Minggu, 26 Juli 2020

SANG KYAI -46

Sang kyai 46

Setelah sholat subuh, aku, istri dan anakku telah meninggalkan desaku, dan titipan orang semua ku titipkan pada ibuku.

Ibuku maklum dengan posisiku, jika aku lebih lama tinggal, itu akan menjadikanku malah tak bisa istirahat, padahal masalah manusia pun di mana saja ada.

Aku langsung naik mobil ke Tuban kota, dan menaiki bus jurusan semarang.

——————————————-
Majlis sudah berdiri, tapi jam’iyah dzikir toreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah belum ku mulai.

Malah selama ini, orang daerahku belum ada yang tau aku ini orang toreqoh, dan taunya aku orang yang belajar ilmu pengobatan, dengan media do’a, padahal apa yang ku miliki dan ku bisa hanyalah anugerah Alloh semata, bukan karena aku sakti atau punya kelebihan tertentu. Orang hanya taunya kulitnya saja.

Apalagi sifatku yang tertutup dan tak pernah melakukan atau berlagak seperti orang punya ilmu, sehingga semua orang akan merasa aku seperti teman dan orang yang bebas lepas bisa diterima di setiap kalangan.

Tapi Kyai Askan makin menggebu-gebu memusuhiku, aku dibilang dukun prewangan lah, dikatakan tukang tiup botol dan airnya dijual, tapi semua orang yang pernah ku tolong malah yang mendebat akan semua tuduhan kyai Askan, karena memang aku tak pernah meminta apa-apa pada orang yang ku tolong, bahkan jika orangnya miskin dan payah hidupnya tak jarang pulang malah ku beri oleh-oleh. Sebab bagiku keikhlasan itu perlu bukti nyata, lepas luar dalam, tak mencari nama walau sebesar titik debu, aku sampai memperingatkan orang-orang yang mendebat kyai Askan, ku katakan, “Jangan seperti itu, jangan didebat, itu tak baik.”

“Kami tak rela, kyai diburuk-burukkan.” jawab mereka.

“La aku dijelek-jelekkan kan tak berkurang apa-apa, kyai Askan juga menjelekkanku, kalau dia haus dan lapar juga makan dari uangnya sendiri, itu malah akan mengambil dosaku, Nabi saja ketika dijelek-jelekkan orang kafir, lalu Abu Bakar membelanya, Nabi marah kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar bertanya: ‘kenapa aku tak boleh mendebat sumpah serapah mereka,’ ‘karena sebelum kamu menjawab sumpah serapah mereka, malaikat yang membalas sumpahan mereka, tapi ketika kamu yang membalas sumpah mereka, maka para malaikat pada pergi.’ ; jadi biarkan aku dijelek-jelekkan, jangan dibantah, diam saja, kesabaran itu perlu diuji, kebersihan hati itu hanya akan dikeruhkan oleh rasa benci, jadi diam, rasakan, masihkah hati itu suka panas, atau sakit hati? ataukah tenang, jernih, bening, sabar, tawakal, syukur, di situ nilai ilmu seseorang itu manfaat tidak bagi diri atau tidak bermanfaat bagi diri, terjawab, dengan praktek nyata, bukan dengan kata-kata, aku ini ikhlas, aku ini tawakal, aku ini sabar, la kalau cuma kata-kata, anak kecil juga bisa.”

Alhamdulillah orang yang sebelumnya membelaku dan mendebat kyai Askan kemudian perlahan sudah mau menuruti apa yang aku harapkan, berarti aku berhasil menanamkan kadar ilmu ke hati kepahaman mereka.

Perlahan tapi pasti, setiap hari di majlisku ada orang yang mulai datang, dan berkumpul, bukan untuk mengaji kitab kuning, bahkan aku tak pernah meminta mereka datang, mereka datang dengan kemauan sendiri, lalu mendengar ulasanku tentang agama, seperti orang yang ngobrol, tapi semua antusias, tak pernah sekalipun aku memerintah sholat, tapi aku jelaskan dengan saripatinya amal, sehingga semua sering malah merasa rindu kalau tak hadir di rumahku. Malah ada yang sampai mengatakan sehari tak melihat wajahku, hatinya merasa risau, jadi kadang ada yang datang ke rumah, hanya ingin menatap wajahku, ya aku ndak papa, kadang sampai ada yang datang sehari tiga kali, kayak orang makan saja, dan cuma bersalaman denganku dan duduk dua-lima menit lalu pamit, dan banyak yang mencintai diriku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, kadang ada suami istri yang setiap hari datang, hanya ingin mencium tanganku, padahal mereka berumur 60 an tahun, ya aku dengan senang hati memberikan tangan yang ingin dicium, kadang ada nenek-nenek yang sudah udzur lalu menangis-nangis minta didoakan bisa meninggal khusnul khotimah, dan meminta diijinkan mencium tanganku, semua hanya kehendak Alloh yang memiliki rahasia.

Pagi-pagi sudah ada tamu seorang ibu-ibu seumuran 50 an tahun.

“Ada apa bu?” tanyaku.

“Saya ini dari Jakarta.” jelasnya.

“Wah jauh-jauh ada keperluan apa bu? Saya jadi tak enak membuat ibu jauh-jauh datang.”

“Saya ada perlu untuk keperluan anak saya.”

“Kenapa anaknya bu?” tanyaku.

“Anakku lumpuh, sudah sembilan tahun, seluruh badannya tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan tangan dan kaki, juga mulutnya sudah tak bisa bergerak.” cerita.

“Lalu maksud ibu datang ke rumah saya?”

“Ya saya mau minta anak saya dido’akan, supaya disembuhkan dari kelumpuhan.”

“La awalnya bisa lumpuh bagaimana bu?”

“Karena kecelakaan dik, ya pertama kecelakaan tak apa-apa, kelumpuhan terjadi setelah setahun mengalami kecelakaan.”

“Lalu kata dokter bagaimana?” tanyaku.

“Kata dokter urat saraf yang di punggung ada yang putus dan kejepit tulang.” jawabnya.

“Juga pernah dibawa ke pengobatan alternatif?”

“Ya kan sudah 9 tahun lumpuhnya, di mana ada tung..!, ada pengobatan yang kami dengar, maka kami berusaha mendatangi, mari to dik dilihat anak saya.”

“Walah bu…, saya itu sebenarnya tak bisa mengobati apa-apa, jadi kalau saya datang ke rumah ibu di Jakarta, sudah jauh-jauh ya percuma, tak akan membuat perubahan.” jelasku.

“Lalu saya bagaimana?”

“Ya ibu ku kasih air saja, nanti diminumkan dan dilapkan airnya ke seluruh tubuhnya.” kataku.

“Baik dik,” katanya.

Lalu ku beri air mineral, yang sebelumnya ku tiup dulu, dengan meminta pada Alloh kesembuhan untuk anaknya.

——————————————-

Besoknya ibu yang kemaren datang lagi.

“Gimana, ada apa lagi bu, kok ibu kemaren datang, sekarang datang lagi, apa gak jauh Jakarta?”

“Oo saya juga kan asli Pekalongan dik, jadi ini masih di rumahku Pekalongan.”

“Ooo kirain dari Jakarta langsung, rupanya tinggal di sini.., lalu ini ada apa bu?”

“Alhamdulillah, anak perempuanku yang lumpuh, tadi pagi mulutnya sudah bisa bicara, tangannya juga sudah bisa bergerak, juga kakinya bisa digerak-gerakkan.”

“Ya syukur, bagus itu.” kataku.

“Jadi saya kesini, mau mengajak adik ini ke rumahku, tolong dipegang anak aku.” kata ibu itu.

“Bukannya aku tak mau bu, tapi banyak orang lain yang juga membutuhkanku, jadi ini baru ibu yang meminta, nah kalau sehari dua puluh orang yang meminta seperti ibu, apakah saya tidak wira-wiri kemana-mana, apa tidak menjadikan saya super sibuk, ibu tak beri air saja dan dipakai seperti kemaren.” kataku, semua orang itu selalu kalau berpenyakit pasti ingin cepat sembuh, seperti sulapan.

“Iya tak apa-apa, tapi boleh tidak kalau ada orang yang mau mengobati, dengan diurut.”

“Ya monggo, silahkan saja bu, itu hak penuh ibu, mau meminta orang lain mengobati, aku ini kan bukan mengobati bu, tapi berdo’a, jadi soal kesembuhannya bukan urusanku, tapi itu urusan Alloh.” kataku.

Dua hari kemudian ibu yang anaknya lumpuh itu datang lagi.

“Kenapa lagi bu…?” tanyaku melihat wajahnya sedang sedih.

“Itu nak, kok punggung anakku jadi pada melepuh,” katanya.

“Melepuh bagaimana bu?”

“Ya melepuh, melembung dan di dalamnya ada airnya gitu.” jawabnya.

“Oo itu mungkin anak ibu alergi terhadap minyak tertentu, atau karena lumpuh jadi tidak bergerak, sehingga punggungnya yang ada minyak gorengnya jadinya panas.”

“Apa karena ku pijitkan ya?”



“Wah aku sendiri tak tau… dibelikan saja salep, atau dipanggilkan dokter kulit.” kataku.
dia pun mohon diri.

Kadang orang tak sabar, maunya segala sesuatu itu sembuh seperti sulap.

Malamnya seseorang datang dengan membawa saudaranya yang sakit katanya dikuasai jin, selalu saja mendapat bisikan, sehingga sering tingkah lakunya tak karuan. Mungkin lagi musim orang dikuasai jin, jadi beberapa hari ke depan yang datang adalah orang yang dikuasai jin.

“Awalnya bagaimana kok dikuasai jin itu?” tanyaku pada yang biasa dirasuki, dia masuk rumahku yang terpagar, maka jinnya tak berani masuk, banyaknya jin yang mencoba menjadikan pemuda bernama Khadiq itu jadi budaknya, sehingga di depanku sadar total.

“Awalnya saya kerja di Semarang, pas musim ninja itu saya diisi oleh seorang guru silat di daerah Mangkang, ya awalnya saya tak mau, tapi mau juga karena ya siapa tau ada baiknya, maka setelah diisi, disuruh menelan kapas dan gotri yang katanya sudah dijampei, aku jadi berani, aku juga diberi ilmu yang kalau naik bus tak bayar, maka aku kemana-mana naik bus tak pernah bayar.”

“Wah itu tak bener, ya kasihan sopir busnya dan kondekturnya dong, la kalau semua penumpang kayak sampean naik busnya tak bayar, apa gak sopirnya dan kondekturnya nangis, kan mereka juga punya anak bini, lagian misal sampean jadi sopir busnya, apa sampean mau semua penumpang yang naik bus gratis semua.” kataku.

“Ya tidak.” jawab Khadiq.

“Kalau diri tak mau dirugikan orang lain, maka orang lain pun punya perasaan sama tak mau kita rugikan.” jelasku.

“Apa ilmu yang ku amalkan salah? Sehingga aku dikuasai jin?” tanyanya.

“Sebenarnya dikuasaimu itu bagaimana?” tanyaku balik.

“Aku ini sering mendengar bisikan, kalau aku harus ke suatu tempat, misal kemaren aku disuruh di simpang lima Semarang katanya akan ada yang memberi hadiah padaku, lalu aku dari pagi sampai sore di simpang lima Semarang, tapi sampai sore aku tak menemukan apa-apa, maka aku melangkah pulang, tapi baru saja aku melangkah, ada bisikan katanya aku gagal, karena tak sabar, padahal hadiahnya baru datang lima menit lagi.” jelas Khadiq.

“Hehehe… itu tipu daya jin, mana ada orang mau memberi hadiah kamu, la yang nabung di bank, dapat undian saja belum tentu dapat hadiah, itu hanya mau menaklukkanmu, agar kamu mau diperintah sekehendaknya jin, agar kamu jadi pijakan dia di neraka, soal lima menit dia bilang gagal, juga hanya akal-akalan dia, misal baru nunggu satu jam kamu kemudian balik juga akan dikatakan bisa lima menit, tiga menit, agar ada penyesalan di hatimu, dan besoknya kalau disuruh kayak gitu mau.”

Dia manggut-manggut.

“Tapi aku malah pernah disuruh menunggu di pasar Kedungwuni, dan katanya akan ada bos yang memberi uang diriku, tapi ya seperti itu aku katanya gagal karena tak sabar, aku malah pernah disuruh berdiri di tepi laut Pekalongan sampai malam, katanya aku akan diberi uang yang banyak….”

“Sebenarnya masalahmu itu cuma bisikan, seandainya aku menolongmu juga, percuma, jika kau selalu mengikuti bisikan-bisikan itu, bisikan itu ada tiga, satu khotir rokhmani, artinya bisikan dari Alloh, dua khotir malaki atau bisikan dari malaikat, tiga khotir syaitoni yaitu bisikan dari syaitan, juga jin itu, sekalipun kau dibisiki untuk membaca alqur’an, atau disuruh sholat sekalipun, maka itu tak ada pahalanya, menjalankan amal ibadah itu harus lillahi ta’ala, karena Alloh ta’ala, setiap niat puasa romadhon, bukankah ujung-ujungnya lillahi ta’ala, artinya karena Alloh ta’ala, ikhlas, bukan karena bisikan jin, ya kalau sholat karena nuruti bisikan jin, artinya kalau jin tak nyuruh sholat, maka tak sholat, kalau jinnya nyuruh sholat, lantas sholat, ya nanti kamu di akherat ndak punya amal sama sekali, kamu akan diperintah oleh Alloh meminta pahala pada jin, apa jin bisa memberi surga? ya tidak sama sekali.”

Khadiq diam saja, entah diam karena menyelami kata-kataku, atau karena pikirannya kosong.

Sebenarnya seseorang itu cenderung apa yang membisikinya itu dianggap kebenaran, atau anak kecil yang bisa melihat hal gaib lantas dianggap kelebihan, padahal itu malah akan mengganggu aqidah, karena kemudian ada kebiasaan ketergantungan pada selain Alloh, padahal wama kholaqtul jinna wal insa illla liya’budun, manusia dan jin itu diciptakan untuk menghamba, jadi menghamba pada Alloh, apapun itu kok menjadikan kita tak menghamba lagi pada Alloh, maka tandanya kita itu menyalahi dasar penciptaan atau rencana kita diciptakan.

Seorang perempuan tua membawa anaknya yang dikatakannya dikuasai jin ke rumahku, nama anaknya Jalal, menurut Ibunya, awalnya jalal tidak apa-apa, lalu dipondokkan di Tegal Rejo Magelang, dan setelah menjalankan amalan hizib Ghozali, maka prilaku Jalal mulai berubah, suka marah-marah, kalau sudah meminta barang harus segera dipenuhi, misal pengen motor baru pas jam dua belas malam, maka seketika itu harus dipenuhi, ya sekalipun orang tuanya punya uang, kan juga dealer motornya sudah tutup, Jalal tak mau tau, dan terus marah-marah, apa-apa dibanting dan kemudian ketahuan kalau Jalal telah kerasukan atau hilang akal karena telah dikuasai jin.

Ketika masuk rumahku, sama Jinnya pun melepaskan diri, dan tak berani masuk, karena rumahku terpagar gaib.

“Bagaimana kau bisa dikuasai jin..? ” tanyaku.

“Tak tau ustad.” jawab Jalal

“Kok tak tau?” tanyaku lagi.

“Ya aku sendiri rasanya badanku lemah sekali, apa hizib yang ku pelajari tak benar?” tanya Jalal.

“Ya benar saja, siapa yang mengatakan tak benar? Cara mempelajari yang diharuskan di pondok yang tak benar, dan mengamalkan ilmu itu kan tak asal mengamalkan, tapi mengamalkan ilmu itu harus urut,” kataku.

“Urut bagaimana ustadz?” tanya Jalal.

“Ya urut dari pertama, dari dasar, kayak orang bangun rumah itu harus urut, digali pondasi disesuaikan rumah yang akan dibangun, lalu dibuat pondasi dari corcoran yang kokoh kuat, pondasinya ditunggu kering, artinya pondasi diistiqomahkan, jadi menetap, kering kukuh kuat setelah diyakini pondasi kering dan telah diyakini telah benar-benar kering, baru ke atas, penguat dinding di-cor, tiang-tiang dibentuk di-cor, agar teguh dan kuat, lalu dibangun dindingnya disesuaikan dengan rancangannya, sampai terus selesai semua dan sampai gentengnya, kalau tiba-tiba, dibangun temboknya, lalu genteng, baru pondasi digali tanahnya, ku yakinkan akan banyak orang terkubur oleh rumah itu, sama dengan amaliah ilmu, akhirnya jika pembangunannya terbalik balik, maka ku pastikan akan banyak orang setres dan dikuasai jin, apapun di dunia ini, harus urut, itu aturan Alloh, atau dinamakan sunnatulloh, masak nasi saja kalau direbus dulu, nyuci berasnya belakangan tak akan jadi, ada sarat, ada sareat, sarat itu alat yang akan dipakai, kayak mau masak nasi, harus ada ompreng, ada, air, ada kompor, ada gas, ada selang, ada beras, jadi kelengkapan itu harus ada semua, masak nasi tak ada berasnya, maka tidak dikatakan masak nasi, masak nasi ada kompornya, nasi sudah dicuci sudah di dalam ompreng, sudah lengkap airnya, kompor sudah nyala apinya, tapi ompreng tak ditaruh di atas kompor, maka seribu tahun ditunggui juga beras tak akan mateng jadi nasi, jadi ada sarat, sare’atnya harus benar, sare’at itu cara, la sampai jadinya sarat dan sare’at itu menjadi nasi yang matang dan enak dimakan, sampai terciptanya api bisa nyala dari gas, dan bisa membuat nasi menjadi matang dan enak, lalu dimakan masuk ke tubuh, itu namanya hakikatnya nasi rencananya dimasak, jika Alloh tidak menempatkan ilham pada manusia, sehingga manusia tidak punya maksud untuk memasak nasi maka sarat dan sare’at tak akan pernah ada, jadi penetapan Alloh atas niat memasak, lalu gerak tubuh melakukan gerakan memindah ompreng, mencuci beras, menggerakkan urat dan melakukan gerakan yang seperti terancang dan terencana dengan berurutan, sampai menghasilkan nasi yang matang, itu namanya hakikat, berlakunya qodo’ dan qodarnya Alloh di setiap kejadian.” jelasku panjang lebar.

“Mempelajari ilmu karena tak berurutan lalu dikuasai jin karena hati belum teguh ikhlas, jiwa belum kukuh kuat, ruh masih goncang, dan tubuh belum mengalami latihan, ya samalah membangun rumah, dana belum mencukupi, apa-apa masih ngutang, semen belum ada, juga tanah adalah tanah yang labil, jika dipaksakan membangun rumah, ya rumahnya jadi tiga hari temboknya retak, sepuluh hari orangnya ketimpa tembok dan mati, jangan menyalahkan amalan karena mempelajari tak sesuai aturan kemudian diri dikuasai jin, jangan menyalahkan rumah yang menimpa penghuninya, karena membangunnya tidak tepat dan dari awal dirancang yang benar.” jelasku.

“Lalu bagaimana ustad anakku ini?” tanya Ibu itu.

“Biar ku kasih air, dan pagar badan, tapi nanti amalannya jangan diamalkan lagi ya?” kataku ku tujukan pada Jalal.

“Ya ustadz.” jawab Jalal.

Dan Jalal dan Ibunya pun pulang, beberapa hari ibunya datang, mengucapkan terima kasih. karena Jalal telah sembuh.

Saat di majlisku ada banyak tamu, dan semua sedang bicara denganku, masuk dua orang lelaki dan perempuan, tiba-tiba yang lelaki tersungkur mengaduh-aduh berguling-guling, aku cepat bangkit, dan ku pegang kepalanya, lalu dia mulai tenang.

“Kenapa pak?” tanyaku.

“Tak tau mas kyai, tiba-tiba kepalaku rasanya pening sekali.” jawab lelaki setengah tua yang mengenalkan diri bernama Tohir.

“Bapak mempunyai amalan apa?” tanyaku.

“Saya orang toreqoh mas.” kayanya.

“La kok sampai punya khodam jin?”

“Ya tak tau.” jawabnya.

“Toreqoh sampean apa yang diikuti?” tanyaku.

“Toreqoh qodiriyah wa naqsabandiyah.” jawabnya.

“La berarti sama dengan toreqoh saya.” jawabku.

“Saya malah sudah dibai’at beberapa kali.”

“Wah hebat itu, la saya aja baru dibai’at sekali.”

“Panjenengan ini baru dibai’at sekali, kok ya saya tak punya kelebihan yang kayak penjenengan yang bisa berbagai macam ilmu dan kelebihan.”

“Hehehe… gini lo pak, walau sama-sama toreqoh, tapi dalam toreqoh itu ada namanya kedudukan, yang ahli bai’at saja, ada ahli bai’at badal, dan ahli talkin itu ada ahli talkin badal, badal artinya ganti, jadi orang yang dibai’at oleh ahli baiat dan ahli talkin badal ya selamanya tak punya kedudukan apa-apa, berpuluh tahun menjalankan toreqoh ya tak punya kelebihan apa-apa, karena selamanya menjadi prajurit rendahan, tak punya kedudukan, ya kayak dalam ketentaraan orang yang diangkat oleh hansip paling jadi penjaga pos kamling, jangan harap menjadi jendralnya tentara, ya kalau jadi penjaga pos kamling terus petentang petenteng membawa pistol, bisa-bisa malah ditangkap polisi, jadi dalam toreqoh juga ada kedudukan, jika seseorang dibai’at oleh wali qutub, wali ghous, wali abdal ahli talkin, ahli bai’at, ahli silsilah, ahli tawasul, ahli sanad, ahli nasab, wali qutub artinya yang di jadikan sandaran semua wali, wali ghous artinya yang punya kekuasaan menolong, wali abdal artinya sudah punya cap menggantikan wali pilihan, ahli talkin, artinya mempunyai kekuatan menalkin, ahli bai’at, artinya mempunyai kekuasaan membai’at, ahli silsilah, artinya punya kekuasaan mengangkat dan menurunkan silsilah toreqoh, ahli tawasul artinya punya bisa dijadikan penghubung pokok kepada guru di atasnya, ahli nasab artinya nasabnya menyambung sampai Nabi, la kok dibai’at orang seperti itu ya langsung punya kelebihan, walau belum menjalankan amalan apa-apa, jadi walau minta bai’at atau talkin itu tak asal meminta bai’at dan talkin sembarangan.”

“Wah ternyata ada seperti itu ya?”

“Ya..”



Sabtu, 25 Juli 2020

SANG KYAI -45

Sang kyai 45

Malamnya aku nyantai saja, seperti biasa dzikir setelah jam 12 malam, biasanya sampai subuh, tapi baru saja setengah jam aku duduk dzikir, serasa udara di kamarku tak enak, dan serasa hawa murniku menerobos keluar lewat punggung, aku coba menyetop, tapi serasa seperti punggung bagian atas berlubang, dan hawa murni terus saja merembes keluar, seperti udara dingin, wah ada apa ini, kalau kayak gini aku bisa lemas kehabisan hawa murni, ku coba menahan dengan dzikir dan konsentrasi, tapi tetap saja tubuhku lemas, dan makin lemas, dan rasanya terserang kantuk yang dasyat, seperti aku disirep, berulang kali sampai tanpa sadar duduk tertidur, padahal aku bukan orang yang seperti itu, tapi rasa kantuk benar-benar tak bisa kutahan, kadang tasbih yang ku pegang telah jatuh, atau kepalaku sudah menekuk hampir menyentuh lantai, lalu sadar, dan ku kibas-kibaskan kepala, agar rasa kantuk terusir, tapi tetap saja aku mengantuk, ah ini tak beres, aku coba baca dzikir penolak serangan, karena aku merasa ada serangan yang diarahkan kepadaku.

Lalu ku tahan nafas, dan ku pukul lantai, sebentar serangan buyar, dan mataku seperti seketika terbuka, dan rasa kantuk hilang.

Tapi itu hanya sementara, serangan yang ku buyarkan seperti asap yang berputar lalu bertaut kembali, aku tertekan kembali. Dan tiba-tiba seperti ada gumpalan asap hitam melesat masuk ke tubuhku, aku terjengkang, dan muntah, memuntahkan isi perutku.

Aku berusaha menahan muntahan yang tersisa, dan lari ke kamar mandi, dan semua isi perut ku muntahkan, sampai perut rasanya ngilu dan nyeri, badanku rasanya seperti dilolosi, gemetar, dan rasa tak karuan, baru sekarang aku terkena santet dengan telak, sebenarnya aku yang terlalu menganggap ringan permasalahan, padahal aku sudah ditunjukkan dalam mimpi musuhku kali ini bukan orang sembarangan, yang melakukan lelaku memakan bayi yang digugurkan, tapi aku menganggap angin lalu, sehingga aku terhantam, ini juga karena kecerobohanku.

Tiba-tiba ku rasakan di seluruh tubuh clekat-clekit, kayak ribuan jarum menyerang tubuhku, benar apa yang dikatakan Sohib, aku tak mau minta tolong pada siapapun, aku harus bersandar pada Alloh, iman itu harus diuji, keteguhan harus dibuktikan, tawakal itu bukan cuma bicara.

Ribuan jarum yang ku rasakan merajam tak ku perduli, aku melangkah berpegangan tembok, dan kembali ke kamar.

Aku kembali ke kamar pelan-pelan, takutnya membangunkan istriku, dan perlahan meletakkan diri di kasur, ku tata nafas, semua persendian rasanya seperti lepas, aku tak boleh menyerah, aku bersandar pada Alloh, kalau pada syaitan kalah, mau ku kemanakan imanku, keyakinanku? Aku turun di keramik, tidur, tangan ku tempelkan pada keramik, segala pikiran ku konsentrasikan, lalu ku sedot tenaga inti bumi….., dari keramik ku rasakan tenaga prana mengalir, memasuki tubuhku seperti menambal karet yang berlubang, mengalir menjejali dan menjejali, terus aku konsentrasi, serasa tubuhku mulai enak dan menebal, seperti ku rasakan mengeras setiap urat-urat dan kulitku kaku seperti bumi yang mengering.

Setelah ku rasa cukup aku bangkit, dan duduk bersila, menyatukan segenap daya kepasrahan, pada pemilik segala kekuatan. Ku konsentrasikan total seluruh dzikir, terus konsentrasi, sampai tak bergerak beberapa jam, lalu ku rasakan seluruh kekuatan telah melingkupi diriku, seperti kekuatan atom.

Ku lontarkan kekuatan yang mengeram, mengembalikan semua santet yang dikirimkan padaku kembali pada pengirimnya, dengan mengucap takbir yang mengendap seperti endapan kekuatan memecah berhamburan, ja’al haq, wazahaqol batil, datang kebenaran pasti kemungkaran akan musnah, sebab kebatilan itu pasti musnah.

Aku tak tau yang terjadi selanjutnya, yang penting aku tak merasakan lagi santet yang mencoba menyerangku.

Segala anasir jahat semua musnah, musnah tanpa bekas.

“Hallo…!” suara Sohib menghubungi.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kok tetanggaku banyak yang mati ya…?” tanya Sohib.

“Ya kalau sudah sampai kontraknya habis di dunia, ya pasti mati.” kataku bercanda.

“Ini yang mati, orang yang suka menyantetku kok..” kata Sohib.

“La emang kalau suka menyantetmu gak boleh mati? Ya kalau sudah pada waktunya ya tetep akan mati.” jawabku.

“Ya yang aneh kok yang mati yang pada menyantetku, apa tak aneh?”

“Ya tak aneh, la ndak nyantet kamu, rombongan seBus bisa mati kok kalau kecelakaan nyemplung jurang, itu tandanya kadang orang mati juga bisa rombongan, heheheh…” aku berteori ngawur sambil ngetawai Sohib.

“Eh pengen ketemu Kyai gak?” tanya Sohib.

“Aku ndak tau sekarang Kyai di mana, ya jelas pengen ketemu, aku kan juga muridnya, emang kamu saja, mentang-mentang kamu sudah punya majlis, dan sudah punya murid dan jama’ah banyak, dan aku belum punya.”

“Ayo kalau pengen ketemu, nanti bareng ke Jakarta.” kata Sohib.

“Emang Kyai di Jakarta?”

“Iya.”

“Di mana?”

“Di bengkel Macan.” jawab Sohib.

“Ya aku entar malam berangkat.” kataku.

Aku segera menyiapkan tas, rasa rinduku pada Kyai tak tertahan, aku ijin pada istri malam itu berangkat.

Ini di tahun 2010 dan cerita masih berlanjut 2012 masih panjang.

Jam sembilan malam aku berangkat ke Ponolawen, perempatan biasa kalau mau ke Jakarta, tapi bus yang berkarcis sudah pada berangkat. Ah terpaksa harus menyetop bus dari arah Semarang, biasanya kadang apes dapat bus yang sudah sesak penumpang, atau dapat bus yang jelek, suka mogok di jalan dan tak layak jalan, ya Indonesia seperti itu memang kenyataannya.

Jakarta-Pekalongan harga tiket biasanya 45 ribu, ada bus berhenti, dan menawarkan arah Jakarta, sebenarnya enakan kalau aku turun terminal Kampung Rambutan, tapi karena adanya terminal Kalideres juga tak apa-apa, memang kalau ke tempat Macan di Bambu Apus enakan ke terminal Kampung Rambutan, tapi tak apa-apalah daridapa nanti makin malam malah tak mendapat bus.

Aku dapat tempat duduk di tengah, semua kursi banyak yang kosong, dan bus lumayan jelek banget, tak ber AC, suaranya berisik, karena kacanya sudah banyak yang lepas, jadi membayangkan kalau seandainya orang Indonesia itu punya jiwa bisnis seperti di luar negeri, pelayanan konsumen itu diutamakan, untuk mendapatkan pelanggan, tapi jiwa orang yang santun telak membalik, seperti nasi kuning yang dibalik dari tumplek di tanah, semuanya kembali ke HATI, orang komunis saja bisa baik hati, kalau hatinya baik, dan orang Islam sekalipun akan jahat kalau hatinya nifak atau munafik.

Sebenarnya untuk berbudi pekerti yang baik itu manusia tak perduli Islam atau bukan Islam, asal dia mengukur dengan dirinya sendiri, maka pasti berahlak baik, jika suatu perbuatan tingkah laku, jika akan sakit dirinya dibegitukan orang lain, maka pasti orang lain juga sama akan sakit jika dibegitukan, maka tak mau melakukan itu pada orang lain, maka pasti orang akan menjadi baik budi pekertinya.

Karena semua manusia itu sama porsinya, dalam rasa sakit dan kecewanya.

Jika kita itu digigit orang lain, merasa sakit, maka orang lain juga akan sakit jika kita gigit, maka jangan dilakukan pada orang lain, kalau kita ditipu orang lain, tak mau, maka jangan menipu orang lain.

Kalau menggigit mau, digigit tak mau, ya tak beda kita dengan anjing.

Kalau memakan mau dan dimakan tak mau, sama dengan Harimau.

Manusia itu juga mudah ditebak, selalu suka menutupi kekurangan, dengan menunjukkan apa yang dia dalam kekurangan itu, orang yang keringetnya bau, akan suka memakai pewangi berlebih, orang yang pendek akan suka memakai sepatu berhak tinggi, orang yang minim bahasa arabnya akan suka bicara memakai istilah banyak bahasa arab, orang yang ilmunya cetek, setiap bicara akan mengait-ngaitkan dengan ilmu sare’at, orang yang kepahamannya dangkal akan suka manggut-manggut dan suka tertawa bila teman bicaranya tertawa. Orang miskin akan bergaya sok kaya.

Sebab orang yang tinggi itu tak akan menunjukkan ketinggian tubuhnya, orang yang paham bahasa Arab itu tak perlu menunjukkan kepahamannya, orang yang pinter agama, tak usah bicara juga orang akan tau dari perbuatan wira’inya menjaga dari melanggar hukum agama.

Jadi gampang sebenarnya mengetahui karakter kekurangan seseorang itu di bidang apa.

Kondektur menghampiriku, ku berikan uang 45 ribu.

“Kurang mas…” kata kondektur itu.

“La berapa?” tanyaku.

“75 ribu.” jawabnya.

“Lho apa sesuai dengan nilai kerusakannya?”

“Kerusakan apa mas..?” tanya kondektur.

“Ah tak apa-apa.” kataku lalu memberikan uang 30 ribu.

Kondektur berlalu, dan aku mengukur, jika terjadi tabrakan aku juga bertempat di tengah, tak apa-apa, pikirku.

Lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, dan memilih tidur. Sampai di tol Cikampek, aku terbangun seperti ada yang membangunkan, lalu aku duduk agak merendahkan kepala, dan “DAAARRR..!, DAARRR..!” suara tabrakan bus, dengan truk di depan, jadi bus menabrak belakang truk, benturan keras sampai 5 kali, kaca depan semua habis, berhamburan, ku dengar kaca beterbangan di atas kepalaku.

Kurasa uang 30 ribuku tak akan cukup menutupi kerusakan bus, dan kondektur yang menarik uang padaku yang terjepit, tak tau bagaimana kakinya.

Aku sih tak apa-apa jika ditipu atau didzolimi, Alloh itu maha melihat, maha cepat azabnya. Sekian waktu menjalani proses perjalanan kok masih belum bisa membuatku legowo jika dipukul orang, maka aku harus kembali jadi orang gila yang harus mengelilingi tanah Jawa.

Jadi ingat, aku di rumah jualan bensin eceran, ada orang beli bensin, aku menuang, dan ada setetes dua tetes yang jatuh, pembeli bilang, “Ya aku rugi mas kalau bensinnya diteteskan gitu.” katanya.

“Ya ndak papa aku ganti.” jawabku, lalu mengambil bensin seliter dan ku tuang, sebagai ganti setetes dua tetes yang dia keluhkan.

Anehnya tiga hari orang itu sudah tak bawa mobil, katanya mobilnya hilang ketika diparkir. Ya kalau dia tau mobilnya akan ditukar dengan seliter bensin, pasti dia akan menolak mati-matian waktu ku beri seliter bensin.

Semua penumpang turun, dan sopir sama kondektur yang terjepit menjerit-jerit, aku tak bisa berbuat apa-apa, apalagi aku kalau melihat darah suka mau pingsan.

Mobil derek jalan tol datang, dan bagian depan bus ditarik baru kondektur bisa dikeluarkan, dan keluar dari bus dalam keadaan dipapah, kaki satunya tak tau patah apa tidak, aku hanya melihat dari jauh saja.

Lalu penumpang disuruh naik bus lagi, dan bus jalan dengan diderek mobil derek.

Kami diturunkan di pintu tol, enaknya pas ada bus jurusan Kampung Rambutan, aku segera naik.

Sampai di Kampung Rambutan langsung naik angkot ke arah Ciracas, dan sampai di Ciracas dijemput santri ke Bambu Apus, kata murid-murid internetku yang tinggal di dekat situ mau datang menemuiku, ada Budi, Joe, Asenk, dan entah siapa lagi, aku lupa namanya.

Sampai di Bengkel, Kyai memanggilku ke kamar pribadinya, dan aku diajak makan, diberi nasehat dan diajak makan, juga ditalkin, sejak sepuluh tahun, aku sudah dibai’at lama, tapi sesudah sepuluh tahun baru ditalkin.

Aku itu murid mau diapakan atau digimanakan Kyaiku, maka aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya, dan tak pernah memikirkan, tak mengejar apa-apa, dan menjalani saja apa yang ada, tak pernah meminta ilmu ini atau itu, dan tak pernah meminta amalan ini atau itu, apapun yang diberikan Kyaiku, akan aku jalankan berulang kali, tak pernah bosan, bukan orang yang suka meminta amalan baru dan amalan lama dilupakan.

Sebab menurutku ilmu itu bernilai kalau kita benar-benar menguasai, mengistiqomahkan.

“Mas Ian buka toreqoh ya..!” kata Kyai.

“Siap kyai, saya siapkan majlisnya dulu.” kataku.

Kyai banyak memberikan petuah yang bersifat isyarat, dan aku selalu tak mau menerjemahkan apa yang kyai katakan padaku dengan seketika, ku biarkan saja mengendap di pikiran dan hatiku, ku simpan dan biar jika saatnya aku akan mengerti sendiri, bukan menerjemahkan dengan akal dan akal-akalan.

Iman dipandang dari sudut ma’rifat itu bisa diperoleh dari dua jalan, yaitu jalan pikiran dan jalan hati.

Jalan pikiran kita, dipakai menerjemahkan apa yang terbaca indera, seperti orang melihat gumpalan kecil lalu pikiran membacanya dan mengatakan penerjemahan apa yang tertangkap oleh indera mata, dan mengatakan itu garam, lalu tangan meraba, dan lidah menjilat sebagai penguat apa yang diterjemahkan akal, ternyata asin.

Tapi siapa yang tau warna asin, tak ada yang bisa menjelaskan, asin warnanya bagaimana, dan ekpresi orang berbeda-beda jika merasakan warna asin. Orang berekpresi merem ketika merasakan rasa asin, tak bisa orang lain mengatakan ekpresi itu salah, sebab itu hak setiap manusia. Yang jelas yang dibutuhkan oleh manusia itu bentuk putihnya garam, atau rasa asin untuk membuat asin makanan, yang dibutuhkan adalah rasa asin, bukan bentuk butiran garam, buktinya bukan bentuk garam yang dimakan manusia, tapi rasa asin yang sudah tak ada bentuknya garam, karena sudah menyatu dengan makanan.

Tapi keringat juga kan asin, apa ada mau orang makanannya kurang asin, lalu ditetesi keringat biar asin?

Pasti tak akan ada yang mau. Berarti sekalipun asin, maka yang dibutuhkan manusia itu bukan asal asin saja, tapi penerjemahan indra diyakini kalau yang dicampur makanan itu benar-benar asli garam, bentuk sare’atnya garam, yang dikeringkan dari air laut, dan mengkristal, berbentuk garam. Tak ada hakikatnya semua alam ini, sebab hakikatnya alam ciptaan ini adalah menunjukkan hakikatnya Alloh.

Seperti pabrik mobil menunjukkan hakikatnya perusahaan mobil.

Garam itu asin, tapi asin belum tentu garam, jadi sifat asin bukan hakikatnya garam. Tapi menjadi sifat, seperti batu itu keras, ager-ager itu lembek.

Jadi akal itu bisa menguraikan apa yang ditangkap indra, dan penerjemahan akal orang yang berilmu itu akan menguraikan dan menterjemahkan apa yang asalnya cuma sifat menjadi zat, atau di setiap ada zat atau jisim, badan kasar ada badan halus, atau inti, dan di balik inti ada intisari, dan di balik intisari ada saripati.

Di umpamakan ada seekor semut yang melihat seseorang memilih-milih jeruk, si semut bertanya-tanya apa yang dilakukan orang tersebut, lalu si semut tau setelah orang itu memilih jeruk yang mateng, ooo ternyata mau membeli jeruk yang berwarna kuning. Jadi dipilih yang berkulit kuning, semut menyangka bahwa orang tersebut mau memanfaatkan kulit jeruk, buktinya kulit jeruk sangat menentukan jatuhnya pilihan orang tersebut. Lalu jeruk dikupas, si semut heran karena kulit yang susah-susah dipilih warnanya itu ternyata hanya dibuang ke tempat sampah, dan isinya diambil, semut mengira, kalau ternyata yang mau dimanfaatkan itu daging buahnya.

Tapi lagi-lagi semut heran, dengan sebab daging buah itu ternyata diperas airnya, ampasnya dibuang. Dan airnya ditaruh di gelas, baru si semut paham kalau yang diambil manfaat ternyata airnya, tapi semut lagi-lagi heran, sebab air jeruk itu diminum orang itu, dan semut mengikuti ke dalam tubuh, di mana vitamin C diambil dari air jeruk itu dan dimanfaatkan tubuh, sementara yang tak berguna dibuang bersama keringat dan kotoran.

Jadi proses panjang, dari intisari yang terdapat pada sebuah jeruk, hanya diambil tubuh bagian terkecilnya, dan mampunya akal itu hanya menguraikan yang terlihat, dan bisa diakal oleh ketajaman akal. Sehingga kejadian itu diketahui telah dirancang sedemikian rupa.

Dalam setiap kejadian dan posisi suatu benda itu tak lepas dari kehendak yang mengatur, dan ketentuan yang tertanam.

Atau sering disebut qudroh irodah. Dan qudroh irodah atau qodo’ qodar itu harus kita imani keberadaannya, seperti kita imani adanya Alloh dan malaikat.

Tapi itu semua tak terlihat, siapa orang yang tau taqdirnya? Maka tak ada yang tau, sebab tak terlihat atau disebut gaib.

Untuk mengimani hal yang gaib manusia perlu membuka mata hatinya, yang kasar itu bisa dilihat dengan mata dan yang gaib itu bisa dilihat dengan mata hati.

Daging jeruk itu bukan gaib, karena jika dikelupas kulitnya maka itu bisa dilihat dengan mata telanjang.

Yang gaib itu, apa yang tak bisa diuraikan dengan jisim atau dalam bentuk zat padat, kecuali dengan pentakbiran, atau pemisalan, karena tak bisanya akal menerjemahkan kecuali membuat perumpamaan.

Seperti ketika Nabi ditunjukkan tentang bumi dalam keutuhan sifat, maka bumi itu seperti nenek tua yang jompo, sakit-sakitan dan memakai bedak yang tebal, juga perhiasan yang berlebihan.

Penggambaran itu akan mewakili suatu keadaan, karena tidak ada bentuk untuk menjelaskannya, kecuali membuat permisalan untuk menjelaskannya.

Jika gaib itu bisa diceritakan dengan menunjukkan zatnya, maka tidak gaib namanya. Makanya penceritaannya itu memakai perumpamaan, atau kata-kata penyerupaan.

Dan akal harus dibendung ditutup dari menerjemahkan dengan logika akal, jika dilogikakan akal, akal pikiran akan terjebak dengan keraguan dan kemandekan pada batas logikanya akal, maka yang gaib itu hanya bisa diuraikan oleh yang gaib, yaitu ruh, alam hati dan mata hati.

Sebagaimana mata dzahir kita yang tak bisa melihat, karena kemasukan benda, maka mata hati juga akan tak bisa melihat jika dimasuki berbagai kepentingan, dan keinginan, seperti semut yang melihat keinginan orang memilih jeruk dia berprasangka keinginan seseorang itu memilih warna jeruk itulah yang menjadi tujuan utama dari proses pencarian, karena keterperangkapannya akal, menilai mendahulukan logika.

Dan logika itu selalu mencari yang dekat dalam penilaian dan yang termudah dilakukan. Itu sifat akal, selalu mencari solusi termudah untuk menyelesaikan masalah.

Sedang yang gaib itu perlu kejernihan hati untuk membaca. Sehingga yang benar tak asal dibaca dengan akal-akalan, tapi dengan pemahaman. Seperti seorang perempuan yang memoleskan lipstik di bibir, kenapa tidak di telinga, juga kenapa warnanya merah, tidak coklat atau hijau, tujuan perempuan itu tak akan terlihat disaat memoleskan lipstik di bibir, padahal tujuan atau kehendak itu terjadi sebelum kejadian.

Murid yang lain selalu menerjemahkan dengan pikiran masing-masing, apa yang disampaikan Kyaiku, atau anak-anak sering menyebutnya siloka, aku sendiri tak berani menerjemahkan apa yang disampaikan Kyai, dan menunggu Alloh memberi ilham kepahaman padaku, dan aku akan menerima kepahaman itu dengan kejernihan mata batin, sejernih aku mampu menjernihkan, karena aku sendiri yang masih bergelimang dosa dan keinginan.

Sepulang dari Jakarta, aku merancang pembangunan majlis dari dana yang ada, ku jualkan tiga sapi dan uang tabungan, maka terbangunlah majlis sederhana, sampai saat ini yang ditempati dzikir.

——————————————

Setelah hari raya idhul fitri, seperti orang lain, aku juga mudik, tapi menunggu tamuku di Pekalongan sepi,

Setelah sepi baru aku, istri dan anakku ke Jawa Timur.

Biasa kalau di Jawa Timur, langsung biasanya akan banyak orang yang datang ke rumahku ada yang minta amalan, atau minta diobati penyakitnya.

Di Tuban sendiri, karena pernah ada kebakaran, sebelum kebakaran terjadi masa sebulan sebelumnya aku memperingatkan yang punya rumah, agar hati-hati akan terjadi kebakaran sebulan lagi, hati-hati dengan api.

Tapi takdir Alloh terjadi juga, dan terjadi kebakaran, walau hanya dua rumah yang terbakar dan api bisa dipadamkan, setelah kejadian itu setiap aku ke Jawa Timur, akan banyak orang datang minta amalan atau diobati penyakitnya.

Juga hari itu, aku belum sampai rumah, orang-orang sudah menunggu, sehingga aku tak sempat istirahat.

Ada beberapa orang, yang datang, satu persatu ku layani setelah sholat magrib, kursi penuh dan yang lain duduk di lantai, yang menghadapku pertama orang yang dari luar kecamatan, biar segera bisa pulang.

Yang menarik perhatianku ada seorang lelaki bernama Muhadi,

“Apa pak keluhannya?” tanyaku pada Muhadi lelaki jangkung kurus berumur 50 tahunan.

“Ini Ian aku sakit di kaki,” katanya menunjukkan kakinya yang dari pergelangan sampai lutut membusuk.

“Wah kok sampai begitu pak, apa ndak dibawa ke dokter?” tanyaku.

“Ya sudah ku bawa ke dokter Ian, ini sama lukanya dengan luka yang dialami istriku.” katanya.

“La istrinya di mana, kok tak dibawa kesini sekalian?” tanyaku.

“Istriku sudah meninggal.” katanya sedih.

“Oo maaf.”

“Ini wong lukanya tak wajar kok Ian..” jelas Muhadi.

“Iya saya juga lihat tak wajar,” kataku.

“Awalnya bagaimana itu pak?”

“Ini sebenarnya awalnya adalah hal yang sepele, saya dan istri itu jual beli beras, nah ada salah seorang yang selalu ngutang beras kami, ya kami kasih, sampai banyak kami tagih hutangnya, kan wajar to nagih hutang, ee dia marah, dan mengatakan jangan dikira kami tak mampu bayar hutang, hutang akan kami bayar, tapi setahun kemudian tak dibayar, ya kami tagih lagi hutangnya, ee malah mereka marah-marah, dan mengatakan mau nyantet, dan kok malemnya rumah kami kayak ditaburi pasir, lalu ada ledakan, dan besoknya istriku kakinya gatal sekali, lalu terjadi pembusukan, terus membusuk, pernah kami obatkan ke dokter juga percuma tak sembuh, juga ku obatkan ke dukun, malah dukun yang lumayan bisa datang ke rumah, dan di dalam tanah rumahku disuruh gali, ternyata di dalam tanah ada kayak bungkusan pocong kecil sepanjang 35 cm, tapi la kok aneh.”

“Anehnya bagaimana pak?”

“Anehnya bungkusan itu hidup, jadi lari masuk di dalam tanah, bentuknya kayak pocong-pocongan gitu, maka aku disuruh menggali tanah lain, untuk menghadang arah larinya.”

“Tapi, setiap ku hadang, maka pocong-pocongan itu membelok ke arah lain, dan itu tidak lewat lubang larinya, tapi masuk dalam tanah gitu, setelah seharian usaha, pocong-pocongan dapat di tangkap semuanya ada tuju.”

“Wah di dalamnya apa ada tikusnya? Kok bisa lari dalam tanah?” tanyaku yang terus terang merasa heran.

“Ya aku sendiri tak tau Ian, la setiap ada yang tertangkap maka langsung dimasukkan kendil tanah liat, tapi menurut penjelasan dukun, dia cuma bisa mengeluarkan yang di tanah, sementara yang di udara masih ada,”

“Ada juga yang di udara? ” tanyaku.

“Iya ada.”

“Lah lalu bagaimana bisa? Kalau aku tak tau ilmu seperti itu, ilmu kok ya aneh-aneh.” kataku geleng-geleng kepala.

“Tapi dukun itu menyarankanku meminta dukun yang lain, yang bisa mengeluarkan yang di udara, aku diberi alamatnya, maka akupun segera mencari dukun itu, dan ku mintai tolong, dan dukun itu juga mau, lalu ke rumahku, dia bersemadi di tengah rumahku, sambil bakar kemenyan, dan membuat sesaji kembang tujuh rupa, dan kelapa hijau, serta kopi pahit. Lalu dukun itu selama satu jam bersemedi, kemudian berdiri dan menarik sesuatu dari tengah udara, dan yang ditarik itu kain mori orang mati, sampai pengerjaan selesai. Tapi Ian, istriku ya tetap tak sembuh, dan akhirnya meninggal dunia, sekarang aku yang terkena penyakit yang pernah dialami istriku, tiap malam di rumahku selalu ada ledakan dan kayak ada pasir atau tanah kering ditaburkan, suaranya seperti gerimis sebentar gitu, nah bagaimana Ian, aku minta kau do’akan, supaya penyakit yang ku derita ini sembuh dan aku tak kambuh lagi.”

“Ini sekarang ku kasih air saja dulu ya pak, besok ke sini sorean gitu, biar aku bikinkan pagar rumah, dari kerikil yang ditanam di pojok rumah, biar tidak kena santet lagi, kalau sekarang sudah malam.”

“Iya insaAlloh aku besok akan datang lagi.”

Lalu ku berikan air untuk penyembuh dengan media do’a dan pagar badannya.

Ganti seorang lagi.

Menemuiku lagi seorang tua, berjalan tertatih-tatih, dengan tongkat, yang ku tau bernama mbah Mulyono.

“Ada apa mbah…?” kataku pada kakek berusia 70 tahunan itu.

“Ini Ian, kakiku sakit sekali, tak bisa dipakai sholat jama’ah di masjid, tolong kau obati.” kata mbah Mulyono sambil membuka sarungnya.

“Coba tak pegangnya ya mbah…! Coba ditekuk mbah, diluruskan, ditekuk.” kataku berulang-ulang sambil ku salurkan tenaga prana ke sela lutut mbah Mulyono. Terdengar suara kletuk.

“Wadow enteng sekali.” kata Mbah Mul.

Lalu ku lakukan pada kaki satunya, sampai terdengar suara kluthuk, pertanda pergeseran tulang telah kembali ke semula.

“Bagaimana, enakan mbah?”

“Iya enak.”

“Coba dipakai berdiri mbah.”

Mbah Mulyono pun berdiri, awalnya takut-takut, tapi setelah merasa tidak sakit dia mulai berjalan wira wiri.

“Aku pulang dulu ya Ian, terimakasih.”

“Iya mbah silahkan, la ini tongkatnya tak dibawa mbah?”

“Udah tak usah, untukmu saja.” kata Mbah Mulyono.

“Hehehe… makasih mbah, jangan lupa rajin jama’ahnya.” kataku mengantar kepergian mbah Mulyono.

Seorang lagi masuk, dia ku tau bernama kang Darwis. Dia orang terkaya di kampungnya yang aku tahu, dulu waktu aku kecil sering dibelikan layangan sama dia.

“Ada apa pak Darwis?” tanyaku.

“Ya seperti yang lain Ian, mau minta tolong padamu.”

“Apa masalahnya pak?”

“Nanti dulu Ian…”

“Kenapa pak?”

“Aku hanya ingin menatapmu lama-lama.”

“Memangnya kenapa pak?”

“Aku hanya ingat di waktu kecilmu, dulu aku sudah mengira kamu ini akan menjadi orang linuwih, malah aku bilang ke ibumu, tapi ibumu mana mau percaya.”

“Ah biasa saja to pak.”

“Ah tidak kau waktu kecil itu aneh.”

“Aneh bagaimana pak?” tanyaku heran.

“Lo apa ibumu tak cerita soal masa kecilmu.”

“Ndak itu pak, la masa kecilku bagaimana?”

“Kamu tau? Dulu masa kecilmu, kamu kan diasuh Sarminten yang gila itu.”

“Walah masak bisa begitu pak, kalau itu bukan suatu prestasi lah, namanya aib.”

“Ee nanti dulu, Sarminten itu pasti jadi orang waras kalau sudah momong kamu, diajak jalan kesana kemari, kalau sudah gendong kamu, pasti jadi waras edannya, apa ndak aneh, makanya ibumu tak keberatan kamu diurus Sarminten.”

“Memang ada cerita seperti itu?”

“Ya kamu kan bisa tanya ke orang tua-tua.”

“Trus semua orang gila desa kita ini, setiap hari bergantian ngisi kolah kamar mandimu, anehnya mereka semua gantian mengisi kamar mandimu, jadi harinya kayak terjadwal, padahal kan rumah mereka berjauhan, apa itu tak aneh?”

“Ya itu kan masa lalu to pak Darwis, masalahe panjenengan nopo?” tanyaku, karena masih ada beberapa orang yang menunggu ku selesaikan masalahnya, walau tubuh penat, dan sudah ngantuk, tetap saja hati harus legowo menerima siapa saja, menjadi orang yang dijadikan pengaduan masyarakat, dan kita diminta mengadukan kepada Alloh itu kudu lebih beberapa kali sabar, tapi aku juga sama sekali tak mempermasalahkan pak Darwis yang maunya mengenang masa lalu.

“Ian kamu tau tidak kalau aku sekarang ini sudah miskin, dan sudah tak punya apa-apa, semua harta kekayaanku ludes, tak tau ini karmaku atau bagaimana.”

“Masak kekayaan panjenengan yang sebegitu banyaknya bisa ludes, belum lagi burung walet yang menghasilkan jutaan tiap bulan itu semua ludes?”

“Iya, semua ludes.”

“La masalahnya apa? Apa panjenengan punya hutang sama bank?” tanyaku.

“Bukan, bukan masalah itu,”

“Lalu masalah apa?”

“Awalnya, kamu ingat dengan Laila anak perempuanku?” tanya pak Darwis.

“Ya ingat.”

“Laila itu pernah diminta oleh pak Rudin.”

“Maksudnya pak Rudin yang jadi dukun itu?” tanyaku.

“Iya yang sudah tua itu, awalnya Laila dikasih ini itu, tiap di jalan diberi ini itu, lalu sama pak Rudin yang sudah umur 50 an itu, ternyata mau dinikahi, ya aku sendiri saja lebih tua pak Rudin, ya ngiranya Laila, dia diberi apa-apa, pak Rudin tak punya maksud apa-apa, jadi diterima, ternyata malah mau menikahi Lalila, ya Laila gilo, jeleh (bahasa Pekalongan), ya aku sendiri jelas menolak, la karena ku tolak itu kok malah dia mengancam akan menghancurkanku. Ya perkirakanku maksudnya menghancurkan, menghancurkan apa, la kok ternyata semua bisnisku hancur, semua ayam mati, semua usahaku macet, dan aku bangkrut, bahkan waletku pada kabur. Hanya dalam dua bulan setelah aku diancam, setelah itu semuanya ludes. Memang tetangga sering melihat pak Rudin mengitari rumahku di malam hari, menyebarkan beras kuning dan kembang, dan aku dilapori tetangga, tapi tak ku perduli, tapi sekarang pun aku sudah berusaha bangkit, tapi sampai setelah semua habis, sampai saat ini semua order kontraktor semua belum ada yang berhasil, sampai-sampai temanku mengajak memakai dukun untuk melancarkan bisnis kami, bahkan aku pernah di ajak temanku mencari dukun terkenal di daerah Batang, dekat Pekalongan itu, aku dan temanku diberi syarat untuk bertapa semalam di tepi air tempuran, kata dukunnya jangan sampai gagal, kalau ada gangguan apapun kok gagal, maka usahanya tak akan berhasil, la kebetulan temanku itu pemberani, dia bertapa di tepi sungai tempuran (pertemuan empat jalur sungai), mungkin disengaja, sengaja tempat yang dipakai temanku diolesi trasi, agar datang para biawak, tapi temanku itu pemberani walau dikepung biawak, sampai pagi temanku itu kuat.”

“Lalu apa berhasil cara itu?” tanyaku.

“Sama sekali tidak.” jawad Darwis.

“Pak… sebenarnya bisnis apa saja, jika disertai masuk toreqoh, insaAlloh akan lancar, karena antara lahir dan batin saling melengkapi.” jelasku.

“Ya nanti itu mudah masuk toreqoh, tapi mbok sekarang aku kamu do’akan agar bisnisku gol.” aku sekarang lagi tawar menawar harga soal menguruk sepanjang rel kereta api dari Babat sampai Bojonegoro, diuruk pakai batu koral, nah itu kamu do’akan berhasil, nanti kamu tak kasih komisi.”

“Heheh… komisinya untuk panjenengan, panjenengan kan yang lebih membutuhkan.” kataku. “insaAlloh saya do’akan.”

“Oh ya kalau kamu ngasih amalan biar temanku saja yang mengamalkan, temanku ini sudah pakarnya menjalankan puasa, mau puasa mutih, ngebleng, bahkan pernah seminggu tidur miring di makamnya sunan Bonang.”

“Walah tidur miring, apa maksudnya?” tanyaku heran.

“Ya tidur miring, menjalankan lelaku.” jawab Darwis.

“Walah kok sampai gitu, la aku saja belum pernah, ya tentu dia lebih sakti, aku jadi malu kalau ngasih amalan dia.”

“Ya bukan begitu, walau dia sudah menjalankan amalan macam-macam, juga pernah dalail selama tiga tahun setengah, tapi tak ada yang nempel ilmunya, jadi semua amalannya tak mangsah apa-apa.” jelas Darwis.

“Ya kalau ngasih amalan sih aku senang saja.” jelasku.

“Man…, Wagiman sini…!” panggil pak Darwis, kepada salah seorang pemuda kurus, di antara tamu yang sedang ngobrol di kursi tamu. Yang dipanggil Wagiman pun mendekat.

“Ini Man mau diberi amalan.” kata pak Darwis.

Aku masuk sebentar untuk mengambil lembaran amalan, dan ku serahkan pada Wagiman.

“Itu amalannya cara mengamalkannya sudah tertulis. Tapi akan ku jelaskan.” kataku pada Wagiman yang sedang memegangi catatanamalan puasa dariku.

“Nggak usah diterangkan, saya sudah paham, puasanya juga hanya puasa biasa, pasti saya amalkan.” kata Wagiman seperti meremehkan amalan yang ku beri. Mungkin tak seberat amalan dia yang ngebleng (puasa sehari semalam).

“Ini juga puasanya ringan, saya akan jalankan.” kata Wagiman.

Lalu pak Darwis dan Wagiman minta diri.

Setelah hari itu aku tak bertemu lagi dengan pak Darwis, cuma dia pernah nelpon setelah beberapa bulan, mengatakan kalau ordernya menguruk rel sedang dijalani, dan aku bertanya soal Wagiman, apa amalanku sudah dijalankan.

“Wagiman waktu itu besoknya langsung puasa, tapi langsung pingsan, dan lumpuh sampai sekarang, ku suruh meminta obat pada mas Ian, tapi dia malu, jadi sampai sekarang masih lumpuh.” cerita pak Darwis,

Aku hanya menarik nafas gegetun, amalan yang ikhlas karena Alloh, dengan amalan yang karena jin, tentu beda, dan yang ikhlas biarpun kelihatannya sepele, sebenarnya lebih berat, karena berkaitan dengan kebersihan hati.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...