Senin, 03 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 10

BAGIAN KEEMPAT 01
 
 
 Kalau bukan karena Pak Handarbeni, boleh jadi Bu Lanting tak pernah mendengar nama Haruki Wanibuchi. Overste purnawira yang berhasil merebut jabatan terpenting pada PT Bagi-bagi Niaga bekas sebuah perusahaan asing yang dinasionalisasi, sering menyebut nama itu. Dari Pak Han itulah Bu Lanting tahu bahwa Haruko adalah seorang bintang film Jepang yang potretnya sering menghias majalah hiburan dan kalender. Bagi Pak Han Haruko adalah khayalan romantis, bahkan kadang mimpi berahi yang paling indah. Kecantikannya, kata Pak Han, melebihi Naoko Nemoto, geisha yang beruntung pernah menjadi penghuni Istana Negara itu. 
 
 "Lho, kok Anda tidak ambil saja dia dari Jepang? Bukankah bisa diatur agar Haruko diperhitungkan sebagai harta rampasan perang?" demi kian Bu Lanting pernah bergurau dengan Pak Han "Soal biaya tak jadi masalah bagi seorang direktur PT Bagi-bagi Niaga, bukan?" 
 
 "Ndak gitu. Untuk nyicipi seorang gadis Jepang mudah. Aku punya uang. Namun 
untuk memboyong dia ke rumah ada halangan politis, atau halangan tata krama, atau semacam itu." 
 
 "Kok?" 
 
 "Mbakyu lupa kita orang Jawa? Di Istana sudah ada Naoko Nemoto. Nah, bila aku juga membawa gadis Jepang seperti Haruko, itu namanya ngembari srengenge, mengembari matahari. Kita orang Jawa pantang melakukan sesuatu yang merupakan prestise pribadi Pemimpin Besar. Mau kualat apa?" 
 
 "Takut kualat? Bekas tentara dan pejuang kok takut?" 
 
 "Boleh dibilang begitu. Tetapi masalahnya, aku tak ingin repot." 
 
 "Terus teranglah. Tak ingin kehilangan kursi direktur utama PT Bagi-bagi Niaga. Iya, kan?" 
 
 "Ah, sudahlah. Yang jelas rumahku yang baru di Slipi masih kosong. Aku ingin segera mengisinya bukan dengan seorang Haruko, cukuplah dengan yang kini sedang banyak dicari."

"Saya tahu, saya tahu." 
 
 "Kata teman-teman yang sudah punya, hebat lho, Mbakyu." 
 
 "Pernah melihat anak tinggalan tentara Jepang yang kini banyak diburu itu?" 
 
 "Seorang teman menunjukkannya kepadaku. Teman itu sungguh membuat aku merasa iri. Dan dia bilang Mbakyu-lah pemasoknya." 
 
 "Barang langka selalu menarik. Seperti benda-benda antik. Atau bekisar. Dan Anda meminta saya mencarinya?" 
 
 "Langka atau tidak, antik atau bukan, aku tidak main-main, lho." 
 
 "Saya percaya Anda tidak main-main. Anda butuh bekisar untuk menghias istana Anda yang baru. Ya, bekisar, kan?" 
 
 "Bekisar bagaimana?" 
 
 "Bekisar kan hasil kawin campur antara ayam hutan dan ayam kota. Yang kini banyak dicari adalah anak blasteran macam itu, bukan? Blasteran Jepang-Melayu. Memang, Pak Han, hasil kawin campur sering menarik. Entahlah, 
barangkali bisa menghadirkan ilusi romantis, atau bahkan ilusi berahi. Khayalan-khayalan kenikmatan berahi. Eh, saya kok jadi saru." 
 
 "Entahlah, Mbakyu. Yang penting aku ingin bersenang-senang."

"Ya, saya tahu Anda beruntung, punya biaya untuk menghadirkan apa saja untuk bersenang-senang." 
 
 "Nasib, Mbakyu. Barangkah memang sudah jadi nasib. Aku merasa sejak muda nasibku baik. Dulu, pada zaman perang kemerdekaan aku melepaskan kartu domino untuk bergabung dengan para pejuang sekadar ikut ramai-ramai. Yang penting gagah-gagahan. Dan kalau kebetulan ada kontak senjata aku senang karena, rasanya, aku sedang main petasan. Jujur saja, sejak dulu aku lebih 
menikmati bunyi petasan daripada yang dibilang orang sebagai perjuangan. Pokoknya aku ikut grudak-gruduk, dar-der-dor, dan lari. Orang muda kan suka yang rusuh dan brutal. Banyak temanku mati, eh, aku sekali pun tak pernah terluka. Malah dapat pangkat letnan. Dan kini..." 
 
 "Dapat kursi direktur utama..." 
 
 "He-heh-heh... Nasib, Mbakyu, nasib." 
 
 Dan hanya tiga bulan sejak pembicaraan itu, pagi ini Bu Lanting mengirimkan potret Lasi kepada Pak Han melalui si Kacamata. Dalam pengantarnya Bu Lanting menulis, apabila suka dengan calon yang disodorkan, Pak Han harus 
lebih dulu menepati janji. Pak Han harus menyerahkan kepada Bu Lanting Mercedes-nya yang baru. Plus biaya operasi pencarian sekian juta. Bila tak dipenuhi, calon akan diberikan kepada orang lain, salah seorang bos Pertamina, perusahaan minyak milik negara. 
 
 Di ruang kerjanya, Handarbeni mengamati tiga foto yang baru diterimanya. Satu foto seluruh badan, satu foto setengahnya, dan satu lagi foto wajah close-up. Mata lelaki 61 tahun itu menyala. Tersenyum. Wajahnya hidup. Lalu 
bangkit dan berjalan ke arah cermin dan menyisir rambutnya yang sudah jarang tetapi selalu bersemir. Merapikan leher bajunya. Dan kembali ke meja untuk menatap tiga foto Lasi Nyata benar yang tergambar di sana bukan Haruko Wanibuchi meski terkesan penuh sebagai seorang gadis Jepang, bahkan alis dan rambutnya dirias mirip aktris film negeri Sakura itu. Merah kimononya persis yang dipakai Haruko dalam penampilannya pada sebuah kalender. Tetapi secara keseluruhan daya tarik yang muncul sama. Atau bahkan lebih kuat? 
 
 Ada keluguan, atau kemalu-maluan sehingga perempuan dalam foto itu terkesan tidak terlalu masak. Ah, Overste Purnawira Handarbeni sudah kenyang pengalaman. Menghadapi perempuan yang kelewat matang sering menyebalkan. Perempuan dalam foto itu juga menampilkan sesuatu yang terasa 
ingin disembunyikan, ditahan-tahan pada senyumnya yang setengah jadi. Citra keluguan perempuan kampung? Mungkin. Ah, Handarbeni teringat seloroh seorang teman. "Kenapa, ya, ayam kampung kok lebih enak daripada broiller? Apa karena ayam kampung tetap makan cacing dan serangga sementara broiller diberi makanan buatan pabrik?" 
 
 Atau, hanya karena sudah terlalu lama ngebet dengan seorang gadis Jepang, di mata Handarbeni perempuan dalam foto itu menjadi sangat cantik? 
 
 Handarbeni meraih telepon, memutar nomor dengan tergesa dan kelihatan kurang sabar menanti Bu Lanting mengangkat pesawatnya. 
 
 "Aku sudah melihat potret itu. Ah, boleh juga. Aku ingin bertemu dengan orangnya. Di mana? Di situ?" 
 
 "Eh, sabar, Raden. Perhatikan dulu baik-baik. Sebab meski ayahnya seorang Jepang tulen betapa juga dia bukan Haruko." 
 
 "Tapi mirip, kok." 
 
 "Meski demikian dia tetap bukan Haruko, kan!"

"Tak apa. Tak apa. Yang penting dia sangat mengesankan. Siapa namanya?" 
 
 "Las, Lasi... ah, bahkan saya lupa nama lengkapnya. Yang jelas, umurnya 24 dan masih punya suami." 
 
 "Tak urusan! Yang kutanya, di mana dia? Kapan aku bisa bertemu?" 
 
 "Pak Han, sudah saya bilang, sabar! Bekisar Anda ada di suatu tempat dan belum akrab dengan suasana Jakarta. Dia belum jinak. Saya sendiri harus penuh perhitungan dalam menanganinya. Sebab, salah-salah dia bisa tak kerasan dan terbang lagi ke hutan." 
 
 "Ya, ya. Tetapi sekadar ingin lihat, boleh, kan?" 
 
 "Itu bisa diatur. Pak Han, pada tahap pertama ini saya hanya ingin bilang bahwa bekisar pesanan Anda sudah saya dapat. Dan agaknya Anda berminat. Begitu?" 
 
 "Ya, ya." 
 
 "Terima kasih. Eh. Jangan lupa janji, lho." 
 
 "Tentu, tentu. Kapan bisa kukirim? Atau Mbakyu ambil?" 
 
 "Ah. saya hanya mengingatkan bahwa Anda punya janji. Semua akan saya ambil bila bekisar sudah ada di tangan Anda." 
 
 Dan Bu Lanting meletakkan gagang telepon. 
 
 Tersenyum, dan mendesah panjang. Niaga yang berliku dan rumit sudah memperlihatkan bayangan keuntungan. Si tua Handarbeni yang berkantong sangat tebal bernafsu terhadap bekisar dari Karangsoga. Namun pada saat yang sama Bu Lanting sadar, pekerjaan belum selesai bahkan sedang memasuki tahapan peka. Bu Lanting tahu, berdasarkan pengalaman ada kemungkinan bekisarnya tidak bisa jinak; menolak lelaki yang menghendakinya. Tetapi berdasarkan pengalaman pula Bu Lanting mengerti, kemakmuran adalah umpan yang sangat manjur untuk menjinakkan bekisar-bekisar kampung yang kebanyakan punya latar kemelaratan. 
 
 Bu Lanting makin sering mengajak Lasi keluar; makan-makan di restoran, belanja di Pasaraya, atau beranjang-sana ke rumah teman. Atau menghadiri resepsi perkawinan di gedung pertemuan yang megah. Lasi mulai terbiasa 
dengan sepatu, jam tangan, serta sudah bisa berbicara lewat telepon dan menghidupkan televisi. Bu Lanting mengamatinya dengan saksama dan yakin bekisar itu menikmati semuanya. Kadang Bu Lanting tersenyum bila 
memperhatikan perubahan fisik bekisarnya. Putih kulitnya makin hidup. Rambutnya bercahaya, dan bila tersenyum gigi Lasi sudah putih dan begitu indah. Tumitnya yang dulu pipih dan pecah-pecah sudah membentuk bulat telur dan halus. Lasi sudah lain, meski sisa kecanggungannya masih tampak bila 
berhadapan dengan orang yang tak dikenalnya. Dan kemarin Bu Lanting mendengar Lasi bernyanyi kecil menirukan biduan di televisi. "Bekisarku sudah jinak dan betah di kota." 
 
 Bu Lanting teringat Handarbeni yang sudah berkali-kali menelepon ingin diberi kesempaLan melihat Lasi. Kemarin-kemarin Bu Lanting selalu berusaha menunda pertemuan itu, khawatir segalanya belum siap. Tetapi sekarang lain; Bu Lanting percaya situasinya sudah matang. Sudah tiba saatnya Handarbeni dipertemukan dengan bekisar yang ingin dibelinya. Telepon pun diangkat untuk 
memberitahu Handarbeni bahwa lelaki itu boleh bertemu Lasi nanti sore di rumah Bu Lanting sendiri.

"Jadi selama ini bekisar itu ada di rumahmu?" 
 
 "Ya. Kenapa?" 
 
 "Kalau aku tahu begitu, sejak dulu aku ke situ dengan atau tanpa izinmu." 
 
 "Sudahlah. Nanti sore Anda bisa melihatnya. Tetapi tolong, Pak Han, haluslah cara pendekatan Anda." 
 
 "Halus bagaimana?" 
 
 "Halus, ya tidak kasar. Soalnya saya belum bilang apa-apa kepada Lasi. Menyebut nama atau gambaran tentang Anda pun belum." 
 
 "Jadi aku harus bagaimana?" 
 
 "Bertamulah seperti biasa sebagai teman saya jam lima sore nanti." 
 
 "Mengapa harus nanti sore? Sekarang bagaimana?" 
 
 "Saya mengerti, Pak Han, Anda tidak sabar. Tetapi jangan sekarang. Sungguh. Kami tidak siap." 
 
 "Baik, nanti sore pun jadilah. Dan apakah aku perlu membawa oleh-oleh?"

"Bila Anda sediakan buat saya, boleh. Boleh. Tetapi bukan untuk Lasi. Tak lucu, baru bertemu langsung memberi oleh-oleh. Lagi pula Anda harus yakin dulu bahwa bekisar itu memang pantas mengisi rumah Anda yang baru. Sejauh ini Anda baru melihat fotonya, bukan?" 
 
 Jam lima sore. Namun belum lagi jam tiga Bu Lanting sudah meminta Lasi mandi. Lasi mengira dirinya akan diajak keluar karena hal itu sudah terlalu sering terjadi. Apalagi selesai mandi Lasi melihat induk semangnya sudah 
berdandan. Dan pertanyaan mulai muncul dalam hati Lasi ketika Bu Lanting menyuruhnya mengenakan kimono. Lasi belum pernah diajak pergi dengan pakaian seperti itu. 
 
 "Kita mau ke mana sih, Bu? Saya kok pakai kimono?" 
 
 "Tidak ke mana-mana, Las. Kita tidak akan pergi. Aku mau menerima tamu. Tamuku ingin melihat cara orang memakai baju adat Jepang ini." 
 
 "Teman Ibu?" 
 
 "Ya tentu, Las. Masakan aku menerima tamu yang belum kukenal. Dia lelaki yang baik, Las." 
 
 Lasi agak terkejut. "Laki-laki?" 
 
 "Ya, laki-laki. Mengapa heran? Las, temanku bahkan lebih banyak lelaki daripada perempuan. Dan yang akan datang nanti orangnya baik. Sangat kaya. Rumahnya ada empat atau lima. Pokoknya sangat kaya. Nah, kamu lihat, semua temanku adalah orang-orang seperti itu."

Dan orang seperti itu ingin melihat aku dalam pakaian kimono? pikir Lasi. 
 
 Tetapi Lasi kehabisan kata-kata. Lasi tetap duduk dan diam sampai Bu Lanting menyuruhnya masuk ke kamar dan mulai berdandan. Tak lama kemudian Bu Lanting pun ikut masuk, membantu Lasi merias wajah dan menata rambut. Bu Lanting harus lebih banyak campur tangan ketika Lasi mulai memasang kimono merahnya. 
 
 "Las, aku tak pernah bosan mengatakan kamu memang gadis Jepang." 
 
 "Apa iya, Bu?" 
 
 "Betul." 
 
 "Bila saya memang gadis Jepang, bagaimana?" 
 
 "Banyak yang mau!" 
 
 Lasi terdiam, merapikan pakaiannya, lalu berjalan ke depan kaca. 
 
 "Las, bagaimana bila ada lelaki mau sama kamu? Soalnya, sudah kubilang, kamu masih sangat muda dan menarik. Tidak aneh bila akan ada lelaki, bahkan mungkin yang kaya, melirik kepadamu." 
 
 Lasi tidak segera menjawab. "Bu, saya belum berpikir tentang suami. Ibu tahu, kan, saya lari ke sini pun gara-gara suami."

"Aku mengerti, Las. Cuma, salahmu sendiri mengapa kamu cantik. Jadi salira-mu sendiri yang mengundang para lelaki. Ah, begini saja, Las. Kelak kamu kubantu memilih lelaki yang pantas jadi suamimu. Betul, kamu akan kubantu." 
 
 "Ibu kok aneh. Saya belum punya surat janda, lho." 
 
 Bu Lanting tertawa. 
 
 "Bagi seorang lelaki yang berduit, surat janda bukan masalah. Kamu akan segera memperolehnya kapan kamu suka." 
 
 "Sudah cukup, Bu?" kata Lasi mengalihkan pembicaraan. 
 
 "Ya, sudah. Dan, Las, sekarang baru jam empat kurang. Kamu tinggal dan menunggu tamu itu. Aku mau keluar sebentar. Sebentar..." 
 
 "Keluar? Bagaimana..." 
 
 "Tak lama. Betul. Syukur aku bisa kembali sebelum tamu itu datang. Bila tidak, tolong wakili aku menerimanya dan tunggu sampai aku kembali." 
 
 "Tetapi saya malu, Bu." 
 
 "Eh, tidak boleh begitu. Kamu sudah lama jadi anakku, kenapa masih malu bertemu orang? Lagian kamu tak punya sesuatu yang memalukan. Kamu cantik. Aku bilang, kamu adalah anakku dan cantik."

Lasi masih ingin mengelak namun Bu Lanting sudah bergerak membelakanginya. Lasi hanya bisa memandang induk semangnya meraih tas 
tangan di meja tengah, berjalan seperti bebek manila, keluar halaman, dan melambaikan tangan di pinggir jalan raya untuk menghentikan sebuah taksi. Suara rem berdecit. Kemudian suara pintu mobil ditutup dan derum taksi yang menjauh. 
 
 Duduk di kamar seorang diri, Lasi merasa ada kerusuhan besar dalam hatinya. Takut tak mampu mewakili Bu Lanting menerima tamunya. Takut berhadapan dengan lelaki yang belum dikenal, dan siapa dia sebenarnya? Lasi gelisah. Lasi bangkit dan duduk lagi di depan cermin besar. Dipandangnya kembaran dirinya 
dalam kaca, dan tiba-tiba rasa takutnya malah menyesakkan dada. "Jangan-jangan Bu Lanting benar, sekarang aku cantik. Dan sebentar lagi ada laki-laki datang untuk melihat aku memakai kimono?" Lasi makin gelisah. 
 
 Lamunan Lasi mendadak terputus ketika terdengar bel berdering. Duh, Gusti, tamu itu datang. Lho? Ini belum lagi jam setengah lima? Lasi bergegas menuju ruang depan, menenangkan diri sejenak, lalu memutar tombol pintu. 
 
 Lalu terperanjat. Kedua matanya terpaku pada seorang lelaki yang berdiri kurang dari dua meter di depannya. Jelas sekali lelaki itu juga kaget, sama seperti yang dirasakan Lasi. Keduanya saling tatap pada kedalaman mata 
masing-masing. Keduanya seakan mati langkah. Bibir Lasi bergetar. 
 
 Dalam pelupuk matanya yang terbuka lebar tiba-tiba Lasi melihat dirinya masih seorang bocah sedang berlari di malam terang bulan. Di belakangnya menyusul seorang bocah lelaki yang montok dan ingin bersembunyi bersama 
dalam permainan kucing-kucingan. Lasi merasa geli sebab teman ciliknya itu terlalu rapat menempel ke tubuhnya. 
 
 Bayangan masa kanak-kanak terus bermain di mata Lasi, tetapi ia mendengar lelaki di depannya mendesah panjang. Lelaki itu kelihatan sudah kenbali menguasai perasaannya. Tetapi ketika membuka mulut suaranya terdengar parau.

"Las." 
 
 "Kanjat? Oalah, Gusti, aku agak pangling!" Lasi bergerak ingin menepuk pundak Kanjat, tetapi gerakannya tertahan. Anehnya Lasi membiarkan tangannya lama dalam genggaman Kanjat. 
 
 "Ya, aku tadi juga pangling." 
 
 "Kok kamu tahu aku berada di sini?" 
 
 "Bu Koneng yang memberikan alamat rumah ini." 
 
 "Bu Koneng?" 
 
 "Ya. Aku ikut Pardi mengangkut gula. Pardi memang biasa istirahat di warung Bu Koneng. Tetapi tadi kami harus bertengkar dulu dengan pemilik warung makan itu." 
 
 "Bertengkar?" 
 
 "Ya. Karena pada mulanya perempuan itu bersikeras tak mau menunjukkan di mana kamu berada. Pardi mengancam akan memanggil polisi bila Bu Koneng tetap ngotot."




Bersambung.... 
_____________________________________________

Minggu, 02 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 09

BAGIAN KETIGA 03


Bu Lanting tertegun. Kemudian dipandangnya cincin berlian di jari manisnya. 

"Koneng menghendaki cincin yang sangat mahal ini?" 
 
 "Berikanlah," tiba-tiba si Kacamata memberi perintah. Bu Lanting menegakkan kepala dan menatap si Kacamata. Tatapan protes. Anehnya Bu Lanting menurut. Cincin itu dilepas dan dengan gerak yang berat diulurkannya kepada Bu Koneng. Cahaya kemilau membersit dari mata cincin itu ketika Bu Koneng memasukkannya ke jari manisnya sendiri. Senyumnya merekah. 
 
 Bu Koneng mendekati Lasi di dapur setelah kedua tamunya pergi. Dipamerkannya cincin baru yang melingkar di jarinya. Wajahnya meriah seperti gadis kecil mendapat sepatu baru. 
 
 "Las, lihat ini. Bagus, ya?" 
 
 "Bagus sekali. Di kampung saya hanya istri lurah atau istri Pak Tir yang bisa punya cincin seperti itu." Lasi memandang dengan kagum. "Berapa harganya, Bu?" 
 
 "Kukira bisa ratusan ribu. Mungkin malah jutaan. Tetapi aku tidak membeli kok, Las. Bu Lanting memberikan ini kepadaku sebagai hadiah. Dia memang kaya dan baik." 
 
 Mata Lasi membulat. 
 
 "Ibu yang tadi?" 
 
 "Ya."

"Dia juga mau menyapa saya ya, Bu? Tentu dia baik?" 
 
 "Memang. Maka aku percaya besok atau lusa kamu pun akan mendapat hadiah dari dia. Atau mengajakmu jalan-jalan. Kukira, bagi Bu Lanting harta tak begitu penting. Keempat anaknya sudah mapan." 
 
 "Laki-laki di samping tadi anaknya juga?" 
 
 "Hus. Itu suaminya." 
 
 Lasi kaget. Rasa menyesal tergambar jelas pada wajahnya. 
 
 "Bu Lanting memang begitu. Dia selalu mendapat suami yang pantas jadi anaknya. Hebat ya, Las?" 
 
 "Selalu?" 
 
 "Ya. Bu Lanting memang sering ganti suami atau gandengan atau semacam itu 
dan selalu mendapat lelaki muda." 
 
 Lasi tersenyum. Dan terus tersenyum meski ia tahu induk semangnya sudah masuk ke kamar pribadinya. 
 
 Keesokan harinya pasangan Lanting dan si Kacamata muncul lagi di warung Bu Koneng. Selain menjinjing tas tangan kali ini Bu Lanting mengepit bungkusan di ketiaknya. Si Kacamata berjalan di belakangnya sambil mengunyah makanan.

Tangan kanannya memegang sebuah majalah. Mereka masuk tanpa menunggu si empunya warung keluar. Si Kacamata menyambar bir dan minta gelas dengan es. Bila kemarin si Betis Kering, kini si Anting Besar yang melayaninya. Mereka langsung duduk di ruang tengah dan berseru memanggil Bu Koneng. Yang dipanggil, masih di tempat tidur, langsung bangkit karena sangat mengenal si 
empunya suara. 
 
 "Sesiang ini masih ngorok?" 
 
 "Maaf, tadi malam ngobrol sampai larut bersama Lasi. Kamu juga salah, pagi-pagi sudah datang. Tak tahu warungku memang buka malam? Maka jangan datang kemari terlalu pagi." 
 
 "Pagi? Dasar pemalas. Jam sepuluh masih kau bilang pagi? Pantas, warung ini tak maju-maju karena pemiliknya doyan ngorok. Ah, sudahlah. Mana Lasi?" 
 
 "Pasti ada. Mau ke mana, karena dia tak pernah berani keluar seorang diri." 
 
 "Baguslah. Nah, aku ingin melihat Lasi tidak pakai kain kebaya. Cobalah suruh dia memakai baju ini." 
 
 Bu Koneng mengambil bungkusan yang disodorkan Bu Lanting dan membukanya. Isinya ternyata bukan hanya baju melainkan juga pakaian-pakaian dalam. Semuanya dari mutu yang bagus. 
 
 "Karena terlalu bagus, jangan-jangan Lasi malah tak mau memakainya." 
 
 "Ah, jangan terlalu merendahkan Lasi. Meski datang dari kampung, Lasi sama seperti kita, perempuan. Pernah mendengar perempuan menampik pakaian bagus?"

Lasi sedang mencuci perabotan dapur ketika Bu Koneng memanggilnya masuk. Cepat dikeringkannya kedua tangannya lalu bergegas memenuhi panggilan induk semangnya itu. 
 
 "Nah, benar, kan, Las, Bu Lanting memang baik? Kini giliran kamu mendapat hadiah. Cobalah pakai baju ini." 
 
 Sejenak Lasi terpana menatap baju yang disodorkan Bu Koneng. 
 
 "Bu, saya tak biasa memakai baju seperti itu. Saya biasa pakai kain kebaya." 
 
 "Bila kamu tinggal di kampung, kamu memang pantas pakai kain kebaya. Tetapi, Las, di sini Jakarta. Lihat sekelilingmu. Tak ada perempuan semuda kamu pakai kain kebaya, bukan?" 
 
 Lasi kelihatan ragu. Tetapi matanya berbinar ketika sekali lagi dia menatap baju bagus itu. Ragu-ragu. Dan akhirnya tangan Lasi bergerak. 
 
 "Sudahlah, jangan banyak pertimbangan. Sana, masuk dan ganti kain kebaya lusuh itu." 
 
 Lasi menurut dan tertawa ringan. Bu Koneng tersenyum. Dalam hati Bu Koneng memuji Bu Lanting; pernah kamu lihat perempuan menampik pakaian bagus? Tetapi dalam kamarnya yang sempit Lasi berdiri termangu. Baju baru yang hendak dipakainya masih terlipat di tangan. Lasi ragu karena mendadak 
teringat Emak pernah mengatakan, tak ada pemberian yang tidak menuntut imbalan. Ya. Lasi masih ingat betul emaknya beberapa kali menekankan, tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan. Bahkan Emak waktu itu bilang, dia sendiri merasa berhak menuntut imbalan kepatuhan Lasi karena dia telah melahirkan dan menyusuinya. 
 
 Lasi sering menjumpai kebenaran ucapan Emak bahwa memang tak ada pemberian cuma-cuma. Dulu, Lasi tiap hari menerima uang dari Pak Tir karena tiap hari pula Lasi menyerahkan gula kepada tengkulak itu. Tak pernah terbayangkan Pak Tir mau memberikan uang kepadanya tanpa imbalan gula secukupnya. Lasi juga sering menerima sayur bening atau lodeh dari tetangga dan untuk itu pada lain waktu Lasi akan berbuat sebaliknya sebagai imbalan. Dan kata Eyang Mus, "Hanya pemberian Gusti Allah yang sepenuhnya cuma-cuma karena Gusti Allah alkiyamu binafsihi, tak memerlukan apa pun dari luar diri-Nya, bahkan puji-pujian dan pengakuan manusia sekalipun." 
 
 Lasi bertambah ragu. Dia percaya apa yang Emak bilang. Tetapi di tangannya kini ada baju pemberian Bu Lanting yang baru dikenalnya. Untuk kebaikan Bu Koneng yang telah memberinya tempat berteduh, Lasi sudah memberikan tenaga sebagai imbalan. Tetapi untuk orang yang telah memberinya baju yang 
kini ada di tangan, apa yang akan diserahkannya? 
 
 Tiba-tiba pintu terbuka, Bu Koneng masuk. Dan heran ketika mendapati Lasi berdiri beku dan belum berganti pakaian. 
 
 "Oh, kamu tidak bisa memakainya? Mari kubantu," ujarnya penuh semangat. 
 
 Lasi tergagap, tetapi menurut. Bu Koneng menggelengkan kepala, kagum ketika melihat dari balik kain kebaya yang usang muncul tubuh Lasi yang membuatnya iri. Kemudaannya memancar sangat mengesankan. Kulitnya yang putih makin putih setelah punggung Lasi sejenak terbuka. Rambutnya terlihat makin pekat karena tersaing oleh warna kulit yang begitu terang. Bagaimana nanti bila rambut itu sudah terkena shampoo? Bagaimana nanti bila Lasi sudah 
rajin menyikat gigi dan memakai cat bibir? 
 
 "Wah, pantas betul. Dasar baju bagus," ujar Bu Koneng. "Las, ayo keluar, biar Bu Lanting tahu bagaimana kamu sekarang."

Dibimbing Bu Koneng, Lasi melangkah keluar dengan canggung. Dan makin canggung setelah Lasi berada dalam jarak tatap Bu Lanting dan si Kacamata. 
 
 "Rasanya, rasanya, rok ini terlalu pendek," kata Lasi terbata dan salah tingkah. 
 
 "Ah, siapa bilang. Lagi pula betismu bagus, tak perlu ditutup-tutupi." 
 
 Bu Lanting tersenyum. Matanya menyapu sekujur tubuh Lasi. Sambil menyuruh Lasi duduk, Bu Lanting malah bangkit. Meminta sisir kepada Bu Koneng, perempuan tambun itu kemudian berdiri di belakang Lasi. Tangannya bergerak mengurai rambut Lasi yang tersanggul lalu menyisirnya pelan-pelan. Lasi kikuk tetapi senang karena merasa diakrabi demikian rupa, bahkan dimanjakan. Lasi 
menyukai bau parfum yang dipakai Bu Lanting. 
 
 "Las," kata Bu Lanting yang terus menyisir rambut Lasi. 
 
 "Ya, Bu." 
 
 "Koneng bilang, kamu lari ke sini untuk mencari ketenangan hati, bukan?" 
 
 "Ya." 
 
 "Apa kamu bisa tenang tinggal di warung yang penuh orang? Apa kamu senang tinggal bersama perempuan-perempuan jajanan? Lho, salah-salah kamu disangka orang sama seperti mereka."

Lasi diam, hanya menelan ludah dan menunduk. 
 
 "Las." 
 
 "Ya, Bu." 
 
 "Sebaiknya kamu tidak tinggal di sini. Kamu boleh ikut aku. Rumahku cukup besar dan ada kamar kosong. Bagaimana?" 
 
 Lasi termenung. Tiba-tiba Lasi teringat pada rumahnya sendiri di Karangsoga. Telinganya mendengar gelegak nira mendidih. Hidungnya mencium wangi tengguli yang hampir kental. Bayangan Darsa berkelebat. Jantung Lasi berdetak keras. Rasa marah dan muak menyesakkan dada. Dalam rongga matanya, Lasi melihat Mbok Wiryaji, emaknya, memanggil pulang. Mata Lasi basah. Lasi 
terisak. Bingung. Tinggal di warung Bu Koneng memang risi, kadang gerah. Pokoknya tidak enak tinggal seatap dengan si Anting Besar dan si Betis Kering. Mereka memajang diri di warung Bu Koneng lalu berangkat bersama lelaki yang membelinya. Malah Lasi mengerti, kadang-kadang mereka melayani lelaki di 
kamar belakang. Tetapi untuk menerima tawaran Bu Lanting, Lasi ragu. Lasi belum tahu siapa perempuan yang kini sedang menyisiri rambutnya itu. 
 
 "Lho, kok malah menangis. Aku tidak memaksa kamu, Las. Kalau kamu suka tinggal di kamar sempit dan sumpek di sini, ya terserah." 
 
 "Bukan begitu, Bu." 
 
 "Lalu?" 
 
 "Bagaimana nanti dengan Bu Koneng? Apa dia tidak keberatan? Nanti siapa yang membantunya masak dan cuci piring?"

"Aku? Jangan repot memikirkan aku. Bila kamu senang ikut Bu Lanting, ikutlah. Aku bisa cari orang lain untuk membantuku. Atau begini, Las. Kamu memang pantas ikut Bu Lanting. Percayalah. Kamu tidak layak tinggal di tempat ini. Kamu ingat ketika ada lelaki mau nakal kepadamu, bukan?" 
 
 Lasi mengangguk. 
 
 "Nah. Jadi terimalah tawaran Bu Lanting. Kamu akan senang tinggal bersama dia." 
 
 Lasi masih terdiam. 
 
 "Lho, bagaimana?" 
 
 "Bu Koneng, bila esok atau lusa Pardi datang kemari, bagaimana?" 
 
 "Itu gampang. Akan kukatakan kamu ikut Bu Lanting. Bila Pardi meminta, dia akan kuantar menemuimu. Itu gampang sekali." 
 
 Lasi menyeka air mata dengan punggung tangannya. Rambutnya selesai disisir dan tidak disanggul kembali. Rambut itu dilipat dua oleh Bu Lanting lalu diikat model ekor kuda. Bu Lanting tersenyum puas, tak peduli Lasi sendiri masih sibuk dengan air matanya. 
 
 "Nah, benar. Kamu memang cantik. Kamu akan dibilang orang mirip Haruko, eh, Haruko siapa?" kata Bu Lanting sambil menoleh kepada si Kacamata.

"Haruko Wanibuchi," jawab si Kacamata. 
 
 "Ya, betul, Haruko Wanibuchi. Hanya sayang, gigimu tak gingsul. Nah, kalau sudah cantik demikian, kamu masih mau tinggal di warung ini apa mau ikut aku?" 
 
 Sekali lagi Lasi tercenung. Ia ingin menggelengkan kepala tetapi tiba-tiba Lasi 
sadar dirinya sudah mengenakan baju bagus pemberian Bu Lanting. Karena alam pikirannya yang sahaja, Lasi merasa wajib memberi sesuatu karena dia telah menerima sesuatu. Dan sesuatu itu setidaknya berupa kesediaan 
menerima tawaran Bu Lanting. 
 
 "Las, aku ingin jawabanmu, lho." 
 
 "Ya, Bu. Saya mau ikut. Saya bisa cuci piring." 
 
 "Jangan pikirkan itu. Aku tahu yang kamu perlukan adalah ketenangan untuk melupakan sakit hati karena dikhianati suami. Pokoknya kamu ikut aku dan istirahatlah di rumahku. Tempat ini tidak baik buat kamu. Itu saja." 
 
 "Ya, Bu." 
 
 Dan air mata Lasi kembali meleleh. 
 
 
                           *****


Bu Lanting tidak bohong ketika dia bilang bahwa rumahnya besar. Juga tidak bohong tentang sebuah kamar kosong yang tersedia bagi Lasi. Kamar itu ada dan pada hari-hari pertama Lasi ikut menjadi penghuni rumah besar itu kecanggungan hampir membuatnya memutuskan kembali ke warung Bu Koneng. 
Kamar besar dan terang dengan dipan kayu jati dan kasur tebal membuat Lasi merasa sangat asing. Apalagi ada lemari, ada meja rias yang merupakan perabot yang buat kali pertama disediakan untuk dirinya. 
 
 Pada malam-malam pertama menghuni kamar itu Lasi tak bisa tidur. Ia teringat biliknya di kampung dengan balai-balai bambu, berpelupuh, beralas tikar pandan. Pelupuh bambu dan tikar telah begitu akrab dengan kulitnya sehingga kasur busa, meski sangat empuk, terasa kurang nyaman. Panas. 
Keterasingan juga sangat menggelisahkan Lasi. Dia merasa terdampar ke suatu dunia lain. 
 
 Karena sulit memejamkan mata seorang diri di tengah malam Lasi sering merenung dan bertanya tentang lakon yang sedang dialaminya. Mengapa Karangsoga, tanah kelahirannya, sejak Lasi masih bocah tak pernah ramah kepadanya? Apa kesalahannya sehingga rumah tangganya tiba-tiba berubah 
menjadi sepanas tungku dan Lasi tak mungkin bisa bertahan? Mengapa dia kini tinggal dalam sebuah rumah gedung bersama seorang yang bukan sanak, bukan pula saudara. Dan apa yang akan dilakukan selanjutnya di tempat yang asing ini? 
 
 "Nah, apa kubilang. Kamu sangat cantik, bukan? Kamu bukan anak kampung lagi. Dasar ayahmu Jepang, nah, kamu sekarang kelihatan aslinya, gadis Jepang yang cantik," kata Bu Lanting. 
 
 Lasi tertawa ringan. Matanya berkaca-kaca. Hatinya melambung, seperti dalam mimpi. 
 
 "Las."

"Ya, Bu." 
 
 "Enak lho, jadi orang cantik." 
 
 "Enak bagaimana, Bu?" 
 
 "Dengan modal kecantikan, perempuan muda seperti kamu bisa memperoleh apa saja." 
 
 "Saya tidak mengerti, Bu. Dan apa betul saya cantik?" 
 
 "Lho, lihat sendiri potret itu. Sekarang kamu jauh lebih pantas dibilang gadis Jepang daripada gadis... eh, mana kampungmu?" 
 
 "Karangsoga, Bu." 
 
 "Ya. Karangsoga. Dan sekarang aku mau tanya kepadamu, Las, bila kamu sudah begini, apakah kamu tak menyesal pernah menjadi istri seorang penyadap? Mending penyadap yang setia; suamimu malah berkhianat dan menyakitimu, bukan?" 
 
 Lasi mengangkat muka sejenak lalu menunduk. Senyumnya kaku, bahkan kemudian Lasi mendesah panjang. 
 
 "Las, maksudku begini. Karena masih muda dan menarik, bagaimana bila suatu saat kelak ada lelaki menginginkan kamu? Atau, apakah kamu masih ingin kembali kepada suamimu?" 
 
 Lasi cepat menggeleng. Dan air matanya cepat mengambang. 
 
 "Kamu betul. Buat apa kembali kepada suami yang brengsek. Kalau kamu tak ingin kembali, namanya kamu bisa menyayangi dirimu sendiri. Dan percayalah, kamu akan cepat mendapat suami baru. Siapa tahu suami yang baru nanti adalah lelaki kaya. Tidak aneh, Las, soalnya kamu layak punya suami berduit." 
 
 "Tetapi, Bu, saya tidak memikirkin masalah suami..." 
 
 "Ya, aku mengerti, mungkin hatimu masih gonjang-ganjing. Maksudku, entah kapan nanti kamu toh membutuhkan seorang pendamping. Iya, kan? Dan aku percaya, pendampingmu nanti bukan seorang penyadap. Kamu sudah menjadi terlalu cantik bagi setiap lelaki Karangsoga." 
 
 "Apa iya, Bu?" 
 
 "Betul." 
 
 Lasi sering tak percaya mengapa dirinya bisa kelihatan sangat berbeda. Bahkan dalam keadaan tanpa rias pun Lasi merasa dirinya sudah berubah. Mungkin karena sudah lebih dari dua bulan kulitnya tak terjerang api tungku pengolah nira. Jemarinya lembut karena tak lagi memegang-megang kapak pembelah 
kayu api. Selalu memakai alas kaki. Dan Bu Lanting sudah mengajarinya duduk di depan kaca rias sambil memoles-moles segala cairan dan bedak kecantikan. Bibirnya kadang menyala dengan warna merah. 
 
 Pada awalnya Lasi merasa malu dan canggung karena tak terbiasa dengan alat-alat kecantikan itu. Namun karena Bu Lanting terus mendorongnya, dan Lasi sendiri kemudian merasa senang karena jadi tambah ayu, Lasi melakukannya dengan sepenuh hati. Bahkan bersemangat. Atau sebenarnya Lasi terpacu oleh pertanyaan Bu Lanting, "Tidak menyesal pernah menjadi istri penyadap karena 
sesungguhnya kamu cantik?" 
 
 Menjadi istri penyadap bukan hanya berarti tiap hari terjerang panasnya api tungku dan bekerja sangat keras tetapi juga hidup miskin seumur-umur. Badan tak pernah dilekati baju yang baik, tak punya perhiasan apalagi alat 
kecantikan. Lasi teringat betapa berat mengolah nira pada waktu hari-hari hujan. Nira kurang bernas karena tercampur air dan kayu api lembap. Dalam pengalamannya jadi istri penderes beberapa kali Lasi terpaksa membakar pelupuh satu-satunya tempat tidur karena kehabisan kayu kering. Belum lagi, 
dalam cuaca yang banyak mendung, nira cepat berubah masam dan hasil pengolahannya adalah gula gemblung yang persis aspal, merah kehitaman dan tak laku dijual. Bila hal demikian yang terjadi berarti tak ada uang belanja karena bukan hanya Lasi, hampir semua keluarga penyadap tak pernah mampu 
menyimpan uang cadangan. 
 
 Meskipun demikian mungkin Lasi tidak akan pernah menyesal menjadi istri penyadap karena segala kekurangan itu adalah hal biasa bagi semua perempuan sesamanya. Tetapi Lasi merasa semua harus dipertanyakan kembali karena Darsa sontoloyo. Atau bila Lasi tidak telanjur merasakan enaknya tinggal 
bersama Bu Lanting. Lasi tak pernah keluar keringat tetapi segala kebutuhan tercukupi: baju-baju bagus, anting, jam tangan, bahkan sepatu yang dulu tak pernah terbayang akan dimilikinya. Sangat jauh berbeda dengan pengalaman menjadi istri penyadap. Dulu, hanya untuk membeli selembar kain batik 
kodian, Lasi harus menabung sampai berbulan-bulan. Hal itu bahkan tak bisa dilakukan tanpa mengurangi jatah makan. Atau, untuk memiliki dua gram cincin emas 18 karat Lasi hanya mengalaminya dalam mimpi. 
 
 Tetapi aneh, Lasi masih sering bertanya dalam hati; orang kok bisa sebaik Bu Lanting? Apakah karena dia, seperti pernah dikatakannya, sudah menganggap Lasi sebagai anak sendiri? Mungkin Bu Lanting pernah bilang dirinya kesepian karena kelima anaknya memisahkan diri dan tak pernah datang lagi. Bu Lanting 
bilang terus terang, anak-anak itu marah karena hubungan ibu mereka dengan si Kacamata. Ya, si Kacamata itu. Sejak kali pertama melihatnya Lasi pun sudah tidak menyukainya. Takut. Untung, ternyata si Kacamata tidak tinggal di rumah itu. Jadi berar kata Bu Koneng dulu bahwa si Kacamata itu sopir atau pacar atau suami Bu Lanting. Tidak jelas.

Atau, seperti juga pernah dikatakan sendiri, Bu Lanting ingin menolong Lasi mencarikan ayahnya atau paling tidak keluarganya. Bu Lanting bilang punya beberapa teman bekas tentara Jepang yang kini memimpin pabrik-pabrik besar di Jakarta. "Orang Jepang rapi. Mereka mungkin punya catatan tentang teman-
teman mereka yang hilang dalam perang. Dari catatan itu bisa dicari keluarganya di Jepang. Las, kamu punya kemungkinan bertemu dengan keluarga ayahmu." 
 
 Cerita tentang kennungkinan bertemu ayahnya adalah mimpi yang selalu mendebarkan dada Lasi. Mimpi itu muncul dari tumpukan ketidakpastian masa lalu yang mengurung Lasi sejak kanak-kanak. Tetapi mungkinkah mimpi itu berubah menjadi kenyataan? Lasi bertemu ayah kandung atau paling tidak keluarganya? Lasi sering bilang dalam hati bahwa hal itu hampir tak mungkin. Namun sering juga keyakinannya berubah. Bila Gusti Allah berkehendak, apa pun bisa terjadi. Dan bila mengingat kemungkinan bertemu ayahnya selalu membuat Lasi berdebar. Bahkan takut. Atau, ketika Lasi duduk di depan kaca rias, secara tak sadar dia sedang mematut diri agar cukup pantas bila nanti bertemu ayah kandungnya. 
 
 Anehnya, sesering berkhayal bertemu dengan ayahnya, sesering itu pula Lasi teringat emaknya, teringat rumahnya di Karangsoga. Di tengah musim hujan seperti ini, pikir Lasi, orang Karangsoga biasa sedang panen padi darat. Sebelumnya, panen jagung. Lasi ingin meniup serunai, duduk di bawah logondang yang rimbun di pinggir Kalirong. Lasi mencium bau batang padi darat ketika angin bertiup. Telinganya mendengar suara lengking gadis-gadis Karangsoga mengusir punai yang nebah padi. Matanya melihat hamparan padi darat menguning menutup tegalan yang bertepi deretan pohon kelapa yang disadap. 
 
 Lasi bahkan melihat dirinya sendiri berjalan sepanjang lorong sempit yang membelah tegalan. Ada rumpun kecipir dengan bunganya yang biru sedang dirubung kumbang. Tangan Lasi menyibak-nyibak rumpun padi yang 
melengkung melintang lorong. Punggung telapak kakinya basah oleh embun yang tersisa meski matahari sudah cukup tinggi. Betisnya perih tergesek daun padi. Ada belalang kayu terbang dengan sayap arinya berwarna merah tua. Ada kinjeng tangis, semacam riang-riang kecil yang terus berdenging. Kicau burung 
ciplak yang terbang berputar-putar di atas hamparan padi. Gemercik air bening Kalirong yang mengalir timbul dan menyusup di sela bebatuan. Dan Lasi terkejut ketika melihat seekor lebah terbang tepat ke arah wajahnya. 
 
 Lasi tersadar. Potret di tangannya jatuh. Menengok kiri-kanan, dan Bu Lanting tak kelihatan lagi. Lasi membungkuk untuk memungut potretnya. Duduk lagi dan matanya menatap tembok putih. Tetapi tiba-tiba tembok itu menjadi layar dan di sana muncul rumahnya yang hampa dan sunyi di Karangsoga. Dari rumah yang kecil itu bermunculan semua orang Karangsoga. Darsa dan Sipah berada di 
antara mereka. Orang-orang itu berbanjar di halaman lalu bersama-sama menjulurkan lidah masing-masing ke arah Lasi. Cepat Lasi memejamkan mata, mengubah dirinya menjadi kepiting raksasa, dan menjepit putus leher semua orang Karangsoga. 
 
 "Las..." suara Bu Lanting mengejutkan Lasi. 
 
 "Ya, Bu," Lasi tergagap. 
 
 "Ambilkan penyemprot obat serangga. Mawarku dirubung semut."




Bersambung... 
______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...