Minggu, 02 Agustus 2020

SANG KYAI -53

Sang kyai 53

“Ya kalau tak dilarikan kan nanti uangnya diminta lagi, begitu cerita Hasim, ya Hasim sama kedua temannya dapat uang sekarung.” jelas Furqon. “Siapa sih yang lagi ketimpa susah kayak aku ini kalau tak kepingin dapat uang yang banyak untuk menutupi utang, bayangkan aku ini bayar utang, dengan ngutang lagi, kadang aku sendiri sampai benci sama Rhoma Irama.”

“Memangnya kenapa dengan dia?”

“Ya dia nyanyikan bayar utang pakai hutang, jadinya aku yang ngalami.”

“Terus kelanjutan ceritanya bagaimana?”

“Ya aku bersama Sanip dan Klewer bareng-bareng menjual sate untuk setan, klewer yang kebagian membakar sate, Sanip yang kebagian menawarkan sate, dan menerima uang pembayaran, jadi Klewer membakar sate, lalu Sanip yang menawarkan sate dengan mengatakan, “ayo…, ayo… para hantu, para kuntilanak, para setan, genderuwo, jin dedemit, ayo semua datang, membeli sate….” kata-kata itu diulang-ulang, sampai para hantu semua pada datang, sementara aku sendiri kebagian menunggu dengan motor siap jalan, dalam rencana nanti si Sanip akan menawarkan, dan berkata “ini harga setusuk seharga uang seperti ini sekarung, sambil menyodorkan uang ratusan ribu, nah hantu nanti akan mengambil uang sekarung untuk membayar sate yang kami beli.” cerita Furqon.

“Lalu dedemit pada datang?” tanyaku penasaran dengan pekerjaan orang yang nggenah itu.

“Iya…. mereka pada datang, ada yang kuntilanak, pocong, orang yang hancur wajahnya, pokoknya menyeramkan sekali, aku yang dari jauh saja ketakutan setengah mati, apalagi yang dekat, si Sanip sudah gemeteran menawarkan sate, tapi herannya mereka hanya melihat dari jauh, tak ada yang mendekat.”

“Ya mungkin saja mereka tak punya uang.” kataku.

“La kok sebelumnya Hasim dapat uang?”

“Ya bisa jadi uangnya sudah habis di ambil Hasim semua, jadi sudah tak punya sisa sama sekali.”

“Lalu apa bener kemudian tak dapat uang, hanya dilihati hantunya saja?” tanyaku pada Furqon.

“Iya kami akhirnya tak dapat apa-apa, malah setelah kejadian itu kok kayaknya aku ini ngantukan banget, kalau sudah ngantuk wah ndak bisa ditahan, kayak di punggung ada yang minta gendong.”

“Sekarang ngantuk?”

“Sekarang sih tidak, cuma biasanya kadang lagi membawa penumpang ojek, aku tak sadar tertidur, bahkan kadang karena tak tahannya tak jarang aku jalan, lalu berhenti dulu untuk tidur, bisa di pos kampling, emperan toko, bahkan juga di atas motor, jadi motor aku pinggirkan lalu aku tidur saja, di atasnya.”

“Itu pengaruh kekuatan para setan yang dipanggil itu.”

“Lalu bagaimana solusinya?”

“Ya nanti ku kasih air, dipakai mandi dan diminum, moga saja pengaruh aura hitamnya segera musnah.”

“Aku ini sebenarnya sudah berpindah-pindah mengikuti aliran, dulu di Bogor juga pernah mengikuti aliran betara karang.”

“Wadoh apa lagi itu?”

“Itu aliran yang isinya para penjual makanan keliling semua, karena aku ini juga penjual makanan keliling, maka aku diajak temanku untuk mengikuti aliran itu.”

“Kayak bagaimana alirannya?”

“Itu aliran ada pemimpinnya, dan pemimpinnya itu kalau mau ditanya soal masalah anak buah, maka dia kerasukan dulu, lalu bisa menjawab dengan tepat permasalahan semua yang hadir, misal mau menempati warung, ini cocok apa tidak, ke depannya lancar tidak menambah gerobak dan lain-lain. Dan anehnya kebanyakan cocok, dan pas jawabannya dengan kenyataan, misal soal membuat gerobak baru, nanti dijawab akan ada yang menawari beberapa gerobak, jadi tak usah membuat yang baru, anehnya kok ada yang benar-benar menawarkan gerobak baru, apa tak aneh itu mas kyai? Lalu ada juga yang misal disuruh jualan di satu daerah karena di daerah sebelumnya tak laku, maka orang yang disuruh pun menuruti, anehnya setelah pindah mengikuti saran itu, maka jualannya jadi laris sekali.” jelas Furqon bersemangat.

“Gini lo ya mas Furqon, jadi segala sesuatu itu tak lantas kemudian ini bisa laris, atau itu sesuai kenyataan, atau apa yang diramalkan menjadi nyata, atau sesuai dengan kejadian, jadi kita ini kembalikan ke asal, kita ini diciptakan di dunia kan untuk mengabdikan diri kepada Alloh, itu pegang kuat-kuat sebagai dasar, sebab itu akan mempengaruhi bagaimana nantinya penilaian kita terhadap segala sesuatu, ini kan sama saja kita menjadi kaya raya, berhasil usahanya karena nyupang, karena secara lahirnya tak sama, tapi secara kenyataannya kan sama, sama-sama kita meminta kepada jin setan, dan jelas itu membunuh aqidah kita sendiri, maka sampean sekarang itu susah, kenapa? karena sampean percaya dengan arahan jin, kalau sampean percaya dengan arahan jin, maka Alloh sudah sama sekali tak perduli dengan sampean, dan sampean sudah diserahkan nasibnya pada jin, la jin sendiri, pertama kan maunya memperdaya, la kalau sampean sudah terperdaya, ya ngapain juga ngurus sampean, mereka nyari orang lagi agar bisa diperdaya, jadi sampean sudah ditinggalkan.” jelasku.

“Kita itu jangan lantas mudah takjub dengan hal-hal yang aneh-aneh, sekarang apa hebatnya hal yang aneh-aneh, jika itu kita tukar dengan selamanya di neraka, maka tak hebat sama sekali, apalagi sekarang kan sudah jelas terlihat, sampean hidupnya susah, la yang jelas hidupnya enak, kayak orang-orang kaya yang nyupang, menjalani perjanjian dengan jin saja tak menguntungkan sama sekali karena apa? karena ditukar dengan aqidah keimanan kita, la dunia ini kan sementara, lalu kalau kita kemudian mati di neraka selamanya, bukankah itu amat merugikan?”

“Iya saya juga tau… tapi kadang kesusahan hidup lebih menyudutkan saya untuk menjalankan hal-hal yang di luar kendali akal.” jawab Furqon.

“Ya seseorang itu ada masa sulit, ada masa bahagia, itu kan dunia, wong makan enak aja harus menguras isi perutnya, tak asal diisi saja, dan kesusahan manusia itu alami, wajar, yang penting adalah ketika mengalami kesusahan kita itu kembali tidak kepada Alloh, rodadnahu asfala safilin, illalladzina amanu wa amanussholikhati, manusia itu akan dikembalikan dalam keadaan susah, payah, derajat rendah, kecuali orang-orang yang berbuat benar, benar menurut agama dan ajaran Rosulullah, sampean susah, karena Alloh telah menyerahkan nasib sampean kepada syaitan, tidak ditolong oleh Alloh, sementara syaitan sudah lepas tangan dengan sampean, sebab tujuan syaitan itu menyesatkan, kalau yang disesatkan sudah sesat, ya ngapain lagi diurus, syaitan akan berusaha mencari korban baru, sementara sampean sendiri sudah tidak diurusi Alloh, minta sudah tidak diijabah, ya ujung-ujungnya sumpek, dan satu kesalahan itu kalau tidak disadari, maka akan merambat ke kesalahan selanjutnya, dan selalu seperti itu.”

Sabtu, 01 Agustus 2020

SANG KYAI -52

Sang kyai 52

Pagi baru jam delapan, mata masih ngantuk, sebenarnya sudah ku batasi tak menerima tamu, kecuali setelah habis isya’ tapi jika sudah datang, aku juga tak tega menolak, kadang mata masih perih tapi tetap saja tamu ku temui, pagi itu ada beberapa tamu menunggu, aku cuci muka, agar kelihatan lebih fress.

Ada enam orang yang datangnya tak bersama’an, ku temui dulu yang dua orang, seorang perempuan tua dengan cucu perempuannya.

“Ada keperluan apa bu..?” tanyaku.

“Anu kyai saya ingin minta air obat untuk orang tua lelaki saya, yang sakit tapi terus-terusan menjerit-jerit, sepertinya sakitnya sudah parah, tapi kok menjerit-jerit terus, sehingga membuat para tetangga kami merasa terganggu.” jawab ibu tua itu.

“Itu dulu kayaknya mengamalkan amalan kejawen.” kataku.

“Iya kyai, memang bapak saya itu dulu juga bisa berbagai pengobatan, tapi kok sekarang malah sakitnya kesakitan.”

“Itu sebenarnya sudah saatnya meninggal, tapi masih ditahan oleh jin yang jadi khodamnya.” kataku. “Mungkin punya perjanjian dengan jinnya, nanti ku kasih air, diminumkan saja.”

Lalu aku ambil aqua, dan ku tiup ku serahkan. Kedua nenek dan cucunya itu pun pulang.

Lalu maju lagi seorang perempuan setengah baya, yang mengeluhkan penyakit di kandung kemihnya, sudah diperiksakan dokter dan sudah dioperasi tapi malah yang dioperasi kandungannya, sehingga tumor yang ada di kantung kemihnya tidak terangkat, sementara operasi telah menghabiskan berjuta-juta, perempuan itu bernama Amrina.

“Apanya yang sakit bu?”

“Saya itu kata dokter kan ada tumor di kandung kemih, tapi pernah disuruh operasi, kok yang dioperasi kandungan, jadi operasi sudah dijahit kembali, dilihat lagi tumornya masih ada, dan saya mau dioperasi ulang, saya jadi takut, perut kok diedel-edel, makanya sudahlah tak usah operasi saja, maka saya ke tempat kyai minta dido’akan saja, agar saya diberi kesembuhan oleh Alloh.” kata perempuan yang bernama Amrina.

“Iya, insaAlloh kalau Alloh mengijinkan, insaAlloh sembuh, nanti akan ku kasih air, diminum kalau mau tidur, dan tak akan makan apa-apa lagi, juga bangun tidur, sebelum makan apa-apa.”

“Baik saya paham.”

Lalu ku ambil air mineral, dan ku tiup dan ku berikan pada Amrina, dan perempuan itupun pulang diantar anaknya.

Namum besoknya sudah datang dengan ketakutan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Saya takut kyai, tadi pagi saya kencing kok yang keluar seperti banyak daging, dan hancur-hancuran daging, bercampur darah dan nanah, sampai badan saya lemas.” jelasnya.

“Tak apa-apa, itu tumor yang hancur, dan keluar lewat saluran kencing, sekarang bagaimana rasanya?”

“Ya sekarang terasa enteng kyai.” kata Amrina.

“Ya moga saja akan sembuh total, dan segera sehat.” kataku.

___________________________

Aku menemui tamu dua lagi yang terakhir, dua orang lelaki.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku pada kedua orang itu.

“Saya ini ingin ketenangan hidup kyai, kenapa kok saya selalu resah, rizqi susah dan serba kekurangan dalam rumah tangga.” kata seorang yang bernama Furqon.

“Kalau Al Qur’an sendiri mengatakan, Ala bidzikrillahi tatma’inul qulub, ingatlah hanya dengan dzikir Allohlah, hati itu bisa tenang, jadi kok resah tak tenang, maka jalan terbaik ya dzikir Alloh, ingat selalu pada Alloh, dzikir dengan benar, tak asal dzikir, yang bersanad, yang berguru.” kataku.

“Ma’af kyai, sebenarnya saya ini juga berthoreqoh,”

“Ooo bagus itu, apa thoreqohnya?”

“Thoreqoh kejawen.”

“Lho memang ada thoreqoh seperti itu?”

“Ya ada, seperti yang saya ikuti itu.”

“Kalau boleh saya tau itu modelnya kayak apa?”

“Ya itu kami berkumpul, lalu melakukan dzikir,”

“Apa dzikirnya?”

“Ya dzikirnya diam, duduk bersila kaki dilipat saling mengait, dan tubuh tegak diam, lalu menunggu kehadiran Alloh, Alloh itu ada di mana-mana, semua alam ini tak akan kuat ditempati oleh Alloh, yang kuat ditempati itu hati,”

“Wah itu sesat.”

“Dalam Qur’an sendiri kan Alloh itu bertempat meliputi Arsy, dan arsy itu meliputi sidrotul muntaha langit ke tujuh, dan langit ke tujuh meliputi langit di dunia ini, jadi kekuasaan Alloh itu meliputi langit dan bumi, wasi’a kursiyuhussamawati wal ardh, ingat cerita Nabi ketika dimi’rojkan oleh Alloh, sampai ke sidrotul muntaha, dan malaikat Jibril yang menemani tak sanggup ikut masuk ke mustawa, karena akan hancur lebur jika bertemu Alloh. Jadi menunjukkan Alloh itu dzatnya ada, wujuduhu kamislihi syai’un, wujudnya tak ada yang menyerupai, karena kekalnya, besarnya, akbarnya, kesempurnaannya, jika kok dikatakan Alloh itu hanya di hati tempatnya itu amat menyesatkan. Allohu itu cahaya langit dan bumi, jika tak ada cahaya-Nya maka langit dan bumi dan seisinya itu tak ada, langit bumi, aku sampean, ini kelihatan ada, karena pancaran cahaya Alloh, jika cahaya Alloh itu tak memancar, maka matahari padam, cahaya semua padam, juga cahaya akal dan hati, la akal saja bisa menterjemahkan apa yang dilihat mata, karena ada cahaya penjelasan dan pemahaman akan apa yang dilihat, yang masuk dan membuka tabir hati itu cahaya ilahiyah, Allohu nurussamawati wal’ard. Dan adanya cahaya yang mengenai apa yang dilihat, dan adanya cahaya yang ada di mata, orang mati itu kalau kamu buka matanya, maka akan hilang cahaya matanya, jadi cahaya mata itu ada, coba lihat kucing kalau di tempat gelap di matanya akan ada cahaya biru atau hijau atau yang lain, makanya dia bisa melihat dalam gelap, tanda sesuatu itu hidup dan mati adalah adanya cahaya, listrik dikatakan mati, karena tidak bercahaya, kulit manusia saja jika mati atau terlepas dari tubuh maka akan hilang cahayanya. Juga pohon mati maka kehilangan cahaya hidupnya, yaitu warna pohon, hijau, jadi hati juga begitu, jika hati itu mati, maka akan kehilangan cahaya, seperti orang di tempat gelap, mau kemana-mana takut nabrak tembok, atau kena paku, atau kecebur jurang, sebab tak melihat cahaya di depannya, juga hati yang mati tak tau akan kemana, sifatnya resah, kering, risau, sedih, loba, tamak, berkeluh kesah buruk sangka, membangkai, baunya tak sedap, jadi selalu akan mengeluarkan keburukan, sekalipun diberi roti, atau kebaikan.”

“Di tempat saya ikut toreqoh itu, juga kata pemimpinnya, kalau semua manusia ini yang dicari ketenangan, dan ketenangan itu bisa saja karena dari punya uang, punya kedudukan, atau punya apa yang disenangi.” jelas Furqon.

“Wah itu malah lebih salah lagi, itu namanya harus menjadikan keinginan nafsunya sebagai Tuhan, atau ilahahu hawahu,”

“Lhoh apa ketenangan itu juga keinginan nafsu?” tanya Furqon.

“La yang namanya keinginan kan keinginan nafsu, itu namanya belum jalan sudah kesasar, karena punya anggapan salah, pengen ke Jakarta dari Jawa Tengah, dikira Jakarta ke timur arahnya, padahal jelas-jelas di barat, lalu apa yang disangka salah itu dijalankannya, maka dia terus berjalan ke timur, sampai mengitari bumi, baru deh nyampek Jakarta, waktu perjalanan yang seharusnya cuma ditempuh semalam, bisa seumur hidup, atau sampai mati di jalan pun tak bisa sampai, la jalannya salah, ada sambungan ilmu sampai ke kanjeng Nabi thoreqoh itu? Jelas tidak, Nabi itu tak pernah menjalankan yang susah-susah lalu diri membuat acara sendiri, membuat agama sendiri, dan membuat cara ibadah yang itak-itukan akal, yang akal-akalan, segala apapun yang selain Alloh itu bukan tujuan, sebab jelas kalau manusia diciptakan itu untuk penghambaan diri pada Alloh, bukan pada ketenangan, atau segala macam keinginan kepuasan hati, jelas manusia tak akan tenang, jika melakukan itu, membuat tujuan selain Alloh, la kamu selama mengikuti aliran itu, tenang apa tidak?” tanyaku.

“Tak tenang, malah semua hartaku ludes.”

“Kok bisa seperti ituu?” tanyaku.

“Menurut guru thoreqoh kejawen yang ku ikuti, katanya kita itu hidup lewat jalan tol, seperti orang naik gunung kalau lewat jalan raya, kan harus muteri gunung, nah kalau lewat jalan tol maka jalannya lurus, langsung ke atas, jadi jalan menanjak dan pasti susah, karena menanjak, makanya kami harus susah dulu baru nanti belakangan jadi senang.” jelas Furqon.

“Wah apa memang ada yang kayak gitu?” tanyaku.

“La nyatanya aku hidup susah, sudah selama ini jualan tahu aci, malah ndak pernah laku, lalu mencoba menjadi tukang ojek, eee motor malah ditipu orang.”

“Bagaimana mungkin motor bisa ditipu orang?” tanyaku.

“Ya alasannya dipinjam, la kok malah dijual, malah ku datangi, ternyata bukan hanya motorku aja yang dijual, ya aku mau bagaimana lagi, orangnya ditangkap polisi, dan motorku tak ada yang ganti, la aku kredit lagi, la kok malah berulang lagi, malah aku ini pernah ngasih uang ke orang lain, dua hari uangku dibalikin, katanya uang dariku bikin sial, wah jan bener-bener susah aku, lahir batin.”

“Setahuku, Alloh itu tak pernah mendzolimi hambanya, hambanyalah yang selalu mendzolimi diri sendiri, kamu itu juga ngawur, ikut aliran juga tak diakal dengan akal sehat, tak ada susah di depan dan senang belakangan dengan merugikan diri sendiri, yang kamu alami itu namanya celaka, kan sudah jelas kalau ada robbana atina fi dunia khasanah wafil akhiroti khasanah, jadi dunia itu ada bagiannya sendiri, juga akherat ada bagiannya sendiri, kalau minta do’a sembuh dari sakit, sembuhnya ya sekarang, kalau nanti sembuhnya di akherat, ya udah ndak butuh lagi sembuh, juga minta hujan, ya ijabahnya di saat membutuhkan, kalau ijabahnya semua di akherat ya nanti apa akheratnya ndak kebanjiran? Jadi kalau do’a untuk dunia maka ya di dunia ini ijabahnya, cuma ijabahnya terserah Alloh, minta uang setrilyun, la kok diberi sejuta, itu hak Alloh, dan penolakan Alloh itu lebih baik dari pemberian manusia, kenapa seperti itu? karena Alloh itu paling tau apa yang kita butuhkan.” jelasku.

“Aku malah sudah pernah berusaha jualan sate pada setan?” kata Furqon.

“Wah apa itu, memangnya ada yang seperti itu? Wah bener-bener aneh kamu lakon-lakonnya.”

“Ya memang karena aku ini ingin mencari kebahagiaan, tapi sama sekali tak ada yang membimbing, ya apa yang aku temui dan mengajak aku ya ku ikuti saja, tak tau bagaimana ujung-ujungnya, yang penting aku ikuti.”

“Yang soal jualan sate sama setan itu bagaimana?” tanyaku yang penasaran, karena kok ada cerita seaneh itu.

“Ceritanya kami tukang ojek pada bicarakan si Hasim salah seorang tukang ojek yang biasa ngojek sama kami, dia beberapa hari ndak berangkat ngojek, dan datang-datang dia motornya sudah beli baru dari dealer, dan semua teman pada nanya dia tak mau cerita dapat rejeki nompliok dari mana, nah sama diriku dia malah mau jujur, kalau dia mendapat uang dari jualan sate pada setan. Menurut Hasim cara jualan sate itu ya sama jualan sate, tapi yang dibakar sate kalong dan gagak, jualannya di hutan karang jaten, di sana bakar sate, seorang bakar sate, seorang lagi yang siap menerima uang, seorang lagi yang siap melarikan uangnya,”

“Kok pakai dilarikan segala?” tanyaku.

“Iya agar uangnya tak diminta lagi…”



"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...