Rabu, 31 Maret 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 04

BAGIAN PERTAMA 04





“Kalau hanya itu pertimbangan kamu, apakah tidak bisa dipikirkan lagi? Pertama, sepanjang yang aku tahu, tidak semua anggota tentara Republik beraliran komunis. Kedua, aku ingin 
mengajak kamu berpikir tentang masa depan kalian sendiri. Tak ada perang yang tanpa akhir, dalam hal ini aku cenderung lebih suka kalian bergabung dengan tentara resmi.”

“Tidak,” jawab Kiram dan Kang Suyud hampir bersamaan. 

“Niat kami sudah bulat. Membentuk Hizbullah,” sambung Kiram.

“Baik. Itu pun, sudah kukatakan, aku merestuinya. Asal jangan kalian lupakan, nawaitu-nya lillahi taala dan kembalilah ke desa bila kelak keadaan sudah aman. Dalam pengertian seperti itulah dulu aku justru menyebut kalian Hizbullah.”

Aku merasa pertemuan itu berakhir dalam suasana agak kaku. Mungkin karena Kiai Ngumar, di luar dugaan, tidak serta-merta mendukung keinginan Kiram dan Kang Suyud, 
malah mengaku lebih suka jika kami bergabung dengan tentara resmi.

Kiram, Kang Suyud, Jun, dan Jalal langsung bubar, aku tinggal berdua dengan Kiai Ngumar. Aku bahkan menawarkan diri untuk mengawalnya ketika orang tua itu mengatakan 
ingin tidur di luar rumah. Kiai memilih sebuah surau kecil di kampung pengungsian itu sebagai tempat istirahatnya malam ini.

Kiai Ngumar keluar dengan iringan irama detak terompahnya yang khas. Bunyi terompah kayu itu selalu menjadi pertanda kehadirannya. Aku mengikutinya. Terbit rasa bangga karena aku menjadi pengawal yang benar-benar bersenjata bagi orang yang dihormati. Rasanya aku memang gagah.

Tentulah malam sudah cukup larut karena bulan tanggal tua sudah agak tinggi di timur. Aku mengira Kiai Ngumar akan segera masuk untuk tidur dalam surau kecil itu. Tetapi pikiranku salah. Kiai Ngumar mengajakku duduk pada sebuah bangku kayu di emper depan. Sepi sekali. Apalagi tak seorang pun 
penduduk yang menyalakan lampu minyak di beranda rumah mereka. Bahkan denging nyamuk pun tak terdengar. Musim kemarau yang kering tak memberi tempat basah untuk menetaskan telur nyamuk. Bulan tampak demikian tenang, membuat bayang-bayang temaram di halaman surau yang berpasir.

“Mid,” kata Kiai Ngumar mengusik keheningan.

“Ya, Kiai.”

“Sebenarnya, tadi masih banyak yang ingin aku katakan kepada Suyud dan kawan-kawannya. Tetapi aku melihat mereka sudah demikian kuat pada keputusannya.”

“Kalau Kiai masih ingin bicara, saya bersedia mendengarkannya dengan senang hati.”

“Ya, mumpung kita hanya berdua.”

“Kiai ingin cerita apa lagi?”

“Sebenarnya aku ingin mengajak mereka melihat masa lalu. Hal ini berkaitan dengan ucapan Suyud yang tak mau bekerja sama dengan orang-orang yang tidak taat bersembahyang.”

“Maksud Kiai?”

Kiai Ngumar tidak segera menjawab pertanyaanku. Aku merasa orang tua itu sedang memikirkan suatu hal yang penting dan mendalam.

“Mid, kamu tahu bahwa dulu orang Cina, orang Portugis, juga orang Inggris menyebut semua penduduk Indonesia dari Aceh sampai Sunda Kecil sebagai orang Selam?”

“Orang Selam?”

“Ya.”

“Lalu apakah hubungannya dengan sikap Kang Suyud yang hanya mau bergabung dengan orang-orang yang taat bersembahyang?”

“Dengarkan dulu dengan sabar. Orang-orang asing menyebut kita semua Selam.”

“Bukan ‘pribumi’?

“Bukan. Kata ‘pribumi’ belum lama lahir. Mungkin Ki Hajar Dewantara yang menciptakannya.”

“Lalu dengan istilah Selam?”

“Maksudnya jelas, Islam. Kamu mengerti apa artinya?”

“Tidak,” jawabku.

“Artinya, Selam adalah sebutan untuk semua orang yang tinggal di Aceh sampai Sunda Kecil tadi. Ya, pribumi itulah. Dulu, di mata orang asing, juga dalam perasaan kita semua, Selam dan Tanah Air adalah dua sisi dari satu mata uang, seperti Pandawa dan Amarta. Orang-orang tua kita di sini, yang sembahyang atau tidak, yang santri atau yang abangan, bahkan 
juga orang dul-dulan, sama-sama merasa sebagai orang Selam. Mereka bersaksi bahwa Gusti Allah adalah Tuhan Yang Esa, Kanjeng Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Mereka sejak lama hidup rukun dan bergotong-royong. Jadi aku tak paham mengapa si Suyud kini tak mau bergabung dengan tentara resmi hanya karena di sana banyak anggota yang tidak sembahyang.”

Sepi lagi. Kiai Ngumar menyalakan pemantik dan wajahnya yang tua tampak sesaat. Aku tepekur untuk mencoba mengikuti wawasan baru yang diuraikan Kiai Ngumar.

“Mid.”

“Ya, Kiai.”

“Sejak zaman dulu para ulama hidup damai dengan para santri dan juga damai di tengah orang-orang abangan. Para ulama dulu bahkan tidak pernah membuat garis pemisah antara keduanya. Memang istilah santri dan abangan, bahkan juga wong dul-dulan, sudah lama ada. Namun dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup dalam kebersamaan yang tak dapat 
diragukan.”

Rokok Kiai Ngumar padam lagi. Ada bayi menangis dari rumah yang paling dekat dengan surau. Ada suara tokek dari bubungan sebuah rumah. Dan Kiai Ngumar kembali menghidupkan pemantik api.

“Mid, para ulama dulu bahkan tidak menjauhi para bromocorah, kecuali jika mereka benar-benar membuka permusuhan. Mengapa? Karena para ulama dulu menganggap para bromocorah, atau orang-orang sebangsa mereka, tetap orang Selam meski mereka meninggalkan sembahyang.”

“Nanti dulu, Kiai. Maafkan, saya memotong. Dari kata-kata Kiai tadi, bolehkah saya menarik kesimpulan bahwa sebenarnya sembahyang tidak penting?” aku bertanya dengan suara 
tertekan.

Kiai Ngumar tertawa tertahan. Sayang, dalam gelap aku tak bisa melihat ekspresinya.

“Mid, kamu keliru. Para ulama seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan sebagainya, bahkan aku sendiri misalnya, tak pernah lupa mengajari orang untuk bersembahyang. Bukan 
hanya mengajarkan bacaan dan tata caranya, melainkan juga, dan ini yang paling penting, mengajari jiwa agar setiap orang bisa mewajibkan diri mereka sendiri untuk bersembahyang.

“Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, 
tak pula berhak menghukumnya. Lalu bagaimana dengan si Suyud yang seakan-akan mau mewajibkan suatu yang jadi hak Allah, yaitu sembahyang, kepada orang lain?”

Aku menarik napas panjang dan membiarkan Kiai Ngumar istirahat. Orang tua itu sudah bercakap panjang-lebar tentang sesuatu yang baru kuketahui dan kukira sangat penting. Dalam hati aku memuji keluasan pandangan kiai bekas tokoh SI itu. Bahkan sebenarnya aku tak pernah mengira, dalam diri Kiai Ngumar tersimpan pengalaman serta pengetahuan yang demikian luas.

“Masih ada satu hal lagi, Mid.”

“Ya, Kiai.”

“Dalam riwayat dikatakan. Nabi sendiri pernah mengikat perjanjian untuk bekerja sama dengan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyelenggarakan pertahanan kota Madinah. Nabi setia dengan perjanjian itu dan baru menarik diri setelah pihak lain berkhianat. Nah, Mid, dalam kaitannya dengan sikap Suyud itu, bagaimana?”

“Kiai…”

“Apa?”

“Saya jadi bingung. Saya memahami apa yang sudah Kiai katakan. Kini saya tahu, kewajiban berjihad untuk memerangi kekuatan yang membuat kerusakan di negeri ini sesungguhnya bisa juga dilakukan melalui ketentaraan resmi. Maksud saya tidak semata-mata harus melalui Hizbullah.”

“Ya. Memang begitu. Lalu kenapa bingung?”

“Kalau begitu, Kiai setuju bila saya sendiri yang bergabung dengan ketentaraan?”

“Memisahkan diri dari Kiram dan teman-temannya?”

“Ya.”

“Jangan, Mid. Nanti bisa timbul perpecahan di antara kalian dan fitnah. Sebaiknya kamu tetap bersama mereka membentuk barisan Hizbullah agar kamu semua tetap bersatu. Tetapi aku berwasiat bila sudah aman kelak, kembalilah ke desa dengan ikhlas. Atau ya itu tadi, bergabunglah dengan tentara. Tetapi kelak.”

“Kelak itu kapan, Kiai?”

“Begini, Mid. Belanda takkan lama di sini. Dalam ramalan orang-orang tua, sudah tak ada lagi jangka bagi mereka untuk tinggal di negeri ini. Percayalah, sesuatu ada masanya. Dan segala sesuatu tak akan hadir di luar masa yang tersedia baginya.”

“Tidak lama lagi?”

“Pada perasaanku, ya."

Aku lega karena jelas sekali apa yang harus kuputuskan besok. Aku juga sangat menghormati sikap Kiai Ngumar yang menaruh masalah kekompakan kami di atas hal-hal lain, termasuk pemikiran Kiai sendiri.

Bulan sudah tergelincir ketika Kiai Ngumar bangkit dan berjalan ke perigi. Detak terompah kayu setia mengiringinya. Terdengar kecipak air ketika Kiai Ngumar mengambil air sembahyang. Ada suara burung hantu dari arah selatan. Dan sinar bulan tiba-tiba lenyap karena segumpal awan bergerak menghalanginya.

Kiai Ngumar masuk ke surau dan bersembahyang. Aku merebahkan diri dekat pintu, bergulung kain sarung. Senjata tersembunyi di antara kedua kakiku. Karena perasaan lega dan udara malam yang dingin, aku segera terlena. Namun rasanya baru sesaat aku lelap ketika samar-samar aku mendengar suara terompah kayu Kiai Ngumar kembali berjalan ke perigi. Dan kokok ayam 
jantan bersahutan. Tokek di bubungan surau, bahkan keresek kelaras pisang tersentuh kelelawar yang pulang pagi.

Di pertengahan tahun 1948, Barisan Pemuda, nama asal-asalan yang kami berikan buat kelompok kecil pasukan kami sendiri, sah menjadi Hizbullah. Tetapi tak ada upacara, tak ada pencatatan anggota. Kami hanya berkumpul di rumah Kang Suyud, dan membaiat-nya menjadi tetua bagi kami: Kiram, 
Jun, Jalal, dan aku. Kiram menjadi wakilnya. Banyak pemuda ingin masuk, namun Kang Suyud hanya menjadikan mereka anggota cadangan karena mereka tak punya senjata. Maka dalam kenyataannya anggota Hizbullah dari kampung kami hanya ada lima orang, termasuk Kang Suyud.

Aku segera merasakan adanya perubahan: kami menjadi lebih terikat kepada Kang Suyud karena Kiram kelihatan mulai renggang dengan Kiai Ngumar. Memang, Kang Suyud boleh 
dibilang seorang kiai juga, namun ia lebih muda dan kukira tak punya pengalaman berorganisasi seperti Kiai Ngumar. Perubahan juga terasa terjadi di bidang lain. Dulu, ketika kami masih menggunakan nama Barisan Pemuda, kami lebih leluasa meminta bantuan kepada masyarakat. Kami bisa minta makan, 
minum, atau rokok kepada orang santri, orang abangan, atau para pedagang. Sekarang, entah mengapa kami hanya berani minta sumbangan logistik kepada orang-orang yang tinggal di 
sekitar masjid. Terasa pandangan mataku makin menyempit.

Perubahan yang lebih terasa terjadi pada segi yang menyangkut hubungan dengan kelompok-kelompok tentara resmi. Jelas sekali mereka seperti mengambil jarak dengan kami. Dalam berbagai operasi melawan tentara Belanda, mereka tidak mengajak kami. Masing-masing bertempur dalam garis komando sendiri-sendiri. Bahkan beberapa kali terjadi salah 
pengertian antara kami dan mereka, sehingga hampir terjadi baku tembak.

Suasana dingin dan tegang antara kami dan pasukan Republik mungkin akan bertambah buruk apabila mereka tidak mendapat komandan baru. Dengan pergantian komandan itu terasa ada angin segar. Bahkan suatu hari datang kurir membawa surat buat kami. Tentara minta bantuan kami (dalam surat 
itu khusus disebut nama Kiram dan namaku) untuk membawa Mantri Karsun ke Karangtalun. Ya. Kukira mereka sudah mendengar cerita tentang Kiram, tentang keberanian dan kenekatannya.

Mantri Karsun adalah pemungut cukai pasar desa kami, teman Hianli, dan keduanya kami kenal sebagai mata-mata Belanda. Surat itu menjadi bahan pembicaraan di rumah Kang 
Suyud. Dan sebelum ada kata putus apa pun, Kiram sudah begitu bernafsu hendak melaksanakan permintaan bantuan itu, 
yaitu mengambil Mantri Karsun.

“Nanti dulu,” kata Kang Suyud. “Kita punya perhitungan sendiri dengan mantri itu. Tanpa surat ini pun kita akan mengambil dia. Jadi…”

“Sebentar, Kang Suyud. Meskipun benar kita punya urusan sendiri dengan Mantri Karsun, apa salahnya jika tindakan terhadap dia kita atas namakan tentara?”

“Lho, buat apa?”

“Buat kerja sama. Aku percaya, suatu saat kita akan memerlukan bantuan mereka, obat-obatan misalnya. Atau siapa tahu, malah senjata. Kita hanya punya empat bedil, bukan?” kataku.

“Tetapi di sana banyak anak Pesindo, anak buah Siswo Wuyung yang komunis. Kamu mau bekerja sama dengan kafir komunis?”

Aku bingung. Pertanyaan Kang Suyud tak bisa kujawab. Untung aku teringat Kiram yang pernah dihina karena buta huruf.

“Kang, aku hanya melihat komandan mereka bukan komunis. Dia baik, dan kini malah minta bantuan kepada kita. Apa ini bukan pertanda iktikad baik dia? Juga, Kiram pernah mendapat penghinaan. Apabila permintaan mereka dapat kita penuhi, Kiram bisa membuktikan diri bahwa dia seharusnya dipuji, bukan dihina.”

Kang Suyud diam. Ketika dia tampak hendak berbicara, Kiram mendahuluinya.

“Pokoknya Mantri Karsun harus kuambil, tak peduli atas nama Republik atau atas nama Hizbullah.”

“Ya, ambil dulu dia. Soal atas nama siapa pengambilan itu, adalah urusan nanti,” kataku.

Tak tahulah, akhirnya semua sepakat bahwa aku dan Kiram yang akan mengambil Mantri Karsun. Aku lega karena aku merasa jurang yang memisahkan kami dengan pasukan Republik akan terjembatani. Apalagi bila aku dan Kiram terbukti berhasil membawa mata-mata Belanda itu ke hadapan koman dan pasukan Republik.

Seperti ketika menyergap Hianli, kali ini pun aku mengekor saja kepada Kiram. Seperti Hianli, kabarnya Mantri Karsun pun tak pernah tinggal di rumah pada malam hari. Maka 
kami memilih saat yang lain. Setelah memperhitungkan segala sesuatu, pagi-pagi kami sudah bersembunyi di balik semak sepi 
di pinggir jalan ke arah pasar. Mantri Karsun selalu lewat di situ setiap pagi hari pasaran untuk menarik uang retribusi dari para pedagang. Pukul setengah tujuh kudengar suara sepeda datang, dan tak salah lagi: Mantri Karsun. Kiram melompat keluar dari semak dan tanpa ucapan apa pun ia menarik Mantri Karsun dari atas sepedanya. Kendaraan itu roboh dan pemiliknya tak berdaya dalam cekalan Kiram. Lebih-lebih lagi setelah aku membelenggu kedua tangannya ke belakang dan mendorongnya agar cepat bergerak meninggalkan jalan besar.

Aku dan Kiram berjalan bergegas sambil mendorong-dorong Mantri Karsun. Kami harus segera menjauh karena tadi kulihat ada beberapa orang menyaksikan operasi kami. Sampai di pinggir sungai kami berhenti. Kiram menyuruh Mantri Karsun jongkok. Kukira dia akan langsung menembak tawanan itu, tetapi ternyata tidak.

“Kita ke mana?” tanya Kiram.

“Kok tanya. Ke Karangtalun, bukan?” balasku. 

“Ke markas tentara?”

“Ya.”

“Kang Suyud tidak setuju.”

“Aku sudah tahu sikap Kang Suyud. Tetapi kamu perlu membuktikan kepada tentara bahwa kamu tak pantas dihina.”

Sebagai jawaban, Kiram menyuruh Mantri Karsun bangkit. Kulihat wajah pesakitan itu sangat pucat. Kedua kakinya gemetar. Malah celananya basah. Mulutnya menggumamkan 
sesuatu, mungkin permintaan ampun, tapi Kiram tak peduli. 

Sebagai seorang mata-mata, Mantri Karsun memang menjengkelkan. Kabarnya, tentara Republik beberapa kali gagal mencegat pasukan Belanda karena rencana mereka tercium mantri itu dan ia bocorkan ke pihak lawan. Ada kabar juga, suatu pos rahasia pasukan Republik diserang Belanda atas petunjuk Mantri Karsun. Jadi tentara, dan kami juga, memang jengkel terhadap mata-mata itu. Namun ketika mantri itu tak berdaya dan terkencing-kencing, aku hampir tak tega melihatnya.

Tukang perahu tambang ikut gemetar ketika Kiram memintanya menyeberangkan kami. Apalagi ia segera menyadari bahwa kami membawa seorang tahanan yang terbelenggu. Dengan wajah ketakutan tukang perahu itu memenuhi permintaan kami. Mantri Karsun yang pertama naik, kemudian menyusul Kiram dan aku. Perahu tambang bergerak dengan segalanya kelihatan lancar. Kiram tetap berdiri. Dalam posisi seperti itu, dia mudah oleng.

Kemudian terjadilah peristiwa itu. Aku tak tahu persis bagaimana awalnya; yang kulihat sekilas adalah kedua tangan Mantri Karsun terlepas dari belenggu dan sedetik kemudian 
dia sudah terjun lalu menghilang di bawah permukaan air. Aku dan Kiram gugup, apalagi perahu tambang menjadi oleng ketika Mantri Karsun terjun ke air. Dengan senjata siap tem-
bak, aku dan Kiram menunggu tawanan itu muncul. Senjata Kiram meledak lebih dulu ketika ada kepala muncul sepuluh meter arah hilir. Luput. Kepala Mantri Karsun kembali lenyap.

Seperempat menit kemudian kepala itu timbul lagi dan dua ledakan terdengar hampir bersama. Kami yakin, kali ini pun luput karena tampak jatuhnya peluru-peluru itu meleset.

Akhirnya Kiram menyerahkan senjatanya kepadaku. Ia sendiri menghunus pisaunya lalu terjun ke air. Soal berenang, Kiram sulit ditandingi oleh siapa pun karena sejak bocah ia akrab dengan air. Rumah Kiram terletak di punggung tanah, hanya beberapa jengkal dari sungai.

Kiram mengambang seperti bangkong, tetapi matanya awas. Ketika Mantri Karsun muncul agak di sebelah timur, Kiram malah menyelam. Ya Tuhan. Kemudian aku melihat air di sana berbuih-buih dan berwarna merah. Aku yakin ada pertempuran di bawah permukaan air. Kedua kaki tukang perahu tambang gemetar. Aku pun berusaha memalingkan muka, tak 
sanggup melihat air sungai menjadi merah. Celakanya, ketika aku kembali melihat ke sana, dua kepala muncul bersama. Satu kepala Kiram, yang lain kepala Mantri Karsun yang sudah terlepas dari tubuhnya. Aku menjerit dan melompat, lalu jatuh terduduk di lantai perahu. 

Aku linglung. Kulihat kiri-kanan. Ada nasi panas dengan ikan asin bakar dan secangkir kopi di dekatku. Di sana ada Kiram sedang makan berdua dengan Jun. Mereka tertawa ketika memandang aku. Ya. Aku kemudian sadar, soal Mantri Karsun sudah lama berlalu, sudah hampir sepuluh tahun berselang.

Dan kini aku sedang duduk merenung dalam sebuah pos rahasia Darul Islam, dalam sebuah gua.

“Kamu mimpi?” tanya Jun masih sambil tertawa. Ia seperti tak merasakan luka yang merobek kulit pahanya. Aku tak bisa 
menjawab. Kepalaku pening. Lagi pula aku sangat tergoda oleh nasi, ikan asin bakar, dan cabai rawit. Dan secangkir kopi panas itu. 



                              *****

______________________________________________

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 03

BAGIAN PERTAMA 03




“Sabar. Dan biarlah aku menjamin, senjata yang dipegang Kiram hanya akan digunakan untuk membantu tentara Republik, ya sampean-sampean itu. Lagi pula, senjata itu bisa menjadi modal penggugah semangat anak-anak muda di kampung ini,” katanya menengahi.

Wibawa Kiai Ngumar ternyata mampu meyakinkan keempat tentara itu. Dengan wajah yang kurang jernih mereka merelakan salah satu senjata rampasan itu menjadi milik Kiram.

Kiram tampak bingar. Dan jadilah dia anak muda pertama di desaku yang menyandang senjata, sebuah Lee Enfield buatan Amerika. Kiram sangat bangga, dan memang, Kiram 
menjadi tambah gagah. Tapi Kiram juga baik hati, setidaknya terhadap aku dan Jun. Ia memberi kesempatan padaku dan Jun untuk mengenal senjatanya dan berlatih menggunakannya meski tanpa peluru. Dalam beberapa kali pencegatan terhadap pasukan Belanda, kami menggunakan senjata Kiram itu secara bergantian.

Dengan modal satu bedil itu Kiram, aku, dan Jun, dan Jalal membentuk barisan pemuda. Orang kampung menyebut kami “pemuda” saja, sebutan baru yang secara ajaib membuat kami merasa gagah dan bangga. Tetapi sebutan itu juga yang membuat kami jadi urakan. Kiai Ngumar menyebut kami Hizbullah. Tak tahulah, pokoknya kami senang sebab merasa dianggap penting. Tetapi Kiram, mungkin karena sudah punya senjata sehingga merasa paling gagah, sering nakal. Kiram sering menggoda Asui, gadis Cina pemilik toko di depan pasar. Ulah Kiram mengundang kebencian Hianli, paman Asui. Kata orang, karena kebencian itu Hianli membalas dendam kepada Kiram. Caranya, dia menjadi mata-mata Belanda untuk memberi pelajaran kepada Kiram yang sering menggoda Asui.

Semua orang percaya bahwa karena Hianli pula, barisan pemuda suatu malam digerebek di rumah Kiram. Untung mereka salah masuk, sehingga kami punya sedikit waktu untuk kabur. Tapi aku sendiri hampir mati oleh tembakan yang dilepaskan penyergap yang siap di halaman rumah. Tangan kananku terasa tersentak, namun aku tak segera menyadari apa yang terjadi karena aku harus lari dan lari. Setelah berlari cukup jauh, aku 
baru sadar bahwa tangan kananku kena. Mestinya tak parah, karena aku merasa tulang tanganku tidak patah. Namun aku tak dapat menggerakkan telapak tangan dan kelima jariku. Dan kain sarung, satu-satunya pakaian yang kebetulan sedang melekat di badanku, terasa kuyup oleh cairan yang amis: darah. Lalu aku ingat ngelmu pemberian Kiai Ngumar: bila sedang diburu bahaya seperti itu, segala pakaian yang melekat harus dibuang agar para pengejar terkecoh. Jadi malam itu aku lari kocar-kacir tanpa kain sepotong pun.

Meskipun rasanya tak membahayakan jiwa, tembakan yang mengenai tangan kanan itu memberi aku pengalaman yang tak mudah kulupakan. Setelah lepas bahaya, rasa sakit mulai menyengat lukaku. Dalam kegelapan malam aku tahu ternyata banyak darah keluar. Lagi pula aku mulai kedinginan. Maka aku segera sadar apa yang seharusnya kulakukan, yaitu mencari pertolongan secepatnya. Aku bergegas sambil melawan rasa sakit, melintas ladang dan menyusur belukar untuk mencapai kampung di seberang sungai. Aku tahu, di sana ada beberapa rumah penduduk yang sudah kukenal. Sampai ke rumah pertama aku berhenti dan termangu. Tak sedikit pun ada cahaya dari dalam rumah itu. 

Aku ragu, tetapi aku sangat sadar aku harus segera mendapat pertolongan. Maka dengan suara sesantun mungkin aku memanggil, tetap sepi. Maklum, suasana memang tak aman dan pemilik rumah pasti mendengar rentetan tembakan yang membuat mereka ketakutan. Setelah si pemilik rumah mengenali suaraku, mungkin baru ada tanggapan dari dalam. Kulihat ada pelita dinyalakan. Lalu suara pintu terbuka. Ternyata yang keluar adalah seorang perempuan.

Tak akan kulupakan bagaimana reaksi perempuan itu ketika melihat diriku yang telanjang dan berlumur darah. Ia terpana dengan mulut ternganga. Tangannya bergerak menggapai-gapai. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara. Lalu dengan tergagap-gagap ia memanggil suaminya.

Keesokan harinya Kiram muncul. Katanya, ia mudah menemukan aku karena mengikuti bekas tetes-tetes darah. Kiram membawa cerita macam-macam. Malam itu rumah orangtuaku, cerita Kiram, dibakar. Dan ada dua penduduk ditembak mati. Semua orang mengungsi, kecuali Kiai Ngumar yang merasa tak kuasa meninggalkan suraunya. Orang tua itu ingin bertahan sejauh ia masih melihat peluang, tak peduli sekecil apa pun.

“Kedua orangtuamu sangat cemas, jangan-jangan kamu mati. Kain sarungmu yang tertinggal sungguh berlumur darah.”

“Jadi?”

“Ah, gampang. Mereka kuhibur. Kalau kamu benar mati, tentulah mayatmu tergeletak dekat kain sarung itu. Karena mereka tak melihat mayat, mereka percaya kamu masih hidup. Jadi lupakan saja.”

Kiram tertawa.

“Mid, kukira kita benar-benar sudah pernah perang.”

“Apanya yang perang?”

“Ya, kita sudah berperang. Tadi malam.”

“Belum.”

“Sudah. Buktinya, kamu tertembak. Untung kamu tak mati.”

“Perang itu tembak-menembak. Nah, merekalah yang sudah menembak kita. Kamu, belum satu peluru pun kamu ledakkan. Jadi kamu belum pernah perang.”

Kiram kecut.

“Mid, bedilku kosong. Aku tak punya pelor, tahu?”

“Jadi bedilmu cuma buat gagah-gagahan?”

Kami tertawa.

Pada malam kelima Kiram datang lagi. Semula aku menduga Kiram datang hanya untuk memamerkan bedilnya yang sudah berisi peluru. Dia juga punya granat. Rasanya, Kiram 
memang tampak hebat. Tetapi malam itu Kiram datang dengan rencana yang kupikir edan.

“Mid, kamu ingin punya senjata seperti aku, bukan? Di zaman seperti ini, seorang pemuda yang tak punya senjata adalah anak bawang. Pemuda seperti itu bukan apa-apa. Iya, kan?”

Aku ciut. Senyumku pahit karena ada penghinaan yang tak bisa kusanggah. Lalu Kiram mengutarakan rencananya. Ternyata Kiram tahu Hianli menyimpan sebuah senapan di tokonya. Rahasia itu diperolehnya dari perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah pedagang itu. Bukan hanya menyimpan senjata, setiap malam Hianli diketahui bergabung dengan kelompok mata-mata Belanda dan baru pulang menjelang fajar.

“Ketika Hianli pulang, itulah saatnya kita bertindak.”

“Ah, yang benar! Kamu mau mengambil Asui, bukan senjata kepunyaan pamannya.” Aku balas mencemooh untuk membayar sakit hatiku.

Kiram terlihat tawar.

“Tidak, Mid. Asui memang menarik. Tetapi kali ini aku tidak main-main. Malah yang kuinginkan bukan hanya senjata milik Hianli, tapi juga nyawanya. Ia mata-mata. Setuju?”

Aku diam. Tapi aku tak membantah ketika Kiram mengajakku pergi dari rumah persembunyianku malam itu juga. Meski belum pulih benar, namun luka di tangan kananku tak 
terasa sakit lagi. Malam itu kami keluar kampung dan tidur di sebuah dangau di tengah sawah.

Ketika kaki langit timur mulai memerah, aku dan Kiram sudah keluar dari dangau dan berjalan ke arah kampung. Sepagi itu perutku sudah kenyang oleh singkong bakar. Kami 
menginjak rumput pematang yang sangat basah oleh embun. Dari belakang terdengar kokok ayam hutan. Suara jangkrik. Suara burung cabak. Selebihnya, sepi. Sebelum masa perang dulu, sepagi itu sudah banyak orang gunung turun hendak ke pasar. Mereka memikul kayu atau daun jati sambil membawa 
obor. Suara derit pikulan selaras dengan irama langkah mereka. Namun sejak ada perang, suasana sangat berubah. Awal pagi adalah kepanjangan sepi yang mencekam sejak matahari terbenam. Tak ada lagi obor orang-orang gunung. Tak ada embik kambing yang sedang dituntun hendak dijual di pasar. 
Sampai di pasar, kami pun hanya menemukan sepi. Padahal biasanya perempuan penjual serabi sudah datang mendahului kokok ayam pertama. Dengan waktu kerja seperti itu, pedagang serabi sudah siap melayani pembeli pada jam lima pagi. Tapi sudahlah. Perang memang memaksakan banyak sekali perubahan. Tetapi Kiram dan aku lebih senang menemukan pasar yang masih gelap dan lengang. Hanya sialnya, anjing Hianli menggonggong. Pada saat yang sama kudengar bunyi sepeda mendekat. Kiram menarik tubuhku agar terlindung di balik pokok beringin yang tumbuh di depan pasar. Hianli pulang naik sepeda ditemani dua orang bersenjata. Kiram mengenali mereka sebagai polisi yang pro-Belanda.

Kulihat kedua polisi itu memutar sepeda mereka. Kiram menunggu sesaat, lalu melompat dari tempat persembunyiannya dan bersicepat menodongkan senjatanya ke perut Hianli. Paman Asui itu, yang masih berdiri memegangi sepedanya, terpaku. Anjingnya menggonggong dan terus menggonggong. 
Kiram menyuruhku mengambil bedil Hianli yang sudah diletakkan di tanah atas perintahnya. Tanganku gemetar. Anjingnya tak henti-hentinya menggonggong. Kiram menyuruh Hianli jongkok dan berbalik. Tiba-tiba pintu terbuka. Asui keluar bersama anjingnya. Senjata Kiram meledak. Aku memejamkan mata. Gonggongan si anjing padam. Dan Hianli masih jongkok. Kiram kembali mengokang senjata dan langsung mengarahkannya ke tengkuk Hianli. Aku menutup telinga. Asui yang lama terpaku tiba-tiba maju menerkam tangan Kiram. Lalu, tak tahulah. Kiram menurunkan senjatanya dan 
mengajakku pergi. Asem! Kukira memang benar, Kiram menyukai Asui. Atau entahlah, yang jelas aku bergegas meninggalkan toko di depan pasar itu.

Setelah beberapa saat berjalan aku menengok ke belakang. Karena suara tembakan, seisi rumah Hianli keluar. Aku mempercepat langkah agar mereka tak sempat mengenaliku. Tetapi Kiram malah sengaja berhenti dan berbalik untuk mengucapkan kata-kata ancaman.

Ketika matahari muncul, aku dan Kiram sudah menyeberangi sungai. Sebetulnya aku ingin terus menjauh, namun Kiram tak setuju. Kiram bahkan mengambil beberapa tangkai kelaras pisang, menggelarnya di atas hamparan pasir pelataran sungai, lalu merebahkan diri. Tak lama kemudian Kiram benar-benar tertidur. Bukan main. Sebenarnya, aku pun sangat 
mengantuk karena semalam hanya tidur sebentar. Tapi untuk lelap di pelataran sungai hanya seperempat jam sesudah merebut senjata dari seorang mata-mata Belanda, sungguh tak mungkin kulakukan.

Jadi aku hanya duduk bersandar pada batang randu di samping Kiram yang sudah mendengkur. Kulihat di pucuk sana, seekor burung srigunting bertengger dan sesekali berkicau. Bulunya yang hitam pekat tampak berkilat oleh cahaya matahari pagi. Ekornya yang terbelah menyerupai sebuah gunting, ter-
buka bergerak-gerak mengikuti irama kicauannya. Para petani tahu, kicau srigunting adalah pertanda datangnya mangsa kapat, masa keempat dalam pranata mangsa atau kalender pertanian tradisional. Itulah saat yang baik untuk menebar benih di lahan kering, karena musim hujan sudah menjelang.

Sementara Kiram tidur pulas, hatiku gelisah. Mengapa Kiram demikian yakin bahwa Hianli tak akan melapor kepada teman-temannya lalu mengejar kami? Karena rasa cemas yang 
tak bisa kutahan, kuputuskan untuk membangunkan Kiram. Tenang sekali ia membuka matanya, menggeliat sambil melenguh lalu duduk.

“Sudah siang. Kita mau terus ke mana?”

“Ke mana? Di sini dulu, duduk. Kita istirahat dan bicara.”

“Bicara?”

“Ya. Dan aku ingin tanya padamu: sesudah terlaksana punya senjata, bagaimana perasaanmu? Senang, bukan?”

Aku malu.

“Pasti senang,” sambung Kiram, “sebab kamu tak mungkin lagi dibilang orang anak bawang.”

Aku tersenyum lagi dan bertambah malu.

“Mid, karena sudah bersenjata, kita harus mengambil jarak dengan orangtua kita, juga dengan Kiai Ngumar.”

“Bagaimana?”

“Orangtua kita dan Kiai Ngumar akan mendapat kesulitan bila kita kelihatan tetap akrab dengan mereka. Kita harus selalu bergerak. Bila kita tetap tinggal di kampung, orangtua kita bisa menjadi bulan-bulanan tentara Belanda.”

Aku mengangguk, aku mengerti kebenaran yang ada dalam kata-kata Kiram. Dengan senjata yang ada di tangan, aku pun segera sadar bahwa kini aku sudah terang-terangan menjadi musuh tentara Belanda. Orang-orang seperti Hianli, juga Karsun, mantri pasar, yang sudah dikenal sebagai mata-mata Belanda, tentu akan selalu mengintip gerak-gerikku.

“Lalu apa rencanamu?”

“Aku ingin membentuk kelompok yang lebih baik.”

“Hanya berdua?” 

“Kamu tolol. Jun dan Jalal sudah kuajak bicara dan mereka setuju. Juga Kang Suyud, biarpun ia sudah banyak anak. Kamu bagaimana?”

Aneh, aku merasa tak mudah menjawab pertanyaan Kiram. Namun setidaknya aku mempunyai keinginan membalas mereka yang telah membakar rumah orangtuaku dan melukai tanganku: Belanda.

“Bagaimana?”

“Ya. Tentu aku ikut kamu, asalkan bicarakan dulu hal ini di hadapan Kiai Ngumar.”

“Ya.”

Dari pelataran itu kami bergerak ke utara seperti yang diminta Kiram. Ada seorang petani yang ketakutan ketika melihat aku dan Kiram yang menyandang senjata. Namun setelah mengenali wajah kami, petani itu urung lari. Ia malah menawarkan cerek airnya. Kami minum sepuas hati. Keringat menitik hampir di seluruh permukaan kulit dan menjadi pendingin tubuh ketika angin bertiup.

Pada malam yang sudah direncanakan, aku dan Kiram mengunjungi Kiai Ngumar di rumah pengungsian. Di sana ternyata sudah ada Jun, Jalal, dan Kang Suyud. Kami berkumpul dalam ruangan yang remang-remang, bahkan kami menaruh seorang penjaga di luar. Sambil makan kacang rebus yang disuguhkan oleh pemilik rumah, Kiram mengutarakan maksudnya kepada Kiai Ngumar.

Hening sesaat. Dalam ruangan yang remang-remang itu hanya terdengar bunyi jemari memijiti kulit kacang rebus, dan pemantik api yang dinyalakan oleh Kang Suyud.

“Baik,” ujar Kiai Ngumar setelah lama terdiam.

 “Jadi kalian hendak membentuk barisan Hizbullah.”

“Benar. Dan kami hanya tinggal menunggu doa restu Kiai,” jawab Kiram.

“Aku tentu memberimu doa restu. Tetapi aku juga ingin bertanya, apakah tidak lebih baik kalian bergabung dengan tentara Republik?”

“Tidak,” jawab Kiram cepat. “Kami lebih suka membentuk barisan sendiri.”

“Ya, Kiai. Lebih baik kami bekerja sendiri,” dukung Kang Suyud.

“Baik. Tetapi aku ingin bertanya, apa kalian sudah paham perbedaan antara tentara Republik dan Hizbullah?”

Tak ada yang menjawab. Dalam kelengangan yang sejenak kembali terdengar kulit-kulit kacang yang pecah terbelah.

“Soal persamaannya kalian tentu sudah tahu,” ujar Kiai Ngumar. “Tentara Republik dan Hizbullah sama-sama pasukan bersenjata yang berjuang melawan tentara Belanda untuk 
mempertahankan kemerdekaan negara kita.”

“Dan perbedaannya?” aku bertanya.

“Bedanya?” ujar Kiai Ngumar. “Begini. Meskipun sama-sama bertempur melawan Belanda, ada perbedaan yang cukup mendasar antara tentara Republik dan Hizbullah. Tentara Republik adalah pasukan resmi. Artinya, mereka adalah bagian sah Republik. Maka selama Republik berdiri, mereka mutlak diperlukan kehadirannya. Republik pun wajib memberi mereka gaji, setidaknya kelak bila negeri sudah normal. Lalu, apa Hizbullah?”

Kiai Ngumar memberi jeda, mungkin agar ada kesempatan bagi kami untuk memahami penjelasan yang telah diucapkannya.

“Hizbullah adalah gerakan perlawanan rakyat yang bersifat sukarela. Dasar niatnya lillahi taala, tujuannya melaksanakan wajib memerangi kafir yang membuat kerusakan di negeri ini seperti sudah difatwakan Hadratus Syeikh. Dan tidak seperti tentara resmi, Hizbullah tidak dibentuk oleh pemerintah. Mereka lahir karena keserta-mertaan para ulama. Karena niatnya lillahi taala, anak-anak Hizbullah tidak akan menerima gaji dan kukira harus membubarkan diri setelah keadaan aman. Itulah, maka aku tadi bertanya, apakah tidak lebih baik kalian bergabung dengan tentara resmi?”

“Ya, saya setuju,” jawabku. “Sebaiknya kita bergabung dengan mereka karena jumlah kita tak banyak.”

“Mid! Kamu jangan macam-macam. Kalau tak kuberi, kamu tak akan punya bedil. Kamu akan tetap anak bawang,” kata Kiram tajam.

“Kami tahu kamu tamat sekolah lima tahun. Kamu ingin jadi tentara demi gaji,” tambah Kang Suyud tak kalah pedas.

“Nanti dulu,” Kiai Ngumar menengahi, mungkin karena melihat aku sudah ciut. “Jadi kalian tidak ingin bergabung?”

“Ya, kami tidak ingin bergabung dengan tentara Republik,” jawab Kang Suyud. “Kami ingin membentuk pasukan sendiri dengan anggota yang semuanya mau sembahyang. Kiai, saya 
melihat banyak tentara tak melakukannya. Malah saya tahu dengan jelas, beberapa anak buah Siswo Wuyung ada dalam barisan tentara Republik. Jangan lupa Siswo Wuyung adalah 
pendiri persatuan komunis di wilayah ini sejak 1938.”

Kiai Ngumar mengangguk-angguk.

“Dan mereka pernah menghina saya karena saya buta huruf,” sela Kiram.

“Tentang Siswo Wuyung, kukira aku lebih tahu daripada kalian. Dia pernah bersama-sama dengan aku dalam Sarekat Islam sebelum perkumpulan itu pecah jadi SI Putih dan SI Me-
rah. Dia memang komunis.”

“Itulah. Maka kami tak bisa bekerja sama dengan anak buahnya dalam ketentaraan.”





Bersambung... 

______________________________________________

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...