Sabtu, 24 April 2021

BEKISAR MERAH BAB 05

BAGIAN KEDUA 02


Tadi malam hujan turun sejak sore dan baru berhenti bersamaan dengan bunyi beduk subuh di surau Eyang Mus. Beberapa bagian lantai tanah rumah Lasi tampak basah karena genting di atasnya bocor. Udara sangat dingin namun pagi ini Lasi dan Darsa sama-sama mandi keramas. Ada luap kegembiraan yang 
tertahan. Mereka bergurau, saling menyiramkan air. Di atas mereka seekor 
burung ekor kipas mencecet dan selalu bergerak sigap seperti mewakili semangat yang sedang menggeliat dalam hati pasangan penyadap muda itu. Darsa sudah mengambil kembali pekerjaan yang selama ia sakit dipercayakan kepada tetangganya, Mukri. 
 
 Meski punya pengalaman pahit terbanting dari ketinggian puncak kelapa, semangat Darsa tetap tinggi, tak terlihat kesan khawatir akan jatuh buat kali kedua. Di Karangsoga belum pernah terdengar cerita seorang penyadap jera 
karena jatuh. Rakam, misalnya, jatuh sampai tiga kali dan meninggal pada kecelakaan yang keempat. Mungkin ia akan tetap menyadap nira apabila nyawanya tak melayang. Meskipun begitu kemarin Lasi berdiri lama di depan pintu ketika melepas Darsa pergi menyadap. Mulut Lasi komat-kamit. Mangkat slamet, bali slamet, bisik Lisi. Amit-amit jangan seperti dulu, mangkat slamet, kembali sudah terkulai dalam gendongan Mukri. 
 
 Menjelang matahari tergelincir Lasi sudah selesai mengolah niranya. Gula merah sudah siap dalam sebuah bakul kecil ditutup daun-daun waru kering sebagai pengisap kelembapan. Dengan selendang tua bakul itu diangkatnya ke punggung. Simpul selendang menekan dadanya. Lasi tak pernah sadar dalam keadaan seperti itu ada bagian tubuh yang memadat yang tampak lebih 
menyembul keluar dan menarik mata laki-laki. 
 
 Dengan sebakul gula merah di punggungnya Lasi keluar rumah dan berjalan cepat menuju rumah Pak Tir. Lebih nyaman terasa, menjual hasil sadapan suami daripada hasil sadapan orang lain. Matahari bersinar penuh sehingga Lasi harus menyipitkan matanya selama perjalanan. Kupu-kupu masih banyak 
beterbangan. Bunga bungur yang selalu muncul pada awal musim hujan mekar 
dalam dompolan ungu berputik kuning dan berlatar daun yang hijau berkilat. Beberapa ekor kumbang yang berpunggung kuning terbang-hinggap pada bunga yang masih segar dan meluruhkan kelopak yang sudah tua. Sepasang kutilang melompat-lompat pada ranting-rantingnya. Si jantan melantunkan kicaunya yang nyaring dan bening. Suara riang-riang membuat suasana tengah hari makin 
terasa hidup.

Lasi terus melangkah. Menyeberang titian pinang sebatang, tersenyum sendiri karena teringat dulu ia sering berlama-lama di situ, lalu mendaki dan muncul pada gang yang lurus menuju rumah Pak Tir. Sudah ada beberapa perempuan yang sama-sama hendak menjual gula. Lasi menunggu giliran. Dan merasakan 
suasana tiba-tiba berubah kaku dan hening. Tiba-tiba terasa ada jarak antara dirinya dan semua orang yang ada di sana. Perempuan-perempuan itu kelihatan menahan diri, enggan bertegur-sapa, malah mereka tersenyum aneh di antara mereka sendiri. Atau saling mengedipkan mata. Tiga laki-laki yang sedang 
mengangkat peti-peti gula dari gudang ke bak truk yang diparkir di halaman juga tersenyum dan saling pandang setelah mereka mengetahui kedatangan Lasi. 
 
 Pak Tir sendiri sibuk dengan batang timbangan. Lelaki gemuk dengan kepala 
bulat yang mulai botak itu bekerja cepat dan mekanis. Tangannya selalu tangkas memainkan batang timbangan, menangkapnya pada saat yang tepat, yaitu ketika batang kuningan itu mulai bergerak naik. Keterampilan seperti itu akan memberikan keuntungan sepersekian ons gula sekali timbang. Maka Pak Tir kadang tersinggung apabila ada orang terlalu saksama memperhatikan caranya menimbang gula. Pembayaran gula pun dilakukan Pak Tir dengan gampang dan dingin. 
 
 "Hari ini harga gula turun lagi. Aku hanya menuruti aturan tauke. Bila mereka menaikkan harga, aku ikut. Bila turun, aku juga ikut." 
 
 Para istri penyadap sudah terbiasa mendengar kabar buruk seperti itu. Maka mereka selalu hanya bisa menanggapinya dengan cara menelan ludah dan alis yang berat. Tak bisa lain. Menolak harga yang ditentukan Pak Tir lalu membawa gula mereka pulang? Tak mungkin, karena kebanyakan mereka punya utang pada tengkulak gula itu. Juga, hasil penjualan hari ini adalah hidup mereka hari 
ini yang tidak mungkin mereka tunda. Maka bagi mereka harga gula adalah ketentuan menakutkan yang entah datang dari mana dan harus mereka terima, suka atau tidak suka. 
 
 Tentang harga yang turun kadang Pak Tir punya cerita; sekarang musim buah-buahan. Maka kebutuhan orang akan makanan yang manis berkurang. Atau, tauke bilang pabrik kecap di Jakarta yang biasa menerima gula terbakar sehingga stok gula menumpuk di gudang. Atau lagi, harga solar naik karena 
pemerintah memotong subsidi harga bahan bakar minyak. Tauke terpaksa menurunkan harga pembelian gula untuk menutup kenaikan biaya angkutan. 
 
 Istri-istri penyadap itu selalu mendengarkan cerita Pak Tir dengan setia. Mereka menganggukkan kepala setiap kali Pik Tir selesai dengan satu cerita. Tetapi mereka sungguh tidak bisa mengerti apa hubungan antara musim buah dan jatuhnya harga gula, tentang pabrik kecap yang terbakar, dan kenaikan bahan bakar minyak. Mereka mengangguk karena itulah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan. Ya, mengangguk bukan karena mereka mengerti. Anggukan mereka lebih terasa sebagai pertanda ketidakberdayaan. 
 
 Ketika akhirnya giliran Lasi tiba, Pak Tir menatapnya sejenak lalu berdecak sambil menggelengkan kepala. Sama seperti semua orang yang berada di sekelilingnya, Pak Tir pun tersenyum aneh. Suaranya bernada penuh simpati ketika Pak Tir berkata perlahan, 
 
 "Oalah, Las, buruk amat peruntunganmu. Kamu harus bisa sabar. Puluh-puluh, Las, barangkali sudah jadi garis nasibmu." 
 
 "Pak Tir, apa maksud Anda?" tanya Lasi gagap. Wajahnya menunjukkan kebimbangan yang amat sangat. 
 
 "Lho, apa kamu belum tahu?" 
 
 "Tahu hal apa, Pak? Ada apa sebenarnya?" Wajah Lasi makin tak menentu. Bibirnya gemetar. 
 
 Pak Tir kembali menggelengkan kepala. Terasa ada yang aneh dan muskil. "Las, aku tak ingin mengatakan sampai kamu tahu sendiri apa yang kumaksud. Memang aneh, Las. Aneh. Orang sekampung sedih tahu tetapi kamu sendiri malah tak merasa apa-apa." 
 
 Dengan tangan gemetar karena risau, Lasi menerima uang pembayaran gula yang diberikan Pak Tir. Tanpa menghitung uang itu Lasi langsung melangkah pulang. Sekilas dilihatnya orang-orang masih memandangnya dengan cara aneh. Terasa ada cakar tajam menusuk dadanya. Kuduk Lasi terasa panas, seakan semua mata orang melekat di sana. Lasi berjalan setengah berlari agar bisa 
secepatnya sampai di rumah. Langkahnya panjang-panjang. Tak dipedulikannya seekor si kaki seribu yang merayap melintas jalan di depannya. Padahal biasanya Lasi paling ngeri melihat binatang yang lamban dan menjijikkan itu. Lasi hampir masuk ke halaman rumah ketika dari arah samping muncul emaknya. Mbok Wiryaji berjalan sambil mengangkat kain tinggi-tinggi. Kemarahan yang luar biasa kelihatan dari wajahnya yang terbakar. 
 
 "Oalah, Lasi, anakku. Kaniaya temen awakmu! Sial amat peruntunganmu!" 
 
 "Apa, Mak? Sebetulnya ada apa, Mak?" 
 
 "Gusti. Jadi kamu belum tahu? Darsa, suamimu, tengik! Dia bacin! Dia kurang ajar. Sipah sedang menuntutnya agar dikawin. Kamu tidak usah pulang ke rumahmu. Kamu harus minta cerai." 
 
 Lasi masih mendengar emaknya terus nyapnyap dengan ledakan kata-kata yang 
sangat pedas dan tajam. Lasi juga masih melihat bayangan emaknya bergerak-gerak dalam kemabukannya. Tetapi Lasi sendiri terpaku, matanya terbuka lebar tanpa kedip, kedua bibirnya berhenti pada posisi seperti hendak berkata-kata. Dan kesadarannya melayang ke dalam dunia yang asing. Lasi melihat semua orang. Pepohonan dan burung-burung menyeringai mengejeknya. Matahari terlihat kuning kotor dan air di dasar jurang menyuarakan gelak tawa. Muncul Bunek bertelanjang dada, teteknya menggelantung sampai ke pusar, menyeringai dengan gigi membusuk dan jarang. Rambutnya gembel menjadi gumpalan serabut kotor. Bunek terkekeh dan meringkik panjang. Suara yang 
buruk dan menyakitkan telinga itu bergaung lalu memantul berulang-ulang pada setiap dinding lembab. 
 
 Dunia Lasi terus jungkir balik dan malang melintang. Segala sesuatu melayang, 
berhamburan, dan berbaur dengan sejuta kunang-kunang, sejuta bintang dan sejuta kembang api yang meledak bersama. Ada ular belang siap mematuk. Ada kalajengking. Lalu ada suara berdenting pecah dalam liang telinga Lasi. Lalu segalanya hening. Yang jungkir balik perlahan mereda. Yang herhamburan perlahan berhenti dan luruh. Yang tampak pekat mencair. Yang keruh 
mengendap. Perlahan Lasi hadir kembali ke dalam dunia nyata. 
 
 Dalam kesadaran yang belum sepenuhnya pulih Lasi melihat Sipah, perawan lewat umur anak bungsu Bunek. Gadis berkaki pincang dan amat pemalu itu sedang menuntut Darsa mengawininya? Pada detik pertama Lasi mempercayai kenyataan itu, bakul yang sedang dipegangnya jatuh ke tanah. Juga uang yang 
digenggamnya. Kelenting receh logam jatuh ke tanah berbatu. Kedua tangan Lasi mengepal. Lasi terlempar kembali ke dalam dunia khayal, menjadi kepiting batu raksasa dengan capit dari gunting baja. Lasi siap memangkas putus 
pertama-tama leher Bunek, kemudian leher Darsa, kemudian leher semua orang. Tapi tak pernah ada kepiting raksasa atau jari dari gunting baja. Yang tergelar di depan Lasi adalah kenyataan dirinya terlempar dari pentas tempat selama ini dia hadir. Lasi kini merasa di alam awang-uwung, antah berantah. Tak ada layar atau cermin tempat ia melihat pantulan dirinya sendiri. Tak ada sesuatu untuk membuktikan bahwa dirinya ada. Lasi merasakan dirinya tak lagi mewujud. Hilang, atau ketiadaan yang menghunjamkan rasa amat sakit ke dalam dadanya. 
 
 Seperti kelaras pisang tertiup angin, Lasi bergoyang lalu berjalan. Dengan matanya yang tak pernah berkedip dan wajah mati rasa Lasi menjadi sosok yang bergerak tanpa kesadaran penuh. Masih terus mengutuk dan mengumpat Darsa, Mbok Wiryaji mengikuti Lasi, pulang. Sampai di ambang pintu Mbok 
Wiryaji melihat suaminya sedang duduk diam seperti pongkor kosong. Serta-merta kemarahannya meruah lebih dahsyat. 
 
 "Itu, Darsa kemenakanmu. Tengik bacin! Tak tahu diuntung. Setengah tahun hanya menjadi kambing lumpuh yang harus dicatu, kini dia malah menghina anakku. Kamu tidak tahu Lasi secepatnya akan dapat suami baru bila ia jadi 
janda? Suami barunya nanti seorang priyayi. Guru. Punya gaji. Bukan cuma penderes dungu yang bau nira masam. Apek. Mau tahu; banyak lelaki menunggu Lasi jadi janda?" 
 
 "Nanti dulu," kata Wiryaji sabar. 
 
 "Tidak! Kemenakanmu memang kurang ajar. Menyesal, mengapa dulu aku menjodohkan dia dengan anakku. Menyesal!" 
 
 Mbok Wiryaji megap-megap karena kehabisan kata-kata. Lasi yang duduk di balai-balai masih membisu. Keheningan yang sesaat kemudian diisi oleh suara terompah mendekat. Eyang Mus masuk dan berdiri sejenak di pintu. Lelaki dan perempuan tetangga juga berdatangan. 
 
 "Ada apa, Wiryaji? Dari rumah aku mendengar orang berteriak-teriak?" 
 
 "Darsa, Yang. Kemenakan saya itu nakal. Dia sedang menghadapi tuntutan Sipah, anak Bunek. Sipah menuntut Darsa mengawininya. Darsa memang ingin membuat malu orangtuanya," jawab Wiryaji lesu. 
 
 "Nah, Eyang Mus!" Tiba-tiba Mbok Wiryaji menyambar. "Dulu saya menyuruh Lasi minta cerai, tetapi sampeyan tidak setuju. Sekarang malah begini jadinya. Sampeyan harus ikut menanggung semua ini. Sekarang sampeyan harus ikut menyuruh Lasi minta cerai." 
 
 "Sabar. Dari dulu aku selalu ikut menanggung kesulitan yang kalian hadapi. Sekarang aku juga ikut menyalahkan Darsa. Memang, wong lanang punya wenang. Tapi sekali-kali tak boleh sewenang-wenang. Jelas Darsa salah. Namun aku minta jangan dulu bicara soal perceraian." 
 
 "Tunggu apa lagi, Eyang Mus? Apa karena hanya lelaki yang punya talak?"

"Sabar. Aku tak bermaksud sejauh itu. Yang harus kalian tunggu adalah suasana hati yang tenang. Tidak baik mengambil keputusan besar dalam keadaan panas seperti ini. Juga, apa pun sikap yang akan diambil terhadap Darsa, Lasi-lah yang punya hak. Percayalah akan adanya hak di tangan anakmu. Karena, istri yang setia hanya untuk suami yang setia, begitu aturannya." 
 
 Beberapa tetangga, lelaki dan perempuan, ikut bicara. Mereka bersama-sama berusaha menenangkan Mbok Wiryaji. Seseorang mengingatkan Mbok Wiryaji akan keyakinan orang Karangsoga bahwa segala hal sudah ada yang mengatur, "Manusia mung saderma nglakoni," katanya. Lasi, meski terkesan seperti petasan siap meledak, tetap diam. Lengang, meski kaku dan tegang. Eyang Mus 
yang semula bermaksud memanggil Darsa mengurungkan niatnya. Mempertemukan Darsa dengan Lasi dan Mbok Wiryaji ketika suasana masih panas sama dengan mengumpankan kucing ke depan anjing yang sedang amok. 
 
 "Nah, aku mau pulang. Aku minta kalian bisa bersabar menghadapi cobaan berat ini. Dan kamu, Las, ayo ikut ke rumahku untuk menenangkan diri di sana. Mau?" 
 
 Di luar dugaan semua orang Lasi bangkit lalu berjalan mengikuti Eyang Mus. Orang-orang memandangnya dengan rasa kasihan. Dari rumah Wiryaji orang melihat tubuh Lasi dan Eyang Mus sedikit demi sedikit tenggelam di balik pagar hidup ketika mereka mulai menapak jalan menurun. Dan lenyap sama sekali setelah keduanya melewati kelokan ke selatan. 
 
 
                               ***** 
 
 
 Karangsoga sibuk lagi dengan pergunjingan. Cerita berkembang ke segala arah menuruti kemauan mulut setiap orang yang punya kisah. Tetapi kebanyakan orang percaya bahwa semua kesontoloyoan Darsa bermula dari akal-akalan Bunek. Sipah yang cacat dan sangat pemalu kurang layak dianggap punya keberanian menggoda Darsa. Seorang petutur dengan gaya sangat meyakinkan 
berkata, orang pertama yang tahu akan kesembuhan Darsa tentulah Bunek sendiri. Kata petutur ini, kesembuhan Darsa tidak boleh dibuktikan langsung kepada istrinya, melainkan harus kepada orang lain lebih dahulu. Kata petutur itu pula, yang demikian adalah syarat yang biasa dilakukan oleh seorang dukun lemah pucuk seperti Bunek. 
 
 "Boleh jadi," kata petutur tadi, "Bunek ingin menyediakan diri menjadi ajang pengujian kesembuhan Darsa. Siapa tahu. Namun malu karena sudah bercucu dan beruban, Darsa dilimpahkannya kepada Sipah." 
 
 Mengakhiri ceritanya, si petutur tersenyum puas dan disambut gelak tawa orang-orang yang mendengarkannya. 
 
 Petutur lain membawa cerita yang tak kalah seru, seakan dia tahu betul apa yang terjadi antara Darsa, Bunek, dan anak gadisnya. Menurut petutur yang satu ini, pada awalnya Sipah menolak ketika suatu malam emaknya menyuruh menggantikannya mengurut Darsa. Hanya karena takut akan kemarahan emaknya, Sipah menurut dan Bunek pergi meninggalkan Sipah hanya berdua dengan Darsa. 
 
 "Nah, meski pincang, Sipah tetap perempuan, bukan?" Tawa mereka pun meledak lagi. 
 
 Keluar dari tikungan terakhir Pardi merasa lepas dari ketegangan. Lampu truknya menyorot jauh karena jalan di depan sudah terbentang lurus meskipun menurun dan terus menurun. Pardi menyalakan rokok dan Sapon duduk lebih tenang. Seekor keklawar tertangkap sorot lampu. Binatang itu terbang 
berkelok-kelok mengejar serangga. 
 
 Jauh di depan seekor kucing liar atau musang bulan termangu di pinggir jalan. Sinar biru yang terpantul dari kedua matanya terlihat jelas sebelum binatang itu menyingkir ke balik belukar.

Menjelang masuk jalan besar Pardi mengangkat pedal rem karena jalan kampung itu mulai datar. Tetapi Pardi tiba-tiba menginjaknya lagi untuk memperlambat truknya karena ia melihat sesosok tubuh mendadak muncul dari balik sebuah pohon. Sopir mana saja tahu itulah cara perempuan jalanan menarik perhatian orang, terutama para pengemudi kendaraan. Dan Pardi 
menggenjot rem kuat-kuat karena orang di depan sana bukan sekadar berusaha menarik perhatian melainkan sengaja merintang jalan. Truk berhenti terhuyung karena berat muatan. Mesinnya mati selagi gigi penggeraknya belum bebas. Pardi dan Sapon sama-sama mengumpat kesal. Namun keduanya kemudian sama-sama berseru, 
 
 "Lho, Lasi? Mau apa dia?" 
 
 Sopir dan kernet turun bersama-sama. Dan jauh di luar dugian mereka, Lasi menyerobot masuk kabin dan duduk membeku. "Mas Pardi, aku ikut," ujar Lasi dingin dan kaku. Tatapan matanya lurus ke depan. Wajahnya keras dan beku seperti dinding batu menyiratkan suatu tekad yang tak tergoyahkan. 
 
 "Ikut? Kami mau ke Jakarta dan kamu mau ikut?" 
 
 Tak ada jawaban. Dan Lasi tak bergeming. Matanya yang nyalang terus menatap tanpa kedip ke depan. 
 
 "Lho, jangan, Las. Kami tahu kamu sedang punya masalah. Nanti orang bilang aku mencampuri urusanmu. Jangan, Las," cegah Pardi. 
 
 "Ya, lagi pula kami merasa tak enak terhadap suami dan orangtuamu. Juga Eyang Mus. Salah-salah mereka mengira kami melarikan kamu. Wah, bisa repot," tambah Sapon.

Lasi masih membatu di tempatnya. Pardi membuang rokok dan menggilasnya dengan sandal. Sapon berjalan berputar-putar. Suasana terasa canggung dan buntu. Mesin truk menderum-derum. 
 
 "Las, sesungguhnya kamu mau ke mana?" tanya Pardi. 
 
 "Truk ini mau ke mana?" 
 
 "Sudah kubilang, ke Jakarta." 
 
 "Ke Jakarta atau ke mana saja, aku ikut." 
 
 Pardi menggaruk kepala. Sapon malah menjauh lalu duduk menyelonjor di pinggir jalan. Ia bimbang. 
 
 "Bagaimana, Pon?" 
 
 "Terserah Mas Pardi. Bagiku, asal kita tidak dituduh macam-macam." 
 
 "Mas Pardi," kata Lasi tiba-tiba. "Bumi-langit jadi saksi bahwa aku pergi atas kemauanku sendiri. Ayolah. Atau bila kalian keberatan aku akan turun dan duduk di depan roda. Bagaimana?" 
 
 Sekali lagi Pardi menggaruk kepala. Namun akhirnya sopir itu naik. Sapon pun naik. Lasi duduk di antara keduanya. Mesin truk menggeram dan roda-rodanya kembali bergulir makin lama makin cepat. Sambil menukar gigi penggerak, Pardi bergumam, "Baiklah, bila kamu sudah bersaksi kepada langit, kepada bumi. Aku pun bersumpah bahwa aku tak punya urusan dengan pelarianmu ini." 
 
 Dekat mulut jalan besar Pardi kembali menghentikan truknya. "Aku mau beli rokok dulu," katanya sambil melompat turun. Pardi memang membeli rokok. Tetapi kesempatan itu digunakannya juga untuk titip pesan bagi orangtua Lasi kepada pemilik warung. Bagaimana juga Pardi ingin membersihkan diri sebab sebentar lagi pasti ada geger; Lasi raib dari Karangsoga. 
 
 Memasuki jalan besar truk membelok ke barat dan meluncur beriringan dengan kendaraan lain yang datang dari timur. Di atas jalan kelas tiga yang berlapis aspal truk dari Karangsoga itu berjalan lebih tenang dan dikemudikan dalam kecepatan tetap. Suara mesin menderu datar. Pardi kembali menyalakan rokok. Kabin truk terang sejenak. Sapon menengok ke kanan dan sekejap terlihat olehnya mata Lasi berkaca-kaca. 
 
 Lasi memang menangis. Kini ia mulai sadar akan apa yang sedang dilakukannya; lari meninggalkan Karangsoga, bumi yang melahirkan dan ditinggalinya selama dua puluh empat tahun usianya. Lari dari rumah; rumah 
lahir, rumah batin tempat dirinya hadir, punya peran dan punya makna. Lari meninggalkan tungku dan kawah pengolah nira dan wangi tengguli mendidih. Dan semuanya berarti lari dari yang nyata menuju ketidakpastian, menuju dunia baru yang harus diraba-raba, dunia yang belum dikenal atau mengenalnya. 
 
 Lasi kadang merasa ragu dan takut. Namun rasa sakit karena perbuatan Darsa dan lebih-lebih sakit karena merasa dirinya tidak lagi berharga untuk seorang suami, membuat tekadnya lebih pekat. Lari dan mbalelo adalah satu-satunya cara untuk lampiaskan perlawanan sekaligus membela keberadaannya. Lari dan lari meski Lasi sadar tak punya tempat untuk dituju. 
 
 Hampir satu jam sejak memasuki jalan besar tak seorang pun dalam kabin truk itu bersuara. Pardi sering menggaruk-garuk kepala dan segera menyalakan rokok baru bila yang lama habis. Sapon mencoba bernyanyi. Tetapi suaranya terdengar sember, tertekan, dan parau. Ganti bersiul, namun bunyinya pun tak 
enak didengar. Kebisuan terus bertahan sampai Pardi menghentikan truknya di 
depan sebuah warung makan. Sapon turun lebih dulu untuk mengganjal roda supaya aman. 
 
 "Las, aku lapar. Warung makan ini langgananku. Kamu juga belum makan, bukan?" 
 
 "Ya, tetapi aku tak lapar." 
 
 "Lapar atau tidak kamu harus makan. Kita mau berjalan jauh, tak baik membiarkan perut kosong. Bisa masuk angin." 
 
 "Betul, Las," sela Sapon. "Kita makan dulu." 
 
 "Aku tak pernah makan di luar rumah. Malu." 
 
 "Kalau begitu sekarang kamu coba. Lagi pula kamu sudah ikut kami, maka kamu harus ikuti aturan kami. Jangan sampai bikin repot gara-gara kamu sakit karena perut kaubiarkan kosong." 
 
 "Apa kita sudah jauh dari Karangsoga?" 
 
 "Sudah. Di tempat ini kukira tak ada orang yang mengenalmu. Ayolah turun." 
 
 "Aku tak punya uang. Pinjami aku dulu, ya."

"Jangan bilang begitu. Kamu ikut kami, maka soal makan kamilah yang tanggung. Kecuali kamu mau bikin malu kami." 
 
 Akhirnya Lasi mau turun dan masuk ke warung mengikuti Pardi dan Sapon. Lasi dan Sapon langsung duduk tetapi Pardi terus ke belakang. Seorang perempuan muda melayani Pardi dengan memberikan sabun dan handuk. Pardi tampak sudah sangat akrab dengan perempuan itu. Mereka sekilas tampak seperti 
suami-istri. "Biasa, Las," kata Sapon yang melihat Lasi terheran-heran. "Sopir, kata orang, bila ingin ngaso, ya mampir. Jadi pacarnya banyak." Lasi tak memberi tanggapan apa pun. Ia sedang mencatat dalam hati sesuatu yang baru diketahuinya karena sesuatu itu belum pernah dilihatnya di Karangsoga. 
 
 Sinar putih lampu petromaks membuat sosok Lasi tampak jelas. Kain kebaya yang dikenakannya sudah lusuh. Rambutnya disanggul sembarangan seperti perempuan hendak pergi ke sawah. Wajahnya berminyak pertanda sudah lama Lasi tidak mandi. Juga ternyata Lasi tak memakai alas kaki. Dan bibirnya pucat. Beberapa kali Sapon mendengar suara keruyuk dari perut Lasi. 
 
 Meski pada awalnya kelihatan canggung, Lasi makan dengan sangat lahap. Segelas besar teh manis pun ditenggak habis. Kalau bukan karena rasa lapar yang sudah lama tertahan, tak mungkin Lasi makan selahap itu. Keadaan Lasi mengingatkan Sapon akan cerita orang bahwa sejak mendengar suaminya berkhianat Lasi tak mau makan, juga tak bisa tidur. Bila cerita itu betul, boleh jadi sudah dua hari perut Lasi tak terisi makanan dan mungkin juga tidak tidur. 
 
 Sapon menggeleng-gelengkan kepala. Dan tersenyum; karena dalam keadaan demikian pun Sapon melihat Lasi tetap dalam kekhasannya: kontras antara hitam pekat rambutnya dan putih kulitnya begitu mengesankan. Alis dan matanya tdk ada duanya, membuat Lasi sangat mudah menarik perhatian. Apalagi tinggi badan Lasi seperti emaknya, Mbok Wiryaji, lebih tinggi dari 
kebanyakan perempuan Karangsoga. Sapon tersenyum lagi. Kini dia teringat Darsa. Betul, sumpah serapah Mbok Wiryaji, pikir Sapon. Darsa lelaki tak tahu diuntung, tak berhati-hati dengan kemujurannya mendapat istri secantik Lasi yang memang sudah dibilang orang lebih pantas menjadi ibu lurah.




Bersambung... 
_____________________________________________

Jumat, 23 April 2021

BEKISAR MERAH BAB 04

BAGIAN KEDUA 01
 
 Musim pancaroba telah lewat dan kemarau tiba. Udara Karangsoga yang sejuk berubah dingin dan acap berkabut pada malam hari. Namun kemarau di tanah vulkanik itu tak pernah mendatangkan kekeringan. Pepohonan tetap hijau karena tanah di sana kaya akan kandungan air. Suara gemercik air tetap 
terdengar dari parit-parit berbatu atau dari dasar jurang yang tertutup rimbunan pakis-pakisan. Kemarau di Karangsoga hanya berarti tiadanya hujan dalam satu atau dua bulan. Alam sangat memanjakan kampung itu dengan memberinya cukup air dan kesuburan. Lalu, mengapa para penyadap kelapa di 
Karangsoga hidup miskin adalah kenyataan ironik, yang anehnya tak pernah 
dipermasalahkan apalagi dipertanyakan di sana. 
 
 Kehidupan di Karangsoga tetap mengalir seperti air di sungai-sungai kecil yang 
berbatu-batu. Manusianya hanyut, terbentur-bentur, kadang tenggelam atau bahkan membusuk di dasarnya. Tak ada yang mengeluh, tak ada yang punya gereget, misalnya mencari kemungkinan memperoleh mata pencarian lain karena menyadap nira punya risiko sangat tinggi dengan hasil sangat rendah. Atau menggalang persatuan agar mereka bisa bertahan dari kekejaman pasar 
bebas yang sangat leluasa memainkan harga gula. 
 
 Tidak. Karangsoga tetap adhem-ayem seperti biasa, tenang, seolah kemiskinan para penyadap di sana adalah kenyataan yang sudah dikemas dan harus mereka terima. Malam itu pun Karangsoga tenang. Bulan yang hampir bulat leluasa mendaulat langit karena awan hanya sedikit menyaput ufuk barat. 
 
 Eyang Mus turun dari suraunya yang kecil setelah beberapa lelaki tua lebih dulu meninggalkannya. Di emper surau Eyang Mus mengangkat muka untuk sejenak menatap langit. Dan cahaya bulan yang menerpa wajah serta-merta menyejukkan hatinya. Bunyi terompah yang teratur mengiringi langkahnya dan segera berganti nada ketika Eyang Mus menginjak lantai rumah. 
 
 Pintu berderit ketika Eyang Mus masuk. Mbok Mus sudah menyiapkan teh hangat dan kotak tembakau di meja ruang depan. Pasangan orang tua itu biasa duduk berlama-lama sambil menunggu mata mengantuk. Tak ada kesibukan pada malam seperti itu bagi pasangan yang sudah ditinggal oleh anak-anak. Keempat anak mereka sudah lama berumah tangga dan memisahkan diri. 
 
 Namun malam ini Eyang Mus tak ingin duduk termangu. Bulan hampir bulat yang dilihatnya sejenak ketika ia turun dari surau telah mengusik hatinya lalu menuntun langkahnya ke pojok ruang depan. Di sana ada gambang kayu keling yang usianya mungkin lebih tua daripada Eyang Mus sendiri. Eyang Mus yang 
sering mendapat sebutan santri kuno, mahir memainkan gambang tunggal untuk mengiringi bait-bait suluk yang biasa ditembangkannya dalam irama sinom atau dhandhanggula. Bagi seorang santri kuno seperti Eyang Mus, suluk yang diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gusti-nya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula 
dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh, dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelangut menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila yang ditembangkannya adalah bait-bait pilihan. 
 
 Wong kas ingkang sampun makolih 
 Hakul yakin tingale pan nyata 
 sarta lan sapatemone 
 Pan sampun sirna luluh 
 tetebenge jagat puniki 
 Kabotan katingalan 
 ing wardayanipun 
 Anging jatine Sanghyang Suksma 
 Datan pegat anjenengaken mangkyeki 
 Kang ketung mung Pangeran 
 Sapolahe dadi pangabekti 
 Salat daim pan datan wangenan
Pan ora pesti wektune pan ora salat wulu 
 Tan pegat ing ulat liring 
 Madhep maring Hyang Suksma 
 Salir kang kadulu 
 andulu jatining tunggal 
 jroning bekti miwah sajabaning bekti 
 Sampun anunggal tingal 
 
 Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; 
pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. 
Luluh lebur segala tabir dunia. 
Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. 
Tak putus menyebut nama-Nya. 
Baginya yang ada hanyalah Allah. 
 
 Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan 
ketika raganya dalam keadaan tak suci. 
Mata hatinya tak putus memandang Allah. Kenyataan yang ada baginya adalah kesatuan wujud baik ketika dalam salat maupun di luarnya. 
Hasrat manusiawi 'lah terselaraskan dengan kehendak Ilahi. 
 
 Dan semuanya baru berhenti apabila Eyang Mus, oleh matra kemanusiaan sendiri, tersadar dirinya terhadirkan di alam kesehatian. 
 
 Orang Karangsoga, bahkan Mbok Mus sendiri tak pernah mengerti betapa jauh jiwa Eyang Mus mengembara ketika lelaki tua itu sedang bersila di depan gambangnya. Mereka tidak tahu, ketika mata Eyang Mus terpejam hatinya 
malah melihat dunia yang lebih nyata. Namun demikian orang Karangsoga setidaknya mampu menangkap muatan wadhag, muatan lahiriah suara gambang Eyang Mus. Muatan itu adalah irama gambang yang menyapa hati, menyentuh jiwa sehingga mereka betah mendengarkannya. Apalagi ketika tengah malam cahaya bulan membuat bayang-bayang pepohonan di halaman dan udara musim 
kemarau terasa sangat dingin; orang-orang Karangsoga larut dalam kelembutan suara gambang yang melantun merayapi sudut-sudut kampung, memantul pada lereng-lereng tebing, dan menghilang setelah jauh merayap menyusur lembah. 
 
 Eyang Mus bangkit setelah selesai dengan beberapa pupuh suluk lalu duduk di bangku panjang. Lelaki tua itu sedang menggulung rokok dan istrinya sedang membersihkan bibir dengan susur ketika seorang perempuan uluk salam. Eyang Mus dan istrinya sudah kenal suara itu, suara Mbok Wiryaji. 
 
 "Aku tak pangling akan suaramu. Bersama siapa?" tanya Eyang Mus sambil membukakan pintu. 
 
 "Sendiri, Yang." 
 
 "Suamimu?" 
 
 "Di rumah." 
 
 Di bawah sorot lampu gantung tampak wajah Mbok Wiryaji yang gelap. Eyang Mus suami-istri sudah hafal, istri Wiryaji itu selalu datang bila ada kekusutan di rumah. 
 
 "Duduklah. Rasanya wajahmu mendung. Cekcok lagi?" 
 
 "Biasa, Yang. Mungkin sudah jadi suratan, saya dan suami saya harus sering cekcok." 
 
 "Kalian sudah beruban tetapi belum juga berubah."

"Yang, pada awalnya saya dan suami saya bicara soal Lasi. Bicara ke sana kemari, eh, lama-lama kami bertengkar. Daripada ramai di rumah lebih baik saya menyingkir ke sini." 
 
 "Cobalah, sesekali kamu datang kemari dengan nasi hangat dan gulai ikan tawes, pasti kuterima dengan gembira. Jangan selalu soal pusing kepala yang kamu sodorkan kepadaku. Sekarang urusan apa lagi?" 
 
 "Lasi, Yang. Maksud saya, suaminya si Darsa itu. Sudah empat bulan dirawat di rumah keadaannya tak berubah." 
 
 "Masih ngompol?" 
 
 "Ngompol terus, malah perangai Darsa sekarang berubah. Ia jadi suka marah, sepanjang hari uring-uringan. Kemarin Darsa membanting piring hanya karena Lasi agak lama pergi ke warung. Aku kasihan kepada Lasi. Suami seperti kambing lumpuh, pakaiannya yang sengak harus dicuci tiap hari, tapi saban kali Lasi malah kena marah." 
 
 "Siapa yang menyiapkan kayu bakar?" 
 
 "Nah, itu! Mengolah nira memang pekerjaan Lasi sejak kecil. Tetapi soal mencari kayu? Eyang Mus, saya tak tega melihat Lasi tiap hari bersusah payah mengambil kayu di hutan. Dan yang membuat saya cemas, apakah penderitaan Lasi bisa berakhir? Bagaimana kalau Darsa tak bisa sembuh?" 
 
 "Kamu jangan berpikir seperti itu."

"Eyang Mus, Lasi masih muda. Apa iya, seumur-umur ia harus ngewulani suami yang hanya bisa ngompol?" Mbok Wiryaji tersenyum pahit. 
 
 "Hus." 
 
 "Saya tidak main-main, Eyang Mus. Sekarang Darsa memang hanya bisa ngompol, ditambah perangainya yang berubah jadi pemarah. Dengan keadaan seperti itu, sampai kapan Lasi bisa bertahan, dan haruskah saya diam belaka?" 
 
 "Nanti dulu. Kalau perasaanku tak salah, aku menangkap maksud tertentu dalam kata-katamu. Kamu tidak lagi menghendaki Darsa jadi menantumu?" 
 
 Mbok Wiryaji terkejut. Wajahnya berubah. Eyang Mus tersenyum karena percaya dugaannya jitu. 
 
 "Jangan tergesa-gesa. Sebelum mendapat kecelakaan Darsa adalah suami yang baik. Kini Darsa tak berdaya karena sesuatu yang berasal dari luar kehendaknya. Lalu, apakah kamu mau tega?" 
 
 "Aku ikut tanya," sela Mbok Mus. "Apakah Lasi kelihatan tak suka lagi bersuami Darsa?" 
 
 "Tidak juga. Saya kira Lasi tetap setia menemani suaminya yang bau sengak itu. Dan hal itulah yang membuat saya malah jadi lebih kasihan kepadanya. Masalahnya, apakah Lasi harus menderita lahir-batin seumur hidup?" 
 
 "Sebelum kamu punya pikiran pendek seperti tadi, apa kamu sudah cukup ikhtiar untuk menyembuhkan Darsa?"

"Sudah tak kurang, Eyang Mus. Tidak sembuh di rumah sakit, kemudian segala jamu sudah banyak diminum. Jampi sudah banyak disembur." 
 
 "Ya. Ikhtiar harus tetap dijalankan. Juga doa. Dulu kamu sendiri bilang, bila hendak memberikan welas-asih, Gusti Allah tidak kurang cara. Tetapi mengapa sekarang kamu jadi berputus asa? Kamu tak lagi percaya bahwa Gusti Allah ora sare, tetap jaga untuk menerima segala doa?" 
 
 "Iya, Eyang Mus. Semua itu saya percaya. Tetapi..." 
 
 "Teruskan, kenapa terputus?" 
 
 Mbok Wiryaji kelihatan ragu. 
 
 "Eyang Mus, saya berterus terang saja, ya. Kemarin saya mendapat pesan dari Pak Sambeng, guru yang dulu mengajar Lasi. Ketika Lasi masih gadis Pak Sambeng melamarnya tetapi kami tolak karena waktu itu Pak Sambeng masih punya istri. Kini, dia menduda. Dia masih menghendaki Lasi. Katanya, bila tak kena perawan, jandanya pun jadi." 
 
 "Cukup! Rupanya inilah hal terpenting mengapa kamu datang kemari. Rupanya 
kamu sedang mendambakan punya menantu seorang guru. Sebenarnya kamu harus menolak begitu mendengar pesan Pak Sambeng itu. Satu hal kamu tak boleh lupa: Jangan sekali-kali menyuruh orang bercerai. Juga jangan lupa, Darsa adalah kemenakan suamimu. Salah-salah urusan, malah kamu dan suamimu ikut kena badai. Oh, Mbok Wiryaji, aku tak ikut kamu bila kamu punya 
pikiran demikian. Aku hanya berada di pihakmu bila kamu terus berikhtiar dan berdoa untuk kesembuhan Darsa." 
 
 "Soal berikhtiar, Eyang Mus, percayalah. Sampai sekarang pun kami terus berusaha. Kini pun Darsa sedang ditangani oleh seorang tukang urut; Bunek."

"Bunek si dukun bayi?" 
 
 "Ya. Bunek memang dukun bayi. Tetapi banyak orang bilang pijatannya terbukti bisa menyembuhkan beberapa lelaki peluh, eh, lelaki yang anu-nya mati." 
 
 "Kamu yang menghubungi Bunek?" 
 
 "Bukan. Lasi sendiri yang menyerahkan suaminya untuk ditangani peraji itu." 
 
 "Nah, itu namanya pikiran waras. Aku sungguh-sungguh ikut berdoa semoga ikhtiar kalian kali ini berhasil." 
 
 Mbok Wiryaji hanya mengangguk. Tetapi kesan tak puas masih tersisa pada wajahnya. Emak Lasi itu lalu merebahkan diri di balai-balai yang didudukinya. 
 
 "Kamu boleh beristirahat di sini. Tapi jangan menginap. Ora ilok, tak baik meninggalkan suami sendiri di rumah," dan tangan Eyang Mus meraih kotak tembakau. Sesaat kemudian terdengar bunyi pemantik api serta embusan napas dengan asap rokok. Sepi dari luar merayap masuk. Mbok Mus menyuruh emak 
Lasi pulang tetapi hanya mendapat jawaban desah napas. Mbok Wiryaji pulas. 
 

 
                         ***** 

 
 Orang bilang ciri paling nyata pada diri Bunek adalah cara jalannya yang cepat. Cekat-ceket. Langkahnya panjang dan ayunan tangannya jauh, mungkin karena Bunek biasa tergesa bila berjalan memenuhi panggilan perempuan yang sedang menunggu detik kelahiran bayinya. Namun cirinya yang lain pun tak kalah 
mencolok. Bunek selalu kelihatan paling tinggi bila berada di antara perempuan-perempuan lain. Tawanya mudah ruah, juga latahnya. Pada saat latah, ucapan yang paling cabul sekalipun dengan mudah meluncur dari mulutnya. Namun dalam keadaan biasa pun Bunek biasa berkata mesum seringan ia menyebut sirih yang selalu dikunyahnya. Wajah Bunek bulat panjang dan semua orang percaya ia cantik ketika masih muda. Kulitnya malah masih 
lembut meskipun Bunek sudah punya beberapa cucu. Rambutnya yang lebat mulai beruban tetapi Bunek rajin menyisirnya sehingga menambah kesannya yang rapi dan singset. Ia selalu ingin bergerak cepat. 
 
 Banyak perempuan menjadi pelanggan Bunek. Konon karena pijatan tangannya yang lembut namun tetap bertenaga. Keterampilan demikian konon tak mudah tertandingi oleh peraji lain. Tetapi lebih banyak orang bilang, bukan hanya pijatan Bunek yang disukai melainkan juga suasana cair dan ringan yang selalu dibawanya di mana pun Bunek berada. Bagi Bunek segala masalah boleh dihadapi dengan tertawa, bahkan dengan latah yang cabul. Rasa sakit yang menusuk perut ketika seorang perempuan melahirkan hanya perkara enteng di mata Bunek. "Aku juga pernah melahirkan. Rasa sakit ketika jabang bayi mau 
keluar bisa membuat aku ingin meremas suami sampai remuk. Namun heran, sungguh heran, aku tidak jera. Aka bunting lagi dan bunting lagi. Aku kecanduan. Eh, apa kamu tidak begitu? Tidak? He-he-he!" 
 
 Suatu kali seorang ibu meraung-raung ketika hendak melahirkan. Perempuan itu bersumpah habis-habisan demi langit dan bumi bahwa dia tak sudi hamil lagi. Tak sudi! Tetapi Bunek menanggapinya sambil tersenyum ringan. "Tahun lalu kamu bersumpah demi bapa-biyung, sekarang kamu bersumpah demi langit 
dan bumi, tetapi aku percaya tahun depan kamu hamil pula. Lalu kamu akan bersumpah demi apa lagi? Ayolah, aku belum bosan mendengar sumpahmu, he-he-he." 
 
 Apabila ada perempuan tidak memilih Bunek, sebabnya mungkin karena kesukaan dukun bayi itu berterus terang. Bunek biasa blak-blakan menyuruh seorang suami jajan bila tak sabar menunggu istrinya sehat kembali setelah melahirkan. Bila disanggah orang karena nasihatnya yang samin itu dengan 
enteng Bunek bilang, "Lelaki ngebet itu biasa, wajar. Dan siapa yang bisa menahan diri boleh dipuji. Lho, yang tidak? Jujur saja, apa mereka harus mencari liang kepiting? He-he-he."

Selama merawat Darsa, Bunek tetap membawa suasana yang menjadi cirinya, 
cair dan enteng. Mula-mula Darsa agak tersinggung karena terasa betul Bunek 
menyepelekan penderitaannya. Namun lama-kelamaan Darsa menikmati keserbacairan dukun bayi itu. Tentang kemih Darsa yang terus menetes misalnya, Bunek hanya bilang, "Ah, tidak apa-apa. Cuma air yang merembes. 
Seperti nira yang kamu sadap, kemihmu akan berhenti menetes pada saatnya." Atau tentang pucuk Darsa yang lemah, "Itu juga tidak apa-apa. Seperti ular tidur, nanti akan menggeliat bangun bila cuaca mulai hangat." 
 
 Kata "tidak apa-apa" yang selalu diulang dengan senyum Bunek yang ringan akhirnya mampu membangkitkan kepercayaan Darsa, percaya bahwa cacat tubuh yang disandangnya hanya masalah sementara, tidak apa-apa, dan tidak mustahil Bunek bisa mengatasinya. Maka Darsa makin patuh kepada Bunek. Dia serahkan dirinya untuk diurut dari kaki sampai kepala. Bagian pusar dan selangkangannya selalu mendapat garapan khusus. 
 
 "Pantas, bocah-mu mati. Urat-urat di selangkanganmu dingin seperti bantal 
kebocoran," kata Bunek suatu kali. "Kamu harus banyak bergerak agar urat-uratmu tidak beku." 
 
 Darsa hanya melenguh. 
 
 "Tak lupa minum jamu?" 
 
 Darsa melenguh lagi. 
 
 "Ya. Meski pahit namun harus kamu minum. Bahannya bukan apa-apa, sekadar akar ilalang dan ujung akar pinang serta cengkih. Kamu tahu mengapa akar ilalang?"

"Tidak." 
 
 "Akar ilalang akas dan punya daya tembus hebat. Tanah cadas yang keras pun 
dapat diterobosnya." 
 
 Darsa nyengir. 
 
 "Kamu tahu mengapa cengkih?" 
 
 Darsa nyengir lagi. 
 
 "Cengkih bisa menimbulkan kehangatan. Ya. Karena semuanya bermula dari berhangat-hangat." 
 
 Pada pekan pertama setiap hari Bunek datang merawat Darsa di rumah. Namun selanjutnya Darsa diminta datang ke rumah Bunek pada malam hari. "Di siang hari pekerjaanku terlalu banyak," kata Bunek. "Lagi pula kamu perlu banyak berjalan untuk menghidupkan kembali urat-urat tungkaimu yang dingin." 
 
 Dengan senang hati Darsa memenuhi permintaan Bunek karena pergi malam hari jarang bertemu orang lain. Darsa malu, setiap orang akan menutup hidung bila berpapasan dengan dia. Sengak. Lasi sering menemani Darsa pergi ke rumah Bunek. Namun bila badan terasa letih, Lasi melepas Darsa berangkat seorang diri. 
 
 Hujan pertama sudah turun mengakhiri musim kemarau selama hampir lima bulan. Perdu yang meranggas pada dinding-dinding lembah dan lereng jurang menghijau kembali karena munculnya pucuk daun muda dan tunas-tunas baru. Rumpun puyengan yang menutupi tanah-tanah liar mulai berbunga, seakan menaburkan warna marak kekuningan di mana-mana. Relung-relung muda bermunculan di tengah hamparan pikis-pakisan sepanjang lereng jurang. 
 
 Ketika matahari naik ratusan kupu dari berbagai jenis dan warna beterbangan 
mengelilingi bunga-bunga liar atau berkejaran dengan pasangannya. Pagi hari ribuan laron keluar, terbang berhamburan mengundang burung-burung dan serangga pemangsa. Pagi yang meriah, suasana khas awal musim hujan. Burung layang-layang, keket, dan si ekor kipas pamer ketangkasan mereka menyambar 
mangsa. Tapi capung maling tak lagi mengejar buruannya apabila sudah ada seekor laron di mulutnya. Sedikit laron yang selamat adalah yang segera bertemu pasangannya. Laron jantan akan menggigit pantat laron betina, turun ke bumi, dan melepas sendiri sayap-sayap mereka. Keduanya akan merayap 
beriringan, menggali tanah di tempat yang tersembunyi, dan siap berkembang biak untuk membangun koloni baru. 
 
 Di pekarangan yang penuh pepohonan Darsa sedang mengumpulkan ranting-ranting mati untuk kayu bakar. Sudah beberapa hari Darsa bisa kembali bekerja yang ringan-ringan. Setengah tahun terpaksa beristirahat membuat otot-ototnya hampir kehilangan kekuatan. Maka Darsa belum berani menyadap sendiri pohon-pohon kelapanya. Meskipun demikian beberapa perubahan jelas nampak pada diri Darsa. Wajahnya mulai bercahaya dan segala gerak-geriknya kelihatan lebih bertenaga. Dan Lasi merasakan perubahan lain, Darsa makin 
jarang marah. Suaminya itu juga sudah mau bercakap-cakap, bahkan kadang tertawa dan bergurau bersama Mukri. Padahal biasanya wajah Darsa berubah gelap apabila Mukri datang mengantar nira. Apalagi bila Lasi kelihatan terlalu bersemangat membantu Mukri menurunkan pongkor dari pundaknya. Memang, Mukri suka mencuri pandang dan kadang senyumnya nakal. Lasi yang sekian 
bulan tidak diapa-apakan bisa tersengat oleh ulah Mukri. Hanya tersengat, selebihnya tidak ada apa-apa lagi. 
 
 Dan ada perubahan yang lebih nyata. Suatu kali Darsa mendekati Lasi yang sedang jongkok di depan tungku. Dengan wajah terang Darsa berbisik, 
 
 "Las, celana yang kupakai sejak pagi masih kering." 
 
 Lasi menatap suaminya dengan mata bercahaya. Senyumnya mengembang, "Syukur, Kang. Oh, pantas, cucianmu makin sedikit." 
 
 "Kamu senang, Las?" 
 
 Lasi menunduk. Wajahnya memerah. 
 
 "Kamu sendiri senang apa tidak?" 
 
 Lasi dan Darsa berpandangan. Lasi tersengat dan ada gelombang kejut menyentak jantungnya. Pipinya merona. Namun Lasi segera menundukkan kepala. 
 
 "Nanti kita bikin selamatan, ya, Kang. Kita syukuran." 
 
 "Ya, bila aku sudah benar-benar pulih-asal, kembali segar seperti sediakala." 
 
 "Ya, Kang." 
 
 Lasi terus bekerja mengendalikan api. Nira dalam kawah menggelegak seperti 
mengimbangi semangat yang tiba-tiba mengembang di hati Lasi. Asap mengepul 
dan bergulung naik ke udara. Bau nira yang mulai memerah tercium lebih harum. Oh, betul Gusti Allah ora sare, bisik Lasi untuk diri sendiri. Akhirnya Kang Darsa sembuh karena welas-asih-Nya. Orang yang senang menyebutku randha magel, janda kepalang tanggung, boleh menutup mulut. Emak yang 
selalu menyebut-nyebut nama Pak Sambeng juga boleh tutup mulut. Lasi mengembuskan napas lega. Air matanya menggenang.



Bersambung... 
______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...