Selasa, 07 September 2021

SHERLOCK HOLMES "THE FINAL PROBLEM"

The Memoirs of Sherlock Holmes – Memoar Sherlock Holmes (1892-1893) 





"THE FINAL PROBLEM – KISAH PENUTUP"




KISAH PENUTUP



DENGAN berat hati, aku mengambil pena dan menuliskan kisah kehebatan temanku Holmes
yang termasyhur itu, untuk yang terakhir kalinya. Selama ini, aku telah berusaha untuk menuliskan pengalaman-pengalaman unik yang kulalui bersamanya sejak masa kasus A Study in Scarlet, sampai masalah Dokumen Angkatan Laut—yang berhasil mencegah kericuhan internasional yang serius. 

Aku tetap merasa bahwa hasil tulisan-tulisanku tak cukup baik dan mungkin agak membingungkan. Sebetulnya aku bermaksud berhenti menulis tentang Holmes sejak dua tahun yang lalu, dan biarlah peristiwa itu, yang telah mengakibatkan hidupku serasa hampa selama dua tahun terakhir ini, kusimpan saja sebagai kenangan pribadiku. Tapi, tanganku terpaksa kuayunkan untuk menuliskan kisah berikut ini, karena adanya surat-surat yang ditulis oleh Kolonel James Moriarty yang membela almarhum adiknya. 

Aku tak punya pilihan lain kecuali membeberkan di depan umum apa yang sebenarnya telah terjadi. Hanya aku sendirilah yang tahu kebenaran tentang itu, dan kini aku sadar tak ada gunanya lagi hal itu ditutup-tutupi. Sejauh yang aku tahu, hanya ada tiga artikel yang berhubungan dengan hal itu yang diterbitkan untuk umum: satu di Journal de Genive pada tanggal 6 Mei 1891, lalu ulasan
wartawan Reuter di koran-koran Inggris pada tanggal 7 Mei 1891, dan yang ketiga surat-surat yang baru-baru ini dimuat di beberapa surat kabar seperti yang kusinggung sebelumnya tadi. 

Yang pertama dan kedua cuma singkat saja, sedangkan yang ketiga merupakan pemutarbalikan fakta. Merupakan tanggung jawabku untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi antara Profesor Moriarty dan Mr. Sherlock Holmes.

Harap diingat, bahwa sejak pernikahanku dan sejak mulai praktek dokter sendiri, hubungan
eratku dengan Holmes jadi agak terganggu. Sesekali dia masih mengunjungiku kalau dia
memerlukanku untuk menemaninya melakukan penyelidikan, tapi lama-lama semakin jarang dia melakukannya. Sehingga pada tahun 1890 hanya tiga kasusnya yang ada dalam arsipku. 

Selama musim dingin tahun itu juga sampai awal musim semi tahun 1891, aku membaca di surat-surat kabar bahwa dia telah diminta jasanya oleh pemerintah Prancis untuk menangani sebuah masalah yang sangat
penting, dan aku menerima dua surat dari Holmes, satu dikirim dari Narbonne, dan satunya lagi dari Nimes. Dari kedua suratnya itu, aku berkesimpulan bahwa nampaknya dia akan tinggal lama di Prancis. 

Itulah sebabnya aku sangat terkejut ketika aku melihatnya berjalan menuju ke ruang praktekku pada malam hari tanggal 24 April 1891. Keterkejutanku bertambah ketika kulihat wajahnya yang pucat dan badannya yang lebih kurus dari biasanya.

"Ya, akhir-akhir ini aku lebih banyak kerja keras," 

komentarnya, seolah tahu apa yang
membuatku terkejut. 

"Aku agak merasa tertekan akhir-akhir ini. Boleh kututup jendelamu?"

Satu-satunya penerangan di ruangan itu berasal dari lampu mejaku yang kupakai untuk
membaca. Holmes berjalan miring sepanjang dinding, lalu ditutupnya jendela dan dikuncinya dengan saksama.

"Ada yang kautakutkan?" tanyaku.

"Yah, begitulah."

"Apa yang kautakutkan?"

"Tembakan senapan angin."

"Sobatku Holmes, apa maksudmu?"

"Kurasa kau mengerti diriku dengan baik, Watson, bahwa aku bukanlah orang yang gampang gugup. Pada saat yang sama, adalah merupakan kebodohan dan bukannya keberanian kalau kau tak bersikap waspada akan kemungkinan terjadinya bahaya di dekatmu. Bisa tolong minta apinya?" 

Dia mengisap rokoknya dalam-dalam seolah-olah tindakannya itu bisa menenangkan dirinya.

"Maaf, aku kemari malam-malam begini," katanya, 

"dan aku juga mau minta izin dulu, karena
nanti kalau pulang dari sini aku akan loncat dari tembok taman belakang."

"Apa maksudmu dengan semua ini?" tanyaku.

Dijulurkannya tangannya, dan nampaklah olehku di bawah sinar lampu mejaku bahwa dua buku jarinya terluka oleh tembakan peluru dan berdarah.

"Kaulihat sendiri, aku tak main-main," katanya sambil tersenyum. 

"Sebaliknya, biasa, kan, kalau laki-Iaki terluka tangannya? Apakah Mrs. Watson ada di rumah?"

"Tidak, dia sedang pergi."

"Benarkah? Jadi kau sendirian?"

"Begitulah."

"Kalau begitu lebih mudahlah bagiku untuk mengajakmu pergi denganku ke Eropa selama seminggu."

"Ke mana?"

"Oh, ke mana sajalah. Tak ada bedanya bagiku."

Aneh. Tidak biasanya Holmes bepergian tanpa tujuan yang jelas, dan wajahnya yang pucat dan letih menunjukkan bahwa dia sedang
mengalami tekanan batin yang luar biasa. 

Dia menyadari keprihatinanku dari sorot mataku dan sambil mengatupkan ujung-ujung jari kedua tangannya dan menempelkan sikunya ke lututnya, dia mulai menjelaskan keadaannya. 

"Kau mungkin pernah mendengar tentang Profesor Moriarry?" tanyanya.

"Tidak."

"Wah, dialah si jenius hebat di balik semua ini!" teriaknya. 

"Jaringannya tersebar di seluruh London, dan tak seorang pun mengenal namanya. Itulah rekor puncaknya dalam dunia kriminal. Sungguh, Watson, kalau aku berhasil mengalahkan orang ini, kalau aku berhasil membebaskan masyarakat dari cengkeramannya, aku akan merasa bahwa karierku sudah mencapai puncaknya, dan aku akan bersiap untuk memilih pekerjaan lain yang lebih tenang. 

Antara kau dan aku saja, ya!

Kedudukan yang kuperoleh ketika menangani kasus kasus yang baru-baru ini terjadi, yang
menyebabkan keluarga kerajaan Skandinavia dan pemerintah Prancis sampai meminta jasaku, pasti bisa menyediakan pekerjaan ringan yang menyenangkan untuk mencukupi kehidupanku selanjutnya, dan aku bisa memusatkan perhatianku pada riset-riset kimiaku. 

Tapi aku tak bisa berpangku tangan, Watson, aku tak bisa duduk tenang, kalau aku membayangkan bahwa si Profesor Moriarty ini bisa enak-enak bebas berkeliaran di London, tanpa ada seorang pun yang mampu menghalangi rencana-rencana jahatnya."

"Apa gerangan yang telah diperbuatnya?"

"Kariernya luar biasa. Dia dilahirkan dari keluarga baik-baik dan pendidikannya tinggi. Dia mendapat karunia alam berupa kecakapan di bidang matematika. Pada usia dua puluh satu tahun, dia menulis risalah tentang Teorema Binomial yang saat itu sedang populer di Eropa. Atas dasar itulah dia
diangkat menjadi mahaguru bidang matematika pada salah satu universitas kita, dan sejak itu kariernya terus menanjak. 

Tapi orang ini punya kecenderungan bersikap kejam yang menurun kepadanya. Ada sifat kurang baik yang diwarisinya dari nenek moyangnya, yang melalui kecerdasannya yang luar biasa, bukannya dibelokkan menjadi hal-hal yang positif, tapi malah menjadi-jadi jahatnya. 

Banyak orang mengeluhkan perangainya yang buruk ini, dan akhirnya dia dipaksa untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai mahaguru dan dia pun lalu pindah ke London, dan bekerja sebagai guru matematika di ketentaraan. 

Hanya itulah yang diketahui orang pada umumnya, tapi aku akan menceritakan padamu apa yang telah kuselidiki lebih jauh dari orang ini.

"Seperti yang kausadari, Watson, tak ada orang yang tahu seluk-beluk dunia kejahatan tingkat
tinggi di London sebaik diriku. 

Dengan berlalunya waktu, aku terus-menerus menyadari adanya kekuatan tersembunyi di balik tindak-tindak kejahatan yang terjadi, jaringan kekuatan yang kuat yang menghalangi ditegakkannya hukum dan melindungi para pelakunya. Dalam bermacam macam kasus
yang tak terungkap—pemalsuan, perampokan, pembunuhan—aku merasakan dan mengambil
kesimpulan bahwa kekuatan itulah yang berperan di belakangnya. Dan aku tak pernah dimintai bantuan untuk ikut menyelidikinya. 

Selama bertahun-tahun aku terus berusaha untuk menyingkapkan tabir yang menutupinya, dan setelah berputar-putar sekian lama, kini aku sudah berhasil menangkap jejak kekuatan yang tersembunyi itu yang mengarah pada seseorang bernama Profesor Moriarty yang dikenal sebagai ahli matematika itu.

"Dia itu Napoleon-nya dunia kejahatan, Watson. Dialah yang mengatur separo dari semua
tindak kejahatan terselubung yang telah dan sedang terjadi di London ini. Dia seorang jenius, filsuf, pemikir yang teoretis. Otaknya cerdas sekali. Dia tinggal duduk diam, seperti labah-labah di tengah-tengah sarangnya, tapi jaringannya meluas ke mana mana, dan dia mengontrol semua perkembangannya. 

Dia tak perlu bekerja keras. Dia hanya mengatur rencana. Tapi agen-agennya banyak sekali dan diorganisasi dengan rapi. Kalau ada tindak kejahatan yang harus dilakukan— mencuri dokumen, merampok sebuah rumah, atau menggeser kedudukan seseorang, misalnya—pesan ini akan disampaikan ke Pak Profesor. Lalu dialah yang mengatur bagaimana sebaiknya tugas ini dijalankan. 

Agen yang menjalankan tugas ini bisa saja tertangkap. Kalau itu terjadi, akan diusahakan
mendapatkan uang jaminan untuk melepaskan atau membelanya di pengadilan. Tapi otak kejahatan yang mempekerjakan para agen itu tak pernah tertangkap—bahkan dicurigai saja tak pernah. 

Begitulah kesimpulanku, Watson, dan aku sedang mengerahkan segenap kemampuanku untuk membongkar organisasi itu.

"Tapi Pak Profesor itu dijaga dengan ketat, begitu ketatnya sampai apa pun yang kulakukan, rasanya tak bisa membuktikan kejahatannya kalaupun dia sampai disidangkan. 

Kau kan tahu kemampuanku, Watson, tapi selama tiga bulan terakhir ini aku harus mengakui bahwa akhirnya aku menemukan juga seorang musuh yang mampu mengimbangi kecerdasanku. Walaupun aku ngeri melihat kejahatan-kejahatan yang diatur olehnya, aku juga mengagumi kelihaiannya. 

Tapi akhirnya dia tersandung juga. Hanya kesalahan kecil yang dibuatnya, namun itu cukup bagiku. Kumanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, dan sejak itu aku pun telah memasang jeratku di sekelilingnya.

Sekarang ini, semua upayaku akan segera berakhir. Tiga hari lagi, yaitu Senin yang akan datang, semuanya siap, dan Pak Profesor itu beserta seluruh pentolan komplotannya akan berada di tangan polisi. Lalu, akan berlangsung pengadilan kejahatan terbesar abad ini, terbongkarnya lebih dari empat puluh kasus yang selama ini merupakan misteri, dan tiang gantungan bagi mereka semua. 

Tapi kami tak boleh bertindak terlalu dini, sebab bisa saja mereka lolos dari genggaman kami pada detik terakhir.

"Begini, kalau saja semua yang kurencanakan ini tak diketahui oleh Profesor Moriarty, maka
semua akan mudah saja jadinya. Tapi dia itu terlalu lihai, sehingga tak mungkin tak mencium setiap detail dari rencanaku. Berkali-kali dia berusaha untuk lolos, tapi dengan gigih aku terus mengejarnya.

Kalau saja pertempuran diam-diam ini bisa diceritakan secara tertulis, sobat, maka itu akan menjadi karya penyelidikan yang sangat lihai dan luar biasa. Tak pernah aku begitu seriusnya dan begitu tertekannya dalam menangani seorang penjahat. 

Dia amat tangguh dan aku baru saja berhasil
mengalahkan ketangguhannya. Pagi tadi aku melakukan langkah-langkah terakhir, dan hanya dalam waktu tiga hari lagi semuanya akan beres. Aku tadi sedang duduk sambil membayangkan hal ini, ketika pintu kamarku terbuka, dan Profesor Moriarty berdiri di hadapanku.

"Aku bukan orang yang gampang terkejut, Watson, tapi terus terang waktu itu aku terkejut
melihat orang yang sedang memenuhi pikiranku berdiri di kamarku. Aku sudah mengenalnya.

Sosoknya kurus tinggi, dahinya amat menonjol ke depan sehingga membentuk lengkungan, dan kedua matanya amat tenggelam ke dalam. Wajahnya tercukur bersih, pucat, dan bagaikan pertapa. Dia masih tampak seperti seorang profesor sungguhan. Bahunya agak bungkuk karena terlalu banyak membaca, dagunya menonjol ke luar, dan dia selalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan tenang, bak seekor reptil yang sedang mengawasi sekelilingnya. 

Matanya yang mengerut menatapku dengan amat penasaran.

"'Tindakan Anda agak lamban, padahal saya kira Anda bisa lebih cekatan,' katanya pada akhirnya. 

'Berbahaya sekali menggenggam pistol yang berisi peluru di dalam saku baju tidur Anda.'

"Memang, waktu dia masuk tadi, aku langsung menyadari kemungkinan bahaya yang mengancamku. Satu-satunya kemungkinan lolos baginya ialah dengan membunuhku. 

Dalam sekejap aku menyambar pistol dari laci dan menyelipkannya di saku bajuku. Aku membalas komentarnya dengan mengeluarkan pistolku yang sudah terkokang itu dan menaruhnya di meja. Dia masih tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya, tapi pandangan matanya serasa agak lain.

Untunglah, pistol itu telah kutaruh di meja.

"'Anda ternyata tak mengerti diri saya,' katanya.

"'Sebaliknya,' jawabku, 

"saya rasa saya sangat mengenal Anda. Silakan duduk. Kalau Anda ingin menyampaikan sesuatu, silakan. Saya punya waktu lima menit.'

"'Apa yang ingin saya sampaikan pasti sudah ada di benak Anda,' katanya.

"'Kalau begitu jawaban saya juga mungkin sudah ada di benak Anda,' jawabku.

"'Anda tetap ngotot?'

"'Tentu saja.'

"Dimasukkannya salah satu tangannya ke sakunya, dan aku pun langsung menyambar pistol yang ada di meja. Tapi ternyata dia cuma mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang berisi coretan tanggal-tanggal.

"'Anda menginjakkan kaki ke tempat saya pada tanggal 4 Januari,' katanya. 'Tanggal 23 berikutnya Anda menyusahkan saya; pertengahan Februari Anda juga mengganggu saya; akhir Maret Anda menghalangi rencana-rencana saya; dan sekarang, akhir April, gangguan Anda menyebabkan saya hendak ditangkap. Saya tak mungkin membiarkan hal ini berlarut-larut.'

"'Apakah ada saran yang ingin Anda kemukakan?' tanyaku.

"'Anda harus menghentikan semua ulah Anda, Mr. Holmes,' katanya sambil menggoyang-
goyangkan wajahnya. 

"Anda benar-benar harus menghentikannya, mengerti?'

"'Sesudah hari Senin,' kataku.

"'Wah, wah!' katanya. 

'Saya yakin orang secerdas Anda pasti tahu apa yang akan terjadi dengan ulah Anda ini. Anda benar-benar harus mengundurkan diri. Anda sudah mengatur segalanya sedemikian
rupa sehingga hanya ada satu jalan keluar bagi kami. Saya merasa mendapat kehormatan karena dapat mengamati cara kerja Anda, dan dengarlah, saya tak main-main kalau saya katakan bahwa saya sebenarnya tak menginginkan mengambil langkah-langkah kekerasan. Anda tersenyum, sir, tapi
memang begitulah keadaannya.'

"'Bahaya adalah bagian dari pekerjaan saya,' komentarku.

"'Maksud saya bukan sekadar bahaya,' katanya, 

'tapi penghancuran yang tak bisa dihindari.
Anda tidak sedang berhadapan dengan seseorang, tapi dengan suatu organisasi yang besar.

Bagaimanapun cerdasnya Anda, Anda takkan dapat melihat seberapa besarnya organisasi itu. Jadi, Anda harus minggir, Mr. Holmes, atau akan terinjak-injak.'

"'Maaf,' kataku sambil berdiri, 

"saya sampai terlena dalam pembicaraan ini, sehingga saya hampir saja mengesampingkan sesuatu yang penting yang harus saya kerjakan di tempat lain.'

"Dia juga berdiri dan menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.

"'Yah, yah,' katanya pada akhirnya. 

'Sayang sekali. Tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya tahu apa pun yang akan Anda lakukan. Tak ada yang bisa Anda lakukan sebelum hari Senin. Ini adalah pertarungan antara Anda dan saya, Mr. Holmes. Anda ingin memenjarakan saya.

Dengar, itu tak mungkin. Anda juga ingin mengalahkan saya, tapi itu pun tak mungkin. Kalau Anda merencanakan untuk menghancurkan saya, saya pun akan menghancurkan Anda.'

"'Anda telah banyak memuji saya, Mr. Moriarty,' kataku. 

'Saya akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kalau yang pertama bisa terjadi, saya pun akan rela bila hal yang Anda ucapkan
terakhir kali itu sampai terjadi, demi kepentingan orang banyak.'

"'Saya jamin hanya satu yang akan terjadi, bukan yang satunya lagi,' 

dia menjawab dengan geram lalu membalikkan badan dan pergi sambil menengok-nengok ke sekeliling kamarku. 

"Begitulah pembicaraanku yang unik dengan
Profesor Moriarty. Kuakui pikiranku sangat
terganggu karenanya. Gaya bicaranya yang tenang dan tepat menunjukkan bahwa dia bersungguh-sungguh, bukan sekadar mengancam. Tentu saja kau akan mengatakan, 'Mengapa tak minta bantuan polisi untuk melawannya?' Alasannya ialah karena aku yakin bahwa agen-agennyalah yang akan
mengerjaiku. Aku punya bukti-bukti yang
menguatkan hal itu."

"Kau sudah pernah diserang?"

"Sobatku Watson, Profesor Moriarty bukanlah orang yang suka membuang-buang waktu. Aku pergi keluar tadi siang karena ada urusan di
Oxford Street. Ketika aku melewati belokan dari Bentinck Street dan menuju persimpangan jalan di Welbeck Street, sebuah kereta yang dihela dua ekor kuda tiba-tiba menerjangku dengan kecepatan tinggi. Aku melompat ke trotoar dan kalau terlambat sedetik saja, aku pasti sudah terlindas oleh kereta yang berasal dari Marylebone Lane itu. Dalam sekejap mata kereta itu menghilang. 

Aku lalu berjalan di trotoar saja sesudah itu, Watson, tapi ketika aku sedang melewati Vere Street, sebuah batu bata terjatuh dari atap sebuah rumah dan jatuh berkeping-keping di kakiku. Aku memanggil polisi dan tempat itu
pun diperiksa. Di atas atap rumah itu memang ditemukan tumpukan kayu dan batu bata untuk persiapan perbaikan rumah itu, dan mereka meyakinkanku bahwa tadi pasti ada tiupan angin yang telah menyebabkan batu bata itu tergeser dan jatuh menimpa kakiku. 

Tentu saja aku tak percaya itu, tapi aku
tak bisa membuktikan pendapatku. Aku lalu memanggil taksi dan pergi menemui kakakku di Pall Mall.

Seharian aku tinggal di tempatnya. Sekarang, aku menemuimu di sini, dan tadi dalam perjalanan seseorang menghantamku dengan tongkat pemukul. Aku berhasil memukulnya kembali, dan polisi lalu meringkusnya, tapi menurutku, tertangkapnya cecunguk yang kutinju gigi depannya itu, takkan menunjukkan jejak ke arah bekas guru matematika yang sedang merancang semuanya ini dari tempat
yang jauh. 

Itulah sebabnya kau tak perlu heran, Watson, kenapa aku langsung menutup jendelamu
begitu aku masuk ke sini tadi, dan aku harus minta izin untuk nanti pulang tidak lewat pintu depan."

Sebelum ini aku sering mengagumi keberanian temanku yang satu ini, tapi sekarang lebih-lebih lagi. Hebat sekali dia bisa dengan tenang membahas insiden-insiden menakutkan yang terjadi sepanjang hari itu!

"Kau mau menginap di sini?" tanyaku.

"Tidak, sobat, kehadiranku akan sangat membahayakanmu. Aku sudah punya rencana sendiri, dan semuanya akan baik-baik saja. Sudah banyak yang kulakukan, dan penangkapan terhadap komplotan itu bisa dilaksanakan tanpa bantuanku, walaupun nantinya kehadiranku dibutuhkan juga sebagai saksi. 

Tapi, yah, sebaiknya aku pergi selama beberapa hari ini, biarlah polisi yang menindaknya. Itulah sebabnya aku akan sangat senang kalau kau bisa menemaniku pergi ke Eropa."

"Praktekku sedang sepi," kataku, 

"dan ada tetangga yang bisa mengawasi rumahku. Dengan senang hati aku akan menemanimu."

"Dan bisa berangkat besok pagi?"

"Kalau memang perlu begitu, oke saja."

"Oh, ya, sangat perlu. Kalau begitu, dengarkan apa-apa yang harus kaulakukan, dan kumohon
dengan sangat, sobatku Watson, laksanakanlah dengan tepat sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, karena kita akan terlibat permainan yang sangat merepotkan melawan penjahat paling cerdik dan sindikat penjahat paling kuat di seluruh Eropa. 

Sekarang, dengarkan! Suruhlah seseorang yang bisa kaupercaya untuk mengirimkan koper bawaanmu tanpa diberi label alamat ke Victoria malam ini juga.

Besok pagi, suruh seseorang lagi untuk memanggil kereta, tapi jangan sampai dia membawa kereta pertama atau kedua yang menawarkan diri. Lalu berangkatlah ke Lowther Arcade di ujung Jalan Strand. Tuliskan alamat yang akan kautuju itu di secarik kertas, dan berikan pada pengendara kereta itu sambil berpesan agar kertas itu jangan sampai hilang. 

Siapkan ongkos kereta, dan begitu kereta
berhenti di ujung Jalan Strand itu, larilah menyeberangi Lowther Arcade, dan perhatikan jam tanganmu. Kau harus sampai di seberang pada jam sembilan lewat seperempat. Di sana kau akan menemukan sebuah kereta lain yang lebih kecil, sedang menunggu di pinggir jalan. 

Pengendaranya berjubah hitam dan berkerah warna merah. Masuklah ke dalam kereta itu, dan kau akan diantar ke Victoria. Sampai di sana, bergegaslah naik kereta api cepat Continental."

"Di mana aku akan menemuimu?"

"Di stasiun itu. Gerbong kedua dari kelas utama sudah dipesan untuk kita."

"Jadi kita berjanji akan bertemu di gerbong kelas utama itu, ya?" 

"Ya."

Aku tak berhasil membujuk Holmes agar menginap saja di rumahku. Jelas sekali bahwa dia merasa akan membawa malapetaka bagi rumah dan keluarga yang diinapinya. Karena itulah, dia pun bersikeras menolak menginap di rumahku. 

Sambil dengan tergesa-gesa mengingatkanku akan rencana kami besok pagi, dia bangkit dan aku mengantarnya sampai ke taman belakang. Lalu kulihat dia memanjat tembok belakang yang menuju ke Mortimer Street. Kudengar dia langsung bersiul memanggil kereta untuk membawanya pergi.

Keesokan harinya, aku melaksanakan apa yang dipesankan Holmes sampai ke hal-hal yang
sekecil-kecilnya. Aku mendapatkan kereta dengan amat berhati hati dan setelah benar-benar yakin bahwa kereta itu bukanlah yang disediakan untuk kami sebagai perangkap. 

Setelah makan pagi, aku langsung berangkat ke Lowther Arcade, lalu menyeberanginya sambil berlari secepat mungkin. Sebuah
kereta lain sudah menunggu. Pengendaranya berbadan besar dan mengenakan jubah hitam. 

Begitu aku melangkah masuk, pengendaranya langsung memecut kudanya, dan kereta pun langsung melaju dengan kencang menuju Stasiun Victoria. Begitu aku turun, pengendara kereta itu langsung memutar keretanya dan pergi meninggalkanku tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.

Sejauh ini semua berjalan dengan lancar. Koper bawaanku sudah menungguku di situ, dan aku tak mengalami kesulitan mendapatkan gerbong kereta yang dimaksudkan oleh Holmes, lebih-lebih karena cuma gerbong itulah yang diberi tanda "terpakai". 

Kecemasanku satu-satunya ialah ketidakhadiran Holmes. Jam di stasiun sudah menunjukkan tinggal tujuh menit lagi kereta akan berangkat. Kucari-cari sosok temanku yang sigap itu di antara orang-orang yang berkerumun dan lalu lalang di sekitar situ, tapi sia-sia belaka. Dia tak kelihatan di mana-mana. Aku malah merasa perlu menolong seorang pastor Italia yang anggun yang sedang berupaya menjelaskan kepada porter kereta, dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, agar bagasinya dikirimkan ke Paris. 

Lalu, setelah melongok- longok ke sekeliling sekali lagi, aku kembali ke gerbong. Ternyata porter tadi telah mempersilakan pastor tua Italia itu naik ke gerbongku, padahal tempat itu telah diberi tanda "terpakai". Kurasa tak ada
gunanya menjelaskan bahwa dia sebetulnya salah masuk, karena kemampuanku berbahasa Italia tak lebih baik dibanding kemampuannya berbahasa Inggris. 

Jadi, aku pun hanya mengangkat bahu dan lalu
melanjutkan mencari-cari temanku dengan khawatir. Ketakutan mulai merayapi diriku, jangan-jangan sesuatu yang mengerikan telah menimpanya tadi malam. Pintu-pintu kereta telah ditutup, dan peluit pun dibunyikah, lalu...

"Sobatku Watson," sebuah suara menegurku,

"kenapa kau tak mengucapkan selamat pagi?"

Aku menoleh dengan sangat terkejut. Pastor tua di sampingku menoleh ke arahku. Dalam sekejap, kerut-kerut di wajahnya itu telah hilang, hidung yang tadinya hampir menempel ke dagu itu pun kini sudah normal lagi, bibir bawahnya tak dimajukan lagi, mata yang tadi
sayu sekarang bersinar-sinar, dan profil tubuhnya yang tadi lunglai sekarang ditegakkan. Pokoknya kini penampilannya lain sekali, dan ternyata dia itu temanku Holmes.

"Astaga!" seruku. 

"Kau benar-benar mengejutkanku!"

"Aku harus hati-hati," bisiknya. 

"Aku punya alasan untuk menduga bahwa mereka sedang mengikuti jejak kita. Ah, itu dia Moriarty."

Kereta sudah mulai bergerak ketika Holmes mengatakan itu. Aku menoleh ke belakang dan
tampaklah olehku seorang pria jangkung sedang berjalan dengan tergesa-gesa di antara kerumunan orang dan melambai-lambaikan tangannya seolah-olah ingin menghentikan kereta itu. 

Tapi tentu saja dia terlambat, karena kereta sudah berangkat, dan sekejap kemudian sudah keluar dari stasiun.

"Dengan segala upaya kita yang penuh kewaspadaan, lihatlah, semua berjalan dengan lancar,"

kata Holmes sambil tertawa. Dia bangkit dari duduknya, dan dilepaskannya kostum penyamarannya yang berupa jubah dan topi hitam, lalu disimpannya di tasnya.

"Sudah baca koran pagi, Watson?"

"Belum."

"Kau belum dengar tentang Baker Street, kalau begitu?"

"Baker Street?"

"Kamar kita dibakar semalam. Tapi kerusakannya tak seberapa."

"Ya Tuhan, Holmes! Ini sudah keterlaluan."

"Mereka pasti kehilangan jejakku sama sekali setelah penjahat yang membawa tongkat pemukul itu tertangkap. Kalau tidak, mana mungkin mereka mengira aku kembali ke rumah. 

Tapi mereka lalu mengalihkan perhatian mereka dengan mengawasimu. Itulah sebabnya Moriarty bisa sampai ke Victoria. Kau tadi tak membawa kekeliruan apa-apa, kan?"

"Semua yang kaupesankan telah kulaksanakan dengan cermat."

"Kau menemukan kereta kecil itu?"

"Ya, waktu aku sampai di tempat itu, kereta itu sudah menungguku."

"Kaukenal siapa yang mengendarai kereta itu?"

"Tidak."

"Mycroft, kakakku. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya kita tak meminta bantuan orang upahan yang bisa membahayakan keadaan kita. Sekarang, kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan terhadap Moriarty."

"Yang membawa kita ini kan kereta ekspres setelah itu kita langsung naik kapal. Kukira dia takkan bisa mengejar kita."

"Sobatku Watson, kau pasti tak mengerti maksudku ketika kukatakan bahwa orang ini benar-benar sama cerdasnya denganku. Kalau aku yang jadi pihak pengejar, kau pasti yakin, bahwa aku takkan menyerah begitu saja. Kenapa kau begitu meremehkan dia?"

"Apa lagi yang bisa dia lakukan?"

"Apa yang akan aku lakukan kalau aku berada dalam keadaan seperti itu."

"Coba katakan, apa itu?"

"Menyewa kereta api khusus."

"Tapi, toh tak mungkin akan mendahului kita?"

"Siapa bilang? Kereta ini berhenti di Canterbury, dan baru seperempat jam kemudian kapal
berangkat. Dia akan menangkap kita disana."

"Kok, malah dia yang mengejar-ngejar kita, sepertinya kitalah penjahatnya. Kita minta polisi untuk menangkapnya saja di sana nanti."

"Itu akan menghancurkan jerih payahku selama tiga bulan. Kita dapatkan kakapnya, namun teri-terinya lolos. Besok Senin, semuanya pasti tertangkap. Jadi sekarang ini, dia jangan ditangkap dulu."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita akan turun dari kereta di Canterbury."

"Lalu?"

"Yah, kita akan melakukan perjalanan lintas negara ke New Haven, lalu ke Dieppe. Tindakan
Moriarty selanjutnya dapat kuduga. Dia akan melanjutkan perjalanan ke Paris, mengamati koper-koper kita, dan menunggu di tempat penyimpanan bagasi selama dua hari. 

Sementara itu, kita beli saja dua tas
baru, agar produsennya senang, dan kita menuju ke Swiss dengan santai, lewat Luxemburg dan Basle."

Aku sudah sering bepergian, sehingga kehilangan koper tidak terlalu merepotkanku, tapi aku sebal karena kami harus bersembunyi gara-gara seorang penjahat yang dosanya sudah tak terhitung lagi. 

Namun nampaknya Holmes lebih paham akan situasi kami daripada diriku. Jadi kami pun turun di Canterbury, dan harus menunggu selama satu jam sebelum kereta yang membawa kami ke New Haven berangkat.

Aku sedang memandangi, dengan agak sedih, gerbong yang membawa pergi barang-barangku, ketika Holmes menarik lengan bajuku dan menunjuk ke atas.

"Betul, kan?" katanya.

Di atas hutan wilayah Kent itu, terlihat asap
mengepul. Satu menit kemudian sebuah lokomotif yang menarik satu gerbong melaju ke arah stasiun.

Dengan spontan kami bersembunyi di balik
tumpukan bagasi ketika kereta api itu lewat di
depan kami dengan bunyi mesinnya yang
memekakkan telinga dan menyemprotkan udara panas ke wajah kami. Wah, nyaris!

"Dia telah pergi," kata Holmes ketika kami
memperhatikan kereta itu melesat dan menghilang di kejauhan. 

"Kaulihat, ternyata kecerdikan musuh
kita itu ada batasnya. Dia sebenarnya bisa lebih berhasil seandainya saja dia tahu bahwa aku bisa menduga rencananya, dan kemudian bertindak sessuai dengan itu."

"Apa yang akan dilakukannya kalau dia berhasil menyusul kita?"

"Dia pasti akan berusaha membunuhku. Kalau dia nekat begitu, dua-duanya, aku dan dia
sendiri, bisa tewas bersamaan. Sekarang, apakah sebaiknya kita makan siang agak lebih pagi di sini, atau nanti saja di New Haven?"

Kami melanjutkan perjalanan ke Brussel malam itu dan tinggal di situ selama dua malam. Hari berikutnya, kami menuju ke Strasbourg. Pada Senin pagi, Holmes mengirim telegram ke Kepolisian London, dan malamnya kami mendapat jawaban. 

Holmes membuka telegram itu, dan sambil
menyumpah-nyumpah dilemparkannya telegram itu ke perapian.

"Seharusnya aku tahu," keluhnya. 

"Dia melarikan diri!"

"Moriarty?"

"Mereka telah berhasil menangkap semua jaringannya, tapi dia sendiri lolos. Dia berhasil
mengecoh para polisi itu. Tentu saja, begitu aku tak berada di negeri kita, tak ada yang sanggup menanganinya. Tapi waktu itu kupikir aku sudah mengatur semuanya untuk mereka, dan mereka hanya tinggal bertindak saja. Kurasa sebaiknya kau kembali ke Inggris, Watson."

"Kenapa?"

"Karena kini jiwamu akan ikut terancam, kalau kau berada di dekatku. Orang itu sudah
kehilangan pekerjaan, dan dia akan ditangkap kalau kembali ke London. Kalau dugaanku benar, dia kini akan berupaya semaksimal mungkin untuk membalas dendam kepadaku. 

Dia mengancamku demikian waktu dia berkunjung ke tempatku dulu itu. Dan kurasa dia tak main-main. Maka, kumohon kau kembali praktek lagi saja."

Kalau Anda menjadi teman karibnya, tegakah Anda meninggalkannya dalam keadaan terancam demikian? Kami duduk di sebuah rumah makan di Strasbourg dan bertengkar soal ini selama setengah jam, tapi akhirnya kami berdua melanjutkan perjalanan ke Jenewa.

Selama seminggu yang menggembirakan kami berjalan-jalan di Bukit Rhone, kemudian
membelok ke Leuk, lalu ke Gemmi Pass yang masih bersalju tebal. Kami terus melewati Interlaken, dan menuju ke Meiringen.

 Perjalanan kami menyenangkan. Saat itu kalau kami melayangkan pandangan ke bawah, tampaklah hamparan musim semi yang menghijau dengan indahnya, sedangkan
kalau kami melihat ke atas, tampaklah hamparan putih musim dingin. Tapi pikiran Holmes terus menerawang. 

Waktu kami berada di desa di kaki Pegunungan Alpen atau ketika kami sedang di daerah
pegunungan yang sepi, matanya selalu memperhatikan setiap orang yang kami jumpai dengan tajam.

Dia begitu yakinnya, bahwa ke mana pun kami pergi, bahaya senantiasa menguntit langkah-langkah kami.

Aku teringat, pada suatu saat ketika kami baru saja melewati perbatasan Gemmi, dan sedang
berjalan memasuki daerah Daubensee, sebuah batu besar menggelinding dari bukit di sebelah kanan jalan dan nyelonong masuk ke danau di belakang kami. Dalam sekejap, Holmes langsung berlari ke lereng itu dan melongok-longok ke semua arah. Percuma saja pemandu kami menjamin bahwa jatuhnya batu semacam itu sering terjadi pada musim semi seperti saat ini di tempat itu. 

Dia terdiam, tapi dia tersenyum ke arahku dengan gaya seseorang yang telah membuktikan kebenaran dugaannya. Dan, toh, dia tak merasa tertekan walaupun dia sedang dalam keadaan waspada begitu. Sebaliknya,
belum pernah kulihat dia dalam keadaan yang
sedemikian gembira. 

Berkali-kali dia mengulang ucapannya bahwa nanti kalau masyarakat benar-benar terbebas dari Profesor Moriarty, dengan senang hati dia
akan mengakhiri kariernya. 

"Paling tidak bisa kukatakan, Watson, bahwa
hidupku tidak sia-sia belaka komentarnya. Seandainya catatan mengenai penyelidikanku berakhir nanti malam, aku masih bisa meninjaunya kembali dengan tenang.

London telah menjadi tempat yang lebih
menyenangkan karena kehadiranku. Lebih dari seribu kasus pernah kutangani, dan rasanya aku tak pernah memakai kemampuanku secara tidak benar. 

Akhir-akhir ini, aku lebih suka melihat masalah-masalah yang alamiah daripada masalah-masalah sepele yang disebabkan oleh keadaan masyarakat yang serba palsu. Catatanmu akan berakhir, Watson, kalau harinya tiba ketika aku menghentikan karierku dengan tertangkapnya atau tewasnya penjahat paling berbahaya dan paling cerdik di Eropa."

Biarlah kusingkat saja kisah ini, tanpa menyimpang dari fakta yang sebenarnya. Aku
sebenarnya tak ingin menceritakan kisah ini, tapi aku sadar, aku harus melakukannya tanpa menyisakan setitik detail pun. 

Waktu itu tanggal 3 Mei, ketika kami sampai di desa kecil bernama Meiringen. Kami menginap
di sebuah penginapan yang dikelola oleh si tua Peter Steiler. Pemilik penginapan itu cerdik, dan bisa berbahasa Inggris dengan baik, karena dulu pernah bekerja selama tiga tahun di Hotel Grosvenor, di London. 

Atas sarannya, pada sore hari tanggal 4 Mei kami berdua pergi untuk mendaki perbukitan dan akan menginap di desa kecil bernama Rosenlaui. Kami telah diperingatkan supaya kalau kami mau lewat Air Terjun Reichenbach, yang letaknya kira-kira di tengah tengah perbukitan itu, kami harus melewati jalan yang mengitari air terjun itu.

Tempat itu memang mengerikan. Semburan airnya deras sekali, ditambah dengan cairnya salju jatuh memecah ke jurang yang amat dalam dan luas, membentuk semburan-semburan yang bergulung-gulung naik ke atas bagaikan asap dari sebuah rumah yang sedang terbakar. 

Semburan air itu lalu masuk ke sebuah terowongan raksasa yang pinggirnya terbuat dari batu-batuan gelap yang berkilauan.
Terowongan yang kedalamannya tak bisa diukur dan mengecil di bagian belakangnya ini dipenuhi oleh luapan air yang memecah-mecah ke arahnya sehingga membentuk gerigi pada bibir terowongan itu.

Limpahan air berwarna kehijau-hijauan yang terus-menerus tumpah ke bawah dengan suara menderu-deru itu, dan pekikan pecahan pecahan air yang balik menyembur ke atas, membuat orang merasa bergidik dan pusing. 

Kami berdiri di sebuah sudut sambil menatap air terjun di bawah sana, nun di
kejauhan. Terdengar oleh kami pantulan gemuruh air terjun itu yang berasal dari arah jurang Jalan yang mengitari air terjun itu terputus di tengah-tengahnya, agar orang bisa melihat air terjun itu secara menyeluruh. 

Tapi jalan itu tiba-tiba berakhir, sehingga kami harus membalik kalau mau meninggalkan tempat itu. Setelah puas dengan apa yang kami lihat, kami pun berbalik untuk meninggalkan tempat itu, namun seorang bocah berkebangsaan Swiss berlari ke arah kami dengan membawa sepucuk surat di tangannya. Kertas suratnya adalah kertas surat hotel yang baru saja kami tinggalkan, dan dialamatkan kepadaku. 

Pengirimnya adalah pemilik hotel itu. Rupanya, beberapa menit setelah kami berangkat, seorang wanita Inggris tiba pula di hotel itu dalam keadaan sakit parah. Dia baru saja menghabiskan musim dingin di Davos Platz, dan sedang dalam perjalanan untuk menemui
temannya di Lucern. 

Tapi tiba-tiba dia mengalami perdarahan hebat. Nampaknya dia takkan bertahan hidup lebih lama lagi, tapi alangkah baiknya kalau dia bisa mendapat pertolongan dari seorang dokter
Inggris, dan aku dimohon untuk kembali ke hotel itu dan menolongnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Steiler yang baik hati itu menambahkan sebuah catatan kaki yang mengatakan bahwa dia akan sangat menghargai kehadiranku, karena wanita itu menolak untuk dibawa ke dokter setempat, padahal dia merasa bertanggung jawab.

Kita tak bisa menyepelekan permintaan semacam itu, bukan? Tak mungkin kita bisa menolak memberi pertolongan pada seorang wanita setanah air yang sedang sekarat di negeri orang. Sebaliknya,naku pun merasa berat untuk berpisah dari Holmes. 

Tapi akhirnya kami mencapai kata sepakat. Holmes akan melanjutkan perjalanan dengan ditemani bocah Swiss itu sebagai pemandu, sedangkan aku akan kembali ke Meiringen.

Temanku itu ingin tinggal lebih lama lagi untuk menikmati air terjun itu, begitu katanya, dan sesudah itu ia akan berjalan pelan-pelan mendaki bukit menuju Rosenlaui. Aku akan
menyusulnya di sana. Ketika aku meninggalkannya, aku sempat menoleh ke arahnya. Kulihat dia sedang bersandar pada sebuah batu, tangannya menyilang, sambil menatap deru air di bawahnya. Itulah untuk terakhir kalinya kulihat dia berada di dunia ini.

Ketika aku sudah hampir sampai di bawah
bukit, aku menengok kembali. Tapi dari situ air terjun tadi sudah tak nampak lagi. Yang nampak olehku hanyalah jalan yang berkelok di punggung bukit yang menuju ke air terjun itu. Seingatku, aku melihat seorang pria sedang berjalan dengan bergegas di jalan itu. 

Sosoknya yang gelap terlihat dengan jelas dalam latar belakang yang serba hijau itu. Aku
memperhatikannya dan tertarik pada ketergesaannya itu, tapi aku segera melupakannya begitu aku bergegas memenuhi panggilanku.

Lebih dari satu jam kemudian barulah aku
sampai di Meiringen. Pak tua Steiler sedang berdiri di serambi depan hotelnya.

"Yah," kataku sambil bergegas menemuinya,

"semoga wanita itu tak semakin buruk keadaannya."

Dia agak terkejut, dan ketika dia mulai menggerak-gerakkan alisnya, jantungku pun serasa mau berhenti berdetak.

"Bukan Anda yang menulis surat ini?" tanyaku sambil menunjukkan surat yang kuambil dari
sakuku. 

"Tak ada wanita yang sedang sakit parah di hotel ini?"

"Tidak ada," teriaknya. 

"Tapi, kok, pakai kertas surat hotel ini! Ha! Pasti orang Inggris yang jangkung tadi, yang kemari setelah Anda berdua berangkat. Dia mengatakan..."

Aku tak memerlukan penjelasan pemilik hotel itu lagi. Dengan penuh ketakutan aku segera berlari menuju jalan yang baru saja kuturuni tadi. Waktu turun tadi aku membutuhkan waktu satu jam. Walaupun aku telah berusaha sekuat tenaga, perjalananku kembali naik ke atas sampai tiba di Air Terjun Reichenbach ini memakan waktu dua jam. 

Tongkat penyangga milik Holmes kulihat masih tersandar di batu yang disandari temanku tadi. Tapi dia tak kelihatan. Aku berteriak-teriak memanggilnya, tapi sia-sia. Hanya pantulan teriakanku dari jurang-jurang di sekelilingku yang terdengar sebagai
balasannya.

Tongkat temanku itu membuatku takut dan sedih. Itu berarti, dia belum sempat pergi ke Rosenlaui. Saat musuhnya menghampirinya, dia masih berada di jalanan sempit ini,
yang salah satu sisinya berpagarkan dinding batu yang terjal dan sisi lainnya jurang yang curam. 

Bocah yang mengantar surat tadi pun tak kelihatan. Dia mungkin orang upahan Moriarty, dan begitu kedua orang itu bertemu, dia lalu
diminta untuk pergi. Lalu apa yang terjadi? Siapa yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi?

Aku berdiri sambil termenung sejenak untuk menenangkan diri, karena ketakutan telah
memenuhi diriku. Lalu aku mulai menggunakan metode Holmes untuk mencoba memahami tragedi yang menimpa kami ini. 

Ternyata kesimpulannya mudah saja; Holmes telah tiada! Waktu kami bercakap-cakap tadi, kami belum sampai di ujung jalanan ini, dan persis di tempat tongkatnya berada itulah kami berdiri. Tanah di bawahnya yang kehitaman senantiasa dalam keadaan gembur, karena terus terusan terkena cipratan semburan air, sehingga jejak kaki burung pun akan terlihat dengan jelas sekali.

Dua alur jejak kaki terlihat di depanku, menuju ke air terjun, tapi tak ada jejak kaki ke arah yang berlawanan. Beberapa meter di akhir jalanan itu, tanahnya malah sudah jadi lumpur bekas terinjak-injak, serta semak-semak dan paku-pakuan yang tumbuh di sepanjang pinggiran jurang itu terserak-serak dan bercampur baur dengan lumpur. 

Aku menelungkup-dan mengamati daerah sekitar situ dengan saksama. Cipratan air langsung membasahi sekujur badanku. Hari sudah mulai gelap, dan yang tampak olehku hanyalah kemilau air pada dinding-dinding yang menghitam di sekitar situ, serta air terjun di bawah sana, nun di kejauhan. Aku berteriak-teriak memanggil temanku; tapi, seperti
sebelumnya tadi, cuma gaung suaraku yang kembali terdengar.

Tapi rupanya bisa juga aku memperoleh salam perpisahan dari sobat kental dan rekan
seperjuanganku ini. Tadi kukatakan bahwa tongkatnya tertinggal di batu yang menjorok di pinggir jalanan itu. Tiba-tiba, ada sesuatu yang berkilauan di atas batu ini, dan ketika kuraih benda itu, ternyata kotak rokok perak milik temanku. Ketika kotak itu kuambil, sepucuk surat yang terletak di bawah kotak rokok itu melayang jatuh.

 Ketika kubuka surat yang tertulis pada tiga lembar buku notes temanku itu, ternyata kepadakulah surat itu dialamatkan. Begitulah ciri seseorang yang terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cermat. Tulisannya jelas dan rapi, seolah-olah waktu menuliskan nya, dia sedang dalam keadaan santai di ruang bacanya.

Sobatku Watson, katanya,
Aku menulis surat ini atas kebaikan hati Mr. Moriarty yang bersedia memberiku waktu sejenak sebelum kami membicarakan masalah yang ada di antara kami. 

Dia telah menceritakan padaku bagaimana caranya sampai dia bisa meloloskan diri dari polisi Inggris dan bagaimana dia tahu di mana kita berada. Aku benar-benar salut atas kemampuannya. 

Aku merasa gembira, karena sebentar lagi aku akan membebaskan masyarakat kita dari cengkeramannya, walaupun dengan harga yang sangat mahal yang mungkin akan membuat sedih hati teman-temanku, khususnya engkau, sobatku Watson. 

Tapi, aku kan pernah mengatakan padamu,
bahwa karierku sudah mencapai garis akhir, dan aku senang sekali karena dengan cara
beginilah karierku berakhir. Perkenankanlah aku mengaku padamu, sebenarnya aku sudah yakin bahwa surat dari Meiringen yang memintamu kembali ke sana itu palsu, tapi aku mendiamkan hal ini supaya kau bisa segera meninggalkanku, karena aku sudah mencium apa yang bakal terjadi di sini. 

Tolong katakan pada Inspektur Patterson bahwa surat-surat yang diperlukannya sebagai bukti untuk menghukum komplotan ini di pengadilan dapat diambilnya di kotak surat bertanda M, dalam amplop biru dengan tulisan "Moriarty''. 

Aku sudah mengurus harta milikku sebelum meninggalkan Inggris, dan semuanya kuwariskan pada kakakku Mycroft.

Sampaikan salamku kepada Mrs. Watson, dan percayalah, kau adalah satu-satunya sobatku
yang sejati.

Kisah selanjutnya hanya pendek saja. Penyelidikan yang dilakukan meyakinkan dugaanku yaitu telah terjadi perkelahian antara kedua orang itu, yang menyebabkan keduanya jatuh ke dalam jurang. Upaya pencarian tubuh mereka tak menghasilkan apa-apa, dan rupanya di bawah sanalah, di kawah yang
dipenuhi air yang bergulung-gulung dengan ganasnya itulah, terkubur tubuh penjahat paling berbahaya dan tubuh pahlawan penegak hukum terbaik pada zaman itu, untuk selama-lamanya. 

Bocah Swiss yang mengantarkan surat padaku itu tak pernah ditemukan jejaknya. Dia itu pastilah salah satu dari begitu banyak agen yang dipekerjakan oleh Moriarty.

Sedangkan sehubungan dengan komplotan yang dikendalikan oleh Moriarty itu, masyarakat kami tak akan pernah melupakan jasa-jasa sahabatku Holmes yang telah berhasil mengumpulkan dan meninggalkan
kepada kami bukti-bukti tentang praktek-praktek kejahatan mereka, yang semuanya terpaparkan di pengadilan. 

Sayang peranan Moriarty sendiri tak banyak terungkap dalam persidangan, dan akhir-akhir
ini ada beberapa orang yang mencoba membersihkan nama penjahat itu dengan balik menyerang Holmes. 

Kuharap fakta yang telah kutuangkan dalam tulisan ini dapat membuka mata umum, agar tak keliru menilai Sherlock Holmes—orang paling bijaksana dan paling baik hati yang pernah ku kenal di dunia ini.




                            "SELESAI"

Senin, 06 September 2021

SHERLOCK HOLMES "THE NAVAL TREATY"

The Memoirs of Sherlock Holmes – Memoar Sherlock Holmes (1892-1893) 



"THE ADVENTURE OF THE NAVAL TREATY – DOKUMEN ANGKATAN LAUT"





DOKUMEN ANGKATAN LAUT



BULAN Juli yang datang langsung sesudah pernikahanku tak mungkin kulupakan karena ada tiga kasus menarik yang melibatkan diriku dengan Sherlock Holmes dan gaya kerjanya. 

Aku menemukan catatan itu dengan judul-judul Petualangan Noda Kedua, Petualangan Dokumen Angkatan Laut, dan Petualangan Kapten yang Sudah Lelah. 

Kisah pertama berhubungan dengan hal-hal yang amat penting, dan menyangkut banyak keluarga kerajaan, sehingga tak mungkin mempublikasikannya saat ini. Tapi, tak ada kasus lain yang pernah ditangani Holmes, yang dengan jelas menggambarkan nilai metode-metodenya yang analitis atau yang telah begitu mengesankan orang-orang yang kenal dekat dengannya, kecuali kisah yang satu ini. 

Aku tetap menyimpan rapi laporan wawancara waktu temanku menjelaskan fakta-fakta kasus itu yang sebenarnya kepada Monsieur Dubuque dari Kepolisian Paris, dan kepada Fritz von Waldbaum, seorang spesialis kriminal terkenal dari Danzig. 

Kedua orang itu telah berusaha keras menangani kasus tersebut, tapi ternyata hanya berhasil mendapatkan fakta-fakta yang kurang penting saja. 

Mungkin nanti pada abad berikutnya, barulah kisah itu boleh dipublikasikan tanpa membawa dampak-dampak yang tak diinginkan. Sementara ini, aku lalu mengamati kisah kedua di daftar catatanku yang juga mengandung kejadian-kejadian unik yang menyangkut kepentingan nasional.

Waktu masih sekolah dulu, aku kenal baik dengan seorang teman sebaya bernama Percy Phelps yang dua kelas di atasku. Anak ini cerdas sekali dan selalu mendapat hadiah yang disediakan oleh sekolah kami. Dia juga berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Cambridge yang terkenal itu. 

Seingatku, dia berasal dari keluarga terpandang. Lord Holdhurst, politikus terkenal dari Partai Konservatif, adalah saudara lelaki ibunya. Latar belakangnya yang hebat ini tak berarti apa-apa baginya di sekolah; malah sebaliknya, kami suka menggodanya kalau sedang bermain bersama-sama dan kami pernah memukul kakinya dengan tongkat. 

Tapi ketika dia dewasa dan tampil di percaturan dunia, semuanya jadi lain. Samar-samar aku mendengar bahwa kemampuan dan
pengaruh keluarganya telah membawa-nya menduduki jabatan penting di Kementerian Luar Negeri.

Aku tak banyak tahu lagi tentang dia, sampai aku menerima sepucuk surat darinya: 

Briarbrae, Woking.
Watson yang terhormat, Aku yakin kau ingat pada Phelps "si kodok kecil", yang waktu itu
duduk di kelas lima, sedang kau di kelas tiga. Mungkin kau sudah mendengar juga bahwa atas pengaruh pamanku, aku mendapat jabatan penting di Kementerian Luar Negeri. 

Aku mendapat kehormatan dan kepercayaan. Tapi lalu tiba-tiba aku mengalami kemalangan yang menghancurkan karierku.

Aku tak perlu menjelaskan peristiwa malang itu secara rinci. Kalau kau bersedia memenuhi
permintaanku, aku mungkin akan menceritakannya kepadamu. 

Aku baru saja sembuh dari sakit radang otak selama sembilan minggu, dan tubuhku masih amat lemah. Bisakah kau ajak temanmu Mr. Holmes kalau kau bersedia mengunjungiku? 

Aku mau minta pendapatnya tentang kasusku ini, walaupun yang berwajib mengatakan bahwa tak ada lagi yang bisa kulakukan.

Tolong bawalah dia kemari secepatnya. Satu menit rasanya panjang sekali bagiku karena
hidupku diliputi ketegangan. Katakan padanya bahwa baru sekarang aku bisa minta nasihatnya, bukan karena aku tidak menghargai kemampuannya, tetapi karena sejak peristiwa yang sangat memukulku itu, aku tak ingat apa-apa lagi. 

Sekarang aku sudah agak baikan, walaupun aku masih belum boleh berpikir terlalu berat karena bisa-bisa penyakitku kambuh kembali. 

Aku masih demikian lemahnya sampai untuk menulis surat ini saja aku mendiktekan isinya untuk dituliskan oleh orang lain. 

Tolong usahakan agar dia bisa mengunjungiku
bersamamu.

Teman sekolahmu dulu, Percy Phelps.

Ada sesuatu yang mengharukan hatiku ketika membaca surat itu, yaitu permohonannya yang
mendesak untuk membawa Holmes ke tempatnya. Aku begitu terharunya sampai-sampai seandainya sulit pun aku bertekad untuk mengupayakan agar Holmes bersedia memenuhi ajakanku. 

Tapi tentu saja Holmes tidak perlu dibujuk. Dia mencintai pekerjaannya dan dia pasti mau menolong kawanku. Istriku juga sepaham denganku bahwa aku harus menghubungi Holmes secepatnya. 

Begitulah, setelah makan pagi, aku bergegas pergi ke Baker Street. Holmes sedang duduk dan asyik melakukan suatu percobaan kimia di meja samping. 

Dia mengenakan pakaian rumah. Sebuah tabung kimia yang melengkung sedang dipanaskan di atas kompor Bunsen yang nyala apinya kebiru-biruan, sedang tetesan-tetesan air yang telah disuling di alirkan ke tabung berukuran dua liter. Dia tak menoleh ketika aku memasuki kamarnya. Tahulah aku, bahwa dia
benar-benar sedang melakukan sebuah percobaan yang penting. Aku lalu duduk di kursi yang berlengan dan menunggu. 

Dia mengisi botol-botol, mengambil beberapa tetes dari tiap botol dengan pipet kaca, lalu akhirnya menaruh tabung percobaan berisi larutan di meja. Ada secarik kertas lakmus
di tangan kanannya.

"Kau datang pada saat yang kritis, Watson,"
katanya. 

"Kalau kertas ini tetap berwarna biru, berarti
beres. Tapi kalau warnanya berubah menjadi merah, besar artinya bagi nyawa seseorang." 

Dimasukkannya kertas itu ke dalam tabung percobaan, dan warnanya langsung berubah menjadi merah tua. 

"Hm! Sudah kuduga!", teriaknya. 

"Tunggu sebentar ya, Watson. Ada rokok di kotak Persia itu." 

Dia kembali ke mejanya dan menuliskan beberapa telegram yang lalu langsung diserahkannya kepada pesuruh. 

Kemudian dia menjatuhkan dirinya ke kursi di depanku. Diangkatnya kedua kakinya sehingga lututnya menyentuh dagunya yang kurus dan panjang.

"Pembunuhan biasa," katanya. 

"Kurasa kau punya kasus yang lebih menarik. Bukankah kau penulis kisah kriminal yang mengagumkan, Watson? Nah, kasus apa kali ini?"

Kuserahkan surat itu kepadanya, dan dia membacanya dengan penuh perhatian.

"Kok, cuma begini, ya?" komentarnya sambil mengembalikan surat itu padaku.

"Memang."

"Tapi tulisannya menarik perhatian."

"Itu bukan tulisannya."

"Tepat. Itu tulisan seorang wanita."

"Tulisan seorang pria. Aku yakin itu!" teriakku.

"Bukan, itu tulisan seorang wanita; nyentrik lagi. Coba lihat, sebagai awal penyelidikan, cukup menarik untuk diketahui bahwa klien kita ini berhubungan erat dengan seseorang yang nyentrik. 

Aku mulai tertarik pada kasus ini. Kalau kau sudah siap, kita akan segera berangkat ke Woking untuk menemui diplomat yang terjerat kasus berat ini dan wanita yang menuliskan suratnya."

Kami beruntung karena dapat mengejar kereta api pagi di Stasiun Waterloo. Tak sampai satu
jam kami sudah sampai ke kota Woking yang rindang oleh pohon-pohon cemara dan tanaman-tanaman lain yang lebih pendek. 

Briarbrae ternyata rumah yang besar sekali dan letaknya agak terpencil dengan halaman yang amat luas. Dari stasiun kami berjalan beberapa menit untuk mencapai rumah itu. Setelah
menunjukkan kartu nama, kami dipersilakan masuk ke ruang tamu yang indah. 

Beberapa menit kemudian seorang pria yang cukup gagah menemui kami dengan sangat ramah. Usianya mungkin hampir empat puluh, tapi pipinya yang kemerah-merahan dan matanya yang menyorotkan kegembiraan
memberi kesan bagaikan seorang anak kecil yang nakal dan menggemaskan.

"Saya senang sekali Anda berdua sudah datang," katanya sambil menyalami kami dengan sangat emosional. 

"Percy telah menunggu-nunggu Anda sepanjang pagi ini. Ah, kasihan, dia benar-
benar putus asa. Orangtuanya meminta saya untuk menemui Anda, karena mereka tak tahan setiap kali mendengar kasus anaknya dikisahkan lagi."

"Kami belum mendengar rinciannya," kata Holmes. 

"Anda bukan anggota keluarga di sini, kan?"

Orang yang baru kami kenal itu terkejut, namun setelah melihat ke bawah sejenak, dia tertawa.

"Oh, Anda pasti melihat singkatan J.H. di gantungan kalung saya ini," katanya. 

"Tadinya saya kira Anda bisa menebak dengan jitu. Nama saya Joseph Harrison, dan adik perempuan saya, Annie, adalah tunangan Percy. Jadi, kalau nanti mereka menikah, saya termasuk keluarganya juga, kan.

Adik saya ada di kamarnya. Dia setia merawat Percy selama dua bulan ini. Mari, sebaiknya kita ke sana sekarang juga karena dia sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan Anda berdua."

Kamar itu terletak di lantai bawah. Di samping berfungsi sebagai kamar tidur, kamar itu
dilengkapi pula dengan ruang duduk. Sudut-sudut ruangan itu dihiasi bunga-bunga yang indah. Seorang pria muda yang sangat lemas dan pucat terbaring di sofa dekat jendela yang terbuka. Dari situ tercium bau taman yang harum dan bau udara musim panas yang segar. Seorang wanita duduk di sebelahnya,
dan dia bangkit berdiri ketika melihat kami masuk.

"Apakah sebaiknya aku pergi dulu, Percy?"
tanyanya.

Percy menggenggam tangan wanita itu
sebagai tanda agar dia tetap tinggal di situ.

"Apa kabar, Watson?" tanyanya dengan
hangat. 

"Wah, aku tak mengenalimu karena kumismu itu, dan kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku. Yang bersamamu pastilah temanmu yang terkenal itu, Mr. Sherlock Holmes?"

Kuperkenalkan mereka dengan singkat, lalu
kami berdua duduk. Orang yang gagah tadi
sudah meninggalkan kami, tapi saudara wanitanya tetap tinggal di kamar itu, dengan tangannya tetap menggenggam tangan pria yang sakit itu. Wanita itu cantik rupawan walaupun tak begitu tinggi dan agak gemuk. 

Kulitnya halus berwarna terang, matanya bulat berwarna gelap yang merupakan ciri khas mata orang Italia, dan rambut hitamnya sangat lebat. Kontras sekali dengan wajah putih yang lesu dan cekung dari pria di sampingnya.

"Saya tak ingin membuang-buang waktu Anda," katanya sambil menegakkan duduknya di sofa.

"Saya akan segera mengisahkan kasus saya tanpa basa-basi. Dulu, saya adalah orang yang bahagia dan sukses Mr. Holmes, dan hampir menikah, ketika nasib malang tiba-tiba menghancurkan semua harapan hidup saya."

"Mungkin Watson sudah menceritakan pada Anda, bahwa saya bekerja di Kementerian Luar
Negeri, dan atas pengaruh paman saya, Lord Holdhurst, karier saya maju dengan pesat dan saya berhasil memegang jabatan penting. 

Ketika paman saya menjadi menteri luar negeri, dia mempercayakan beberapa tugas penting kepada saya, dan karena saya selalu sukses menjalankannya, akhirnya dia mulai bergantung pada kemampuan dan kelihaian saya.

"Kira-kira sepuluh minggu yang lalu—tepatnya pada tanggal 23 Mei—dia mengundang saya ke
kamar pribadinya, dan setelah memuji keberhasilan tugas-tugas saya selama ini, dia memberitahu saya bahwa ada tugas penting lagi yang akan dipercayakannya pada saya."

"'Ini,' katanya sambil mengambil sebuah
gulungan kertas berwarna abu-abu dari lemarinya,

'adalah berkas asli berisikan perjanjian rahasia antara Inggris dan Italia. Sayangnya, desas-desus tentang hal ini sudah sampai ke tangan wartawan. Jadi untuk selanjutnya tak boleh sampai bocor. Ingat itu!

Kedutaan Rusia atau Prancis akan bersedia membayar mahal untuk mendapatkan isi berkas ini. Sebetulnya berkas ini tak boleh keluar dari lemari saya, tapi sekarang saya amat membutuhkan salinannya. Ada meja tulis di kamarmu?'

"'Ada, sir.'

"'Nah, ambillah berkas ini dan simpan di tempat terkunci di kamarmu. Akan kuatur supaya kau tetap tinggal sementara pegawai-pegawai lain sudah pulang, supaya kau bisa menyalin berkas itu dengan aman, tanpa risiko dilihat seseorang. Kalau sudah selesai, baik berkas asli maupun salinannya harus kausimpan dengan baik pula di tempat terkunci, lalu serahkan padaku secara langsung besok pagi.'

"Saya terima berkas itu, dan..."

"Sebentar," kata Holmes, 

"apakah tak ada orang lain di kamar pamanmu ketika pembicaraan ini berlangsung?"

"Saya jamin tak ada."

"Besarkah kamar itu?"

"Tiap sisi panjangnya kira-kira sembilan meter."

"Anda berdua berada di tengah ruangan?"

"Ya, kira-kira begitulah."

"Dan bicaranya pelan-pelan?"

"Suara paman saya memang tak pernah keras. Sedangkan saya tak banyak bicara."

"Terima kasih," kata Holmes sambil menutup matanya. 

"silakan dilanjutkan."

"Saya melakukan apa yang dimintanya, dan menunggu sampai pegawai-pegawai lainnya
meninggalkan kantor. Salah satu pegawai di ruangan saya yang saat itu tinggal adalah Charles Gorot karena masih ada tugas yang harus diselesaikannya. 

Saya lalu meninggalkannya untuk pergi makan
malam. Ketika saya kembali, dia sudah pulang. Saya bergegas mengerjakan tugas saya karena Joseph, pria yang menemui Anda berdua tadi, datang ke London, dan dia akan pergi ke Woking dengan kereta api jam sebelas malam, dan saya ingin sekali pulang bersamanya.

"Ketika saya memperhatikan berkas perjanjian itu, sadarlah saya bahwa berkas itu memang
amat penting. Pantaslah paman saya sampai memperingatkan saya agar ekstra hati-hati. 

Secara garis besar, berkas itu menunjukkan posisi Inggris Raya dalam Aliansi Tiga Negara dan memberikan bayangan tentang kebijaksanaan negara ini dalam peristiwa perebutan jajahan Italia di Laut Tengah oleh armada Prancis. Pernyataan-pernyataan perjanjian itu hanya menyangkut angkatan laut, yang ditandatangani oleh pejabat pejabat tinggi di akhir perjanjian itu. Setelah melihat berkas itu sekilas, saya lalu memutuskan untuk segera mulai membuat salinannya."

"Dokumen yang ditulis dalam bahasa Prancis itu cukup panjang, berisikan dua puluh enam
artikel yang terpisah-pisah. Saya menyalin secepat mungkin, tapi ketika waktu menunjukkan jam sembilan malam saya baru selesai menyalin sembilan artikel. Berarti tak mungkin saya akan bisa pulang dengan kereta api seperti yang saya rencanakan sebelumnya. 

Saya merasa ngantuk dan bingung. Mungkin akibat makan malam dan tugas hari itu yang amat melelahkan. Saya membutuhkan secangkir kopi untuk menyegarkan pikiran saya. Seorang satpam tinggal di kantor itu sepanjang malam. 

Pos jaganya berupa sebuah ruangan kecil yang terletak di kaki tangga. Biasanya dia membuat kopi untuk pegawai-pegawai yang bekerja lembur. Saya lalu membunyikan bel untuk memanggilnya.

"Herannya, yang datang malah seorang wanita tua yang gemuk dan berwajah kasar yang
mengenakan celemek. Dia memperkenalkan dirinya sebagai istri Satpam, dan dia siap melayani saya."

Saya lalu memesan kopi.

"Saya melanjutkan menulis dua artikel lagi, tapi karena tak tahan rasa ngantuk yang amat
sangat, saya berdiri dan berjalan sekeliling ruangan untuk melemaskan kaki. Kopi yang saya pesan tak kunjung tiba, dan saya ingin tahu apa sebabnya. 

Saya membuka pintu dan mulai menyusuri lorong. Ada lorong lurus yang gelap di luar kamar saya dan itulah satu-satunya jalan keluar. Lorong itu berakhir di belokan menuju tangga, dan ruangan satpam ada tepat di bawah tangga itu. Tangga ini terdiri dari dua
bagian. Di tengahnya ada jalan ke kanan yang dilanjutkan dengan tangga sempit menuju ke pintu samping yang dipakai oleh para pelayan dan pegawai yang ingin memotong jalan dari Charles Street.

Ini denah tempat itu."

"Terima kasih. Saya bisa mengikuti kisah Anda," kata Sherlock Holmes.

"Ada hal sangat penting yang perlu Anda ketahui. Setelah saya menuruni tangga dan sampai di bawah, saya menemukan Satpam sedang tidur di kamarnya, sedangkan ceret airnya berbunyi nyaring sekali karena airnya sudah mendidih dan bersemburan ke lantai. 

Saya baru saja mau membangunkannya dari tidurnya yang amat nyenyak itu, ketika bel di atas kepalanya berbunyi dan dia terbangun karena kaget.

"'Mr. Phelps, sir!' teriaknya sambil memandang kepada saya dengan terkejut.

"'Saya kemari untuk menanyakan apakah kopi saya sudah siap.'

"'Saya tadi sedang mendidihkan air, dan saya lalu tertidur, sir.' 

Dia memandang saya dan bel yang bergetar itu secara bergantian dengan penuh keheranan.

"'Kalau Anda berada di sini, sir, lalu siapa yang
memencet bel?' tanyanya.

"'Bel!' kataku. 'Bel dari kamar siapa itu?' 

"'Dari kamar Anda.'

"Jantung saya terasa dijepit oleh sebuah tangan yang dingin. Jadi, seseorang berada di kamar kerja saya. Padahal berkas yang amat berharga itu juga tergeletak di meja kamar itu. 

Bagai dikejar setan saya segera berlari menaiki tangga. Tak ada seorang pun di koridor atas, Mr. Holmes. Dan tak ada seorangpun di kamar saya. Semuanya seperti tadi ketika saya tinggalkan, kecuali berkas yang dipercayakan pada saya. Seseorang telah mengambilnya dari meja saya. Salinannya masih ada. Yang
diambil berkas aslinya."

Holmes menegakkan duduknya dan mengusap-usap kedua tangannya. Aku tahu bahwa masalah ini menarik hatinya.

"Lalu, apa yang Anda lakukan?" gumamnya.

"Saya langsung menyadari bahwa pencurinya pasti telah masuk dari pintu samping di lantai
bawah itu. Karena kalau dia lewat pintu satunya, pasti berpapasan dengan saya."

"Menurut Anda, dia tak mungkin bersembunyi di kamar Anda atau di koridor yang gelap itu
sebelumnya?"

"Hal itu tak mungkin. Tikus saja pasti akan kelihatan kalau bersembunyi di situ. Tak ada tempat untuk bersembunyi sama sekali."

"Terima kasih. Silakan dilanjutkan."

"Satpam, ketika menyadari dari wajah saya yang pucat bahwa ada sesuatu yang saya takutkan, langsung mengikuti saya ke atas. Kami berdua berlarian sepanjang koridor lalu menuruni tangga sempit yang menuju ke Charles Street. Pintu di lantai bawah itu
tertutup tapi tak dikunci. Kami menerobos pintu itu dan berlari keluar. Samar-samar saya ingat bahwa saat itu lonceng gereja di dekat situ berdentang tiga kali yang menunjukkan jam sepuluh kurang seperempat."

"Fakta itu penting sekali," kata Holmes sambil
mencatatnya di manset lengan bajunya.

"Malam itu gelap sekali dan sedang hujan rintik-rintik. Tak terlihat ada orang di Charles Street, tapi lalu lintasnya sibuk sekali seperti biasanya di daerah Whitehall. Kami berlari di trotoar, kehujanan, sampai kami menjumpai seorang polisi yang sedang berdiri di sudut jalan.

"'Ada perampokan,' kata saya tersengal-sengal. 'Sebuah dokumen yang amat penting telah dicuri dari kantor Kementerian Luar Negeri. Apakah Anda melihat ada orang lewat di sini?'

"'Saya sudah berdiri di sini selama seperempat jam, sir,' katanya, 

'yang lewat hanya seorang wanita tua tinggi yang memakai syal dari bahan wol.'

"'Ah, itu kan istri saya,' teriak Satpam., 

"Ada orang lain yang lewat?'

"'Tak ada.'

"'Kalau begitu pencurinya pasti lewat arah satunya,' teriaknya sambil menggamit lengan saya.

"Tapi saya menjadi ragu, dan upayanya untuk mengajak saya mengejar ke arah lain malah
menambah kecurigaan saya.

"'Menuju ke mana wanita tadi?' tanya saya sambil berteriak.

"'Saya tak tahu, sir. Saya hanya melihat dia lewat, tapi saya tak memperhatikannya. Tampaknya dia tergesa-gesa tadi.'

"'Sudah berapa lamakah sejak Anda lihat dia?'

"'Oh, baru beberapa menit yang lalu.'

"'Lima menit?'

"'Yah, tak lebih dari lima menit yang lalu.'

"'Anda hanya buang-buang waktu, sir, sedangkan tiap menit bisa sangat berarti,' teriak Satpam.

'Percayalah, istri saya tak ada hubungannya dengan pencurian ini, dan mari kita coba mengejar ke arah lain. Yah, kalau Anda keberatan, saya akan lakukan sendiri saja.'

Sambil berkata demikian, dia berlari
ke arah yang lain.

"Saya segera menyusulnya dan menangkap lengan bajunya.

"'Di mana rumahmu?' tanya saya.

"'Di Jalan Ivy Lane Nomor 16, Brixton,' Jawabnya, 

'tapi jangan salah sangka, Mr. Phelps. Mari
ke ujung jalan ini dulu, siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu.'

"Ya, tak ada ruginya mengikuti sarannya. Bersama dengan polisi tadi kami berlari sampai ke ujung jalan, tapi kami tak menemukan apa-apa kecuali lalu lintas yang sibuk di malam yang basah itu.

Tak ada orang yang dapat memberitahu kami tentang siapa yang terlihat lewat di situ.

"Kami lalu kembali ke gedung Kementerian, lalu memeriksa tangga dan koridor tanpa hasil
apa-apa. Lantai koridor yang menuju kamar kerja saya terbuat dari linoleum yang mudah sekali menunjukkan jejak. Kami mengamatinya dengan saksama, tapi kami tak menemukan jejak kaki."

"Apakah hujan turun sepanjang malam itu?"

"Kira-kira mulai jam tujuh."

"Lalu, bagaimana mungkin wanita yang masuk ke kamar Anda kira-kira jam sembilan itu tak
meninggalkan bekas lumpur dari sepatunya?"

"Senang sekali Anda menanyakan hal itu. Saya juga berpikir demikian waktu itu. Tapi ternyata wanita-wanita pelayan itu biasa menyimpan sepatu mereka di kamar satpam, lalu mereka ganti memakai sandal."

"Oh, begitu. Jadi tak ditemukan jejak kaki, padahal malam itu hujan? Rangkaian kejadiannya cukup unik. Apa yang Anda lakukan kemudian?"

"Kami juga mengamati kamar kerja saya. Tak ditemukan kemungkinan adanya pintu rahasia,
dan jendelanya amat tinggi. Keduanya terkunci dari dalam. Karpetnya juga tak menyembunyikan pintu jebakan, dan atapnya berwarna putih seperti kebanyakan. Saya benar-benar yakin bahwa siapa pun pencurinya pasti lewat pintu satu-satunya itu."

"Bagaimana dengan perapian?"

"Kami tak pernah pakai perapian. Kami pakai kompor pemanas. Tali bel tergantung di sebelah kanan meja saya. Orang yang membunyikan bel tadi pasti sengaja menghampiri meja saya. Tapi untuk apa dia membunyikan bel? Benar-benar misteri yang tak terpecahkan."

"Ya, itu memang aneh. Apa yang Anda lakukan kemudian? Anda mengamati kamar kerja Anda
untuk menemukan jejak, kan? Apakah Anda menemukan puntung rokok, sarung tangan, jepit rambut, atau barang-barang kecil lainnya?"

"Saya tak menemukan barang-barang seperti itu."

"Anda mencium bau tertentu?"

"Ya, kami tak berpikir sampai ke situ."

"Ah, bau rokok bisa sangat berarti dalam penyelidikan semacam ini."

"Saya sendiri tak merokok, jadi saya rasa saya akan mencium bau rokok kalau memang ada.
Nampaknya memang tak ada. Satu-satunya fakta yang jelas ialah bahwa istri Satpam—Mrs. Tangey namanya—waktu itu meninggalkan gedung itu dengan tergesa-gesa. 

Suaminya tak bisa memberi alasan mengapa istrinya berbuat demikian, kecuali bahwa saat itu memang sudah waktunya bagi istrinya untuk pulang. 

Saya dan polisi memutuskan sebaiknya segera menangkap wanita itu sebelum dia
menyerahkan berkas itu kepada orang lain, kalau berkas itu memang ada padanya.

"Berita kehilangan ini langsung terdengar oleh Scotland Yard, dan Mr. Forbes, detektif itu,
langsung datang begitu mendengar berita itu dan berjanji akan menangani kasus ini dengan sungguh sungguh. Kami menyewa kereta, dan setengah jam kemudian kami tiba di rumah Satpam. 

Seorang wanita muda, yang ternyata adalah putri Mrs. Tangey yang paling tua, membukakan pintu. Dia mengatakan bahwa ibunya belum pulang, dan kami dipersilakan menunggu.

"Kira-kira sepuluh menit kemudian terdengar pintu diketuk orang, dan waktu itu kami membuat kesalahan yang serius. Saya tak henti-hentinya menyalahkan diri saya sendiri untuk kesalahan ini, yaitu karena bukan kami yang membukakan pintu, tapi gadis itulah yang melakukannya. 

Kami mendengar dia berkata, 'Ibu ada dua orang tamu ingin bertemu denganmu,' dan tiba-tiba kami mendengar ada orang berlari di gang di samping rumah itu. Forbes menerobos keluar dari pintu itu, dan kami berdua pun lalu berlari mengejar menuju ruangan di belakang atau dapur, tapi wanita itu telah mendahului
kami sampai di situ. Dia memandang kami dengan mata menantang, dan ketika dia mengenali saya, wajahnya pun berubah menjadi terheran-heran.

"'Oh, Mr. Phelps yang di kantor tadi, kan!' teriaknya.

"'Ayolah, ayolah, kau kira kami ini siapa sehingga kau melarikan diri seperti itu?' tanya teman saya.

"'Saya kira Anda berdua makelar,' katanya. 

'Kami sedang ribut dengan seorang pedagang.'

"'Jangan pura-pura begitu,' jawab Forbes. 

'Kami punya alasan untuk menuduh bahwa kau telah mengambil berkas penting dari kantor Kementerian, dan kau lalu lari pulang untuk menyembunyikannya. Kau harus ikut kami ke Scotland Yard untuk digeledah.'

"Dia menolak dan menyangkal dengan amat sengit, tapi tak berkutik. Kami bertiga lalu
meninggalkan rumah itu setelah mengamati dapurnya, terutama perapiannya, untuk mengecek kalau kalau dia telah membuang berkas itu di situ sebelum kami tiba. Tapi tak ada bekas-bekas yang mendukung hal itu. 

Ketika kami sampai di Scotland Yard, seorang polisi wanita segera diminta untuk menggeledahnya. Kami menunggu dengan rasa tak sabar sampai polisi wanita itu melaporkan hasilnya. Berkas itu tak ditemukan di tubuh wanita itu.

"Untuk pertama kalinya saya menyadari situasi yang sedang saya hadapi. Sampai saat itu saya sibuk beraksi, sehingga tak sempat berpikir. Saya begitu yakinnya bahwa berkas itu akan segera saya temukan, sehingga saya tak sempat memikirkan bagaimana kalau ternyata gagal. 

Tapi sekarang tak ada lagi yang bisa dilakukan dan saya menyadari keadaan saya. 

Mengerikan sekali! Watson tahu bagaimana
sensitif dan penggugupnya saya sejak masih sekolah. Memang begitulah sifat saya. Saya memikirkan paman saya dan teman-temannya di Kabinet, betapa saya telah memalukannya, betapa saya telah memalukan diri saya sendiri, dan betapa saya telah memalukan semua orang yang berkaitan dengan diri saya.

 Mengapa malapetaka ini menimpa saya? Tak ada maaf bagi kesalahan yang membahayakan
kepentingan diplomatik. Saya benar-benar hancur secara amat memalukan dan tak ada harapan lagi.

Saya tak tahu apa yang saya lakukan setelah itu. Mungkin saya telah membuat geger. Saya hanya ingat bahwa beberapa polisi mengerumuni saya dan berusaha menenangkan saya. Salah satu dari mereka lalu menemani saya ke Stasiun Waterloo dan mengantar sampai saya berada di dalam kereta api yang menuju Woking. 

Sebenarnya dia mau terus menemani saya sepanjang perjalanan, tapi di kereta itu kami bertemu dengan Dr. Ferrier, yang tinggal dekat rumah saya. Dokter itu lalu bersedia menemani
saya, dan sungguh beruntung saya bersamanya waktu itu, karena di stasiun berikutnya saya mulai meronta-ronta lagi, dan saya diantar ke rumah dalam keadaan mengamuk seperti orang gila.

"Bayangkan betapa kagetnya seluruh isi rumah ketika mereka terbangun dari tidur karena bunyi bel pintu, dan mendapatkan saya dalam keadaan demikian. Kasihan Annie dan ibu saya. Mereka benar-benar terpukul. 

Dr. Ferrier yang tadi sempat diberitahu oleh Pak Detektif tentang peristiwa ini, lalu berusaha menjelaskannya pada keluarga saya, tapi itu pun tak banyak menolong keadaan. Yang mereka tahu hanyalah bahwa saya dibawa pulang karena saya menderita sakit yang berat. Maka Joseph lalu disuruh pindah dari kamar yang indah ini, dan jadilah kamar perawatan saya di sini. 

Saya sudah berbaring di sini selama sembilan minggu, Mr. Holmes, lebih sering dalam keadaan tak sadar, karena radang otak yang berat. Untung ada Miss Harrison di samping saya dan dokter yang merawat saya.

Kalau tidak, mungkin saya sudah tak bisa berbicara kepada Anda saat ini. Dialah yang merawat saya sepanjang hari, sedang kalau malam ada suster yang menggantikannya menunggui saya, karena kalau saya sedang kumat saya mampu melakukan hal-hal yang berbahaya. 

Lambat laun pikiran saya menjadi agak jernih, tapi baru tiga hari terakhir inilah ingatan saya kembali normal. Kadang kadang saya berpikir sebaiknya saya tak ingat apa-apa lagi saja untuk selamanya. Begitu ingatan saya kembali
normal, saya langsung mengirim telegram kepada Mr. Forbes, karena dialah yang menangani kasus saya. 

Dia lalu datang kemari dan menjelaskan bahwa walaupun dia sudah berusaha semaksimal
mungkin, dia tak menghasilkan apa-apa. 

Satpam dan istrinya telah diperiksa dengan saksama, tapi tak ada titik terang. Kemudian kecurigaan polisi beralih ke Gorot yang masih muda itu, karena dia bekerja lembur malam itu dan namanya nama Prancis. 

Tapi saya sebetulnya baru mulai bekerja setelah dia pulang, dan meskipun dia masih keturunan kaum Huguenot, perilaku dan kesetiaannya sudah seperti orang Inggris, seperti halnya Anda dan saya. Tak ada bukti-bukti yang menjurus kepada keterlibatannya. 

Maka macetlah kasus itu sampai di situ. Saya lalu teringat Anda, Mr. Holmes, sebagai harapan terakhir saya. Kalau Anda menolak, maka kehormatan dan jabatan saya akan hilang untuk selamanya."

Orang yang sakit itu lalu kembali berbaring di bantalnya karena kelelahan setelah mengisahkan semuanya ini. Tunangannya—yang juga merangkap sebagai perawatnya—menuangkan segelas obat untuk menguatkannya. 

Holmes duduk diam dengan kepala tengadah dan mata tertutup. Orang yang tak tahu pasti akan merasa heran akan tingkahnya itu. Tapi aku tahu benar, beginilah sikapnya kalau dia
sedang menyerap fakta sambil memikirkan kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambilnya.

"Uraian Anda jelas sekali," katanya pada akhirnya, 

"sehingga saya tak perlu banyak bertanya
lagi. Hanya ada satu pertanyaan yang sangat penting. Apakah sebelum ini Anda pernah mengatakan pada orang lain bahwa Anda dipercayai untuk melakukan tugas khusus itu?"

"Tidak."

"Juga tidak kepada Miss Harrison ini, misalnya?"

"Tidak. Saya belum kembali ke Woking setelah mendapat tugas itu dan mulai mengerjakannya."

"Dan tak ada satu anggota keluarga pun yang kebetulan menemui Anda di kantor waktu itu?"

"Tidak ada."

"Apakah mereka tahu kantor Anda?"

"Oh, ya, saya pernah menunjukkannya pada mereka semua."

"Dan, tentu saja, kalau Anda memang tak mengatakan tentang berkas ini kepada siapa pun, pertanyaan-pertanyaan saya ini tak ada maknanya."

"Saya tak mengatakan apa-apa kepada siapa pun."

"Anda kenal baik dengan Satpam?"

"Tidak, yang saya tahu hanyalah bahwa dia bekas tentara."

"Dari resimen apa?"

"Oh, Coldstream Guards, kalau tak salah."

"Terima kasih. Saya yakin saya akan bisa mendapatkan rincian kasus ini dari Forbes. Pihak berwajib sangat sempurna kalau mengumpulkan fakta, walaupun fakta itu kadang-kadang tak dimanfaatkan mereka dengan baik. Betapa indahnya bunga mawar itu!"

Dia berjalan melewati sofa menuju ke jendela yang terbuka, dan memetik setangkai mawar lumut yang telah layu sambil mengamat-amatinya. Tingkah lakunya itu membuatku
terkejut, karena belum pernah dia menunjukkan perhatiannya pada benda-benda alam sebelum ini.

"Dalam agama, penting sekali bagi seseorang untuk mengambil kesimpulan," katanya sambil menempelkan punggungnya di pinggiran jendela.

"Mengambil kesimpulannya bisa secara ilmiah. Menurut saya, kebaikan Sang Pencipta bisa kita lihat dari bunga-bunga.

Hal-hal lainnya seperti kekuatan keinginan, dan makanan kita, adalah kebutuhan utama kita. Tapi bunga mawar ini diberikan secara ekstra kepada kita. Bau dan warnanya menghiasi hidup kita. Maksudnya, tidak merupakan keharusan bagi kita untuk memilikinya. 

Karena kebaikan hati-Nya lah maka kita bisa menikmati hal-hal yang ekstra. Itulah sebabnya kita juga senantiasa memiliki harapan bagaikan bunga-bunga yang bermekaran di taman."

Percy Phelps dan perawatnya memandang Holmes dengan penuh keheranan sementara dia mendemonstrasikan filsafatnya itu, dan mereka tampaknya kecewa atas tanggapannya yang seperti itu.

Dia sedang melamun dengan bunga mawar lumut di genggamannya. Kami berdiam diri selama beberapa menit lalu gadis itu mengungkapkan pikirannya.

"Mampukah Anda memecahkan misteri ini, Mr. Holmes?" tanyanya dengan ketus. 

"Oh, misteri itu!" 

jawabnya seakan telah kembali dari lamunannya yang melayang tinggi entah ke mana. 

"Yah, saya mengakui bahwa kasus ini sangat sulit dan rumit tapi saya berjanji akan
menanganinya dan akan segera memberi kabar kalau ada kemajuan."

"Sudahkah Anda mendapatkan petunjuk?"

"Dari Anda saya mendapat tujuh macam petunjuk, tapi tentu saja saya harus mengujinya satu per satu sebelum saya mengemukakan kepentingannya."

"Adakah seseorang yang Anda curigai?"

"Saya curiga jangan jangan saya..."

"Apa?"

"Terlalu cepat mengambil kesimpulan."

"Kalau begitu, sebaiknya Anda pulang dulu ke London untuk menguji kesimpulan-kesimpulan
Anda."

"Saran Anda bagus sekali, Miss Harrison," kata Holmes sambil berdiri. 

"Kurasa, Watson, sebaiknya demikian. Jangan menuruti kata hati terhadap harapan harapan yang kosong belaka, Mr. Phelps. Kasus ini benar-benar rumit"

"Saya akan sangat penasaran untuk dapat bertemu dengan Anda lagi," teriak sang diplomat.

"Nah, besok saya akan kembali dengan kereta api pagi seperti tadi, walaupun laporan saya
mungkin tak akan menyenangkan hati Anda."

"Tuhan memberkati Anda untuk janji Anda mau datang kemari besok," teriak klien kami.

"Saya merasa agak segar karena ada orang yang bersedia mengerjakan sesuatu untuk masalah saya ini. Omong-omong, saya tadi menerima surat dari Lord Holdhurst"

"Ha! Apa katanya?"

"Dia kecewa, tapi dia tak sampai mengumpat-umpat diri saya. Pasti karena dia mempertimbangkan keadaan saya yang sedang sakit berat ini. Dia mengulangi betapa gawatnya masalah saya ini, dan menambahkan bahwa dia tak akan mengambil langkah apa-apa sehubungan dengan masa depan saya—yang tentu maksudnya ialah pemecatan saya—sampai kesehatan saya pulih dan bisa memperbaiki nasib saya yang malang ini."

"Yah, bagaimanapun itu cukup beralasan dan bijaksana," kata Holmes. 

"Yuk, Watson, ada tugas yang harus kita kerjakan di kota."

Mr. Joseph Harrison mengantar kami sampai ke stasiun kereta api, dan tak lama kemudian kami sudah berada dalam kereta api yang menuju Portsmouth. Holmes tenggelam dalam pemikiran yang dalam, dan hampir-hampir tak mengucapkan sepatah kata pun sampai kami melewati Persimpangan Clapham.

"Menyenangkan juga naik kereta api cepat seperti ini menuju London. Dari ketinggian sini kita bisa melihat rumah-rumah di bawah sana."

Kupikir dia bergurau, karena pemandangannya sebenarnya cukup kotor, tapi dia lalu menjelaskan maksudnya.

"Coba lihat deretan bangunan besar di atas atap sana itu, seperti pulau-pulau di tengah
laut yang berwarna timah."

"Gedung-gedung sekolah itu?"

"Mercu-mercu suar, temanku! Cahaya masa depan! Pesawat-pesawat yang semakin lama semakin canggih itu, akan membuat Inggris menjadi negara yang lebih baik dan lebih bijaksana. Kurasa si Phelps itu tak suka minum-minum, ya?"

"Menurutku demikian."

"Aku juga. Tapi kita harus mempertimbangkan setiap kemungkinan. Pria yang malang itu
sedang tenggelam di laut yang amat dalam. Akan mampukah kita menariknya ke pantai? Bagaimana pendapatmu tentang Miss Harrison?" 

"Wataknya keras."

"Ya, tapi dia sebenarnya gadis yang baik, atau aku salah menilainya. Dia dan saudara laki-
lakinya itu adalah anak seorang pandai besi di daerah Northumberland. Phelps bertunangan dengannya ketika berkunjung ke sana musim dingin yang lalu, dan gadis itu lalu dibawanya pulang untuk diperkenalkan kepada keluarganya. 

Gadis itu diizinkan pergi dengan ditemani oleh kakak laki-lakinya itu. Lalu terjadilah musibah itu, sehingga dia memutuskan untuk tinggal dan merawat kekasihnya itu.

Sedangkan Joseph sang kakak pun tak keberatan untuk tetap tinggal di situ. Aku sudah melakukan beberapa penyelidikan. Tapi seharian ini kita akan melanjutkannya."

"Praktekku..."

Baru saja aku mulai berbicara, Holmes memotong dengan sengit, 

"Oh, kalau praktekmu memang lebih menarik dari kasus ini..."

"Aku baru mau bilang bahwa tak ada masalah dengan praktekku selama satu dua hari ini,
karena memang lagi sepi."

"Bagus," katanya, kembali ke nada bicaranya yang penuh humor. 

"Kalau begitu, kita akan menangani masalah ini bersama. Kurasa kita sebaiknya mulai dengan menemui Forbes. Dia mungkin bisa menceritakan rincian-rincian yang kita butuhkan, sehingga kita bisa memutuskan dari mana kita akan menangani kasus ini."

"Tadi kau bilang sudah punya petunjuk." 

"Yah, memang ada beberapa, tapi kita perlu menguji semuanya dengan cara mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Kejahatan yang paling sulit untuk dilacak ialah kejahatan yang tak ada maksudnya. Nah, kasus ini tidak demikian. Siapa yang bisa mendapat keuntungan dari musibah ini?
Mungkin Duta Besar Prancis atau orang-orang Rusia. Bisa juga orang yang menjual berkas itu kepada salah satunya, atau Lord Holdhurst"

"Lord Holdhurst!"

"Yah, bisa saja seorang negarawan merasa perlu untuk memusnahkan berkas semacam itu."

"Tidak mungkin seorang negarawan yang terhormat seperti Lord Holdhurst."

"Aku kan bilang hanya salah satu kemungkinan saja yang tidak boleh diremehkan. Kita akan
menemuinya hari ini, dan nanti kita lihat apakah dia bisa menunjukkan sesuatu yang berharga bagi kita. Sementara itu, aku sudah melakukan sebuah penyelidikan baru."

"Sudah?"

"Ya, aku mengirim telegram dari Stasiun Woking ke semua koran sore di London. Iklan ini akan muncul nanti sore."

Dia menyerahkan secarik kertas yang dirobeknya dari buku notes. Kata-kata ini tertulis dengan pensil di kertas itu:

Hadiah sebesar 10 pound bagi siapa saja yang bisa menyebutkan nomor taksi yang berhenti
dekat atau di depan pintu kantor Kementerian Luar Negeri di Charles Street, pada sekitar jam
sepuluh kurang seperempat malam, tanggal 23 Mei. Kirim ke Baker Street 221B.

"Apakah kau yakin pencurinya datang naik taksi?"

Kalaupun tidak, ya tak apa-apa. Toh tak ada yang dirugikan. Tapi kalau Mr. Phelps berkata
benar tentang tidak adanya tempat persembunyian baik di kamar kerjanya maupun di koridor, maka pencuri itu pasti masuk dari luar. Kalau dia masuk dari luar dalam cuaca hujan begitu tanpa meninggalkan bekas di lantai sebagaimana telah diamati beberapa menit kemudian, maka kemungkinannya ialah bahwa dia datang naik taksi. Ya, kurasa kesimpulannya di sini adalah bahwa dia
datang naik taksi."

"Masuk akal juga."

"Itulah salah satu petunjuk yang tadi kusebutkan, yang bisa membawa sesuatu yang berarti bagi kita. Lalu, tentang bel itu—yang rasanya agak aneh. Untuk apa bel itu dibunyikan? 

Apakah pencurinya begitu nekatnya sampai berbuat begitu? Ataukah ada orang lain di situ yang membunyikan bel untuk mencegah terjadinya pencurian itu? Atau mungkinkah bel itu dibunyikan secara kebetulan saja?
Ataukah...?" 

Dia kembali tepekur dalam pemikiran yang dalam. Menurut pendapatku, yang sudah
mengenal betul kebiasaan-kebiasaannya, dia sepertinya tiba-tiba menemukan sebuah kemungkinan baru. 

Kami tiba di London jam tiga lewat dua puluh
menit. Sesudah makan siang yang tergesa-gesa di kantin stasiun, kami lalu menuju ke Scotland Yard. Holmes telah mengirim telegram kepada Forbes, dan ketika kami
sampai di sana dia sudah menunggu kami. 

Forbes tubuhnya kecil, tapi orangnya lihai. Wajahnya kurang ramah dan sikapnya agak kaku terhadap kami, terutama ketika dia tahu untuk apa kami menemuinya.

"Saya sudah banyak mendengar tentang metode-metode Anda sebelumnya, Mr. Holmes," katanya mengejek. 

"Anda sekarang mau mendapatkan semua
informasi yang dimiliki polisi, padahal Anda akan berusaha menyelesaikan kasus ini dengan cara Anda sendiri. Maka kalau nanti Anda berhasil, Anda lalu akan melecehkan upaya polisi selama ini, begitukah?"

"Sebaliknya," kata Holmes, 

"dari lima puluh tiga kasus yang berhasil saya selesaikan, nama saya hanya muncul empat kali. Sedangkan polisi mendapat penghargaan sebanyak empat puluh sembilan kali. Saya tak menyalahkan Anda kalau tak tahu hal ini, karena Anda masih muda dan belum berpengalaman tapi kalau Anda ingin karier Anda maju, Anda pasti akan bersedia bekerja sama dengan saya, bukannya malah memusuhi saya."

"Saya akan senang sekali bila Anda bersedia memberikan beberapa saran," kata detektif itu.

Sikapnya langsung berubah. 

"Sejauh ini saya belum menemukan titik terang dari kasus ini."

"Apa saja yang telah Anda lakukan?"

"Mengawasi Tangey, si satpam itu. Tapi ternyata dia berhenti dari ketentaraan dengan baik-baik, dan kami tak menemukan hal-hal yang mencurigakan darinya. Istrinya memang bukan orang baik-baik.

Saya rasa dia tahu lebih banyak dari apa yang telah diakuinya pada kami."

"Apakah istrinya kauawasi juga?"

"Kami menugaskan seorang polisi wanita untuk mengawasi dia. Mrs. Tangey suka minum-minum, dan dua kali polisi wanita itu sempat menanyainya waktu dia dalam keadaan sadar, tapi tak menghasilkan apa-apa."

"Saya dengar mereka ada utang kepada beberapa makelar di rumah mereka?"

"Ya, tapi sekarang sudah dilunasi."

"Dari mana mereka mendapatkan uang?"

"Sudah dilacak, kok. Ternyata uang pensiun Pak Satpam tepat keluar. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka mendapat uang dengan mendadak."

"Mengapa dia yang datang waktu Mr. Phelps membunyikan bel untuk minta kopi?"

"Menurutnya, saat itu suaminya lelah sekali dan dia ingin membantunya."

"Yah, tentunya itu cocok dengan kenyataan ditemukannya Pak Satpam sedang tertidur di
kursinya beberapa saat kemudian. Kalau begitu mungkin bukan mereka pelakunya, kebetulan saja tingkah laku wanita itu yang membuat kita curiga. 

Apakah Anda menanyakan mengapa dia meninggalkan gedung itu dengan tergesa-gesa malam itu sehingga menarik perhatian polisi jaga?"

"Katanya dia pulang terlambat dari biasanya dan ingin cepat sampai ke rumah."

"Apakah Anda katakan padanya bahwa Anda dan Mr. Phelps yang berangkat dua puluh menit kemudian, kok, bisa tiba di rumahnya lebih dulu?"

"Menurut dia, dia kan naik bus, sementara kami naik taksi."

"Lalu apakah dia menjelaskan mengapa dia langsung lari ke dapur ketika dia sampai ke
rumahnya?"

"Karena uang yang akan dipakai untuk membayar makelar-makelar itu disimpan di situ."

"Berarti dia punya alasan untuk semua tingkahnya yang kita curigai. Apakah Anda menanyakan kalau-kalau dia bertemu dengan seseorang yang berkeliaran di sekitar Charles Street?"

"Dia tak melihat siapa pun kecuali polisi jaga itu."

"Wah nampaknya Anda sudah memeriksanya dengan cermat. Apa lagi yang telah Anda
lakukan?"

"Pegawai yang bernama Gorot itu juga diawasi selama sembilan minggu ini, tapi tanpa hasil.
Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan."

"Ada lagi lainnya?"

"Yah, cuma itu... habis, tak ada bukti-bukti yang mendukung."

"Apa pendapat Anda tentang bel yang dibunyikan itu?"

"Yah, saya akui itu pun memusingkan saya. Bodoh sekali, siapa pun pencurinya, kalau memang dia yang membunyikan bel itu."

"Ya, aneh sekali. Terima kasih banyak atas kesediaan Anda mengatakan semua ini. Kalau saya berhasil menyimpulkan siapa pencurinya, saya akan memberitahu Anda. Mari, Watson!"

"Mau ke mana kita sekarang?" tanyaku setelah meninggalkan kantor detektif itu.

"Sekarang kita akan mewawancarai Lord Holdhurst, menteri luar negeri yang mungkin kelak akan menjadi perdana menteri Inggris."

Kami beruntung karena Lord Holdhurst masih berada di kantornya di Downing Street. Setelah Holmes menunjukkan kartu pengenalnya, kami
langsung diantar ke kamar kerjanya di lantai
atas. Negarawan itu menerima kami dengan
keramahannya yang khas yang telah terkenal di mana-mana itu. 

Kami berdua dipersilakannya duduk di kursi empuk yang mewah di samping perapian. Dia sendiri berdiri di antara kami. Dengan tubuh yang ramping dan tinggi, wajah yang lonjong dan serius serta rambut ikal yang sebagian pinggirnya berwarna abu-abu, dia benar-benar tampil sebagai seorang bangsawan sejati.

"Saya mengenal nama Anda, Mr. Holmes," katanya sambil tersenyum. 

"Dan tentu saja saya tak perlu berpura-pura tak tahu maksud kedatangan Anda. Hanya ada satu peristiwa di kantor ini yang sampai menarik perhatian Anda. Bolehkah saya tahu, atas nama siapa Anda melakukan semua ini?"

"Atas nama Mr. Percy Phelps," jawab Holmes.

"Ah, keponakan saya yang malang itu! Anda tentu mengerti bahwa hubungan kekeluargaan
kami tidak memungkinkan saya untuk melindunginya dengan cara apa pun. Saya khawatir peristiwa itu akan sangat merugikan kariernya."

"Tapi, bagaimana kalau dokumen itu bisa ditemukan?"

"Ah, kalau begitu pasti akan lain jadinya."

"Saya mohon Anda tak keberatan untuk menjawab satu-dua pertanyaan saya, Lord Holdhurst?"

"Dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang saya ketahui"

"Di ruangan ini kah Anda memberitahukan tentang tugas menyalin dokumen itu?"

"Benar."

"Jadi tak mungkin ada orang lain yang secara tak sengaja bisa ikut mendengar pembicaraan
itu?"

 "Tak mungkin."

"Apakah Anda pernah mengatakan pada orang lain bahwa Anda hendak menyuruh seseorang
untuk menyalin surat perjanjian itu?"

"Tak pernah."

"Anda yakin?"

"Yakin sekali." 

"Nah, karena Anda tak pernah mengatakannya pada orang lain, begitu juga Mr. Phelps, dan tak ada orang lain yang tahu tentang hal itu, maka kehadiran si pencuri di kamar kerja Mr. Phelps pastilah secara kebetulan. Lalu dia melihat ada kesempatan, dan diapun lalu mengambil berkas itu."

Negarawan itu tersenyum. 

"Nampaknya saya tak punya wewenang untuk mengatakan demikian," katanya.

Holmes menimbang-nimbang sejenak. 

"Ada satu hal penting lagi yang ingin saya bicarakan dengan Anda," katanya. 

"Saya dengar Anda mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya efek-efek yang gawat kalau perjanjian itu sampai diketahui oleh beberapa pihak, betulkah?"

Wajah negarawan itu menjadi mendung. 

"Betul sekali."

"Apakah sudah terjadi seperti yang Anda khawatirkan?" 

"Belum."

"Kalau misalkan saja perjanjian itu sudah sampai ke Kementerian Luar Negeri, Prancis atau Rusia, Anda pasti akan tahu, bukan?"

"Seharusnya demikian," kata Lord Holdhurst dengan wajah masam.

"Karena sudah berlalu hampir selama sepuluh minggu, dan tak terlihat gejala-gejala berkenaan dengan itu, maka bisakah kita menyimpulkan bahwa berkas itu belum sampai ke tangan mereka?"

Lord Holdhurst mengangkat bahunya.

"Kita kan tak mungkin membayangkan, Mr. Holmes, bahwa pencurinya mengambil berkas itu hanya untuk dijadikan hiasan dinding di rumah nya?"

"Mungkin dia sedang minta bayaran yang lebih tinggi."

"Kalau dia terus menunggu, bahkan sebentar lagi saja, dia malah tak akan mendapat apa-apa. Perjanjian itu tak akan menjadi rahasia lagi dalam beberapa bulan berikutnya ini."

"Itu penting sekali," kata Holmes. 

"Tentu saja ada kemungkinan bahwa pencurinya tiba-tiba sakit keras...."

"Kena radang otak, misalnya?" tanya bangsawan itu sambil melotot.

"Saya tak mengatakan demikian," kata Holmes dengan kalem. 

"Nah, Lord Holdhurst, kami sudah mengganggu waktu Anda yang sangat berharga, selamat siang."

"Semoga penyelidikan Anda sukses dan Anda berhasil menemukan pencuri itu," 

jawab negarawan itu sambil membungkukkan badan ketika mengantar kami sampai ke pintu.

"Dia orang baik," kata Holmes ketika kami sudah berada di luar, di Jalan Whitehall. 

"Tapi dia harus bersusah payah mempertahankan kedudukannya. Dia tak terlalu kaya, dan banyak rekening yang harus dibayarnya Apakah kauperhatikan bahwa sol sepatunya baru saja ditambal? 

Nah, Watson, aku tak akan mengganggu pekerjaan resmimu lagi. Tak ada yang perlu kulakukan lagi hari ini, kecuali kalau ada yang membalas iklan tentang taksi yang kupasang itu. Tapi kuharap kau bisa menemaniku pergi ke Woking besok, dengan kereta api yang sama seperti yang kita naiki hari ini."

Keesokan harinya aku menemuinya seperti yang direncanakannya, dan kami lalu berangkat ke Woking bersama-sama. Dia mengatakan bahwa tak ada seorang pun yang membalas iklannya, dan belum terlihat titik terang bagi kasus ini. 

Temanku ini benar-benar memiliki ketegaran wajah seorang Indian. Aku tak bisa membaca dari air mukanya apakah dia merasa puas atau tidak dengan keadaan kasus yang sedang ditanganinya ini. 

Aku masih ingat, sepanjang perjalanan dia malah berbicara tentang sistem pengukuran Bertillon sambil mengemukakan kekagumannya yang amat sangat pada sarjana
Prancis yang menemukan sistem itu.

Kami menemukan klien kami masih dalam perawatan tunangannya yang setia, tapi sekarang keadaannya sudah lumayan. Dia bangun dari sofa tanpa kesulitan dan menyambut kami ketika kami masuk ke kamamya.

"Ada berita apa?" tanyanya bersemangat.

"Seperti saya sudah duga kemarin, laporan
saya tak menggembirakan," kata Holmes.

"Saya sudah menemui Forbes, juga paman
Anda, serta melakukan beberapa penyelidikan lainnya yang mungkin bisa membawa titik terang."

"Tapi Anda belum menyerah, kan?"

"Tak akan."

"Syukurlah kalau begitu!" teriak Miss.
Harrison

"Kalau kita tetap bertahan dan bersabar, kebenaran pasti akan dinyatakan bagi kita."

"Kami punya lebih banyak berita untuk kami laporkan pada Anda," kata Phelps sambil kembali duduk.

"Saya harap Anda mendapatkan sesuatu yang tak kami dapatkan."

"Ya, kami mengalami sesuatu tadi malam yang pasti besar artinya." 

Wajahnya menjadi serius ketika dia mengatakan hal itu, dan pandangannya dipenuhi rasa takut. 

"Tahukah Anda," katanya,

"bahwa saya baru menyadari kalau saya ini sedang diincar oleh sebuah komplotan yang tidak hanya menginginkan kehancuran karier saya, tapi juga nyawa saya?"

"Ah!" seru Holmes.

"Aneh, bukan? Sebab saya tak merasa punya seorang musuh pun di dunia ini. Tapi kejadian
semalam membuat saya menyimpulkan demikian."

"Wah, saya ingin segera mendengar apa yang terjadi pada Anda semalam."

"Anda perlu tahu bahwa tadi malam untuk pertama kalinya sejak saya sakit, saya tidur tanpa ditunggui oleh perawat. Keadaan saya sudah banyak kemajuan sehingga saya pikir saya tak memerlukannya lagi. 

Tapi saya menyalakan lampu kecil. Nah, kira-kira jam dua fajar ketika saya sedang tidur-tidur ayam, tiba-tiba saya terbangun oleh suara samar-samar seperti suara tikus yang sedang menggerogoti sebilah papan. Saya tetap berbaring sambil mendengarkan selama beberapa saat sambil membayangkan bahwa suara itu memang suara tikus.

Tapi kemudian suara itu menjadi semakin keras, dan tiba-tiba ada suara semacam logam yang beradu di jendela. Saya terduduk karena keheranan. Saya kini menjadi yakin suara apa itu. Suara sebelumnya pastilah berasal dari seseorang yang sedang
berusaha membuka palang jendela melalui celah yang ada, lalu suara berikutnya berasal dari kaitan jendela yang ditekan oleh seseorang.

"Lalu tak terdengar apa-apa selama kira-kira sepuluh menit, seolah-olah orang yang mau masuk itu ingin memastikan dulu kalau-kalau suaranya ketika membuka jendela itu membangunkan saya. Lalu saya mendengar jendela itu dibuka secara perlahan-lahan. Saya tak tahan lagi, karena saraf saya tak sebaik dulu. 

Saya melompat dari tempat tidur, dan membuka daun jendela dengan keras. Di balik jendela itu ada seseorang yang sedang membungkuk-bungkuk. Saya tak sempat melihat wajahnya karena dalam sekejap dia langsung berlari menghilang dalam kegelapan. 

Dia memakai semacam jubah yang menutupi tubuhnya mulai dari bagian bawah wajahnya. Tapi saya yakin dia membawa semacam pisau yang panjang di tangannya. Saya melihat kilat senjata itu ketika dia membalikkan badan dan
berlari menghilang."

"Menarik sekali," kata Holmes. 

"Lalu, apa yang Anda lakukan?"

"Kalau saja badan saya kuat, saya pasti akan mengejarnya. Saya lalu membunyikan bel untuk membangunkan semua penghuni rumah. Tapi nampaknya tak ada yang mendengar bel itu karena letaknya ada di dapur, sedangkan para pelayan tidur di lantai atas. Saya lalu berteriak-teriak sehingga Joseph lari mendatangi saya dari kamarnya di lantai atas. 

Dia lalu membangunkan penghuni rumah
lainnya. Joseph dan tukang kuda menemukan bekas-bekas kaki di taman bunga tepat di bawah jendela kamar saya, tapi karena musim kering, mereka tak berhasil menemukan jejak orang itu di rerumputan.

Namun di pagar kayu yang membelok ke jalan ditemukan tanda-tanda sepertinya seseorang telah mematahkan sebagian pagar itu ketika tadi melompatinya. Saya belum melaporkan hal ini kepada polisi setempat, karena saya pikir sebaiknya saya minta pendapat Anda terlebih dahulu." 

Kisah klien kami itu nampaknya sangat mempengaruhi Sherlock Holmes. Dia bangkit dari duduknya dan mondar-mandir di kamar itu dengan penuh semangat.

"Kemalangan kok datangnya beruntun, ya," 

kata Phelps sambil tersenyum, walaupun kelihatan sekali bahwa petualangannya itu cukup mengguncangkan hatinya.

"Yang sudah berlalu sudahlah," kata Holmes. 

"Apakah Anda bersedia berjalan mengitari rumah bersama saya?"

"Oh, ya. Saya pun ingin sekali menikmati sinar matahari pagi. Sebaiknya Joseph juga ikut."

"Saya juga mau ikut," kata Miss Harrison.

"Maaf, tak usahlah," kata Holmes sambil menggelengkan kepala. 

"Saya pikir sebaiknya Anda tetap tinggal duduk saja di tempat Anda sekarang."

Wanita muda itu kembali ke kursinya dengan perasaan agak tersinggung. Tapi kakak laki-
lakinya tetap mengikuti kami, sehingga kami berempat lalu meninggalkan kamar itu. Kami memutar melewati halaman rumput menuju jendela kamar diplomat itu dari arah luar.

Seperti yang tadi dikatakannya, di situ kami melihat jejak-jejak di taman bunga. Sayangnya, jejak-jejak itu sangat kabur dan tak jelas. Holmes membungkuk untuk mengamati sejenak, dan ketika dia berdiri kembali, dia lalu
mengangkat bahunya.

"Wah, jejak ini tak menunjukkan apa-apa," katanya. 

"Mari kita mengitari rumah ini untuk melihat kenapa kamar itu yang dipilih oleh orang yang mau masuk semalam. Bukankah ruang keluarga dan ruang makan itu lebih mudah dimasukinya karena jendelanya lebih besar-besar?"

"Tapi lebih mudah terlihat dari jalanan," saran Mr. Joseph Harrison.

"Ah, ya, tentu saja. Ada pintu di sini yang mungkin bisa dicobanya juga. Untuk apa pintu ini?"

"Ini pintu masuk dari samping, khusus untuk para pedagang yang datang kemari. Tentu saja,
pintu itu dikunci kalau malam hari."

"Pernahkah terjadi seperti yang Anda alami tadi malam sebelumnya?"

"Tidak pernah," jawab klien kami.

"Apakah ada banyak barang berharga atau barang-barang yang menarik perhatian pencuri di dalam rumah?"

"Tak ada barang berharga di dalam sana."

Holmes berjalan mengelilingi rumah. Kedua tangannya terselip di kedua saku celananya.
Nampaknya sikapnya santai saja ketika melakukan tugas penyelidikannya ini. Dan tidak biasanya dia bertingkah laku demikian.

"Omong-omong," katanya kepada Joseph Harrison, 

"Anda mengatakan bahwa pencuri itu telah
mematahkan sebagian pagar kayu. Mari kita lihat."

Pria muda itu mengantar kami ke tempat yang dimaksud. Salah satu ujung pagar kayu memang terlihat patah dan patahannya masih menggantung di situ. Holmes mengangkat patahan kayu itu dan mengamatinya dengan teliti.

"Menurut Anda, apakah memang baru tadi malam pagar ini patah? Nampaknya patahnya sudah lama, bukan?"

"Yah, mungkin saja."

"Tak ada jejak orang telah melompat ke sebelah luar. Ya, tak ada. Kita tak mendapatkan apa-apa di sini. Mari kita kembali ke kamar saja untuk membicarakan hal ini lebih lanjut."
 
Percy Phelps berjalan amat perlahan sambil
menopangkan lengannya pada calon iparnya. Holmes berjalan dengan cepat melewati rerumputan sehingga kami tiba di jendela kamar klien kami lebih cepat dari yang lain.

"Miss Harrison," kata Holmes dengan suara
yang bersungguh-sungguh, 

"Anda harus tetap di situ sepanjang hari. Jangan ke mana-mana. Ini penting sekali."

"Baiklah, kalau begitu kemauan Anda, Mr.
Holmes," kata gadis itu dengan heran.

"Nanti malam, kalau sudah waktunya bagi Anda untuk pergi tidur, kuncilah pintu kamar ini dari luar dan simpan kuncinya baik-baik. Berjanjilah, Anda akan melakukan hal ini."

"Tapi bagaimana dengan Percy?"

"Dia akan pergi ke London bersama kami."

"Tanpa saya?"

"Ini demi keselamatan jiwanya. Anda pasti mau menolongnya, kan? Cepat! Berjanjilah!"

Dia mengangguk tanda bersedia tepat pada saat Percy dan Joseph tiba di situ.

"Untuk apa kau duduk termangu-mangu di situ, Annie?" teriak saudara laki-lakinya. 

"Keluarlah untuk menikmati sinar matahari!"

"Tidak, terima kasih, Joseph. Kepalaku agak pusing. Di dalam sini sejuk dan tenang."

"Apa yang harus kami lakukan sekarang, Mr. Holmes?" tanya klien kami.

"Yah, penyelidikan terhadap kejadian semalam harus dikaitkan dengan kasus Anda secara
keseluruhan. Sebaiknya Anda pergi ke London bersama kami."

"Sekarang juga?"

"Yah, secepatnya. Bagaimana kalau satu jam lagi?"

"Kalau memang diperlukan, baiklah. Saya merasa badan saya sudah cukup kuat untuk itu."

"Memang perlu sekali."

"Maksudmu, mungkin saya harus bermalam di sana?"

"Saya baru saja mau mengatakannya."

"Maksudmu, kalau nanti malam pencuri itu datang lagi, dia takkan menemukan saya, begitu, kan? Kami percayakan diri kami kepada Anda, Mr. Holmes, dan kami akan turuti apa kemauan Anda. Apakah Joseph perlu diajak agar dia bisa menjaga saya?"

"Oh, tak usah. Anda tahu bahwa teman saya Watson adalah seorang dokter, dan dia pasti
bersedia merawat Anda. Kami akan makan siang di sini, kalau Anda tak keberatan, lalu kita bertiga akan berangkat ke kota bersama."

Begitulah, semua sebagaimana diatur olehnya. Miss Harrison tetap berada di kamar
tunangannya sesuai dengan permintaan Holmes. Aku sendiri tak tahu apa maksud Holmes dengan semua rencananya ini. Aku hanya bisa menduga bahwa dia sedang berusaha menjauhkan gadis ini dari Phelps. 

Phelps sendiri telah merasa cukup sehat dan bersemangat untuk melakukan rencana Holmes, sehingga dia pun makan siang bersama kami di ruang makan. 

Ternyata Holmes masih punya kejutan
lain lagi. Ketika kami sudah sampai di stasiun, dengan tenang dia mengatakan bahwa dia akan tetap tinggal di Woking.

"Masih ada satu-dua hal yang ingin saya selidiki sebelum saya kembali ke London," katanya.

"Dengan kepergian Anda, Mr. Phelps, akan lebih mudah bagi saya untuk melakukannya. Watson, kalau nanti sampai di London, tolong langsung antarkan tamu kita ini ke Baker Street, dan temanilah dia di sana sampai aku kembali. Untunglah kalian berdua bekas teman sekolah, sehingga kalian bisa banyak ngobrol. 

Biarlah Mr. Phelps tidur di kamar tamu, dan aku akan kembali besok supaya bisa makan pagi bersama kalian. Pukul delapan aku pasti sudah tiba di Waterloo."

"Lalu bagaimana dengan rencana penyelidikan kita di London?" tanya Phelps dengan kesal.

"Akan kita lakukan besok. Saya rasa saat ini
saya lebih diperlukan di sini."

"Tolong katakan pada keluarga saya di
Briarbrae bahwa saya mungkin akan kembali
besok malam," teriak Phelps ketika kami mulai
menaiki kereta.

"Saya mungkin tak akan kembali ke Briarbrae," 

jawab Holmes sambil melambaikan tangannya dengan gembira begitu kereta kami meninggalkan stasiun.

Kami membicarakan tingkah Holmes
selama perjalanan kami itu, tapi kami tak berhasil mendapatkan alasan yang memuaskan atas perubahan rencananya yang tiba-tiba itu.

"Mungkin dia ingin menyelidiki tentang pencurian semalam, kalau betul itu pencurian.
Menurutku, apa yang terjadi semalam bukan pencurian biasa."

"Lalu, menurutmu apakah itu?" 

"Aku yakin aku sedang diincar oleh suatu komplotan berlatar belakang politis. Dan sejauh pengetahuanku, nyawakulah yang mereka inginkan. Rasanya terlalu mengada-ada, ya! 

Tapi coba pertimbangkan kejadian semalam itu! Untuk apa seorang pencuri mendobrak jendela kamar tidur yang tak mungkin berisi barang-barang berharga? Dan untuk apa dia membawa pisau panjang itu?"

"Kau yakin yang dibawanya itu bukan hanya linggis kecil seperti yang biasanya dibawa oleh
pencuri untuk mendongkel jendela atau pintu?"

"Jelas bukan. Yang dibawanya itu pedang. Aku melihat sekejap kilatan pisaunya yang tajam."

"Lalu untuk apa gerangan dia ingin membunuhmu dengan cara sekejam itu?" 

"Ah! Itulah soalnya."

"Yah, kalau Holmes berpendapat sama, dia pasti akan berbuat sesuatu untuk itu, bukankah
demikian? Misalkan saja pendapatmu benar adanya, dan dia berhasil menemukan orang yang telah, mengancam nyawamu tadi malam, pasti dia pun akan mencium siapa pencuri berkas perjanjian itu.

Rasanya orang yang mencuri dokumen itu pasti ada hubungannya dengan orang yang mengancam jiwamu semalam."

"Tapi Mr. Holmes tadi bilang bahwa dia tak ada rencana untuk pergi ke Briarbrae."

"Aku cukup mengenal dia," kataku, 

"dan apa pun yang diputuskan untuk dilakukannya selalu kuat alasannya," 

Dengan kata-kataku ini percakapan kami lalu beralih ke topik-topik lain. Namun percakapan kami sungguh menjengkelkanku. Phelps belum pulih benar dari sakitnya, dan kemalangan yang telah menimpanya membuatnya gampang bersungut-sungut dan gelisah.

Usahaku untuk menarik perhatiannya dengan membicarakan tentang Afganistan, India, dan masalah masalah sosial lainnya, sia-sia belaka. Dia tak bisa melupakan barang sekejap pun nasib malang yang sedang menimpanya. 

Dia akan selalu kembali mempermasalahkan surat perjanjian yang hilang itu sambil bertanya-tanya menduga-duga dan berspekulasi tentang apa yang sedang dilakukan Holmes, langkah-langkah apa yang akan diambil oleh Lord Holdhurst, dan berita apa yang akan dibawa Holmes besok pagi. Semakin malam semakin menjadi jadi kegelisahannya.

"Apakah kau yakin Holmes mampu menyelesaikan kasusku ini?" tanyanya.

"Dia sudah sering dipercaya untuk menangani kasus, dan berhasil dengan gemilang,"

"Tapi sebelum ini, kasus-kasus yang ditanganinya tak ada yang seberat kasusku, kan?'

"Siapa bilang? Aku tahu dia juga telah berkali-kali berhasil menyelesaikan masalah-masalah
yang lebih rumit dari masalahmu."

"Tapi tak menyangkut kepentingan seseorang yang sedemikian gawat, kan?"

"Wah, kalau itu aku tak tahu. Yang kutahu ialah bahwa dia pun pernah menangani kasus-kasus
yang sangat gawat dari tiga kerajaan di Eropa "

"Tapi kau sendiri tahu, Watson, bahwa dia itu orang yang sangat tak terduga. Aku tak mengerti apa maunya. Menurutmu, apakah dia optimis akan berhasil menyelesaikan masalahku?"

"Dia belum mengatakan apa-apa padaku." 

"Bukankah itu pertanda buruk?"

"Justru sebaliknya. Dia biasanya akan mengatakannya padaku kalau dia kehilangan jejak. Tapi dia akan tutup mulut kalau dia mencium suatu jejak tapi belum yakin apakah jejak itu benar. 

Nah, sobat, tak ada gunanya kita merasa gelisah 'seperti ini. Bagaimana kalau kau tidur saja sekarang supaya tubuhmu menjadi segar kembali besok untuk menghadapi apa pun yang harus kau hadapi."

Akhirnya aku berhasil membujuknya untuk menuruti saranku, walaupun aku tahu bahwa dia pasti tak akan bisa tidur nyenyak karena pikirannya yang selalu penasaran begitu. ..

Sialnya, keadaannya itu menular juga padaku, karena aku pun jadi tak bisa memejamkan mata sampai tengah malam karena memikirkan kasusnya yang unik ini sambil mencoba-coba ratusan teori yang masing-masing lebih konyol dari yang sebelumnya. 

Untuk apa Holmes tinggal di Woking? Untuk apa dia minta Miss Harrison tinggal di kamar klien kami itu sepanjang hari? Mengapa dia mengatur sedemikian rupa sehingga penghuni Briarbrae tak menyangka bahwa dia sebenarnya tak kembali ke London saat itu?


Kuputar otakku dalam upaya untuk mendapatkan penjelasan dari pertanyaan pertanyaan itu, sampai akhirnya aku jatuh tertidur dengan sendirinya.

Aku terbangun pada jam tujuh pagi, dan langsung menengok ke kamar Phelps. Dia dalam keadaan kusut masai. Pasti tak bisa tidur semalaman. Pertanyaan yang pertama-tama diajukannya ialah apakah Holmes sudah kembali.

"Dia akan tiba seperti yang dijanjikannya," kataku, 

"tak lebih tak kurang sedetik pun."

Dan benarlah apa yang kukatakan. Beberapa saat setelah jam delapan, sebuah kereta berhenti di depan dan teman kami melompat turun. Sambil memandangnya dari jendela, kami melihat bahwa tangan kirinya dibalut serta wajahnya cemberut dan pucat. Dia memasuki rumah, tapi tak langsung naik
ke atas.

"Dia sepertinya gagal," teriak Phelps.

Aku pun merasa demikian. 

"Mungkin saja," kataku. 

"Petunjuk kasus ini sebenarnya ada di kota ini, kan?" Phelps menggeram.

"Aku tak tahu apa yang terjadi," katanya, 

"tapi sebetulnya aku benar-benar mengharap bahwa kedatangannya akan membawa sedikit angin segar. Kemarin tangannya tak dibalut begitu. Apa yang terjadi dengannya?"

"Kau tak terluka, kan, Holmes?" tanyaku ketika dia memasuki kamar kami.

"Oh, hanya tergores sedikit saja, kok, karena aku kurang sigap sedikit," 

jawabnya sambil menganggukkan kepala sebagai salam selamat pagi kepada kami. 

"Kasus Anda ini, Mr. Phelps, benar-benar yang paling berat dari semua yang pernah saya tangani."

"Maksud Anda, apakah ini di luar kemampuan Anda?"

"Saya mendapat pengalaman yang luar biasa semalam."

"Dari balutan tanganmu itu aku tahu bahwa kau telah berpetualang semalaman," kataku. 

"Tak keberatan menceritakan tentang apa yang telah terjadi, kan?"

"Nanti setelah makan pagi, sobatku Watson. Ingat, aku baru saja menempuh perjalanan
sepanjang tiga puluh mil dari daerah Surrey. Kurasa tak ada yang menjawab iklanku tentang taksi itu, ya? Yah, yah, kita memang takkan selalu berhasil dalam segala hal yang kita upayakan."

Meja makan sedang disiapkan, dan baru saja aku mau membunyikan bel, ketika Mrs. Hudson memasuki kamar kami dengan membawa teh dan kopi. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi membawa taplak meja, dan kami semua lalu mengambil tempat. 

Holmes kelaparan, aku penasaran, dan
Phelps benar-benar putus asa.

"Mrs. Hudson memasak khusus untuk kesempatan ini," kata Holmes ketika membuka mangkuk berisikan ayam. 

"Masakannya itu-itu saja, tapi menu pagi berupa masakan Skotlandia-nya agak
istimewa. Kau makan apa, Watson?"

"Ham dan telur," jawabku.

"Bagus! Anda mau makan apa, Mr. Phelps: kari ayam, telur, atau mau ambil sendiri, silakan!"

"Terima kasih. Saya tak berselera untuk makan," kata Phelps.

"Oh, ayolah! Cobalah makanan di depan Anda itu."

"Terima kasih. Tak usahlah."

"Yah, kalau begitu," kata Holmes sambil melirik nakal, 

"Anda tak keberatan menolong membukakan mangkuk itu untuk saya, kan?"

Phelps membuka tutup mangkuk itu, dan tiba-tiba dia langsung berteriak sambil wajahnya
menjadi pucat seperti warna mangkuk yang sedang dipelototinya itu. Di dalam mangkuk itu tergeletak sebuah gulungan kertas berwarna abu-abu. Dengan serta-merta diambilnya gulungan itu, diamatinya dengan teliti, lalu tiba-tiba dia bangkit dan menari-nari di ruangan
itu bagaikan orang sinting.

Didekapkapnya gulungan itu ke dadanya dan dia pun lalu berteriak-teriak kegirangan. Lalu dia menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi
karena tubuhnya menjadi lemas dan lelah karena ledakan kegembiraannya tadi. Kami menuangkan sedikit brendi ke kerongkongannya agar dia tidak pingsan.

"Nah! Nah!" kata Holmes sambil menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkannya. 

"Maaf, telah mengejutkan Anda seperti ini, tapi Watson nanti pasti akan menjelaskan pada Anda bahwa saya memang suka mendramatisir suasana."

Phelps menangkap tangan temanku dan menciumnya. 

"Tuhan kiranya memberkati Anda!" teriaknya. 

"Anda telah menyelamatkan kehormatan diri saya."

"Yah, ketahuilah bahwa kehormatan diri saya pun terancam, kata Holmes. 

"Begini, saya pun tak ingin gagal dalam menangani suatu kasus yang bisa merusak kelangsungan karier saya."

Phelps menaruh dokumen yang sangat berharga itu ke saku jasnya yang paling dalam.

"Saya tak tega memotong acara makan pagi Anda, namun rasanya saya tak sabar lagi menunggu untuk mendengar kisah Anda bagaimana dan di mana Anda mendapatkan dokumen itu."

Sherlock Holmes meneguk habis secangkir kopi, lalu melahap ham dan telur. Kemudian dia
bangkit, menyalakan pipanya, dan duduk di kursinya.

"Pertama-tama akan saya ceritakan apa saja yang saya lakukan kemarin. Atas dasar apa saya melakukan itu akan saya bahas kemudian," katanya. 

"Sesudah meninggalkan kalian di stasiun, saya
berjalan-jalan dengan santai sambil menikmati pemandangan daerah Surrey yang terkenal indahnya itu menuju ke sebuah desa kecil bernama Ripley. 

Saya mampir di sebuah penginapan dan minum teh di sana. Untuk bekal, saya mengisi botol minum dan memesan roti lapis. Keduanya saya masukkan ke dalam saku. Saya duduk di sana sampai malam, lalu saya kembali ke Woking dan menuju ke Briarbrae.

"Nah, saya menunggu sampai jalanan sepi—saya kira memang tak banyak orang yang biasabberlalu lalang di situ, ya? Lalu saya menaiki pagar untuk masuk ke halaman."

"Bukankah pintu masuknya tak dikunci?" teriak Phelps.

"Ya, tapi saya maunya begitu. Saya bersembunyi di balik tiga pohon cemara di halaman itu sehingga saya bisa mengamati rumah Anda dengan jelas tanpa terlihat dari dalam. 

Saya lalu berjalan merunduk-runduk, kadang-kadang bahkan harus merangkak, di semak-semak—kalau tak percaya, nih, lihat akibatnya pada lutut celana saya—sampai saya tiba di gerumbulan tanaman tepat di seberang
jendela kamar tidur Anda. Di situlah saya berjongkok sambil melihat-lihat perkembangan situasi.

"Tirai jendela kamar Anda masih belum ditutup dan saya melihat Miss Harrison sedang duduk
sambil membaca di samping meja. Waktu jam menunjukkan pukul sepuluh lewat seperempat, dia berhenti membaca bukunya, menutup dan mengunci jendela, dan pergi tidur ke kamarnya sendiri. 

Saya mendengarnya ketika dia menutup pintu kamar Anda, dan saya yakin dia pasti menguncinya juga."

"Mengunci?" seru Phelps.

"Ya, saya telah menyuruh Miss Harrison mengunci pintu kamar Anda dari luar dan lalu
membawa kunci itu bersamanya kalau dia pergi tidur. Dia benar-benar melakukan apa yang saya suruh sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, dan tanpa kesediaannya untuk bekerja sama, mungkin dokumen Anda tak akan kembali pada Anda. 

Setelah dia meninggalkan kamar Anda, lampu-lampu lalu padam, dan tinggallah saya sendirian berjongkok di gerumbulan pepohonan di luar sana.

"Malam itu cukup indah, tapi penantian saya benar-benar menjemukan. Memang, saya
merasakan kegairahan tersendiri bagaikan seorang atlet yang sedang menunggu saatnya bertanding.

Lama sekali, lho, Watson—seperti dulu waktu kau dan aku menunggu di kamar yang mengerikan ketika sedang menangani kasus Lilitan Bintik-bintik itu. Di dekat situ ada jam gereja yang tiap seperempat jam berdentang, dan rasanya lama sekali menunggu suara dentangan dentangan jam itu.

Tapi akhirnya, kira-kira pada jam dua pagi, tiba-tiba saya mendengar suara palang pintu diangkat perlahan-lahan dan juga suara orang membuka kunci. Beberapa saat kemudian pintu ruang pelayan terbuka dan Mr. Joseph Harrison melangkah ke luar."

"Joseph!" teriak Phelps.

"Dia tak memakai penutup kepala, tapi memakai jubah hitam yang bisa dengan cepat dikerudungkannya ke kepalanya kalau-kalau ada yang memergokinya. Dia berjalan berjingkat, dilindungi bayangan tembok. Ketika
dia sampai ke jendela itu dia mengeluarkan pisau panjang untuk mendongkel gerendel jendela. Lalu dengan menjepitkan pisau itu di antara celah yang ada, dibukanyalah jendela itu.

"Dari tempat bersembunyi, saya bisa melihat ke dalam kamar Anda dan apa yang dikerjakannya dengan jelas. Dia menyalakan dua lilin yang ada di rak di atas perapian, lalu dia membalikkan ujung karpet yang terletak
di samping pintu. Dia lalu membungkuk dan membuka papan lantai yang di bawahnya terdapat sambungan pipa gas dapur. 

Dari tempat persembunyian ini diambilnya gulungan dokumen itu. Lalu dikembalikannya papan lantai itu, dirapikannya karpet, dimatikannya lilin, dan dia pun lalu bergegas pergi dari kamar itu... untuk masuk ke dalam pelukan saya yang sejak tadi telah menunggu di luar jendela.

"Wah, Mr. Joseph bereaksi secara lebih ganas dari yang saya perkirakan. Diterjangnya saya
dengan pisau di tangannya, dan saya sempat menangkap pisau itu dua kali. Akibatnya buku-buku jari saya terluka. Tapi akhirnya saya berhasil meringkusnya. Dia amat berang, tapi mau juga dia mendengarkan perkataan saya, dan akhirnya menyerahkan dokumen itu pada saya. 

Sesudah menerima dokumen itu saya membiarkannya pergi, tapi saya menjelaskan semuanya pada Detektif Forbes pagi tadi. Kalau dia bisa bertindak cepat, pasti buronannya akan tertangkap! Tapi kalau buronan itu sudah melarikan diri sebelum dia sempat menangkapnya, peduli amat, mungkin itu lebih baik untuk pemerintah. Saya rasa baik Lord Holdhurst maupun Mr. Percy Phelps akan lebih suka kalau masalah ini tak sampai diajukan ke pengadilan."

"Ya, Tuhan!" klien kami bersuara dengan terengah-engah. 

"Jadi selama sepuluh minggu yang menyiksa saya itu, ternyata dokumen yang hilang itu berada di kamar saya?" 

"Begitulah."

"Dan Joseph! Joseph bajingan dan pencuri!"

"Hm! Saya sudah merasa bahwa tabiat Joseph itu jauh lebih berbahaya dari penampilannya. Dia tadi juga mengaku bahwa dia mengalami banyak kerugian di bursa saham, dan dia merencanakan untuk melakukan apa saja yang bisa membuatnya kaya dalam sekejap. 

Dasar orang serakah, begitu ada kesempatan langsung saja mau diraupnya tanpa mempertimbangkan sedikit pun kebahagiaan adiknya ataupun reputasi Anda."

Percy Phelps terperenyak di tempat duduknya. 

"Kepala saya pusing," katanya, 

"perkataan-perkataan Anda sangat mengejutkan saya." 

"Kesulitan utama kasus Anda," 

komentar Holmes dengan gayanya yang menggurui, 

"justru karena terlalu banyak bukti. Jadi yang penting malah dikesampingkan dan tersembunyi oleh hal-hal yang sebenarnya tak ada kaitannya. Dari semua fakta yang dibeberkan kepada kita, kita harus mengambil yang penting-penting saja, lalu menganalisisnya untuk merekonstruksi jalinan peristiwa-nya. 

Saya sudah mulai mencurigai Joseph sejak Anda mengatakan bahwa Anda sebenarnya ingin pulang ke Woking bersamanya pada malam yang naas itu. Bukankah itu berarti dia punya alasan untuk mampir ke kantor Anda sebelum dia berangkat ke Woking—kebetulan dia juga tahu letak kantor Anda.

Ketika ternyata ada orang yang ingin sekali masuk ke kamar Anda, di mana mungkin seseorang telah menyembunyikan sesuatu, kecurigaan saya lalu berubah menjadi keyakinan. Siapa lagi orang itu kalau bukan Joseph, karena dialah yang menempati kamar itu sebelumnya, dan terpaksa harus pindah secara mendadak karena kehadiran Anda yang dalam keadaan sakit pada waktu itu. 

Apalagi ternyata usaha masuk ke kamar Anda itu dilakukan ketika suster jaga Anda tidak sedang menemani Anda untuk pertama kali nya sejak Anda sakit. Ini menunjukkan bahwa orang yang masuk itu tahu banyak tentang
kebiasaan-kebiasaan di dalam rumah Anda."

"Betapa butanya saya sehingga tak menyadari hal-hal ini!"

"Beginilah kejadian kasus itu sebagaimana telah saya analisis: 

Joseph Harrison ini masuk ke kantor dari Jalan Charles Street, dan dia masuk ke kamar Anda ketika Anda baru saja keluar untuk minta kopi ke bawah. Karena tak ada orang di kamar Anda, dia langsung membunyikan bel. Saat itulah matanya melihat dokumen itu di meja Anda. Dalam sekejap dia menyadari betapa berharganya dokumen milik pemerintah itu dan dengan cepat disisipkannya dokumen itu ke dalam jasnya, lalu segera berlari keluar. 

Baru beberapa menit kemudian Satpam mengingatkan Anda tentang bunyi bel itu, kan? Dan kesempatan itu cukup bagi si pencuri untuk melarikan diri.

"Dia lalu pulang ke Woking dengan kereta api pertama. Setelah memperhatikan dan
meyakinkan dirinya bahwa hasil curiannya itu sangatlah berharga, dia menyembunyikannya di tempat yang menurutnya paling aman, untuk kemudian akan ditawarkannya ke Kedutaan Prancis atau pihak mana saja yang bersedia memberinya imbalan uang yang banyak.

Kemudian, tanpa disangka-sangka, Anda dibawa pulang ke rumah dalam keadaan payah begitu. Dia langsung diminta pindah kamar, dan sejak itu Anda selalu berdua berada dalam kamar itu sehingga dia tak memiliki kesempatan untuk mengambil barang berharga yang disembunyikannya di kamar itu. 

Dia pasti kelabakan dengan keadaan ini. Tapi akhirnya dia merasa mendapatkan kesempatan. Dia berusaha mencuri dokumen itu, tapi gagal karena Anda terbangun. Anda tentu ingat bahwa Anda tidak minum obat tidur malam itu."

"Ya, saya ingat"

"Saya rasa dia telah membuat obat itu sangat mujarab dengan harapan Anda tertidur dengan
nyenyak sekali. Tentu saja, dia pasti akan mengulangi percobaan pencuriannya kalau keadaan memungkinkan. 

Kepergian Anda ke London memberinya kesempatan yang dia harapkan. Saya minta
Miss Harrison berada di kamar itu sepanjang hari, supaya Joseph tak akan mendahului mengambil dokumen itu. 

Begitulah, setelah mengatur agar kamar itu kelihatan aman baginya pada malam hari itu,
saya pun berjaga-jaga di luar seperti yang telah saya ceritakan. Saya sudah tahu bahwa kemungkinan besar dokumen itu ada di kamar itu, tapi saya tak berminat untuk susah-susah membongkar dan mencarinya. Biar pencurinya sendiri saja yang mengambilnya agar saya tak perlu repot-repot. 

Adakah yang perlu saya jelaskan lagi?"

"Mengapa dia berusaha lewat jendela
ketika pertama kali masuk?" tanyaku. 

"Lewat pintu kan bisa?"

"Kalau lewat pintu, dia harus melewati tujuh kamar tidur lainnya. Di samping itu, dengan lewat jendela dia bisa kabur ke halaman dengan mudah.

Ada pertanyaan lain lagi?"

"Dia sebenarnya tak bermaksud membunuh siapa pun, kan?" tanya Phelps. 

"Pisaunya hanya mau dipakai sebagai alat untuk mendongkel jendela?"

"Bisa saja begitu," jawab Holmes sambil mengangkat bahunya. 

"Saya hanya ingin mengatakan bahwa Mr. Joseph Harrison adalah seorang pria yang tak pantas dikasihani dan dipercaya."




                           "SELESAI"


"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...