Sabtu, 04 Juli 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -25

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -25

Perjalanan manusia untuk mendekatkan diri pada Alloh sebagai Robbnya, sebenarnya tak jauh, menjadi jauh karena semakin beragamnya keinginan nafsu, semakin banyak lagi yang diinginkan oleh nafsu, kesenangan-kesenangan yang bersifat kepuasan, entah kepuasan dzahir atau kepuasan batin, maka makin jauh perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Alloh.

Sekian tahun, yang dilewati oleh manusia itu gelora samudra kepuasannya, yang dilewati manusia itu padang gersang ketamakannya akan kesenangan. Andai saja manusia itu mau melepaskan segala macam keinginan, ingin dipuji, ingin diagungkan, ingin dihormati, ingin punya kedudukan dan pangkat, pangkat di hadapan manusia, maupun pangkat di hadapan Alloh, maka jika semua telah tak ada yang bersemayam segala macam keinginan, ketika Nur makrifat itu melintas di lapangan hati manusia yang bersih dari keinginan, maka cahaya itu akan menumbuhkan aneka macam tetumbuhan ilmu dan hikmah.

Tak perlu manusia itu menjadi sakti, atau belajar agar sakti, Alloh itu lebih sakti dari semua yang Dia ciptakan, dan wafadholallohu ba’dokum ala ba’din, Alloh itu akan memberikan berbagai anugerah keutamaan, kepada hamba yang satu dari hamba yang lain, sesuai kadar ketaqwaannya, dan ketaqwaan itu terukur sesuai kadar keikhlasannya, dan keikhlasan itu ada karena paham dan tau, jika dia tidak ikhlas itu maka tak ada nilainya suatu kadar bobotnya ibadah, dan untuk menjadi mukhlisin atau orang yang ikhlas itu tidak cukup sehari dua hari hati digosok, karena kecenderungan nafsu menguasai hati, dan ditambah dengan khotir atau bisikan-bisikan syaitan yang menanamkan bibit virus, akan subur berkembang, jika apa yang dimakan manusia kemudian adalah sesuatu yang diharamkan.

Tak ada seorangpun yang ma’sum dan terjaga dari tipu daya, kecuali Nabi Muhammad SAW. dan kita sebagai manusia biasa, seringkali mudah tertipu.

Tertipu oleh prasangka dan ketidakpastian.

Seperti Nabi Muhammad ketika ditemui Jibril dalam berbagai bentuk, lalu Nabi tak tertipu dengan perubahan bentuk yang satu pada bentuk yang lain.

Sementara kadang kita jika ditemui oleh bayangan di dalam mimpi, seorang yang memakai jubah, lalu kita menyangka itu seorang wali, padahal syaitan amat mudah menyerupai dalam bentuk apapun, untuk menipu daya manusia, agar kita kemudian menjalankan amaliyah bukan lagi karena mencari ridho Alloh, tapi karena menuruti orang yang berjubah itu.

Malam itu aku meraga sukma lagi, kali ini arah ke utara dari desaku.

Melayang-layang di atas kota, lalu aku lihat seperti sesuatu aura amat hitam menggantung di udara, melingkupi suatu daerah, aku coba mendekat, dan aku masuk ke rumah itu ternyata sebuah rumah sakit, sebab banyak sekali pasien, yang aku heran banyak sekali hantu bergentayangan di rumah sakit itu, dari gambar salib yang tergantung di dinding, aku menyangka ini pasti rumah sakit kristen.

Aku lewati lorong demi lorong rumah sakit, dan setiap hantu yang bertemu denganku menjerit lalu kabur, ada perempuan berbaju putih, ada hanya kepala, ada orang yang tubuhnya penuh darah, dan lain-lain, jika ku sebut satu persatu rasanya tak akan selesai seharian.

Tiba-tiba seorang hantu berpakaian pastur jaman dulu atau jaman sekarang aku tak tau, yang jelas dia berpakaian hitam, dengan selempang di pundak, dan ada kerah putih di lehernya.

Dia menghadangku.

“Berhenti, enyah dari sini, kau membuat penghuni sini semua kepanasan.” ujarnya, sambil mengacungkan batang salib kearahku.

“Aku hanya lewat disini, bagaimana kau anggap aku membuat penghuni sini kepanasan?” tanyaku.

“Nyatanya seperti itu.” bentaknya.

“Bagaimana mungkin aku menjadikan kalian menjadi kepanasan?” kataku masih heran.

“Kenyataannya seperti itu, aku juga tak tau, apakah kau ini arwah orang mati?” tanya pastur itu.

“Aku? Aku belum mati.” kataku.

“Lalu kenapa kau bisa masuk alam kami? ” tanyanya.

“Aku melepas sukma.” jelasku.

“Sudah sekarang kau pergi, kau membuat seluruh tempat ini seperti terbakar.” katanya seperti menahan sakit.

“Jika aku tak mau?”

“Maka aku akan mengusirmu.” katanya sambil jari telunjuknya terangkat.

Dan aneh dari jari telunjuknya keluar kilatan listrik seperti kilat kecil, menyerangku, untung aku ingat aku ini sukma, aku pun melompat melayang menghindari serangannya, yang menghantam dinding dan menimbulkan dentuman dahsyad.

Wah sakti juga pastur ini, aku jadi ingat, kata Kyaiku, kalau di alam gaib itu jika ingin mengeluarkan apa maka tinggal mendzikirkan salah satu dzikir dan membayangkan apa yang kita inginkan keluar dari tangan.

Maka aku pun melakukan itu dan membayangkan petir keluar dari tanganku, dan subhanalloh, benar-benar petir yang menyilaukan mata keluar dari tanganku, melesat seperti pijaran kilat di langit menerjang ke arah pastur itu, dia menghindar sampai bergulingan di lantai, dan ujung bajunya tersambar segera menjadi bubuk debu.

Aku terheran-heran, dan melihat tengah tapak tanganku yang mengeluarkan asap.

Tiba-tiba beberapa pastur datang, ada sekitar tujuh orang, dan serempak menyerangku..

Aku terdesak sampai ke pintu besi dan tempat penjagaan satpam.

Aku masih melakukan adu kekuatan, dan saling serang dengan petir, sampai aku akhirnya terdesak keluar pagar.

Ah percuma juga ku lawan, tak ada manfaatnya, lebih baik aku pergi.

Aku pun pergi, melesat ke udara, dan melayang-layang pelan meninggalkan tempat itu, sambil melihat kota dari atas.

Sampailah aku di persawahan, di mana banyak pohon pisang, dan kembang krokot, aku berhenti sebab mendengar ada yang mengucap salam.

“Assalamu alaikum..” ku dengar suaranya serak seperti suara perempuan tua.

“Wa alaikum salam…, siapa ya..?” tanyaku sambil berhenti berdiri di atas daun pisang.

“Aku Ibu Dewi… aku minta kalau tuan mengirim fatekhah, aku dikirimi juga.” katanya…

Aku tak sempat menanyakan lebih lanjut, karena adzan subuh sudah berkumandang, dan aku harus segera pulang untuk mengimami sholat subuh di masjid.

Siangnya aku berpikir, siapa gerangan perempuan itu yang memintaku mengirimi fatekhah? Aku hanya melihat sebuah rumah, berundak-undak, dindingnya dari kayu, tanpa cat. Rumah siapa? Kok dia tau keberadaan sukmaku, bahkan dari dalam rumah, tentu dia jika seorang manusia, maka pasti manusia yang mempunyai ilmu tinggi, sebab jarang-jarang aku menemukan seseorang yang bisa melihatku ketika meraga sukma, jika dia bisa melihat sungguh berarti bukan orang sembarangan.

Baiknya nanti malam aku datangi dia, mungkin bisa ku perjelas siapa sesungguhnya dia.

Maka malamnya lagi aku meraga sukma lagi, dan langsung menuju rumah itu. Rumah yang di depannya ada bunga kerokot.

Aku langsung turun di pekarangan rumah yang diratakan dengan kerikil, dan ditumbuhi rumput di sela-sela kerikil.

“Assalamualaikum…” ucapku dari luar rumah.

“Waalaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam tapi kenapa suaranya seperti suara seorang perempuan muda, padahal kemaren seperti suara perempuan tua yang serak.

“Maaf, kemaren ada yang ingin dikirimi fatekhah, tapi aku kurang jelas siapa namanya? Maaf jika saya ingin memperjelas biar tak salah alamat.” kataku dengan sopan.

Lalu dari dalam rumah, keluar seorang perempuan, memakai cadar penutup wajah, tubuhnya tinggi langsing, dan semua pakaiannya memakai warna biru.

“Iya saya yang minta dikirimi fatekhah, namaku Dewi, dan orang sering menyebutku Dewi Lanjar.” jelasnya.

“Dewi Lanjar?” aku heran, aku sendiri tak tau siapa itu Dewi Lanjar.

“Maaf Nyai saya bukan orang asli Pekalongan, jadi saya tak tau Dewi Lanjar.” kataku jujur.

“Aku penguasa Laut Utara.” jelasnya.

“Ooo…”

“Mari ku ajak ke tempat kekuasaanku.” katanya, sambil menggandeng tanganku. Dan kami membumbung cepat ke arah utara, ke tengah laut, aku lihat aku melayang di tengah laut, sampai pada suatu pulau kecil, lalu melintasi jembatan, aku heran karena jembatan itu dari manusia yang dijejer seperti ikan asin, dan ku lihat banyak orang ramai bekerja, yang membuatku heran, ada orang yang berkepala ikan dan bertubuh manusia, juga ada manusia yang berkepala manusia tapi bertubuh ikan, ada juga orang yang memukul-mukul mereka dengan cambuk.

Jumat, 03 Juli 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -24

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -24

Kyai Cempli itu panggilan penguasa Desa di sebelah desaku, jaraknya kira-kira dari desaku satu kilo meter, di batas sawah.

Tiba-tiba kyai Cempli menyerangku dengan serangan yang aneh, tangannya seperti mulur memanjang, dan menangkap tanganku, lalu tubuhnya sekejap telah ada di belakangku, sehingga tanganku tertarik ke belakang bersilangan antara tangan kiri dan tangan kanan. Juga kakiku berpalitan tertarik ke belakang.

Anehnya ragaku juga dalam kamar seperti itu, sehingga Husna berusaha membetulkan letak tangan dan kakiku yang menekuk-nekuk.

Sementara aku berusaha melakukan perlawanan sebisaku, namun berbagai dzikir yang biasa ku lafadzkan tak juga bisa membebaskanku, bagaimanapun aku berusaha melepaskan diri tetap tangan dan kakiku terkunci, sampai ku rasakan bisikan dari Kyaiku, aku harus melafadzkan satu dzikir.

Dan akupun mengikuti anjuran, ku lafadzkan dzikir itu, dan seketika pegangan Kyai Cempli terlepas, dan dia bergulingan di tanah minta ampun, dan berulang kali jika ku lafadzkan lafadz itu maka kyai Cempli menjerit-jerit minta ampun,

“Ampuuuun…! Jangan dilafadzkan asma a’dzom itu aku tak kuat, ampuuun..!” kata kyai Cempli menjerit-jerit.

“Kau menyerah tidak?” tanyaku.

“Iya aku menyerah, kalah, takluk.” jawabnya sambil bersujud.

“Biasanya bangsamu suka menipu, suka mengambil kesempatan, di saat aku lena maka kau akan memanfaatkan kesempatan.”

“Ampuuun…! saya tak berani tuan..”

“Apa janjimu?” kataku mencari kepastian, sebab yang ku tau bangsa jin sejak jaman Nabi Sulaiman tak bisa dipercaya, selalu mengambil kesempatan bila manusia lena.

“Tuan minta apa, akan ku berikan, aku punya Jala sutra, wesi aji, batu bertuah, harta benda, emas perak, Tuan minta apa?” tanya Jin penguasa Desa itu mencoba mencari kelemahan hatiku.

“Kau kira aku tertarik dengan aneka benda macam itu?”

“Lalu tuan minta apa?”

“Aku tak minta apa-apa, aku hanya minta kau beserta bangsamu takluk padaku.”

“Iya saya siap… jika tuan membutuhkan bantuan, maka saya akan siap diperintah.”

“Aku juga ingin kau tak mengganggu manusia.” kataku.

“Ya saya siap tuan.”

“Sekarang apa di daerah sini ada tidak yang angker?” tanyaku.

“Ada tuan…”

“Di mana itu?”

“Di daerah bernama Secino,”

“Di mana itu?”

“Di daerah sebelah timur desa.”

“Kenapa kok bisa angker?” tanyaku.

“Karena di sana ada isi keris pusaka yang lepas,”

“Apa bentuknya?”

“Bentuknya macan loreng tuan.”

“Kenapa kau biarkan, tidak kau perintahkan agar tak mengganggu manusia?” tanyaku.

“Kekuasaanku tak meliputi sampai ke situ.”

“Dimana tempatnya, tunjukkan padaku.” kataku memerintah.

“Silahkan tuan mengikutiku.” katanya sambil berjalan mendahuluiku disertai anak perempuannya.

“Apa yang dilakukan oleh macan itu?”

“Dia sering meminta korban manusia, dan sering kadang manusia disesatkan, kadang manusia dimasukkan ke tengah gerumbul bambu, sehingga akan sulit keluar.” jelas Kyai Cempli.

“Lalu sekarang kerisnya di mana?” tanyaku sambil jalan di belakang Kyai Cempli.

“Ada di rumah seseorang.” jawab kyai Cempli.

Di dekat barisan gerumbul bambu nampak seekor macan sebesar anak kerbau tengah berdiri menatapku, kubuat lingkaran tangan di udara, lalu ku tepukkan tangan dengan tenaga menyedot, jin yang berbentuk macan itu seperti gambar yang tersedot mesin penyedot debu, mengecil dan masuk dalam genggamanku.

“Di mana keris tempat jin macan ini?” tanyaku pada Kyai Cempli.

Kyai cempli melangkah mendahuluiku, menuju satu rumah, dan masuk ke dalam kamar, lalu membuka lemari kuno, di mana tergeletak keris tua. Ku masukkan jin berbentuk macan itu ke keris, dan ku ikat dengan kekuatan gaib.

Terus terang hal seperti itu sama sekali aku awam dan tak tau, segalanya seperti ada yang menuntun, apa yang ku lakukan aku sendiri sama sekali tak mengerti, hal yang ku lakukan berurutan itu seperti sudah ada yang merancang, dan aku cuma menjadi wayang, sedang tanganku terikat oleh yang menggerakkan, hatiku mendapat petunjuk apa yang harus aku lakukan.

Tugasku ku rasa selesai, “Ku rasa aku sudah cukup di sini, sekarang aku akan kembali ke tempatku, lalu bagaimana jika aku ingin memerintah membantu keperluanku, aku memanggilmu apa?” kataku.

“Hamba kyai Cempli, siap diperintah, jika dibutuhkan.” jawab pak tua itu sambil membungkuk.

Aku segera kembali ke ragaku dan bangun, dimana Husna istriku bercerita kalau dalam tidur telah terjadi badanku menekuk-nekuk, dan menggereng-gereng, dikembalikan susah, kok akhirnya kembali sendiri.

Aku masih berusaha mengitari daerah Pekalongan dengan Raga Sukma.

Dalam kehidupan sehari-hari, aku bukan termasuk orang yang suka kumpul sama tetangga, bahkan aku kumpul sama orang hanya saat mengisi pengajian, mengimami masjid, dan kalau tetangga ada hajadan, selain itu aku sama sekali tak kumpul dengan orang, karena waktuku habis untuk menjalankan lelaku.

Biji itu kalau ingin menjadi besar, maka tanamlah dengan dipendam yang dalam di dalam tanah, jika dia tumbuh, maka akarnya akan jauh tertanam di dalam tanah, sehingga kuat mencengkeram, jika telah menjadi pohon yang rindang, dan dapat ditempati berteduh, jika diterjang angin, pohon tak tergoyahkan, karena kuatnya akar tertanam di dalam tanah.

Begitu juga manusia, jika manusia tidak menyembunyikan dulu, untuk menguatkan akar diri, maka untuk menjadi dipakai orang berteduh tak akan kuat bila diterpa angin cobaan, orang-orang yang besar itu tak akan sibuk nongkrong di gang-gang, dan ngomong ngalor ngidul membicarakan sesuatu yang tak ada manfaatnya.

Sebagaimana Nabi kita sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rosul, beliau menyepi di gua Hiro’ selama lima tahun.

Karena menyembunyikan diri, dan tak jarang kumpul dengan masyarakat, maka bertahun-tahun secara pribadi tak ada yang mengenal diriku.

Pada suatu hari aku mengantar istri ke dukun pijat di Desa yang pernah ku datangi lewat ngeraga sukma untuk mengurutkan perutnya, biasa orang desa kalau mengandung selalu ditata perutnya agar pas.

Dukun itu dukun perempuan tua yang sudah amat terkenal sehingga pasiennya dari mana-mana, sampai ada memakai nomer antrian, untuk mendapatkan pelayanan, waktu aku datang dengan Husna, nampak dari luar rumah Dukun urut itu ramai sekali orang sudah mengantri, padahal aku berusaha datang pas selesai sholat magrib.

Tapi tiba-tiba mbah Dukun keluar rumah menyibak antrian.

“Hari ini pijat ditutup, tidak melayani tamu..” kata mbah Dukun bernama Nyai Sari.

Orang-orang yang asalnya antri pun bubaran, termasuk aku mau balik pulang.

“Wah mungkin lagi tak untungnya kita mas, baru datang malah mbah Sari tak melayani tamu.” kata Husna.

“Ya ndak papa, besok-besok kan bisa.” kataku menghibur, dan ku putar motor untuk kembali.

Tapi mbah Sari malah menghampiriku lalu menggandeng tanganku, dan berbisik di telingaku.

“Ngger mari masuk…” kata mbah Sari, menggandeng tanganku.

“Lhoh bukannya pijitnya diliburkan to mbah?” tanya Husna.

“Oo itu untuk orang lain nduk, bukan untuk suamimu.” jelas Mbah Sari.

Aku dan Husna pun mengikuti masuk ke rumah Mbah sari.

Nyi Sari umurnya 60 tahun, orangnya setengah pendek, dan gerak geriknya cekatan, sudah terkenal di mana-mana soal kandungan, bahkan mungkin sudah sangat terbiasa soal kandungan, dia sering pas jika seseorang itu kapan pasnya melahirkan, jika sudah menginjak kandungan tua.

Masuk rumah mbah Sari, rumahnya sederhana, terbuat dari bangunan kayu yang lama, tanpa cat berwarna, hanya dilapis kapur, jika masuk orang akan mendapat kesan yang punya rumah amat sederhana, walau Mbah Sari ini sudah berangkat haji ke tanah suci, tapi secara penampilan hanya biasa-biasa.

“Mari-mari ngger bagus.. mari duduk.” kata Mbah Sari sambil membersihkan tempat yang akan ku duduki. Aku amat rikuh dihormati seperti itu.

“Sudahlah nyai… tak usah repot-repot.” kataku.

“Ndak kok… ndak repot, ini sudah selayaknya, malah saya minta maaf, kalau pelayanan saya tidak berkenan di hati panjenengan.” katanya yang membuatku makin bingung.

“Mbah.. sebenarnya ada apa to mbah, kok panjenengan jadi bingung gitu, aku ini orang biasa.” jelasku, soalnya aku orangnya tak suka dihormati.

“Orang biasa? Panjenengan itu kok pinter menyembunyikan diri.”

“Menyembunyikan apa to mbah, la ndak ada yang aku sembunyikan kok.”

“Aku ini tau ngger, semua penguasa desa ini mengiringmu dari belakang, sekarang semua berbaris ta’dzim di belakang rumahku, bahkan Kyai Cempli yang penguasa desa juga ada, jadi saya itu tak bisa dibohongi.”

“Ooo soal itu to mbah??”

“Iya.. juga karena panjenengan desa ini yang sebelumnya angker, sekarang adem ayem, saya sangat berterima kasih, walau panjenengan menyambunyikan diri, tapi mata batin saya tak bisa dibohongi.”

“Ya sudah kalau gitu mbah, ndak usah disebar luaskan, jadikan rahasia panjenengan wae, monggo istri saya ini dipijit.” kataku menentramkan suasana.

“Ooo nggih-nggih, monggo nduk, saya pijit, besok-besok kalau mau dipijit, mbok manggil saja, pasti saya datang.” jelas mbah Sri.

“Yo tak bisa begitu to mbah, panjenengan yang tua, sudah selayaknya yang butuh, yang muda datang.”

“Ya tak bisa seperti itu, itu namanya saya ndak punya unggah ungguh, la panjenengan penguasa Desa saya, masak saya yang andahan, rakyatnya didatangi pemimpin desanya. Ya namanya tak takdzim, ndak hormat.” jelas mbah Sri sambil tangannya lincah memijit Husna.

Repot juga, aku terdiam.

Memang sejak sa’at itu Mbah Sri sering datang ke rumah, menawarkan diri memijit keluargaku, dan kadang datang membawa pisang satu tandan. Sudah ku larang, tapi tetap saja datang.

Pernah lama dia tak datang, dan aku mau memijitkan Husna, aku pun datang ke rumahnya, ternyata dia sakit, sudah ada dua bulan terbaring saja di ranjang, melihat aku datang dia langsung bangun, lalu berkata. “Obatku sudah datang, monggo ngger, saya pijit.” katanya.

“Ndak aku yang mau dipijit, yang mau ku pijitkan istriku,”

“Ndak kok ngger, ini untukku, aku sakit, dan obatnya itu mijit panjenengan,” kata mbah Sri.

“La kok aneh mbah?” tanyaku heran.

“Apa njenengan tak melihat, saya sudah dua bulan tak bisa bangun dari ranjang karena sakit, ini panjenengan datang, saya langsung brigas.” jelas Mbah Sri sambil menunjukan badannya.

“Wah kok aneh begitu?” heranku tak habis pikir. Aku terpaksa mau dipijit, walau tak masuk logikaku, tapi memang setelah itu mbah Sri sehat segar bugar.

Dia sering meminta diijinkan memijitku, agar dia sehat, ya aku turuti saja, asal aku bisa bermanfaat untuk menolong orang lain, dipijiti juga enak.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...