Sabtu, 27 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 34

34


PERSIAPAN


Kereta East Coast jurusan London King's Crooss telah siap di Plat 2. Fahri memeluk Ozan dengan hangat. Lalu mencium tangan Paman Akbar. Setelah itu Si kecil Laila ia cium dengan penuh sayang. 

Fahri memberi hormat kepada Bibi Melike dan Claire. Terakhir Fahri memandang Hulya. Calon istrinya itu menunduk malu.

"Kita jumpa di Oxford dua hari lagi, insya Allah." Kata Paman Akbar.

"Insya Allah Paman. Semoga selamat sampai London."

"Amin. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Mereka kemudian berjalan menuju peron Plat 2 dan satu persatu masuk kereta. Fahri menunggu sampai mereka semua masuk kereta. Entah kenapa, Hulya seperti memperlambat langkahnya sehingga ia 
paling akhir masuk kereta. Dan sebelum masuk ia menoleh ke arah Fahri. Pandangan keduanya bertemu sekejap, Hulya lalu menunduk dan masuk ke dalam kereta.

Setelah lamarannya di St. Andrews diterima, Paman Akbar langsung menggelar rapat menentukan hari dan tempat untuk akad nikah dan walimatul 'ursy. Fahri menyerahkan semua konsepnya pada Hulya. la mengikuti apa yang diinginkan adik bungsu Ozan itu. 

Awalnya Paman Akbar mengusulkan akad dan walimah di adakan di Edinburgh Central Mosque, tapi Hulya tidak mau. Ia ingin akad dan walimah pernikahannya diadakan di Oxford.

Ozan langsung mengontak seorang kenalannya yang kini tinggal di Oxford, menanyakan tempat yang bagus untuk pesta pernikahan. 

Dari beberapa nama akhirnya dipilih dua tempat. Yang pertama Central Oxford Mosque, Manzil Way, untuk acara akad nikah. Dan Magdalen College yang berada di dalam area Oxford University untuk pesta pernikahannya. 

Ozan dan Paman Hulusi akan mengatur semuanya. Sedangkan Misbah ia minta untuk mengundang masyarakat Indonesia yang ada di Britania Raya, termasuk orang-orang KBRI. 

Dua hari lagi adalah hari H ia akan melakukan debat di Oxford Union. Paman Akbar Ali dan Ozan akan datang ke Oxford untuk nanti sama-sama melihat Central Oxford Mosque dan Magdalen College. 

Untuk pesta pernikahan, Hulya minta konsepnya terbuka di alam, bukan di dalam gedung. Dan Magdalen College punya taman 
dan spot terbuka yang indah di samping sungai.

Suara peluit berbunyi nyaring. Kereta itu pelan-pelan berangkat. Fahri masih berdiri di stasiun 
Waverley, memandangi kereta itu semakin menjauh hingga tidak kelihatan lagi. Barulah Fahri melangkah keluar menuju mobilnya. 

Begitu ia duduk memegang setir; ponselnya berdering. Dari Nyonya Suzan. Wanita berdarah Irlandia yang ia percaya memegang AFO Boutique di Edinburgh itu meminta waktu berjumpa siang itu. Ada hal yang katanya teramat penting untuk dibicarakan.

"Saya tunggu di Elfalafel jam 14.30 tepat. Kita makan siang di sana."

"Saya bersama Madam Varenka, Tuan Fahri."

" Ya. Nanti saya yang traktir."

"Terima kasih, Tuan !"

Restoran khas Arab itu tak jauh dari kampus the University of Edinburgh. Restoran itu kecil tetapi selalu ramai pengunjung. Beruntung ketika Fahri masuk, ada satu meja kosong. 

Fahri memesan roti 'isy, hummus, chicken tenders, dan tha'miah. Minumnya Fahri memesan jus mangga. Siang itu ia ingin sekali 
makan berbau Mesir. Meskipun khas Arab, tetapi Elfalafel juga menyediakan menu Turki.

Nyonya Suzan dan Madam Varenka datang dengan wajah tidak seperti biasanya. Jika berjumpa dengan Fahri biasanya wajah mereka berdua cerah dan banyak senyum. Fahri tidak ingin meraba apa yang sedang terjadi. Tak lama lagi mereka akan menyampaikan semuanya.

Nyonya Suzan memesan chicken shawarma, sedangkan Madam Varenka memesan donner kebab. 

Minumnya mereka memesan mint tea dan honey tea. Sambil menunggu pesanan datang, Nyonya Suzan menceritakan masalah yang menimpa Madam Varenka.

"Biola itu sangat mahal. Bahkan bagi Madam Varenka sesungguhnya tidak ternilai harganya. Madam Varenka sudah minta kepada seorang ahli untuk menaksir harganya. Itu tidak kurang dari sembilan ratus lima puluh poundsterling. Itu harga paling murahnya. 

Sebab itu biola Stradivarius asli yang di 
dunia ini cuma ada beberapa biji saja. Madam Varenka minta pendapat Tuan. Dia harus bagaimana?"

Kata Nyonya Suzan setelah panjang lebar menceritakan apa yang terjadi pada Keira dan pada biola Madam Varenka.

Fahri langsung teringat Keira yang tampak menangis di stasiun York. Fahri juga ingat bagaimana Keira memarahi dirinya dengan kata-kata pedas setelah Keira dengan tanpa izin memakan kacang almoNdnya. Fahri menghela napas. 

"Apakah biola semahal itu tidak diasuransikan?" Tanya Fahri. 

"Dulu saat saya tinggal di New York biola itu saya asuransikan. Lalu saya pindah kemari. Tiga bulan lalu asuransinya habis dan saya belum mengasuraansikan lagi." Jawab Madam Varenka.

"Sayang sekali. Sungguh, sayang sekali." Gumam Fahri.

"Saya bekerja membimbing Keira di bawah kesepakatan dengan Anda, Tuan Fahri. Saya anggap Keira di bawah tanggung jawab Anda. Apakah mungkin saya minta ganti rugi kepada Anda?"

Kata-kata Madam Varenka itu agak mengejutkan Fahri. Bagaimana mungkin yang berbuat salah Keira, tapi dirinya yang harus bertanggung jawab. 

"Madam, apa yang Anda katakan sepenuhnya benar. Bahwa Anda punya kesepakatan kerja dengan saya. Saya minta Anda melatih Keira dan menghantarkannya meraih kejuaraan pada kompetisi yang akan datang di London. Benar sekali. Dan surat perjanjian yang kita tanda tangani jelas isinya. 

Hak dan kewajiban Anda jelas sekali. Dan tidak ada klausul masalah biola ini sama sekali. 

Saya sekarang tanya, apa saya pernah meminta Anda meminjamkan biola mahal itu kepada Keira? Apakah pernah?" Madam Verenka menggeleng. 

"Bagaimana mungkin saya yang harus bertanggung jawab. Justru Anda yang semestinya bertanggung jawab atas tindakan Anda itu."

"Tapi ini demi Keira. Saya pinjamkan dengan tujuan Keira menyatu dengan biola itu dan saat tanding dia menggunakan biola itu."

"Itu inisiatif Anda dan saya sama sekali tidak bisa bertanggung jawab. Jujur saja, kalau saya yang punya biola semahal itu tidak akan saya pinjamkan kepada orang lain."

Madam Varenka diam, Nyonya Suzan juga diam. Fahri juga diam.

"Saya sudah jelaskan kepada Madam Varenka, secara hukum Madam Varenka tidak akan bisa minta ganti rugi kepada Tuan Fahri. Justru, setelah saya periksa data Keira dengan seksama secara hukum Madam Varenka bisa menuntut Keira. Sebab usia Keira sudah tidak lagi terbilang sebagai usia anak-anak." Kata Nyonya Suzan.

"Tuntut saja Keira secara hukum.Biar dia belajar bertanggung jawab." Sahut Fahri.

"Kalau saya tuntut pun dia tidak akan sanggup membayarnya. Uang dari mana? Rumah yang dia tempati saat ini jika dijual pun tidak cukup untuk membayar harga biola itu."

"Saran saya Anda harus tetap memproses Keira secara hukum. Kedua Anda tetap harus mengantarkan Keira sampai juara di London."

"Saya sudah memutuskan tidak akan lagi membimbing Keira."

"Itu keputusan yang kurang tepat Madam Varenka. Jika Anda berhenti membimbing Keira dan tidak membantunya meraih juara di London, maka Anda tidak akan mendapatkan ganti rugi itu. 

Sebab Keira tidak akan bisa berbuat banyak. Keira bahkan saat ini mungkin sedang setengah putus asa. Tetapi jika Anda bantu, Anda bimbing dia sampai dapat juara pertama di London. Maka Keira akan bisa membuka 
pintu-pintu kesuksesannya lebih luas. Dia akan dapat hadiah lumayan besar. Kemudian dia akan laris diminta konser di Britania Raya ini maupun di dunia. Itu adalah uang. Anda bisa bikin kesepakan dengan dia untuk melunasi harga biola itu."

Madam Varenka mengerutkan kening berpikir.

"Dan satu lagi, jika Keira tidak Anda dekati dan Anda kuatkan, saya khawatir dia akan nekat lagi seperti dulu. Yaitu menjual virginitasnya di internet. Maka usaha kita semua menyelamatkan sifat kemanusiaan seorang manusia telah gagal".

"Menurut saya apa yang dikatakan Tuan Fahri sangat masuk akal, bijak dan sekaligus solusi yang tepat." Sambung Nyonya Suzan.

Makanan dan minuman yang dipesan datang satu persatu. Mereka bertiga kemudian makan. Madam Varenka minta maaf kepada Fahri atas kelancangannya meminta ganti. Ia menyadari itu adalah tindakan bodoh. Itu semata-mata karena pikirannya sedang tidak jernih diselimuti rasa marah, kesal, jengkel dan kecewa kepada Keira. 

Perempuan yang pernah mengajar musik di New York itu akan melaksanakan saran Fahri. 

Langkah pertama ia akan membuat kesepakatan dengan Keira di hadapan notaris tentang tanggung jawab Keira. Selanjutnya, ia akan tetap melatih Keira sampai tampil mengikuti kompetisi di London.

Sebelum meninggalkan restoran itu, Fahri mengundang mereka untuk menghadiri pesta pernikahannya di Magdalen College, Oxford. Undangan itu membuat mereka berdua terkejut bahagia. Dan lebih terkejut lagi ketika Fahri memberi tahu bahwa yang akan ia nikahi adalah Hulya. 

"Hulya sangat cocok mendampingi Anda, Tuan Fahri. Dia gadis yang cerdas dan baik. Anda tidak salah pilih." Puji Madam Varenka yang juga pernah melatih Hulya sebelum ikut kompetisi di Cremona, Italia.


                           *****


Fahri mulai menata kembali rumah yang selama ini ditempatinya di Stoneyhill Grove. Sore itu Fahri datang membawa dua kopor ukuran besar yang baru saja dibelinya. Ia lalu memanggil Sabina. 

Perempuan berwajah buruk itu datang dengan wajah menunduk. 

"Sabina nanti setelah saya menikah dengan Hulya saya akan tetap tinggal di sini. Saya minta Sabina ikut tinggal di sini. Terserah Sabina mau menempati kamar Sabina yang lama di basement, atau menempati kamarnya Paman Hulusi."

"Terus Paman Hulusi?" Tanya Sabina dengan suara serak dan kepala menunduk.

"Paman Hulusi dan Misbah akan tinggal di rumah depan bekas rumah Nenek Catarina."

"Baik Hoca, kalau begitu nanti saya akan bantu-bantu Nona Hulya."

"Terima kasih Sabina. Oh ya mau sedikit minta tolong Sabina."

"Iya Tuan"

"Di kamarku dan di ruang kerjaku ini banyak sekali barang-barang peninggalan istriku Aisha. Selama ini sengaja saya bawa kemari karena saya merasa dia masih hidup. Ada foto-foto dia, ada buku- buku dia, bahkan di almari itu ada tumpukan pakaian dia. 

Aku bawa pakaian dia bukan untuk apa-apa. Selama ini aku masih punya keyakinan bahwa dia akan datang ke rumah ini. Dan ketika dia datang dia langsung menemukan ini rumahnya. 

Barang-barangnya ada di sini. Tetapi ternyata dia tidak juga datang."

Sabina agak kaget mendengar penjelasan Fahri.

"Aku minta tolong barang-barang itu kau tata yang rapi kau masukkan ke dalam dua koper ini. 

Termasuk pakaian Aisha di dalam lemari itu, tolong semuanya masukkan koper. Jika sudah, tolong kau bawa ke basement. 

Simpanlah diltempat yang aman. Aku tidak ingin nanti Hulya cemburu kalau aku terus menyimpan barang-barang Aisha."

"Kenapa Tuan minta tolong kepada saya, kenapa tidak minta tolong kepada Paman Hulusi. Maaf."

"Sebagian barang-barang istri saya itu khas barang-barang milik perempuan. Pakaian khas perempuan. 

Sebenarnya aku ingin dengan kedua tanganku ini aku merapikan barang-barang itu, tapi aku sedang ada kerjaan banyak sekali. Dan aku tidak mau ada lelaki lain yang menyentuh pakaian istriku itu.

Maka aku minta tolong kamu."

"Oh iya Tuan, saya mengerti."

"Saya tinggal, kau bisa mulai bekerja. Saya harus menjumpai kolega di Princess Street."

"lya Tuan."

Fahri meninggalkan kamarnya dan melangkah menuruni tangga menuju ruang tamu, lalu menaiki mobilnya dan membawanya menuju tengah kota Musselburgh. Sabina memasuki kamar Fahri. la belum pernah memasuki kamar tuannya, baru kali ini ia memasuki kamar Fahri. 

Pandangannya tertuju pada jam meja kecil berwarna coklat kayu. Ada foto Fahri sedang memeluk Aisha dengan latar belakang bukit salju. Di belakangnya ada bangunan kecil bertuliskan Mount Tillis. Sabina memungut jam meja itu dan memandangi foto itu dengan kedua mata berkaca-kaca.

Sabina melihat sebuah album. la membukanya halaman demi halaman. Tampaklah foto-foto Fahri dengan Aisha ketika di Mesir, di Indonesia, di Makkah, di Madinah, di Jerman, dan beberapa negara eropa. 

Air mata Sabina menetes pada salah satu halaman album itu. Sabina meneliti barang-barang di kamar itu dengan saksama. Jika ia melihat barang khas perempuan, seperti kipas angin dari kain berwarna pink, sajadah untuk shalat ada bordirannya bertuliskan Aisha, maka ia tata ke dalam koper. la lalu membuka almari yang ditunjukkan Fahri. 

Ada belasan pakaian perempuan tergantung rapi di situ. Baju luar, baju dalam, jaket panjang, abaya dan lain sebagainya. Selain tergantung juga ada yang dilipat rapi. Itu semua adalah pakaian milik Aisha.

Sabina mengambil sebuah abaya dan menciuminya dengan air mata meleleh begitu saja. Di dalam almari itu juga ada beberapa botol parfum perempuan. Sabina menyemprotkan ke udara lalu menghirup aromanya. 

Setelah selesai mengemas barang yang ada di kamar utama, Sabina memasuki kamar yang dijadikan perpustakaan. la membuka buku-buku yang tertata di situ. Setiap kali ada buku yang tertulis nama Aisha di situ, maka ia ambil. la tapisi satu persatu. Belasan buku ia dapatkan dan ia masukkan ke dalam 
koper. 

Sabina lalu membawa koper di basement dan meletakkan koper itu di kamarnya. Sabina duduk di kursi berusaha menenangkan diri. 

Tetapi air matanya mengalir begitu saja. Sesaat lamanya ia terisak- isak, air matanya terus meleleh begitu saja.


                        *****


Dalam bisnis, memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa diandalkan adalah separo dari modal penting. Fahri sungguh beruntung. la memiliki orang-orang yang bisa ia percaya sepenuhnya dan bisa ia andalkan. la punya Ozan yang sangat menguasai strategi-strategi besar, dan pandangan ke depan yang 
jernih. Ozan juga mewarisi sifat tanggung jawab dan amanah ayahnya.

Selain Ozan, Fahri juga memiliki Brother Mosa Abdulkerim yang cakap dan amanah. Minamarket dan restoran Agnina sukses besar di bawah kendali Brother Mosa. 

la juga memiliki Nyonya Suzan yang mampu menjaga AFO Boutiqe tetap eksis dan bersaing dengan boutique-boutiqe terkemuka lainnya di Edinburgh. 

Di Jerman, ia memiliki Brother Hans Beiger, seorang mualaf dan bankir yang bisa 
diandalkan. Hans Beiger ia percaya memegang jejaring bisnis di Jerman yang dulu dipegang oleh Aisha.

Malam itu Fahri masih di Agnina, ia baru saja rapat dengan Brother Mosa Abdulkerim. Ia memberi kepercayaan penuh kepada Brother Mosa untuk membuka cabang Agnina minimarket di tiga kota lainnya di Britania Raya. 

Sebagai bentuk apresiasi dan untuk menjaga dedikasi, Fahri memberi dua persen saham kepada Brother Mosa. Lelaki kepercayaan Fahri itu sampai meneteskan air mata diberi 
penghormatan yang sedemikian besar oleh Fahri. 

Selesai rapat Fahri bersiap untuk pulang, Madam Barbara yang bertugas sebagai kasir malam itu melaporkan bahwa Jason ingin bertemu dengan Fahri. Jason di persilakan naik ke atas menemui Fahri di kantor Agnina.

"Saya sedang sangat sedih, Fahri." Suara Jason tercekat.

Tenggorokannya seperti sudah kering. Fahri mengulurkan sebotol kecil air mineral. Jason meneguknya.

"Kenapa sedih?"

"Keluarga saya sepertinya akan berantakan. Baru saja kemarin harmonis sebentar, dan itu aku tahu karena jasamu. Kini di ambang kehancuran. lni semua gara .. gara Keira!"

"Ada apa dengan Keira?"
Fahri pura-pura belum tahu apa yang terjadi dengan Keira.

"Jadi kau belum tahu?"

"Ceritakanlah!"

Jason menceritakan panjang lebar apa yang terjadi pada Keira.

"Dia keras kepala dan ceroboh! Akhirnya kemarin sudah ada kesepakatan dengan Madam Varenka, bahwa Keira harus membeli biola yang patah itu. Harganya disepakati sembllan ratus ribu pounsterling. 

Itu saja kata Madam Varenka, demi Keira ia rela menurunkan harga sampai seratus ribu poundsterling. 

Kesepakatannya rumah yang kami tempati sekarang sudah jadi milik Madam Varenka. 

Rumah itu dihargai dua ratus ribu poundsterling. Masih kurang tujuh ratus ribu akan dibayar Keira dengan cara mencicil. 

Mama sebenarnya tidak ingin rumah itu pindah ke tangan orang lain, tapi mama tidak bisa 
berbuat apa-apa. Mama korbankan rumah itu demi Keira. 

Madam Varenka baik, ia membolehkan kami menempatinya sampai setengah tahun ke depan. Kini mama kembali sering bertengkar dengan Keira. 

Yang saya sedih, Keira mau nekad menjual dirinya lagi. Saya harus bagaimana Fahri. 

Pekan depan saya sudah harus ke London dan tinggal di sana. Saya diminta mulai berlatih di camp pelatihan West Ham Yunior."

"Yang sifatnya membantu materi, saya mohon maaf tidak bisa lagi Jason."

"Saya mengerti itu Fahri. Kau sudah sangat banyak membantu. Termasuk menyelamatkan Keiradan membantu dirinya menang di Cremona."

"Saya hanya bisa memberi saran. Kalian sekeluarga harus tetap saling menyayangi dalam kondisi suka maupun duka. Keira harus dikuatkan, didukung dan dibantu. Jangan jadikan dia semakin tenggelam dalam keputusasaan. Bantu dia bangkit. 

Saya sudah siapkan paket pelatihan dan pendampingan bersama Madam Varenka agar dia menang kompetisi dunia di London. Jika Keira bisa menang maka ia akan sangat mudah membayar hutang-hutangnya. 

Kau harus bantu Keira, kau harus sadarkan mamamu untuk membantu Keira. Dan yang paling penting kau harus sadarkan Keira, jangan sampai dia putus asa terus memakai jalan pintas menjual dirinya. Kau boleh sampaikan jika dia sampai menjual dirinya maka paket pendampingan yang aku siapkan akan aku batalkan. Tapi kau jangan sekali-kali membuka rahasia bahwa aku yang menolong Keira baik kepada Keira maupun kepada mamamu."

"Baik Fahri."

"Di London kau sudah ada tempat?"

"Sudah. Pihak West Ham sangat membantu."

"Kau dikontrak berapa?"

"Hanya tiga puluh lima ribu."

"Sebagai pemain pemula itu sangat bagus. Dari tiga puluh lima ribu itu sebagian berikan kepada ibumu untuk membuatnya tersenyum dan sebagian berikan kepada Keira agar dia merasa masih memiliki saudara, masih memiliki orang yang menyayanginya."


Air mata Jason meleleh mendengar nasihat Fahri. Ia mengangguk pelan.



                              *****



AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 32

32


PELANGI DI BIBIR HULYA


Sudah empat hari keluarga besar Ozan menginap di Stoneyhill Grove. Semua menginap di bekas rumah Nenek Catarina yang telah direnovasi oleh Fahri. Dari luar rumah itu, tampak paling cantik di antara rumah–rumah yang lain. Keharuman catnya tercium sampai halaman. 

Rumah itu memiliki tiga kamar. Ozan beserta istri dan anaknya menempati satu kamar. Paman Akbar Ali dan istrinya satu kamar. Dan Hulya menempati kamar yang sebenarnya telah di tempati Sabina. 

Akhirnya Sabina mau kembali ke Stoneyhill Grove dan menempati satu kamar di bekas rumah Nenek Catarina itu. Ketika keluarga besar Ozan datang, untuk sementara Sabina menginap di kamar lamanya yang ada di basement rumah Fahri. 

Namun hampir setiap saat Sabina selalu siap sedia di bekas rumah Nenek Catarina itu untuk membantu mengerjakan hal-hal yang perlu bantuannya. Apalagi Hulya yang telah akrab dengan Sabina memintanya untuk menemaninya berbincang-bincang. 

Pagi itu tampak sebuah kesibukan di dapur bekas rumah Nenek Catarina. Hulya dan ibunya dibantu Sabina sibuk menyiapkan sarapan khas Turki. Hulya sedang mengentaskan Sebze Dolmasi[1] yang sudah matang ke sebuah mangkuk besar. 

Sabina sibuk membuat orak-arik telur khas Turki. Sementara, Bibi Melika, ibunda Hulya membuat acar dari mentimun dan tomat untuk lalapan. 

Asap berbau gurih dari gorengan orak-arik telur dan Sebze Dolmasi mengepul di dapur. Sebagian menyusup sampai ke ruang
tamu di mana Ozan, Fahri dan Paman Akbar Ali sedang asyik berbincang sambil duduk bersila di atas karpet. 

Begitu selesai menyiapkan Sebze Dolmasi, Hulya langsung menyiapkan teh panas. Dan sarapan pagi itu pun siap dihidangkan. 

Claire, istri Ozan turun sambil menuntun Laila, anaknya yang masih didera rasa kantuk. 

"Kalau masih mengantuk biarkan dia tidur." Ucap Paman Akbar Ali. 

"Dia suka sekali dengan Sebze Dolmasi buatan Hulya. Dia akan makan dengan lahap kalau makannya bersama-sama. Kalau dia dibiarkan tidur dan nanti dia bangun yang sudab selesai makan nanti dia marah tidak mau makan." Jelas Claire. Perempuan Muslimah berdarah lnggris itu menyerahkan Laila kepada Ozan. 

Gadis cilik berusia empat tahun itu langsung rebah di pangkuan ayahnya. Claire mengambil plastik dan menggelarnya di atas karpet. Ia lalu ke dapur untuk membantu menghidangkan sarapan. 

Hulya keluar membawa teko bertingkat khas Turki berisi teh panas dan meletakkan di atas plastik. Sabina keluar membawa nampan berisi sepiring besar orak-arik telur, roti tawar dan buah zaitun. Claire keluar membawa gelas. Bibi Melike, istri Paman Akbar membawa lalapan dan Sebze Dolmasi. Hulya keluar lagi dari dapur sambil membawa sepiring madu dan sepiring buah zaitun. 

Menu makan pagi khas Turki yang sangat lengkap telah terhidang. Aromanya begitu mengundang.

0zan membangunkan Laila untuk makan. Biasanya, jika ada tamu, lelaki dan perempuan makan di tempat yang terpisah, atau bergantian makannya. 

Namun karena itu adalah keluarga besar dan Fahri sudah dianggap sebagai keluarga sendiri mereka makan bersama-sama. Fahri duduk di samping kanan Ozan yang berhadapan dengan Paman Akbar Ali. Hulya duduk di samping kiri ayahnya, jadi tepat menghadap Fahri. Bibi Melike duduk di samping kanan suaminya, lalu Claire duduk di samping Bibi Melike. 

Paman Akbar mengambil roti tawar dan mencuilnya. Cuilan itu lalu digunakan untuk mencomot orak-arik telur sambil membaca basmalah, lalu mengunyahnya. Claire mengambil piring dan menyendokkan Sebze Dolmasi untuk Laila. Piring berisi Sebze Dolmasi itu diberikan kepada Ozan. Dengan penuh kasih Ozan mendulang Laila. Hulya mengambil piring dan hendak mengambil Sebze Dolmasi. 

Hulya mengulurkan tangannya hendak meraih sendok besar di wadah Sebze Dolmasi, pada saat yang sama Fahri juga mengulurkan tangannya. Dan tangan Fahri lebih duluan memegang sendok besar itu. Tangan Hulya telah terulur ke sendok itu dan hanya beberapa senti dari tangan Fahri. Spontan Fahri melihat ke arah wajah Hulya demikian juga Hulya melihat ke arah wajah Fahri. Wajah Hulya memerah. 

Fahri menarik tangannya dan mempersilakan Hulya mengambilnya. Hulya mempersilakan Fahri. 

Dengan santai Fahri mengambil Sebze Dolmasi dengan sendok besar, bukan ia letakkan di piringnya tapi ia letakkan di piring Hulya. Gadis Turki itu agak kaget, Fahri lalu kembali menyendok Sebze Dolmasi dan menawarkan kepada Paman Akbar. Ayah Hulya itu meraih piring dan menyodorkan ke arah Fahri. 

Hingga semua mendapatkan Sebze Dolmasi lewat tangan Fahri. Suasana makan pagi itu begitu hangat. Tiba-tiba Fahri teringat sesuatu. 

"Kayaknya tadi ada Sabina." Gumam Fahri.

"Oh iya, dia harus makan bersama kita." Sahut Hulya sambil berdiri dan melangkah ke dapur. 

Hulya mendapati Sabina sedang membersihkan dan merapikan peralalan dapur. Hulya mengajak Sabina sarapan bersama, tapi Sabina menolak. Hulya memaksa Sabina, hingga akhirnya Sabina mau bergabung 
makan bersama.

"Melike, coba kau rasakan orak-arik telur ini baik-baik. Rasakan pelan-pelan. Ada rasa yang berbeda, bumbu yang beda." Kata Paman Akbar Ali kepada istrinya. 

Sang istri menurut, ia mengambil orak-arik 
telur khas Turki dengan sendok dan mencicipinya. 

"Benar"

"Orak-arik telur ini mengingatkan saya pada ibunya Aisha. Persis seperti ini rasanya."

"Iya benar." Kata Bibi Melike sambil kembali menyendok orak-arik telur itu.

"Saya jadi penasaran seperti apa rasanya. Disebut ibunya Aisha jadi membuat saya bergetar." Gumam Fahri sambil mengambil orak-arik telur itu dengan Roti tawarnya.

"Rasanya menurutku biasa saja, sama dengan yang biasa dibuat Aisha dulu."

"Lhaa itu, karena lidahmu bukan lidah turki jadi tidak bisa membedakan dengan detail." Sahut Paman Akbar. 

"Tapi dia berkata benar, sama dengan yang biasa dibuat Aisha. Wajar, Aisha belajar memasak dari ibunya." Tukas Bibi Melike.

Ozan tidak mau diam begitu saja. Ia pun angkat bicara, 

"Jadi orak-arik ini yang masak siapa ?" Hulya 
menunjuk ke arah Sabina yang menunduk. 

Semua melihat ke arah Sabina yang tidak berani mengangkat mukanya. Fahri agak tergetar hatinya.

"Dari mana kau belajar memasak orak-arik telur ini Sabina?" Tanya Fahri.

"Dari coba-coba, ini hanya kebetulan saja rasanya seperti itu. Saya tidak bisa konsisten membuat sebuah rasa. Kalau saya masak lagi orak-arik seperti itu rasanya pasti akan lain lagi." Jawab Sabina dengan suara serak, pandangannya tetap menunduk ke lantai.

"Sabina ini terlalu merendah, selama di sini, dan Sabina membantu memasak, bisa saya nilai semua yang disentuh tangannya enak." Bibi Melike tersenyum pada Sabina.

"Bibi terlalu memuji."

"Ini yang senang Hoca Fahri. Jangan-jangan karena ada Sabina yang membantu memasak, Hoca Fahri jadi semakin tidak berpikir menikah lagi. Sudah tidak memerlukan istri seperti Aisha yang pandai memasak." Celetuk Ozan membuat Fahri salah tingkah. 

"Bukan begitu Ozan." Sahut Fahri. 

"Selama ini yang sering memasak buat Hoca Fahri bukan saya, tetapi Paman Hulusi. Saya hanya kadang-kadang saja. Bahkan cenderung waktu-waktu tertentu saja." Ucap Sabina memberi penjelasan, juga dengan wajah tetap menunduk di karpet.

"Hoca Fahri, boleh saya tanya?" Kali ini Claire, istri Ozan yang bicara.

"Silakan Claire."

"Kira-kira perempuan yang kriterianya seperti apa yang bisa menarik Hoca untuk menikah lagi?" Fahri menunduk diam. Semua diam. 

Hening menyelimuti suasana di ruang tamu itu sesaat. 

"Saya tidak punya kriteria khusus. Dulu saat menikahi Aisha juga saya tidak punya kriteria khusus. Bahkan saya pertama kali lihat wajah Aisha itu di ruang tamu rumah Syaikh Utsman karena dita'arufkan. Biarlah Allah yang membuka dan menggerakkan hati saya untuk memilih istri lagi, jika begitu takdirnya."

"Saya boleh bertanya Hoca?"

"Oh silakan Hulya."

"Saya tahu Hoca tidak kunjung menikah karena merindu dan menunggu Aisha. Pertanyaan saya sampai kapan? Kenapa sunnah Nabi terhalang oleh sebuah kerinduan tak jelas yang berlebihan? Bukankah berlebih-lebihan itu tidak baik dalam ajaran agama kita?"

Fahri kaget mendengar pertanyaan Hulya. Itu adalah pertanyaan yang pernah di ajukannya lewat sms dan tidak ia jawab. 

Dan sekarang pertanyaan itu ia ungkapkan secara terang-terangan di tengah keluarga. Ayah Hulya, Paman Akbar juga kaget. la sampai mendongak dan memperhatikan wajah Fahri. Semua menunggu jawaban Fahri. Sabina yang sejak awal duduk di situ menunduk, kali ini sedikit mengangkat mukanya untuk melihat Fahri.

''Pertanyaanmu itu saya tidak bisa menjawabnya. Saya sendiri setelah menunggu sekian lama, dan setelah berpikir jernih, juga setelah mendengar nasihat dari banyak orang termasuk Syaikh Utsman, guru saya tercinta, saya sempat berpikir untuk menikah lagi. 

Tetapi tiba-tiba saya takut kalau saya nanti akan menzalimi istri saya yang baru." Jawab Fahri.

"Menzalimi bagaimana Hoca?" Kejar Hulya.

"Saya khawatir tidak bisa mencintai dia sepenuhnya, seperti saat saya mencintai Aisha. Khawatir itu akan menyakitinya dan membuatnya merasa terzhalimi."

"Kalau ada perempuan yang bisa memahami kondisi Hoca dengan baik, dan dalam kondisi seperti itu dia lapang dada dan tidak merasa dizhalimi, bagaimana Hoca?"

"Kalau ada yang seperti itu dan dia shalihah beritahukan kepadaku." 

Hulya mengangguk.

"Siang nanti kita jadi balik ke London, Ayah?" Tanya Ozan pada ayahnya.

"Tadi selepas shalat Shubuh aku sudah berbincang dengan ibumu. Dia masih ingin nambah dua hari lagi di sini." Jawab Paman Akbar.

"Iya, di sini enak. Serasa di rumah sendiri. Edinburgh dan Musselburgh ini indah dan cantik. Aku seperti melihat kartu pos yang hidup."

" Baik. Terus acara kita hari ini mau apa? Edinburgh dan Musselburgh sudah kita tapisi selama tiga hari."

"Aku ingin kita jalan darat ke utara." Jawab Bibi Melike, ibu Ozan.

"Ke mana Bibi ?" Tanya Fahri.

"Ke St. Andrews."

"Yah itu kota kecil yang sangat cantik. Tapi apa yang mama cari di sana ?" Tanya Ozan.

"Aku ingin jatuh cinta lagi."

"Maksud Mama?"

"Katanya kola St. Andrews itu kota yang romantis. Satu dari sepuluh orang yang belajar di sana menemukan jodohnya di sana. Aku mau ke sana, biar aku jatuh cinta lagi sama ayahmu."

Mendengar jawaban Bibi Melike, Paman Akbar langsung mendaratkan ciuman sayang pada istrinya itu tanpa malu. Sebab semua yang ada di ruangan itu adalah orang-orang yang sangat dekat. Melihat adegan itu semuanya tersenyum bahagia.

"Satu lagi." Ucap Bibi Melike,

"Khususnya untuk Fahri, siapa tahu dengan berkunjung ke St. Andrews nanti menemukan jodohnya di sana."

"Ah Mama ada-ada saja. Kalau Hoca fahri tidak akan bertemu jodoh di jalanan seperti itu. Hoca Fahri ditawari Syaikh Utsman untuk menikahi cucunya yang sedang PhD di Durham University saja tidak mau." Sahut Ozan. 

"Siapa tahu. ltu bukan hal yang mustahil. Jodoh bisa bertemu di mana saja."

"Bertemu jodoh di mana saja asal itu yang paling baik di mata Allah dan paling mendapatkan ridha Allah, patut disyukuri." Gumam Fahri.

"Alhamdulillah, Fahri ini sudah mulai membuka pintu hatinya." Sahut Paman Akbar.

"Kalau begitu kita segera siap-siap." Tukas Ozan.

"Saya siapkan kendaraannya." Kata Fahri sambil berdiri lalu melangkah keluar rumah itu menuju rumahnya.

"Bibi Melike kalau saya boleh usul." Kata Sabina dengan suara serak setelah melihat Fahri keluar dari rumah itu.

"Iya Sabina. Boleh."

Semua memperhatikan Sabina dan urung bangkit dari duduknya. 

"Sebaiknya Hoca Fahri ditemukan jodohnya dengan keluarga Bibi Melike saja. Selama saya ikut Hoca Fahri, saya lihat dia orangnya baik, 
pekerja keras, rendah hati, tanggung jawab, dan penyayang. 

Tentang kisah Nenek Catarina kan sudah saya sampaikan. Saya merasa, sungguh sayang kalau menikah dengan orang lain. Mohon maaf kalau saya lancang, kenapa tidak dijodobkan dengan Hulya saja?"

Hulya terperanjat mendengar apa yang disampaikan Sabina, mukanya memerah. 

"Aku setuju denganmu Sabina." Tegas Claire.

"Aku juga." Sambung Ozan.

"Hmm aku juga setuju." Paman Akbar tersenyum.

"Kalau semuanya setuju, masak aku tidak setuju? Usulmu sangat bagus Sabina. Tergantung Hulya bagaimana, mau apa tidak?" 

Kata Bibi Melike sambil melibat Wajah Hulya.

"Mama ini bagaimana, bukan tergantung saya, ya tergantung Hoca Fahrinya bagaimana?" 

Hulya menjawab sambil tersipu. 

Sabina tersenyum melihat tingkah Hulya yang tersipu, namun pelan-pelan kedua matanya berkaca-kaca dan tidak ada yang menyadarinya.


                          *****


Keira bangun kesiangan lagi. Ia masih bertahan di hotel itu. Beban itu masih saja mengganjal di kepalanya dan ia belum menemukan cara untuk membuangnya. Ia bahkan belum berani pulang ke Stoneyhill Grove. Ibunya sudah berkali-kali meneleponnya tapi ia menjawab masih punya urusan di 
York.

Karena beban itu, penampilannya di Sir Jack Lyons Concert Hall sangat tidak memuaskan. 

Ia terpaksa meminjam biola seorang mahasiswi jurusan musik. 

Sebuah biola untuk para amatir. Akibatnya penampilannya juga terasa amatir. Beberapa kali ia salah nada karena terus diganggubeban yang mengganjal di kepala. 

Biola Madam Varenka yang ia patahkan itu sungguh membuatnya tersiksa. 

Mimpi-mimpinya adalah kubangan-kubangan hitam yang menakutkannya. Ia telah membawa biola itu ke sebuah toko penjual biola yang katanya pemiliknya sangat pakar tentang biola. 

Sedikit beruntung ia bertemu pakar itu. Ia 
bertanya apakah biola yang patah itu bisa di perbaiki? Dan jawaban yang ia terima semakin membuat beban di kepalanya terasa membesar.

"Kayu-kayu yang patah bisa disambung dilem lagi, tapi tidak bisa seperti aslinya. Sayang sekali biola ini rusak seperti ini. Sayang sekali. Ini biola langka. Ini biola Stradivarius asli yang cuma ada beberapa biji saja di dunia ini. 

Harganya bisa lebih 1 juta poundsterling. Tidak masuk akal, barang semahal ini bisa retak-retak patah seperti ini. Yang membawa barang ini seharusnya sangat hati-hati"

PenjeLasan lelaki tua pemilik toko biola itu membuat Keira seperti mau kehilangan nyawanya. 

Harganya bisa lebih dari 1 juta poundsterling. Dari mana ia akan dapatkan uang sebanyak itu untuk mengganti biola itu? Kalau pun ia dapat uang sebanyak itu, apakah Madam Varenka bisa menerimanya? Ia jadi ingat tindakan bodohnya yang lain. 

Ketika Madam Varenka meminjamkan biola itu, Madam Varenka meletakkan biola itu pada tas koper segi empat yang kokoh dari alumunium. Saat itu dalam hati ia berkata, 

"Madam Varenka ini orang kuno, tidak praktis !" Tas koper itu agak berat dan terasa besar, sangat tidak modis dibawa ke mana-mana. 

Maka ketika ia membawa biola itu ke York, ia pindah biola itu ke dalam tas biolanya. Agar enak dibawa-bawa. Ternyata kini baru ia tahu kenapa Madam Varenka meletakkan biola itu ditas koper alumunium yang kokoh. Ternyata adalah untuk menjaga biola mahal itu dari cedera apa pun.

Siang ini adalah jadwal berjumpa dengan Madam Varenka untuk latihan. Tetapi ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan guru yang mengantarkannya memenangi kompetisi di Cremona itu. 

Jika ia terlambat hadir, pasti Madam Varenka akan meneleponnya. Maka sebelum guru dan pelatihnya itu meneleponnya, ia mengirim pesan lewat sms bahwa ia berhalangan hadir karena ada urusan sangat penting di York.

Keira mengirim pesan itu, lalu kembali rebah di atas kasur di kamar sebuah hotel murah di York. Air matanya kembali meleleh begitu saja. Dunia ini tiba-tiba terasa sempit dan gelap baginya. 


                            *****


Hati Hulya berbunga-bunga. Sungguh tanpa disengaja, ia kini duduk di kursi depan, di samping Fahri yang mengemudikan SUV BMW putih itu. Awalnya ia duduk di kursi tengah bersama kedua orang tuanya. 

Claire dan anaknya Laila duduk di kursi paling belakang. Sementara Ozan duduk di kursi depan bersama Fahri. 

Tiba-tiba Laila merengek ingin duduk di tengah bersama kakek dan neneknya. Jadilah car seat Laila dipindah ke tengah. Dan ketika Hulya mau duduk di kursi paling belakang bersama Claire, istri Ozan itu minta Hulya duduk di kursi paling depan saja. Claire minta Hulya bertukar tempat dengan Ozan.

"Aku ingin berdua dengan Ozan." Lirih Claire pada Hulya sambil mengedipkan matanya dan tersenyum. Hulya mengerti. Jadilah ia duduk di kursi paling depan di samping Fahri. 

Fahri mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia memberi kesempatan kepada para penumpang yang dibawanya agar bisa menikmati pemandangan kanan dan kiri. 

Awal musim gugur datang menghampiri. Pohon-pohon memerah dan menguning sebagian gugur terbawa angin. Bukit-bukit dan lembah punuh warna warni musim gugur. Garis pantai yang sesekali disela bangunan tua khas Skotlandia. Peternakan kuda yang menghampar. Kuda-kuda putih, cokelat dan hitam berkejaran. 

Pemandangan begitu prosa dan puitis. Sangat magis.

"Kupaskan ini untuk Hoca" Paman Akbar mengulurkan sebiji pisang Giant Cavendish kepada Hulya. 

Saat itu Hulya sendiri sedang menikmati pisang juga. Semua yang ada di dalam mobil itu senang makan pisang sambil menghayati pemandangan. Hanya Fahri yang tidak makan pisang sebab ia konsentrasi mengemudikan mobil.

Hulya menunggu selesai mengunyah pisangnya. Barulah ia mengupaskan pisang itu dan diberikan kepada Fahri. 

"Nanti saja !" Lirih Fahri.

Selama ini ia merasa kagok kalau mengendarai mobil hanya menggunakan tangan satu. 

"Kau bantu dia makan. Dia pegang kemudi, susah!" Ujar Paman Akbar.

Hulya menuruti perintah ayahnya dan menyodorkan pisang itu ke mulut Fahri. Tentu saja Fahri jadi sangat kikuk. Pelan-pelan Fahri memperlambat laju mobilnya dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

"Kenapa berhenti Hoca?" Tanya Paman Akbar.

"Sebentar saya makan dulu pisangnya." Kata Fahri sambil menerima pisang dari tangan Hulya. Ia lalu menikmati pisang itu sampai habis barulah melanjutkan perjalanan. 

"Aku tahu kenapa Hoca Fahri tidak mau dibantu Hulya." Kata Claire dari belakang.

"Kenapa?" Tanya Ozan.

"Karena Hulya bukan istrinya. Hoca Fahri tidak mau disuapin yang bukan istrinya. Kalau itu yang menyuapi Aisha pasti mau. Benar kan Hoca?" Fahri hanya tersenyum. 

"Hoca Fahri apa tidak rindu makan berdua bersama istri?" Tanya Ozan dengan nada meledek.

"Aduh, kenapa saya yang dijadikan sasaran terus ya? Gantian yang lain biar ramai." Sahut Fahri sambil terus konsentrasi mengemudikan mobilnya.

"Yang lain siapa? Masak mau membahas Laila."

"Ya gantian Hulya misalnya. Setelah menang di Italia terus apa rencananya? Apa mau terus berkarir menjadi pemain biola profesional, atau masih mau lanjut kuliah di Edinburgh?"

"Hulya, dengarkan, itu ditanya sama calon suamimu. Eh, maaf, kok calon suami, maaf. Itu ditanya Hoca. Fahri." Ozan sengaja mengerjai Hulya dan Fahri. Paman Akbar, Bibi Melike, dan Claire tersenyum-senyum.

"Kursi tempat aku duduk jadi terasa panas ini." Sahut Hulya. 

"Tidak usah panas, jadi rencanamu terus bagaimana Hulya?" Kali ini Claire yang tanya. 

"Sebenarnya saya inginnya menikah, terus juga kuliah. Tapi belum menemukan calon yang pas." Jawab Hulya santai.

"Kalau misal ya. Sekali lagi ini misal saja. Kalau misalnya Hoca Fahri mau menikah denganmu, apa kau mau? Ini misal saja."
 
Ada hawa hangat menyusup dalam syaraf-syaraf Fahri. Ia tahu dirinya sedang terus dikerjai oleh orang-orang yang ada di belakang. 

Sementara jantung Hulya berdegup kencang dan mukannya memerah. Ia sedang berpikir mengatur kata-kata menjawab pertanyaan Claire yang mengerjainya itu.

"Iya Hulya, kalau aku misal meminangmu untuk jadi istriku apa kamu mau? Sekali lagi, ini misal, saya ikut bahasanya Claire. Ini misal." Kata Fahri santai. Fahri berpikir sekalian mengerjai Hulya. 

Kata-kata Fahri itu sungguh diluar dugaan semua yang ada di dalam mobil itu. Termasuk Hulya sendiri. 

Mulut gadis itu benar-benar terkunci. 

Jantungnya berdegup kencang. la tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Mobil yang dikendarai Fahri mulai memasuki kota St. Andrews. 

"Seandainya itu bukan misal. tapi sungguhan. Sebagai ayah Hulya, aku sangat bahagia dan merestui." Kata Paman Akbar. 

"Sebagai ibu aku merestui."

"Sebagai kakak tertua aku merestui."

"Sebagai ipar aku merestui."

"Restu kedua orang tua dan semua saudara itu penting, tapi yang paling penting adalah yang 
bersangkutan mau apa tidak?" Sabut Fahri ringan, tanpa menoleh ke Hulya yang duduk di sampingnya.

Fahri membawa mobil itu ke tengah kota, tepatnya di kawasan St. Mary's Place. Fahri membawapenumpangnya menuju masjid yang letaknya di samping kampus University of St Andrews. Waktu zhuhur telah tiba. Dan sampai semuanya telah turun dari mobil, Hulya masih diam tidak berbicara.

Gadis itu bahkan seperti tidak menyadari bahwa semua penumpang telah turun dari mobil. Ia masih duduk di bangku mobil dengan mata menunduk melibat dasboard. Bibi Melike menyadarkan Hulya untuk turun dan shalat Dzuhur.

Rombongan itu memasuki masjid kecil itu ketika jamaah shalat Dhuhur yang hanya belasan orang telah selesai. 

Fahri minta Paman Akbar yang menjadi imam, tapi tidak mau. Paman Akbar bahkan mendorong Fahri untuk mengimami.

Jadilah rombongan itu shalat Dhuhur diimami Fahri usai shalat dan dzikir Fahri berkata sambil memandang kepada Paman Akbar dan Ozan, 

"Saya tidak tahu apakah ini karena doa Bibi Melike yang mendoakan agar saya bertemu jodoh di St. Andrew, entah kenapa saya merasa bahwa saya memang harus menikah lagi dan saya harus meminang seseorang."

Kata Fahri itu didengar dengan penuh perhatian oleh Paman Akbar, Ozan, Bibi Melike, Claire dan Hulya. 

"Saya senang mendengarnya Hoca. Kau tidak boleh terus larut bertahun-tahun dalam kesedihan. Kita semua sebagai keluarga besar Aisha tahu bahwa kamu sangat setia kepada Aisha. Tapi kamu juga harus menata hidupmu lebih baik." Sahut Paman Akbar.

"Jadi siapa orang yang akan kau pinang itu Hoca. Siapa tahu kami boleh tahu?" Apakah dia tinggal di St Andrews ini? Kuliah di sini? Tadi di jalan aku lihat ada gadis-gadis berjilbab, mereka tampaknya mahasiswi di sini." Tukas Bibi Melike.

"Iya Bibi. Orangnya ada di kota ini, tapi tidak tinggal di sini dan tidak kuliah di sini. Mumpung ada wali dan keluarganya. Paman Akbar, dengan mengucap bismillah, alhamdulillah wash shalatu was salamu 
'ala Rasulillah, saya melamar Hulya putri paman."

Semua yang mendengar apa yang diucapkan Fahri terhenyak kaget. Bahkan imam masjid yang masih berdzikir di salah satu sudut masjid itu juga kaget dan menoleh melihat Fahri. 

"Hoca. sungguh-sungguh?"

"Saya sudah awali dengan basmalah, hamdalah dan shalawat Paman. Saya sungguh-sungguh."

"Bagi saya lamaran Hoca adalah nikmat dan anugerah. tapi saya bukan penentunya, yang menentukan diterima dan tidaknya tentu adalah Hulya. Kau sudah dengar kan Hulya? Apa jawabanmu, Nak?"

Paman Akbar memandangi wajah putrinya. Bibi Melike, Ozan dan Claire juga memandangi Hulya. 

Semua menunggu jawaban Hulya. Gadis itu menunduk, ia berusaha menguasai gemuruh dalam dadanya. 

Air mata yang hangat mengambang begitu saja di pelupuk matanya.

"Jadi apa jawabanmu Hulya? Apa kau perlu waktu untuk berpikir?" Tanya Bibi Melike.

Hulya mengangkat mukanya melihat wajah ibu dan ayahnya. Lalu melihat wajah Fahri sekilas. 
Pandangan keduanya bertemu. Hulya kembali menunduk.

"Kau menerima lamaran Hoca Fahri, iya kan Hulya?" lirih Bibi Melike. 

Hulya mengangguk-angguk pelan.

"Alhamdulillah." Gumam Paman Akbar lega. 

"Pernikahannya kita segerakan, kita laksanakan di Edinburgh atau London saja. Bagaimana Hoca setuju?" Fahri mengangguk. 

"Kau setuju Hulya?"

Hulya menyeka kedua matanya, lalu mengangkat mukanya dan mengangguk sambil tersenyum. 

Fahri melihat senyum Hulya. Seperti ada pelangi di bibir Hulya. Indah sekali.



                            *****


______________________________________________

[1] Tomat, labu atau paprika isi nasi basmati dengan campuran daging kambing gurih. 

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...