat hebat.
Karena suara mesin gergaji yang terus meraung-raung, makin banyak orang keluar dan berkerumun menyaksikan penebangan pohon-pohon kelapa itu. Tetapi mereka diam. Wajah mereka adalah gambaran kepasrahan. Atau ketidakberdayaan. Kanjat yang berada di antara mereka juga diam. Hanya ada tarikan-tarikan napas panjang. Lasi yang selalu berdiri di dekat Kanjat juga diam. Orang-orang itu bergerak mengikuti perjalanan para penebang. Dan mereka mempunyai perasaan sama; peristiwa paling mengesankan akan terjadi di pekarangan Darsa karena penyadap itu akan kehilangan hampir semua pohon kelapanya. Maka mereka pun bergerak bersama-sama ke sana.
Darsa sudah berada di sana, jongkok seorang diri di atas tanah yang agak tinggi dan matanya menatap batang-batang keiapa yang setiap hari disadapnya dan sebentar lagi akan tumbang. Darsa melihat Giman, anaknya yang masih bayi, melompat-lompat seperti cecak terbang yang meluncur dari satu pohon kelapa
ke pohon kelapa lainnya. Darsa juga melihat pongkor-pongkor, tungku, kawah pengolah nira, dan arit penyadap. Terakhir, Darsa melihat dirinya sendiri melayang dari ketinggian pohon kelapa, terus melayang masuk ke dalam jurang yang sangat dalam. Dan Darsa baru tersadar ketika suara gergaji mesin yang
makin mendekat terasa menggorok di jantung dengan getaran yang mengoyak jiwa. Urat rahang Darsa menggumpal. Sekilas muncul murka pada wajahnya. Sekejap kemudian muncul gambaran rasa tidak berdaya.
Mukri mendekati Darsa, mengucapkan sesuatu, tatapi Darsa tidak memberi
tanggapan apa pun. Mukri juga kehilangan tiga pohon kelapanya. Namun miliknya yang tersisa masih ada dua puluh dua batang. Mukri ingin menghibur Darsa tetapi Darsa tidak bergeming. Mata Darsa terbuka mati sebagai mata bambu, tak berkedip, dan hampa. Dan wajah Darsa mendadak pasi ketika mata gergaji mesin menyentuh batang kelapa pertamanya. Mesin mendesing makin keras dan pohon kelapa itu bergetar, perlahan condong, lalu roboh menyentak tanah. Semak dan perdu ikut poranda. Serangga-serangga kecil terbang
berhamburan.
"Darsa, kita memang tak bisa lain kecuali pasrah. Maksudku, daripada bersedih dan terus kecewa tetapi pohon-pohon itu tetap tumbang, lebih baik kita terima dan mengalah."
Darsa tetap tak bergeming, dan satu lagi pohon kelapanya roboh. Sebuah pongkor terlempar dan isinya terburai membasahi tanah tak jauh dari tempat Darsa berada. Darsa seperti melihat mayat anak-istrinya terbujur di bumi.
Mukri menepuk pundak Darsa. "Sungguh, Darsa. Percuma menyesali atau menolak kuasa yang kita tak mungkin menampiknya. Kukira, lebih baik kamu mencoba hidup dari dua batang pohon kelapamu yang tersisa."
Pohon yang ketiga bergetar, bergoyang, kemudian melayang rebah dalam tatapan mata Darsa. Berdebum ke bumi dan entakannya mengguncang dadanya.
Pendar-pendar yang sangat menyakitkan pecah dalam hati Darsa. Giman melompat-lompat di antara pohon-pohon kelapa yang masih tegak. Tetapi bayi itu mulai menangis. Darsa hampir ikut menangis.
Pohon keempat, kelima, keenam, dan seterusnya pun bertumbangan. Dengan
sepuluh batang kelapa yang malang melintang, pekarangan Darsa porak-poranda seperti habis diamuk badai. Dalam jongkoknya, Darsa bergoyang. Mukri memegang pundaknya karena mengira Darsa hampir jatuh. Keliru, karena Darsa malah bangkit tepat ketika pohon yang kesepuluh habis dimakan gergaji. Dengan langkah tanpa tenaga Darsa berjalan pulang. Kanjat mengikutinya dengan pandangan mata. Darsa terus melangkah, menapak jalan yang
menanjak, meninggalkan hiruk-pikuk suara pohon yang bertumbangan dan suara gergaji mesin yang terus mendesing. Tubuh Darsa akhirnya lenyap di ujung tanjakan. Pada saat yang sama Kanjat tertunduk dan mendesah.
"Aku mau pergi ke rumah Kang Darsa. Kamu mau ikut, Jat?" suara Lasi tiba-tiba menyentak kesadaran Kanjat "Aku mau ke rumah Kang Darsa. Ikut?"
Kanjat diam. Tetapi ia menurut ketika Lasi menarik tangannya. Mereka mengikuti jalan yang ditempuh Darsa belum lama berselang. Mereka berjalan menunduk dan membisu.
Dalam perjalanan itu Kanjat dan Lasi sudah membayangkan akan menemukan Darsa duduk dengan mata hampa karena boleh dibilang dia telah kehilangan segalanya. Tetapi sampai di halaman rumah Darsa mereka berhenti dan saling memandang. Mereka melihat Darsa sedang duduk sambil merokok. Wajahnya cair, tanpa beban. Suaranya pun bening ketika Darsa menyambut kedatangan
Kanjat dan Lasi. Sipah berdiri di samping Darsa sambil membopong bayinya. Tetapi Sipah segera mundur terpincang-pincang ketika melihat Lasi dan Kanjat datang. Lasi berhadap-hadapan dengan Darsa, bekas suaminya. Mata Lasi basah. Darsa menunduk. Lasi melihat pongkor-pongkor teronggok di emper samping, diam dan kosong. Bahkan dari tempat ia berdiri Lasi melihat tungku pengolah nira, dingin dan mati. Dinding anyaman bambu itu rapuh dan tembus pandang. Suasana terasa gamang meskipun Kanjat, Lasi, dan Darsa sama berusaha tersenyum. Mereka kelihatan menunggu siapa yang akan mulai bicara.
"Ah, kalian datang ke rumah buruk ini. Terima kasih, tetapi kami tak punya kursi," kata Darsa akhirnya. "Ada perlu?"
"Tidak, Kang," jawab Kanjat dan Lasi hampir bersamaan.
"Hanya ingin bertemu Kang Darsa," kata Lasi.
"Bukan ingin ikut-ikutan memintaku boyong ke Kalimantan karena aku sudah tak punya pohon kelapa lagi?"
"Tidak."
"Syukurlah. Lebih baik kalian seperti Mukri, menyuruhku bersabar dan pasrah. Ya. Mukri benar. Kalau bukan pasrah, lalu mau apa? Coba, mau apa?"
Darsa tersenyum. Lalu diisapnya rokok buatannya sendiri dalam-dalam dan diembuskarmya asapnya dalam tiupan yang lepas. Lepas. Terlihat bayangan rasa lega pada wajah Darsa. Tetapi Kanjat membatu. Terasa sebuah ironi besar mendadak menindih hatinya.
"Atau seperti Eyang Mus," sambung Darsa.
"Eyang Mus bilang, pohon-pohon kelapaku dirobohkan orang karena sudah menjadi suratan. Sudah menjadi nasib. Terimalah nasibmu dengan hati lapang, itu kata Eyang Mus. Ya, memang betul. Andaikan tidak mau menerima apa yang tak bisa kutampik, lalu aku bisa berbuat apa? Coba, seorang penyadap seperti aku ini mau apa? Mbalelo?"
Darsa tersenyum lagi. Malah terkekeh. Kanjat makin membeku. Pengakuan Darsa dan kepolosannya menerima kenyataan pahit menjadikan beban terasa makin mengimpit jiwanya.
"Tetapi pohon kelapamu hanya tinggal dua batang. Mau diapakan, Kang?" tanya Lasi.
"Lho, aku masih seorang penyadap. Aku masih akan menyadap nira meskipun hanya dua batang kelapa yang kumiliki."
Kanjat menelan ludah.
"Ketika menyadap dua belas pohon, aku mendapat tiga kilo gula. Dengan dua pohon aku akan mendapat hanya setengah kilo. Lho, apa tumon? Di mana di dunia ini ada penyadap yang hanya menyadap dua pohon kelapa?"
Tawa Darsa meledak. Kanjat dan Lasi terpaku karena keduanya tahu, setengah kilo gula tak lebih berharga daripada setengah kilo beras.
"Ah, mungkin aku juga mau jual kayu bakar," ujar Darsa masih dalam suara ringan.
"Sekarang penjagaan hutan makin keras, Kang. Kamu bisa ditangkap mandor. Kamu bisa dihukum."
"Lha, kalau suratan mengatakan demikian, aku mau apa? Hayo, aku mau apa? Pula, apa lagi yang bisa aku makan kecuali nunut urip, numpang hidup, pada hasil hutan? Dan kalau jalan ini akan menyebabkan aku ditangkap mandor, ya aku bisa apa selain pasrah?"
Darsa tertawa. Kanjat menunduk dan tersenyum, senyum paling pahit yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Pengakuan Darsa terdengar dan terasa sebagai telunjuk api yang menuding akan adanya jaringan tangan gurita yang mengisap Darsa dan puluhan ribu penderes seperti dia. Tangan gurita itu demikian tangguh dan melembaga sehingga seorang lemah dan tertindas seperti
Darsa hanya bisa bilang, ini sudah nasib. Kalau tidak menerima kepahitan ini lalu mau apa? Coba, mau apa?
Apabila Kanjat hanya membeku dan membiarkan amok berkobar dalam hati,
Lasi lain. Lasi mendengar tawa Darsa sebagai rintihan paling memilukan yang tak mungkin keluar kecuali lewat guyu-tangis, tawa yang membungkus tangis. Maka Lasi pun sibuk menghapus air mata. Lalu tiba-tiba Lasi merasa ada kekuatan yang mendorong kedua kakinya tegak dan melangkah. Lasi masuk ke
dalam rumah kecil yang kusam itu dan menemukan Sipah sedang duduk dan terisak. Sekejap Lasi merasa kembali berada pada masa lalunya sendiri. Lasi merasakan sepenuhnya kepedihan hati istri seorang penyadap yang remuk ketika tungku tak lagi berapi karena tak ada lagi pohon kelapa yang disadap.
Lasi duduk di samping Sipah, madunya, yang terus menangis. Tak ada sepatah kata segera bisa diucapkannya. Namun tangan Lasi bergerak membuka dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang yang masih baru.
"Berikan uang ini kepada Kang Darsa. Uang itu cukup untuk makan kalian selama setahun bila kalian gunakan untuk menyewa pohon kelapa. Sudah, jangan terus menangis."
Anehnya, Lasi sendiri malah menangis lagi. Keluar, menggamit pipi bayi yang sedang dibopong Sipah, lalu pergi. Kanjat menyusul karena ia pun merasa tak bisa berbuat apa-apa untuk Darsa. Kanjat bahkan bisa merasakan sebuah ironi lagi yang tak kalah pekat; Darsa yang telah memberikan sumber
penghidupannya demi kawat listrik, mustahil kelak dapat menjadi pelanggan.
Dalam perjalanan pulang, Lasi dan Kanjat membisu. Dari kejauhan mereka masih mendengar suara chain saw yang terus merobohkan pohon-pohon kelapa. Tetapi mereka sudah mendengar kicau burung. Juga riang-riang. Ketika keduanya memasuki lorong yang menembus bayangan pepohonan, sepasang burung ekor kipas melintas berkejaran. Kanjat dan Lasi masih diam. Dan
keduanya merasa tak bisa menghindar dari kenangan masa kanak-kanak ketika mereka berkejaran melintas jalan yang sedang mereka susuri. Lasi teringat, dulu, Kanjat selalu merapatkan diri pada tubuhnya ketika berdua giliran bersembunyi dalam permainan kucing-kucingan. Kanjat pun merasa dalam kenangan yang sama; Kanjat masih bisa merasakan bau rambut Lasi. Hening.
"Jat, aku akan kembali ke Jakarta besok atau lusa. Kamu ikut, ya?" tanya Lasi.
Kanjat menegakkan kepala, lalu menelan ludah. Ia tidak siap menerima pertanyaan Lasi karena hatinya masih melayang ke rumah Darsa.
"Terima kasih, Las. Sekarang aku pegawai negeri. Tak mudah bagiku pergi sekehendak hati."
"Jat?" suara Lasi terdengar dalam.
"Apa?"
Lasi kelihatan ragu.
"Aku masih menyimpan fotomu. Kamu?"
Kanjat tergagap lagi. Pikirannya masih sukar dibawa pergi dari rumah Darsa. Gagap, karena Kanjat memang masih menyimpan foto Lasi dengan kimono merah itu. Entahlah, Kanjat merasa tak mampu menyingkirkan foto itu,
misalkan dengan cara mengembalikannya kepada Lasi.
"Masih?" ulang Lasi karena melihat Kanjat membisu.
Kanjat tersenyum dan mengangguk. Lasi tertawa. Senyum itu, lesung pipi itu. Dan kekuatan pesona mata itu. Kanjat menoleh ke samping karena tak ingin hatinya lebih lama terguncang-guncang.
Kanjat dan Lasi berjalan perlahan sepanjang lorong setapak kemudian berhenti di bawah kerindangan pepohonan. Ada seberkas cahaya menerobos dedaunan dan membuat latar putih pada sisi leher Lasi. Mereka saling pandang. Lasi seperti hendak menangis. Kanjat dan Lasi sama-sama canggung. Lalu keduanya sama-sama meneruskan perjalanan. Kecuali suara mesin gergaji dari kejauhan, selebihnya sepi. Mungkin karena banyak orang Karangsoga pergi menyaksikan penebangan pohon-pohon kelapa. Sinar matahari membuat bayang dedaunan bermain pada punggung mereka. Sepi. Keduanya merasa tak mudah membuka
mulut. Sepi, sehingga terdengar jelas suara daun-daun kering yang pecah terinjak.
Setelah lewat punggung tanjakan, Kanjat minta izin mengambil jalan menyimpang. Lasi diam. Pada wajahnya terlihat keraguan. Kanjat melihat pada kedalaman mata Lasi masih tersimpan pesona yang membuat dadanya
berdebar. Tetapi pada mata Lasi pula Kanjat melihat kenyataan lain: Lasi masih punya suami. Dan lebih dari kenyataan itu, dalam mata Lasi, Kanjat juga melihat Darsa, Sipah, dan Giman. Sorot mata bayi Darsa itu terasa mengepung jiwanya. Tatapan itu seperti menyindir-nyindir Kanjat yang gagal meringankan beban hidup para penyadap.
Berjalan seorang diri, Kanjat melangkah dengan wajah menatap tanah. Pikirannya terombang-ambing antara Lasi dan Darsa. Pengakuan Lasi bahwa kehidupannya terkurung dalam situasi yang tidak wajar, menggugah perhatian Kanjat yang sudah lama terpendam. Sesungguhnya, membiarkan Lasi menjadi ibu untuk sebuah rumah tangga yang baik, siapa pun yang menjadi suaminya, bagi Kanjat adalah keharusan. Tetapi membiarkan Lasi tetip berada dalam kemungkinan terbawa arus kehidupan yang tak senonoh mungkin merupakan kesalahan. Atau Kanjat harus berani jujur mengaku bahwa betapa juga Lasi
adalah harapan dan cita-cita yang tetap hidup dalam jiwanya. Apabila ada peluang untuk mencapai jalan yang sah dan terhormat, memperistri Lasi akan menjadi pertimbangan pertama Kanjat.
Pada pihak lain, Darsa adalah dunia para penyadap yang terus memanggil keterpihakan Kanjat. Sudah menjadi kesadaran yang mendalam di hati Kanjat bahwa para penyadap menyimpan piutang yang sangat besar pada orang-orang dari lapisan yang lebih makmur, termasuk Kanjat sendiri. Tetapi piutang itu
agaknya tertelan oleh benalu, bahkan siluman struktural yang tak kasat mata. Piutang para penyadap itu menjadi uap yang terlupakan dan dianggap khayali. Maka sangat mungkin terasa ganjil ketika orang membincangkannya. Di mata Kanjat, piutang para penyadap adalah sesuatu yang sangat nyata, meski ia merasa gagal membayarnya kembali. Keringat para penyadap itu mungkin akan menjadi utang abadi baginya.
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar