Selasa, 20 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 34 PART 1

★HENING★ Part 34 (1)



 " KITA MULAI..!"



Heru berjalan tergesa-gesa menuju ruang interogasi yang berada di sudut lorong belakang kantor itu.

Heru terus melangkahkan kakinya sambil sesekali memperhatikan orang-orang di kantor itu yang mulai pada beranjak pulang mengingat jam kerja mereka telah habis.

Sesampainya didepan pintu ruang interogasi Heru diam sejenak berusaha memikirkan kembali apa yang hendak ia lakukan,

" ... Aku rasa.. Aku harus",

gumamnya dalam hati,

Ia menghela nafas panjang, merogoh kunci di sakunya..

"Hey, sedang apa kau?",

seseorang memanggil dari belakangnya,

" Glek.."

Heru sedikit terhenyak menyadari ada orang yang melihatnya,

"Hmm, tidak ada.., saya hanya memastikan pintu ini terkunci..",

jawab Heru segera membalikkan badannya melihat siapa gerangan orang tersebut,

"Oh.., kau anak baru itu ya? Ayo ikut denganku.., kebetulan, ada beberapa hal yang harus aku sampaikan padamu..",

 kata seseorang itu yang ternyata adalah seniornya di BPN.

"Yah, siap bang..",

sahut Heru berjalan mendekat dan segera mengikuti seniornya itu.

"Huhhh, hampir saja...",

gumamnya dalam hati.

............
Markas pusat, Jakarta..

18.00 wib

"Jendral, kenapa anda belum pulang..?",

 seorang Sersan bertanya melihat Jendralnya masih duduk di salah satu meja aula kantor tersebut padahal sudah pukul 18.00 tepat, tidak seperti biasanya sekitar pukul 3 sore sang Jendral sudah pulang meninggalkan kantornya.

"Tidak apa Sersan, banyak yang harus saya selesaikan saat ini juga..",

jawab Jend.Purnomo sembarari membuka-buka map-map di meja,

"Apa perlu saya bantu Jendral..?", 

tanya Sersan tersebut kembali,

"Tidak perlu sersan.., kau pulanglah lebih dahulu, tak apa..", 

sahut Jend.Purnomo.

"Baik, izin komandan..!", 

kata Sersan itu sembari berlalu meninggalkan Jendral Purnomo.

Tak lama kemudian muncul lagi seorang prajurit menghampiri Jendral itu, sepertinya memang ditunggu oleh sang Jendral Purnomo.

"Lapor ndan, semua yang komandan perintahkan telah saya siapkan..", 

kata prajurit itu pelan,

" Apa kau sudah memastikan semuanya?", 

tanya Jend.Purnomo,

"Siap, Sudah Ndan.., lalu bagaimana dengan saya?", 

prajurit itu balik bertanya,

"Baiklah, saya akan pastikan kepindahanmu ke Sumatra.., kerja bagus, dan ingat, ini hanya saya dan kamu yang tahu..", 

jelas Jend.Purnomo.

"Siap ndan, dimengerti..!"

"Izin pamit ndan..!", 

seru prajurit itu,

"Yah, silahkan", 

sahut Jend.Purnomo,

"Terima kasih ndan, terima kasih", 

seru prajurit itu kegirangan dengan sesekali menundukkan kepalanya.

Sebelumnya Jendral Purnomo menyuruhnya mengambil beberapa pucuk senjata serta perlengkapan tempur lainnya dan diletakkan di sudut belakang kantor ini sehingga Mahda dan Adam akan dengan mudah mengambilnya.

Prajurit suruhan Jendral Purnomo itu meminta sedikit ganti atas kerjanya, karena dia berasal dari sumatra, ia meminta bantuan Jendral Purnomo untuk dipindah tugaskan ke sumatra.

"..."

Jend.Purnomo sejenak memperhatikan keadaan kantor yang telah sepi dan segera beranjak pulang.

.........
Adam dan Mahda..
22.00 Wib

Adam tampak berdiri santai bersandar disebuah mobil kijang hitam berplat militer di jalan dibelakang Markas Pusat komando tersebut, terkadang ia harus menegur sejumlah prajurit penjaga yang berkeliling sekitar area markas tersebut.

"Cari angin aja mas.., sekalian iseng-iseng nelpon pacar",

Begitu jawaban Adam ketika salah satu prajurit penjaga menanyakan sedang apa ia berdiri disitu, prajurit-prajurit penjaga itu pun mempercayainya karena melihat mobil berplat militer yang dibawanya, jadi tak ada yang patut dicurigai.

Tak lama kemudian Mahda muncul tergesa-gesa membawa sebuah kotak yang tak terlalu besar.

"Buka pintu..", 

seru Mahda pelan,

Adam segera membuka pintu tengah mobil dan Mahda segera meletakkan kotak tersebut di kursi tengah mobil mereka.

" Mengapa lama sekali? Mulutku capek ngoceh terus pura-pura lagi telponan kalau ada penjaga yang lewat..", 

keluh Adam,

"Huhh, kau kira mudah menyusup halaman markas ini.., spot jantung aku..",

"Sukur Jendral naruh nih perlengkapan di tempat sepi jauh dari pantauan kamera pengawas", 

jelas Mahda terengah-engah.

"Dan Untung saja kita tak mengikuti kata Jendral mengambil peralatan ini pukul 1 nanti, bisa dicurigai kita.., tapi Sudahlah, ayo..", 

sahut Adam masuk ke mobil.

" Brmmm "

Adam segera memacu mobil mereka meninggalkan lokasi tersebut.

...............
Ruang Interogasi BPN..
23.09 Wib

"Bukk..! Bukk!! Bukk..!"

Tampak dua orang sedang menghadiahi Elang dan Jim pukulan demi pukulan, percikan darah mengotori hampir seluruh pakaian yang Elang dan Jim kenakan.

Tampak juga seseorang berdiri menjaga jarak memperhatikan itu, yah, itu Heru, ia tidak diperkenankan pulang sore tadi oleh seniornya disini, ia malah disuruh menyaksikan senior-seniornya itu menghajar Elang dan Jim.

"Hahahaha..," 

sesekali kedua seniornya itu tertawa puas.

"Ini dek, abang serahkan mereka sama kamu.., malam ini kau nginap disini yah, gantikan kami berdua.., di luar juga ada 4 orang adek abang yang berjaga, jadi kau tidak usah takut..", 

kata salah seniornya itu menyudahi acaranya memukuli Elang dan Jim, tak lama kedua seniornya di BPN ini pamit pulang, meninggalkan Heru melakukan tugas yang harusnya mereka kerjakan.

" . . . "

Keadaan di ruangan itu menjadi hening, hanya sesekali desah nafas Elang dan Jim yang terdengar tak teratur lagi, yah keadaan fisik mereka menurun drastis.

"Maaf... Apa kalian bisa bicara..?", 

tanya Heru mendekat,

" Ekhhh.. Tentu saja..", 

sahut Elang parau,

" Apa kalian benar mata-mata yang ramai diisukan di fitnah itu?, aku tahu ini pertanyaan bodoh, tapi aku rasa aku ingin menanyakannya..",

lanjut Heru mendekat.

"Ukhhh, sepertinya sekarang kami mulai terkenal yah..",

sahut Jim pelan terbatuk-batuk.

"Jika itu pertanyaanmu.. Kami tak akan menjawab! Kami hanya akan memperkenalkan diri saja..",

jawab Elang.

"Aku Jim, agen korea..",

kata Jim,

"Dan aku Elang, aku Agen indonesia.. Dari divisi mata-mata TNI, dia rekanku di thailand kemarin..",

tambah Elang.

" Jadi isu itu benar?", 

kata Heru pelan,

"Aku tak mengatakan tentang isu itu, kami hanya memperkenalkan diri kami.., kami juga tak ingin kau mempercayai ini, akan menjadi bumerang untukmu jika kau mempercayainya..", 

kata Elang pelan.

"Jadi aku harus diam saja diantara kebohongan dan kebenaran ini??", 

tanya Heru lagi,

Elang terhenyak mendengar perkataan Heru.

(Bersambung)

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 33

★HENING★ Part 33 



" HERU "



Perumahan TNI AD, Cijantung Jakarta Timur..

07.25 wib.

Letnan Vega tampak diam duduk di kursi rodanya di beranda rumah dinas yang ditempatinya, sesekali beberapa prajurit-prajurit yang lewat di jalan kecil didepan rumahnya menegur dan dibalasnya dengan ramah.

"Kakak, kakak banyak melamun akhir-akhir ini..? apa yang sedang kakak pikirkan?",

Tari muncul dari dalam rumah membawa beberapa butir pil obat dan segelas air putih untuk kakaknya,

"Tidak ada Tari, kakak cuma ingin menikmati pagi ini..",

Jawab kakaknya menebar senyum kepada adiknya itu,

"Hmmm, kalau begitu kakak segera minum obatnya ya..,",

Sahut Tari sembari menyodorkan obat yang dia bawa,

"Oh ya, bukankah hari ini kau harus kembali ke barak?",

Tanya Letn.Vega,

"..iya kakak, hari ini aku harus kembali kesana, tapi kalau melihat kakak seperti ini, aku. . . "

"Sudahlah, kakak tak apa.., kau prajurit hebat di kesatuanmu, jangan sampai karena kakakmu ini kau di anggap lari dari tugas.., bagaimana dengan lukamu?",

Sela Letn.Vega,

"..hmm, masih sedikit sakit, butuh waktu lama sepertinya untuk pulih kak..",

Jawab Tari manja,

"Hmm mm",

Letn.Vega tersenyum kecil sambil membelai rambut adiknya itu, membuatnya teringat akan masa-masa saat mereka kecil dahulu, dimana Tari selalu bersikap manja terhadapnya.

...........
Ruang Interogasi BPN..
10.15 wib

"Jim.. Jim.., bangun.. Ada yang datang lagi..",

Elang mencoba membangunkan Jim yang sedang tertidur,

" Hey, Jim..",

Seru Elang setengah membentak,

" Emm..",

Jim mulai membuka matanya,

"Kriekkk"

Decit pintu berbunyi menandakan ada yang masuk,

" Ini makanan kalian, makanlah.., maaf aku tidak bisa membuka ikatan kalian, jadi makanlah dengan menggunakan mulut saja..",

Kata seorang berpakaian serba hitam meletakkan 2 buah piring berisi nasi putih yang hanya di taburi bawang goreng dan sepertinya juga disiram air menandakan tak ada jatah minum buat Elang dan Jim.

"terima kasih..",

Sahut Jim pelan,

Prajurit tadi segera bermaksud beranjak pergi,

".. Kau dari unit mana?",

Tanya Elang kepada prajurit itu, prajurit itu menghentikan langkahnya,

"Kau tahu Aku tak diizinkan bicara kepadamu.., mengapa kau menanyakan itu?",

Sahut prajurit tersebut,

"Aku berani bertanya karena kau berbeda dari mereka.., aku yakin kau baru berada disini..",

Tambah Elang lagi,

"..."

" Apa maksudmu..?",

Yanya prajurit itu membalikkan badannya,

" Lihat kami.., dari semua orang yang masuk ruangan ini, tak ada seorangpun yang mengatakan MAAF, kau mengatakannya saat memberi kami makanan aneh ini...",

Jelas Elang sambil mengangkat wajahnya.

Tampaklah setiap sudut wajahnya sudah lebam kebiru-biruan, darah kering membekas di sekitar hidung dan bibirnya, serta luka robek di pelipis mata kirinya, begitu pula keadaan Jim tak jauh beda dengan Elang.

" 2 malam sebelumnya banyak yang datang menggunakan kami untuk latihan pukul, semua hanya melontarkan makian dan semburan ludah.. Tidak ada yang mengatakan MAAF..",

Jelas Elang pelan, suaranya juga sudah serak mungkin akibat keadaan fisiknya yang semakin melemah.

" ... ",

Sejenak prajurit itu memperhatikan Elang dan Jim,

"Yah kau benar, aku baru sampai disini tadi pagi.., aku dari kepolisian dan ditarik ke badan ini.., untuk hari ini aku ditugaskan mengawasi teroris seperti kalian hingga sore nanti..",

Sahut prajurit itu yang ternyata berasal dari kepolisian.

"Teroris..? Hmm..", 

Jim tersenyum lebar,

" Kenapa kau tertawa?",

Tanya prajurit itu,

"Jadi mereka mengatakan padamu bahwa kami teroris..? Hahahah lucu sekali..",

Jim terbahak,

"Apa kau ada melihat tv 2 hari belakangan ini? Emm..Heru?",

Tanya Elang melihat bet nama prajurit itu yang bertuliskan Heru,

" Tv? Emang ada yang salah dengan sesuatu tv..?"

Heru balik bertanya,

"Tidak ada.., kami hanya heran.. Jika kami teroris, kenapa kami tidak terkenal di Tv..",

Sahut Elang.

Heru sedikit terhenyak..

"Dan kami lebih heran, kenapa bukan unit khusus kepolisian yang menangani kami.. seperti Densus 88",

Tambah Jim,

Heru makin terhenyak seperti memikirkan sesuatu, ia mulai merasa apa yang dikatakan Elang dan Jim ada benarnya.. Namun ia berusaha berfikir bahwa ini hanya obrolan semata.

"Aku rasa pembicaraan kita berakhir disini..",

Kata Heru berbalik beranjak pergi,

"Yah tak apa, terima kasih atas makanannya..",

Sahut Elang.

"Iya, sampai nanti..",

Kata Heru sembari pergi keluar meninggalkan ruangan itu.

" Apa kau berusaha mempengaruhinya?", 

Tanya Jim,

"Tidak.., aku hanya ingin mengobrol dengan orang-orang, karena aku yakin umur kita tak akan lama lagi jika terus seperti ini...",

Ucap Elang menatap langit-langit gelap ruangan itu.

" Hmm, aku rasa begitu..",

Sahut Jim juga menengadahkan kepalanya ikut melihat langit-langit ruangan itu.

"Maaf Jim...",

Kata Elang pelan,

"Apa...?",

"Maaf..kau terlibat akan hal ini.. Seharusnya kau tak disini dan seperti ini...",

Tambah Elang..

"..tak apa teman.. Ini jauh lebih baik dari yang pernah aku alami..",

Jawab Jim,

"Maksudmu..?",

Tanya Elang,

" Yah, lebih baik.., dahulu hal seperti ini aku alami sendiri.., namun sekarang aku alami bersama dengan sahabatku...",

 Jelas Jim..

"Apa kau bercanda..?",

Sahut Elang tersenyum,

"Hey, aku serius mengatakannya...",

Kata Jim,

"Perkataanmu membuatku ingin memakan makanan aneh ini..",

Sahut Elang sambil mendekatkan kepalanya ke piring makanan mereka,

"Huhhh.., sepertinya memang lebih baik kita makan makanan ini, hahahahah",

 Jawab Jim tertawa,

"Hahahahah...",

Elang juga tertawa.

Dua sahabat itu kembali tertawa bersama tak perduli dalam keadaan suka maupun duka yang sedang mereka alami...

15.00 wib

Seseorang tampak sibuk mengotak-atik sebuah komputer seperti mencari sesuatu,
Heru, petugas yang ditugaskan mengawasi ruangan penahanan Elang dan Jim sibuk memperhatikan data-data dilayar komputer dikantor tersebut, ia sedang mencari sesuatu tentang semua yang berhubungan dengan Elang dan Jim, kejanggalan mulai menghampiri pikirannya ketika memang tak ada data tentang terorisme yang ditangani oleh BPN, terlebih lagi data tentang Elang dan Jim atau dua orang terduga teroris memang tak ada sedikitpun, ia kembali teringat kata-kata Elang dan Jim,

"Sial.. Ini kebenaran atau aku terpengaruh kata-kata mereka?",

Gumam Heru dalam hati.

Tidak sampai disitu, karena rasa penasarannya ia menghubungi seorang perwira Kopassus yang adalah pamannya sendiri..

"Halo.. Paman, paman ini Heru..",

kata Heru dari ponselnya,

"Eh, kamu Heru.., gimana kabarnya? Denger-denger kamu ditarik BPN ya?", sahut pamannya itu,

"Iya paman, paman lagi dimana sekarang, apakah dikantor?",

tanya Heru,

"Tidak, paman sedang diluar, menunggu bibimu belanja Her..",

jawab pamannya,

"Paman, Heru ingin menanyakan sesuatu..",

sela Heru,

"Tentang apa Her..?",

"Paman, dikantor paman ada desas-desus penangkapan dua orang atau semacamnya ya?",

tanya Heru gugup,

"Kenapa tanya itu Her?",

sahut pamannya,

"Enggak apa paman, dikantor sini juga ramai desas-desus itu, Heru pingin tau saja?",

jelas Heru berusaha membuat pamannya tak curiga bahwa dia sedang mencari informasi.

"Oh, iya her, kabarnya dua orang itu adalah pahlawan perang yang dijatuhkan...",

kata pamannya,

"Maksudnya gimana paman?", 

Heru berusaha menyelidiki,

"Yah, kabarnya mereka adalah mata-mata kita yang difitnah oleh suatu badan militer kita..",

jelas pamannya itu,

Heru terdiam,

"Eh, paman.. Nanti Heru hubungi lagi ya, ada tugas paman, salam sama bibi ya paman..",

 kata Heru buru-buru menyelesaikan pembicaraannya,

"Iya Heru, baik-baik kerja di jakarta yah, nanti paman sampaikan salammu.."

"Dah pamam",

"Tut"

Heru menutup teleponnya,
sekarang pikirannya semakin kacau setelah mengetahui ini, ia tak tau harus melakukan apa.. Sebentar ia merenung apa yang harus ia lakukan.

"Huhhh.. Sial, aku benci hal seperti ini..",

 gumam Heru dalam hati, ia kemudian beranjak bangkit buru-buru menuju ruang dimana Elang dan Jim dikurung.

...........

(Bersambung)

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...