Selasa, 30 Maret 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 02

BAGIAN PERTAMA 02




Kiram diam, menunduk dan kecut.

“Terus terang lagi, aku sudah jenuh. Aku sudah lelah karena sudah hampir sepuluh tahun aku hidup selalu diburu seperti ini, bahkan sebenarnya boleh dibilang kita sudah kehilangan harapan. Maka tolonglah dimengerti bila aku mulai berpikir tentang hidup normal, hidup biasa di desa, menjadi petani atau pedagang. Istriku dan anak yang sedang dikandungnya tentu lebih menyukai hidup yang wajar, hidup yang biasa saja.”

“Istri dan anak memang sering membuat hati lelaki lemah,” 

Potong Kiram. Terasa ada nada sindiran dalam kata-katanya, tetapi aku tak peduli karena aku sedang sibuk dengan istriku, yang bayangannya tiba-tiba hadir. Istriku memang sedang hamil enam bulan. Kini ia kusembunyikan dalam keluarga seorang kerabat di Dayeuh Luhur, jauh dari tempat aku berada. Kasihan dia. Sejak menjadi istriku dua tahun lalu, belum sekali pun ia mengalami suasana tenang. Ia hampir selalu ikut pon-
tang-panting lari dan lari, pindah dan pindah. Bahkan dalam kenyataannya kini, istriku menempati sebuah gubuk mirip kandang kambing yang terpuruk di belakang rumah kerabatnya, di lereng jurang.

“Kiram, kamu akan membocorkan omonganku ini?”

Kulihat Kiram menarik napas dalam-dalam.

“Begini, Mid. Aku bukan tidak memahami hal-hal yang kamu katakan tadi. Tetapi masalahnya tidak gampang. Bahkan seandainya kamu menyerahkan diri dengan cara baik-baik pun, masalahnya tetap tidak gampang. Kamu lupa cerita tentang teman-teman yang tertangkap? Mereka dibunuh. Bahkan yang menyerahkan diri pun tidak lebih baik nasibnya. Aku akan bersikap lain andaikan ada jaminan bahwa kita dapat meletakkan senjata dan boleh turun gunung tanpa kesulitan apa pun. Nah, belum pernah kamu dengar ada jaminan seperti itu, bukan?”

Kiram tak melanjutkan kata-katanya. Tetapi bagiku cukup-lah aku sudah tahu apa yang ada dalam hati temanku itu. Dan benar dugaanku, Kiram pun tetap seorang manusia yang kenal 
rasa bosan dan rasa jenuh.

Lamunanku terputus karena aku dan Kiram sudah sampai di tujuan: sebuah pos rahasia kelompok kami. Pos itu berada dalam gua batu kapur yang tersembunyi pada sebuah lereng 
terjal. Sesungguhnya gua itu terletak tidak jauh dari lintasan jalan tikus yang biasa dilalui oleh para pencuri kayu, namun tidak mudah tampak karena terlindung di balik akar-akaran yang menggantung serta segerumbul gelagah. Dari gua itu ada jalan setapak turun ke jurang, tersembunyi oleh semak. Pada dasar jurang ada sumur sederhana, tetapi jernih airnya.

Tanpa istirahat lebih dulu, Kiram menyiapkan api untuk merebus air dan menanak nasi. Karena merasa sangat letih, aku ingin merebahkan diri pada satu-satunya balai-balai bambu yang ada di dalam pos itu. Sekelilingku remang, maka aku tidak bisa melihat dengan jelas: ternyata Jun sudah tergeletak di sana. Pahanya diperban. Aku tak tahu siapa yang merawatnya. Mungkin Jun mengobati lukanya sendiri. Akhirnya aku merebahkan diri di lantai gua, beralaskan dedaunan. Aku sungguh letih. Anehnya, mataku tetap terbuka. Bahkan lamunanku melayang, mula-mula pada kematian Kang Suyud, kematian orang-orang Cigobang, lalu melompat jauh ke belakang, ketika aku masih remaja dan hidup biasa bersama orangtua.

Maret 1946. Ketika itu usiaku 18 atau 19, sudah empat tahun tamat Vervolk School. Bersama beberapa teman, satu di antaranya Kiram, saat itu aku sedang menjadi murid Kiai 
Ngumar, belajar silat. Suatu malam Kiai Ngumar memanggil aku dan Kiram. Hatiku berdebar karena mengira kiai itu akan 
memberi kami rahasia-rahasia ilmu silat.

“Duduklah. Aku punya cerita penting dan kukira kamu berdua sangat perlu mendengarnya. Kalian tahu kemarin ada rapat besar di alun-alun Purwokerto?”

Aku dan Kiram berpandangan.

“Tidak, Kiai,” jawabku jujur.

“Sungguh sebuah rapat yang besar dan sangat penting. Banyak sekali ulama dan kiai hadir. Tetapi bukan itu yang perlu kalian ketahui, melainkan adanya fatwa yang hebat.”

“Fatwa?”

“Ya. Dalam rapat itu Hadratus Syekh dari Jawa Timur mengeluarkan fatwanya. Beliau bilang, berperang melawan tentara Belanda untuk mempertahankan negeri sendiri yang baru 
merdeka, wajib hukumnya bagi semua orang Islam. Dan siapa yang mati dalam peperangan melawan tentara Belanda yang kafir, dialah syahid.”

Aku kembali berpandang-pandangan dengan Kiram. Ya, kukira aku sudah mendengar bahwa di Surabaya terjadi perang besar. Sebelumnya kudengar bahwa Indonesia sudah merdeka 
dan Bung Karno jadi presiden. Tetapi terus terang aku tak sepenuhnya paham karena di desaku belum terjadi perubahan yang nyata, kecuali waktu itu kulihat orang-orang Jepang 
tiba-tiba pergi dari kota kecamatan kami. Hal itu pun aku tak melihatnya sendiri.

Bahkan tentang perang pun aku sangat sulit membayangkannya. Aku hanya bisa meraba-raba, perang adalah perkelahian yang melibatkan orang banyak dan menggunakan berbagai senjata. Nah, bila perang memang seperti berkelahi, aku merasa siap karena kami sudah belajar silat. Anehnya, aku merasa ngeri ketika membayangkan bedil yang dulu pernah 
kulihat disandang para tentara Jepang.

“Jadi, begini,” lanjut Kiai Ngumar membuyarkan angan anganku. “Karena sudah difatwakan wajib, aku minta kamu yang masih muda-muda sebaiknya bersiap.”

“Siap berperang, Kiai?”

“Ya.”

“Apa perang akan sampai ke desa kita?”

“Hampir bisa dipastikan, ya. Bagaimana?”

Kiram menyodok igaku dengan sikunya.

“Kiai, tetapi soal perang urusan tentara, bukan?”

“Benar. Tetapi soal melawan tentara Belanda bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan fatwa yang diucapkan Hadratus Syekh jelas berlaku untuk semua orang yang sehat, bukan khusus untuk para tentara. Nah, bagaimana?”

“Ya, Kiai. Kami sami’na waatha’na, asal Kiai memberi kami restu.”

“Ah, jangan khawatir. Aku sudah tua, maka justru aku hanya bisa memberi kalian doa dan restu.”

Sejak Kiai Ngumar meminta kami bersiap melaksanakan fatwa jihad, tak terjadi perkembangan apa-apa hingga tiga bu-
lan sesudahnya. Aku dan Kiram mulai berpikir bahwa Kiai Ngumar hanya main-main. Namun pada suatu hari Kiai Ngumar kembali memanggil aku dan Kiram, bahkan langsung menyuruh kami untuk segera bersiap dan berangkat karena ada panggilan mendadak dari Purwokerto. Tanpa bekal yang berarti, aku dan Kiram berangkat, berjalan menempuh jarak 30 kilometer ke Purwokerto. Dalam perjalanan kami bertemu beberapa teman sebaya dengan tujuan sama. Kami berjalan seperti petani pergi ke sawah: satu-satu dan sama sekali tidak teratur.

Sampai di Purwokerto kami dihimpun di sebuah gedung madrasah milik Al Irsyad. Kulihat kira-kira ada dua ratus pemuda berkumpul di sana. Kami beristirahat sejenak dan ketika magrib aku mendengar berita bahwa besok pagi kami akan mulai mendapat latihan ketentaraan. Namun selepas isya berita itu berubah cepat: kami harus segera berangkat untuk membantu pasukan Brotosewoyo yang sedang berusaha merintangi laju tentara Belanda di daerah Bumiayu. Dalam suasana kacau, kami siap berangkat ke Bumiayu yang berjarak 43 kilometer dari Purwokerto. Anehnya, kami bisa tertawa-tawa sepanjang jalan, apalagi karena dalam rombongan kami ada pembawa 
perbekalan makanan dan minuman. Mungkin hanya Kiram yang murung.

“Mid, kita mau perang, bukan?”

“Ya. Mencegat iring-iringan tentara Belanda yang hendak masuk ke Purwokerto dari arah Tegal.”

“Jadi betul kita mau perang?”

“Kok kamu tanya begitu?”

“Perang pakai apa? Kita hanya membawa tangan kosong dan kain sarung?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaan Kiram karena aku pun punya pertanyaan yang sama. Perang kok seperti main-main; tak seorang pun membawa senjata, misalnya pedang, apalagi 
bedil. Anehnya, semua orang terus berjalan sambil tertawa-tawa.

Jam delapan pagi kami sampai ke tujuan, suatu wilayah perbukitan di sebelah utara kota kecil Bumiayu. Kulihat ratusan tentara bersiaga di atas bukit di kiri-kanan jalan. Ada juga yang berjaga-jaga di dekat jembatan di lembah. Wilayah pertahanan merentang dua atau tiga ratus meter sepanjang tepi jalan. Dan tidak seperti semua anak muda yang baru datang, 
para tentara tampak benar-benar siap berperang dan semuanya menyandang senjata.

“Mid, kita mau nonton perang.”

“Nonton?”

“Lho, mau apa kalau bukan nonton?”

“Tadi malam kamu tidak dengar apa-apa?”

“Apa?”

“Di sini kita hanya mem-ban-tu. Dengar?”

“Sama dengan nonton, bukan?"

Kiram tersenyum kecut. Ia kelihatan tak begitu bersemangat. Ia bahkan kelihatan kecewa. Kukira Kiram masih akan terus menyindir-nyindir, tetapi tiba-tiba ada suara keras terde-
ngar dari belakang kami.

“Hei, kamu berdua! Cari kapak dan tebang pohon trembesi di sana.” Seseorang berseragam dril dan menyandang pistol 
memberi perintah kepada kami. Tentara itu memakai peci hitam yang dipasang agak miring. Aku dan Kiram kebingungan.

“Kalian dengar? Cari kapak! Itu di sana ada kampung. Pinjam kapak di sana dan tebang pohon trembesi itu. Rintangan dekat jembatan masih terlalu tipis. Hayo! Hayo!”

Baru sekali itu aku mendapat perintah dengan cara demikian keras. Cara tentara? Entahlah. Pokoknya aku dan Kiram jadi limbung, lalu lari ke kampung yang ditunjuk agak jauh di lembah. Kapak yang kami cari sangat mudah kami dapat, barangkali karena aku dan Kiram mengatasnamakan tentara.

“Mid, dalam perang juga ada acara menebang pohon? Bila hanya mengayun kapak seperti ini, di rumah sendiri pun aku biasa melakukannya.”

“Kamu jangan berisik.”

“Mid, aku ingin menyandang senjata seperti mereka.”

“Jangan berisik. Mungkin kamu akan mereka beri senjata bila kamu sudah bisa menggunakannya.”

“Mid, kapan kita mendapat latihan?”

“Kubilang: jangan berisik!”

Kiram tampak kesal, tetapi ia terus menemani aku bekerja. Setelah roboh, batang trembesi besar itu kami jadikan rintangan jalan. Tentara yang tadi memberi perintah datang lagi, dan 
syukurlah, ia kelihatan puas. Berdua dengan Kiram, aku minta izin untuk beristirahat dan mencari minum. Di mataku, para tentara itu semua tampak gagah, meskipun pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang pakai topi baja. Ada yang pakai topi kain seperti kopiah. Ada juga yang mengenakan seragam 
mirip prajurit Jepang. Mata Kiram hampir tak pernah lepas dari senjata yang disandang setiap tentara yang lewat di dekatnya.

Makin siang terasa ketegangan makin memuncak. Beredar kabar dari kalangan kami bahwa jumlah pasukan Belanda yang 
diperkirakan lewat sangat besar. Perang pasti seru. Aku sendiri sulit membayangkan sesuatu. Seru, ramai, atau dahsyat, entahlah. Aku belum pernah menyaksikan sebuah peperangan.

Malah aku juga belum pernah melihat mobil lapis baja. Oh ya, aku pernah melihat bekas pemboman. Dulu, di tahun 1942, kota kecil Wangon dibom Jepang dari udara. Sebuah rumah kena, tetapi akibatnya tidak begitu mengerikan. Namun siang ini aku terbawa arus ketegangan yang kian mencekam. Orang-orang tak putus-putusnya memandang ke sebuah bukit kecil agak jauh di utara. Di sana ada dua pengintai yang menancapkan bendera kuning. Bila bendera berganti merah, itulah aba-aba siaga, tanda iring-iringan tentara lawan sudah masuk.

Semua orang terlihat kesal karena sampai saat matahari tergelincir bendera di atas bukit itu masih tetap kuning. Banyak anggota pasukan uring-uringan dan mulai mengendorkan kesiagaan. Ada yang mengumpat dengan kata-kata kotor. Menjelang sore kudengar berita, tentara lawan telah mengubah lintasan perjalanan mereka. Menurut berita yang begitu cepat beredar itu, tentara Belanda mengambil jalan memutar. Dari Slawi mereka bergerak ke timur dan akan masuk Purwokerto melalui Purbalingga setelah menempuh perjalanan mengitari Gunung Slamet.

Suara orang mengumpat makin sering kudengar. Semua orang melepaskan kesiagaan. Komandan pasukan berteriak-teriak meminta anak buahnya berkumpul. Dua buah truk datang dan tentara naik. Tetapi lebih dari separonya tak bisa terbawa. Kudengar mereka harus cepat berbalik dan masuk kembali ke Purwokerto untuk mempertahankan kota yang 
akan mendapat serangan dari arah timur. Kami, para pemuda yang diperbantukan, bergerak hilir mudik karena kehilangan acara. Lesu, merasa tak berguna, dan lapar bukan main. Untung ada orang bicara, entah siapa, bahwa kami boleh pulang. Tetapi, kata orang itu, kami harus selalu siap memberi bantuan apa saja kepada tentara Republik bila mereka beroperasi di desa kami masing-masing. Bubar. Kiram memungut sebongkah batu cadas dan membantingnya dengan keras. Pecah.

“Mid, kita tidak jadi perang?” tanya Kiram sambil bersungut. Ia kelihatan sangat lesu dan kecewa. Aku merasa tak perlu menjawab pertanyaan Kiram. Mungkin karena aku sangat lelah. Demikian lelah sehingga malam itu aku tertidur nyenyak di sebuah masjid, meskipun sebenarnya perutku terasa lapar. Pagi-pagi aku dan Kiram pulang, naik andong sambung-
menyambung, dan sampai di rumah menjelang senja.

 Tak kusangka, perintah untuk siap membantu tentara di desa masing-masing ada kelanjutannya. Setengah bulan kemudian aku dan Kiram menerima surat dari seseorang. Kami diminta datang ke desa seberang bukit. Kami berangkat. Kiram tampak kurang bersemangat. Mungkin ia khawatir akan dikecewakan lagi seperti pengalaman kami di Bumiayu waktu itu. Di seberang bukit kami bertemu dengan empat tentara. Lagi, kami diminta membantu mereka, kali ini pun untuk mencegat tentara Belanda. Pencegatan kali ini, kata mereka, harus berhasil dan yang mereka harapkan terjadi adalah pertempuran kecil dan singkat. Kami mendapat penjelasan mengenai taktik mereka. Sebuah kota kecamatan di arah timur akan diserbu oleh sejumlah gerilya. Namun serbuan ini sekadar siasat untuk 
memancing pasukan bantuan yang diperhitungkan akan datang dari kota lain di arah barat. Pasukan bantuan inilah yang 
akan kami cegat.

Kiram tampak lesu ketika mengetahui tugasnya dan tugasku juga, yaitu minta ransum kepada para penduduk dan ikut mengangkat beberapa peralatan tentara. “Pokoknya, dalam keadaan gawat kami selalu kurang tenaga,” kata salah seorang dari mereka. Anehnya, kelesuan Kiram terlihat sirna bila matanya memandang senjata yang disandang keempat tentara itu.

Pagi sekali kami bergerak meninggalkan desa di seberang bukit, menuju jalan besar di sebelah selatan. Keempat tentara bersembunyi di balik rumpun pandan yang tumbuh di 
sepanjang tepi jalan. Komandan mereka sering melihat jam tangannya. Ketegangan mulai terasa. Aku merasa ingin kencing. Kira-kira jam sepuluh, mulai terdengar suara tembakan 
dari arah timur. Menurut perhitungan, dalam waktu lima belas sampai dua puluh menit, akan datang pasukan bantuan Belanda dari arah barat. Kulihat keempat tentara itu makin siaga.

Mereka memantapkan posisi masing-masing. Yang di tengah mengarahkan senjatanya yang agak berat, aku tak tahu apa namanya.

Kiram berbisik dari samping, “Mid, kamu percaya sekali ini akan benar-benar terjadi perang?”

Aku melenguh. “Jangan berisik.”

Lalu terdengar deru kendaraan dari arah barat. Aku benar-benar takut. Kiram menekan punggungku agar aku lebih rendah bertiarap, namun tindakannya malah membuatku makin takut. Mataku berkunang-kunang. Terasa ada air hangat mengucur di selangkanganku. Samar, karena mataku makin berkunang-kunang, dari balik semak-semak aku melihat dua truk mendekat. Dengan muatan orang-orang berseragam loreng, kedua kendaraan itu terlihat sangat berwibawa. Aku juga masih bisa melihat tentara Republik di depan sana bangkit dari tempat persembunyiannya lalu melemparkan sesuatu ke arah truk yang kedua. Ledakan yang sangat kuat menggema. Baru 
sekali itu aku mendengar ledakan yang demikian keras. Asap membubung. Kukira aku kehilangan sebagian besar kesadaranku untuk menyaksikan apa yang kemudian terjadi. Tetapi setidaknya aku mendengar truk pertama kabur. Kemudian kulihat truk kedua berusaha menyusul, tetapi terhuyung dan membentur pohon johar di tepi jalan.

Apabila benar kemudian terjadi perang singkat, sebenarnya aku tak bisa menjadi saksi yang baik. Semuanya terjadi dalam ruang yang penuh kunang-kunang serta kesadaran yang kurang penuh. Ah, tapi aku melihat Kiram melompat di atas tubuhku, melesat ke tengah jalan. Ya Tuhan. Kiram menyambar sebuah 
bedil yang tergeletak di sisi mayat pemiliknya, seorang serdadu Belanda. Kemudian semuanya baur kembali. Aku hanya mendengar perintah lari. Lari!

Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya bahwa kami akan lari ke arah utara. Namun gerakan itu merupakan tipuan untuk mengecoh para pengejar. Setelah mencapai jarak aman kami memutar kembali ke selatan, bahkan menyeberang jalan raya agak ke barat, lalu lari ke arah yang berlawanan dengan perkiraan orang.

Aku, Kiram, dan keempat tentara itu beristirahat di belakang rumah Kiai Ngumar. Kiai memotong ayam. Dari pencegatan hari itu tentara mendapat tambahan tiga senjata, satu 
di antaranya masih berada di tangan Kiram. Juga beberapa granat. Seorang tentara meminta Kiram menyerahkan senjata rampasan yang dipegangnya. Tentara bilang, Kiram hanya seorang pemuda yang diperbantukan, jadi Kiram tidak dibenarkan 
memegang senjata. Aku terkejut ketika melihat Kiram bersikukuh hendak memiliki senjata itu. Kukira ketegangan akan segera terjadi apabila Kiai Ngumar tidak turun tangan.





Bersambung... 

______________________________________________

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 01

BAGIAN PERTAMA 01




Pagi hari musim kemarau di tengah belantara hutan jati adalah kelengangan yang tetap terasa purba. Senyap yang selalu membuat aku merasa terpencil dan asing. Padahal ibarat ikan, hutan jati dan semak belukar yang mengitarinya sudah bertahun-tahun menjadi lubuk tempat aku dan teman-temanku hidup dan bertahan. Sepi yang terasa menyimpan 
ketidakpastian membuat aku dan teman-temanku harus selalu waspada. Atau kewaspadaan adalah darah kami sendiri; sebab tanpa kewaspadaan yang tinggi aku dan teman-temanku bisa habis oleh tembakan para penyergap yang bersembunyi di balik batang-batang jati atau belukar. Malah lebih dari itu, tanpa kewaspadaan yang terus melekat, bahkan ular bedudak yang banyak berkeliaran bisa merampas nyawa kami dengan cara yang begitu mudah. Sudah dua orang teman kami mati sia-sia karena patukan ular yang sangat berbisa itu.

Aku berjalan sendiri, menanjak bukit yang tertutup kelebatan hutan jati, menyusuri jalan tikus yang biasa dilewati para pencuri kayu. Segala indraku siap menangkap setiap suara atau gerakan yang paling halus sekalipun. Bahkan perasaanku sudah sangat terbiasa mengenali datangnya suasana yang berbahaya.

Sekelilingku tetap remang karena sinar matahari hampir tak mampu menembus kelebatan hutan. Hanya pada bagian-bagian tertentu tampak serpih cahaya jatuh lurus dan membuat pendar pada daun-daun kering yang berserakan di tanah. Selebihnya adalah teduh atau bahkan remang.

Kelengangan hanya sedikit terganggu oleh suara langkahku sendiri, yang sering tak terhindarkan jatuh di atas daun dan ranting kering; atau, oleh angin pagi musim kemarau yang menyapu kelebatan hutan dan menimbulkan desah jutaan daun yang saling bergesek. Suaranya adalah desau seluruh bagian hutan, yang kadang terasa menyeramkan. Beberapa daun tua luruh, terlunta di antara cabang-cabang yang rapat, kemudian melayang jatuh ke tanah. Sepi juga sedikit terusik oleh cicit burung-burung kecil dari arah rumpun belukar-belukar dan gelagah di lereng jurang.

Aku terus melangkah dan kini jalan yang kutempuh mulai menurun. Tiba-tiba kusadari tarikan napasku terasa berat. Kulitku meremang. Naluriku mengatakan ada seseorang di dekatku.

“Mid!” sebuah suara terdengar dari samping.

Pada detik yang hampir sama aku melompat ke depan untuk mencapai sebatang jati besar lalu berlindung di baliknya. Tanganku segera bergerak meraba pundak kiri. Namun aku 
segera sadar, tak ada senjata tergantung di sana.

“Mid! Amid!”

Karena diulang aku segera mengenali siapa pemilik suara itu: Kiram. Aku keluar. Kulihat temanku itu juga tak membawa apa-apa. Wajahnya yang lusuh terlihat sangat pahit. Kukira, aku pun tiada beda: lusuh dan getir. Kami berpandangan. Jelas sekali Kiram terlihat lelah. Aku pun sama. Kami berpisah tadi malam untuk menyelamatkan diri masing-masing setelah lolos dari kepungan tentara yang tiba-tiba datang menyerbu.

“Kamu mau mencari Kang Suyud?”

Aku mengangguk. Kiram mendesah. Tanpa banyak kata terucap kami sepakat. Mungkin juga karena aku maupun Kiram punya jalan pikiran yang sama. Setelah kami bisa menyelamatkan diri, hal pertama yang harus kami lakukan adalah mencari Kang Suyud. Orang tua itu terpaksa kami tinggalkan 
meskipun kami tahu dia sedang sakit. Kang Suyud kami sembunyikan dalam semak di balik batu besar, karena kami tak mungkin bertempur sambil memapah dia yang sedang sakit dan sudah lemah.

“Kamu yakin suasana sudah aman?” aku bertanya.

“Ah, kamu. Bagi kita suasana tak pernah aman.”

“Di mana Jun? Kulihat tadi malam dia kena.”

“Memang. Tetapi kukira dia bisa lari. Peluru menembus kulit pahanya.”

“Lalu di mana dia?”

Kiram menggeleng.

Kami meneruskan perjalanan. Sama seperti aku, Kiram pun tak banyak cakap. Ketika kami menapaki jalan tikus yang makin menurun, aku mendengar suara gaduh di atas pepohonan. 
Aku melihat sekawanan monyet berkejaran pada dahan dan ranting jati. Sungguh gaduh. Tetapi kami tak peduli. Apalagi karena kami makin dekat ke tujuan: sebuah kantong hunian yang tersembunyi di tengah hutan. Hunian itu adalah kelompok lima rumah beratap ilalang yang berdiri pada dataran sempit yang dikelilingi tebing-tebing. Penghuni di sana adalah lima keluarga pembuat balok jati. Mereka menjual barang curian itu kepada penduduk desa di sekitar hutan. Kami tidak 
mengusik mereka karena mereka mau bekerja sama. Para pembuat balok itu biasa kami suruh membeli barang belanjaan di pasar.

Tadi malam kami—aku, Kiram, Jun, dan Kang Suyud— berada dalam salah satu rumah ilalang itu. Kami datang untuk menjenguk Kang Suyud yang sedang sakit dan kami titipkan 
kepada salah satu keluarga di sana. Tiba-tiba datang serbuan. Untung ketika itu Jun sedang kencing di luar, sehingga dia dapat memberi peringatan akan datangnya bahaya. Kami ingin menyembunyikan Kang Suyud di kolong, tetapi orang tua itu menolak. Ia bersikeras minta ikut lari. Sementara Kiram dan Jun bertempur, aku menyelinap sambil memapah Kang Suyud. Namun keadaan semakin gawat, sehingga kami putuskan untuk meninggalkannya. Kami yakin Kang Suyud bisa menjaga diri sendiri, setidak-tidaknya dengan tetap berada di dalam persembunyiannya sampai keadaan mereda. Kami bertiga terus 
lari menjauh, tapi tak lama kemudian kami mendengar suara tembakan-tembakan, lalu kami melihat api menyala dan menjulang berkobar-kobar. Hunian itu rupanya mereka bakar.

Kini lokasi hunian itu sudah tampak. Kelima rumah ilalang yang mereka bakar tadi malam sudah jadi abu. Kiram melewati aku, bergegas menuju tempat Kang Suyud kami sembunyikan. Aku, entahlah, tidak pergi mengikuti Kiram. Aku menyimpang dan berjalan lurus menuju bekas hunian itu dan aku tertegun di sana.

Demi Tuhan, sesungguhnya aku sudah terbiasa melihat mayat-mayat dengan luka tembakan, baik dari kalangan lawan maupun kawan. Aku sudah sering menyaksikan tubuh yang hancur atau tengkorak yang pecah oleh gempuran mata peluru. Bahkan aku pernah melaksanakan perintah eksekusi atas dua 
teman sendiri: satu karena kesalahan menggelapkan barang rampasan dan satu lagi karena kesalahan melakukan berahi sejenis. Rasanya, semua itu tak begitu mengerikan. Ya, semua itu tidak terasa begitu menggerus jiwa bila dibandingkan dengan kepiluan yang kurasakan ketika aku menatap mayat para pencuri kayu bersama istri dan anak-anak mereka.

Belasan mayat lelaki, perempuan, dan anak-anak berserakan, semua dengan luka tembak habis-habisan. Ya, tadi malam memang terlalu banyak peluru berhamburan di tempat itu: 
peluru kami dan peluru para penyerbu. Untuk menciptakan peluang meloloskan diri, Jun bahkan sempat melemparkan granatnya. Jadi tidak bisa dipastikan bahwa mayat-mayat yang bergelimpangan itu hancur hanya oleh peluru para penyerbu. Dan aku memang tak ingin tahu siapa sebenarnya yang menyebabkan orang-orang tak bersenjata ini terbunuh. Itu tak penting. Yang jelas jiwaku amat terpukul ketika melihat kelima keluarga pembuat balok itu musnah bersama hunian mereka. Terasa ada tagihan yang mengepung jiwaku: adilkah melibatkan, meskipun tak sengaja, orang-orang lemah itu ke dalam 
gerakan kami sehingga mereka harus ikut menanggung akibat yang tak terperikan? Aku sendiri bisa menjawab dengan mudah: Tidak. Dan kematian mereka yang sangat mengerikan itu justru menjadi bukti ketidakadilan itu.

Ketika aku masih merenungi mayat-mayat itu, Kiram datang seorang diri. Wajahnya beku.

“Mana Kang Suyud? Bagaimana dia?”

Kiram diam.

“Kamu temukan dia?”

“Sudah mati.”

“Ya Tuhan. Mati?”

Aku bergegas meninggalkan hunian yang sudah berubah menjadi tempat mengerikan itu. Kulihat Kiram mencari sesuatu dekat bekas kandang kambing. Ia menemukan apa yang 
dicarinya. Cangkul. Kemudian Kiram menyusul aku pergi ke balik batu besar itu.

Sekali lagi aku tertegun. Di depan mataku, mayat Kang Suyud terkulai melingkar di atas rerumputan. Tak ada luka. Jadi aku percaya Kang Suyud mati karena sakitnya. Mati dengan cara yang terasa begitu nista, begitu hina.

Aku segera teringat, di desa asalnya Kang Suyud meninggalkan istri dan beberapa anak, juga sebuah masjid yang besar. Dulu, sebelum lari ke hutan bersama kami, Kang Suyud sudah menjadi imam di masjid itu. Jamaahnya banyak dan ia dihormati. Kang Suyud punya sawah dan ladang. Tetapi kini yang ada pada Kang Suyud adalah gambaran ketidakberdayaan, bahkan kesengsaraan. Kenistaan. Kesia-siaan. Ya, sia-sia, meskipun aku tahu dalam kelompok kecil laskar gerakan kami, Darul Islam, Kang Suyud adalah orang tua yang kami hormati. Bahkan dalam kelompok kami, Kang Suyud akan menjadi seorang martir tanpa keraguan. Maka mungkin hanya aku seorang yang diam-diam menganggap kematian Kang Suyud sebagai 
kesia-siaan. Juga, diam-diam aku mulai meragukan hal kemartiran atas kematian orang-orang dari gerakan kami, termasuk 
Kang Suyud.

Dalam kebisuan yang mencekam, aku dan Kiram mengurus mayat Kang Suyud. Semuanya serba sahaja. Sempat kubayangkan andai Kang Suyud meninggal di tengah suasana normal di kampungnya, pasti ratusan orang akan mendoakannya dan mengiringkan mayatnya sampai ke kubur. Tapi pagi ini ia kami kubur dalam tata cara seadanya, bahkan hanya dengan doa yang masih bisa kami ingat.

Sebenarnya aku juga ingin menguburkan mayat-mayat yang lain. Namun Kiram tak setuju dan memaksaku segera meninggalkan tempat itu. “Jangan ambil risiko terlalu lama berada di sini. Sewaktu-waktu para penyerbu bisa datang lagi.”

Hampir tengah hari ketika aku dan Kiram meninggalkan Cigobang, hunian yang kini tinggal menjadi onggokan abu dan serakan mayat itu. Aku dan Kiram berangkat. Kami lebih banyak membisu. Kelengangan masih menyelimuti hutan jati, tetapi aku melihat seekor cicak terbang melayang dari pohon 
yang satu ke pohon lainnya. Aku juga melihat sepasang burung kacer terbang berkejaran dalam kebisuan. Pada hari-hari biasa kelengangan hutan sering terusik oleh bunyi kapak para pembuat balok kayu jati. Namun setelah habisnya seluruh penghuni Cigobang, aku yakin dalam waktu yang cukup lama takkan terdengar lagi bunyi kapak membelah kayu. Maka siang itu sunyi terasa sangat mendaulat hutan. Maka ketika ada ranting jati jatuh menimpa daun kering, suaranya terdengar demikian jelas. Kecuali bila angin bertiup, desah hutan jati terdengar begitu menggetarkan suasana.

Aku terus melangkah dan membiarkan Kiram berjalan di depanku. Entahlah Kiram, namun pikiranku tak bisa lepas dari Kang Suyud. Kematian lelaki yang kutuakan itu membuat jumlah anggota kelompok kami makin sedikit. Tiga tahun lalu, di tahun 1945, ketika kami mulai bergerak dari timur untuk menempati wilayah segitiga Gunung Slamet-Gunung 
Ceremai-Muara Citandui, kukira jumlah kami lebih dari seribu orang. Dan satuan kecil yang mendapat perintah menempati sektor hutan di wilayah utara Cilacap sampai ke perbatasan 
Jawa Tengah-Jawa Barat, ada dua ratus orang lebih. Dalam waktu kurang dari tiga tahun berikutnya kami kehilangan lebih dari setengahnya. Ada yang tertangkap atau mati dalam pertempuran, atau, minta bergabung dengan induk pasukan yang lebih kuat, yang beroperasi di sebelah barat Sungai Citandui. Lainnya, dan inilah jumlah yang terbesar, diam-diam meloloskan diri dan menyeberang ke Sumatra lewat Pelabuhan Cirebon. Kudengar mereka menjadi petani dan bisa hidup tenang di tanah yang baru. Maka yang tersisa adalah sedikit laskar pilihan yang memang tangguh seperti Kiram, Kang Suyud, dan Jun. Anehnya, aku adalah satu di antara mereka.

Sambil terus melangkah di belakang Kiram, aku sibuk dengan lamunanku sendiri. Aku harus jujur mengakui bahwa makin merosotnya jumlah anggota dan makin kuatnya perlawanan terhadap kami membuat semangatku terus menurun. Perbekalan pangan makin sulit kami dapat, apalagi amunisi.

Aku merasa bahwa kelompok kami sudah terpencil karena hubungan dengan pemimpin tertinggi Darul Islam sudah lama terputus. Dan kematian Kang Suyud membuat aku merasa makin kehilangan pegangan. Entah teman lain, tetapi aku sendiri mulai digoda oleh kebimbangan, bahkan keraguan akan manfaat gerakan kami. Atau sebenarnya benih keraguan itu sudah lama tertanam sejak lama, misalnya ketika kami menyerbu desa yang mempunyai sebuah madrasah dan masjid besar. Kami mendapat perintah menembak siapa saja, termasuk para ulama di sana, bila mereka tidak mau mendukung gerakan Darul Islam.

Aku ingat, beberapa bulan sebelum ikut menyerbu desa itu aku datang ke sana. Suasana masih normal. Waktu itu Darul Islam belum menarik garis tegas untuk memisahkan siapa ulama kawan dan siapa ulama lawan. Aku sempat berbincang dengan imam masjid di sana. Ternyata kiai itu tak mau mendukung kami. Ia berkeyakinan, pemerintah Bung Karno sah karena didukung para pemimpin Islam dan tidak menganjurkan kekufuran, bahkan mengupayakan kemaslahatan serta kesejahteraan umum. Pemerintah Bung Karno juga dianggapnya sah, sebab kata kiai itu, lebih baik ada pemerintah meskipun jelek daripada tak ada pemerintah sama sekali, setelah Belanda meninggalkan Tanah Air. “Taat kepada pemerintah yang sah adalah kewajibanku, kewajiban menurut imanku, iman kita,” kata kiai itu.

Ya. Maka kiai itulah yang pertama kali kami tembak dalam penyerbuan kami bulan-bulan berikutnya. Waktu itu kami sungguh-sungguh bertempur. Entah dari mana, beberapa pemuda di kampung itu mempunyai senjata untuk melawan kami. Mereka bertahan dalam masjid. Ya, kami bertempur di dalam tempat suci itu. Dan mereka benar-benar menguji ketangguhan kami. Seorang teman mati kena ledakan granat yang dilemparkan orang dari langit-langit kubah masjid. Bukan main!

Itu dulu. Dan perihal pertempuran terakhir tadi malam? Rasanya, hal itu terjadi sebagai balasan operasi yang kami lakukan beberapa hari sebelumnya. Waktu itu aku, Kiram, Jun, 
dan Kang Suyud main-main mencegat kendaraan yang lewat di jalan raya di tengah hutan antara kota kecil Wangon dan Cilacap. Main-main, karena operasi itu kami lakukan tanpa rencana sama sekali. Yang kami harapkan lewat waktu itu adalah bus tua yang biasa membawa orang-orang pulang dari pasar. Kami bermaksud merampas belanjaan yang mereka bawa. Jadi hanya kebetulan bahwa yang datang pertama ternyata sebuah jip militer. Kang Suyud meminta kami membiarkan jip itu lewat, namun Kiram bersikukuh melaksanakan niatnya. Juga Jun, dan aku setuju. Maka hanya dalam waktu yang demikian singkat kami bersiaga. Kiram berada di ujung depan, Jun di tengah, dan aku paling belakang. Kang Suyud, yang tak bersenjata dan kurang enak badan, tidak ikut ambil bagian. Ia 
sudah terlalu lemah.

Jip militer itu makin dekat, makin dekat. Penumpangnya hanya satu, seorang militer yang mengemudikan jipnya dengan gagah. Pada jarak tembak yang cukup dekat, Kiram menembakkan water mantel-nya dari balik semak di pinggir jalan. Entahlah, tembakan Kiram gagal menghentikan jip itu. Giliran Jun menembak dengan Pietro Baretta. Gagal juga. Malah militer itu, sambil mengendalikan kemudi dengan tangan kiri balas menembak dengan pistol. Jadi tibalah giliranku. Aku 
melompat ke tengah jalan, merintang langsung dari depan dengan rentetan Thompson-ku yang tua. Kulihat jip itu oleng karena kemudi tak lagi terkendali, lalu terjungkir ke pinggir jalan. Penumpangnya, seorang letnan, langsung tak bergerak.

Apa yang paling menarik bagiku pada mayat letnan itu adalah pistolnya, sebuah FN buatan Belgia dengan tiga magasin yang penuh peluruh. Aku segera mengambil barang yang 
sangat kami perlukan itu. Tetapi aku juga merogoh kantong celananya yang kombor untuk mencari rokok atau uang. Dan apa yang kudapatkan dari sana amat memukul sanubariku: seuntai tasbih dan sebuah Quran kecil. Kedua benda itu, bahkan dalam suasana dekat mayat pemiliknya, rasanya tak berhenti 
memancarkan kekudusan. Dan mayat pemiliknya, tak peduli ia seorang militer Republik, tergeletak di depan mataku karena 
peluru yang kutembakkan.

Aku merasakan adanya dua kekuatan tarik-menarik, suatu pertentangan yang mulai mengembang dalam hatiku. Seorang lelaki, militer yang baru kubunuh itu, agaknya ingin selalu merasa dekat dengan Tuhan. Dan ia telah kuhabisi nyawanya. Sementara itu aku harus percaya bahwa Tuhan yang selalu ingin 
diingatnya melalui tasbih dan Quran-nya itu pastilah Tuhan-ku juga, yakni Tuhan kepada siapa gerakan Darul Islam ini mengatasnamakan khidmahnya. Hatiku terasa terbelah oleh ironi yang terasa sulit kumengerti.

Sesuai dengan peraturan mengenai barang-barang rampasan, pistol, sepatu, termos air, serta tasbih dan Quran itu kami kumpulkan untuk dibagi dengan adil. Disepakati, pistol 
menjadi milik Kang Suyud, karena dia sudah terlalu lemah untuk menggunakan senjata yang lebih berat. Sepatu untuk Kiram dan termos air untuk Jun. Aku mendapat baju dan celana. Anehnya, tasbih dan Quran tak segera mendapat pemilik. Aneh pula, tak ada yang berani membuangnya. Jadi aku mengambil kedua benda itu untuk menjadi milikku, dan tak seorang pun merasa keberatan. Celakanya, melalui benda-benda itu bayangan letnan yang kubunuh sering muncul dalam rongga mataku. Tasbih dan Quran itu juga seakan selalu mengingat-kan aku bahwa pemiliknya, letnan yang sudah kubunuh itu, adalah orang yang tak seharusnya kuhabisi nyawanya.

Aku merasa Kiram atau Jun bisa menangkap perubahan yang terjadi pada diriku. Kiram misalnya, pernah menegurku. Katanya, aku telah kehilangan semangat. Tidak cukup menegur, Kiram bahkan mengingatkan aku akan hukuman yang akan kuterima bila aku murtad dan mengkhianati Darul Islam. Mati. Aku tidak takut mendengar peringatan itu karena aku percaya, Kiram pun seorang manusia seperti aku. Dia juga punya keinginan pribadi, punya keterbatasan, dan pasti juga 
kenal rasa bosan. Maka aku hanya mengangguk sambil tersenyum ketika mendengar kata-kata Kiram.

“Ya, terus terang aku mulai kehilangan semangat. Aku, dan tentu kamu juga, sudah mendengar bahwa di mana-mana kita terdesak. Di mana-mana kita kalah dan surut. Apalagi sekarang orang kampung beramai-ramai ikut melawan kita dengan 
melakukan gerakan pagar betis. Jadi bagaimanapun juga aku merasa keadaan kita sedang surut. Bukan aku yang mengatakan demikian, melainkan kenyataan. Kiram, kamu adalah kawanku sejak anak-anak. Maka kamu adalah teman kepercayaanku. Lalu, cobalah jawab pertanyaanku. Dengan kecenderungan seperti ini, kita ini mau ke mana sebenarnya?”





Bersambung... 

______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...