Kamis, 01 April 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 06

BAGIAN KEDUA 02




Demi Tuhan, sesungguhnya aku pribadi berada dalam pendapat ini. Ada tangan-tangan kotor menyelinap dan mencatut nama pasukan Republik untuk mencegah anak-anak Hizbullah 
dilebur menjadi tentara resmi. Berdasarkan pendapat ini aku setuju dengan kelompok yang ingin mencari kejelasan mengapa bisa terjadi pertempuran di rel kereta api itu. Komandan pasukan Republik pasti bisa menjelaskan kekaburan itu dengan sejujur-jujurnya. Namun pikiran yang jernih demikian hanya merupakan suara dari kelompok yang lebih kecil. Sebagian besar anggota pasukan Hizbullah sudah terbakar emosi dan langsung menganggap pasukan Republik bertanggung jawab atas terjadinya pertempuran kemarin. Aku mulai mendengar suara yang menyebut akan dibentuknya kekuatan bersenjata baru: Angkatan Oemat Islam atau AOI, yang hampir semua anggotanya adalah bekas Hizbullah. Jelas sekali gerakan ini anti Republik dan mencita-citakan sebuah bentuk negara baru.

Dalam kegalauan suasana seperti itu, aku teringat Kiai Ngumar. Orang seperti Kiai Ngumar pasti tidak akan menyetujui gerakan ini, betapapun ia menggunakan sebutan Islam. Entah lah, aku pun akan sependapat dengan kiai yang sangat kuhormati itu. Tetapi di Somalangu saat itu pikiran pribadiku lenyap 
digulung oleh emosi massa yang bersenjata. Apalagi satu hari kemudian datang serbuan dari pasukan Republik. Ya Tuhan, kemarin aku hampir dilantik menjadi anggota pasukan resmi itu, namun sekarang aku harus menghadapinya. Sebenarnya hatiku sendiri tak rela menganggap mereka musuh. Tetapi di 
dalam kancah pertempuran aku harus memilih satu di antara dua: menembak atau tertembak.

Sebenarnya anak-anak Hizbullah yang sudah merasa menjadi AOI bertempur dengan semangat amat tinggi, namun karena kalah dalam jumlah dan peralatan, kami terdesak dan terus terdesak. Pada hari keempat aku, Kiram, dan Jun sepakat untuk meloloskan diri ke barat, kembali ke kampung. Tak seorang pun dari kami bertiga terluka. Namun aku merasa Kiram dan Jun terluka jiwanya dengan begitu parah. Keduanya membawa dendam yang amat sangat. Dengan jiwa yang terluka 
seperti itu Kiram dan Jun tahu kepada siapa harus mengadu: Kang Suyud. Tetapi sebelum sampai ke rumah Kang Suyud, aku membawa mereka bertemu Kiai Ngumar. Kiai yang sudah 
tua itu terlihat begitu sedih ketika aku bercerita tentang apa yang kami alami di Kebumen. Bahkan Kiai Ngumar meneteskan air mata setelah tahu kami benar-benar sudah menjadi 
musuh tentara Republik.

“Innalillahi, tak kusangka akan menjadi begini,” keluh Kiai Ngumar.

“Kiai, sekarang apa yang pantas kami lakukan?” aku bertanya.

“Istirahatlah di sini sampai suasana agak jernih. Dan yang penting, jangan teruskan permusuhan kalian dengan tentara Republik. Jangan.”

“Tetapi mereka memusuhi kami,” potong Kiram. “Kini kami mereka sebut pemberontak. Malah saya juga sangat yakin mereka akan mengejar kami sampai ke sini.”

“Ya, aku mengerti,” kata Kiai Ngumar, mencoba meredam kemarahan Kiram. “Namun aku ingin berusaha menjadi perantara buat kalian dan mereka.”

“Kiai percaya bisa memberi mereka pengertian?”

“Bismillah, akan kucoba.”

“Kukira sudah terlambat,” ujar Kiram masih dengan nada panas. “Karena kami sudah empat hari bertempur. Saya juga tak mungkin lupa peristiwa di rel kereta api itu, ketika anak-
anak yang mau naik kereta api diberondong.” Urat pipi Kiram menegang.

“Ya, Kiai,” sela Jun. “Bagaimana kami bisa menerima perlakuan itu sementara iktikad kami waktu itu adalah bergabung dengan mereka.”

“Sabar, Nak. Innalillaha ma’as shabirin. Kalian sendiri punya praduga adanya pengkhianatan oleh orang-orang yang mencatut nama tentara Republik. Dan sangat boleh jadi pengkhianat 
itu adalah anak-anak komunis. O, Nak. Aku punya pengalaman belasan tahun bergaul dengan mereka. Aku tahu, mereka tidak segan menempuh cara yang paling kotor sekalipun untuk mencapai keinginan mereka. Jadi sabarlah. Redam dulu kemarahan kalian. Aku akan mencari hubungan dengan tentara 
Republik.”

“Percuma, Kiai….”

“Kiram, aku minta kamu menghargai iktikad baik Kiai Ngumar. Orang tua ini mau berjerih payah mencari kebaikan buat kita.”

“Mid! Bila kamu mau lembek seperti itu, silakan. Namun aku tidak. Pokoknya aku tak mau dikhianati. Kiai, saya minta permisi.”

Kiram keluar dengan wajah sangat pahit dan Jun mengikutinya. Aku memperhatikan mereka dengan hati amat masygul. Aku tetap tegak sampai kedua temanku itu lepas dari halaman dan menempuh jalan kampung ke arah barat. Dugaanku sangat kuat, pastilah Kiram dan Jun akan menemui Kang Suyud.

Kiai Ngumar masih duduk dan kelihatan makin sedih. Lalu bergumam seperti kepada dirinya sendiri.

“Wah, aku sudah berhasil membujuk Kiram dan Jun untuk mau dilebur ke dalam tentara Republik dan hal itu adalah seruan pemerintah sendiri. Kalau bukan karena tangan-tangan 
kotor telah mengacaukan kebaikan ini, takkan mungkin terjadi pertempuran antara anak-anak yang mau dilantik melawan tentara Republik. Tak mungkin. Dan tangan kotor itu, aku yakin, memang anak-anak komunis.”

“Tetapi, Kiai, diam-diam saya mengakui kebenaran kata-kata Kiram. Keadaan memang telanjur jadi serbasulit. Tentara Republik sudah telanjur menganggap kami pemberontak, atau 
lebih buruk lagi.”

“Ya, Mid. Dan itulah yang membuat aku merasa sangat sedih karena aku tahu sebenarnya kalian mau bergabung dengan mereka, tetapi akhirnya malah jadi begini.”

“Kiai, saya tidak ingin mengikuti Kiram dan Jun. Saya mau meletakkan senjata dan kembali ke masyarakat. Tetapi saya masih memerlukan perlindungan Kiai, sebab seperti sudah dikatakan Kiram, sangat mungkin tentara Republik akan menangkap saya.”

Kiai Ngumar mendesah. Senyumnya mengembang meskipun terasa tawar.

“Mid, keputusanmu sangat baik. Kamu bisa bersikap dewasa. Baiklah. Tinggallah di sini sampai keadaan benar-benar aman. Nanti kamu bisa jadi guru atau apa saja. Yang penting, sekarang kamu letakkan senjata karena hubunganmu dengan tentara Republik sudah dikotori orang.”

Aku sangat percaya akan kesungguhan Kiai Ngumar. Kata-kata dan jaminan perlindungannya tak sedikit pun aku ragukan. Namun hari-hari semasa tinggal bersama orang tua itu tak cukup memberi aku ketenangan. Malam hari aku sulit memejamkan mata, khawatir sewaktu-waktu datang tentara Republik yang akan menangkapku. Bila sampai tertangkap, aku 
yakin, tak ada hukuman lain kecuali tembak mati. Bahkan di siang hari pun aku tak bisa merasa tenang. Terasa seolah-olah ada mata yang selalu mengikuti gerak-gerikku. Dan perasaan demikian sangat beralasan; terbukti pada suatu siang, selepas lohor, datang seseorang memberitahu Kiai Ngumar bahwa ada empat tentara turun dari truk di depan pasar.

Aku dan Kiai Ngumar yang masih berada di surau segera menyadari siapa yang datang dan siapa pula yang mereka cari. Kiai Ngumar menyuruh aku segera menyingkir dan menyembunyikan senjataku di tempat yang aman. Namun sebelum aku sempat berbuat sesuatu, empat tentara itu sudah muncul di 
halaman rumah Kiai Ngumar. Aku menyadari bahwa keadaan sangat genting, tetapi Kiai Ngumar kelihatan tenang. Ia melepas kopiahnya dan cepat-cepat memasangkannya di kepalaku dan berbisik, “Salatlah terus, sementara aku menemui mereka. Taruh bedilmu di balik beduk.''

Meskipun dengan hati tak keruan, aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menuruti perintah Kiai Ngumar. Dalam salat yang sama sekali tak khusyuk itu, aku mendengar Kiai Ngumar 
membuka pintu surau dan menyambut kedatangan keempat tentara itu.

“Selamat siang. Kami tentara Republik. Apakah Bapak bernama Kiai Ngumar?” tanya salah seorang tentara itu dengan suara kering.

“Ya, betul. Saya Ngumar. Sampean mencari saya?”

“Ya. Tetapi perintah yang kami terima adalah mencari dan menangkap Kiram, Amid, dan Jun. Mereka adalah orang-orang bersenjata yang melawan pasukan Republik.”

“O, begitu. Apakah tidak lebih baik kita berbicara di dalam?”

“Tak perlu.”

“Tetapi Kiram atau Jun tak ada di sini. Mereka belum lama pergi.”

Bulu kudukku meremang mendengar ucapan Kiai Ngumar. 

Hebat, dalam keadaan sangat gawat, orang tua itu tak mau berbohong dengan tidak menyebut namaku bersama Kiram dan Jun. apabila tentara itu mendengarkan dengan saksama, 
mereka seharusnya curiga bahwa aku tidak pergi bersama kedua kawanku.

“Bapak bisa dipercaya?”

“Insya Allah, ya.”

“Kami akan menggeledah rumah Bapak.”

“Silakan.”

Kudengar suara langkah sepatu berpaku masuk ke rumah Kiai Ngumar. Kudengar anak kecil menangis ketakutan. Ia adalah cucu Kiai Ngumar yang tinggal bersama kakeknya. Ada 
barang-barang disingkirkan dengan kasar. Tubuhku mulai gemetar dalam posisi tahiyat akhir. Kesadaranku bahkan terasa melayang ketika kudengar pintu surau dibuka dengan kasar.

Cukuplah Allah menjadi wakilku, itulah kesadaran terakhir ketika aku menanti suara senjata meletus di belakangku. Atau lengan kasar yang akan mencekal tengkukku dari belakang. Sedetik dalam kelengangan yang amat sangat tegang. Kudengar denging di telingaku sendiri. Mataku yang memejam 
masih melihat ribuan bintang berhamburan. Dan aku tersentak ketika mendengar suara keras: pintu surau ditutup lagi. Tentara itu pergi, padahal tak ada sesuatu mengalingi pandangan mereka terhadap diriku karena surau itu adalah ruang tunggal yang tak seberapa luas. 

Aku merasa terlepas dari ketegangan yang begitu mencekam. Namun ketegangan lain mulai datang. Pasukan yang ingin menangkapku mulai berlaku kasar terhadap Kiai Ngumar.

“Kami tak dapat menemukan mereka di sini, tetapi Bapak harus bertanggung jawab atas perlawanan mereka terhadap pasukan Republik!”

“Maksud sampean bagaimana?”

“Bapak boleh pilih: tunjukkan di mana mereka berada atau Bapak sendiri kami bawa sebagai ganti mereka. Pilih!” Lengang. Aku belum berani bergerak dari posisi tahiyat, sehingga aku tak mungkin melihat mereka yang sedang bersitegang di halaman.

“Ya, bawalah aku kepada komandan sampean. Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan ketiga anak itu.”

Kemudian kudengar langkah sepatu menjauh. Lalu tangis istri Kiai Ngumar dan cucunya. Aku bangkit dan melihat ke luar. Masih sempat kusaksikan Kiai Ngumar berjalan diiringi empat orang bersenjata. Tiba-tiba aku merasa diriku sangat kecil dan hina. Kiai yang sudah tua itu terlalu banyak berkorban untuk aku dan teman-temanku. Dan kini beliau dibawa pergi, entah bisa kembali atau tidak. Oh, andaikan Kiai Ngumar mendapat hukuman berat karena pembelaannya terhadap kami, apa yang bisa kami lakukan untuk membalas budinya?

Malam hari aku berusaha mencari Kiram dan Jun ke rumah Kang Suyud, tetapi keduanya tak ada di sana. Kang Suyud yang menemuiku dengan wajah dingin hanya bilang bahwa 
Kiram dan Jun sedang mencari berita. Ketika kutanya apa yang dimaksud, Kang Suyud mulai menyebut-nyebut nama Darul Islam, nama yang baru pertama kali kudengar saat itu. Dari 
pertemuan itu aku tahu, Kang Suyud sudah mempunyai suatu rencana yang mendalam, yang aku sendiri tak mudah memahaminya. Yang jelas, terasa benar Kang Suyud sudah tak 
sepaham lagi dengan Kiai Ngumar, suatu hal yang membuat aku benar-benar sedih. Kang Suyud mengatakan Kiai Ngumar adalah seorang kiai republiken yang kena pengaruh van Mook, seorang politikus dalam Islamolog Belanda yang ulet dan cerdas. Entahlah. Yang jelas aku sangat dipusingkan oleh kenyataan bahwa Kiai Ngumar kini ditahan oleh pasukan Republik. 

Aku benar-benar pusing.

Mungkin kepusinganku akan sangat berkepanjangan apabila Kiai Ngumar tidak muncul seminggu kemudian. Berita kepulangan Kiai Ngumar kudengar dari tempat persembunyianku melalui kabar dari mulut ke mulut yang sampai kepadaku dengan cara rahasia. Hasrat untuk bertemu dengan kiai tua itu sangat mendesak di hatiku, tetapi aku harus benar-benar waspada karena sadar—aku, Kiram, dan Jun adalah orang-orang yang diburu. Ah, aku sering berpikir betapa malangnya kami ini. Dulu, kami harus selalu waspada terhadap mata-mata atau siapa saja yang menjadi kaki-tangan Belanda. Sekarang, kami harus berjaga-jaga dari kejaran tentara Republik, padahal setidaknya aku sendiri, sama sekali tak punya sedikit pun rasa permusuhan terhadap mereka.

Pada hari ketiga sejak kepulangan Kiai Ngumar, aku merasa tidak tahan lagi. Aku harus berbicara dengan orang tua itu. Kupilih saat muncul fajar untuk menemui Kiai Ngumar di suraunya, untuk mengurangi risiko terlihat oleh orang lain. Maka dini hari aku keluar dari rumah tempat aku menyembunyikan diri dan menunduk-nunduk ke arah surau Kiai Ngumar. Di bawah pohon serut aku berhenti, bahkan berjongkok, menunggu suara terompah Kiai Ngumar bila ia berjalan ke perigi.

Kokok ayam pertama sudah terdengar. Langit timur mulai merona terang. Aku tahu betul pada saat seperti itu Kiai Ngumar keluar untuk salat subuh. Pada zaman normal, banyak orang dan anak muda ikut berjamaah. Namun sejak ada perang, Kiai Ngumar hampir selalu salat seorang diri. Dan benar, suara terompah sudah terdengar seperti ingin mengusik 
kelengangan pagi. Aku tersenyum seorang diri karena merasa pasti akan berhasil berbicara dengan Kiai Ngumar. Aku bangkit. Tetapi tiba-tiba naluriku bilang ada bahaya. Aku mende-
ngar sesuatu yang patah karena terinjak. Dan di bawah remang sinar gemintang aku melihat sosok yang bergerak mengendap-endap. Sejenak aku bertahan hingga kupastikan sosok itu me-mang menginginkan diriku. Ya. Aku yakin orang yang mengendap-endap itu memang mau menangkap aku. Kalau mau, 
aku bisa mendahuluinya menembak, namun aku memilih lari. Sedetik kemudian terdengar letusan senjata di belakangku. Aku terus lari. Kegelapan tak begitu menjadi rintangan karena aku berlari di tanah kelahiran yang kukenal baik sampai ke liku-likunya yang paling kecil.

Semula aku bermaksud bersembunyi di rumah Kang Suyud. Ah, tidak. Aku percaya, di sana pun aku tak aman. Maka selagi hari belum terang aku terus berlari cepat menuju perbukitan di seberang sungai. Pada saat itu aku hanya punya satu pikir-an: aku harus menyusul Kiram dan Jun di mana pun mereka 
berada, karena pasukan Republik bukan hanya menutup pintu bagiku, melainkan sudah menghendaki kematianku. Ketika hendak menyeberangi sungai, kulihat kabut tipis melayang di atas permukaan air. Sudah kubayangkan dinginnya air sungai pada pagi hari di musim kemarau, tetapi aku harus terjun dan menyeberang.

Ternyata tidak mudah menemukan Kiram dan Jun. Tetapi tanpa sengaja aku malah ketemu Kang Suyud pada hari ketiga, di surau kecil di sebuah desa di pinggir hutan, jauh dari kampung asal kami. Dan entahlah, pada pertemuan dengan Kang Suyud itu aku merasa tak sanggup lagi melepaskan diri dari 
pengaruhnya.

“Mid, sekarang kamu mau apa? Kamu tak punya jalan lain kecuali ikut aku. Dulu pun aku sudah bilang, selama ada anak-anak komunis dalam pasukan Republik, aku tak mau bergabung dengan mereka. Sekarang kejahatan mereka terbukti, bukan?"

Aku diam. Dalam hati aku siap membantah bila Kang Suyud menuduh semua anggota pasukan Republik sudah terpengaruh komunis. Aku masih ingat ucapan Kiai Ngumar bahwa 
beberapa kenalannya, bahkan ada pula seorang kiai, menjadi komandan pasukan resmi itu.

“Atau kamu mau menyerahkan diri? Percuma, Mid. Kamu sudah dianggap pengkhianat dan bila menyerahkan diri kamu akan dikenai hukum perang. Artinya, pasti kamu akan ditembak mati.”

Aku masih diam. Dan kali ini aku sungguh-sungguh bisa membenarkan kata-kata Kang Suyud.

“Kiram dan Jun di mana?”

“Tunggu mereka di sini. Malah Jalal juga sudah bergabung. Kita sudah resmi menjadi anggota laskar Darul Islam. Kita sudah punya negara sendiri, Negara Islam Indonesia.”

Negara Islam Indonesia? Aku teringat Kiai Ngumar. Teringat ketika ia bersaksi bahwa dalam iman yang teguh Kiai Ngumar dengan sadar memilih Republik Indonesia yang sudah 
berdiri dengan sah. Aku juga teringat kata-kata orang tua itu bahwa dalam suatu negara yang sah, di dalamnya tak boleh ada suatu bentuk negara terpisah yang sah pula. Aku memepercayai kebenaran pikiran Kiai Ngumar: mestinya hanya ada satu bentuk negara yang sah, yaitu Republik. Tetapi aku mau apa jika pasukan Republik jelas-jelas menganggapku sebagai pemberontak?

Tak tahulah. Pergulatan pikiran itu tak bisa kuselesaikan. Apalagi aku, Kiram, Jun, dan Jalal sudah harus menghadapi serbuan pasukan Republik. Dan dalam sebuah pertempuran di daerah Brebes, aku terlibat perkelahian dengan senjata kosong karena aku dan lawanku sama-sama kehabisan peluru. Untuk pertama kalinya aku menggunakan ilmu silat dalam pertempuran besar. Celakanya, lawanku pun jago dalam ilmu bela diri itu, sehingga aku terpaksa menempuh cara pengecut: melempar wajah lawanku dengan debu tanah. Ketika ia jatuh, aku memukulnya dengan gagang senapan.

Aku bergidik melihat darah yang mengucur dari luka di kepala lawanku. Atau, aku bergidik karena menyadari akan kepengecutanku sendiri. Entahlah. Pokoknya aku menutup wajah dengan kedua tanganku... Sekali lagi aku tersentak. Kudengar Kiram serta Jun tertawa 
bersama. Aku menoleh kiri-kanan. Perlahan-lahan aku tersadar dari lamunan yang sangat panjang.

“Bukan main, Mid. Hari ini kamu begitu mudah terkejut. Kamu mulai linglung? Daripada terus melamun, lebih baik habiskan nasimu. Mau tambah kopi?”

“Melamun boleh saja, Mid, asal jangan keterlaluan,” sambung Jun yang sedang memperbaiki ikatan perbannya.

Aku nyengir, pahit. Aku mengusap-usap kening karena pusing ketika harus menghadapi kenyataan bahwa aku sebenarnya sudah lama lepas dari masa lalu. Aku reguk kopi yang baru 
dituangkan dari cerek usang oleh Kiram.

“Mid...!” kata Kiram setelah selesai menuang kopi untukku. “Kamu kelihatan mengekang kegelisahan. Daripada terus melamun memendam rasa seperti itu, lebih baik kamu bicara kepada kami.”

“Sebelum Amid bicara, aku sudah mengerti apa yang diinginkannya sekarang ini,” sela Jun. “Kamu ingin turun gunung dan menyerahkan diri. Iya, kan?”




Bersambung... 

______________________________________________

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 05

BAGIAN KEDUA 01




Karena Jun terus mendesak, aku mengaku sedang terbawa oleh kenangan masa silam. Kenangan itu mendadak terhenti pada peristiwa dramatis ketika Kiram mengeksekusi 
Mantri Karsun. Lalu, mimpi atau tak mimpi, kisah masa silam itu terulang lagi dalam pembicaraan di dalam gua itu. Tak kuduga sebelumnya, Kiram dan Jun juga kelihatan bersemangat dalam bernostalgia.

“Waktu itu kamu marah karena aku langsung menghabisi Mantri Karsun, bukan?” kata Kiram.

“Ya, sebab tugas kita adalah menyerahkan dia kepada pasukan Republik. Kamu telah berbuat melebihi tugasmu.”

“Ah, kamu kan tahu. Daripada lolos, lebih baik dia kuselesaikan. Lagi pula, waktu itu aku tak begitu peduli tentang siapa yang memberi aku tugas. Pokoknya Mantri Karsun harus diambil. Juga, rasanya memang tak perlu menyerahkan Mantri Karsun hidup-hidup. Buktinya, komandan pasukan Republik sudah puas ketika tahu yang kubawa hanya kepala mantri itu. Iya apa tidak?”

Kami tertawa.

“Bukan hanya puas, komandan itu juga memuji kamu. Dan anak-anak yang dulu menghinamu merasa kehilangan muka di hadapan komandan mereka sendiri.”

Kiram tersenyum. Mungkin puas karena permintaannya mengambil Mantri Karsun berhasil baik. Komandan pasukan Republik meminta agar kami bergabung. Bagiku, tawaran itu sangat menyenangkan. Dan aku mengira Kiram dan Jun akan memenuhi tawaran yang sangat simpatik itu. Tetapi ternyata aku salah sangka, Kiram dan Jun menolak. Mereka tetap ingin bertempur sebagai tentara Tuhan, Hizbullah.

Sebenarnya waktu itu aku merasa mendapat peluang yang baik sekali untuk menyampaikan wejangan Kiai Ngumar kepada Kiram dan Jun; bahwa dengan nawaitu yang ikhlas, menjadi 
anggota pasukan Republik pun sama dengan menjadi anggota Hizbullah. Namun entahlah, aku memang pengecut. Aku selalu merasa kecil bila sedang berdekatan dengan Kiram. Maka aku pun tak bisa berbuat lain kecuali mengikuti Kiram dan Jun. Mungkin karena pertolongan Kiram aku bisa mempunyai 
senjata?

“Ah, bukan hanya Amid yang suka terkenang peristiwa masa lalu,” kata Jun. Dia meringis ketika berusaha memperbaiki posisi duduknya. Luka di pahanya mungkin membuatnya nyeri.

“Aku teringat pertempuran di pinggir jalan raya di daerah Gombong, sebuah pertempuran yang mengingatkan aku pada permainan kucing-kucingan. Tentara Belanda gagah betul dengan baret merahnya. Ya, seragam mereka membuat aku merasa ciut,” kata Jun.

“Oleh karena itu kamu hampir terjepit?” sela Kiram. “Kalau tak kubantu waktu itu, pasti kamu sudah mampus.”

“Tetapi aku berhasil melemparkan granat. Apa pun hasilnya, granat itu meledak.”

“Lemparan granat yang pertama!” leceh Kiram. Dan kami pun tertawa. Lalu sepi. Kulihat Kiram dan Jun sama-sama menerawang. Kukira keduanya, seperti aku, sedang tergoda oleh 
kenangan masa lalu.

Ya. Setelah menyerahkan kepala Mantri Karsun, kami kembali ke basis kami sendiri. Namun dua hari kemudian kami mendapat perintah dari kalangan Hizbullah sendiri untuk secepatnya bergerak ke timur, ke Somalangu di pedalaman Kebumen. Di sana ada konsentrasi kekuatan Hizbullah dengan pelindung seorang kiai yang sangat berpengaruh. Banyak anak-anak Hizbullah maupun pemuda-pemuda biasa yang meminta kekuatan sakti kepada kiai itu. Bedil-bedil, senjata tajam, dan bambu runcing dimintakan sebul kepada Kiai agar bertuah. Kiram dan Jun juga menyerahkan senjata masing-masing untuk diberkati dalam antrean yang lumayan panjang. Tetapi belum selesai disusuk, kami harus mengambil senjata kami kembali. Ada kabar, Belanda datang dari arah timur. Kami diminta bersiap bersama pasukan Republik untuk melawan mereka di Kebumen.

Dan itulah pertempuran kami yang terakhir dan paling melelahkan, melawan tentara Belanda. Sebuah pertempuran yang meminta banyak korban. Banyak sekali anak-anak Hizbullah yang gugur. Tetapi kukira tentara Belanda pun banyak yang mati. Maka aku heran kenapa kami berempat, aku, Kiram, Jun, 
dan Kang Suyud, dapat bertahan dan kembali ke kampung dengan selamat. Kami mundur dan siap bertempur kembali sewaktu-waktu. Namun di luar dugaan kami, suasana sangat 
cepat berubah. Pada bulan Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik dan kami, anggota Hizbullah, secara resmi tak punya musuh lagi. Namun di sinilah kemudian muncul masalah baru karena kami harus memilih membubarkan diri atau menerima seruan pemerintah untuk dilebur ke dalam tentara Republik.

Aku sendiri sangat gembira mendengar seruan pemerintah agar semua laskar bersenjata, termasuk Hizbullah, melebur ke dalam satu wadah resmi. Pikiranku sangat sederhana dan praktis: setelah Belanda pergi, buat apa pegang senjata kalau tidak mau jadi tentara? Bahkan dari wejangan Kiai Ngumar aku percaya, kewajiban berjihad sudah selesai dengan kepergian kekuatan kafir Belanda. Namun Kiram dan Jun berpendapat lain. Juga Kang Suyud. Mereka murung ketika mendengar seruan pemerintah itu dan aku tahu sebab yang sebenarnya. Terdengar selentingan, bahwa tidak semua anggota Hizbullah bisa 
melimpah ke dalam tentara Republik. Pelimpahan itu hanya berlaku bagi mereka yang punya ijazah minimal sekolah rakyat. Kiram dan Jun tak punya apa-apa. Sementara Kang Suyud tak pernah tertarik untuk menjadi tentara resmi karena merasa sudah terlalu tua dan terutama karena tak mau berdekat-dekat 
dengan anak-anak buah Siswo Wuyung. Tetapi aku merasa, baik Kiram, Jun, maupun Kang Suyud, malas menyerahkan senjata masing-masing. Bahkan aku mendengar selentingan 
lain bahwa Kang Suyud tidak ingin setia kepada Republik karena diam-diam dia menyimpan cita-cita sendiri.

Karena merasa tak bisa memutuskan sendiri mengenai masalah ini, aku mengambil inisiatif mengumpulkan teman-teman di rumah Kiai Ngumar yang sudah kembali dari pengungsian. Orang tua itu terlihat letih setelah hidup dalam kesulitan selama berbulan-bulan. Namun kegembiraannya muncul dengan sangat jelas begitu ia berhadap-hadapan dengan kami. 
Dan suasana yang sudah kembali aman membuat pembicaraan terasa lebih bebas karena kami tak perlu khawatir ada orang 
menguping.

Kiai Ngumar lama terdiam setelah masalah yang kami hadapi kami sampaikan kepadanya. Dipandangnya kami satu demi satu, lalu Kiai Ngumar diam lagi. Namun setelah menggulung tembakau dan menyalakannya. Kiai Ngumar berkata sambil tetap menunduk.

“Dulu sudah kukatakan, perjuangan Hizbullah itu lillahi taala untuk menghilangkan kekuatan yang merusak negeri ini. Perjuangan yang demikian wajib hukumannya secara syar’i dan 
kalian sudah selesai melaksanakannya. Semoga Allah menerima amal perjuangan kalian. Lalu apa lagi masalahnya?”

“Kiai, sekarang ini kami harus bagaimana?” aku bertanya.

“Kalau tak salah, terhadap pertanyaan ini pun aku dulu sudah memberikan jalan keluar. Kalian meletakkan senjata dan kembali ke tengah masyarakat, atau kalian bergabung dengan tentara resmi pemerintah. Sebetulnya kalian memilih yang mana?”

Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan Kiai Ngumar. Tetapi lama kutunggu, semuanya diam.

“Kiai, saya ingin bergabung dengan tentara,” akhirnya aku bicara. “Saya kira, Kiram dan Jun juga. Entahlah Kang Suyud.”

Kiai Ngumar mengangguk-angguk.

“Itu baik, baik sekali. Kalian memang harus segera mencari kegiatan baru setelah selesai dengan kegiatan lama. Dan pekerjaan yang cocok buat kalian sekarang ini adalah menjadi 
tentara. Apa lagi?”

“Kiai, ada selentingan hanya mereka yang punya ijazah yang dapat menjadi tentara....”

“Kamu punya?”

“Ya, Kiai,” aku menjawab. “Ijazah sekolah rakyat. Tetapi Kiram dan Jun tidak.”

Kiai Ngumar menunduk lagi.

“Kukira ada cara untuk menembus peraturan itu,” kata Kiai Ngumar akhirnya. “Di saat-saat seperti ini, aku kira tak ada peraturan yang berlaku mutlak. Dan kebetulan aku punya beberapa kenalan di kalangan tentara Republik.”

“Jadi Kiai merestui kami bergabung dengan tentara?” aku bertanya tak sabar.

“Lho, bukan hanya merestui. Akan kuusahakan agar Kiram dan Jun bisa tetap bersama-sama kamu.”

“Nanti dulu, Kiai,” tiba-tiba Kang Suyud memotong pembicaraan. “Izinkan saya bertanya, mengapa Kiai merestui anak-anak itu menjadi tentara Republik?”

Terasa ada tegangan tertentu dalam pertanyaan Kang Suyud. Kiai Ngumar menegakkan kepala, mungkin untuk menangkap ke mana arah pertanyaan itu.

“Menjadi tentara Republik itu halal, karena Republik memang sah. Hadratus Syekh takkan berfatwa bahwa berperang melawan Belanda wajib hukumnya apabila beliau meragukan 
keabsahan Republik. Dan ingatlah pelajaran dalam Kitab, terhadap pemerintah yang sah kita wajib menaatinya.”

“Ya, Kiai. Lalu bagaimana seandainya selain Republik ada pilihan lain? Apalagi jika menurut saya pemerintah yang lain itu juga sah, atau bahkan lebih sah?”

Kulihat Kiai Ngumar agak terkejut. Dengan sinar matanya Kiai Ngumar meminta Kang Suyud menjelaskan maksud kata-katanya.

“Begini, Kiai. Ada berita dari seberang Citandui bahwa Kartosuwiryo dan kawan-kawannya bermaksud membangun sebuah negara Islam.”

“Maksudmu, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo?”

“Betul.”

“Kamu dengar dari siapa?”

“Pokoknya saya mendengar berita itu. Dan saya memilih Kartosuwiryo daripada Bung Karno-Bung Hatta.”

Wajah Kiai Ngumar mengeras. Kedua matanya membulat.

“Apa alasanmu?”

“Bung Karno-Bung Hatta menyusun pemerintahan bersama segala macam orang, sementara Kartosuwiryo hanya bekerja sama dengan orang Islam untuk mendirikan sebuah negara Islam.”

“Sabarlah, Suyud. Aku ingin kembali mengingatkanmu akan kandungan Kitab. Di sana disebutkan, hanya ada satu kekuasaan yang sah dalam satu negara. Dengan kata lain, bila Republik sudah diakui sebagai kekuasaan yang sah, lainnya otomatis menjadi tidak sah.”

“Meskipun Kartosuwiryo orang Islam dan berjuang di bawah bendera dua kalimat syahadat?”

“Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka menyusun kekuasaan pemerintah atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa serta dasar-dasar lain, yang semuanya merupakan pokok-pokok dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Dan lebih dari itu, kekuasaan mereka sudah diakui keabsahannya oleh masyarakat. Pengakuan ini akan membuat kekuasaan lain yang muncul belakangan jadi tidak sah.”

“Namun mereka juga bekerja sama dengan orang-orang di luar Islam. Sementara Kartosuwiryo tidak.”

“Suyud, dengarlah. Sudah pernah kujelaskan kepada Amid bahwa Nabi pun pernah melakukan kerja sama dengan orang di luar Islam untuk menjamin keamanan Negeri Madinah.”

“Jadi Kiai memilih Republik daripada Islam?”

Wajah Kiai Ngumar terlihat menegang. Terasa betul bahwa Kiai Ngumar sesungguhnya tak suka terlibat perdebatan. Alisnya turun-naik. Kemudian terdengar ucapannya dalam nada 
yang lebih rendah.

“Suyud, sudah kubilang Bung Karno dan Bung Hatta pun orang Islam. Mereka memimpin negeri ini di atas landasan yang telah disepakati para pemimpin, termasuk para pemimpin Islam. Maka pertanyaan seperti yang kamu ajukan itu tidak perlu ada. Kita tak perlu memperhadapkan Islam dan Republik.”

“Jawab dengan jelas, Kiai!” kata Kang Suyud kasar. Aku mulai cemas. “Kiai memilih Islam atau Republik?”

“Baik. Nah, Anak-anak, saksikanlah jawabanku ini: dalam rangka melaksanakan ajaran Islam sendiri, aku memilih Republik. Aku makmum kepada Hadratus Syekh!”

Kulihat wajah Kang Suyud berubah menjadi merah. Urat pada kedua pipinya menegang. Lalu ia bangkit sambil memukul meja dengan tinjunya dan pergi tanpa pamit. Membuatku 
terperangah terkejut...

Lamat-lamat kudengar Kiram dan Jun tertawa.

“Mid, kamu mimpi sambil duduk?” tanya Kiram.
Kepalaku pusing. Jun meringis-ringis, tetapi kemudian dia ikut tertawa.

“Masih melamun tentang zaman kuno, Mid?”

Aku tersenyum. Sulit rasanya mengembalikan pikiran ke alam nyata. Kuhirup kopi dingin dari cangkir logam.

“Tentang apa lagi, Mid?” tanya Kiram lagi.

“Kamu ingat dulu ketika Kang Suyud berdebat dengan Kiai Ngumar?” aku balik bertanya.

“Tentang Islam dan Republik?”

“Ya.”

Kiram tersenyum.

“Rasanya aneh ya,” kata Jun. “Dulu kita berada pada pihak Kiai Ngumar dan karena anjurannya pula kita bertiga hampir menjadi anggota tentara.”

Hampir jadi tentara! Jun benar. Dulu, atas anjuran dan restu Kiai Ngumar, kami bertiga pergi meninggalkan kampung dengan tujuan Kebumen untuk bergabung dengan mereka 
yang akan ditarik menjadi tentara. Di sana kami bertemu dengan ratusan anggota Hizbullah. Anehnya, dalam waktu yang 
tidak terlalu lama, aku merasakan adanya nuansa perpecahan. Kang Suyud, meski tidak ikut pergi bersama kami, ternyata tidak sendirian. Tidak sedikit anak Hizbullah yang tidak mau meleburkan diri ke dalam tentara Republik dan tidak mau meletakkan senjata. Kata-kata sindiran mulai terdengar antara 
mereka yang mau dan tidak mau melebur. Tetapi aku, Jun, dan Kirim sudah membulatkan tekad: menjadi tentara, punya pangkat, punya gaji. Dan kami merasa berhak memilih masa 
depan kami sendiri, yang menurut Kiai Ngumar halal-halal saja.

Pagi-pagi ratusan anggota Hizbullah yang memilih melebur ke dalam tentara Republik berhimpun di suatu tempat di tepi rel kereta api. Malam sebelumnya ada berita resmi, kami akan diangkut dengan kereta api menuju Purworejo untuk dilantik resmi menjadi anggota tentara Republik. Aku dan Jun saat itu memang belum pantas disebut tentara karena pakaian kami masih seadanya. Namun Kiram sudah gagah. Pakaiannya pantas dan sudah pakai topi baja. Di pinggang kanannya tergantung granat. Pantas betul dia. Dan aku selalu digoda oleh pertanyaan konyol: melihat sosoknya yang demikian meyakinkan, siapa akan mengira Kiram buta huruf?

Jam sembilan pagi terdengar suara lokomotif dari arah tilokomotifnya kelihatan bergulung ke udara. Dengus mesin uapnya terdengar jelas. Ketika kereta api mulai melambat, kami bersiap. Namun kami mendadak tertegun karena tiba-tiba terdengar rentetan tembakan. Naluriku berkata, ada bahaya datang. Maka aku, Kiram, dan Jun lari dan menjatuhkan diri dalam sebuah parit. Ya Tuhan, detik berikutnya aku menyadari bahwa tembakan itu diarahkan kepada kami. Aku melihat kelebat senjata berat dari salah satu gerbong kereta. Lalu, apakah arti semua ini? Pengkhianatan? Bila benar, pengkhianat mana yang bisa berbuat sekotor itu?

Kulihat ke samping, wajah Kiram merah padam menahan murka. Ia mengajak aku dan Jun membalas tembakan, siapa pun yang bersembunyi dalam gerbong yang baru datang itu. Sebenarnya Kiram tak usah menyuruh aku seperti itu karena perang memang sudah mulai. Anak-anak Hizbullah, kecuali yang tewas pada berondongan pertama dari dalam gerbong, bertempur serempak. Waktu itu aku melihat sendiri siapa Kiram sebenarnya. Ia memang jagoan. Ia merangkak sepanjang 
parit sampai ke dekat gerbong dari mana tembakan-tembakan dimulai. Kulihat Kiram menggigit kunci granat dan melemparkannya masuk gerbong lewat jendela. Gerbong itu terguncang oleh ledakan granat yang dilemparkan Kiram. Aku yakin, siapa dan berapa pun manusia yang berada dalam gerbong itu, pasti tewas bersama kepulan asap hitam yang membubung.

Pertempuran terus berkecamuk dan berubah menjadi tawuran, karena kami tak tahu dengan pasti siapa kawan dan siapa lawan. Bahkan siapa Hizbullah dan siapa bukan, tidaklah kami ketahui dengan pasti karena kami baru satu hari berkumpul dengan mereka. Kami hanya tahu bahwa seseorang adalah kawan bila dia menembak ke arah kereta api yang sudah lumpuh. Dan suasana menjadi sangat kacau ketika datang ratusan anak Hizbullah yang sejak semula tidak mau dilebur ke dalam tentara Republik. Mula-mula mereka menembaki kami. Namun setelah terjadi komunikasi melalui teriakan-teriakan, dan terutama melalui seruan takbir, anak-anak Hizbullah yang baru datang itu bergabung dengan kami menyerang mereka yang bertahan dalam gerbong-gerbong kereta api.

Suara tembakan berhenti setelah berlangsung pertempuran hampir dua jam. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan terlihat dari mereka yang bertahan. Kereta api benar-benar lumpuh, bahkan kemudian dibakar. Kukira korban yang tewas mencapai seratus orang, baik dari pihak kami maupun dari pihak mereka. Atau entahlah. Saat itu aku tak berpikir macam-macam karena aku sedang dilanda ketidakpastian: apa sebenarnya yang baru terjadi? Siapa yang mendadak menyerang kami dari dalam gerbong? Dan mengapa kami akan diangkut ke Purworejo dengan kereta itu untuk dilantik?

Tak ada jawaban yang pasti. Juga tak ada jawaban yang jelas mengapa mereka berani menyerang, padahal kami pasti memiliki kemampuan membalas setiap tembakan mereka. Kecuali jika mereka adalah pasukan bunuh diri yang dikirim sekadar untuk menyulut api permusuhan antara kekuatan Republik dan Hizbullah. Dan kalau memang demikian, siapa yang berada di belakang mereka? Sungguh membingungkan. Yang jelas, apa pun latar belakang penyerangan itu, di antara ratusan anak Hizbullah yang seluruhnya bersenjata lengkap meletup perasaan yang sama: dikhianati. Aku, Jun, dan Kiram pun sama: me-
rasa dikhianati. Dan dalam kebersamaan rasa itu berkembang sikap yang sangat cepat dan dramatis. Seluruh anak Hizbullah, baik yang pro maupun yang kontra terhadap peleburan, bersatu kembali untuk menghadapi lawan baru: siapa lagi kalau bukan mereka yang menyerang kami dari dalam gerbong kereta 
itu, serta kekuatan yang berada di belakangnya.

Seluruh pasukan Hizbullah kemudian mengundurkan diri ke Somalangu. Di sana terjadi perbincangan, atau perdebatan, 
tentang siapa sebenarnya mereka yang menyerang kami. Ada yang percaya, pasukan Republik tak mungkin punya perilaku sekotor itu. Menurut pendapat ini, para penyerang memang oknum-oknum yang berasal dari kalangan pasukan Republik, namun mereka bekerja untuk kepentingan golongan tertentu. Mereka adalah pengkhianat yang mencatut nama pasukan Republik dan tidak suka terhadap masuknya anak-anak bekas Hizbullah ke pasukan pemerintah. Pendapat ini sebenarnya gamblang dan mengarah kepada tuduhan terhadap oknum-oknum komunis. Dan semua orang tahu bahwa pembersihan terhadap oknum-oknum itu, terutama setelah terjadi makar Madiun di tahun 1948, belum sempat dilaksanakan secara intensif.





Bersambung... 

______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...