Jumat, 21 Agustus 2020

SANG KYAI -72

Sang kyai 72

Kami semua dalam kepanikan, karena Aisyah sudah seperti keluarga, aku sendiri yang tak paham 100% metode, cara, waktu, dan semuanya dari alam jin, yang tentu berbeda dengan alam manusia, padahal kalau bahas jin, harusnya logika kita membuat ukuran alam mereka, bukan lagi alam kita, sebagaimana kalau bahas malaikat, seharusnya logika kita harusnya dimasukkan ke alam mereka agar pembahasan itu tepat, sebagaimana juga orang mau goreng tempe, tau kan goreng tempe, orang mau goreng tempe itu harus logikanya masuk ke membuat adukan tepung dan ukuran air dan bagaimana menggoreng sehingga dihasilkan gorengan yang tepat, tak beda sebenarnya dengan hal yang lain apapun di dunia ini, jika mau melakukan sesuatu apapun akal kita harus masuk ke dalam bidang yang akan kita lakukan, jangan dicampur aduk, misal mau goreng tempe memakai resep cara nyangkul sawah, sudah pasti tak akan jadi, semoga paham dengan apa yang saya maksudkan.

Karena tak paham bagaimana dunia jin itu, ya setidaknya dari pengalaman demi pengalaman yang ku alami, sedikit banyak membuka cakrawala kepahaman baru saya dengan dunia jin, walau aku tau masih banyak lagi yang belum ku tau, dan masih banyak lagi yang ingin ku ketahui.

Murid ku ajak dzikir, dan aku berdoa, semoga Allah mengirim petir untuk menghancurkan kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan tak sampai sepuluh menit Aisyah sudah masuk ke tubuh Yaya, dan hati kami berbareng merasa ploong, lega, tapi Aisyah dalam keadaan lemah, dan kesakitan.

“Aduh pak kyai…. sakiit, saya dikurung, ini tubuh saya ditancapi bambu sampai tembus…”

Aku segera bertindak, walau sedang memimpin dzikir, aku segera menarik bambu yang menancap di tubuh Aisyah, dan ku tanya Aisyah ternyata sudah tak sakit lagi, cuma tubuhnya masih lemah, tapi tetap saja dia ngoceh.

“Pak kyai… pak kyai… saya ditangkap Sengkuni.” celoteh Aisyah.

“Bagaimana menangkapnya nduk?” tanyaku sambil terus memutar tasbih.

“Saya pas pulang menemani ibu belanja di pasar, saya terbang pulang dahulu, lalu ada beberapa rombongan jin, yang membawa jaring, dan kurungan, menangkap saya, saya jadi tak berdaya, dan saya ditangkap.”

“Lalu saya dibawa ke Surabaya, ke rumah adiknya, dan saya dikurung dalam kerangkeng, saya disiksa, tubuh saya ditusuk-tusuk pakai bambu dari perut tembus ke punggung.., rasanya sakiit sekali pak kyai…”

“Kok Aisyah bisa lepas bagaimana ceritanya..”

“Nyai ratu…” oceh Aiyah kebiasaan kalau diajak ngomong kemana perhatiannya kemana.

“Apa nduk.”

“Nyai ratu pak kyai… itu ikut dzikir sama prajurit semua, nyai ratu mengomeli saya, saya dilarang terbang-terbang lagi, disuruh di dekat pak kyai saja, biar tak ada yang menangkap.”

“Ya nduk, sebaiknya ndak terbang lagi untuk sementara, biar suasananya aman dulu, biar suasananya kondusif dulu, baru nanti terbang lagi.”

“Apa kondusif pak kyai?”

“Kondusif? apa ya kondusif…? ya itu kata yang dipakai orang-orang pinter itu untuk mengucapkan kata aman dan damai mungkin.” jawabku sekenanya saja.

“Wah berarti pak kyai pinter hayo…”

“Kok pinter.”

“La itu memakai kata kondusif?”

“La Aisyah kan baru saja juga mengucapkan kata kondusif, berarti juga pinter kan..”

“Iya ya pak kyai, Aisyah juga baru mengucapkan, berarti Aisyah juga pinter.”

“Wes lah nduk…. bagaimana kok Aisyah bisa lepas dari kurungan?”

“Itu kok pak kyai, saya juga tak tau..”

“Kok tak tau?”

“Ya tau-tau ada bola cahaya dari langit, menyambar kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan kerangkeng jadi hancur lebur jadi cair, juga jin yang menjaga semua terpental mati.”

“Ooo begitu ceritanya?”

“Ya pak kyai… dan saya terbang ke sini, karena pak kyai memanggil, padahal saya sudah bingung.”

“Bingung kenapa nduk?”

“Ya bingung lah pak kyai, kan Aisyah sedang dalam kerangkeng, dan pak kyai memanggil Aisyah, kan Aisyah tak bisa datang, nanti Aisyah jadi murid yang tak berbakti pada guru, jadi Aisyah sedih sekali, ee kok ada bola api yang menyambar kerangkeng Aisyah, sehingga Aisyah jadi bisa memenuhi panggilan kyai.”

“Ndak kok nduk, kyai tidak menyalahkan Aisyah, ini kyai lagi dzikir ini untuk menolong Aisyah dari kerangkeng Sengkuni.”

“Jadi yang menolong Aisyah itu kyai ya?”

“Tidak nduk, yang menolong Aisyah itu Allah taala, kyai hanya meminta pada Allah agar menolong Aisyah, dan Allah membebaskan Aisyah dengan mengirim cahaya malaikat itu.”

“Terimakasih ya Allah, Engkau telah menolong Aisyah.”

“Bagaimana lukamu nduk?”

“Sudah sembuh kyai, setelah kyai obati.”

“Itu juga pertolongan Allah nduk, kyai hanya berdoa supaya sakit Aisyah disembuhkan, musnah hilang.”

“Iya kyai.”

“Ingat Aisyah jangan terbang-terbang lagi.”

“Tapi Aisyah jadi tak bebas no kyai.”

“Ya kalau ditangkap lagi bagaimana, apa Aisyah mau?”

“Hiii ngeri, masak tubuh Aisyah ditusuk-tusuk, leher ditusuk sampai tembus, perut ditusuk sampai tembus.”

“Nah kan, apa Aisyah mau seperti itu lagi?”

“Ya gak mau lah kyai.”

Akhirnya malam itu kami lega dengan kejadian yang kami alami, dan bagiku ada pelajaran yang ku ambil manfaat.

_________________________________________________

Jam 8 pagi, karena dalam perut seperti ada yang mengganjal, jika dipakai bernafas, atau batuk terasa menusuk-nusuk, seperti sebuah bambu lancip, aku panggil Aisyah ingin ku tanya sebenarnya apa yang dalam perutku. Tapi ku panggil-panggil tak juga datang, ku tarik saja dengan daya penarik, ku masukkan ke tubuh Yaya. Malah yang masuk jin lain, dia menggereng-gereng.

“Siapa?” tanyaku.

“Hem.. grrrr..” jawab dia menggereng, biasa mungkin menggertak, jin selalu begitu, suka main gertak.

“Siapa?”

“He.. he.. he… kau mencari Aisyah muridmu?”

“Iya..”

“Muridmu sudah dibawa teman-temanku.”

“Kemana.”

“Terbang ke Surabaya,”

“Ke tempat Sengkuni?”

“Ya..”

“Apa maunya Sengkuni, kenapa selalu menggangguku, dan membawa Aisyah?”

“Hmmm… karena dia kau ajari mengobati.”

“Kan dia ku ajari menolong orang.”

“Tak boleh.”

“Kenapa tak boleh?”

“Ya tak boleh berbuat baik, tak boleh menolong orang, tak boleh mengobati.”

“Kenapa?”

“Nanti thoreqohmu terkenal, banyak pengikutnya.”

“Sekarang bawa Aisyah kembali,”

“Hahahahah… tak bisa, dia akan kami kurung, akan kami bunuh.”

“Suruh temanmu bawa kembali.”

“Tak bisa, hahaha…, bawa kembali sendiri kalau mampu.”

“Baik.” segera ku membaca doa minta sama Allah diberi pedangnya malaikat maut, padahal aku sendiri tak tau, apa malaikat maut punya pedang apa tidak, heheheh…, yang jelas aku membayangkan pedang di tanganku menembus langit, dan ku tebaskan pada jin yang membawa kabur Aisyah, dan….

“Ampuuun….” terdengar jin lain.

“Siapa?”

“Kami yang membawa Aisyah.”

“Sekarang dia di mana?”

“Sekarang dia di penjara di sangkar burung.”

Perlu diketahui, Aisyah itu berbentuk asli burung merpati berwarna putih.

“Ayo bebaskan.”

“Tak bisa…”

“Kenapa? Apa kamu tak takut denganku?”

“Ya kami semua takut.”

“Kenapa tak mau membebaskan?”

“Kami diancam.”

“Sama siapa?”

“Sama Sengkuni, kalau kami tak menangkap Aisyah dan membebaskannya, kami akan disiksa.”

“Takutan mana sama Sengkuni, apa denganku?”

“Takut denganmu.”

“Nah bebaskan, apa kamu ku penggal kepalamu?”

“Jangan, jangan, jangan kami dibunuh.”

“Nah sekarang bawa kesini.”

“Kami tak bisa membuka sangkar burungnya, karena dikunci dengan ilmu,”

“Ini pegang pedangku, dan tebas sangkar burungnya.” ku berikan pedangku padanya.

“Aduuh berat sekali.”

“Sudah tebas, sini ku bantu tenaga,”

Lalu dia melakukan gerakan menebas.

“Pak kyai… saya bebas..” suara Aisyah.

“Ampuun… kami ingin menjadi murid kyai.” terdengar suara jin yang tadi.

“Iya… kalian sudah Islam..?” tanyaku.

“Belum..”

“Ayo tirukan aku membaca dua kalimat sahadat.”

“Iya.”

Lalu dia ku ajari membaca dua kalimat sahadat, dan setelah itu ku suruh mandi sebagai tanda masuk Islam.

__________________________________________________

“Pak kyai… ada jin lagi yang membawa kerangkeng ingin menangkapku.”

“Wah bener-bener keterlaluan, ada di mana nduk?”

“Itu pak kyai ada di bawah pohon mangga.”

Segera ku bentuk bola api di tangan dan ku hantamkan ke arah jin.

“Wah meledak pak kyai.”

“Apanya yang meledak nduk?”

“Ya kerangkengnya pak kyai, tapi jinnya kabur..”

“Wah gak ketangkap.”

Saat itu aku belum paham, kalau jin kabur, aku tak bisa menangkapnya, seiring perkembangan waktu, dan sampai sekarang, setelah berjalannya waktu, ternyata jin langit, atau jin di mana saja bisa ku tarik dengan tanganku, subhanallah, maha besar ilmu dari Allah, benar memang semakin kita banyak tau, maka akan makin banyak yang belum kita tau, dan haus akan ilmu, makin tak terbendung, ingin terus nambah saja ilmu.

Apalagi akhir-akhir ini, makin banyak kejadian ku alami, beruntun dan serasa berat menanggungnya, makin aku sadar kalau itu semua adalah cara Allah menggemblengku untuk menjadi orang yang sanggup memegang amanah yang dibebankan ke pundakku, setelah tau itu, segala ujian itu malah serasa ringan, dan malah ketagihan ingin di-uji dan di-uji, jika mengingat anugerah yang diberikan padaku, maka segala ujian itu tak memberatkan sama sekali, pantesan guruku begitu senangnya menerima ujian, dan tak mau menolaknya sama sekali.

Yang ku rasakan manfaat dari ujian yang bertubi-tubi yang ku terima itu adalah, para guru besar, seperti syaikh Abdul Qodir Jailani RA, syaikh Nawawi, syaikh Abdul Karim Tanahara, dan ahli silsilah TQNS semua hadir ketika ada pengajian thoreqoh di rumahku, dan malaikat yang hadir berlapis-lapis, sampai tembus langit, berbaris, malah sering ketangkap kamera yang memotret, dan yang hadir dari dunia jin juga sampai memenuhi semua tempat, yang aneh malah yang dari manusia jarang ada yang ikut. Tetangga saja jarang ada yang ikut, ya biarkan saja.

Sebenarnya aku sendiri juga tak tau kalau mereka ikut, tauku diberi tau Aisyah, biasanya Aisyah akan memberitahu siapa saja yang hadir di pengajian,

“Kyai… wah Aisyah tak berani ikut di dalam majlis kyai.”

“Kenapa nduk?”

“Aisyah silau.”

“Silau kenapa nduk?”

“Di samping kanan kiri kyai, dari syaikh Abdul Qodir, syaikh Abdul Karim, syaikh Tolkhah, syaikh Nawawi, syaikh saya tak tau lagi kyai, banyak sekali semua hadir, dan yang sering hadir syaikh Magrobi dengan anaknya.”

“Siapa syaikh Maghrobi?”

“Itu kyai yang tinggal di Gresik.”

“Apa mereka dari bangsa jin?”

“Bukan kyai, mereka dari ruh, wah silau sekali kyai, belum lagi para malaikat yang hadir, sampai tembus langit tuju berbaris.”

“Apa bener nduk?"

“Ya benar lah kyai, masak Aisyah bohong, nanti masuk neraka, juga kuwalat kalau bohong sama guru, Aisyah siap diperintah kyai, Aisyah siap mati untuk kyai…”

Aku jadi terharu, mendengar ucapan Aisyah.

“Kyai…”

“Ada apa nduk?”

“Anu anaknya syaikh Magrobi, cuaaantiik sekali.”

“Cantik mana sama Aisyah?”

“Wah cantik dia kyai, pakaiannya hijau, kerudungnya hijau, wajahnya putih seperti susu, dan hidungnya mansuung.”

“Coba tanya dia, apa mau jadi istri kyai?”

Aisyah terdiam.

“Ah kyai… la bu nyai mau dikemanakan?”

“Ya kan boleh saja punya istri 2, 3, 4.”

“Iya deh Aisyah tanyakan.”

Sebentar dia diam….

“Kyai… dia katanya masih mau sama abinya… katanya kalau mau melamarnya, diminta minta sama abinya.”

“Iya deh nanti kyai minta sama abinya..”

“Dia malu kyai..”

“Ya biar… dia sendiri yang nyuruh kyai minta sama abinya.”

“Ee dia kabur, malu… heheheh… lucu.. manusia… heheheh…”

___________________________________________________
Pagi-pagi… habis hujan gerimis, serasa malas sekali mau tidur, padahal semalaman belum tidur , Aisyah memanggil.

“Kyai…”

“Ada apa nduk…” kataku.

“Ada yang mencari kyai…”

“Di mana?”

“Di sumur sana..”

“Mau apa, coba tanya nduk siapa dia, mau apa?”

“Dia bernama syaih Tolkhah dari Kalisapu Cirebon.”

“Syaikh Tolkhah, gurunya Syaikh Mubarok bin Nur Muhammad?”

“Iya kyai…”

“Mau apa dia di situ.”

“Dia bilang ingin memberi ilmu pada kyai..”

“Ooo… ya kyai siap.”

“Kyai…” panggil Aisyah, biasa dia kalau omong sambil matanya kesana kesini.

“Ada apa nduk.”

“Tadi syaikh Tolkhah mengisi sumur.”

“Mengisi dengan apa nduk.”

“Diisi karomah kyai, air sumurnya jadi bergolak.”

“Oo ya ndak papa… ini kyai sudah siap.”

“Iya syaikh Tolkhah sudah ada di belakang kyai.”

Ku rasakan tangan dingin, menempel di punggungku, dan aliran energi masuk ke tubuhku, tubuhku serasa panas. Dan pengisian selesai.

“Kyai , syaikh Tolkhah berpesan supaya ilmu yang diberikan dipakai berjuang di jalan Allah. Semua guru akan mendukung kyai di belakang.”

“Iya katakan pada syaikh Tolkhah, kalau kyai insaAllah siap lahir batin memperjuangkan dan insaAllah menjalankan amanah yang diberikan sekuatnya.”

“Iya kyai,,, syaikh Tolkhah akan kembali, kyai diminta mencium tangannya.”

Aku segera melakukan seperti mencium tangan, ya memang repot memang kalau mata batinku tertutup, karena tertutup oleh Saehuni.

__________________________________________________

Aku lagi makan siang.

“Kyai…. ada syaikh Abdul Qodir Jailani.”

“Mana?”

“Itu di belakang kyai… wah saya tak berani menatap kyai..”

“Kenapa?”

“Silau sekali.”

“Salam ta’dzim kyai, sampaikan pada syaikh Abdul Qodir RA,”

“Ya kyai, beliau menjawab salam dan tersenyum ke kyai.”

“Kyai dia memberi ilmu ke Aisyah dan ke kyai..”

“Ilmu apa nduk?”

“Ilmu untuk menarik jin dari jarak jauh, kalau jinnya fasik, kata beliau, suruh diremas saja, jadi bubuk, nanti jinnya akan mati.”

“Iya nduk kyai siap menjalankan.”

“Kyai, syaikh Abdul Qodir mau membuka mata batin kyai…”

“Iya kyai siap, dan sami’na wa ato’na.”

Serasa di dadaku ada yang bergerak, serasa dingin, beberapa menit berlalu.

“Kyai, syaikh Abdul Qodir mau pergi, kyai diminta mencium tangannya..”

“Kok aku belum terlihat jelas alam gaib?”

“Kata syaikh Abdul Qodir, nanti bisa dipakainya, 4 hari kemudian.”

“Oo yaa.. ya… katakan, kyai mengucapkan terimakasih.”

Aku segera melakukan seperti mencium tangan beliau yang mulia.

Hening…. aku dan Aisyah diam lalu Aisyah nyeletuk kembali.

“Kyai, ada yang datang… ah Aisyah pergi saja..”

“Kenapa kok pergi…?”

“Silau pak kyai…”

“Sudah di sini saja, siapa yang datang?”

“Bertiga kyai.”

“Siapa?”

“Ada Raden Rohmad Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri, sekarang mereka ada di depan kyai semua.”

Aku segera menyalami mereka bertiga.

“Ada apa nduk, tanya keperluan mereka.”

“Mereka mau memberi ilmu pada kyai, mereka mengatakan kyai untuk siap menerima ilmu.”

Aku segera siap, dan serasa aliran anergi bergulung-gulung memasuki tubuhku, dan beberpa menit kemudian, aliran energi menggumpal dalam tubuhku, berputar-putar.

“Kyai, kata Kanjeng Sunan Ampel, para Wali Songo, nitip salam pada kyai, agar kyai meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran, dan bersikap tegas, dan yakin akan pertolongan Allah.”

“InsaAllah kyai siap.”

“Sudah mereka mau pamit.”

Aku dan Aisyah terdiam mengantar kepergian ketiga Wali Songo, tapi kemudian Aisyah ngomong lagi, tapi sambil menjauh dariku, sehingga aku tak jelas dengan pembicaraannya.

“Kenapa nduk?”

“Aisyah takut kyai..”

“Takut kenapa? Apa ada jin jahat?”

“Bukan kyai.. tapi yang hadir sekarang, silauuuu sekali, dan Aisyah takut sekali.”

“Yang datang bagaimana dia nduk?”

“Dia tinggi sekali, sampai kepalanya sampai atas..”

“Dari golongan jin?”

“Bukan kyai…”

“Lalu?”

“Dia nabi…”

“Nabi, nabi siapa?”

“Pakaiannya hijau tua, juga memakai surban besar hijau tua, dia mengatakan beliau nabi Khaidir.., beliau uluk salam kepada kyai.”

“Waalaikum salam. Tanyakan apa keperluan beliau?”

“Beliau ingin memberi ilmu ke kyai, tapi kata beliau, ini sekuatnya kyai saja menerima… nanti ditambah lagi, dan beliau menyuruh agar kyai siap.”

Aku segera siap, dan aliran panas dingin berpadu memenuhi punggungku, mengalir deras seperti banjir dalam seluruh tubuhku, dan pengisian selesai.

“Kyai, beliau berpesan agar ilmu yang diberikan dipakai seefektif mungkin, gunakan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan.”

“Insa Allah.”

“Beliau berpesan, dzikirnya kyai lebih diperbanyak lagi, agar ruhani kyai kuat menerima ilmu dari para wali dan nabi yang ingin menitipkan amalnya pada kyai.”

“InsaAllah…”

“Beliau mau pamit…, dan Aisyah diperintah untuk mendampingi kyai.”

“Ya…"

Aku segera melakukan salam takdzim kepada nabi Khaidir AS.

____________________________________________________

Nyai Ratu, kakaknya Aisyah, sudah selesai puasa, dan ingin ku perintahkan untuk mendatangi Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. Maksudku kalau mau, mau ku ajak masuk Islam, sebagaimana aku mengislamkan Dewi Lanjar.

Nyai Ratu sudah siap berangkat, tinggal menunggu perintah dariku.

Aku sedang berbicara dengan Aisyah, lalu cuci tangan ke dapur, kok aku merasa ada jin fasik yang datang, apa mungkin Nyai Roro Kidul, jin fasik dan jin yang baik itu beda, walau mata batinku tertutup, tapi ketajaman indra perasaku tak terpengaruh, jadi siapa yang datang, jin benar atau bukan tetap ku rasakan kehadirannya.

Jika itu jin fasik, maka akan serasa menebal amat tebal, bagian arah tubuh yang menghadap ke jin, tapi jika jinnya baik, muslim yang taat, maka hanya ada rasa tau kalau ada yang datang, tapi tak tau dan tak melihat siapa yang datang.

Kali ini yang ku rasakan, rasa tebal di kepala sangat tebal, perkiraanku adalah jin fasik, apa mungkin Nyai Roro Kidul.

Sementara Aisyah sudah memangil-manggil, kyai ada yang datang, dari laut selatan. Dan sudah masuk ke tubuh Aisyah.

“Siapa? Apa Nyai Roro Kidul?” tanyaku lumayan tegang.

Dia melihatkan matanya kesana kesini… meneliti seluruh rumahku.

“Ini rumah siapa?” suaranya seperti anak kecil.

“Ini rumahku..” jawabku.

“Kamu siapa?”

“Aku orang biasa, kamu sendiri siapa?”

“Aku anaknya Nyai Roro Kidul.”

“Kok datang ke sini?”

“Ya karena ada yang membicarakan ibuku, maka aku ingin tau siapa, ternyata ada di sini, dan aku terbawa sampai kesini.”

“Ibumu yang jadi ratu lautan selatan kan?” tanyaku.

“Iya… kenapa?”

“Agamanya apa?”

“Hindu… kenapa?”

“Apa dia mau masuk Islam?”

“Tak akan mau,”

“Kenapa?”

“Karena kami benci dengan orang Islam.”

“Benci bagaimana?”

“Orang Islam sering membuat kerusakan.”

“Kerusakan bagaimana?”

“Ya mereka sering merusak laut, sering meminta kekayaan.”

“Jangan menuduh apa yang dilakukan segelintir orang, lantas menuduh yang lain sama saja,”

“Ah kenyataannya begitu.”

“Ada pencuri yang dari kampung A, apa semua kampung A adalah pencuri?”

“Aku tak perduli, ibu selalu mengatakan padaku kalau orang Islam itu jahat.”

“Bisa kamu panggil ibumu kesini?”

“Bisa..”

Sebentar dengan hitungan seper sekian detik, Nyai Roro Kidul sudah datang dan masuk ke tubuh mediator.

“Ada apa kau memanggilku?”

“Aku ingin nyai mau masuk Islam,”

“Tak mau, aku tau kau siapa… hm… ya aku tau sekali kamu siapa… kamu murid kyai Cilik.”

“Setelah tau diriku, apa masih tak mau masuk Islam?”

“Hehehe… aku tak mau..”

“Apa mau coba adu kesaktian denganku.”

“Ya… kau akan ku hancurkan.” katanya dengan mendengus marah, dan mulai melakukan jurus menyerang.

Berbagai macam penggambaran Nyai Roro Kidul, momok yang sering ku baca di cerita-cerita sungguh amat menakutkan, juga banyak dibahas di tivi dan media lain, selalu berbau mistik dan serba menakutkan, itu membuatku ingin tau lebih banyak.

“Tunggu dulu, kenapa buru-buru menyerang?”

“Heee… eeh, apa lagi?”

“Apa sampean ini yang benar-benar menguasai samudera yang terkenal itu?” tanyaku berusaha tenang. Kayak orang lagi duduk jagong, menghabiskan cemilan jagung goreng.

“Hiya….” jawabnya sambil tangannya masih bersiap menyerang, dan yang kiri menekuk di dada. Gak tau jurus apa yang dipakai, tapi ku rasa hebat juga dia, biasanya jin jika bertatap muka denganku, saling menatap mata pasti tak kuat, tak tau juga apa yang di mataku, kata Aisyah sih mataku kalau memandang seringnya mengeluarkan percikan api, aku juga gak tau, kali saja Aisyah yang ngarang.

“Apa sampean bener-bener tak mau ku Islamkan?”

“Tak mau, saya sudah bersumpah untuk tak masuk Islam.”

“Sumpah sama siapa?”

“Dengan yang memberi ilmu padaku, ah tak usah banyak tanya…”

“Lo kan biar kita saling tau..”

“Pokoknya aku tak mau diIslamkan, orang Islam semua jahat, jelek perangainya.”

“Jelek bagaimana?”

“Mereka sering meminta padaku yang tidak-tidak, dan sikapnya hanya merusak samudra saja.”

“Lhoh kok begitu..?”

“Ya.”

“Berarti kata gampangnya nyai tak mau ku Islamkan?”

“Ya..”

“Jadi kita adu kekuatan.”

“Ya….”

Kami pun adu kekuatan, dan berkali-kali kami saling serang, kadang aku keluarkan cambuk api, ku serang bertubi-tubi, awal serangan dia tergetar, tapi ke dua ke tiga dia sudah mempan, ku ganti dengan pedang, juga pertama kali dia mampu ku lukai, tapi kedua kali dan ketiga dia kebal, berulang kali benturan energi, aku makin semangat, rasanya langka bisa bertarung dengan Ratu Kidul, sekalian nyoba ilmuku, yang sebenarnya aku juga gak tau, aku ini punya ilmu atau bukan, yang jelas keringetan juga, bertarung dengan berbagai ilmu ku ganti untuk menggempurnya, dan berulang kali dia jatuh terhantam pukulanku, jadinya kayak latihan saja, soale Nyai Roro Kidul tak pernah sampai jika menyerangku, selalu saja dapat ku gempur duluan, sampai dia ngos-ngosan, mungkin dipikirnya, kok ilmuku gak habis-habis, banyak banget koleksi ilmuku, padahal itu hanya hayalku saja, ilmu yang ku ciptakan di hayalku.

Dia terdiam, ngos-ngosan tak berdaya, lalu berusaha memperbaiki duduknya, dan menyembah padaku.

“Aku menyerah, dan takluk, dan siap mengabdi padamu.” katanya berubah lembut, tak seperti pertama kali datang.

“Aku ini tak butuh pengabdian, aku hanya ingin nyai masuk Islam, jadi mengabdi padaku mau, tapi kalau masuk Islam tak mau?”

“Ya, aku tak bisa masuk Islam.”

“Kalau tak mau masuk Islam, ya sudah kita bertarung lagi.”

“Tidak, aku menyerah kalah… kamu sakti sekali.”

“Hehehe… aku tak sakti, aku biasa saja…”

“Tidak, selama ini tak ada yang bisa mengalahkanku, hanya kamu yang bisa mengalahkanku.”

“Itu kebetulan saja, bagaimana ini, tak mau masuk Islam?”

“Tidak, sekali tidak ya tidak.., aku tak mau masuk Islam.”

“Kalau begitu kamu mati saja… dan ku masukkan ke neraka, apa kamu tak takut.”

“He.. he… he.. silahkan kalau bisa membunuhku dan memasukkanku ke neraka.”

“Baik kamu yang minta.”

Segera saja ku berdoa, dan ku minta pada Allah diberi kekutannya malaikat maut ke tanganku, di tanganku serasa mulai memberat, tanda kekuatan malaikat maut sudah terkumpul di tangan, rasanya udara juga serasa pekat, dan padat, sepertinya tanganku mengeluarkan cahaya hitam menggidikkan, segera saja ku arahkan energi menyerang ke kepalanya, ku tangkap ruhnya, dan ku cabut, ya hanya hayal saja, jangan dikira ini serius, tapi efeknya nyata, ruh Nyai Roro Kidul lepas, dan serasa ada di tanganku, rasanya dingin, menggeliat, dan segera saja ku lempar ke neraka jahanam.

Suasana sunyi, mediator sadar, tapi segera kemasukan lagi.

“Siapa?”

“Aku suami Nyai Roro Kidul, dia telah kamu masukkan ke neraka,”

“Iya…”

“Kamu harus mengadu nyawa denganku.”

Dia langsung menyerangku, tanpa pikir panjang karena kekuatan malaikat maut masih terpegang di tanganku, maka segera saja ku tarik nyawanya dan ku lempar ke neraka.

Kembali suasana tenang, tapi kembali, datang jin lain yang masuk.

“Siapa?”

“Aku orang tuanya Nyai Roro Kidul.”

“Lalu mau apa?”

“Kau telah melemparkan nyai Roro Kidul ke neraka. Aku mau menuntut balas.”

“Silahkan…” kataku, dan siap-siap mencabut nyawanya, kalau dia menyerang, dan memang dia menyerang, aku tak mau banyak bahasan, juga bertarung dengan sia-sia, maka ku cabut nyawanya dan ku lempar ke neraka. Mediator kemasukan lagi,

“Kamu nakal, kenapa ayah ibuku, dimasukkan ke neraka?”

“Ooo kamu anaknya yang tadi?”

“Huuu… huuu,,, ya aku anaknya tadi…. huuu… aku sekarang sendirian, aku dengan siapa? Ayah ibu, kamu masukkan ke neraka, aku ikut.”

“Hah, kamu mau ikut? Mereka di sana disiksa..”

“Disiksa bagaimana?”

“Kamu ingin melihat?”

“Iya..”

Lalu ku buka penglihatannya…

“Ibu…. ayah… kasihan mereka dibakar, dicambuki, sampai hancur..”

“Bagaimana? Apa masih mau ikut?”

“Tidak…, tapi aku sendirian, aku tak punya ayah ibu.”

“Ya ayah ibumu akan dikeluarkan dari neraka, kalau mereka bertaubat, dan mau masuk agama Islam.”

“Kau jahat, orang Islam jahat.”

“Aku melakukan ini, agar ayah ibumu nanti bahagia, masuk surga, bagaimana kamu mengatakan aku jahat?”

“Pokoknya kamu jahat.”

“Bagaimana, kamu mau masuk Islam.”

“Tak mau, karena ayah ibuku mengatakan kalau orang Islam jahat.”

“He dengar, kamu masuk Islam, nanti berdoa pada Allah, agar ibumu, diberi hidayah sama Allah, agar mau masuk Islam, nanti beliau diambil dari neraka.”

“Apa bisa?”

“Ya bisa..”

“Kalau begitu saya mau masuk Islam.”

“Bener..”

Ku minta pada malaikat maut, melihat hatinya, jika hatinya mau masuk Islam, ku minta untuk tak dicabut nyawanya, tapi kalau tidak mau masuk Islam, ku pinta mencabut nyawanya.

Dan malaikat maut pun mencabut nyawanya, tanda kalau dia hanya pura-pura masuk Islam.

Setelah nyawa anak Nyai Roro Kidul dicabut dan dibawa ke neraka, maka silih berganti berdatangan prajurit Nyai Roro Kidul menyerangku. Aku sudah lelah, segala urusan ku serahkan pada malaikat maut yang melakukan perlawanan, sementara syaikh Abdul Karim di sebelah kananku dan kyai guruku di sebelah kiriku, dalam wujud sukma.

Alhamdulillah semua lancar, walau anak buah Nyai Roro Kidul, masih banyak yang mau menyerang, dari pada aku digempur duluan, maka ku kirim malaikat untuk menggempur kerajaan samudra.

Setelah sepersekian menit berlalu, aku berpikir, wah bisa jadi kerajaan sana tak ada pemimpinnya, bagaimana ini.

“Aisyah…”

“Ya kyai.., Aisyah takut, karena pak kyai menyeramkan, galak sekali.”

“Aisyah tau tidak dengan nyai Ratu Pantai Selatan.”

“Tau pak kyai, kenapa pak kyai…”

“Dia Islam kan?”

“Iya dia Islam pak kyai.”

“Ku panggilnya ya..”

“Ya kyai… terserah bagaimana kyai saja lah..”

Maka ku panggil nyai Ratu Pantai Selatan, dan tak sampai 1 menit dia sudah datang.

Lagak lagunya sangat halus, dia menghormat padaku dengan menaruh tangan di dada, dan wajah menunduk, serta mengucap salam.

“Ada perlu apa, pak kyai memanggil saya?”

“Kenal siapa saya.”

“Ya saya tau, siapa pak kyai.”

“Sampean sudah Islam kan?”

“Alhamdulillah sudah pak kyai, kenapa?”

“Dulu yang mengislamkanmu siapa?”

“Itu pak kyai, yang mengislamkanku, wali songo.”

“Sunan Kali Jaga?”

“Iya pak kyai.”

“Ini begini nyai ratu…., sekarang samudra selatan, kan tak ada yang menjadi ratu… nah nyai ini saya serahi menjadi raja di sana mau tidak?”

“Saya siap menjalankan.”

“Apa tak ingin jadi muridku?”

“Mau kyai, kalau kyai sudi mengangkat hamba menjadi murid, hamba akan sangat senang.”

“Baiklah, kalau begitu, ini ku beri cambuk untuk menjaga, menjadi ratu di laut,” dia ku suruh menerima cambuk yang ku berikan.

“Kyai saya mau mohon diri dulu, sekali lagi terima kasih telah mengangkatku menjadi murid kyai.”

“Nanti belajar cara dzikirnya, nanti minta ajar pada mbakyunya Aisyah.”

“Iya kyai, saya mohon diri dulu.” nyai ratu pun keluar.

Esoknya aku dikeroyok, dukunnya Sengkuni, dan anak buahnya Nyai Roro Kidul, pasukannya ada 1 juta jin. Bersama ruh manusia yang menyembah Nyai Roro Kidul. Aku jadi harus menghadapi 3 kelompok, yang ketiganya ingin menggencetku dengan serangan, serasa merinding, tapi aku harus tabah dan kuat, Alhamdulillah, guru silsilah dari mulai syaikh Abdul Qodir, sampai pada guruku, semua dalam keadaan siaga. Semua mendampingiku, 1 juta jin anak buahnya Nyai Roro Kidul sekaligus datang, masuk semua ke mediator.

Mereka menatapku semua, dengan tatapan mata benci dan dendam.

“Dari pasukannya Nyai Roro Kidul?” tanyaku simpel.

“Iya… kami akan menyerang semuanya.”

“Apa masih ada yang belum datang?”

“Ada.. para arwah dukun yang menyembah nyai, sekarang masih di atas.”

“Suruh sekalian masuk, sekalian mengeroyokku.” kataku.

Maka masuk ada sekitar 600 ruh para dukun yang menyembah Nyai Roro Kidul.

Suasana menjadi tegang, dan udara juga di sekitarku juga mulai memadat, aku sengaja ajak mediator mojok, agar serangan tak mengenai orang lain.

Kamis, 20 Agustus 2020

SANG KYAI -71

Sang kyai 71

Aisyah kelihatan lemah tak berdaya, wajahnya sayu dan tangannya terkulai, aku bingung juga harus berbuat apa, di saat kebingunganku dan tak tau apa yang harus ku lakukan, jadi ingat dipanggil kyai bareng mas Bangun, aku diberi ilmu menarik ilmu orang lain, cuma sayang aku pas dikasih kok ya ketiduran, gak tau ngantuk banget, malah aku dibangunkan mas Bangun, dan ditanya kyai, sudah hafal belum kuncinya, aku cuma jawab, “belum kyai.”

“Ya sudah nanti kapan-kapan lagi diulang,” kata kyai.

“Ya kyai.” terus terang aku tak mengerti kyai memberi ilmu itu, juga aku bukan orang yang kemaruk ilmu, jadi kurang memperhatikan kalau diberi ilmu.

Ya itu, akhirnya diberi ilmu, malah gak tau apa dan bagaimana ilmunya. Wes lah pasrah saja sama Allah.

“Mas, tadi hafal ilmunya?” tanyaku pada mas Bangun ketika diantar ke terminal Kampung Rambutan.

“Walah saya malah gak ngeh sama sekali je…” jawab mas Bangun.

“Waduh bagaimana to, la saya malah tertidur.”

“La terus bagaimana?”

“Lain kali kalau dikasih ilmu, siap-siap saja kita rekam.”

“Heheheh… saya dah minta ijin soal itu, soal merekam apa yang disampaikan kyai, tapi kyai gak membolehkan.” jawab mas Bangun menjelaskan bergaya intelek.

“Ya ngerekamnya gak usah bilang, la wong ngasihnya saja sekali langsung diminta hafal, bagaimana otak yang low kayak saya ini bisa nangkep. Harusnya sayang kalau ilmu itu terbuang percuma, sayang sekali, yang aneh kenapa saya kok ngantuk buanget, ngantuk pakai buanget, masak di depan kyai duduk sambil tiduran, sampai ngorok lagi, jan gak bermutu.”

“Sudahlah kita terima dengan ikhlas saja.”

“Ya nerimanya sih ikhlas, yang ngasih kan sremet juga kalau dikasih ilmu tingkat tinggi jadi tidur kayak diriku, tapi aneh memang kok gak ketahan mau tidur itu, yo wes lah, semoga saja manfaat.”

“Manfaat dari mana, wong ilmu saja ndak didapat, kok manfaat?”

“Ya manfaat yang memberi kan Allah, Allah itu tak membutuhkan sebab untuk memberi suatu kemanfaatan, dan tak butuh alasan untuk wujudnya manfaat, wes gak usah dipikir… besok saja kalau diberi kita rekam diam-diam, heheheh…”

“Yo wes lah aku manut wae.”

“Wah lagu lama… mau enaknya gak mau susahnya, hehehe…”

Akhirnya kami pisahan dan aku naik bus ke Cirebon, karena bis yang ke Pekalongan sudah tak ada.

Apa ilmu yang tak ku hafal do’a pembukanya itu akan bisa ku pakai, melihat keadaan Aisyah yang tak berdaya, sungguh aku kasihan sekali. Ku coba saja, tangan ku arahkan ke arah Alas Roban, tempat jin yang mencuri Aisyah pergi. Lalu ku tarik. Seperti menarik beras 1 kwintal, berat dan tanganku mengeras. Ku pegang, dan ku masukkan ke tubuhnya Aisyah lagi,

“Sudah pak kyai….” terdengar suara Aisyah yang ceria. “Tapi hanya separo.” dan kelihatan lemes lagi.

“Ya sudah tak papa, nanti kyai tambahi lagi…”

“Iya… iya… nanti ditambahi lagi ya kyai…” wajahnya sudah ceria lagi.

Kejadian demi kejadian, ku buat selalu pelajaran, dan semoga aku bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, dan atas kejadian ini, semoga makin mendewasakanku, mungkin ini cara Allah menggemblengku agar mampu menanggung tanggung jawab yang besar, entah juga tanggung jawab apa, aku hanya berusaha menjalaninya, sebagaimana jalannya air mengalir.

___________________________________________________

Aisyah sudah mulai ku latih menarik penyakit jarak jauh, dan Alhamdulillah perkembangannya lancar, dia seperti tanah subur yang akan tumbuh bila ditanami apa saja. Yang ku suka dia tak pernah menolak jika dimintai tolong apa saja, tak pernah minta imbalan apapun.

“Aisyah…. Aisyah apa gak ingin apa-apa?” tanyaku setelah mengobati beberapa orang, karena ku lihat dia kelihatan lelah.

“Gak kyai….”

“Bilang saja nanti ku beri apa maunya Aisyah.”

“Gak pengen apa-apa kok kyai, Aisyah hanya ingin membantu kyai, apa saja yang kyai perintahkan Aisyah siap, Aisyah siap mati untuk kyai….” katanya sambil bercanda.

“Apa Aisyah gak ingin makan apa gitu.”

“Aisyah hanya makan pasir saja kyai..”

“La apa enaknya pasir to? Apa gak makan nasi saja?”

“Ya kalau makan nasi Aisyah muntah… ya pasir yang dimakan baunya saja kyai, bukan pasirnya.”

“Ooo tak kira makan pasirnya sungguhan, sampai kyai lihatin terus pasir di depan rumah, dah berapa kurangnya, kok ku lihat gak kurang-kurang itu pasir, masih tetap saja utuh.”

“Ya yang dimakan baunya saja kyai, nanti pasir yang hitam itu akan agak berwarna keputihan.”

“Apa semua prajuritnya makan pasir?”

“Ya kyai…. kadang Aisyah juga makan kembang. Ratu makannya juga kembang.”

“Oooo rupanya begitu, la kembang, mau ku belikan kembang?”

“Ah tidak lah kyai, Aisyah nyari sendiri saja.”

“Benar tak mau ku belikan?”

“Tidak ah…”

“Aisyah sudah puasa kan, juga nyai ratu?”

“Sudah kyai, puasa 21 yang kyai berikan itu, cuma Aisyah tak pernah selesai dzikirnya, buanyaaak sekali, paling sampai bismillah, jadi ngutang deh, heheeh… Aisyah pegel duduknya, semuten. Tapi kalau ratu selesai dzikirnya, malah kalau raja pergi, ingin menyendiri mengamalkan amalan dari kyai, dia bertapa.”

“Besok tak belikan kembang ya? Sukanya kembang apa?”

“Ah gak usah lah kyai, kami sudah sangat bersyukur diangkat jadi murid sama kyai.”

“Kyai bukan memberikan karena pamrih, kyai memberikan untuk memberi makan orang yang berpuasa, karena memberi makan orang yang berpuasa itu mendapatkan pahalanya puasa orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala puasanya orang yang berpuasa, nah bagaimana?”

“Ya terserah kyai saja, kyai kan guru saya, gurunya ratu, gurunya Dewi, semua akan taat apa yang kyai ajarkan, kami tau kyai tau apa yang terbaik.”

Maka ku belikan kembang, untuk berbuka puasa, seminggu ku berikan 2 kali.

__________________________________________________

Sementara itu serangan dari Sengkuni makin meniadi-jadi saja, aku gerakkan murid dari internet untuk ikut andil dalam perang melawan kemungkaran, banyak sekali pengalaman yang mereka alami, memang itu juga perintah kyaiku, agar dijadikan alat menggembleng murid, sebenarnya momen saat seperti ini itu seperti momen merobohkan gunung dengan ledakan bom, kalau amaliyah biasa, puasa biasa itu seperti meruntuhkan gunung dengan cangkul, jadi siapa yang andil kemajuan ilmunya akan seperti roket, sebagaimana aku dulu ketika melawan 900 tukang santet, dan perkembangan ilmuku amat pesat sampai aku sendiri tak masuk akal, dan setengah tak percaya dengan kejadian demi kejadian setelahnya setelah melewati ujian berat.

Tapi di kejadian itu juga akan jadi penyaring, siapa yang akan terbentuk dengan bentuk yang diinginkan atau siapa yang akan tumbang dan berlalu menjadi murid yang laman berkembangnya, siapa yang pantas dijadikan paku bumi, dan siapa yang hanya jadi rumput, itu berlaku juga untuk murid kyaiku.

Aneh memang didikan seperti ini, kayak gak masuk akal, tapi kyaiku selalu menekankan, biar alam yang menyeleksi murid yang jadi dan yang hanya berlalu saja, dan muridku yang asli sini malah semua tak ada yang perduli sama sekali, hanya 80% yang jadi, yang lebih mengherankan malah ada murid kyai yang dulu kena santet saja sering ku bantu, ee kok sekarang malah ikut Sengkuni menyerangku, seringnya malah mengikat Aisyah dan seringnya berusaha agar majlisku tak ada pengunjungnya, memang banyak sekali yang akan jadi penghianat, dan akan jadi duri dalam daging, di-kiranya Allah tak tau, malah ada juga yang menuduhku tertipu dengan jin, mungkin tak pernah membaca Alqur’an atau bagaimana, apa tak pernah membaca surat jin, bagaimana nabi SAW mengislamkan jin, dan nabi adalah sebaik-baiknya suri tauladan, contoh yang harus kita tiru, bukan pendapat sendiri, aku tak henti berdoa pada Allah, jika ilmu yang ku berikan pada orang yang salah, ku minta dicabut dari orang itu dan dikembalikan pada lauhil mahfudz.

Alhamdulillah, Aisyah sudah bisa mengobati jarak jauh, kalau kyai guruku sakit maka ku perintah dia menarik sakitnya dari jarak jauh, dan juga kemarin pas ibu kyai kena santet juga ku minta mengobati jarak jauh, tapi hal itu makin membuat Sengkuni terbakar hatinya, sekarang yang dituju dan diarah adalah Aisyah, bagaimana menangkap Aisyah, aku sendiri tak bisa menjaganya selalu, PENGGEMBLENGAN ini yang dikatakan kyaiku sungguh sangat unik.

Dari pagi Aisyah mengobati, siang dia ikut istriku belanja, biasa dia ingin lebih tau banyak tentang manusia, jiwanya mungkin sangat haus akan dunia manusia, dia juga makin rajin melihat tivi, aneh jadinya kalau ada jin hafal iklan, dan hafal cerita sinetron, dia juga suka mengubah canel tv yang disukai. Jin yang dikirimkan padaku dan yang ku taklukkan mungkin keseluruhannya aku tak tau lagi berapa, tapi ada perkiraanku sampai 600 sampai 700 ribu lebih, pernah ku tanyakan Aisyah.

“Ada berapa banyak jin yang ada di sekitar rumahku?”

“Wah tak terhitung kyai, semua atap rumah sudah penuh, sampai atap rumah tetangga dan pohon-pohon, dan di jalan berjejer ada penuh sampai ke sawah yang berjarak 1 kilo meter, semua penuuuuh jin.”

“Tapi tak ada yang jahil kan.”

“Tak ada kyai… semua taat beribadah, kalau ada yang tak sholat ditegur sama ratu.”

Memang ku rasakan walau rumahku penuh jin, tapi hawanya adem, tak panas, atau terasa merinding, semua adem ayem. Memang ku sengaja semoga aku banyak bisa mengislamkan banyak jin, setiap ada kesempatan, atau laporan ada tempat angker ku tarik dan ku mediumisasi dari rumah. Seperti siang itu, ada yang cerita kalau ada sebuah pabrik yang angker, ku coba memediumisasi. Ku tarik jin dari rumah, dan ku masukkan ke mediator.

“Siapa?” tanyaku.

“Saya jin raja yang tinggal di pabrik, Assalamualaikum.”

“Waalaiku salam.”

“Kamu muslim.”

“Iya..”

“Apa semua yang tinggal di pabrik itu muslim?”

“Tidak semua, hanya anak buahku yang muslim kyai..”

“Kamu tau tentang diriku?”

“Ya kyai, saya tau, kalau boleh saya ingin mengabdi dan menjadi murid kyai.”

“Ada berapa temanmu?”

“Ada 20 ribu.”

“Yang masih kafir coba panggil menghadap padaku.”

“Ya kyai…” sebentar mediator diam dan bergerak lagi, bergaya ingin menyerangku,

“Apa mau menyerangku?”

“Hiya….”

“Coba diserang…” kataku pasrah diam saja.

“Ampuuuun…. saya nyerah…”

“Lhoh kenapa?”

“Ada yang menekanku.. aku menyerah, habis tenagaku, aku mau nakluk saja, aku sebenarnya dari Malaysia.”

“Kok jauh amat dari Malaysia?”

“Iya dikirim dari sana, orang yang punya pabrik bekerja sama dengan orang Malaysia dan aku dikirim untuk memantau pabrik ini,”

“Ooo begitu rupanya, lantas bagaimana mau menjadi pengikutku atau bagaimana?”

“Iya kalau boleh, saya mau dijadikan murid.”

“Ya sudah semua temannya diajak jadi muridku. Ikuti ku ajarkan membaca dua kalimat sahadat.” maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat. Kejadian hal seperti itu, hampir tiap hari terjadi, kadang ada jin dari jauh, berombongan, dan minta diIslamkan, lalu setelah masuk Islam ada yang tinggal, ingin ikut mengaji, ada juga yang datang setelah diIslamkan kemudian mereka pergi lagi, itu hampir tiap hari, kadang sehari sampai beberapa kali.

_________________________________________________

Kadang kita ikhlas membantu orang lain, bahkan tak meminta bayaran apa-apa sama sekali, kadang sudah menolong juga memberi makan juga memberi apa saja yang dibutuhkan si sakit, tapi balasannya malah sebaliknya, seperti ada orang yang kena santet, sudah berobat kemana-mana tak sembuh, dan dibawa kerumahku sembuh, keluarganya menjenguk, itu bukannya berterima kasih, ee malah menuduh aku yang menyantet, dan aku yang mengerjai, yang membuatnya sakit, agar aku bisa mengobatinya, heran juga, apa untungnya juga bagiku, kecuali aku menyuruhnya membayar, la ngobatinya saja gratis kok gak dipungut biaya serupiah pun, kok malah menuduhku katanya yang menyantet, atau wajar jika dituduh seperti itu jika aku mensyaratkan membayar sekian-sekian, la serupiah saja tak ku minta, lalu keuntunganku membuat orang sakit itu ada di mana? Anehnya lagi ngajak ribut, menuduhku sesat dan lain-kain, ealah kok orang ya macem-macem begitu, kadang kalau ketemu orang seperti itu jadi down mau menolong orang, udahlah masing-masing saja… Kadang sekilas lintas terbersit rasa seperti itu, namanya juga aku manusia biasa, tapi Allah seperti memperingatkanku, sudahlah anggap itu ujian, untuk makin mendekatkanku padaNya, jadikan ladang amal.

Ya memang harus berfikiran jernih, dan selalu menimbang, mengembalikan segala sesuatu pada Allah, Allah juga kan yang membolak balikkan hati manusia, hatinya buruk atau baik, Allah juga yang menjadikan, jika hati seseorang itu kemudian buruk padaku itu sebenarnya atas ijin Allah, dan jadi ujian padaku, atau seseorang itu melakukan keburukan padaku, itu Allah mengujiku, melatihku menanggung beban berat, agar aku terbiasa dengan beban berat, dan jika menanggung beban berat, aku tak merasa keberatan malah akan merasa ringan jika beban itu bobotnya di bawah beban yang biasa aku tanggung.

Yakin seyakin yakinnya saja kalau Allah pasti menolong, dan Allah maha mengetahui dan maha menolong pada orang yang bertawakal dan berserah diri padaNya.

Kita juga diberi kesempatan oleh Allah, kalau kita diserang terus menerus, maka kita boleh balas menyerang untuk membela agama, mati juga akan mati sahid, bersama Allah jangan ragu melangkah.

Tempaan yang ku terima memang saat cerita ini ku tulis, memang tiada sangat beruntun, aku juga cuma menjalani, apa maksud Allah, aku juga tak tau, yang penting aku selalu berusaha dalam koridor istiqomah memegang amanah dan amaliyah.

Tamu yang minta tolong silih berganti, sekalipun aku menghadapi permasalahan sendiri, tetap juga ku dahulukan permasalahan orang lain, kadang ngadepi tamu sambil mencabuti santet yang entah berupa paku, bambu, yang ditancapkan ke tubuhku.

Datang tamu dari MTS Walisongo, dulu tempat Aisyah mengganggu, bersama prajuritnya, katanya masih banyak kerasukan terjadi, sebenarnya kalau mereka tau, mereka tak akan minta bantuan dukun atau paranormal, yang memang menawarkan diri untuk menolong kerasukan itu, karena jin yang merasuk ke siswa itu adalah jin yang memang malah kirimannya dukun, kalau motif dan tujuan aslinya sendiri aku tak tau apa itu. Tapi kalau menurut pendapatku itu motifnya dukunnya pengen dapat pekerjaan agar dapat uang, atau namanya jadi tenar karena mengobati kerasukan itu, tak tau juga.

“Maaf pak kyai mengganggu…” kata dua orang guru MTS.

“Ada perlu apa bu?” tanyaku.

“Ini pak, kami mau minta solusi, sudah beberapa bulan ini anak didik kami mengalami kerasukan, jadi kami ingin minta solusi pada bapak, bagaimana baiknya?”

“Sejak kapan bu, ada terjadi kerasukan?”

“Sudah ada 3-4 bulan pak..”

“Sebentar ya bu….” ku tarik Aisyah ke mediator. “Ini dulu yang mengganggu anak didik ibu, ini jin yang dulu bertempat di jembatan yang di bangun itu.”

“Maksudnya pak, apa di dalam orang ini ada jinnya?”

“Iya bu guru… bu guru yang sebelah itu kalau mengajar lembut sekali, iya saya yang dulu mengganggu murid ibu, dulu saya bersama teman-teman saya yang tinggal di jembatan yang diperbaiki, karena waktu memperbaiki jembatannya tak minta ijin, jadi raja kami marah, dan membuat murid ibu kami rasuki, maaf ya bu, saya sekarang sudah jadi muridnya pak kyai.” kedua guru itu terbengong-bengong, gak tau paham apa tidak dengan apa yang diucapkan Aisyah, mungkin gak ngerti, apalagi ini soal gaib, sulit dicerna dengan logikanya orang yang masih memakai akal.

“Begini lo bu… jadi dulu saya mendengar kalau sekolah MTS itu banyak kerasukan, maka saya kemudian membantu dari sini, jinnya yang merasuki anak sekolah itu saya tarik, dan saya taklukkan,” kedua guru itu makin senyam senyum, mungkin gak paham atau bagaimana, atau kesengsem sama wajahku yang ganteng. Ealah memang susah menjelaskannya.

“Saya dulu itu yang menganggu murid bu guru, saya itu jin yang ada di tubuh ini bu..” jelas Aisyah lagi karena melihat kedua guru itu makin bingung.

“La kok bisa di dalam tubuh anak ini pak?” tanya salah satu guru.

“Ya kayak di tivi itu lo bu, di acara dua dunia, jadi jinnya dimasukan ke manusia, dimediumisasi.”

“Tapi ini sekarang masih banyak kerasukan kok pak..” kata bu guru satunya, sambil memperbaiki tempat duduknya, mungkin agak mulai paham.

“Ya kalau sekarang yang merasuki itu bukan dari kelompok saya bu.” jelas Aisyah lagi.

“La terus dari mana?” tanya bu guru

“Dari yang sengaja dibawa dukunnya..” jelas Aisyah.

“La kok bisa, kan mereka mau menolong.” kata bu guru heran.

“Begini saja bu… biar jinnya dari sekolahan ku tarik ke sini, ku mediumisasi, nanti bu guru tanya saja sendiri .” jelasku.

“Apa bisa?”

“Ya nanti dilihat saja…” ku tarik salah satu jin, dan ku masukkan ke dalam tubuh mediator. Dia menggereng-gereng mau menyerangku.

“Siapa ini?” tanyaku. Jin diam saja….

“Siapa? Kamu tak mau bicara?”

Dia menggeleng.

“Benar tak mau bicara?”

Dia tetep menggeleng.

“Baik kalau begitu, ku penggal saja…” kataku lantas mencabut pedang gaib, dan ku tempel ke lehernya.

“Iya… iya ampun jangan bunuh aku.. aku mau bicara.”

“Kamu kenapa, mengganggu di sekolah MTS, kenapa merasuki siswa?”

“Aku disuruh.”

“Disuruh siapa?”

Dia diam.

“Disuruh siapa?” ku ulangi pertanyaan. Tapi dia tetap diam, ku tempel saja pedang yang ku pegang ke lehernya, dia baru mengaku disuruh dua dukun yang biasa dimintai tolong mengeluarkan kerasukan di sekolah.

“Nah ibu tau sendiri kan..” kataku pada kedua guru.

Kedua guru itu masih setengah percaya setengah tidak. Lalu keduanya untuk meyakinkan diri mereka sendiri, menanyakan ini itu. Setelah keduanya ku rasa cukup bertanya, aku mengambil alih pembicaraan.

“Berapa temanmu yang disuruh mengganggu anak sekolah?” tanyaku pada jin.

“Ada 100 orang.”

“Seratus itu apa semua ada di sekolah?”

“Yang ada di sekolah 70, yang lain masih merasuk di tubuh siswa.”

“Apa kamu mau melawanku atau mau menakluk padaku?”

“Aku tak berani melawan… aku menakluk saja…,”

“Apa tak coba melawan dulu, daripada nanti penasaran.”

“Ampun aku tak berani.”

“Coba tanya yang 70 jin itu apa mau melawanku, atau mau takluk?”

“Memangnya kamu bisa menaklukan mereka?”

“Ingin lihat?” tanyaku.

“Hehehe… iya…” dia tersenyum meremehkanku, biasa jin itu seperti itu. Ku panjangkan pedang gaib yang ku pegang, dan sampai tembus langit, (yang baca cerita pasti heran, kok bisa?) yang ingin lihat cerita ini benar atau tidak lihat saja videonya di : https://www.facebook.com/kumpulane.vd.

Setelah pedang ku panjangkan, ku tebaskan ke jin yang ada di MTS, segera saja datang jin masuk lagi ke mediator.

“Siapa kamu menyiksa anak buahku?” tanya jin yang masuk.

“Ada apa? mau melawan?”

“Ya…. ” jawab dia sambil menggeram, dan mau mengeluarkan jurusnya. Pedang ku ganti dengan cambuk, dan segera jinnya ku cambuki, sampai minta ampun.

“Ampuuuun… ampuuun, saya menyerah.”

“Benar menyerah?”

“Coba lagi, cambukmu tak akan mempan.”

Ku lecutkan lagi cambuk dan ku tambah kekuatan, kembali dia menjerit minta ampun.

“Bagaimana?” tanyaku,

“Ya, ampuun, saya menyerah..”

“Bagaimana dengan temanmu di sana, apa mau menyerah semua?”

“Aku tak tau, aku cari selamat sendiri saja..”

“Ku lecutkan lagi cambukku,”

“Yaaa ya… semua ku ajak menyerah.”

“Ada berapa?”

“Ada 70.”

“Mau takluk padaku?”

“Ya kami mau..”

Segera ku ajari mengucap dua kalimat sahadat.

“Nah bagaimana bu, sudah lihat sendiri kan..”

“Iya pak….”

Aku tak tau apa mereka percaya atau tidak, yang penting aku sudah menunjukkan, mau mengatakan ini rekayasa atau bagaimana itu urusan mereka, saya juga tak diuntungkan atas apa yang ku lakukan, mereka berjanji akan membawa yang kerasukan ke rumahku, tapi saat tulisan ini ku tulis, yang kerasukan malah dibawa kerumah sakit akhirnya malah ribut di rumah sakit, menjerit jerit tak karuan.

Ya sudah biarkan saja…. lebih baik tak ku pikirkan, biar saja mungkin Allah mempunyai rencana lain, hanya Allah yang tau.

_________________________________________________


Urusanku bukan hanya Sengkuni, aku sendiri heran apa maunya dia, jika orangnya jujur sebenarnya ingin ku tanya langsung, apa maunya, tapi sayang dia bukan orang yang jujur, jadi jika ku tanya juga akan sia-sia, mungkin orang yang membaca tulisanku ini juga bertanya-tanya siapa sebenarnya Sengkuni itu, kalau ditanya secara pasti, aku sendiri tak kenal dengan jelas siapa dia, Sengkuni itu menjadi murid kyai, aku sendiri tak tau pasti kapan pertama kali, mungkin tahun 2006, atau 2007, aku tak tau pasti, sementara aku sendiri tahun 2006 sampai tahun 2010 sama sekali tak pernah berhubungan dengan kyai, karena aku bekerja di Saudi, dan aku sendiri tipe orang yang tak akan menghadap guru kalau tak dipanggil menghadap, sebagai tanda tawadukku pada guru, karena aku tau urusan guruku sudah banyak sekali, aku tak mau merecokinya, jadi aku tak akan menghadap kalau tak dipanggil kyai, di samping aku sangat takut berbuat kurang tata krama kalau ada di dekat kyai, yang penting bagiku ilmu dari kyai aku jalankan dengan istiqomah, bahkan aku orang yang tak pernah meminta ilmu sama sekali pada kyai, kalau dikasih ya saya terima, sebab bagiku kyai lebih tau, apa yang ku perlukan daripada diriku sendiri. Tapi walau aku tak minta, selalu saja kalau kyai memanggilku berarti akan memberikan ilmu. Satu ilmu diberi maka aku berusaha ku jalankan sampai ku dapatkan buah manisnya ilmu. Baru ilmu itu akan ku berikan kepada orang lain.

Jadi aku kenal Sengkuni tahun 2011, lupa aku kapan tepatnya, tapi selama tahun 2006 sampai 20011, ku rasakan perkembangan jamaah thoreqoh yang ku ikuti kok tak ada sama sekali, malah ku tau mengalami kemunduran, belum lagi kyai Cilik dalam keadaan sakit, aku dipanggil tiap dua minggu sekali, menghadap untuk mengobati beliau, beliau disantet juga diracun, heran juga, kenapa beliau disantet dari segala penjuru demikian rupa, dan waktu itu, aku sendiri baru kenal santet sampai menghadapi 900 tukang santet, hari-hari hanya menghadapi santet, di mana mana, di bus bahkan santet tetap memburu, tidur tak tenang, dan ketika aku diperintah kyai untuk memimpin dzikir, maka santet menyerangku di tenggorokan, sehingga suaraku habis, juga menusuk ke perutku sampai rasanya sakit minta ampun, pernah dulu di majlis Cilegon, aku merasakan sakit yang teramat sangat, di perut sampai sakitnya tak karuan, sampai aku tidur melintir-lintir menahan sakit, anehnya sakitnya mulai jika aku mau berangkat ke Cilegon, dan aku sama sekali tak mengira kalau itu sakit kena santet, ku kira hanya sakit batu ginjal biasa, malah waktu itu mas Bangun ku ajak menemaniku beli batugin, untuk mengobatiku, tapi tetap saja sakitku tak juga sembuh, rasanya mau mati saja, karena teramat sakitnya, dan baru diobati kyai baru sembuh, dan baru belakangan ku ketahui itu santet dari dukun yang dibayar Sengkuni.

Sebab hari-hari belakangan ini, ketika semua telah jelas, apa yang ku rasakan dulu, sekarang hampir tiap hari ku rasakan, cuma sekarang aku bisa menariknya, dan kadang Aisyah yang ku minta mengeluarkannya, sekarang juga kyai Cilik sering menghubungiku, juga kadang ku pantau dari jarak jauh, apa ada santet yang masuk ke tubuh kyai atau tidak, kalau ada ku tarik dari jarak jauh, kadang kyai menghubungiku lewat telepati dan minta santetnya ku keluarkan dari tubuh beliau, yah… memang keadaannya seperti ini, kasihan juga kalau kyai jauh dariku, beliau sering mengatakan tak ada murid yang bisa diandalkan, karena muridnya masih cenderung mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri, tak ada yang serius memperjuangkan thoreqoh, kebanyakan masih memikirkan bagaimana saya bisa hidup enak, dari doa kyai, ah entahlah, kadang malas kalau membahas para murid kyai, apalagi kalau yang dikehendaki kepentingan masing-masing, lebih baik ku putuskan memperbesar jamaah dengan caraku sendiri. Itu saja mereka bukannya membantu, malah kebanyakan menjelek-jelekkan di belakang, Seakan tak mau jamaah menjadi besar dan berkembang pesat.

Sepertinya aku sendirian, maka aku harus kuat sendirian, dan Allah hanya yang tak berhianat bila ku jadikan teman, memang aku seharusnya sendirian, sendirian berjuang, dan tak akan berhenti sebelum Allah menghentikanku, dan mencabut nyawaku.

Serangan dari Sengkuni, tak juga berhenti, dengan berbagai cara dia melakukan, yang lebih aneh lagi semua muridku yang ada di rumah, yang tinggalnya di daerahku, sama sekali tak ada sedikitpun perduli, malah menuduhku mengada-ada, ya ini menunjukkan hanya cobaanku, ujianku, dan ujian orang yang dikehendaki maju oleh Allah, maju memperjuangkan thoreqoh yang ku pimpin, dan yang mendukungku malah murid dari internet, makanya kenapa kyai Cilik mengacungkan jempol untuk mereka, walau dari internet yang tak bertemu langsung, ternyata Allah memilih mereka untuk berjuang bersamaku, dan mereka orang-orang yang dipilih dari berbagai kawasan, dan daerah, bukan orang yang asal-asalan, tapi memang orang yang dipilih Allah untuk berjuang bersamaku.

Waktu magrib, keadaan kenapa sepi, aku merasakan ada yang aneh, kenapa biasanya juga Aisyah hadir, ini kok gak ada, biasanya aku mengajari dia berbagai ilmu, dan ku suruh mempraktekkan, tapi ini kok tak muncul, aneh…. ku tarik Aisyah untuk ku masukkan ke mediator. Malah yang masuk latifah adiknya Aisyah,

“Kok Latifah ya….? mana mbak Aisyah…?” tanyaku.

“Huuu huuu….” Latifah menangis, Latifah itu umurnya sekitar 250 tahun, ya sekitar seumuran anak kelas 6 SD untuk seumuran manusia.

“Kenapa nduk, kok nangis?”

“Huuu… huuuu… ” dia malah nangis makin kencang.

Aku jadi kawatir terjadi apa-apa terhadap Aisyah, bagiku semua jin yang sudah masuk thoreqoh adalah keluargaku sendiri, itu ajaran kyai, jadi siapa saja yang sudah masuk thoreqoh adalah saudara kita, kita harus menyayanginya lebih dari menyayangi diri sendiri. Dan aku berusaha menerapkannya benar benar dalam kehidupanku. Apalagi Ratu sudah menitipkan Aisyah padaku, bagiku tanggung jawab, amanah itu akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah. Akan dipertanyakan nanti di pengadilannya Allah, jika kok aku tak bisa menjaganya, bagaimana aku menghadap Allah nanti.

“Nduk… ndak usah nangis, ada apa dengan mbak Aisyah?” tanyaku menghibur, “Ayo cerita sama kyai, kalau ada apa-apa, nanti kyai akan minta pada Allah untuk minta jalan kelurnya.”

“Huuuhuuu… kyai, mbak Aisyah… ditangkap sama jinnya Sengkuni, dia…. dia dimasukkan kerangkeng, sekarang dia disiksa…” jawab Latifah di sela tangisnya.

“Yang benar nduk?”

“Iya kyai… huuu..”

“Lalu dia dikerangkeng di mana?”

“Di Surabaya.. di rumahnya adiknya Sengkuni.”

Aku menarik nafas, bingung, bagaimana menolongnya? tengak tengok tak tau apa yang harus ku lakukan.

“La tadi bagaimana mbak Aisyah kok bisa ditangkap?”

“Huuu… tadi mbak Aisyah ikut bu nyai jalan-jalan, dia di atas, dan ada diikuti jinnya Sengkuni, dan akhirnya dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam kerangkeng, sekarang sedang disiksa… bagaimana ini kyai.. kasihan mbak Aisyah..”

Wah aku makin panik…

Ku kumpulkan saja jamaah yang ada di majlis ada beberapa orang untuk ku ajak dzikir bersama, dan menolong Aisyah yang sedang dipenjara.

Aku berdoa semoga Allah mengirimkan bala tentara malaikat untuk menolong Aisyah, dan mengembalikan Aisyah, suasana tegang, karena kami tak tau apa nanti hasilnya. Tapi ini juga menjadikanku makin teguh dan yakin untuk selalu berserah dan bertawakal pada Allah, yakin Akan pertolongan Allah.


"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...