Selasa, 28 Juli 2020

SANG KYAI -48

Sang kyai 48

“Ya Alloh… abdi minta diberi kekuatan untuk sabar ya Alloh…” suara Kyai menahan sakit yang dideritanya. Terdengar berulang-ulang.

Sekali waktu pakaian dan sarung yang Kyai pakai harus ganti karena sudah basah oleh keringat, dan keringat itu berbau kelabang dan kalajengking, dan kasur juga bawahnya diberi koran sebentar-sebentar diganti, karena telah basah oleh keringat, sementara aku yang bagian menarik panas di tubuh Kyai, sebentar-sebentar tanganku yang memerah kepanasan ku tempel ke lantai untuk menetralisir panas dengan kekuatan inti bumi, jika aku lena sedikit, dan tertidur dalam dzikir, maka aku terjengkang, terhantam kekuatan yang tak terlihat.

“Kyai…, biar saya memagar rumah ya…” kataku.

“Ya apapun yang kau anggap perlu dan bisa, ini sudah menjadi tanggung jawab santri… aduuh… ya Alloh beri hamba kuat menjalani…” jawab Kyai.

Aku pun beranjak, keluar dari kamar dan menyiapkan pagaran.

Setelah selesai, maka pagar kerikil ku tanam di setiap sudut rumah. Setelah ku tanam, suasana agak mereda, tapi hanya untuk sehari dua hari, begitu banyaknya yang menyantet, pageranku jebol, bahkan tembok luar rumah, terhantam ambrol, sudah tiga tembok yang ambrol, mau dikatakan tak masuk akal, kenyataannya terjadi.

Kadang rumah kayak digoncang gempa, dan aku terjengkang terhantam kekuatan yang tak terlihat.

Sudah dua minggu aku mengobati Kyai, segala daya upaya telah ku lakukan, tapi hasilnya tak banyak, begitu banyak tukang santet yang harus kami hadapi.

Sering ketika tidur, tubuhku terangkat beberapa senti dari lantai, karena tidur kami di lantai, dan terhempas, semua santri sadar yang dihadapi bukan main-main, ada yang menyerang memakai santet, ada juga yang memakai hizib, ada tukang santet dari orang dayak, orang badui, leak dari Bali, dari gunung himalaya, juga perguruan santet seIndonesia, yang tak bisa ku sebut daerahnya, padahal guru besarnya pernah datang, dan minta maaf, tapi kadang ketakutan mereka, karena kami bersebrangan dengan mereka, dan jika orang-orang yang menjalankan ilmu hitam, maka dengan sendirinya kami akan menjadi penghalang, walau kami sama sekali tiada maksud menghalangi sekalipun.

Sebenarnya secara dilihat dari apa yang kami amalkan, maka tiada satupun yang berhubungan dengan segala macam tetek bengek santet, kami hanya menjalankan ibadah yang berusaha ikhlas, menjalankan ibadah yang sesuai syari’at yang dibawa Nabi, bahkan hanya menjalankan yang ada sanad menyambung pada Nabi SAW, karena kemurnian aqidah itulah setiap amalan langsung keluar efeknya, langsung keluar sawabnya, bahkan orang-orang prewangan (yang memakai ilmu dengan bantuan jin) akan kepanasan jika berdekatan dengan kami, bahkan murid terendah dari toreqoh qodiriyah wa naqsabandiyah.

Seperti pengaduan muridku di rumah, yang baru puasa 21 hari, dia punya saudara perempuan yang mengobati orang dengan bantuan jin, jadi sebelum mengobati, adiknya itu makan kembang dan menyan, lalu bisa mengobati, jika muridku itu main ke rumah saudarinya itu, saudarinya itu kepanasan, dan lari, sampai muridku tak boleh ke rumahnya, karena kepanasan.

Juga batu, atau keris, atau benda bertuah, jika dipegang orang lain, misal tahan cukur, atau tahan bacok, orang lain diiris rambutnya tak akan putus, karena jin yang ada di benda yang dipegang, tapi jika ku pegang, aku dicukur rambutku ya tetap putus, karena jin yang ada di benda kabur, jadi benda sudah tak ada kekuatannya.

Apa aku atau kyaiku sakti? ya malah ndak sakti wong dibacok saja megang benda bertuah tetep luka, berarti kan gak sakti, tapi kami lebih mengutamakan keikhlasan dan kebenaran amaliyah, kemurnian aqidah, keutamaan sanad shohihnya amalan, yang kami terima dari guru-guru besar kami, seperti Tubagus Qodim Asnawi Caringin, syaih Asnawi, syaih Nawawi Banten, syaih Abdul Karim, syaikh Tolkhah, dan syaikh Ahmad Khotib Sambas, karena murninya akidah yang kami terima dari Rosululloh, penyambungannya juga shohih atau kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan, maka dengan sendirinya amaliyah yang kami jalankan sangat menghambat dan menghalangi segala ilmu hitam, walau kami hanya melulu ibadah, dan ibadah kami secara lahirnya sama dengan ibadah orang lain, tapi ibadah orang lain itu tak menyambung ke Rosululloh, dan ibadah kami itu menyambung ke Rosululloh, sebenarnya hanya itu perbedaannya.

Sehingga ibadah orang lain yang tak menyambung ke Rosululloh itu seperti orang yang punya paralon tapi sanyonya tak menyambung ke sumur, dan paralon kami, sanyonya nyambung ke sumur.

Orang yang berakal tentu akan lebih memilih cara ibadah, yang menyambung pada Alloh lewat malaikat jibril, ke Rasululloh, daripada melakukan ibadah mengandalkan itak-ituk diri sendiri, tak jelas hanya dari mempelajari mujarobat, makanya dikatakan ilmu thoreqoh itu ilmu tertinggi, dari segala macam cabang ilmu, karena bukan masalah pengamalnya, tapi sambungan ilmu itu dari Alloh, dan apa ada yang tingginya melebihi kedudukan Alloh? tentu tak ada. Sebab sampai sekarang, sejak bumi dan langit diciptakan, belum ada yang mampu membuat bumi, matahari, dan langit tandingan.

Aku pamit pulang, karena bagaimanapun aku juga punya kewajiban menafkahi anak istri.

Jadi selama setengah tahun aku wira-wiri, ke tempat Kyai, untuk mengobati Kyai, bukan aku yang bisa mengobati, tapi karena Kyai tak mau mengobati diri sendiri, dan selalu saja santet diterima masuk ke tubuhnya dijadikan cobaan agar lebih dekat dengan Alloh. Juga tentunya tubuh Kyai seperti sarana praktek untuk ilmu kami, apa ada seorang guru yang menyediakan diri untuk praktek muridnya? Kalau aku sendiri belum pernah menemui selain guruku ini, yang mau saja disantet orang, diterima dengan lapang dada, dengan kesabaran yang sudah tak masuk akal, padahal kalau mau menuntaskan, ya tinggal berdo’a, paling tak sampai 5 menit ijabah akan datang, tapi Kyai tak melakukan.

Di perjalanan, aku membayangkan andai aku punya majlis yang besar, yang terbuka dan tak terbatas seperti sekarang, untuk semua murid toreqohku yang entah pengen mampir ke majlisku dengan keluarganya atau rombongannya, maka tempat tersedia, kamar menginap ada, dan bisa untuk transit jika ada yang pulang ke Jawa dari Jakarta, sekalian berkumpul menuangkan rindu, hati yang terikat saling mencintai karena Alloh, aku selalu ingat kata-kata Kyaiku, murid-muridku adalah keluargaku.

Aku juga ingin seperti Kyai, kesusahan mereka juga berarti kesusahanku, bahagia mereka berarti kebahagiaanku, kasih kami melebihi kasih saudara, ketika berkumpul, tak ada sama sekali saling merasa lebih baik, atau lebih tinggi, semua sama, kekerabatan karena Alloh… kecintaan karena Alloh, dan aku ingin menjadi fasilisator, tempatku yang dijadikan berkumpul, tapi sepertinya jika mengandalkan himah kemauan kuatku, rasanya masih jauh, apalagi soal dana, aku termasuk minim, sering juga menolong orang hanya diberi terimakasih saja, bahkan kalau ada orang minta tolong, jika miskin aku usahakan memberinya apa-apa yang bisa ku berikan.

Sebenarnya tempat membangun majlis yang besar, yang bisa dijadikan tempat semua murid internetku berkumpul, sudah ada, tapi dana pembangunan yang mungkin akan sulit aku mendapatkannya, ya harus dari mana aku bisa mendapatkan??

Ada tanah juga dulu mau diwakafkan padaku, lalu ku jawab nanti saja, belakangan malah tanah mau dijual, tak jadi diwakafkan.

Tak apa-apa, mungkin belum rizqi toreqohku.

Malah kemaren waktu kyai Askan menjelek-jelekkanku, dia mengatakan, orang toreqoh itu miskin, tak punya apa-apa.

Aku sempat panas juga, tapi aku segera istighfar, ya tak apa-apalah miskin, asal berguna bagi orang lain, sebab kebahagiaan bisa mendo’akan orang sakit, yang kemudian sembuh, itu tak bisa dirasakan orang yang seperti kyai Askan itu. Yang di pikirannya takut kesaingan, la kok agama kok saing-saingan, memangnya ada.

Yang terakhir ini dia mau membuat jama’ah dzikir tandingan, katanya untuk umur panjang, memangnya orang bisa memulur panjang pendekkan umur, ada-ada saja, lagian orang umur seratus saja tak mati-mati, juga jadi jompo dan tersiksa, kemana-mana sudah jalan susah, makan jagung goreng satu biji saja bisa sebulan tak hancur-hancur, cuma diemut aja.

Apalagi kalau umur sampai 300an tahun, gak kebayang lah, kecuali orang-orang yang memang diberi keutamaan oleh Alloh.

“Daaarrr…!, daaar..!” tedengar ledakan berkali-kali, di sampingku, di luar bus, seperti petasan, bus pun berhenti dan menepi, kondektur memeriksa roda, lalu masuk lagi.

“Apa ada yang meletus rodanya?” tanya sopir.

“Ndak ada, tak tau apa yang meledak, mungkin dilempar petasan sama bonek.” jawab kondektur.

Aku diam saja, tentu tak bilang, kalau itu adalah santet yang diarahkan padaku, ya kalau aku bilang bisa-bisa diturunkan, demi keselamatan penumpang lain, aku hanya konsentrasi, mengitari bus dengan kekuatan prana, dan do’a, agar bus selamat sampai tujuan.

Di jalan ada dua orang naik bus, seorang tua dengan anak gadisnya yang seperti pincang mengaduh-aduh.

Duduk di kursi berseberangan di kursi yang aku duduki.

“Sudah jangan mengeluh, nanti setelah sampai kita pijitkan ke tukang urut, agar kesleonya dibetulkan.” kata Bapaknya.

“Tapi sakitnya minta ampun paak…” kata anak perempuannya.

Aku segera konsentrasi, dengan kekuatan do’a dan prana, ku raba kaki perempuan itu, lalu ku betulkan tanpa menyentuh barang sedikitpun.

“Lho kok sakitnya hilang pak…” kata perempuan itu bahagia.

“Ah jangan ngayal kamu.”

“Iya pak benar sudah sembuh.” jawab anaknya, dan berdiri melompat-lompat di dalam bus.

“Sudah-sudah jangan ribut.” kata bapaknya.

Aku hanya senyum bahagia, syukur alhamdulillah, Alloh memberi anugerah kebisaan padaku.

Sampai juga Bus di Pekalongan, Kota yang menurutku sangat tak bersahabat udaranya, karena pencemaran yang telah melewati batas, sungai yang menghitam, dan udara yang berdebu, juga membawa angin yang kental berisi obat pewarna kimia, sungai yang airnya menghitam diserap matahari menjadi uap, dan dihembus angin menjadi udara yang dihisap manusia, aneh aku kalau di Pekalongan pastilah terkena Asma, tapi kalau keluar dari Pekalongan asma kok sembuh.

Sampai di rumah, Husna istriku mengatakan, kalau banyak orang yang mau minta dido’akan tapi pulang lagi, karena aku tak di rumah.

“Lho kenapa tidak nelpon, ngasih kabar, kan do’anya bisa ditransfer,” kataku.

“Ya Abah sebelumnya ndak bilang gitu, ya aku ndak berani ganggu, takutnya di Banten sibuk.” jawab Husna.

“Ya udah tak apa-apa, nanti juga pada kembali ke sini, kalau memang butuh.” kataku, tak mempermasalahkan.

Dan memang benar, pagi-pagi aku belum lama tidur, sudah ada tamu yang datang, suami istri yang membawa anaknya yang lumpuh.

“Kenapa anaknya bu?” tanyaku.

“Ini pak kyai, anak saya lumpuh,” jawab ibunya.

“Awalnya kenapa?” tanyaku lagi.

“Awalnya tak tau, tiba-tiba jatuh dan lumpuh, dan sudah lima bulan, jadi sudah kami bawa berobat kemana-mana tapi kok ya ndak sembuh juga, lalu ada orang yang menyarankan untuk meminta do’a pada pak kyai, siapa tau jodoh…” jelas ibu itu.

“Coba kesinikan anaknya.” kataku sambil mengambil anaknya dan ku pangku, lalu ku sentuh kakinya perlahan, kemudian malah akan bingung sendiri.

Setelah selesai ku berikan lagi ke ibunya, dan ku berikan air mineral sambil menjelaskan cara pakainya, setelah dirasa cukup, suami istri itu pamitan.

Seminggu kemudian sudah datang lagi, sambil membawa satu dus oleh-oleh,

“Ini untuk pak Kyai,” kata perempuannya.

“Wah apa ini bu…?” tanyaku.

“Ini hanya sekedar rasa terima kasih kami.”

“Wah kok ngerepotin diri to bu, la bagaimana adik kecilnya sudah bisa jalan?”

“Sudah, tapi tertatih-tatih.” kata ibunya.

“Coba adik kecil jalan ayo…! Ayo paman ditunjukin bagaimana jalannya…” kataku.

Ibunya pun menegakkan anaknya, dan perlahan mulai jalan.

“Hm… ya sudah bagus perkembangannya.”

“Iya pak kyai, makasih sekali pak kyai, tak terbayangkan jika anak kami tak bisa jalan sampai dewasa, dan kami sekeluarga tak bisa memberi apa-apa.”

“Oalah ibu kok jadi dramatis gini, saya malah bisanya cuma do’a bu… jadi ya cuma bisa do’a, orang lain juga bisa.” kataku.

_________________________________



Tanda Alloh itu menghendaki seseorang itu agar dekat dengan-Nya, maka akan ditanamkan di hati orang tersebut berkeinginan dekat dengan Alloh, dan keinginan itu amat kuat, tak bisa ditahan, dan ada kerinduan seperti rindu pada kekasih, dalam menjalankan amaliyah.

Sebaliknya jika Alloh menghendaki seseorang itu celaka, maka akan dijauhkan dari keinginan berbuat baik, bahkan sekalipun Nabi Muhammad SAW sendiri menceramahinya, maka akan dimentahkan. Makanya hidayah itu mahal, sebab akan menjadi awal seseorang itu celaka atau untung, bejo.

Dan sebodoh-bodohnya orang jika di hatinya timbul niat berbuat baik, kemudian menunda-nunda, karena disibukkan mencari hari yang lebih baik. Atau karena alasan yang menjadikan perbuatan baik itu tertunda, dan akhirnya tak pernah dilakukan sama sekali.

Sore hari datang pasangan suami istri, yang juga membawa anaknya yang lumpuh.

“Anaknya kenapa ini pak?” tanyaku.

“Ini mas kyai, anak saya lumpuh.” jawab si lelaki, yang bernama Parman.

“Lumpuhnya kenapa pak?” tanyaku.

“Tak tau kyai.” jawab istrinya Parman.

“Apa tak pernah dibawa ke dokter.”

“Ooo boro-boro ke dokter pak kyai, makan saja kami susah, tak punya uang untuk membawa ke dokter.” jawab Parman.

“Oo ini dulu tinggal di rumah yang angker ya?”

“Kok mas kyai tau?”

“Wah aku hanya mengira-ngira saja.”

“Ini dulu tinggal sama neneknya di rumah dekat pasar ?”

“Iya kyai..”

“Hm… pantes.”

“Pantes kenapa kyai?”

“Ya lumpuhnya hanya tempat tinggalnya ada jin yang berbentuk ular, nah jin itu yang menghisap saripati bayi, sehingga jadinya tumbuhnya tak wajar, ini umur berapa?”

“Ini umurnya sudah 8 tahun kyai.” jawab Parman.

“Iya nanti saya kasih air, tolong diminumkan kalau mau tidur, dan kalau bangun tidur, juga diusapkan ke kakinya.” jelasku.

“Maaf kami tak bisa memberi apa-apa kyai..” kata Parman.

“Apa aku ini kelihatan minta apa-apa to pak Parman?”

“Tidak kyai…, oh ya saya juga ingin dido’akan, agar saya dimudahkan dalam mencari rizqi, sebab selama ini kok hidup saya susah terus.” kata pak Parman.

“Ikut saja dzikir di majlis dzikirku, insaAlloh rizqinya akan dimudahkan.”

“Wah maaf kyai…, saya kalau duduk lama suka kesemuten.”

“Lho kalau suka kesemuten kurasa semua orang mengalami kesemuten to pak Parman, la wong saya saja kesemuten.”

“Iya kyai, kapan-kapan saja..”

“Ya tak apa-apa.”

_________________________________

Sebulan kemudian istri Parman datang ke rumah.

Dia menangis-nangis.

“Lho kenapa bu…? ” tanyaku heran.

“Tolong saya kyai…”

“La kenapa? Anaknya sudah bisa jalan belum?”

“Sudah kyai, tapi ini bukan masalah itu”

“Terus masalah apa?”

“Ini masalah Bapaknya.”

“Kenapa dengan suaminya?”

“Kang Parman ditangkap polisi, dan sekarang di penjara.”

“Lhoh masalahnya apa?”

“Ya saya juga sudah memperingatkan ke bapaknya, jangan suka main judi togel, tapi bapaknya itu tak mau dengar, waktu ada penggrebegan, lalu bapaknya tertangkap, tolong kyai, tolong hanya dia sandaran keluarga kami, kalau dia di penjara, kami harus bagaimana.”

“Maaf bu, saya kan cuma berdo’a pada Alloh, jadi saya itu tak bisa apa-apa, kayak anak ibu bisa jalan yang asalnya kakinya lumpuh itu, itu sama sekali bukan perbuatan saya, tapi pertolongan Alloh, dan Alloh itu maha suci, dia melarang perbuatan yang merusak, seperti judi, zina, jadi kalau Alloh kemudian membantu orang berjudi, atau membantu orang yang menggugurkan kandungan karena perbuatan zina, maka bukan lagi namanya Alloh yang suci dari cela.” kataku.

“Jadi Kyai tak bisa menolong?”

“Ya aku juga tak punya kedudukan di kepolisian, tentu aku tak bisa menolong bu, maaf.” kataku.

Jika seseorang diperingatkan dengan cara halus, yaitu puasa, dzikir, uzlah, duduk istiqomah, tak mau, maka seseorang akan diperingatkan dengan cara kasar, seperti makan tak bisa, bisa karena sakit, atau tak punya uang, atau dalam penjara, atau lari dari desanya, digulung banjir, diguncang gempa.

Dan Alloh itu sanggup membolak-balikkan hati, juga sanggup membolak-balikkan bumi.

Itulah, hidayah itu amat mahal, jika sebelumnya orang tau akan nasib yang dialami, ku kira seperti Parman juga akan lebih memilih duduk semuten daripada duduk di balik terali besi.

Pagi jam 8, sebenarnya aku juga baru sebentar tidur, tapi sudah ada tamu, maka aku tetap harus menemui, menjadi pelayan Alloh, maka siapapun yang datang, dan kapanpun waktunya kita harus siap, ketika kyaiku memintaku melatih diri menjadi lima, aku masih takut-takut, dan aku belum berani, tapi saat jiwa dan raga lelah, rasanya ilmu menjadikan diri menjadi lima perlu juga, jadi aku bisa satu sedang dzikir, satu sedang melayani tamu, satu sedang mencari maisyah, satu memijit satunya, dan satu membantu yang lain, sering sekali terlintas, tapi rasa takut menjadi lima lebih mendomisili pikiran dan hatiku.

Ku temui seorang perempuan muda dengan ibunya.

“Ada apa bu?…” tanyaku masih dengan mata dihinggapi kantuk yang sangat.

“Anu ini anak saya…” kata Ibunya, jawil ibu kepada anak gadisnya.

“Ada apa to..?” tanyaku.

Mata si gadis berlinang,

“Saya minta do’anya guru, agar saya bisa tenang menjalani pernikahan yang rumit.”

“Rumit bagaimana?” tanyaku.

“Tolong kyai ini air ditiup dulu, biar saya minum biar saya tenang.” kata gadis itu sambil mengeluarkan botol aqua.

“Wah saya belum sikat gigi.. hehehe, baru bangun tidur, nafas saya kan bau.” kataku bercanda.

“Tak apa-apa kyai, biar saya dapat berkahnya…”

“Wah bukan berkah nanti yang didapat, malah penyakit.” kataku

“Tidak kyai…, monggo kyai tiup, biar saya minum.” kata gadis itu lagi, sambil mendekatkan air mineral ke depanku.

“Monggo to kyai, biar anak saya dapat barokah dari kyai.” kata ibunya.

“Ini bener saya tiup? ” tanyaku.

“Ya iya, saya sudah dari tadi menunggu.” kata gadis di depanku.

“Baiklah.” kataku ngalah.

Sebenarnya nafasku asli bau, walau semaleman dzikir sampai pagi, dan pagi habis subuh dzikir sebentar, dan baru mau tidur sudah ada tamu.

Air selesai ku tiup dan ku serahkan, lalu diminum oleh gadis yang bernama Laila Lataifa, dan air diletakkan di dekatnya, ee ibunya langsung mengambil air dalam botol mineral itu dan ikut meminum airnya.

“Ibuu…! Jangan dihabiskan.”

Dunia aneh-aneh saja, dan ku lihat Laila Lataifa pun tenang.

“Terima kasih mas kyai, hatiku jadi tenang.” kata Laila Lataifa.

“Ini masalahnya sebenarnya apa?” kataku.

“Ya saya mau menikah dengan orang di luar Jawa kyai, dan calon suamiku itu ingin aku ikut dengannya, sementara ayahku ingin aku di sini dan suamiku di sini, ayah kalau aku tidak di sini, maunya pernikahanku dibatalkan saja.” jelas Laila.

“Hanya soal seperti itu?”

“Iya kyai.” kataku.

“Lalu Laila ini apa sudah cinta lahir batin dengan calon suami? ” tanyaku.

“Saya sudah sangat mencintainya, dan saya tak tau jika harus tak menikah dengannya, hubungan kami juga sudah berjalan enam tahunan, kami sama-sama kuliah di jurusan yang sama, yaitu kedokteran.”

“Jadi sampean ini dokter to?”

“Iya kyai.”

“Aneh…”

“Apa yang aneh kyai?”

“La dokter kok minta air untuk ditiup apa ndak aneh?” kataku.

“Tapi nyatanya saya langsung merasa tenang.” jelas Laila.

“Biasanya dokter kan tak percaya hal yang seperti ini.”

“Ah tidak juga kok kyai, kami juga percaya.” jelas perempuan itu.

“Pernikahan itu tidak hanya sekedar cinta, upayakan menyandarkan cinta pada suami, karena mencintai Alloh, karena cinta disandarkan pada Dzat yang kekal, maka cinta akan kekal, jauh dari kepentingan ego nafsu, Alloh memerintahkan seorang istri tunduk pada suami, jadi tunduklah dan layani suami karena Alloh memerintah, bukan karena siapa suaminya, siapa yang melayani suami, dengan ikhlas dan cinta karena Alloh maka bila diajak tidur, pahalanya akan seperti pahala haji dan umroh, yang diterima, wanita itu. Jadi istri itu menjadikan suami sebagai ladang pahala, tempat istri mencari keridhoan Alloh. Jika perkawinan didasarkan bukan karena cinta nafsu, wajah tampan, maka cinta itu akan kekal, istri akan berusaha sekuat daya membahagiakan suami dengan pelayanannya yang maksimal, karena harapan untuk memperoleh ridho Alloh. Jika istri takut tak bisa membuat suami bahagia, dan dalam hatinya tetanam rasa takut akan murka Alloh, karena tidak bisa menjaga keutuhan bahtera rumah tangga, istri yang suaminya selalu ridho dan senang, maka istri seperti itu akan diperintah memilih dari pintu mana dia mau masuk surga.” jelasku.

“Begitu juga seorang suami, yang mencintai istri karena Alloh, bukan karena sekedar kecantikan, yang selalu melindungi dan memberi bimbingan. Ingat memberi bimbingan bukan mengalahkan atau menguasai, tapi memberi contoh dengan ahlak mulia. Memerintah dengan dialog cinta dan kasih sayang. Bukan memaksakan kehendak segala kemauan dan perintah wajib diikuti, sebab seorang yang ikhlas memerintah itu sama sekali tak ingin perintahnya diikuti. Kalau ingin perintahnya diikuti, ditaati, maka dia telah gagal menjadi suami, dan upayanya menjadi Tuhan atas istrinya tak akan terlaksana, sebab sejak dulu manusia yang berusaha menjadi Tuhan itu tak pernah sukses kecuali pasti ditentang, sebab kodrat manusia itu sebagai hamba, bukan sebagai Tuhan.”


Senin, 27 Juli 2020

SANG KYAI -47

Sang kyai 47

“Pak Tohir ini menjalankan toreqoh sudah berapa tahun?” tanyaku.

“Ya sudah lama sekali, mungkin sudah dua puluh tahun, la umurku sudah hampir enampuluh kok mas kyai.” jawab pak Tohir.

“Lama juga ya…”

“Ya anehnya kok hidup saya susah terus, ya rizqi sih cukup, ya semua anak saya juga kuliahan, tapi cukup untuk itu saja.” jelas pak Tohir.

“Ya yang penting disyukuri.”

“Saya kesini juga ingin menjadi murid panjenengan, melihat panjenengan seperti itu, masih muda, ilmu apa saja ada, kelebihan juga menakjubkan, sampai tak masuk di akal, saya jauh-jauh juga mendengar pembicaraan orang akan kelebihan panjenengan, sedang guru mursid di Pekalongan itu juga kan banyak, tapi kenapa mereka tidak memiliki kelebihan yang panjenengan miliki?” kata pak Tohir.

“Saya itu manusia kosong, tak ada apa-apanya pak Tohir, apa yang saya miliki ini semata-mata anugerah Alloh, kapan saja bisa diminta kembali, jadi saya hanya ketitipan menjaga, titipan dari guru saya, karena saya diserahi menjadi pemimpin Jawa Tengah, maka saya juga dibekali kelebihan, jadi bukan masalah saya sakti atau hebat, ya kalau saya sendiri ya sama dengan panjenengan, jadi ini bukan karena saya mempelajari atau tekun, tapi karena saya kepasrahan amanat, jadi didukung dengan pakaian kebesaran, ya kalau kedudukan saya dicabut oleh Alloh karena saya seenaknya sendiri menyelewengkan kepercayaan yang diamanatkan pada saya, ya bahayanya besar, sebab langsung urusannya sama Alloh.”

“Oo begitu rupanya.”

“Ya sebenarnya siapa saja bisa menjadi seperti saya, wong dalam toreqoh itu di samping istiqomah menjalankan amaliyah, puasa siang hari, dzikir di malam hari, dilakukan dengan konsisten, sehingga menjadi suatu amal yang seperti membuang kotoran di kamar kecil, kebiasaan yang tidak dipikirkan, karena biasa, menjadi ikhlas dengan sendirinya, karena amal telah menjadi kebiasaan bukan suatu hal yang aneh, yang menjadikan hati bangga, lalu menjaga makan dari makanan haram dan subhat yang tak jelas halal haramnya, menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, lebih baik diam jika tidak bisa bicara yang tak ada manfaatnya, menjaga orang lain jangan sampai tersakiti, selalu berkasih sayang pada siapa saja, menghilangkan iri, dengki, hasad, sombong, loba, tamak, riak, ujub, membanggakan amal, buruk sangka, kikir, maka bisa mendapatkan anugerah dari Alloh, dan semua itu tak bisa dicapai, jika tanpa ada yang mengarahkan dan membimbing, saya diarahkan oleh guruku, maka bapak ku arahkan, bukan saya lebih mulya atau lebih hebat, tapi hanya karena saya sudah pernah lewat jalannya, jadi saya bisa tau jalan daripada orang yang belum pernah melewati jalannya, jadi bukan karena saya lebih baik dari bapak, dan seorang murid itu harus takdzim, hormat kepada guru, bukan juga karena gurunya hebat, sekalipun guru itu anak kecil yang miskin dan yatim yang tak punya apa-apa, maka seorang murid tetap harus taat pada guru, takdzim, mengagungkan, bukan mengagungkan jasad guru, tapi mengagungkan ilmu yang dititipkan Alloh yang bersanad menyambung pada Nabi SAW, jadi bukan tentang siapa gurunya, kalau jasad lahir guru maka sama dengan jasad yang terdiri dari darah daging, tapi ilmu toreqoh itulah yang menjadikan guru itu utama, dan dihormati, sebab seorang guru itu dipilih oleh Alloh, tidak bisa ilmu toreqoh itu dititipkan kepada seseorang yang bukan di bidangnya, beda dengan ilmu IPA, biologi, sains, siapa saja mau mempelajari maka akan bisa mempelajari dan memperoleh predikat profesor, tapi kalau guru mursid toreqoh, tidak bisa semua orang menjadi seorang mursid, walau puluhan tahun belajar, sebab yang menjadi mursid dan kedudukan itu dipilih oleh Alloh, apa saya sendiri mengajukan diri untuk dipilih, la setitik debu saja saya tak ingin menjadi pemimpin dan punya kedudukan dalam toreqoh, sebab bagi saya berat, amanah yang sangat berat, tapi karena sudah diletakkan di pundakku, maka aliran darah saya, degup jantung saya, adalah toreqoh, setiap langkah saya adalah toreqoh, lihat saya sama sekali tak kerja apa-apa. Karena jika toreqoh itu ibarat air sungai yang mengalir, dan saya itu orang yang mandi, lalu hanyut dan menjadi ikan, sehingga jika saya dipisahkan dari air, maka saya akan megap-megap, sebab saya membutuhkan air.” kataku panjang lebar.

Orang yang ada semua terdiam.

“Orang itu di dunia ini diciptakan untuk mengabdi kepada Alloh, pengabdian itu bukan untuk Alloh, sebab Alloh tak butuh pengabdian siapapun, tapi untuk diri pengabdi itu yaitu kita, mengabdilah pada Alloh sampai engkau didatangi keyakinan di hatimu, dan keyakinan itu hadir karena adanya sebab yang terlihat sehingga menimbulkan keyakinan, dan adanya sebab itu benar-benar menimbulkan akibat, orang memegang pisau, melihat tepi yang tajam dari pisau dan dia pakai mengiris daging, menjadikan dia tak ragu mengiris karena melihat hasil irisan awal yang mudah memotong daging, sehingga irisan selanjutnya tak ada keraguan. Sama soal ibadah, bisa menimbulkan yakin sebab melihat hasil dari apa yang diharap terjadinya, misal berdo’a, maka menjadi yakin setelah pernah melihat dengan mata kepala sendiri kalau do’anya diijabah Alloh, makanya bapak dan semua yang hadir terijabahnya do’a itu bisa kita lihat hasil nyatanya, kalau kita sendiri tak terpisah dari do’a, sudah seperti tangan yang memegang pisau, dan tak bisa dibedakan mana tangan dan mana pisau, sebab gerakan maju mundurnya mengiris seirama, kita itulah pisau, pisau ya kita itu, sebab penyatuan kehendak, antara pisau dan kita sendiri, sebab penyatuan kehendak antara kita, do’a dan pemberi ijabah yaitu Alloh, sebab adanya Alloh di hati setiap waktu, setiap tarikan nafas, dan setiap bergerak dan berhenti.”

“Wah aku rada kurang paham… hehehe… maaf pak kyai.”

“Ndak papa…, manusia itu sebenarnya kalau menyandarkan pada kecerdasan dan pemahaman sendiri, maka akan dangkal dan pendek pemikirannya, bos pabrik kain sutra, kok dia dari menanam bibit kepompong dijalankan sendiri, nyangkul tanah, menanam bunga tempat kupu bertelur sampai memanen kepompong itu dijalankan sendiri, lalu mengurai benang kepompong dilakukan sendiri, menjadikannya kain dilakukan sendiri, sampai menjahit kain dilakukan sendiri, setelah jadi pakaian lalu dijual sendiri, ku ragukan kalau tiga tahun orang itu akan bisa membuat pakaian satu, sama dengan amaliyah, jika kita fardan atau sendirian mengandalkan amal sendiri, maka lama sekali orang itu akan maju, la amalnya sendiri saja masih diragukan bisa menembus langit tujuh, apa tidak bisa menembus, karena ketidak adanya keikhlasan amal, atau sebab lain entah makanannya yang selalu haram, atau diri yang sombong, dan melakukan sesuatu yang menjadikan diri terhalang amal bisa menembus ke langit, dan mendapat ACC dari Alloh bahwa amal kita itu pantas diterima, maka dari itu kita butuh pendukung, kaya orang membuat pakaian sutra, jika ingin produksi sehari jutaan kodi, maka butuh petani kepompong, butuh pekerja pemintal benang sutra, penjahit, pemasaran, maka jadilah pabrik, sama dengan ibadah, butuh penyokong ibadah kita, ajak orang lain, maka kita akan mendapat apa yang dikerjakan orang itu malah langsung diterima di sisi Alloh sebab tidak berhubungan lagi dengan ikhlas tidaknya dengan orang yang kita ajak, seperti orang yang punya karyawan penjahit, maka akan menerima pakaian yang dijahit karyawan itu, tak perduli karyawan itu punya utang di luaran, tetapi itu bukan urusan kita.”

“Nah kalau ini aku paham,” sela pak Tohir.

“Juga kita butuh penyokong amal, jika kita tidak bisa mengajak orang lain untuk beramal, umpama kita tidak bisa mendirikan perusahaan, kenapa kita tidak tanam modal dalam perusahaan, jika tidak bisa mengajak orang lain melakukan amal ibadah, kenapa tak menyokong orang yang beribadah dengan harta yang kita miliki, setiap ibadah itu dilakukan kita akan mendapat bagian dari modal yang kita tanamkan, semakin besar modal yang kita tanam maka akan makin besar bagian yang kita dapat, teori tentang tanam modal orang bisnis semua juga tahu, seperti kita menanam modal di pabrik, kok di pabrik ada karyawan yang sakit maka tidak akan mempengaruhi penanam modal, penanam modal akan tetap memperoleh bagian selama pabrik itu tidak gulung tikar, begitu juga orang yang melakukan amaliyah menanam modal misal memberi dana kepada majlis dzikir, maka penanam akan mendapat hasil bersih dari apa yang ditanamkan, jika pabrik makmur, artinya semakin banyak jama’ah yang ikut akan makin banyak penanam modal menerima bagian itu tak mempengaruhi antara ikhlasnya pendzikir dan akibat atau hasil yang dicapai penanam modal. Selama majlis itu berdiri maka selama itu juga penanam akan mendapat bagian sesuai modal yang ditanam, dan itu akan terjadi dan kita lihat hasilnya jika kita praktekkan, segala sesuatu seribu tahun hanya teori tanpa dipraktekkan, maka jangan harap ada hasilnya, nah praktek kemudian melihat hasil yang dicapai dengan kepala sendiri ini dinamakan ainul yaqin dan setelah mempraktekkan lalu melihat hasil lalu menambah-nambah perbuatan serupa ini dinamakan haqul yaqin, seperti orang yang tak ragu mengiris daging karena mengiris yang pertama hasil potongannya sempurna. Maka kedua dan seterusnya tak lagi ragu memotong daging, sebab telah yakin potongannya bagus.”

“Maaf kyai, kalau saya ini kenapa diikuti jin?”

“Oh ya tadi itu kenapa bapak sampai jatuh berguling? Karena bapak biasanya disokong khodam jin, dan waktu masuk rumahku jinnya tak berani masuk, lantas bapak yang biasanya disokong kemudian jalan sendiri, jelas jadi lemah dan terasa pening yang teramat sangat.” jelasku.

“Lho kyai, bukankah saya itu mengamalkan toreqoh, kenapa diikuti jin?” tanya Tohir.

“Begini setiap amaliyah zikir yang dijalankan, itu pasti akan ada jin yang mendekat, jika ada jin atau syaitan yang mengganggu, jin yang mendekat ada yang mau mengganggu, ada juga yang mau menjadi khodam, jika kita didatangi jin yang akan menjadi khodam kemudian kita terima, maka ya sudah kita mentok sampai di situ, dan tak lagi beranjak mendekat pada Alloh, tapi jika kita tolak, maka kita tak apa-apa, arti kata kita tolak itu dalam perbuatan bisa saja luas, misal tidak diperduli, dan terus istiqomah dzikir, setelah itu akan ada malaikat yang datang untuk menjadi khodam, dan kita juga kalau menerima, maka kita akan mandek sampai di situ, tak lagi beranjak mendekat pada Alloh, la malaikat itu kan memang sudah diciptakan untuk melayani manusia, ya ndak usah kita minta, atau kita terima, mereka itu kan kodratnya melayani.”

“Apa buktinya kalau malaikat itu pelayan manusia?” tanya Khusain salah satu tamuku.

“Kan jelas, kita ini beramal baik atau buruk sudah ada malaikat pencatat amal baik di pundak kanan, dan malaikat pencatat amal buruk di pundak kiri, kita tak usah mencatat sendiri, yang akan menghabiskan beberapa juta kertas tiap bulan, juga kita mau hujan, ada malaikat yang manurunkan hujan, kita amal mau dikirim ke langit kita juga tak usah repot nunggu pak pos, sudah ada malaikat yang mengantar amal kita ke langit.”

Datang suami istri masuk ketika kami bicara, setelah bersalaman denganku yang lalu mereka nimbrung, aku lihat perempuannya, aku kaget, karena ku rasakan jin yang kuat, mengikutinya, ku katakan kuat karena sudah kuat masuk rumahku yang ku pagar gaib.

“Ibu ini ada keperluan apa?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan kepada perempuan yang baru datang.

“Ini pak kyai, saya kakinya sakit, dan entah kenapa kayak ada yang nggandoli.” jelasnya.

“Ibu kerjanya apa?” tanyaku.

“Saya kerjanya memandikan mayat.” jawabnya.

“Hm pantes..! Sebentar ya bu.” aku bangkit, dan mengambil air mineral, lalu ku tiup dengan do’a.

“Tolong ini diminum bu…” kataku sambil menyerahkan air mineral, dan segera diminum ibu tersebut.

Ku rasakan jin keluar dari tubuh ibu tersebut dan lari, ku biarkan saja.

“Coba bu, dirasakan kakinya, dipakai berdiri, dan jalan.” kataku. Lalu ibu itu berdiri dan jalan.

“Bagaimana bu, masih ada yang sakit dan berat tidak kakinya?” tanyaku.

“Sudah enteng dan ringan.” jawabnya.

“Maaf ya bu…, ibu ini pernah memandikan seorang yang mati, dan orang itu melakukan laku pesugihan, dan jin yang diajak melakukan amal pesugihan itu nempel ke ibu, tadi saya lihat heran kok jin masuk ke rumahku dengan minta gendong ke ibu, makanya saya cepat ibu minum air agar dia lepas.” jelasku.

“Wah kok menakutkan to pak kyai…? Tapi memang ini saya alami sejak saya memandikan seorang perempuan yang meninggalkan rusak wajahnya, dan sakit yang di kaki saya itu kok sering jalan.” kata Ibu itu.

“Ya ndak papa, sekarang sudah pergi, jadi tak usah ditakutkan lagi.”

“Anu pak kyai, saya punya cucu di Jakarta, ini baru menempati tempat kontrakan baru, tapi terus-terusan kok anaknya nangis terus tiap hari, apa bisa dibantu pak kyai.” cerita ibu itu.

“Cucunya itu umur berapa bu?” tanyaku.

“Umur 5 tahun pak.”

“Suruh saja menyediakan air, nanti ku transfer, tolong bilang anaknya dikasih minum air itu, dan airnya dipakai memandikan anaknya sebagian, dan sebagian lagi dipakai mengepel rumah, ingat jangan sampai ada yang tertinggal, artinya semua tempat di-pel,”

“Kalau tempatnya ada barang-barangnya bagaimana pak kyai?”

“Ya kan bisa disemprot memakai semprotan air yang kayak semprotan untuk setrikaan.”

“Oo gitu ya pak.?”

“Iya soalnya kalau tidak nanti kayak kemaren ada yang kesini, anaknya rewel, lalu ku kasih air, dan ku suruh mengepel semua, artinya semua tempat harus kena cipratan air, nah pada saat itu ada yang terlewat yaitu di atas lemari, dan anaknya tetap menangis, katanya kalau melihat ke lemari menangis sambil takut dan menyembunyikan diri, ya karena atas lemari tak di-pel, maka jin yang menyerupai kunti itu duduk di atas lemari, jadi anaknya melihat.” jelasku.

“Iya makasih penjelasannya kyai,”

“Kalau gitu saya telponnya dulu kyai…”

“Iya.. suruh saja sedia air,”

Sebentar ibu itu menelepon.

“Maaf kyai, airnya baru dicarikan, apa ada syarat lain pak?”

“Ini air yang aku transfer sifatnya sementara, jadi hanya untuk kepeluan yang mendadak saja, jadi entah di bulan berikutnya, bisa saja jin itu akan kembali lagi.”

“La saya harus bagaimana pak?” tanya Ibu itu.

“Ya biar tidak kembali lagi, maka sebaiknya rumahnya dipagar dengan ditanami batu kerikil yang ditanam di pojokan rumah.”

“Begitu ya pak kyai?”

“Iya, agar jinnya tak kembali lagi, air dan batu itu bukan apa-apa, tak ada apa-apanya, saya hanya mentransfer do’a ke air itu, dan mengisikan do’a ke batu itu…”

“Iya pak kyai, saya paham.”

“Kebetulan, dua hari lagi saya sudah ada rencana ke jakarta, jadi apa besok batunya sudah bisa saya bawa?”

“Bisa, besok saja kesini lagi.” kataku.

“Baik kami berdua mohon diri.” kata Ibu itu.

“Hp ku bunyi.” ku lihat ternyata dari Ibuku di Tuban.

Ku jawab salam lalu ku tanya.

“Ada apa Bu?”

“Ini diminta menyampaikan pesannya pak Muhadi, kakinya sudah sembuh, dan terimakasih banyak, gitu bilangnya.”

“Iya bu.”

…………………………………………..

Dalam niat, kita selalu membekali gerak dan laku dengan niat itu, menjadi bernilai atau tak bernilai setiap perbuatan amaliyah, disandarkan pada niat awal akan melakukan suatu perbuatan, jika kita menjalankan amaliyah dengan disertai niat ikhlas karena semata-mata memenuhi semua perintah Alloh, maka semua gerak selangkah atau setengah langkah, setarikan nafas sekalipun akan bernilai pahala.

Betapa pentingnya menata niat di hati, jangan sampai sudah seribu perjalanan kita tempuh, tapi semua hanya perbuatan sia-sia, seorang yang berakal dan selalu menghitung dengan akalnya, akan menimbang, betapa pendek umur kita di dunia, seandainya banyak sudah perjalanan ditempuh, dan ternyata kebanyakan sia-sia, sedang umur itu mendekati ajal, kontrak kita di dunia itu setiap waktu berkurang masanya, kalau seseorang tak juga menyadari maka pasti akan merugi.

Jika bapak kita mati, ibu kita mati, nenek kita mati, kakek kita mati, apalagi kita yang menjadi anaknya.

Siapa yang bertaqwa pada Alloh, maka Alloh akan memberi jalan keluar terbaik dari permasalahan, dan akan diberi rizqi yang tidak bisa disangka-sangka datangnya.

Jika seseorang tak memotifasi diri, motifasi orang lainpun tak akan membuat diri beranjak dari tidur panjangnya hati, kadang hati itu harus ditundukkan dengan apa yang disenangi, dan apa yang disenangi itu selalu apa yang diharap untuk terjadi di kehidupan kita, orang miskin ingin kaya, orang susah ingin bahagia, orang sakit ingin sembuh, orang tak punya jodoh ingin nikah, dan banyak lagi apa yang kita senangi, apa yang kita senangi sah-sah saja dijadikan motifasi untuk mendekatkan diri pada Alloh, jika miskin perbanyak dzikir yang jalurnya rizqi, apabila sakit perbanyak dzikir yang untuk menyembuhkan penyakit, apabila tak punya jodoh, perbanyak dzikir untuk menyatukan jodoh, jika ketika kita miskin kemudian dzikir yang unsurnya meminta rizqi, itu terijabah, maka akan menumbuhkan rasa cinta akan dzikir.

Memang seseorang itu tak langsung bisa mencapai ikhlas yang paling tinggi, maka tak masalah kita menapak ikhlas paling rendah, dengan membuat harapan balasan atas apa yang diamalkan, setelah apa yang didzikirkan atas rizqi kemudian sering terwujud, maka akan menimbulkan rasa cinta akan dzikir, walau cintanya masih cinta yang dipenuhi berbagai maksud dan keinginan, sebab seorang itu tak bisa menapak langsung ke tataran yang tertinggi, kecuali dari tangga terendah suatu proses cinta Alloh yang hakiki.

Diriku juga masih dalam proses, belum seorang yang ikhlas yang mutlak, tanpa tapi,

Dulu waktu masih masa latihan agar bisa setiap malam tak tidur selamanya, aku melatihnya dengan tiap malam selalu pergi, dari mulai setelah isya’, aku pergi menjelajah malam, sampai pagi datang, berganti teman-teman yang ku ajak menemani, tanpa dzikir, hanya kelayapan, agar aku terbiasa dengan tak tidur malam sama sekali, itu sekitar tiga tahun ku jalankan, setelah itu aku melatih untuk suka dan cinta pada dzikir, aku meminta dalam dzikir dan menyondongkan dengan apa yang di sukai nafsuku, entah perempuan atau uang, sampai waktu dalam latihan, aku selalu punya pacar ada dua puluhan dan mendapat rizqi yang tak disangka-sangka, yang di luar nalar, agar kecendrungan nafsuku tertaklukkan, dan yakin dengan haqul yakin apa yang ku do’akan mendapat ijabah dengan nyata, setelah terbiasa dzikir, maka dzikir malah menjadi cinta, jika tidak dzikir akan terasa hati benar-benar rindu, dan ingin selalu dzikir setiap waktu.

Dan kecendrungan nafsu pun akan menapak pada penundukan kehendak yang lebih remeh dari sekedar apa yang bisa didapat dengan gampang, ingin melihat Alloh menunjukkan hal-hal yang di luar nalar dan logika, tapi kemudian nafsu perlahan tertaklukkan, lalu mendapat hidayah seperti angin yang menghembus dan air yang mengalir, tujuan yang satu kemudian menjadi fokus, kecintaan pada dzikir karena kecintaan pada yang didzikirkan, sedetik tak menyebut Alloh rasa hati seperti kosong berlubang, dan sepi lebih sepi dari kuburan yang tak pernah diziarahi.

Sampai aku menemukan guru, Kyai ku, yang sekarang, perjalanan panjang itu seperti menemukan jawab, apa yang ku perjuangkan dalam proses yang panjang, ternyata telah dirangkum dalam paket-paket tertentu, dan dzikirnya telah tertulis dengan rapi, tak perlu susah melewati proses panjang sepertiku, makanya siapa yang mengamalkan amalan yang ku beri, dan sesuai petunjuk yang telah diijazahkan Kyai ku padaku, akan mendapat anugerah Alloh seperti yang dianugerahkan padaku.

Memang menjadi suatu amalan yang simpel dan tak neko-neko, tapi tetap hidayah itu di tangan Alloh, walau kelihatan sederhana di mataku, juga belum tentu mudah di mata orang lain, sebab ada unsur hidayah di dalamnya.

 Aku yang menjalankan pencarian panjang, dan menemukan hasil dari proses simpel yang diberikan guruku, tak perlu lagi susah melatih bertahun-tahun, malah sepertinya kadang membuat orang tak percaya, jika akan menjalankan, karena sebuah proses begitu mudahnya, itu juga yang kadang menjadi kendala seseorang tak yakin dengan hasil yang akan diperoleh. Sebab masak semudah itu untuk menjadi orang utama, jadinya timbul keraguan karena masih mengukur dengan kemungkinan dan itung-itungan matematika.

Kadang aku sengaja membuat pembuktian-pembuktian pada teman-teman, akan betapa do’a diijabah itu bukan rekayasa, bukan isapan jempol saja, jika ada yang sakit ayo aku obati, gratis dengan do’a, dan itu bukan untuk dianggap sakti, sebab aku sendiri hanya berdo’a, Allohlah yang waidza marid’tu fahua yaswin, yang menyembuhkan segala penyakit jika kita sakit, Allohlah khoirorroziqin, Allohlah yang paling baik pemberi rizqi, itu kita buktikan, kita praktekkan kenyataannya bersama, agar iman kita menjadi iman yang haqul yaqin, kayakinan yang tak tergoyah.

Tiba-tiba aku amat kangen dengan Kyai, aku lalu menanyakan ke santri yang aku tau nomer hp nya, di mana keberadaan Kyai, dan setelah menunggu agak lama, karena bertemu Kyai sedang dibatasi, Kyai sedang ujlah dan tak menemui siapa saja.

Aku diijinkan bertemu tapi harus menunggu dua hari di Cipacung, dan diperintah tidur dulu di kuburan Cipacung, yang sangat angker, orang kampung saja biasanya siang hari tak berani ke kuburan angker itu sendirian, dan kuburannya juga setelah di hutan, tidur di kuburan di tengah hutan, ya biasa saja, karena ketakutan itu hanya milik orang yang tak ada iman kecuali senyala ujung lidi yang terbakar.

Aku pun berangkat ke Pandeglang, dan bermalam di makam.

Tapi baru semalaman kami nginep di kuburan, Kyai sudah menyuruh orang menjemput kami, untuk bertemu.

Dan kami meluncur ke tempat Kyai tinggal, ternyata di rumah orang China yang masuk Islam, dan aku dan teman-teman pun tinggal di rumah itu, yang ku rasakan betapa walau mereka orang China aku merasakan sinar keikhlasan di hati mereka memancar ke setiap gerak gerik mereka mengurus kami para santri Kyai, mereka begitu bersemangat menyediakan saur dan buka kami, dan memberi kejutan-kejutan bingkisan yang membuat hatiku merasa amat jauh dari keikhlasan mereka. Pantesan Kyai yang bisa membaca hati orang lain mengambil keputusan tinggal di rumah orang itu.

Dan kami dianggap seperti saudara sendiri, tentu saja Kyai tinggal di situ, berkah Kyai ku juga seperti matahari yang menyinari daun, dan manusia juga hewan tanpa membedakan.

Namun sayang, Kyai sedang sakit, sakit kali ini bukan asal sakit biasa, tapi sakit karena disantet, keberadaan Kyai sangat dirahasiakan, sehingga tak bisa setiap orang bisa dengan seenaknya menemui. Kyai memanggilku ke dalam ruangan pribadi yang disediakan untuknya, aku duduk takdzim mendengar uraiannya.

“Kyai sedang sakit Ian…, karena dikeroyok oleh banyak tukang santet seantero Indonesia, yang ada sembilan ratusan tukang santet lebih, jika seandainya Kyai tolak, maka sungguh Kyai tak enak sama Alloh, baru diberi cobaan seperti ini, masak Kyai tak mau, jadi semua santet Kyai terima, Kyai biarkan masuk ke tubuh, agar bisa menjadikan Kyai makin dekat dengan Alloh, sekarang tugasmu, juga tugas santri yang lain, untuk melindungi dan mengobati Kyai, memakai ilmu yang pernah Kyai berikan, sekaranglah sa’atnya menunjukkan ketaatan murid pada guru.” kata Kyai sambil duduk, dan sekali waktu salah seorang santri mengusap dengan tisu darah yang bercampur keringat yang keluar dari pori-porinya.

“Iya Kyai… saya siap.” jawabku, “Dengan segenap kemampuanku.”

“Ian.., sekarang kamu obati Kyai, dengan segala daya yang kamu miliki, jika Kyai menyembuhkan diri sendiri amatlah mudah, tapi ini saatnya murid menunjukkan ketaatan dan keperdulian pada seorang guru, sekarang saatmu membuktikan darma baktimu.”

“Murid siap Kyai.., mohon Kyai selalu membimbing murid, agar murid bisa memberikan yang terbaik.” kataku.

“Kau tariklah panas di tubuhku, tubuhku rasanya seperti direbus dan dibakar dengan api.” kata Kyai.

Aku pun mulai mengusahakan kesembuhan Kyai dengan caraku, yang diajarkan Kyai, setiap kali tanganku kubuat menarik kekuatan jahat yang mengeram di badan Kyai, maka tanganku sampai sebatas pergelangan terasa panas kayak orang kena cabe. Juga lenganku agak memerah, karena panasnya. Sementara dari pori-pori Kyai merembes keluar keringat yang bercampur darah, sehingga jika diusap dengan tisu maka di tisu akan ada bekas darah bening, karena keringat yang bercampur darah, aku tak kuasa membayangkan, rasanya disantet dikroyok ratusan orang, aku sampai meneteskan air mata, jika membayangkan hal seperti itu.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...