Selasa, 23 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -15

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -15

Malam itu kembali aku menginap di setasiun, besoknya aku ikut kereta api KRD ke Surabaya, setelah dapat tempat duduk, aku pun tenggelam dalam wiridku, kereta belum juga berangkat, walau jam telah melewati waktu jadwal keberangkatan, di sebelahku kursi kosong, datang seorang pemuda kurus ceking dan duduk di sebelahku,

“Assalamualaikum mas…” sapa pemuda kurus di sebelahku.

“Waalaikum salam….” jawabku acuh, karena masih tenggelam menulis lafad Alloh di kalbuku.

“Maaf mas, mengganggu….” katanya.

“Tak apa-apa, wong tempat duduk ini disediakan untuk penumpang.” kataku tak acuh.

“Bukan itu mas, maksudku mas kan yang gila di setasiun Bojonegoro? Sebab tadi saya tanya para pedagang asong, kalau yang selama ini jadi orang gila di setasiun itu mas.” kata lelaki ceking itu, dan membuatku terperanjat.

“Ada apa sampean mencari saya?” tanyaku heran.

“Anu mas, biar saya ceritakan saja diri saya, saya dari keluarga berbagai macam agama, di keluarga saya ada yang Hindu, Budha, Kristen, dan saya bingung mau milih agama apa? Saya pernah mencoba berbagai agama, selain Islam, tapi saya tak pernah merasa sreg dan cocok, nurani saya mengatakan semua tak benar, nah seminggu yang lalu saya ke salah satu kyai di Kediri minta petunjuk, lhoh kok dia malah menyuruhku minta petunjuk pada orang gila yang masih muda, berambut gondrong yang ada di setasiun Bojonegoro, kemaren saya sudah datang di setasiun tapi orang gila yang dicirikan oleh kyai Kediri itu tidak ada di setasiun Bojonegoro, lalu saya malamnya menginap di seorang kenalan, lalu tadi pagi saya datang lagi ke setasiun, saya cari-cari, juga tak ada, lalu saya tanya pada penjual asongan ciri-ciri orang gila yang ada di setasiun, pasti mereka pernah melihat, lalu mereka pada menunjukkan mas, yang saat itu tengah duduk di bangku, saya ragu, sebab mas tak seperti orang gila, maaf, pakaian, tubuh, juga tampang bersih, jadi saya ragu, lalu mas naik kereta jurusan Surabaya, ya daripada pencarian saya tak mendapatkan hasil, maka saya samperin aja mas, dan inilah yang terjadi.”

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Saya, Arifin mas, dari Jombang. ” jawabnya.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

“Aku minta petunjuk dari mas, apa yang harusnya ku lakukan?” katanya, sementara kereta mulai jalan.

“Kau sudah mendapat hidayah dari Alloh, memeluk agama Islam, adalah hidayah yang lebih mahal dari nyawa, karena apa gunanya amaliyah segunung, kalau tidak muslim, maka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kebaikan di dunia, di akhirat hanya menerima rentetan siksa demi siksa tanpa ujung dan perhentian, maka jika kamu bisa menjadi Islam, sungguh suatu karunia yang tiada terkira, di suatu daerah aku pernah melihat anak kecil seorang anak keluarga Kristen, tapi aneh walau anak itu baru berumur 10 tahun, dia telah masuk Islam, tanpa ada yang mengajak, waktu ulang tahun yang diminta ke orang tuanya apa? Peci, baju taqwa, dan sajadah, lalu dia ikut jamaah di masjid, orang tuanya tau itu kemudian marah, dia dipukul sampai babak belur, disiksa, tapi tetap saja dia ke masjid, nah itulah hidayah dari Alloh,”

“Aku jadi merinding mas, lalu apa yang harus ku lakukan mas…?”

“Pergilah ke kyai Maimun Zubair, Sarang Rembang, ceritakan keadaanmu, dan mintalah diIslamkan.”

“Prak… bug… prak..!” tiba-tiba terjadi ribut dalam kereta, tepat di depanku dua preman berantem, dan terjadi pergumulan yang seru, karena entah merebutkan apa, nampak pemuda yang satu sudah benjol wajahnya karena dipukul, para penumpang menjerit, tiba-tiba pemuda yang benjol mencabut pisau dan dihujamkan ke pemuda musuhnya, sepersekian detik aku tak sadar begitu saja melompat, tanganku menangkis pisau, hingga pisau mental, dan otomatis aku di tengah jadi sasaran pukulan kedua preman yang telah gelap mata, kedua tanganku ku bentang menangkis kedua pergelangan dua pemuda itu, “krak..!” Kedua pemuda itu mengaduh dan mundur memegangi pergelangan masing-masing, keduanya menatapku, heran dan ada pandangan takut, padahal bodi keduanya besar jauh di atasku,

“Kalau bikin ribut dalam kereta, ku lempar kalian keluar…!” bentakku.

“Enggak mas…! Enggak.,” jawab mereka berdua mundur-mundur, dan sebentar datang kondektur menenangkan suasana, dan aku pun duduk di tempat dudukku semula.

“Wah mas berani, aku sudah takut kalau sampai ada yang terluka,” kata Arifin.

“Ah tak apa-apa, cuma anak berandalan.” kataku tenang.

“Lalu bagaimana mas, tentang saya?”

“Iya kamu pergi aja ke pesantren Sarang Rembang.” kataku menerangkan agak keras, karena suara rem kereta yang berderit keras, dan kereta perlahan berhenti di setasiun Babat.

“Aku turun sini aja.” kataku pada Arifin.

“Lho ndak ke Surabaya to mas?” tanya arifin.

“Enggak” jawabku sambil lalu berdesakan dengan para penumpang yang mau naik kereta.

Setelah turun kereta, aku pun mencari warung untuk sarapan pagi, ku masuk sebuah warung dan memesan pecel khas Lamongan, makan dan sambil memandang orang yang lalu lalang.

Seharian tak ada aktifitas yang ku lakukan, kecuali diam di mushola setasiun menjalankan wirid sampai tertidur, lalu sholat dzuhur dan wirid lagi, tenggelam di dasar suara hati.

Malam itu, sekitar pukul 3 dini hari, aku tidur sendiri di musholla setasiun, tiba-tiba serasa ada yang membangunkanku. Aku terperanjat dan bangun, tengak tengok tak ada siapa-siapa, aku heran, lalu siapa yang membangunkanku? Aku bangkit dan keluar dari mushola, di luar segera angin dingin berhembus, menebar bau minyak pelumas roda kereta yang tercecer, suasana teramat hening, tak ada seorangpun berkeliaran, ku berjalan ke salah satu kursi tunggu, duduk dan mengeluarkan rokok Djarum dan menyalakan dengan korek.

Belum sampai lima menit aku duduk di kursi tunggu, kereta barang tiba dari Surabaya, suara rodanya beradu dengan rel menjerit memekakkan telinga, kereta berhenti perlahan, beberapa penumpang gelap melompat dari sambungan gerbong, turun, aku tetap santai menikmati hisapan demi hisapan rokok.

Tiga penumpang, yang turun dari sambungan gerbong ternyata pemuda-pemuda, dan ketiganya menghampiriku, dan aku kaget, ternyata salah satunya adalah pemuda yang kemarin siang ku tangkis pisaunya,

“Benar ini orangnya.” kata pemuda yang kemarin ku tangkis pisaunya.

“Wiiit… wiiiet..!” pemuda yang lain bersiul nyaring.

Dan dari setiap gerbong melompat pemuda, dan banyak sekali, dan membuatku tergetar juga, mungkin sebanyak 20 orang atau bahkan lebih, dan kilauan pedang di setiap genggaman mereka.

“Apa mau kalian?” kataku berdiri dari kursi, dan menikmati sedotan terakhir dari puntung rokok yang ku pegang. Ah mati aku, tentu mereka akan mengeroyokku, aku membayangkan tubuhku dicacah pedang dan dibiarkan tergeletak dirubung lalat, dan kemudian dibungkus tikar, lalu tercatat di surat kabar, seorang gelandangan dibunuh di setasiun, dan ayah ibuku menangisi kematianku, ah betapa pendeknya usia, berdesir darahku, suara jantungku bledag bledug tak karuan, aku manusia biasa, yang tak tau kapan akan mati, dan akan mati yang bagaimana?

Ah benar-benar membuat keberanianku kuncup, terbang atau entah kemana?

Aku jadi ingat waktu jadi ketua gank dan dikeroyok 20 orang, dulu aku nekat, tapi sekarang, hidup dengan iman begitu nikmat dan mengasikkan, andai disuruh memilih mati yang bagaimana? Aku lebih memilih mati dalam keadaan sholat, tidak mati dikeroyok, tapi apa dayaku, aku coba tenang dan membangkitkan tenaga yang selama ini mengeram di pusarku, walau ku lihat sudah tidak keburu, karena kulihat semua orang telah merangsek maju, memburu menikam dan membacok tubuhku, aku hanya sempat mengucap takbir, melompat maju, membuat perlawanan sekenanya….

Berkelit kesana sini dan melepas bogem, sekenanya, tanpa memilih mana dan siapa yang kupukul, yang jelas perlawanan karena ditimbulkan dalam kepanikan, tapi hatiku yang telah tiap hari ku gantungkan padaNya tak lupa berdoa, “Wahai Dzat, wahai Kekasih…, apakah kau biarkan aku teraniaya mati di sini? Engkau yang lebih kuasa dari segala sesuatu….”

Mungkin baru 2 orang yang kupukul, dan dalam kengerian dan kepengecutanku aku memukul dengan mata terpejam teramat rapat.

Suasana sepi, aku belum membuka mata, apakah aku telah mati? Membuka mata ku rasa lebih menakutkan.

Tanganku masih mengepal gemetar, mata masih terpejam, suara kereta api barang telah tak ada, bau minyak rem, terbawa desir angin, apakah aku yang telah mati dan beginikah rasanya, tapi kenapa tak kurasakan sakit sama sekali, sakitnya nyawa dibetot dari badan, nyawa yang dibetot dan karena telah terikat dengan urat-urat maka akan menyisakan sakit di sekujur badan, karena urat-urat semua akan putus, dan rasa sakitnya akan sampai kiamat masih terasakan, setidaknya begitu yang kubaca tentang ruh dari kitab kitab kuning,

Tapi ini aku tak merasakan sakit sama sekali, perlahan ku buka mataku sebelah, memicing, sebab begitu takutnya aku andai menyaksikan kenyataan yang pahit, yaitu aku telah mati.

Ah aku masih berdiri, dan tak ada orang lain yang berdiri kecuali aku, lalu kemana semua penyerangku?

Aku heran ku lihat semua terkapar, bukan hanya 3 langkah di depanku aja, tapi ada juga yang kelihatannya baru mau berlari ke arahku juga nyungsep tak bergerak, perlahan ku teliti satu persatu, semua pingsan.

Heran? Jelas aku heran, dalam angan anganku yang terkapar harusnya aku, mengapa malah para pengeroyokku? Sambil ku seret tubuh pemuda-pemuda yang pada pingsan itu dan kukumpulkan menjauhi rel kereta, takut kalau ada kereta yang lewat, dan terlindas, aku memikirkan siapa orang yang telah membantuku, menundukkan semua pengeroyokku? Tapi andai manusia dan punya ilmu yang teramat tinggi, dan bisa bergerak demikian cepat, tentu aku masih merasa kehadirannya, tapi ini kehadirannya tidak kurasakan, ah entahlah mungkin pertolongan Alloh, membuat pingsan orang satu negara aja bisa, apalagi cuma beberapa gelintir orang, biarlah semua jadi misteri.

Ku kumpulkan beraneka macam senjata yang akan dibuat menyerangku, ada pisau, golok, pedang, pentungan, semua ku buang ke tempat sampah di pojok setasiun.

Lalu aku mengambil air wudhu dan melakukan sholat malam, terdengar sayup adzan pertama, dari masjid Muhamadiyyah.

Aku wirid sambil menunggu saat memasuki waktu subuh. Dua hari aku masih di setasiun Babat. Dan malam berikutnya, mungkin musim kemarau, udara terasa panas, sehingga aku duduk sendiri, mencari udara yang agak tak terasa gersang di perasaan, malam telah menunjukkan jam 2 dini hari, sambil memutar tasbih, aku duduk di kursi peron, kulihat seorang wanita tua tidur mendengkur di pojok dekat pintu, menunggu dagangan pecel, yang akan dijual besok hari, ah kejamnya dunia, bagaimana orang setua itu masih menanggung kepahitan hidup, kadang anak-anaknya, menunggu di rumah, untuk meminta uang dengan marah-marah, lalu dibuat hura-hura, aku ingat tetanggaku si ZUHDI yang selalu mengejar-ngejar orang tuanya dengan parang hanya untuk minta uang buat mabuk-mabukan, salah siapa sebenarnya, kegetiran hidup dirasakan hampir seluruh lapisan bawah, rakyat negeri ini?

Jerit rakyat, tindihan keluarga, keadilan yang diputar balikkan, seperti mengikuti tangan penguasa kemana mengarahkan, ah entahlah, terlalu rumit, kenyataan dan terlalu pahit untuk dirasakan, moga-moga aja mereka masuk surga, walau di dunia tak dapat kebahagiaan, setidaknya di akhirat masih ada harapan, ku teruskan wiridku, sambil kaki selonjoran di kursi, malam mulai membawa angin segar angin pagi… , udara sejuk, mengalir menghembus tubuhku.

Kulihat seorang pemuda berjalan kearahku dari depan setasiun, aku menengok, ketika langkah kakinya terdengar di telingaku, kemudian dia duduk di kursi, dari dua kursi yang ku duduki, mungkin umur pemuda itu dua tahun lebih tua dariku, wajahnya mengguratkan keresahan hati, duduknya serba tak tenang, setidaknya di penglihatanku, saat malam makin mendesirkan kesunyian yang rindu akan suara, geseran tubuh pemuda itu terdengar jelas, seperti mengganggu ketentraman, dan konsentrasi wiridku, tiba-tiba dia berjalan ke arahku, dan berdiri di depanku.

“Sendiri mas?” tanyanya sekedar basa basi, atau ngomong sembarangan dari pada tidak ada yang diomong,

“Iya, ” jawabku singkat, tanpa nada suara yang meledak.

“Apa ndak kuwatir mas sendirian?” tanyanya lagi.

“Kuwatir kenapa?” aku balik bertanya.

“Ya kalau-kalau dirampok orang.”

“Apa yang harus dirampok dariku? La uang seripis aja ndak punya.” jawabku dengan tertawa, walau tidak tertawa getir.

“Nginap aja di tempatku…!” katanya, dengan nada yang aku mencium, entah apa terasa di telingaku, kurang berkenan,

“Ah ndak lah, aku biasa tidur di sini, kemaren juga tidur di sini….”

“Nggak mas, di tempatku juga ndak ada orang, jadi kalau mau, nginap dan tidur sepuasnya juga gak ada yang akan menyalahkan…”

Setelah dibujuk-bujuk akhirnya akupun mau, kami berjalan menyelusuri lorong-lorong dekat pasar Babat, dan dalam perjalanan pun kami saling ngobrol, dan ku kenal, pemuda itu bernama Hendra.

Rumah Hendra tak terlalu besar, walau tidak bisa dikatakan kecil, cat rumah juga sudah banyak yang terkelupas, ada kesan rumah yang tak terurus, atau orangnya yang malas ngurus, segala macam pakaian tergantung, dan menumpuk di sana-sini, yah mungkin Hendra ini, terlalu malas, setidaknya seukuran orang yang tak punya istri, aku disuruh duduk di kursi, yang teramat apek, mungkin lebih nyaman di setasiun, aku pun mendudukkan pantat di kursi, yang busanya udah pada bolong, mungkin dimakan tikus yang nyari makan sudah tidak ada yang lain, jadi busa juga dimakan, mungkin dibayangkan sebagai roti, ah apakah tikus juga berhayal seperti manusia?

Hendra keluar dari kamar, dan mengajakku masuk, “Ayo mas masuk, maaf, kamarnya berantakan banget.” ah ndak usah dia bilang berantakan, aku juga sudah tau.

Ah kamarnya juga gelap sekali, lampu bohlamp, cuma 5 watt, dan sudah banyak dihinggapi sarang laba-laba, benar-benar tak ada nyamannya sama sekali, mestinya kalau tau begini aku tadi tidak mau untuk diajak ke rumahnya, kulihat tape recorder dan amplier terletak begitu saja di tanah, dekil, dan kelihatan jarang disentuh, atau yang bersih cuma pencetan playnya, entahlah aku seperti merasakan suntuk yang teramat sangat, kok kerasan Hendra tinggal di rumah, dan kamar yang seperti ini…., “Ayo tidur, atau mau ngobrol aja?” katanya mengagetkanku.

Aku tak menjawab, tapi langsung merebahkan diri, ke atas kasur, yang tak berkapuk lagi, mungkin telah teramat tipis, setipis triplek…, rasanya makin penat aja, tapi ke relakan urat-uratku, yang sebetulnya tak pegal…, Hendra pun ikut naik ke atas ranjang, sehingga aku yang mepet ke tembok.

Tiba-tiba tangan Hendra memelukku, aku menepiskan,

“Apa-apaan sih Ndra…!” kataku agak jengkel dan risih.

“Ah masak nggak ngerti..” kata Hendra sambil tangannya berusaha didekapkan ke arahku. Ah dah gila ini orang, kembali kutepiskan tangannya,

“Ayolah mas, kita kan sama-sama dewasa, masak mas ndak ngerti….” katanya dengan nada merajuk.

“Sialan kamu jangan macem-macem..” kataku jijik.

“Apakah aku harus main paksa…?” kata Hendra dengan tangannya cepat memelukku, tapi tangan itu segera ku tangkap pergelangan tangannya, dan untung dulu pernah tau ilmu gunting, yang melatihnya dengan menjepit besi sampai gepeng, begitu tangan Hendra dalam genggamanku, rapal pun ku ucap, Hendra menjerit,

“Aduuuh sakit masss…!”

“Jika aku ingin mematahkan tanganmu, sama mudahnya mematahkan roti kering…” kataku bukan sekedar mengancam, dan mempererat cengkeraman, sehingga Hendra menjerit kencang.

“Apa mau ku patahkan?” tanyaku, sementara Hendra telah memelintir, melintirkan tubuh menahan sakit yang teramat sangat.

“Ampuuun-ampuun mas…, tobat…!” katanya, matanya mulai basah, entah karena rasa sakit yang di rasakan atau karena memang dia menyesali dengan apa yang telah diperbuat, dan Hendra pun benar-benar menangis…., akupun melepaskan cengkeraman tanganku, di pergelangan tangannya, ku lihat pergelangan tangan Hendra membiru,

“Maafkan aku… masss…. aku ndak tau kalau mas orang isi…”

“Memang kalau aku tidak berisi, kamu akan berbuat sekehendak hatimu?”

“Aku ndak berani mas,.. maafkan..” suaranya disela isak tangisnya.

“Aku jadi begini juga karena ada sebabnya mas…, bukan karena kelainan, tapi lebih karena kekecewaan….”

“Apa maksudmu?” tanyaku yang mulai mengendap kemarahanku.

“Udah nangisnya…!” bentakku karena melihatnya sesenggukan menangis.

“Kamu itu lelaki, masak menangis.” Hendra terdiam, dan menghapus air matanya…

“Aku orang yang malang mas…” katanya.

“Malang bagaimana… apa kamu kejatuhan bom yang mau dijatuhkan di Irak sana…, kulihat tubuhmu juga masih utuh, ya kalau kamu kejatuhan bom, berarti kamu masih termasuk orang yang selamat, karena seluruh tubuhmu ndak terluka,” jengekku.

“Mas jangan bercanda..” kata Hendra.

“Bercanda gimana? Kan katamu kamu ini orang yang malang, la malang aja, tubuh kamu masih utuh, sehat wal afiat tak kurang suatu apa… gimana aku tak heran, yang malang sebelah mana?”

“Yang malang hatiku mas…”

“Wah kalau yang malang hatimu, itu pasti karena polah tingkahmu sendiri, dan tak siapnya kamu menghadapi kenyataan.”

“Ndra…! setiap orang itu mempunyai kadar rasa yang sama, rasa sakit, rasa senang, duka, kecewa, enak nikmat, pahit getir, semua mempunyai kadar yang sama, semua diberi keadilan untuk mengecap rasa itu, tergantung kita sendiri menyikapi, dan membuat ukuran kadar dalam peluapannya, ada orang mau disuntik dokter, semua pasti merasakan yang sama, jarum nusuk kulit, tapi ada yang cuma njengkit kaget, ada juga yang teriak, bahkan ada juga belum kena jarum udah teriak-teriak, jadi tergantung bagaimana, menyikapinya, semua kembali pada diri masing-masing.”

Hendra cuma mantuk-mantuk, tak tau paham apa enggak dengan keteranganku, wong aku yang menerangkan sendiri aja bingung apa lagi yang mendengar, ya dari pada tidak memberi solusi, lebih baik ngasih solusi, setidaknya untuk pengalih perhatian.

“Sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi?” tanyaku menyelidik.

Hendra menarik napas panjang lalu berkata, “Gini mas, aku pernah mencintai wanita, selama ini dia yang selalu aku idam-idamkan, selama ini dia yang selalu dalam angan dan pikiranku, selalu aku pikirkan, siang malam…”

“Trus bagaimana?” kataku tak sabar, mendengar kata muluk berbumbu tumpahan perasaan.

“Ya itu mas … aku mencintai dia, menyayangi dia, bahkan sering memberinya hadiah-hadiah, karena sayangku padanya.” kata Hendra makin muluk-muluk.

“Iya apa kamu udah nyampaikan atau ngutarakan cintamu padanya?” kataku tak sabaran.

“Itulah mas…”

“Itulah gimana maksudmu?”

“Dah beberapa tahun itu pengutaraan cinta ku tunggu-tunggu, sampai ada waktu yang cocok…”

“Ah njlimet amat, masak ngutarakan cinta pakai waktu yang cocok? Jangan-jangan pakai hitungan Jawa, pakai hitungan weton, kenapa gak langsung diutarakan…?”

“Ya itu mas susah nyari waktu yang pas…”

“La kenapa gak pakai surat? Jadi waktu pengutaraannya gak usah banyak waktu plintat-plintut, tulis to the point I LOVE YOU, kan udah, kenapa repot?”

“Ya tak taulah mas, yang jelas saya nunggu setahun sampai bisa mengutarakannya.”

“Lalu bagaimana?”

“Ya saya utarakan… mas..”

“Iya kelanjutannya bagaimana, maksudmu, kamu ditrima atau ditolak?”

“Aku ditolak mas…” jawab Hendra lemes, aku cuma ketawa.

“Kenapa ketawa mas?” tanya Hendra.

“La gimana tak ketawa, la cuma ditolak sekali aja udah lemes, mutung, prustasi, hidup itu perjuangan Ndra, la orang bikin anak sampai jadi cewek yang kamu demeni itu aja tak sehari-dua hari, la ditolak sekali, agak jual mahal, agak jinak-jinak merpati, la itu kan sudah sifatnya cewek, la kalau cewek nyeruduk aja, kayaknya kok tak ada seninya, kurang ada nilai lebih, gak ada gregetnya, ya gak?”

“Tapi penolakannya itu langsung telak mas, aku dilarang datang, aku dilarang dekat-dekat dengannya.”

“Woh itu mah wajar,”

“Tapi dia bilang malu mas, kalau aku ada di dekatnya.”

15 (2)

“Ah alasan kan boleh aja dibuat, mau alasan malu-mau alasan kamu bau… ckikikik…, la wong alasan kok diributkan, dia mau bikin alasan apa aja, kalau kamu gigih, ku kira juga dia akan takluk.” kataku memberi semangat, sebenarnya maksudku, hanya menarik kembali Hendra dari jalan yang salah, jalan kepada penyimpangan sex.

“Lalu apa yang harus ku lakukan mas?”

“Wah itu urusanmu sendiri, tapi kalau kamu mau, aku akan memberimu amalan, supaya cewek itu kau dapatkan, kamu mau?”

“Wah mau-mau mas…, “

“Tapi syaratnya berat Ndra…!” kataku, memancing kesungguhannya.

“Syaratnya apa mas? Apa ngambil tanah dalam kuburan?”

“Wah ndak seberat itu Ndra, malah juga dibilang ini juga berat bagi orang tertentu…”

“Trus apa syaratnya mas?”

“Syaratnya kamu jangan meninggalkan sholat, jangan minum-minuman keras, dan jangan kau pakai perempuan itu barang permainan…, gimana kamu sanggup?”

“Cuma itu aja mas syaratnya?” kata Hendra,

“La kamu sanggup tidak? Kan selama ini sholatmu jarang-jarang…,”

“La kok mas tau?”

“Wah itu mudah ditebak Ndra..!”

“Aku sanggup mas…”

“Bener sanggup?” tanyaku meyakinknnya,

“Sanggup sekali mas…”

“Baiklah, sini aku minta pena ama kertas, biar ku tuliskan amalannya..” kataku yang segera dicarikan oleh Hendra dan tak sampai lima menit dia datang membawa pena dan kertas, dan amalan makhabah pun ku tulis, setelah menyerahkan amalan, dan memberikan pesan cara kerja dan bagaimana pakainya, aku pun minta diri karena hari telah menjelang subuh. Setelah sholat subuh, aku ikut kereta barang ke arah Surabaya.

Jam satu siang sampai di stasiun Pasar Turi, aku tak bingung, walau tak pernah ke Surabaya, yah bagaimana harus bingung, karena bingung adalah hak bagi orang yang punya tujuan, sedang aku tak punya tujuan sama sekali, jadi aku sama sekali tak mencari alasan untuk bingung, aku duduk aja di kursi peron, tak seperti orang linglung, walau tak ada uang serupiah pun di kantongku, aku tak takut, akan dapat makan dari mana, walau aku juga manusia biasa, kalau boleh bilang aku teramat lapar, walau itu tak jadi beban pikiranku, aku tekuni saja berdzikir, tanpa henti dan tanpa bosan, karena hanya Robku saja sandaranku, dan yang aku kenal sekarang ini, aku yakin, kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibuku, perhatian-Nya melebihi siapa pun di muka bumi ini, aku kemudian berjalan keluar setasiun.., tapi baru keluar dari pintu seorang perempuan memanggilku,

“Mas sini mas…!” panggilnya. Aku segera mendekat, ku lihat dia membawa banyak jualan, yang ditenteng, yang dijinjing, juga yang digendong di punggung, tapi mulai diturunkan, ibu itu mungkin seumur empat puluh tahun.

“Ada apa bu?” tanyaku sambil mendekat, mungkin aku diminta membantu barang bawaannya, pikirku.

Dia membuka makanan dan meramu pecel, dan meletakkan satu paha ayam di bungkusan yang dipegangnya,

“Ini makan…!” katanya menyodorkan sebungkus pecel yang diraciknya,

“Ah ndak bu…” kataku mundur.

“Ndak mau gimana? Udah ini dimakan…!” katanya berdiri dan menyodorkan bungkusan padaku,

“Saya ndak punya uang bu… maaf…” kataku terus terang,

“Yang nyuruh anak ini bayar siapa? Ibu hanya minta anak makan ini…”

“Tapi bu…?” kataku masih belum menerima nasi bungkus pemberiannya.

“Udah ini dimakan dulu.” katanya, yang tak bisa ku tolak, lalu ibu itu mengeluarkan kursi dari dalam keranjang dagangannya dan menyuruhku duduk, dan setelah menyatakan terimakasih, aku pun makan dengan lahap,

“Nambah?” tanyanya sambil menyodorkan segelas teh di dekatku.

“Ah sudah bu…, sudah kenyang sekali,” kataku.

“Ibu bikinin lagi ya…” tawarnya dengan pandangan kasih nan lembut.

“Udah bu.., bener nih, sudah kenyang sekali,” kataku, sambil meminum teh manis, tapi ku lihat ibu itu masih membuat racikan pecel juga, dan membungkusnya dalam kresek, lalu disodorkan padaku,

“Ini, untuk bekal dalam perjalanan…” katanya sambil mengansurkan kresek ke arahku, dan memaksaku menerimanya.

“Kenapa ibu baik padaku?” tanyaku heran.

“Nak… ibu hanya minta kamu mendoakan ibu..,” katanya menatapku dengan serius.

“Mendoakan?” tanyaku heran.

“Ah ibu ini, saya ini dosanya terlalu menumpuk bu, masak disuruh mendoakan? Ya apa diperduli oleh Alloh, lihatlah pakaianku ini bu kotor banget, dekil, kumal, jarang mandi,” kataku sambil menunjukkan pakaian yang kupakai.

“Kalau begitu, kamu tak mu ya mendoakan ibu..?” katanya sambil air matanya mulai menetes…

“Oh.., mau… mau, bu, mau..” kataku gelagapaan melihat ibu itu mulai menangis,

“Iya.., iya bu.., kan ku dokan, ibu minta didoakan supaya apa?” tanyaku cepat-cepat supaya dia tak keburu menangis,

“Ya ibu minta didoakan supaya mati khusnul kotimah.” katanya sambil mengusap air matanya dengan selendang, untuk menggendong jualan.

“Baik ibu yang mengamini ya…, biar aku yang berdoa,” kataku, kemudian mulai berdoa, aku tak perduli setiap orang yang lewat menatap aneh padaku, memang sejak pertama, aku tak pernah perduli dengan orang lain, selesai berdoa, ibu itu menggenggam tanganku, dan mengucapkan terimakasih, aku juga mengucapkan terimakasih, dan pamit untuk melanjutkan perjalanan, kemudian meneruskan mengayunkan kaki tanpa arah dan tujuan pasti, karena memang aku tak mau disibukkan oleh arah, tak mau dirisaukan oleh tujuan, aku hanya ingin mengenal gerak gerik Alloh dalam membimbingku, menuju pencarian tanpa berkesudahan, melatih cinta dan tak menduakannya, melatih tawakaal, dan meresapi sunyinya bercumbu dengan kesunyian denganNya sendiri, walau dalam keramaian, tenggelam dalam samudra kepasrahan, tanpa ingin ditolong oleh siapa saja, kecuali oleh rengkuhan kasihNya, tanpa embel-embel balas budi.

Melangkah, melangkah, dan melangkah, Surabaya begitu luas, aku kadang menyeberang, kadang berhenti di tepi jalan, tak terasa sandal jepit yang selama ini menemaniku telah tembus, sehingga telapak kakiku berdarah, karena sering tergores aspal panas jalan, juga mungkin tersandung batu, sehingga tak ku pikir dan pehatikan, itu ku ketahui, ketika sandalku telah putus, sehingga ku buang, aku kaget, oh Alloh maafkan aku, kalau hatiku sekejap melupakanMu karena tersita oleh rasa sakit di kakiku, setelah sandal ku buang aku pun berjalan lagi, tak ku perdulikan sudah lecet di kaki.

DI GEBUKI PENJAGA MASJID

Aku sampai di Tunjungan Plaza, di tahun 1994 Plaza Tunjungan mungkin yang terkenal di Surabaya, setidaknya itu menurut pandanganku, aku duduk aja di sekitar plaza, kalau malam kadang nongkrong dengan para pelukis jalanan, yang menggelar lukisan di sekitar plaza, kalau hari telah larut malam, aku pun tidur di emperan toko, menggeletak aja tanpa perduli apa-apa, untuk makan aku kadang mengorek tempat sampah, ada saja yang ku temukan, entah nasi bungkus, entah roti berjamur, sekedar untuk mengganjal perut, lalu kalau untuk sholat aku cari musholla atau masjid di sekitar, itu sampai beberapa hari, sampai suatu siang aku jalan, tanpa satu tujuan, dan sampai di jembatan merah, plazanya baru dibikin, lalu ada truk berhenti, aku pun naik, dalam pikirku, tak tau aku akan di bawa ke mana, yang penting truk ini berhenti, maka aku turun, lalu aku tiduran dalam truk, sampai terbangun dan truk pun sudah berhenti, aku turun, masih dengan kaki terlanjang, hari telah beranjak malam, aku berjalan, setelah melihat tulisan yang terpampang di depan toko, maka aku pun tau kalau aku ada di daerah Sidoharjo, aku pun berjalan, sampai kakiku menendang sesuatu, karena gelap aku teliti, ternyata sebuah sandal, sandal carvil, lumayan bagus untuk menjadi ganjalan kakiku yang telah lecet.

Aku cepat-cepat mencari pasangan sandal, karena yang ku temukan tinggal satu, ku cari kesana ke mari, karena gelap lumayan susah juga, walau akhirnya ku temukan, dan ternyata sudah putus jepitannya, lalu aku pun punya inisiatif untuk menusuk bawah jepitan dengan paku, setelah mencari paku dan menusuk belakang jepitan dengan palu dari batu, sandal pun bisa dipakai, kelihatannya lumayan masih baru, mungkin dibuang orangnya karena putus talinya saja, lumayanlah, sehingga luka di kakiku yang lecet tak sakit lagi karena terkena kerikil, ku lanjutkan perjalanan, sampai juga aku di depan plaza, Sidoharjo, aku duduk, sebenarnya mau sholat tapi tak tau di mana ada masjid, aku nggelosor aja di depan plaza, yang sudah tutup karena sudah malam sekali, tanpa sadar, karena teramat lelahnya aku pun tertidur, sampai terdengar suara adzan subuh, dan aku teramat heran, karena adzan subuh terdengar dekat sekali, lalu aku menuju arah suara adzan, dan masjid ternyata cuma di belakang plaza saja, aku pun segera masuk masjid, dan mengkodho sholat yang ku tinggal, dan mengikuti jamaah subuh, selesai sholat aku pun keluar masjid dan nongkrong aja di pinggir jalan, sambil wirid dan melihat orang yang lalu lalang, kelaparan perutku aku isi dengan air yang tadi ku bawa dari masjid, dan itu setidaknya sudah menipu nafsu makan cacing yang ada dalam perutku, dan tidak berontak lagi.

Hari jum’at, ah sampai tidak berpikir kalau ini hari jum’at, orang berbondong-bondong ke masjid, aku pun melangkah dengan pelan ke masjid, pertama yang ku lakukan adalah mengisi perut dengan air sebanyak-banyaknya, lalu wudhu dan masuk masjid, melakukan sholat tahiyatul majid, lalu duduk di pojok, aku tak mau mengganggu orang lain, yah pakaian yang kumal, gelandangan sholat di masjid, tentu banyak orang yang memandang dengan pandangan mengucilkan, dan sedikit ada unsur hina, di setiap percikan mata mereka, bahkan di hati mereka, tapi aku mencoba tenggelam dalam dzikir, setelah sholat jum’at, dan melakukan dzikir sebentar, lalu aku keluar masjid, memakai sandal dan melangkah pergi, tapi tiba-tiba, sebuah tangan menarik baju belakangku, dan aku di seret begitu saja,

“Pencuri sandal…!” bentak orang yang menyeretku, ke kantor pengurus masjid, ku lihat orang itu tinggi dan berkumis tebal garang, dia menyeretku, terus ke dalam kantor, dan di dalam ada beberapa orang, aku segera dibanting ke lantai, terduduk,

“Kau maling sandal hina…!” bentaknya lagi.

“Ah…, sampean salah…” kataku, tenang.

“Salah bagaimana, sudah jelas-jelas mencuri sandal.” bentaknya.

“Ayo ngaku…!” aku diam saja. Dan tiba-tiba orang itu menarik sabuk yang dipakai, dan wuuut sabuk dihantamkan ke punggungku. aku hanya memejamkan mata, ketika sabuk itu mengenai punggungku, dan tanpa mengeluh, karena entah kenapa aku tak merasakan sakit, tapi itu malah membuat orang yang menyeretku itu makin beringas mencambukiku.

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -14

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -14

Dua hari perjalanan, akhirnya aku sampai di kota Bojonegoro, selama dua hari ini aku tidur di alam bebas, juga hanya makan jambu hutan dan pisang yang tumbuh di hutan, jadi perut kempes, tapi aku berusaha untuk tawakal berserah pada yang memberi hidup, sore hari ketiga setelah keluar dari tempat pak Fadhol aku sampai ke Bojonegoro, aku berjalan terus arah selatan terminal lama, aku berjalan sampai di satu mushola daerah Pacul, aku berbelok mengambil wudhu kemudian sholat ashar, setelah sholat aku duduk tenggelam dalam wirid, tiba-tiba di belakangku terdengar piring dan gelas diletakkan di lantai mushola.

Setelah wirid selesai aku menengok seorang pemuda berambut panjang dan berpeci putih tengah duduk, di depannya ada nasi lengkap dengan lauk pauk, umur pemuda itu sekitar 30 tahun, dia tersenyum padaku.

“Mari mas makan dulu,” katanya ramah.

“Wah saya sudah menunggu dari tadi, takutnya mengganggu wirid.”

Aku mengulurkan tangan, mengajak kenalan, “Febrian.” kataku menjabat tangannya.

“Mashur.” ucapnya memperkenalkan diri,

“Sudah ayo makan dulu, ngobrolnya dilanjutkan nanti, sambil makan.” katanya sambil mengangsurkan piring ke hadapanku, kulihat sayur terong, ikan bandeng, sambal trasi sebagai lauk, terasa nikmat.

“Mas Ian ini musafir ya?” tanyanya.

“Iya.” jawabku sambil menikmati makan yang nikmat.

“Kok tau aku musafir?” tanyaku.

“Ada seorang pemuda yang dari kemarin telah menunggu mas di rumahku,” katanya.

“Seorang pemuda?”

“Iya mas, katanya dia mendapat bisikan dari gaib disuruh menunggu mas, pokoknya orang yang ciri-cirinya seperti mas ini, yang akan singgah di mushola ini, itu orangnya masih di rumahku,” kata Mashur menjelaskan.

“Wah ada apa ya?” tanyaku heran.

“Nanti aja tanya sendiri mas ke orangnya, wah ayo mas, nasinya nambah lagi.”

Kami makan dengan lahap, hampir satu bakul kami habiskan berdua, seakan kami ini kenalan lama, di sela-sela makan kami bercanda.

Mashur orangnya supel dan ramah, dia hidup dengan istri dan dua anaknya, punya pesantren kecil di belakang rumah, yang isinya santri-santri yang ada sambil sekolah, juga ada yang sambil kerja. Muridnya cuma 10 orang.

Setelah makan aku diajak menemui seorang pemuda yang katanya telah menunggu kedatanganku sejak kemarin di rumah Mashur. Pemuda itu bernama Ilham, ketika masuk ke rumah Mashur pandang mataku segera menangkap sosok pemuda kurus, ceking, matanya menjorok ke dalam, pertanda telah mengalami berbagai keprihatinan, tapi setelah sebentar mengamati, aku seperti pernah melihat pemuda ini, tapi aku mengingat-ingat sebentar….. yah pemuda ini pernah ada dalam satu mimpiku, entah 3 bulan atau berapa bulan yang lalu, aku telah melihat masa lalunya tanpa aku tau bagaimana caranya, kami bersalaman, dia mencium tanganku, ku biarkan saja.

“Ilham.” katanya menyebutkan nama. Aku juga memperkenalkan namaku. Aku manggut-manggut kulihat aura hitam menggumpal-gumpal melingkupi tubuhnya, dan aku benar-benar ingat pada semua mimpiku.

Dalam mimpi itu aku melihat pemuda ini mempelajari ilmu tanpa guru, jadi dari membaca-baca buku, tanpa pembimbing, dia mengikuti petunjuk buku itu, dia menyepi di salah satu makam yang dikeramatkan, berhari-hari dia menyepi, berpuasa dan menekuni amalan dari buku tersebut, entah di hari yang ke berapa, di suatu malam di makam itu, sendiri dia membaca wirid dari buku, dan datanglah orang tua berjenggot panjang,

“Ngger, aku akan memberikan ilmu padamu, tapi kau harus menghentikan salat 5 waktu, bersediakah kau ngger?” tanya orang tua itu. Ilham pun manggut. Maka orang tua berjenggot itu memasukkan cahaya dari tapak tangannya ke kepala Ilham.

Persis setelah kejadian itu Ilham tak pernah sholat, tapi aneh dia bisa mengobati berbagai penyakit. Waktu berlalu Ilham masih aktif duduk di makam keramat itu, sambil membaca amalan dari buku.

Entah yang ke berapa malam, dia didatangi bung Karno, presiden RI yang pertama, ”Ngger Ilham, aku akan memberi ilmu padamu, tapi kau harus mau membakar warung tempat menjual minuman keras di ujung desa.” pesan bung Karno.

Setelah pulang dari makam, Ilham linglung, betapa tidak, bagaimana harus membakar sebuah warung minuman? Bagaimana kalau nanti seluruh desa terbakar? Tapi ini perintah presiden RI, yang akan memberikan ilmu padanya, tiap malam Ilham merenung, tiap hari dia bengong karena suara bisikan yang berkecamuk tumpang tindih dalam hatinya.

Malam itu jam 2 dini hari, Ilham telah bertekat, berangkat dengan motornya dan berbekal bensin 5 liter, dia mendatangi warung bensin di ujung desa, motor dia setandarkan, dia menghampiri warung dan menyiram pinggir dan dinding warung dengan bensin, korek api dinyalakan dan wus, warung pun terbakar, Ilham kabur dan mengawasi dari jauh hasil karyanya, dengan seringai puas, sementara api menjilat habis warung dan segala isinya, rumah di sebelah warung pun mulai terjilat api, untung yang punya rumah segera terbangun dan berteriak kebakaran, jadi satu keluarga masih bisa menyelamatkan diri, orang desa mendengar teriakan kebakaran segera berdatangan bahu membahu memadamkan api, walau tak urung rumah di sebelah warung ludes terbakar, tapi api telah dapat dipadamkan.

Pemilik warung, suami istri dan anaknya yang masih bayi hangus terbakar, tak bisa tertolong lagi. Orang-orang bertanya-tanya apa sebenarnya penyebab kebakaran, tapi tak ada yang tau, Sementara Ilham besok malamnya menunggu di pemakaman keramat, dan bung Karno pun datang menyerahkan sebuah keris. Setelah mendapat keris itu, Ilham makin sakti, kebal senjata, dan dia makin serius di pemakaman keramat, hari-hari berlalu.

Malam itu, Ilham masih tekun membaca amalan, hio telah beberapa kali padam dan dia nyalakan hio yang baru, tiba-tiba tercium bau wewangian teramat harum menyeruak memenuhi seantero pemakaman keramat, baunya amat harum, sehingga membangkitkan birahi, dan perlahan tapi pasti, nampak bentuk perempuan cantik di depan Ilham, cantik tiada terkira, tak pernah Ilham melihat wanita cantik sesempurna perempuan muda yang ada di depannya, biar kata semua artis Indonesia disatukan lalu dikareti, masih tak mampu menandingi perempuan ini, cantiknya sulit digambarkan, sampai biasanya Ilham yang tak begitu doyan cewek, kali ini jakunnya naik turun kayak gergaji, seperti kehausan yang teramat sangat di tenggorokannya, kayak jakun itu kurang oli.

“Apakah kau tak ingin jadi suamiku? Dan tak ingin kaya?” tanya perempuan itu, suaranya merdu, seperti alat musik petik yang dipetik dengan hati-hati takut putus senarnya, atau suling yang ditiup dengan nafas yang telah berlatih menemukan nada terhalus dari suara,

“Ho-oh mau… mau.. mau..” kata Ilham air liurnya sampai membanjir tak karuan, apalagi melihat baju biru tipis yang membungkus tubuh si perempuan, sehingga memperlihatkan samar pemandangan yang membangkitkan birahi.

“Tapi kau harus memenuhi syaratku.” kata perempuan itu, sambil melenggak lenggok di depan Ilham, yang membuat pemuda itu makin empot-empotan.

“Apa…. apa syaratnya..?” tanya Ilham dadanya sesek, ampek nahan nafsu yang membuncah.

“Syaratnya kau harus membakar pasar kecamatan.” kata perempuan itu dan Ilham terlongong-longong sampai perempuan itu sirna dari hadapannya.

Setelah pulang dari makam keramat, Ilham pun linglung, membakar pasar kecamatan Bangilan? Bagaimana mungkin? Tempat orang-orang menggantungkan nafkah keluarga, bahkan ibunya Ilham berjualan pakaian di pasar itu. Tapi ketika terdengar bisikan merdu merayu, dan tercium harum memabukkan, tanpa sadar Ilham pun memacu motornya ke pasar yang berjarak dua kiloan dari rumahnya dengan membawa jurigen bensin, tapi begitu sampai di pasar, kesadaran dan nuraninya menolak, maka dia pun linglung, menggelosor begitu saja di tengah pasar, dan kalau sudah begitu orang-orang di pasar pun ramai, yang susah juga ibunya Ilham harus membawanya pulang dengan becak. Dan hal itu terjadi berulang-ulang, orang pasar pun menganggap Ilham gila, karena terjadi terus menerus. Ilham pun dikunci dalam kamar, kalau bisikan datang dia menggedor-gedor pintu, ingin membakar pasar, tapi kalau kesadarannya muncul maka Ilham cuma merenung bengong,

Telah bermacam dukun dan paranormal didatangkan untuk mengobati, tapi malah ada yang dibanting dan ada juga yang sampai digotong pingsan, itulah yang ku lihat dalam mimpiku.

“Bagaimana kabarnya?” tanyaku setelah duduk di kursi kayu rumah Mashur.

“Ah ndak baik mas.” katanya, dengan pandangan cowong matanya menjorok ke dalam, dan ada kantung mata di sekitar mata Ilham, menunjukkan dia tak pernah nyenyak tidur.

“Hehe…. Kamu kan yang membakar warung minuman keras?” tanyaku sambil tertawa.

“Iya mas.., tentu mas sudah tau keadaanku.” kata Ilham menunduk.

“Kata siapa aku sudah tau keadaanmu? Tapi udahlah yang penting 3 jin dalam tubuhmu musti dihilangkan.”

“Saya pasrah saja, apa yang terbaik menurut mas Ian.” katanya mengiba.

“Tapi aku ingin tau dulu, kenapa kok kamu bisa tau aku akan singgah di mushola sini?”

“Ceritanya begini mas, saat aku dikunci terus dalam kamar oleh orang tuaku, waktu antara sadar dan tidak, maksudku tidur dan terjaga, aku didatangi orang tua, yang mengaku kakek buyutku.” katanya bercerita, dia menarik nafas dalam. Biar ceritanya tambah lama.

“Kakek itu berpesan, tunggu pemuda di mushola Annur daerah Pacul, minta tolong untuk membantu masalahmu, apa yang dia katakan turuti saja. Begitu pesan kakek itu, yang mengaku sebagai kakek buyutku,” kata Ilham mengakhiri ceritanya,

“Lalu bagaimana kamu tau pemuda yang kau tunggu itu aku?” tanyaku.

“Kakek itu juga menyebutkan ciri mas lengkap, dan saya cerita sama mas Mashur juga, jadi ketika mas muncul di mushola, baru saya yakin mimpi saya bukan mimpi bohong.”

“Begitu rupanya,” kataku, padahal pakaianku uapek banget, juga bauku kulit yang terbakar matahari.

“Terus sekarang bagaimana mas..?” tanya Mashur yang dari tadi diam menyimak.

“Ya jinnya harus dikeluarkan,” kataku menjawab.

“Wah apa perlu kembang setaman, dan menyan mas? Kalau iya, biar saya yang ke pasar, apa aja syaratnya mas?” tanya Mashur.

“Ya tak perlu syarat apa-apa.” kataku. “Cuma perlu persetujuan Ilham aja.”

“Persetujuan apa lagi mas?” tanya Ilham setengah bengong.

“Ya kamu benar-benar sudah ikhlas, jin yang ada dalam tubuhmu ku cabut?” tanyaku menunggu jawaban mantep dari raut wajahnya.

“Kan sudah saya bilang, saya pasrah pada mas Ian, apa yang terbaik, jadi saya rela serela-relanya.” katanya mantep.

“Walau semua ilmumu hilang?” tanyaku.

Ilham sebentar merenung, tapi kemudian berucap, “Sudah saya siap, walau tak punya ilmu, tak apa-apa, yang penting saya bisa hidup wajar seperti orang lain.

“Baiklah. Sekarang duduk membelakangiku.” kataku, sementara aku berpikir, ah aku ini belum pernah mencabut ilmu seseorang, juga jin yang menyatu karena seseorang mengamalkan ilmu, apakah aku bisa dan mampu?

Ku ingat Kyai waktu mencabut ilmu seseorang, cuma seperti mengambil buah dari punggung orang itu, digenggam lalu dibuang, kalau aku, ah tentu belum bisa setarapan itu, lalu bagaimana? Pikiranku mencari jalan keluar, tapi tanganku perlahan menempel ke punggung Ilham, wirid ku baca tiga kali-tiga kali, aliran hawa panas dan dingin segera menggebu dalam pusarku naik mengalir ke tanganku. Tiba-tiba, tanganku seperti tersedot kekuatan kasat mata di punggung Ilham, karuan tanganku menempel pada punggung Ilham, ku pejam mata, kurasakan tenang dari tubuhku menggulung-gulung masuk tubuh Ilham, aku segera membaca doa khijab dan minta pada Alloh, supaya mukzijatnya Nabi dan karomahnya para wali masuk ke tubuhku, ku rasakan udara dingin, mendekat sejuk mengalir ke setiap pori tubuhku, tangan ku renggangkan ku sedot apa yang ada di dalam tubuh Ilham ku genggam dalam satu tangan, dan tangan kiriku membuat gerakan mengikat, lalu ku lempar jauh-jauh, sementara Ilham menggelosor di kursi, entah pingsan, entah tidur, tapi wajahnya menyiratkan kedamaian.

Ku ambil teh yang terhidang di meja, untuk membasahi tenggorokanku yang lumayan kering, lalu ku nyalakan rokok Djarum yang disuguhkan di meja.

“Bagaimana kang?” tanya Mashur.

“Syukur mas, udah beres, udah biarkan dia tidur.” kataku sambil mengusap keringat yang mengalir di jidat.

“Wah mau minta doanya mas, biar pondok saya ramai.” kata Mashur, ketika kami berdua duduk di emperan mushola, meninggalkan Ilham yang tengah tidur di kursi.

“Ah kita ini sama kang Hur, kang Hur diberi tangan dan kaki dua, saya juga, jadi pada kenyataannya kita ini sama,” kataku,

“Kenapa kang Hur tidak berdoa sendiri, minta pada Sang Kholik agar apa yang kang Hur harap bisa terwujud.”

“Kalau begitu, saya mbok dikasih amalan, biar santri saya tambah banyak.” kata Mashur sambil menyedot dalam-dalam rokok mlinjo.

Aku pun minta pena dan kertas, dan menulis amalan untuk mendapatkan santri banyak.

“Aku sebenarnya nyari tempat untuk nyepi, mengheningkan diri, apa di sini ada?” kataku setelah menyerahkan catatan amalan.

Kulihat Mashur menerawang, lama tak menjawab pertanyaanku.

“Mas Ian mau, ada tempat di pasar Pacul, tempatku yang tak terpakai,” katanya kemudian.

“Yah kita lihat aja dulu…” jelasku.

Dengan naik motor GL aku diantar Mashur ke pasar Pacul, yang telah terlantar tak terurus, dan menunjukkan toko yang telah jebol dinding papannya, yah cukuplah untuk tempatku menyepi, maka malam itu aku mulai membersihkan bekas toko itu, dan ditinggal sendirian di pasar. Ku ambil air di sumur pompa belakang pasar, sedang waktu magrib telah tiba, ku ambil air wudhu dan menjalankan sholat di dalam toko, tapi waktu aku selesai wudhu, seorang jin menghadangku, perawakannya hitam, pakaian sobek-sobek, dan tubuh hitam legam, seperti mandi oli,

“Ada apa kau menghadangku?” tanyaku, sambil mengusap air wudhu yang mengalir di jenggot kecilku.

Wajah tirusnya mengguratkan rasa takut, bibir merahnya dan taring yang mencuat, meneteskan air liur, yang membuatku tak bisa untuk tak meludah, dia mundur, “Ada apa?” tanyaku lagi.

Terdengar suaranya mendengung, seperti suara lebah, tapi dengan nada berat, aku pun membuka batin.

“Aku mewakili, para penghuni pasar ini, kami minta tuan tidak bertempat di pasar ini….” katanya.

“Memangnya kenapa?”

“Kami merasa panas.”

“Kalau aku tetap bertempat di sini bagaimana?”

“Sungguh kami sangat memohon tuan….” katanya dan perlahan menghilang. Aku pun melangkah ke dalam dan melakukan sholat magrib, setelah wirid, aku pun beranjak, keluar, ah mungkin aku tak usah mengganggu keberadaan para jin, aku pun memutuskan pergi, menelusuri jalan sampai ke setasiun kereta api. Setelah sholat isyak di musola setasiun, aku selonjorkan tubuh di kursi setasiun.

Seminggu telah berlalu, aku hidup di stasiun Bojonegoro, tak pernah mandi, tidur seadanya, kadang menggelosor di lantai setasiun aja, jadi tubuh dan lengan panjang, celana jean belel sudah tak karuan warnanya, karena tertempel debu dan oli kereta, juga rambut panjangku lengket dan gimbal, hingga tak jarang orang menyebutku gila.

Aku tak perduli, terlalu terlena dengan robul izati, tenggelam dalam wirid-wiridku, tenggelam teramat dalam, bahkan aku pun tak memikirkan makan, karena memang tak ada sejumputpun rupiah di saku, aku kadang makan sepotong nasi yang jatuh ke tanah,

Kadang juga cuma minum air wudhu, walau seminggu tubuhku telah teramat kurus.

Hari itu hari minggu, setasiun teramat ramai, aku menggelosor aja di lantai, tenggelam dalam wiridku, tiba-tiba tangan halus menepukku dari belakang, “Iyan…? Iyan khan?”

Ku buka mataku yang terpejam, dan menengok ke belakang, seraut wajah gadis cantik nan anggun dengan balutan jilbab coklat tua, membungkuk di belakangku, “Ya Alloh, Ian, kenapa sampai jadi gini….” kata gadis bernama Eka Damayanti, dia langsung memelukku dari belakang.

Eka Damayanti, nama gadis itu, ku kenal waktu aku kelas 2 SMA dan masih aktif menulis di majalah remaja, pertama perkenalanku, dia waktu itu mencari rumahku, dan dia salah satu dari penggemar karya tulisku, aku pulang sekolah ketika Eka berdiri di pinggir jalan menuju lorong rumahku, dia menghentikanku, “Mas… Mas… berhenti…” tegurnya. Aku baru turun dari Angkot.

Aku pun berhenti, dan menunggunya datang menghampiri, saat itu Eka masih belum memakai jilbab, rambutnya diikat dengan pita merah, dan wajahnya anggun, menyiratkan kedewasaan.

“Ada apa mbak?” tanyaku.

“Maaf ngeganggu sebentar, mau tanya nih mas…?” katanya dengan nada datar tapi merdu dan terdengar centil di telingaku.

“Tau alamat ini gak mas?” tanyanya, sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat. Di situ tertulis, Febrian, kulon pon pes Al-alawi Sendang,

“Wah itu aku mbak.” kataku setelah membaca sebaris alamat di kertas yang ditunjukkan padaku.

“Ih yang bener?” katanya tersenyum ceria, dan ada binar bintang di matanya.

“Ya benerlah, masak bohong, tau dari mana tentang alamatku? Perasaan aku tak punya kerabat kayak embak.” kataku menyelidik.

“Aku ini bukan kerabatmu, tapi penggemarmu, kamu penulis khan? Nah aku ini salah satu penggemar beratmu.” katanya menjelaskan dengan mimik yang lucu, kayak guru TK menerangkan pada muridnya.

“Wah jadi malu nih, aku cuma penulis kacangan, karyaku juga cuma ngawur aja, gak bermutu.” kataku salah tingkah.

“Tapi aku benar-benar kagum, sungguh, kamu calon penulis besar.” katanya memuji.

“Wah ini mau ke rumah atau ngobrol di sini aja.” kataku, karena kami dari tadi cuma berdiri di pinggir jalan.

“Eh iya, kayaknya aku juga belum kenal namamu?” kataku setengah bertanya, saat kami berdua menyusuri tanggul paping blok jalan di depan rumah,

“Eka Damayanti….” katanya, sembari menyodorkan tangan mungilnya. Aku pun menjabat erat, penuh persahabatan.

“Febrian, dah tau namaku khan?” candaku.

Dan tak terlalu lama kami pun nyampai depan rumahku. Itulah perkenalanku dengan Eka, dan sejak saat itu kami menjadi akrab, karena Eka hampir tiap minggu main ke rumahku, rumah dia di daerah Rengel, jadi masih satu kabupaten denganku.

Setahun telah berlalu, dan aku telah kelas tiga SMA, dan Eka menjadi salah satu sahabat, yang mengagumiku, dia selalu mensuportku untuk menghasilkan karya-karya tulisku.

Aku teramat terbuka dengan Eka, sampai soal pacar-pacarku Eka juga tau, suatu hari aku dan Eka jalan-jalan ke Tanjung Kodok, “Yan…” kata Eka, ketika kami duduk di bawah tenda dan menikmati es kelapa muda, sambil merasakan semilir udara pantai yang membawa bau air laut yang khas,

“Ada apa?” tanyaku sembari mengeluarkan rokok Djarum merah.

“Umpama kita jadian gimana?” katanya dengan tatapan kepadaku, serius.

“Maksudmu mahluk jadi-jadian?” kataku mencandainya, memang aku paling suka kalau dia mbesengut.

“Ah kamu, aku ini serius.!!” benar juga dia mbesengut, dan dari situ terlihat jelas kecantikannya yang khas.

“Iya… iya, aku ngerti kamu serius.” kataku buru-buru mencegah kemarahannya.

“Trus gimana? Kamu setuju enggak?” tanyanya.

“Kamu tau sendiri lah Ka…, aku kan ceweknya banyak, aku tak tega kalau kamu jadi kemakan hati.”

“Kenapa semua cewekmu tak kamu putusin aja.!?”

“Wah, aku juga tak setega itu untuk memutusin mereka.” memang waktu itu cewekku ada 18 an, ah bisa dibilang raja pelet,

“Wah kamu ini tak tega atau kemaruk, tamak, aku heran juga kenapa mereka, cewek-cewek itu mau-maunya kamu renteng-renteng kayak tasbih.”

“Itu kan urusan mereka Ka,”

“Aku jadi heran Yan…”

“Heran kenapa?”

“Ya, apa mereka semua akan kamu jadikan istri semua…,?”

“Wah la ya enggak lah, mana mampu aku melayani mereka semua, bisa habis darah dihisap dan aku tinggal tulang.”

“Emangnya cewek lintah? Ngaco kamu.”

“Ya mending ngomong ngaco, daripada diam kayak batu, bisa-bisa dianggap arca, trus digotong orang ditaruh di Klenteng, ckakakak…”

“Ah jangan ngomong ngaco ah, trus kalau semua tak kamu jadikan istri kan pasti yang tak jadi istrimu akan sakit hati?”

“Kan aku terbuka, mereka mau jadi cewekku, kan udah aku ceritain semua tentang aku, lagian aku udah ngenalin antara satu dengan yang lain.”

“Bener-bener tak habis pikir aku Yan.., wah jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet? Wah jangan-jangan juga aku kamu pelet?”

“Pelet semar ngakak? Ya kamu ngerasa dipelet enggak?”

14 (2)

“Bener aku ingat kamu terus.” katanya serius.

“Kalau malam ingat sampai kebawa mimpi?” tanyaku.

“He-eh.” jawabnya manggut.

“Wah kamu dah kena penyakit cinta, ckakakak…” kataku dan Eka pun mencubit lenganku.

Itulah aku dengan Eka selalu terbuka lepas, tapi betapapun Eka sayang padaku, tapi kami tak pernah menjalin asmara, karena aku tak pernah mau memutuskan sepihak pada pacarku, dan hubungan kami sebatas sahabat, sahabat yang saling mengerti, sampai aku bertaubat, dan meninggalkan masa lalu kelam, bayangan Eka pun ikut hilang menjadi masa lalu, masa lalu yang ingin ku hapus dari ingatanku, masa lalu yang hanya ku ingat ketika aku menangis pada satu kekasih yaitu Alloh. Menghaturkan hina dan dosaku yang minta diampuni,

“Yan…! Kenapa kamu menjadi begini…” suara Eka memelukku dari belakang, tak perduli pakaianku yang kotor, tak perduli pandangan aneh semua orang yang ada di setasiun. Aku ingin menjelaskan pada Eka, aku bukanlah Ian yang dikenalnya dulu, tapi aku ragu apa ia akan mengerti.

“Ka… Kamu tak malu dilihat semua orang?”

“Aku tak rela kamu begini Yan…” katanya, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, dan mengajakku berdiri, air matanya meleleh membasahi jilbab coklat mudanya. Dulu Eka bukan gadis yang suka memakai jilbab. Sampai pada pertemuan yang terakhir kami, aku mengantarnya mendaftar di perguruan tinggi. Kami dalam satu bus menuju Surabaya.

“Yan…! Andai kau menghayal punya istri, kamu mengharap punya istri yang bagaimana?” tanyanya dengan tatapan serius ke wajahku.

“Aku?” aku menerawang, “Aku membayangkan punya istri yang sholikhah…, ya setidaknya yang memakai jilbab,” kataku pasti.

“Berarti aku bukan termasuk kategori yang kau harapkan ya?” tanyanya seperti pertanyaan adikku minta permen.

“Ah sudahlah Ka, jodoh kan di tangan yang kuasa, andai kamu jodohku, aku juga tak kan menolak.” kataku tandas.

Tapi sampai di Surabaya, Eka mengajakku ke Butik busana muslim dan dia memborong jilbab.

“Wah untuk apa Ka, jilbab sebanyak ini?” tanyaku heran.

“Untuk persediaan aja Yan, siapa tau, aku jadi jodohmu, hehe…” katanya sambil tersenyum manis, karena salah satu jilbab langsung dia kenakan.

“Hm… Kamu makin cantik aja Ka, kalau makai jilbab.” pujiku tulus.

“Ah yang bener…” katanya dengan pipi bersemu merah.

Dan sekarang, hatiku teriris, Eka menangis di depanku, karena menangisi keadaanku.

“Ya Alloh, ampunkan aku, kenapa kau jadikan hatiku selalu runtuh oleh tangis wanita… Kenapa tak kau uji aku dengan yang lain saja.” keluh hatiku, dan aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mengikuti saja, kemana Eka menarik tanganku.

Aku diseretnya masuk depot makan, lalu dia memesan nasi dan sepotong ayam panggang, juga dua gelas es jeruk. “Nih makan… Pasti kamu beberapa hari tak makan….” katanya menyodorkan ke depanku, seperti seorang ibu menyodorkan nasi pada anaknya,

Ku pandangi nasi di depanku, betapa nikmatnya ayam bakar, sambel kecap, air liur begitu saja terkuras dari sela-sela gigi membasahi tenggorokan yang tak sabar ingin menikmati kelezatan.

Tapi aku terpaku, hatiku seperti terbang entah ke mana, ke dunia yang penuh asma Alloh.

“Heh makan..!” kata Eka suaranya seakan jauh, walau tepukannya di pundakku.

“Apa kamu sudah lupa cara makan, nih biar ku suapi…” kata Eka yang segera mengambil piring di depanku, dan mulai menyuapiku, pandangan mataku kosong, aku telah berjalan jauh, jauh, dan teramat jauh, sampai di kedalaman dunia, dunia yang hanya kedamaian, danau menghijau, suara airnya melantunkan ayat-ayat suci, pohon-pohon menghijau, tertiup angin singkronisasi, mengalunkan dzikir dengan suara berirama, embun yang setiap waktu turun dan seakan enggan sampai ke tanah, karena terlena oleh puja puji pada sang khaliq.

Matahari yang bersinar lembut, dengan kehangatan yang seakan diukur oleh dokter paling ahli, sehingga seperti selimut yang membuatku teramat mengantuk dan terlena, dan aku tak sadar lagi.

“Yan…!” suara itu mengagetkanku, suara Eka yang menangis dan memelukku, air matanya membasahi pipi dan bajuku. Aku kaget, segera melepas pelukannya. Ku lihat piring di depanku telah ludes, juga wedang jeruk telah tinggal gelasnya saja.

“Yan., sadar Yan…!” Eka menepuk-nepuk pipiku.

“Aku sadar…” kataku.

“Udahlah Ka… mending kamu tinggalin aku…” kataku.

“Tak bisa, kalau perlu aku akan ikut denganmu…” katanya tegang.

“Kamu ini aneh-aneh aja, ya tak bisalah, kamu lihat sendiri keadaanku, bagaimana kamu mau ikut denganku?”

“Kamu mau lari dari kenyataan Yan? Kamu tak menerima keadaanmu, hingga mau pura-pura gila?” tanya Eka mencari kesepakatan.

“Siapa yang lari dari kenyataan? Bahkan aku sangat menerima kenyataan, sudahlah Ka, jangan ngajak berdebat, untuk saat ini biarlah aku sendiri.” kataku memelas,

“Tapi Yan, aku tak rela kamu begini….” Eka menangis lagi, tanganku diraihnya dan ditempel ke pipinya, ada air mata mengaliri punggung tanganku.

“Kadang sesuatu, harus direlakan, aku juga bukan mau mati, kenapa musti kau tangisi.”

Eka melepas tanganku, dan mencopot gelang, cincin, kalung yang dipakainya dan menggenggamkannya ke tanganku.

“Ini buatlah bekal, jangan lupakan aku.” katanya dan beranjak pergi.

Sekejap aku bengong, tapi segera mengejar ke arah mana Eka pergi, ku lihat dia berdiri di tepi jalan, mencegat bus jurusan Tuban.

“Ka ini apa-apaan,” kataku mengangsurkan segenggam emas ke tangannya.

“Udah pakai untuk bekalmu.” katanya menampik tanganku.

“Gak bisa Ka, kamu mau aku ditangkap Polisi, dengan tuduhan merampokmu?”

“Siapa? Polisi mana yang mau menangkap, kan itu ku berikan ikhlas padamu.”

“Ka… tak bisa Ka…,” ku angsurkan lagi emas ke tangannya tapi dia tolak.

“Maumu apa sih Yan? Aku ikut denganmu tak boleh, aku tak tega kau begini, aku tak bawa uang, biar perhiasanku untuk kau jadikan bekal…, tolong Yan… Jangan kau biarkan aku menangis tiap malam karena mengkawatirkanmu…” Eka menangis lagi.

“Mengapa tak juga kau mengerti, betapa aku menyayangimu, dan teramat menyayangimu…” katanya sambil berjongkok dan menangis sampai tubuhnya terguncang.

“Baik Ka, sekarang apa yang kau mau? Tapi jangan kau suruh aku membawa perhiasanmu…” kataku ikut berjongkok.

Dia membuka tapak tangannya yang ditutupkan ke wajahnya.

“Sekarang ikut pulang ke rumahku.” katanya sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.

“Baik, ini terima perhiasanmu dan simpan.” kataku mengangsurkan perhiasan ke tangannya, pas ada bus jurusan Tuban berhenti, dan kami pun segera naik.

Sampai di rumah Eka, aku pun turun dari bus, masih digandeng Eka, dengan tatapan aneh para penumpang bus, sampai di dalam rumah, aku langsung digeret ke sumur, ah biarlah, Eka juga tak akan membunuhku, tatapan bu Asih, dan pak Junaidi, yang ada di kamar tamu, tak digubris, kedua orang itu cuma sempat ngomong, “Lho Ka, kok sama mas Ian….” tapi kata mereka tak dijawab, juga tak sempat aku jawab, aku telah digeret ke sumur, dan air satu timba diguyurkan padaku,

“Udah Ka, aku bisa mandi sendiri,” kataku repot, gelagapan.

“Udah biar aku yang mandiin….” katanya sambil mengambil sampo dan mencuci rambut panjangku yang gimbal.

“Udah Ka… Biar aku mandi sendiri…! Udah ambilin handuk aja.” kataku, ketika Eka mau mencopot kaos lengan panjangku.

Eka tanpa berkata, pergi meninggalkanku, aku telah selesai mandi ketika Eka datang membawa handuk dan pakaian ganti, dan tanpa babibu, dia langsung mengelap rambut dan tubuhku.

“Udah aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju.” kataku mengambil baju ganti dari tangan.

“Ku tunggu di kamar tamu ya, tuh ayah nanyain…” kata Eka dari luar kamar mandi.

“Heeh, udah nanti aku ke sana.” jawabku.

Setelah ganti baju, aku segera ke ruang tamu, pak Junaidi, pegawai pemda, orangnya ramah dan suka bercanda, bu Asih ibunya Eka, seorang guru SMP, mereka berdua pun menyambutku dengan ramah, aku bersalaman dan duduk di kursi.

“Ketemu di mana, dengan Eka dik Iyan?” tanya bu Asih.

“Wah tadi ku temukan di setasiun, lagi jadi gelandangan,” kata Eka, yang baru keluar dari dalam dan membawa sisir, lalu begitu saja menyisir rambutku, ku tolak tapi tetep aja Eka menyisir sambil berdiri di kursi yang ku duduki.

“Udah makan nak Ian? Mbok sana Ka disiapkan makan…” kata pak Junaidi.

“Em… Ku buatkan pecel lele kesukaanmu ya?” tawar Eka masih menyisir rambutku.

“Udah Ka, jangan repot-repot.” jengahku.

“Iya Ka… sana beli lele…” kata bu Asih.

“Dan Eka segera beranjak….”

Tinggal aku dan pak Junaidi, sementara bu Asih masuk.

Sebentar kami terdiam, sampai pak Junaidi membuka pembicaraan.

“Nak Ian, gimana khabar orang tuanya, baik?” tanya pak Junaidi.

“Alhamdulillah baik pak.”

“Ini sebenarnya saya mau tanya ke nak Ian, jangan tersinggung lo ya?” kata pak Junaidi dengan nada hati-hati.

“Tanya aja pak, tak usah rikuh.” kataku tak enak dengan nada kehati-hatian pak Junaidi.

“Begini nak Ian, apakah sebenarnya hubungan nak Ian dengan Eka?” tanya pak Junaidi, sebentar terdiam, “Sekedar teman, atau…. pacaran… Maksudku kekasih.”

“Ya selama ini kami cuma berteman akrab kok pak, tak lebih, juga bukan sepasang kekasih.” jawabku tenang.

“Tapi Eka itu sayang banget sama nak Ian, yang diceritakan tiap hari ke ibunya, hanya nak Ian aja….” tambah pak Junaidi.

“Saya juga sayang sama Eka kok pak, tapi sayang antara sahabat, tak terkotori nafsu birahi, saya menghargai dan menghormati Eka, jika ada yang mengganggu Eka, saya akan membelanya dengan sekuat saya.” kataku masih tanpa emosi.

“Ya kalau begitu bapak mengerti… Silahkan diminum tehnya nak, bapak tinggal dulu…” kata pak Junaidi meninggalkanku.

Sebentar kemudian Eka telah datang membawa ikan lele segar, dan langsung memasaknya jadi pecel lele, kami makan bareng.

Sore itu aku pamitan, Eka dan ayah ibunya memintaku tinggal lebih lama, tapi aku memaksa pergi,

Eka mengantarku sampai jalan raya, dan sampai aku mau naik bus, dia memasukkan amplop ke sakuku.

“Ini untuk bayar bus..” katanya melepasku.

Aku segera naik bus, ketika kondektur minta ongkos bus, aku ingat uang yang dimasukkan Eka ke dalam sakuku, ku ambil satu dan tanpa melihat ku serahkan pada kondektur.

“Wah mas, apa tak ada yang kecil?” katanya.

Aku kaget ternyata yang ku serahkan uang seratusan ribu.

Aku terima uang dari kondektur itu, lalu kembali merogoh ke dalam amplop, tapi tiap ku keluarkan ternyata semua seratusan ribu, wah jadi Eka memberikan uang padaku 1 juta,

“Tak ada yang kecil mas, cuma ini.,” kataku menyerahkan uang seratusan.

Di Bojonegoro kembali aku turun di stasiun kereta api.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...