Kamis, 30 Juli 2020

SANG KYAI -50

Sang kyai 50

“Harapan dan angan-angan itu sangat berbeda sekali, harapan itu selalu dari sisi kebenaran dan akherat atau Alloh, tapi kalau angan-angan atau hayalan itu dari sisi dosa, dan dunia, contoh seseorang tak akan menyukai istri orang lain, itu namanya khayalan, kemudian dibawa hayalan itu di pikiran dipupuk dengan aneka gambar nafsu, tapi jika kemudian hayalan itu dibuktikan atau diusung kepada kenyataan maka akan bernama perselingkuhan, zina, padahal apa yang di kenyataannya tak enak, itu kalau diangan-angankan akan seakan-akan nikmat sekali, seperti orang ingin bakso, tapi baru habis 1 mangkok sudah lantas tak mau lagi, padahal semalaman tak bisa tidur karena menghayalkan dan menginginkan bakso itu dibayangkan dimakan segigit demi segigit, tapi setelah dirasakannya nikmatnya tak seberapa.”

“Sebaliknya harapan itu selalu berhubungan dengan akherat, atau perbuatan mulia, atau ridho Alloh, misal seseorang tak akan menyukai atau berharap agar orang yang sudah punya suami itu menjadi miliknya, sebab memang bukan miliknya, dan bukan haknya, antara harapan dan angan-angan itu sama-sama belum terjadi, tapi secara prakteknya dan jalur keluarnya beda. Walau secara bentuk tempat keluar sama dalam artian seperti dua paralon, satu mengeluarkan limbah, dan satu mengeluarkan air bersih.”

“Jadi orang yang menyukai saya itu tak benar kyai?” kata Dewi.

“Ya, dan lebih baik dihindari.”

“Lalu bagaimana solusi anak saya dengan suaminya kyai?” tanya ibunya Dewi.

“Itu suaminya berapa kali sebulan pulang ke rumah?” tanyaku.

“Biasanya sebulan datang sekali, itu juga tak menyentuh saya sama sekali, hanya sama anak-anak.” jawab Dewi.

“Apa mungkin dia punya penyakit?” tanyaku lagi.

“Iya itu yang selalu dijadikan alasan kenapa dia tak mau menyentuh saya.” jelas Dewi

“Lalu penyakitnya apa?”

“Dia punya penyakit di rusuknya, kalau kambuh ya katanya nyeri sekali, sudah diobatkan kemana-mana kyai, tapi sampai sekarang malah makin parah saja.”

“Begini saja nanti kalau suaminya pulang, dibawa kesini saja, biar aku bicara sama dia.”

“Dia seorang insinyur kyai, sepertinya akan susah bicara dengannya, dia selalu mengutamakan logika.” jelas Dewi.

“Iya tak apa-apa, bawa saja dia kemari.”

“Baik kyai kalau begitu nanti akan saya bawa ke sini, kami minta diri saja.” kata Dewi.

———————–

Seminggu kemudian Dewi datang lagi membawa suaminya, seorang pemuda yang berkulit kuning, tinggi sedang, di wajahnya ada sedikit keangkuhan, aku juga tak heran jika seseorang bekerja sebagai seorang manager sebuah perusahaan besar, itu biarlah menjadi pembawaannya, dia mengenalkan diri bernama Suryo Wisanggeni, nama yang aneh menurut penilaianku, mengingat nama adalah do’a setiap kita memanggil orang yang mempunyai nama indah, maka akan seperti mendo’akan orang yang kita panggil.

Aku sebelumnya telah memberitahu Dewi agar suaminya dibawa ke rumahku dengan alasan mau diobatkan penyakit di rusuknya yang nyeri, yang menurut Dewi bahwa penyakit itu telah dibawa berobat ke dokter atau ke shinse, atau paranormal terkenal, tapi tak juga sembuh.

Ketika Suryo menatapku, aku melihat pancaran keraguan di wajahnya, sebab aku memang selalu terlihat kecil tak berdaya.

“Sakitnya apa mas?” tanyaku ku tujukan pada Suryo.

“Aku sakit di rusuk sebelah kiri.” kata Suryo.

“Lalu sudah diobatkan di mana saja?” tanyaku.

“Ah sudah pegel aku nyari obatnya mas.”

“Apa sama sekali tak ada perubahan?” tanyaku.

“Sama sekali tak ada mas, tapi ada satu yang menjadikanku agak enak, yaitu minum darah ular kobra, maka beberapa hari sakitku seperti hilang, tapi seminggu kemudian aku sakit lagi, lalu aku konsumsi darah ular kobra lagi, maka sakitku pun mendingan lagi, dan seminggu kemudian sakit lagi, dan mulai ku hentikan, ketika di tubuhku banyak timbul benjolan-benjolan,” kata Suryo sambil menunjukkan benjolan di lengan, pundak, punggung, dan di bagian tubuh yang lain.

“Apapun walau pengobatan sekalipun kok itu dari hal yang diharamkan Alloh, maka pasti ada akibat buruknya, dan juga ada akibat baiknya, tapi akibat buruknya lebih mendominasi.”

“Lalu penyakitku ini bisa diobati tidak?”

“Ya semua penyakit bisa diobati. Cuma kadang suatu penyakit itu harus didiagnosa dulu, agar penyebab penyakit bisa diketahui, dan solusi obat bisa ditepatkan dalam mengobati, jadi tak asal, kalau asal saja mengobati ya tak akan sembuh, karena penyebab penyakit tak dipotong akarnya.”

“Memangnya bisa didiagnosa.” tanya Suryo ragu.

“Mendiagnosa penyakit sebenarnya gampang-gampang susah, begini saja, kalau menurutku segala penyakit itu pemberian Alloh, kadang dengan maksud menegur, seperti kenapa sampean penyakitnya di rusuk, kenapa tidak di mata, atau di jempol, atau di tempat lain? Kenapa di rusuk? Sampean mestinya orang cerdas, wong sekolahnya tinggi, la saya malah ndak pernah sekolah.”

“Maaf, apa bisa penjelasannya tidak muter-muter?” kata Suryo.

“Begini, manusia itu kan diciptakan Alloh, itu mau diakui atau tidak diakui, manusia itu tetap penciptanya adalah Alloh, juga segala pengaturan hidupnya itu di bawah cengkeraman Alloh, bahkan orang yang Alloh kehendaki mati, ya pasti mati, sekalipun dia lari bersembunyi di lubang semut sekalipun, maka akan tetap nyawanya bisa dicabut oleh malaikat maut, juga Alloh memberikan penyakit di tempat-tempat tertentu, agar kita sadar isyarat yang Alloh berikan lewat penyakit itu, namanya membaca khalil akhwal, membaca kehendak Alloh mencangkup segala kejadian itu ada maksudnya, seperti penyakit sampean yang kenapa diletakkan di rusuk, kenapa rusuk yang sakit? kenapa tidak di tempat lain? padahal bisa saja sakit di tempat lain, karena wanita itu diciptakan dari rusuk lelaki, dan jika seorang suami itu mendzolimi istrinya, maka akan diletakkan penyakit di rusuk lelaki itu agar suami menyadari kekeliruannya, iya bisa saja jika diobatkan penyakit itu akan sembuh, tapi jika suami tak mau menyadari kekeliruannya, dan meminta maaf pada istrinya, maka dijamin penyakit itu akan datang-datang lagi, sebab akar permasalahannya penyakit tidak berusaha diselesaikan, obat ampuh seharga jutaan bahkan trilyunan apa bisa mengalahkan kehendak Alloh?”

“Iya memang kalau dipikir-pikir memang masuk akal.” jawab Suryo.

“Ya sekarang dihubungkan pada kenyataannya, apa yang ku katakan itu benar apa tidak?” tanyaku.

“Iya memang benar mas.”

“Nah sekarang mas Suryo ini pengen sembuh atau tak pengen sembuh?” tanyaku.

“Iya saya pengen sembuh.” jawabnya.

“Kan mudah, tinggal minta maaf sama istri, lalu nanti soal kesembuhan biar ku do’akan, bagaimana? Nanti dilihat sembuh apa tidak? Kan bisa dibuktikan. Bagaimana? Ingat meminta maafnya yang tulus, dari lubuk hati terdalam, dan jika kembali mendzolimi istri, ya saya sendiri tak bisa menjamin jika penyakitnya tak kembali lagi, nah sekarang ku tinggal sama istri, silahkan saling mema’afkan.” kataku lalu berdiri dari kursi dan membiarkan dua orang itu mencurahkan hatinya.

Seperempat jam kembali aku ke ruang tamu, dan kedua orang itu saling berpelukan dan saling mengakui kesalahan.

“Ehmm..!, bagaimana mas Suryo? Sudah minta ma’afnya?”

“Sudah mas..” kata Suryo dengan air mata masih berlinang.

“Sudah yang lalu jangan diungkit-ungkit, sekarang mulai membuka lembaran baru, saling terbuka sesama suami istri, bagaimana rasa sakit di rusuknya mas?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah enakan mas…,”

“Ingat jangan lagi mendzolimi istri, jadilah pasangan yang saling melengkapi, saling terbuka dan saling mengerti, dunia kalian berdua, adalah dunia kalian berdua, buatlah dunia kalian berdua senyaman dan sebahagia sesuai yang kalian harapkan,”

“Kami sangat berterima kasih mas, dan kami tak bisa membalas dengan apapun yang lebih berharga dari apa yang mas lakukan pada kami berdua,” kata Suryo.

“Bagiku kalian saling rukun dan saling sabar menghadapi cobaan hidup, itu lebih dari cukup, sehingga tak bertambah lagi anak yang menjadi tersia-sia, kurang perawatan dan perhatian, karena orang tuanya berpisah, lalu anak tak mendapat kasih sayang, lalu tentu saja akan mempengaruhi kejiwaannya, yang pada akhirnya akan menyusahkan orang lain.” jelasku.

——————————————-

Beberapa hari kemudian Dewi dan Suryo datang dengan kedua anaknya, ku lihat mereka sudah rukun.

“Kedatangan kami ke sini, yang pertama mau mengucapkan terima kasih, dan yang kedua kok waktu air dari kyai itu kami pel kan rumah, kok kedua anak kami sakit panas sehari, itu kenapa kyai?”

“Wah aku juga ndak tau, aku tidak semua tau, tapi itu biasanya, jin yang ada di rumah membuat serangan karena mereka merasa diusir.”

“Jadi tak masalah kyai?”

“Tak apa-apa, la sekarang rumah kalian rasanya bagaimana?”

“Alhamdulillah rasanya tentram kyai.”

“Ya itu sudah bagus, segala sesuatu itu yang penting hasilnya, bagaimanapun cara, itu hanya cara, semua tergantung hasilnya baik, atau tak baik, jadi jangan takjub dengan cara aneh-aneh untuk menyelesaikan masalah, jika hasilnya tak baik juga untuk apa perlunya cara yang aneh.” jelasku.

“Iya kyai kami mengerti.”

“Lalu bagaimana penyakitnya mas Suryo?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah baikan mas, juga benjolan-benjolannya kok sudah kempes.”

“Syukur kalau begitu, tapi ingat sama istrinya yang baik.”

“InsaAlloh mas… do’anya, semoga saya tak mudah lagi tergoda..”

“Ya harus dari kemauan diri juga mas, misalkan mau nikah lagi lakukan dengan cara yang benar, ijin istri, kalau istri tak mengijinkan ya jangan maksa. Wong semua wanita itu rasanya sama, seperti makanan kalau sudah masuk perut, mahal atau murah di perut tiada beda, yang membedakan wanita itu kesolihannya, jika sholekhah ya akan menjadi penerang rumah tangga, jika ditinggal maka akan menjaga harta dan kehormatannya, selalu membantu suami seperti tangan satu dengan tangan lainnya, tangan satu memakai jam tangan, tangan lainnya memakaikan, tak masalah tangan lain itu tidak ikut dilingkari jam, sebab kehormatannya sudah terbawa oleh tangan satunya, istri yang solekhah juga penentu mutu anak nanti akankah menjadi anak yang kasar atau anak yang lemah lembut, penuh kasih, jika sang ibu suka membentak, maka akan mempengaruhi detak jantung anak, jadi anak akan lebih cepat detak jantungnya, dan akan lebih cepat pemompaan darahnya, secara otomatis anak akan menjadi kayak motor ngebut, apa-apa serba ingin buru-buru, apa-apa ingin cepat selesai, tapi jika ibu itu lemah lembut, mengutamakan pengertian, menasehati dari hati ke hati, maka anak juga akan dewasa berpikir, penuh perhitungan, menjalankan segala sesuatu dengan kehati-hatian. Ayah ibu yang suka cekcok, mendahulukan ego, saling pengen menang sendiri, sering banting pintu, maka akan menjadikan anak juga suka menang sendiri, jadi pelajaran dalam keluarga itu akan menjadikan anak nantinya akan menjadi seorang garong, atau seorang yang berjiwa lemah lembut, dulu ibuku semasa aku kecil, suka menceritakan, kisah para sufi, kisah para ulama’ besar, seperti kisah syaikh Abdul qodir jailani, atau syaikh Abu khasan Assadzili, atau Robi’ah adawiyah, ketika aku mau tidur, itu sangat mempengaruhi kejiwaan anak, sehingga tidak matrialis, tidak tamak, rakus, loba, dan akan dengan sendirinya terpatri dalam ingatan, lalu perlahan menjadi suritauladan yang harus dianut, dan menjadikan anak punya pikiran yang dewasa, maka itu dibiasakan, apalagi di jaman ini berbagai tontonan yang tak mendidik mudah sekali diikuti oleh anak, dan gaya-gayaan, hanya karena mengikuti teman-temannya, ujung-ujungnya kerusakan.”

“Makasih kata petuahnya pak.”

“Ya sama-sama, ini juga menasehatiku.”

Kedua orang itupun pulang, sedikit mungkin yang aku beri, tapi dalam hatiku, aku tak akan berhenti untuk berbuat baik untuk orang lain, bukan karena aku merasa pintar, tapi aku merasa jika aku mengandalkan amalku sendiri, maka aku sama sekali tak punya amal ibadah apa-apa, karena aku merasa belum ikhlas dalam beramal, dan masih jauh dari akan diterima Alloh, kalau aku tak menanam modal amal dengan mengajak orang lain menjadi baik, maka aku akan mati dalam kerugian yang nyata.

Di manapun, kapanpun, bagiku tak ada kata berhenti, untuk mengajak pada kebaikan, agar aku bisa menanam modal amal pada orang yang ku ajak, soal merela mau atau tidak mau itu bukan lagi urusanku, tapi kuasa Alloh, aku hanya melaksanakan perintah Alloh “wa’mur bil urfi, wanha ‘anil mungkar” perintah kebaikan dan cegah perbuatan merusak, tak perlu dengan kekerasan, tapi dengan kasih sayang, dengan kelembutan, dengan bukti nyata kebenaran itu adalah mendamaikan, dan keburukan itu merusak, dengan alasan apapun, merusak itu tak benar, dan mengajak orang lain dengan membakar, merusak, menghancurkan, dengan kemarahan, sama sekali tak akan diikuti, malah orang akan antipati, dan benci, aku hanya ingin menjadi air bening, yang tak menyembunyikan batu di dasar sungai, semua wajar, batu terlihat jelas, orang yang melihat, tak rela jika tak meminum airnya, dan merasakan kesegaran merambati tenggorokan, dan orang yang telah minum akan merasa ingin mencuci muka, dan orang yang mencuci muka akan berhasrat untuk mandi.


Rabu, 29 Juli 2020

SANG KYAI -49

Sang kyai 49


Masuk dua perempuan setengah baya lagi,

“Mari silahkan duduk.” kataku mempersilahkan duduk di karpet.

Laila Latoifa dan ibunya terdiam.

“Ketaatan seorang istri itu pada suaminya, dan ketaatan seorang anak lelaki itu pada Ibunya, kenapa seperti itu? Agar keterikatan seseorang itu menyambung seperti rantai yang saling melengkapi, kedurhakaan selain pada Alloh itu ada tiga, durhakanya anak lelaki pada ibunya, durhakanya seorang pejuang lari dari barisan perangnya, dan kedurhakaan istri pada suaminya, ketika dewi Fatimah putrinya Nabi, menangis karena kesusahan hidupnya, maka Nabi datang, dan melihat keadaan Fatimah, lalu menasehati, kata Nabi SAW, ‘jika aku perintahkan penggilingan gandum berputar niscaya gilingan gandum akan berputar terus untuk meringankan bebanmu menggiling gandum, tapi aku tak melakukan untukmu, agar kau menggiling gandum dengan tanganmu dan memasakkan untuk suamimu, sebab dalam kelelahan ada nilai pengabdian, dalam nilai pengabdian menunjukkan nilai keta’atan, dalam keta’atan ada pahala kesabaran, dan kenaikan pangkat kedudukan di sisi Alloh,’”

“Makanan yang dibuat oleh seorang ibu, dengan ketulusan cinta, dan ada do’a malaikat di dalamnya, akan mempengaruhi jiwa, dan kepribadian seorang anak, jika makanan dibeli dengan jadi, jajan sana sini, bisa dipastikan telah mendidik anak untuk menjadi materialis, menilai apapun dengan nilai uang, dan menghargai apapun dengan uang, jika tidak ada unsur uangnya maka tidak dianggap berharga atau pantas dinilai. Jadi anak itu bagaimana orang tua menulisi, itu contoh kecil yang mungkin lepas dari perhatian kita.” kataku.

“Ada apa ibu berdua?” tanyaku kepada dua orang yang baru datang, yang satu masih muda yang satunya lagi sudah setengah tua.

“Masalah apa?” tanyaku.

“Masalah keluarga kyai.” kata perempuan muda yang mengenalkan diri bernama Maslihah.

“Diceritakan saja, mungkin saya bisa membantu.” kataku.

“Itu kyai, suamiku menyeleweng.” jawab Muslihah.

“Biasanya lelaki itu menyeleweng karena kurangnya saling mengerti dan tak ada komunikasi di rumah, seringnya antara istri dan suami tidak saling terbuka, dan istri tak ada kemauan untuk membahagiakan suami, istri tak menjaga penampilan untuk suami, tapi kebanyakan malah bersolek waktu keluar rumah, sering kali tak ada komunikasi maka yang terjadi istri pengen suami mengelus kepalanya, tapi karena tak ada komunikasi, suami malah yang dielus dengkulnya istri terus, sehingga istri kecewa, karena harapannya ingin kepala dielus tak pernah kesampaian, karena tak ada komunikasi, harusnya suami istri saling terbuka, jangan saling rikuh, membicarakan entah soal hubungan suami istri di atas ranjang, atau hubungan keseharian, sebab dua orang yang menyatu, tentu tak tau apa-apa yang diinginkan suami dan apa-apa yang diinginkan istri, juga biasanya istri kurang mau menjaga merawat diri, misal memakai gurah, agar suami terpuaskan.”

“Saya sudah tua masak memakai seperti itu kyai.” tanya Muslihah.

“Malah kalau sudah tua itu malah lebih rajin merawat diri, biasanya cenderung istri menyeleweng itu karena suami tak perkasa lagi di ranjang, belum apa-apa sudah KO, ya kan istri yang tidak terpuaskan akan mencari kepuasan, ingat syaitan itu menggoda manusia, hal yang haram itu selalu indah dibayangan, seorang suami yang punya istri cantik bisa nyeleweng dengan pembantunya yang jelek karena bisikan syaitan, dan syaitan memberikan bayangan-bayangan hayal yang indah.”

“Bagaimana solusi permasalahan saya kyai?” tanya Muslihah.

“Mbak Muslihah ini rawatlah diri, kalau perlu memakai gurah, dan rawat kecantikan, layani suami dengan penuh cinta, cintai suaminya bukan karena siapa suaminya siapa, tapi sayangi suaminya karena menyayangi Alloh, rindu akan surganya, lakukan semua pelayanan dengan membayangkan kalau pelayanan itu akan mendapat ganti yang setimpal yaitu surga yang kekal, jadi jangan dipandang lahirnya suami.” jelasku.

“Lalu bagaimana, sekarang saja dia menyeleweng.”

“Mbak Muslihah masih ingin kan kumpul sama suami?” tanyaku.

“Ya masih kyai, karena anak-anak kami sudah agak besar.”

“Ya kalau begitu kembali ke suami.”

“Tapi saya sakit hati kyai.”

“La sakit hati itu kan ndak ada yang mbayar, hanya menjadikan tekanan mental, menyiksa diri, tapi sama sekali tak ada manfaatnya, tenangkan diri, jangan ada tekanan batin.”

“Bagaimana mungkin kyai, kenyataannya aku disakiti, bagaimana hatiku tak sakit.”

“Sakit hati itu sama sekali tak menyelesaikan masalah, hanya menimbulkan dendam, dan kebencian, jika dalam rumah tangga kemudian ada bara yang dipendam, yang suatu saat bisa meledak, maka ku jamin rumah tangga itu tak akan bahagia…, ingat mbak Muslihah suamimu itu cuma batu loncatanmu ke surga, jangan kemudian malah menjerumuskanmu ke neraka, neraka dunia karena memendam sakit hati, dan neraka akherat karena tidak taat pada suami, ya saya sendiri jika istri saya menyeleweng juga belum tentu saya kuat menanggungnya, tapi bagi saya pribadi, rumah tangga itu jangan dikotak-kotakkan, itu yang sering terjadinya percekcokan, ini milikku, ini milikmu, jangan memakai milikku, padahal dalam rumah tangga, kan satu kesatuan, kedua suami istri itu seperti mengelola bahtera, la kalau yang satu merasa miliknya, yang lain kemudian membatasi hak lainnya, ya sudah pasti akan timbul curiga, seperti anjing dan kucing dalam satu perahu, aku sendiri sebagai suami, malah kadang masak, nyuci piring, itu tak akan menjadikanku rendah, sekalipun aku dipanggil kyai, aku juga menyapu dan mengepel, kita itu kok bisa kita lakukan, kenapa menyuruh orang lain? sebab orang lain juga punya tangan dua, kita juga, jika bisa melakukan sendiri, maka akan ku lakukan sendiri, jika suatu rumah tangga kok di antara istri atau suami merasa derajatnya lebih tinggi, maka akan timbul perbudakan, bisa saja seorang istri memperbudak suami, menyuruh ini itu, atau sebaliknya, dan pasti ujung-ujungnya akan timbul percekcokan, suami marah karena merasa tidak ditaati istri, la lalu tujuannya rumah tangga itu maunya apa?”

“Jika rumah tangga itu dibangun suatu kasih sayang yang disandarkan kepada kasih sayangnya sang Maha Pemilik Kasih Sayang, maka rumah itu akan menjadi surga, suami menjadi pelindung dan pemimpin rumah tangga yang bijak dan adil, istri menjadi pewangi rumah dan selalu membuat udara cerah, anak-anak seperti kerlip bintang, menjadi tauladan di luar, dan menjadi pelita hati keluarga, maka baru bisa dikatakan keluarga itu sakinah penuh ketenangan, dan hal itu harus dibangun dari hal-hal kecil, seperti diadakannya sholat berjama’ah, lalu setelah selesai suami istri saling berkecupan, anak-anak mencium tangan ibu, sholatnya semua rukunnya disempurnakan, sehingga rumah tangga penuh cahaya keimanan.”

“Rasanya ingin saya cepat menikah pak kyai, agar saya bisa menjemput pahala.” kata Laila.

“Menikah itu menyempurnakan agama, sunnah Nabi, kata Nabi, menikah itu sunahku, siapa yang tidak suka menikah maka tidak suka pada sunahku, dan siapa yang tidak suka pada sunnahku, maka bukan golonganku lalu kalau tidak ikut golongan Nabi, lalu mau ikut golongan siapa? Siapa yang sekalipun punya amal setinggi gunung amal baik, dan berhak masuk surga, tapi tak mau mengikuti Nabi, maka jikalau dia masuk surga, maka tak pernah tau kemana jalannya surga.”

Tiba-tiba Muslihah menangis. Mengguguk… aku berhenti bicara.

“Ampunkan aku ya Alloh… do’akan saya bisa taat pada suamiku kyai, dan do’akan saya, suami saya kembali padaku, aku maafkan semua kesalahannya, asal Alloh ridho padaku.”

“Amiin… insaAlloh suaminya besok kembali, dan jangan lupa layani sebaik-baiknya, jangan melihat tingkah lakunya, jangan melihat bentuk fisiknya, atau kekurangan-kekurangan dalam pribadinya, kalau diteliti, maka semua orang itu pasti ada kekurangannya, tapi jadikan dia, suamimu, adalah batu loncatanmu meraih ridho dan surga Alloh.”

“Baik kyai, hati saya legaaa sekali.” kata Muslihah.

Ke empat perempuan itupun minta diri, aku hanya berharap apa yang ku sampaikan bisa bermanfaat bagi mereka.

Kalau tamu lagi musim masalah rumah tangga dan ada hubungan dengan perkawinan, anehnya yang datang selalu soal hubungan rumah tangga dan yang berurusan dengan itu.

Sehabis isyak ini juga ada tamu seorang gadis disertai ibunya.

“Ada apa bu? Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku.

“Ini soal anak saya kyai.”

“Ada apa dengan anaknya?” tanyaku.

“Anak gadis saya ini apa mungkin diikat orang kyai?” tanya ibu si gadis.

“Diikat? Kok ku lihat tangan dan kakinya tak ada ikatannya?”

“Maksudku diikat agar tak bisa nikah sama orang.” jelas wanita setengah baya.

“Wah aku tak tau bu, la saya ini sebenarnya tak bisa apa-apa dan tak mengerti apa-apa, jika orang kesini juga cuma minta dido’ain, jadi bukan berarti saya tau apa-apa, malah saya tak tau sama sekali apa do’a saya diijabah apa tidak, bagi saya berdo’a dengan cara yang benar, soal ijabah itu hak Alloh, la orang kesini minta dido’ain, ya tentu saya do’ain, sebenarnya Ibu juga bisa, atau mbaknya ini juga bisa, siapa namanya mbak?”

“Saya, Ainun Farihah.” kata gadis manis yang sudah matang.

“Soalnya anak saya ini sudah berkali-kali mau nikah tapi tak pernah jadi, pernah kartu undangan sudah tersebar, tapi malah nikahnya dibatalkan oleh calon mempelai putra, juga pernah malah sudah mau akad nikah, penganten prianya malah tak pernah datang, dan kejadian kayak itu terjadi berulang kali sampai 20 kali, bukankah itu sudah di luar kewajaran to kyai?” jelasnya.

“Iya memang di luar kewajaran, tapi aku sendiri tak dikasih isyarat apapun oleh Alloh, maka aku tak bisa main tebak-tebakan, yang Alloh isyaratkan adalah, mbak Ainun ini bermasalah dengan adik lelakinya.” kataku.

“Iya itu betul kyai, karena Ainun ini tak nikah-nikah jadi adik lelakinya yang ingin menikah jadi harus nunggu kakaknya.” jelasnya.

“Kalau saya belum punya istri, akan ku nikahi sendiri, sayangnya aku sudah beristri, hehehe.” candaku.

“Wah kalau kyai berkenan dengan Ainun, saya sama bapaknya sangat bahagia sekali, dan sangat menyetujuinya, biar Ainun jadi istri kedua atau ketiga, kurasa tak masalah, biar keluarga kami ada bibit unggul, orang-orang berilmu.”

“Ah aku hanya bercanda kok bu.” elakku.

“Ya kenapa ndak sungguhan, Ainun pasti juga mau, benar kan Ain..?” kata ibunya Ainun sambil mencolek anaknya.

Anehnya Ainun malah mengangguk sambil wajahnya ditutupi jilbabnya.

“Udahlah bu jangan diperpanjang, ini nanti ku do’akan. Semoga mendapat jodoh yang sholeh dan dipilihkan Alloh.” kataku.

“Maaf kyai ini tehnya kyai tiup agar berkah.” kata ibunya Ainun, sambil memajukan teh yang disediakan untuknya, maju ke arahku.

Tanpa banyak basa-basi teh ku tiup, dan langsung diminum oleh ibu itu, dan Ainun juga menyodorkan teh nya ke depanku.

“Saya juga kyai.” kata Ainun.

Aku juga segera meniupnya, dan Ainun meminum habis teh yang ku tiup.

Ainun pun pamit pergi, aku mau beranjak ke dalam ada yang mengucap salam lagi, seorang perempuan muda dengan ditemani juga oleh ibu dan kedua anaknya.

Aku pun kembali lagi ke tempat menemui tamu lagi.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku, setelah aku mempersilahkan duduk pada tamuku.

“Ini mas, saya mengantar anak saya.” jawab ibunya

“Kenapa anaknya?” tanyaku.

“Ini soal anak lelaki kecil saya.” jawab perempuan mudanya yang bernama Dewi Aminah.

“Kenapa dengan anak kecilnya mbak?” tanyaku.

“Anak lelaki saya ini mengalami kebocoran jantung menurut diagnosa rumah sakit, jadi saya minta do’anya agar anak saya ini diberi kesembuhan dari derita penyakitnya.” jelas Dewi.

“InsaAlloh akan saya do’akan, semoga Alloh memberi kesembuhan.”

“Amin, trimakasih mas kyai sebelumya, dan kedua ini tentang suami saya, sudah sejak lama suami saya ini saya dengar selingkuh.” kata Dewi.

“Lhoh kok saya dengar?” tanyaku.

“Iya mas kyai, karena suaminya kerjanya di Jakarta, sedang dia sendiri tinggal di sini, dan di Jakarta Dewi sendiri tak tau tempat kerja suaminya. Jadi tak tau bagaimana suaminya di Jakarta, ya pernah ada perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya.”

“Wah-wah kok bisa rumit gitu ya?”

“La anak saya Dewi ini, juga punya teman yang juga menjadi teman suaminya, maksudnya lelaki yang menjadi teman suaminya, yang selama ini dijadikan penghubung, dan sudah sangat baik sekali dengan Dewi, yang kasihan dan iba akan nasib Dewi, nah kami ingin menanyakan apa benar, suami anak saya Dewi ini di Jakarta memang selingkuh, lalu bagaimana solusi terbaik menurut panjenengan.”

“Wah rumit sekali itu.” jawabku.

“Rumit bagaimana mas kyai?” tanya Dewi.

“Ya kalau suaminya ada di depanku kan lebih gampang, akan ku tanya apa kamu selingkuh?”

“Ya dia tak akan mau mengaku mas kyai…, saya sendiri berulang kali bertanya saja dia tak mau mengaku,” jawab Dewi.

“Dia tak mau mengaku itu kan urusan dia sama Alloh, karena saya akan menyumpahnya dengan Qur’an, kalau dia tak mengaku.” jelasku.

“Maunya anak saya Dewi ini kyai, bagaimana kalau misal si Dewi ini cerai sama suaminya, dan menikah dengan teman suaminya yang juga teman Dewi.”

“Suatu perbuatan halal yang paling di benci Alloh, adalah perceraian, kalau bisa perceraian itu di jadikan keputusan paling final, menikah dengan lelaki yang dekat dengan Dewi sekarang itu? Seorang lelaki yang memasuki kehidupan wanita sementara wanita itu dalam masalah, juga bersuami yang masih sah maka lelaki itu syaitan dari golongan manusia, percayalah kalau dia jadi sampean nikah, setahun kemudian sampean akan dicampakkan, seperti mencampakkan ingus yang menjijikkan, bisa jadi sekarang ini dia mengincar harta atau kesepian hatimu, agar dia bisa mengambil manfaat untuk nafsunya.” jelasku.

“Tapi dia baik pak kyai.” jelas Dewi.

“Ya namanya juga mau mencari perhatian, tentu saja baik, akan sering-sering memberi.”

“Iya memang dia sering memberi pak.”

“Tapi dia sering mengucapkan cinta, dengan kata cinta yang indah.” jelas Dewi.

“Malah makin jelas, orang yang muluk-muluk mengungkapkan kata cinta itu bisa dipastikan kalau cintanya palsu,”

“Lhoh kok bisa gitu mas kyai?” tanya Dewi,

“Ya orang yang muluk-muluk mengutarakan kata cinta, itu tak mencintai kecuali dirinya sendiri, kata cinta diungkapkan muluk-muluk karena ingin adanya balasan cinta dari lawan jenisnya, dan lawan jenisnya akan memenuhi nafsunya, jika nafsunya dan keinginannya sudah terlaksana, maka segera saja orang yang sebelumnya dia katakan dia cintai, akan segera dibenci, karena apa yang dia inginkan sudah didapat, jadi orang yang muluk-muluk mengutarakan cinta itu tak mencintai kecuali keinginan nafsunya ingin mendapat apa yang jadi keinginannya, jika seseorang itu mencintai orang lain dengan benar, maka seorang yang mencintai dengan benar itu akan berusaha orang yang dicintai selalu bahagia tak rela yang dicintai bersedih dan tak rela yang dicintai masuk neraka, bukannya orang punya suami lantas diganggu,” kataku.

“Dia tak mengganggu saya kok kyai.” sangkal Dewi.

“Ya… saya hanya menunjukkan kebenaran, sebab namanya dikatakan mengganggu kan juga bukan hanya memukul, tapi ada orang punya suami, lantas diajak selingkuh juga kan namanya ganggu,.!”


"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...