Rabu, 14 September 2016

Sang Sufi Sejati Telah Kembali

Sang Sufi Sejati Telah Kembali

Oleh : KHM Luqman Hakim MA

Sufi sejati tak pernah pergi, tetapi terus kembali. Sufi sejati tak pernah mati. Tapi terus hidup dalam limpahan rizki anugerah Ilahi. Sang Maestro, Sang Dirijen, juga Sang Kiai, tiba-tiba masuk dalam sunyi, setelah ia keluar dari dirinya menuju Diri Yang Sejati, lalu kembali hidup penuh dengan kemerdekaan, kebebasan, keriangan, sembari sesekali menertawakan dunia, sembari menangisi para penghuninya, sembari membangunkan mereka yang tidur dalam lelap kealpaannya, sembari merobek-robek kain selimut kumal yang hendak menempel padanya, sembari berlari kencang dengan kendaraan fikirannya membawa ratusan juta ummat menuju kesalamatan dunia akhirat.

“Tolong….Tolooooong Gus…Jangan kencang-kencang anda menyetir kendaraan ummat ini…Kami-kami penumpang bisa celaka….Tikungannya sagat tajam, kelokannyapenuh dengan jurang. Jalannya licin Guuuussss….!” Sebuah teriakan para penumpang bermunculan dimana-mana.Tapi dijawab oleh Gus Dur,“Jangan takut dan jangan kawatir. Mobil ini remnya pakem sekali….Mau tahu remnya? Remnya dibuat dan diproduksi oleh para UlamaSufi…Ha..ha…ha…..”

“Tapi kami-kami ini kan tidak faham Guuusss…..!”

“Begitu saja kok repot! Ya ikuti saja yang sudah faham…!”

Di sudut ibu kota, tiba-tiba namanya muncul bagai badai yang mengancam, bagai gelombang tsunami yang hendak merobohkan bangunan-bangunan kokoh kekuasaan, bagai semut yang siap memasuki telinga gajah-gajah rimba keangkuhan, bagai rayap yang hendak menggerogotipohon-pohon rindang penuh dedemitan.

Maka setiap kali sosok ini dikejar, hendak dimatikan, tiba-tiba ia sudah ada dibelakang telinga para pemburunya, lalu berbisik, denganbisikan yang membuat bulu kudhuk berdiri….“Aku ada disini. Bukan aku musuhmu, bukan aku ancamanmu…bukan aku yang hendak mencelakakanmu…! Musuhmu adalah dirimu sendiri. Musuhmu adalah rasa bersalahmu sendiri. Musuhmu adalah dosa-dosamu sendiri. Musuhmu adalah kecemasan dan ketakutan mu sendiri…..!”Sosok itu lalu menghilang sembari tertawa-tertawa, diikuti jutaan tawa yang menggelegar, tawa yang menyengat telinga para pemburunya. Dan tinggal suara yang semakin menjauh…“Ingatlah, suatu ketika aku justru akan menyelamatkan kalian!Kata-kataku akan engkau benarkan! Marahku adalah kasih sayang! Tertawaku adalah hikmah yang hilang…ha..ha..ha…”

Maka ketika negeri ini dihuni oleh orang-oranggila, orang yang waras malah dianggap paling gila. Ketika negeri ini dihuni oleh orang-orang yang buta, maka orang yang melek hati dianggap paling buta. Ketika negeri ini di huni oleh orang-orang dari rimba belantara, maka keadilan dianggap paling menakutkan. Ketika negeri ini dikuasai oleh raksasa-raksasa, maka para ksatria dianggap sebagai musuh Negara.

Ketika negeri ini dihuni oleh kebodohan demi kebodohan, maka orang yang cerdas dianggap paling bodoh.Ketika ummat ini sudah dininabobok oleh janji para pendusta, disilimuti oleh uang hina dari tangan-tangan yang hina, dijajah kembali oleh pemahaman agama yang picik dan dangkal, maka orang yang jujur, orang yang tidak mau dengan dunia, orang yang cerdas akal sehatnya, orang yang faham akan agamanya, malah dianggap sebagai orang yang sesat dan gila.

Lalu segerombolan manusia datang tanpa rasa kasih sayang, tanpa cinta, tanpa kehormatan, tanpa membawa sopan santun yang mulia, tanpa melihatdarimana mereka bermula, tiba-tiba bergelombang terus mencaci, bergemuruh terus menjual simbol-simbol agamawi, terus meneriakkan nama Tuhan dan ayat-ayat suci, dan rupanya semuanya sedang menjual diri, membuat industri Ketuhanan untuk dipasarkan di mall-mall duniawi.

Tapi keprihatinan Gus ini, peringatan dari Gus ini, terus dilawan oleh cacian dan rekayasa mereka yang terobek kemunafikannya, terkoyak oleh ketololannya, terbelenggu oleh hawa nafsunya, terjebak dalam keangkuhannya, tertutup oleh kulit-kulit sejatinya, terguncang oleh egonya, terjebur dalam lautan kecongkakannya, kecuali hanya sedikit yang sadar akan kearifan Gus Dur.

“Biarkan saja, sampah-sampah cacian yang menumpuk itu, biar semakin banyak sampah-sampah kotoran itu. Nanti akan jadi pupuk bagi kebesaran pohon sejarah dan kemuliaan kita…ha..ha..ha… Begitu saja kok repot...!”.

Memang, di negeri orang-orang yang sudah gila penghuninya, haruslah dipimpin oleh orangyang paling gila. Karena yang paling gila itu adalah yang paling waras.Tiba-tiba Gus Dur melesat ke alam lain. Alam yang kini di huni bersama para Kekasih Allah Ta’ala.

Sebelumnya Gus begitu rindu berziarah, dari makam ke makam para wali, sampai kritik pun menjelang, menghantamnya,kenapa soal bangsa dan ummat ini harus diselesaikan lewat kuburan? Kenapa rumitnya Negara harus ditinjau dari ilmu kuburan? Apakah bangsa kita ini masih semundur orang-orang animis di pedalaman Afrika?

Tapi sungguh tak bergeming. Orang-orang yang menghantam Gus Dur dari luar kuburan, rupanya memang tidak punya etika dan adab terhadap leluhurnya, tidak punya sopan santun pada para pendahulunya, bahkan tidak menghormati Kekasih-kekasih Tuhan.

Mereka telah lupa siapa yang membangun peradaban bangsa ini. Siapa yang meletakkan fondasi kebangsaan ini. Siapa yang membesarkan sejarah ini?

Lalu kongres kuburan dimulai. Segalanya terasa nyeleneh, nyentrik, dan kadang mengelikan. Tetapi memang harus demikian menyelesaikan. Nasehat para wali, bahkan kritik dan saran dari mereka sungguh arif. Selayaknya dahulu kala, ketika Nabi Muhammad saw, dikritik oleh Nabi Musa as, pendahulunya, agar minta dispensasi jumlah sholat yang hendak diwajibkan bagi ummat akhir zaman. Toh, lima waktu akhirnya bagi kita, sama juga dengan 50 waktu jika satu sholat pahalanya sepuluh kali lipat.

“Orang tidak pernah faham antropologi politik,begitu mudah melupakan peran kuburan dalampolitik kita. Padahal kita adalah keluarga besar, untuk apa kita punya bangsa kalau harus menggunakan kekerasan.Bukankah semua itu adalah keluarga besar kita?”

Suara dalam kubur menggema sampai ke cakrawala nusantara. Menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Kearifan menjadi makna sejarah, walau harus ditempuh dengan kesabaran panjang.

Karena itu, jika cakrawala kuburan membuat Gus Dur harus menggerakkan tiga agama besar di dunia, agama Samawi, Yahudi, Nasranidan Islam bertemudalam satu majlis perdamaian antar agama, bukan sesuatu yang asing.

Memang seharusnya demikian jika kita mengaku sebaik-baik ummat, meneladani perdamaian dan penghargaan terhadap sesama penganut agama.

“Akh..Gus Dur itu kan anthek Zionis, makanya getol sekali ke Israel…!”.
Begitu suara dari sudut sejarah yang pengap berteriak.

Zionisme lalu ditempelkan mereka pada Gus Dur. Dan Gus Dur hanya berguman sambil tersenyum manis dibibir hatinya, “Oh Tuhan, tunjukkanlah kaumku…Sungguh mereka tidak mengetahui….”, seperti juga doa Sang Nabi saw, saat dihina dan dilempar kotoran.

Gus Dur membiarkan cacian para pencaci, sebab jika ikut-ikutan menanggapi cacian mereka, apa jadinya keteladanan, keyakinan, kemuliaan dankeagungan yang diperjuangkan? Di hatinya, hanya ada Allah, gemuruh Allah, gelora dan simponi Allah, hanya ada konser Dzikrullah.

#HambaYangFaqir

Sabtu, 27 Agustus 2016

YAA NABI SALAM

Teks Syair Qasidah Ya Nabi Salam ‘Alaika

ﻳﺎ ﻧﺒﻲ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚYâ

nabî salâm ‘alaika, Yâ Rosûl salâm
‘alaika

Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, Wahai Rosul salam sejahtera untukmu.

ﻳﺎﺣﺒﻴﺐ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ ، ﺻﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚYâ

habîb salâm ‘alaika, sholawâtullâh ‘alaika

Wahai kekasih, salam sejahtera untukmu dan Sholawat (rohmat) Allah untukmu.

ﺃﺷﺮﻕ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻋﻠﻴﻨﺎ ، ﻓﺎﺧﺘﻔﺖ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺒﺪﻭﺭ

Asyroqol badru ‘alainâ, fakhtafat minhul budûru

Bulan purnama telah terbit menyinari kami, Pudarlah purnama purnama lainnya.

ﻣﺜﻞ ﺣﺴﻨﻚ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﻨﺎ ، ﻗﻂ ﻳﺎ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﺴﺮﻭﺭ

Mitsla husnik mâ ro-ainâ, qotthu yâ wajhas-surûri

Belum pernah aku lihat keelokan sepertimu wahai orang yang berwajah riang.

ﺃﻧﺖ ﺷﻤﺲ ﺃﻧﺖ ﺑﺪﺭ ، ﺃﻧﺖ ﻧﻮﺭ ﻓﻮﻕ ﻧﻮﺭ

Anta syamsun anta badrun, anta nûrun fauqo nûrin

Engkau bagai matahari, engkau bagai bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya

ﺃﻧﺖ ﺇﮐﺴﻴﺮ ﻭﻏﺎﻟﻲ ، ﺃﻧﺖ ﻣﺼﺒﺎﺡ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ

Anta iksîrun wa ghôlî, anta mishbâhush-shudûri

Engkau bagaikan emas murni yang mahal harganya, Engkaulah pelita hati.

ﻳﺎ ﺣﺒﻴﺒﯽ ﻳﺎ ﻣﺤﻤﺪ ، ﻳﺎﻋﺮﻭﺱ ﺍﻟﺨﺎﻓﻘﻴﻦ

Yâ habîbî yâ Muhammad, yâ ‘arûsal-khôfiqoini

Wahai kekasihku, wahai Muhammad, wahai pengantin tanah timur dan barat (sedunia)

ﻳﺎ ﻣﺆﻳﺪ ﻳﺎﻣﻤﺠﺪ ، ﻳﺎ ﺇﻣﺎﻡ ﺍﻟﻘﺒﻠﺘﻴﻦ

Yâ mu-ayyad yâ mumajjad, yâ imâmal qiblataini

Wahai Nabi yang dikuatkan (dengan wahyu), wahai Nabi yang diagungkan, wahai imam dua arah kiblat.

ﻣﻦ ﺭﺃﯼ ﻭﺟﻬﻚ ﻳﺴﻌﺪ ، ﻳﺎﮔﺮﻳﻢ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ

Man ro-â wajhaka yas’ad, yâ karîmal wâlidaini

Siapapun yang melihat wajahmu pasti berbahagia, wahai orang yang mulia kedua orang tuanya.

ﺣﻮﺿﻚ ﺍﻟﺼﺎﻓﯽ ﺍﻟﻤﺒﺮﺩ ، ﻭﺭﺩﻧﺎ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻨﺸﻮﺭ

Haudlukash-shôfîl mubarrod, wirdunâ yauman-nusyûri

Telagamu jernih dan dingin, yang akan kami datangi kelak dihari qiyamat.

ﻣﺎ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻟﻌﻴﺲ ﺣﻨﺖ ، ﺑﺎﻟﺴﺮﯼ ﺇﻻ ﺇﻟﻴﻚ

Mâ ro-ainâl ‘îsa hannat, bissurô illâ ilaika

Belum pernah unta putih berbalur hitam berdenting berjalan malam hari kecuali unta yang datang kepadamu.

ﻭﺍﻟﻐﻤﺎﻣﻪ ﻗﺪ ﺃﻇﻠﺖ ، ﻭﺍﻟﻤﻼ ﺻﻠﻮﺍ ﻋﻠﻴﻚ

Wal ghomâmah qod adhollat, wal malâ shollû ‘alaika

Awan tebal memayungimu, seluruh tingkat golongan manusia mengucapkan sholawat kepadamu.

ﻭﺃﺗﺎﻙ ﺍﻟﻌﻮﺩ ﻳﺒﮑﻲ ، ﻭﺗﺬﻟﻞ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻚ

Wa atâkal ‘ûdu yabkî, wa tadzallal baina yadaika

Pohon pohon datang kepadamu menangis bersimpuh merasa hina di hadapanmu.

ﻭﺍﺳﺘﺠﺎﺭﺕ ﻳﺎﺣﺒﻴﺒﻲ ، ﻋﻨﺪﻙ ﺍﻟﻈﺒﻲ ﺍﻟﻨﻔﻮﺭ

Wastajârot yâ habîbî, ‘indakadh-dhobyun-nufûru

Kijang gesit datang memohon keselamatan kepadamu wahai kekasih.

ﻋﻨﺪﻣﺎ ﺷﺪﻭﺍ ﺍﻟﻤﺤﺎﻣﻞ ، ﻭﺗﻨﺎﺩﻭﺍ ﻟﻠﺮﺣﻴﻞ

‘Indamâ syaddûl mahâmil, wa tanâdau lirrohîli

Ketika serombongan berkemas dan menyerukan untuk berangkat

ﺟﺌﺘﻬﻢ ﻭﺍﻟﺪﻣﻊ ﺳﺂﺋﻞ ، ﻗﻠﺖ ﻗﻒ ﻟﯽ ﻳﺎ ﺩﻟﻴﻞ

Ji,tuhum waddam’u sã-il, qultu qif lî yâ dalîlu

Kudatangi mereka dengan berlinang air mata seraya kuucapkan tunggulah wahai pemimpin rombongan

ﻭﺗﺤﻤﻞ ﻟﻲ ﺭﺳﺂﺋﻞ ، ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻮﻕ ﺍﻟﺠﺰﻳﻞ

Wa tahammal lî rosã-il, ayyuhâsy-syauqul jazîlu

Bawakan aku surat yang berisikan kerinduan yang mendalam

ﻧﺤﻮﻫﺎﺗﻴﻚ ﺍﻟﻤﻨﺎﺯﻝ ، ﻓﯽ ﺍﻟﻌﺸﻲ ﻭﺍﻟﺒﮑﻮﺭ

Nahwa hâtîkal manâzil, fîl ‘asyiyyi wal bukûri

Membawakan ke tempat yang jauh ketika petang dan paginya.

ﮐﻞ ﻣﻦ ﻓﯽ ﺍﻟﮕﻮﻥ ﻫﺎﻣﻮﺍ ، ﻓﻴﻚ ﻳﺎ ﺑﺎﻫﻲ ﺍﻟﺠﺒﻴﻦ

Kullu man fîl kauni hâmû, fîka yâ bâhîl jabîni

Setiap orang di jagad raya ini bingung (karenasangat rindu) kepadamu wahai orang yang bersinar kedua keningnya.

ﻭﻟﻬﻢ ﻓﻴﻚ ﻏﺮﺍﻡ ، ﻭﺍﺷﺘﻴﺎﻕ ﻭﺣﻨﻴﻦ

Wa lahum fîka ghorômun, wasytiyâqun wa hanînu

Mereka terpikat, tergila-gila dan meronta-ronta dengan mu tentang sifatmu.

ﻓﻲ ﻣﻌﺎﻧﻴﻚ ﺍﻷﻧﺎﻡ، ﻗﺪ ﺗﺒﺪﺕ ﺣﺂﺋﺮﻳﻦ

Fî ma’ânîkal anâmu, qod tabaddat hã-irîna

Para makhluk berbeda pendapat dan bingung (tidak mampu menyifati dengan sempurna)

ﺃﻧﺖ ﻟﻠﺮﺳﻞ ﺧﺘﺎﻡ ، ﺃﻧﺖ ﻟﻠﻤﻮﻟﯽ ﺷﮑﻮﺭ

Anta lirrusli khitâmun, anta lil maulâ syakûru

Engkau adalah penutup para utusan, engkau adalah orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah.

ﻋﺒﺪﻙ ﺍﻟﻤﺴﮑﻴﻦ ﻳﺮﺟﻮ ، ﻓﻀﻠﻚ ﺍﻟﺠﻢ ﺍﻟﻐﻔﻴﺮ

‘Abdukal miskînu yarjû, fadl-lakal jammal ghofîru

Hambamu (umatmu) yang miskin mengharap anugerahmu yang banyak lagi merata.

ﻓﻴﻚ ﻗﺪ ﺃﺣﺴﻨﺖ ﻇﻨﻲ ، ﻳﺎﺑﺸﻴﺮ ﻳﺎﻧﺬﻳﺮ

Fîka qod ahsantu dhonnî, yâ basyîru yâ nadzîru

Aku berbaik sangka kepadamu wahai pembei kabar gembira dan pemberi peringatan.

ﻓﺄﻏﺜﻨﻲ ﻭﺃﺟﺮﻧﻲ ، ﻳﺎﻣﺠﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻌﻴﺮ

Fa-aghitsnî wa ajirnî, yâ mujîru minas-sa’îri

Maka tolonglah aku dan selamatkan aku wahai penyelamat dari neraka syair.

ﻳﺎﻏﻴﺎﺛﻲ ﻳﺎﻣﻼﺫﻱ ، ﻓﻲ ﻣﻬﻤﺎﺕ ﺍﻷﻣﻮﺭ

Yâ ghiyâtsî yâ malâdzî, fî muhimmâtil umûri

Wahai penolongku, wahai tempat berlindungku dalam perkara-perkara yang menyulitkan.

ﺳﻌﺪ ﻋﺒﺪ ﻗﺪ ﺗﻤﻠﯽ ، ﻭﺍﻧﺠﻠﯽ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺤﺰﻭﻥ

Sa’id ‘abdun qod tamallâ, wanjalâ ‘anhul huzûna

Berbahagialah dan hilanglah kesusahan hambayang senang kepadamu.

ﻓﻴﻚ ﻳﺎﺑﺪﺭ ﺗﺠﻠﯽ ، ﻓﻠﻚ ﺍﻟﻮﺻﻒ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ

Fîka yâ badrun tajallâ, falakal washful hasînuWahai bulan purnama yang nampak terang bagimu sifat yang indah

ﻟﻴﺲ ﺃﺯﮐﯽ ﻣﻨﻚ ﺃﺻﻼ ، ﻗﻂ ﻳﺎﺟﺪ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ

Laisa azkâ minka ashlân, qotthu yâ jaddal husaini

Tiada orang yang orang tuanya lebih suci darimu sama sekali wahai kakek Hasan dan Husain.

ﻓﻌﻠﻴﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﯽ ، ﺩﺁﺋﻤﺎ ﻃﻮﻝ ﺍﻟﺪﻫﻮﺭ

Fa’alaikallâhu shollâ, dã-imân
thûlad-duhûri

Bagimu sholawat Allah selamanya sepanjang masa.

ﻳﺎ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﺤﺴﻨﺎﺕ ، ﻳﺎ ﺭﻓﻴﻊ ﺍﻟﺪﺭﺟﺎﺕ

Yâ waliyyal hasanâti, yâ rofî’ad-darojâti

Wahai Dzat Penguasa kebaikan, wahai Dzat Yang berpangkat tinggi

ﮔﻔﺮ ﻋﻨﻲ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ، ﻭﺍﻏﻔﺮ ﻋﻨﻲ ﺍﻟﺴﻴﺌﺎﺕ

Kaffir ‘annyadz-dzunûba, waghfir ‘annîs-sayyi-âti

Hapuslah dosa dosa dariku dan ampunilah kesalahan kesalahanku.

ﺃﻧﺖ ﻏﻔﺎﺭ ﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ
، ﻭﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﺍﻟﻤﻮﺑﻘﺎﺕ

Anta ghoffârul khothôyâ, wadz-dzunûbil mûbiqôti

Engkau adalah Maha Pengampun kesalahan kesalahan dan dosa yang merusakkan.

ﺃﻧﺖ ﺳﺘﺎﺭ ﺍﻟﻤﺴﺎﻭﻱ ، ﻭﻣﻘﻴﻞ ﺍﻟﻌﺜﺮﺍﺕ

Anta sattârul masâwî, wa muqîlul ‘atsarôti

Engkau adalah Yang Menutupi kejelekan dan menyelamatkan dari kesalahan.

ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﺴﺮ ﻭﺃﺧﻔﯽ ، ﻣﺴﺘﺠﻴﺐ ﺍﻟﺪﻋﻮﺍﺕ

‘Âlimus-sirri wa akhfâ, mustajîbud-da’awâti

Engkau Maha Mengetahui rahasia dan kesamaran, Engkau adalah Pengabul do’a.

ﺭﺏ ﻓﺎﺭﺣﻤﻨﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ ، ﺑﺠﻤﻴﻊ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ

Robbi farhamnâ jamî’an, bijamî’ish-shôlihâti

Robbi belas kasihanilah kami semua dengan mampu menjalankan segala amal baik

وصلاة الله تغشا عد تحرير السطورأحمد الهادی محمد صاحب الوجه المنير

Wa sholâtullâhi taghsyâ ‘adda tahrîris-suthûriAhmadal hâdî Muhammad shôhibal wajhil munîri

Dan sholawat Allah semoga tercurah atas Ahmad sang petunjuk yaitu Nabi Muhammad pemilik wajah yang bersinar..

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...