Rabu, 10 Februari 2016

Dzikir

Dzikir

TINGKATAN DAN MAQAM ZIKIR
......................................................
JANGAN MENINGGALKAN ZIKIR LANTARAN ENGKAU BELUM SELALU INGAT KEPADA ALLAH S.W.T KETIKA BERZIKIR, SEBAB KELALAIAN KAMU TERHADAP ALLAH S.W.T KETIKA TIDAK BERZIKIR LEBIH BAHAYA DARIPADA KELALAIAN KAMU TERHADAP ALLAH S.W.T KETIKA KAMU BERZIKIR.

SEMOGA ALLAH S.W.T MENAIKKAN DARJAT KAMU DARIPADA ZIKIR DENGAN KELALAIAN KEPADA ZIKIR YANG DISERTAI INGAT KEPADA ALLAH S.W.T, DAN MUDAH-MUDAHAN ALLAH S.W.T AKAN MENGANGKAT KAMU DARIPADA ZIKIR YANG BESERTA KEHADIRAN ALLAH S.W.T DI DALAM HATI KAMU KEPADA ZIKIR DI MANA LENYAPNYA SEGALA SESUATU SELAIN ALLAH S.W.T. HAL YANG DEMIKIAN ITU TIDAKLAH SUKAR BAGI ALLAH S.W.T.

Empat keadaan yang berkaitan dengan zikir:

1: Tidak berzikir langsung.
2: Berzikir dalam keadaan hati tidak ingat kepada Allah s.w.t.
3: Berzikir dengan disertai rasa kehadiran Allah s.w.t di dalam hati.
4: Berzikir dalam keadaan fana dari makhluk, lenyap segala sesuatu dari hati, hanya Allah s.w.t sahaja yang ada.

Bukanlah sukar bagi Allah s.w.t untuk mengubah suasana hati hamba-Nya yang berzikir dari suasana yang kurang baik kepada yang lebih baik hingga mencapai yang terbaik.

Kerohanian manusia berada dalam beberapa darjat, maka suasana zikir juga berbeza-beza, mengikut darjat rohaninya. Darjat yang paling rendah adalah si raghib yang telah tenat dikuasai oleh syaitan dan dunia. Cahaya api syaitan dan fatamorgana dunia menutup hatinya sehingga dia tidak sedikit pun mengingati Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Allah s.w.t tidak melekat pada hatinya. Inilah golongan Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Golongan ini tidak berzikir langsung.

Golongan kedua berzikir dengan lidah tetapi hati tidak ikut berzikir. Lidah menyebut nama Allah s.w.t, tetapi ingatan tertuju kepada harta, pekerjaan, perempuan, hiburan dan lain-lain. Inilah golongan orang Islam yang awam. Mereka dinasihatkan supaya jangan meninggalkan zikir kerana dengan meninggalkan zikir mereka akan lebih dihanyutkan oleh kelalaian.. Tanpa zikir, syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai ‘juru ingat’. Sebutan lidah menjadi teman yang mengingatkan hati yang lalai. Lidah dan hati berperanan seperti dua orang yang mempunyai minat yang berbeza. Seorang enggan mendengar sebutan nama Allah s.w.t, sementara yang seorang lagi memaksanya mendengar dia menyebut nama Allah s.w.t. Sahabat yang berzikir (lidah) mestilah memaksa bersungguh-sungguh agar temannya (hati) mendengar ucapannya. Di sini terjadilah peperangan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang disokong oleh tenaga dunia yang cuba menghalang tenaga zikir dari memasuki hati.

Golongan yang ke tiga pula adalah mereka yang tenaga zikirnya sudah berjaya memecahkan dinding yang dibina oleh syaitan dan dunia. Ucapan zikir sudah boleh masuk ke dalam hati. Tenaga zikir bertindak menyucikan hati daripada karat-karat yang melekat padanya. Pada mulanya ucapan zikir masuk ke dalam hati sebagai sebutan nama-nama Allah s.w.t. Setelah karat hati sudah hilang maka sebutan nama-nama Allah s.w.t akan disertai oleh rasa mesra yang mengandungi kelazatan. Pada peringkat ini zikir tidak lagi dibuat secara paksa. Hati akan berzikir tanpa menggunakan lidah. Sebutan nama-nama Allah s.w.t menghalakan hati kepada Empunya nama-nama, merasai sifat-sifat-Nya sebagaimana dinamakan.

Golongan ke empat ialah mereka yang telah sepenuhnya dikuasai oleh Haq atau hal ketuhanan. Mereka sudah keluar dari sempadan alam maujud dan masuk ke dalam hal yang tidak ada alam, yang ada hanya Allah s.w.t. Tubuh kasar mereka masih berada di atas muka bumi, bersama-sama makhluk yang lain. Tetapi, kesedarannya terhadap dirinya dan makhluk sekaliannya sudah tidak ada, maka kewujudan sekalian yang maujud tidak sedikit pun mempengaruhi hatinya. Mereka karam dalam zikir dan yang dizikirkan. Mereka yang berada pada tahap ini telah terlepas dari ikatan manusiawi dan seterusnya mencapai penglihatan hakiki mata hati.

Mereka yang mempunyai penglihatan hakiki mata hati ada dua jenis. Jenis pertama adalah yang mempunyai nama dan tabir penutup. Hijab nama (asma’) tidak terangkat lalu dia melihat di dalam hijab. Dia melihat Allah s.w.t pada apa yang menghijabkannya. Zikirnya ialah nama yang padanya dia melihat Allah s.w.t. Jenis kedua pula ialah yang berpisah dengan nama dan hijab, lalu dia melihat Allah s.w.t dan merasakan ketenangan dengan penglihatan itu. Pada ketika itu tidak sepatah pun ucapan yang terucap olehnya dan tidak sepatah pun kalam yang terdengar padanya. Dia melihat nama itu tidak mempunyai kekuatan hukum apa pun selain-Nya. Bila nama dinafikan tibalah pada wusul (sampai). Bila tidak terlintas lagi nama tibalah pada ittisal (perhubungan). Nama yang tidak lagi terlintas disebabkan kuatnya tarikan dari yang dinamai. Makam ini dinamakan makam al-Buhut (kehairan-hairanan), kerana dia melihat Allah s.w.t dalam kehairan-hairanan, tiada ucapan kecuali pandangan. Inilah makam terakhir di mana semua hati terhenti di situ. Ia adalah tingkatan tertinggi tentang kecintaan terhadap zat Ilahiat.

Pada tahap ini Nur-Nya memancar, menyinar, menjulang naik ke lubuk hati. Peringkat ini sudah tiada zikir dan tiada pula yang berzikir, hanyalah memandang bukan berzikir dan tiada berbalik kembali pandangannya. Inilah hal yang dikatakan faham dengan tiada huraian pemahamannya dan mencapai dengan tiada sesuatu pencapaiannya. Insan di dalam hal ini sudah tidak lagi memohon fatwa, tidak memohon perkenan, tidak meminta pertolongan dan ucapan juga tiada. Baginya setiap sesuatu adalah ilmu dan setiap ilmu adalah zikir. Inilah hamba yang telah benar-benar berjaya menghimpun semua makam dan martabat. Dia sudah melihat takdir-takdir dan melihat bagaimana Allah s.w.t menghalau takdir demi takdir dan melihat bagaimana Allah s.w.t mengulangi takdir-takdir itu dengan berbagai-bagai cara yang dikehendaki-Nya kerana sesungguhnya Allah s.w.t sahaja yang memulakan penciptaan dan Dia juga yang mengulanginya. Penglihatannya tidak berbolak-balik lagi. Dia melihat Allah s.w.t di hadapan dan di belakang apa yang dilihatnya dan melihat Allah s.w.t dalam segala yang dilihatnya.

Apabila kerinduan terhadap Allah s.w.t telah menguasai hati seseorang hingga kepada tahap tiada ucapan yang boleh diucapkan maka keadaan itu dikatakan melihat Allah s.w.t yang tiada sesuatu yang menyamai-Nya, sebagaimana firman-Nya:

Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan pentadbiran)-Nya, dan Dia jualah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ( Ayat 11 : Surah asy-Syura )

Dipetik dari Syarah Al-Hikam


Sabtu, 30 Januari 2016

Repost dakwah walisongo

Nuruddin.
" BOROBUDUR, PRAMBANAN DAN WALI SONGO "

Jika melihat bentuk dan besarnya Candi Borobudur dan Prambanan sangat mungkin sekali bahwa pada zaman dahulu di Nusantara ini juga berdiri bangunan-bangunan tempat serupa di masing-masing daerah tempat tinggal masyarakat. Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat yang kecil-kecil dulu.

Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha amat sangatlah banyak. Bahasa kerennya masa kini adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?

Kalau Anda belajar sejarah, Anda bakal makin heran dengan Walisongo. Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah kedua, Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; orang Indonesia tetap tidak mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima orang Indonesia. Agama Islam hanya dipeluk segelintir orang asing.

Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Vietnam bagian utara. Setelah beberapa dekade, setelah dua anaknya tumbuh dewasa, yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat, dan beberapa muridnya juga sudah dewasa, misalnya Sunan Giri, maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi utamanya adalah menyebarkan agama Islam ke penduduk pribumi.

Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam. Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, dakwah Walisongo berhasil mengislamkan hampir semua manusia nusantara. Mungkin waktu itu populasinya belasan juta orang.

Harap diingat, zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam, jadi tantangan dakwahnya luar biasa berat. Jalanan pun tidak ada yang diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang, maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa berat.

Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana Walisongo bisa melakukan mission impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Para sejarawan dunia sepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat sukses besar. Menurut saya pribadi, jawaban para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya pribadi, tentu masih bisa salah. Pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma "bungkusnya", yang benar-benar bikin beda adalah "isi" dakwah Walisongo.

Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis "bungkus" dan "isi" yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu alim ulama "satu-satunya".

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar, sahabat Umar, sahabat Utsman, calon mantunya Ali, dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi benar-benar only one yang tidak sesat. Tapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mengikuti risalah yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW sangat amat sabar menerangi orang-orang yang tersesat. Meski kepalanya dilumuri kotoran, meski mukanya diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan.

Walisongo mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang. Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya selametan rumah dengan menaruh sesajen di sudut kamar. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, "Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya."

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid. "Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang tidak terurus?" Sunan yang ditanyai hanya tertawa mendengarnya, lalu minta ditemani nonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, "Bagus ya cerita wayangnya..." Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?" tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, "Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan."

Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah mengerti konsep tauhid. Begitulah "isi" dakwah walisongo; mengutamakan perasaan orang lain.

Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Beliau dengan bijaksana menyatakan bahwa tidak boleh ada yang menyembelih hewan sapi saat Idul Adha, walaupun syariat Islam jelas menghalalkan. Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf.

Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Dengan bercanda beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja. Jadi tidak perlu cari gara-gara, makan daging kerbau saja juga enak. Kemudian beliau menyampaikan di depan khalayak umum bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi.

Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat al-Baqarah (Sapi Betina). Kemudian dengan nuansa kekeluargaan, sama sekali tidak seperti gaya khotbah-khotbah di televisi kita, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut. Justru karena welas asihnya sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, malah gotong royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.

Kalau Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125. Ud'u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau'izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wa Huwa a'alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama ahlussunnah wal jama'ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud'u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah "Ajaklah ke jalan Tuhanmu", tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra. Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya adalah "mengajak", bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat "lebih baik" di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, jangan ditafsirkan secara terjemahan bahasa Indonesia apa adanya. Bisa kacau balau.

Para pendakwah justru harus menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Jelas itu ngawur. Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapat petunjuk. Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sok suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama menuju jalanNya.

Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, Anda sekalian jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, kesuksesan dakwah Walisongo bukanlah hal yang aneh. Kanjeng nabi yang sendirian saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang hanya ditugasi Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.

Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja. Pertama, karena niat yang suci. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi. Kalau ada yang sakit, tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau membangun rumah, murid-muridnya disuruh membantu. Bahkan, kepada yang menyakiti, beliau-beliau tersebut tetap mendoakan.

Kedua, karena satu kata satu perbuatan. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut yang menjadi pihak pertama yang mempraktekkan. Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya. Semuanya dimanusiakan, karena Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil-alamin. Bukannya rahmatan lil-kelompokku.

Begitulah... Saya sangat senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin tentunya. Pasalnya, di tengah ketidakberdayaan saya menatap para ustadz-ustadzah yang gemar memvonis orang lain masuk neraka, saya sering merindukan Walisongo.

Saat ini orang yang sudah masuk agama Islam malah didakwahi. Saat ini orang yang belum dijalanNya, malah dikejar-kejar lalu dipukuli. Tidak ada ruh dakwah, yang ada hanya hawa nafsu. Gaya dakwah ala Rasulullah SAW makin sulit ditemukan, karena gaya dakwah penuh kebencian sambil marah-marah ala Abu Jahal kini semakin menjadi tren.

Tulisan ini bukan untuk menjawab orang-orang yang sering meremehkan Walisongo. Tulisan ini hanyalah tulisan rindu suasana dakwah wali songo.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...