Selasa, 30 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -21

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -21

“Aku kembali dulu ke tempat kerjaku ya… dan terimakasih atas makan siangnya.” kataku sambil bangkit dari kursi.

Lina mencium tanganku, ku biarkan saja dan menempelkan tanganku ke pipinya. Aku segera beranjak kembali ke tempatku bekerja.

—————————————–

Pulang kerja, aku dan kedua temanku mampir di warung bubur kacang hijau,

“Aku besok jadi pulang.” kataku.

“Pulang? La trus kerjaanmu di toko sepatu bata bagaimana?” tanya Edy.

“Aku sudah keluar, tadi waktu tutup toko.” jelasku.

“Wah jadi besok pulang betul? Sudah pasti?” yakin Ikrom.

“Ya sudah pasti.” jelasku.

“Trus Mbak Lina bagaimana?” tanya Edy.

“Bagaimana apanya?” tanyaku balik.

“Apa kamu sudah pamit dengannya?” tanya Edy lagi.

“Ya nanti kan kamu yang pamitkan kan bisa, ya itu juga kalau dia nanya, kalau tidak nanya ya ndak usah, kan aku ndak ada hubungan apa-apa sama dia.” kataku menjelaskan.

“Ya udah nanti aku yang omong.” sela Ikrom.

“Aku minta maaf, jika aku menyulitkan kalian selama ini, juga terima kasih atas kebaikan kalian berdua padaku, aku amat berhutang budi pada kalian berdua.” kataku ketika kami sudah masuk gang menuju tempat kami berdua tinggal.

Tiba-tiba kedua temanku itu memelukku dan menangis,

“Tidak Yan.. kami yang merasa berhutang budi amat banyak, selama ini kami telah kamu bimbing tanpa kamu pernah memerintahkan kami melakukan suatu ibadah apapun, tapi kamu mencontohkan, bagaimana berbudi pekerti, sehingga kami melihat hasil, bukan sekedar bicara omong kosong, kami selama hidup belum pernah menemui teman sebaik dirimu, aku yang biasanya males sholat, sekarang sudah tak pernah ku tinggalkan, kami berterima kasih sekali Ian.” kata Edy.

“Iya bener, kamu telah memberi contoh, bagaimana kami harus berbuat, sehingga manusia disayangi manusia lain.” tambah Ikrom sambil sekali-kali menyedot ingusnya yang mbeler.

“Sudah-sudah, pemuda gagah macam kalian masak nangis, tuh gak enak dilihat orang yang lewat.” kataku segera berjalan duluan melepas pelukan mereka berdua.

Esoknya setelah sholat subuh, aku naik bus jurusan Surabaya-Gresik, turun di Terminal Osowilangun, dadi terminal Osowilangun ganti bus jurusan Bojonegoro, sampai rumah sudah hampir magrib.

Pagi esoknya, Karim mencariku, Karim adalah pegawainya pak Abdullah.

“Sudah seminggu aku mencarimu yan…, semalem tau kabar kamu pulang, jadi aku langsung ke sini.” jelas Karim.

“Wah sampai seminggu, memangnya ada apa, kayak penting banget?” tanyaku heran.

“Aku disuruh pak Abdullah, ini ku bel kan,” kata Karim menyerahkan Hp nya kepadaku.

“Assalamualaikum, bagaimana kabarnya nih?” suara Pak Abdullah di Hp.

“Waalaikum salam Pak, Alhamdulillah baik.” jawabku.

“Ku dengar baru pulang dari Surabaya? Sedang apa di sana?” tanya Pak Abdullah.

“Ah biasa nyari-nyari yang belum dapat.” jawabku sekenanya.

“Kenapa masih nyari-nyari juga, itu adikku mbok dinikah.”

“Hm gimana ya…”

“Kok gimana- gimana, wah jangan-jangan tak bisa bangun.” kata pak Abdullah, memang kalau bercanda suka omong apa adanya.

“Weh kata siapa gak bisa bangun?” celetukku.

“Ya siapa tahu, nyatanya gak berani nikahi adikku.”

“Siapa yang bilang gak berani?”

“La buktinya..” wah kayaknya aku mau dipojokkan.

“Jangan-jangan sudah jadi ikan asin, mengering, hahaha…”

“Udah-udah… mana adikknya biar ku nikahin.” kataku terpancing dengan pancingannya.

“Ya datang aja ke Jakarta.”

“Ya kapan?”

“Besok biar diantar Karim.”

“Baik, siapa takut?”

“Udah kasihkan Hp nya ke Karim biar aku omongi dia.”

Hp ku kasihkan Karim, dan sebentar dia bicara.

“Besok disuruh mengantermu ke tempat Pak Abdullah.”

“Iya.. aku siap.” jawabku.

Esoknya aku berangkat dengan Karim ke Jakarta, naik mobilnya Karim, sampai di Jakarta menginap di kontrakannya Karim, di daerah Cipinang Indah, malamnya Pak Abdullah menjemputku untuk sowan dan minta ijin ke Kyai, sampai di pesantren jam 3 dini hari, hanya sebentar ketemu kyai, meminta do’a kelancaran pernikahan, dan setelah sholat subuh, aku dan pak Abdullah, yang saat itu disopiri Macan, kembali ke Jakarta. Sampai di Jakarta rasanya penat sekali, aku tidur, sampai waktu asar ada kakak perempuannya Karim main ke kontrakan.

“Denger-denger kamu mau nikah sama adiknya Pak Abdullah ya Yan?” tanya Mbak Ainun, nama kakaknya Karim.

“Belum pasti mbak, aku juga belum pernah lihat orangnya.” jawabku santai.

Kakaknya Karim mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya, lalu meletakkan di meja depanku.

“Apa ini mbak?” tanyaku heran melihat bungkusan kecil.

“Itu dua cincin emas, ku hadiahkan padamu..” kata mbak Ainun menjelaskan.

“Wah apa ndak salah mbak?” tanyaku heran.

“Salah bagaimana? La kamu kan mau nikah? Kan bisa kamu jadikan mas kawin.”

“Nikahnya belum pasti kok mbak, la ketemu dan melihat orang yang mau ku nikahi saja belum.”

“Ya ndak papa, ini udah ku berikan padamu, siapa tau nanti ada gunanya.” paksa mbak Ainun.

“Aku yang seharusnya berterimakasih, adikku Karim sejak berteman denganmu, sholatnya jadi rajin.”

“Itu kan hidayah dari Alloh mbak, tak ada hubungannya denganku,” elakku.

“Tapi kan semua ada sababiahnya to, sudah, itu cincin diterima.”

“Terimakasih sekali mbak, semoga Alloh membalasnya, dengan balasan beribu kali lipat.”

“Amiin.., udah aku pamit dulu, moga pernikahannya lancar.” kata mbak Ainun beranjak dari tempat duduk.

Malamnya, malam rabu, kami berlima, aku, Pak Abdullah, Macan sebagai sopirnya, dan Karim, berangkat ke Pekalongan, dalam mobilnya pak Abdullah sudah ada perempuan, katanya dia kakak dari perempuan yang akan ku nikahi, ku lirik perempuan yang ada di sampingku, mencari gambaran gadis yang akan kunikahi, tapi mobil lampunya tak dinyalakan sehingga gambaran tak ku dapat.

Ah sudahlah pasrah saja, dari pada mencari gambaran yang tak jelas, aku sudah dari awal pasrah, bahkan uang 1 perak pun tak ada di sakuku, segala kebendaan malah menakutkanku, membuat hatiku bercabang dari ketawakalanku pada Alloh, tapi yang jelas aku memang tak gableg duwit.

Jika dibilang nekad, maka aku lebih pantas dibilang nekad.

Tapi dalam hatiku, aku hanya ingin membuktikan gerak gerik kehendak dan perbuatan Alloh mengarahkan dan menempatkanku, jika harus gagal, maka biarlah gagal, berarti aku harus belajar bertawakal lagi, tawakalku, kepasrahanku berarti hanya omong kosong belaka.

Senin, 29 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -20

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -20

Jam setengah satu siang, berarti ada setengah jam waktu aku berada di tempat Mbak Lina, dan aku sudah duduk di kursi rotan yang ada di ruangan belakang Butik, ruangan dengan luas 5 meter persegi, ditata dengan artistik, setidaknya menurut pandanganku, dinding satu tembok dilapis wallpaper bermotif kembang, dipadu dengan warna cat bermotif warna bedak yang lembut, dibatas garis warna putih, pencahayaan ruangan di buat terang tapi dalam arah tertentu menyorot, sehingga ruangan kelihatan setengah redup.

“Mas Ian duduk saja yang manis, biar aku yang melayani makannya, ya itung-itung belajar menjadi istri mas.” kata Lina dengan tanpa canggung, nadanya dipenuhi kebahagiaan.

Di atas meja di depanku yang berbentuk bundar dari bahan kayu jati dan dilapis fiber ada berbagai makanan, tapi pandanganku hanya tertuju pada makanan yang ku suka, ada soto, dan paru goreng, juga begedel kentang.

Tercium bau harum minyak wangi yang lembut ketika Mbak Lina memasangkan sapu tangan kecil di pangkuanku, hmm, ribet amat, kalau menurutku makan ya makan, langsung santap, langsung selesai, kalau pedesen dirokoki, udah gitu aja, kenapa pakai repot.

“Lin…” panggilku, ketika dia menata sendok dan piring di depanku, karena melihat dia seperti itu, bisa-bisa acara makan belum selesai, waktuku istirahat kerja sudah habis.

“Ada apa mas?” tanyanya, sambil masih meletakkan garpu, dan kertas tissu.

“Udahlah… kamu duduk kita makan.., aku ndak usah dilayani.” kataku sudah tidak sabar.

“Mas Ian ndak suka ya dengan pelayananku?” tanyanya, sambil berhenti bergerak.

“Bukan begitu, tapi waktu kita pendek, coba lihat, ini sudah 10 menit aku duduk di sini, tapi makannya belum juga mulai, ntar nasi baru aku masukkan mulut waktu istirahatku sudah habis, nanti saja kalau kita sudah nikah, kamu menunjukkan pelayananmu yang paling top, sekarang kamu duduk kita segera makan bareng.” kataku menjelaskan.

“iya… iya aku duduk.” katanya sambil mulut dimanyunkan. Dalam hitungan menit, apa-apa yang ingin ku makan segera pindah di perutku, aku bukan orang yang suka bertele-tele, selalu apa adanya, tak suka banyak unggah ungguh asal dalam kebenaran dan tidak menyalahi agama, maka lakukan dengan tanpa ragu, mengambil yang perlu dan meninggalkan yang tidak ada manfaatnya.

Dan tak sampai lima menit makan selesai.

“Bagaimana mas, enak makanan bikinanku?” tanya Mbak Lina.

Aku acungkan jempol dan tak komentar, dan dia tertawa, kadang bahasa isyarat itu lebih mewakili dan lebih mendalam, apalagi kalau jempolnya digoyang berulang-ulang, itu menunjukan penekanan yang amat sangat, bahasa seperti itu orang tuli juga tahu, kecuali orang buta, kalau orang buta mungkin harus jempol ditempel di hidungnya, pakai jempol kaki juga dia gak ngerti, paling bilang jempolmu kok bau trasi ya…

“Mas… apa mas Ian gak menembakku?”

“Apa? Menembak?” tanyaku heran.

“Iya , menembak, kan kalau mau pacaran mau jadian ditembak gitu.”

“Ooo maksudnya jadian?”

“Iya, kan kata kerennya pakai kata menembak.” jelasnya.

“Kok kata menembak keren, aku jadi ingat dulu di desa suka menembaki bangau putih di pohon tertinggi desaku, perasaan kata menembak biasa saja.” kataku sambil menerawang.

“Ya, apa mas Ian gak mau kita jadian sekarang.” kata dia sambil menggenggam tangan kasarku.

“Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi Lin…, kamu kan belum tau betul siapa diriku.”

“Apa aku yang harus menembak mas…” katanya sambil menatapku dengan tatapan tak sabar.

“Memangnya ada perempuan yang menembak lelaki?” tanyaku membiarkan tangannya yang lembut memainkan jemariku.

“Ya adalah…”

“Tapi menurut hematku jangan dulu, aku tak mau kau menyesal di kemudian hari.”

“Gak, aku tak akan menyesal, aku sudah yakin seyakin yakinnya, hanya mas yang pantas menjadi imamku, menjadi pembimbingku, menjadi pendamping sepanjang hidupku.” katanya bersemangat.

Jelas membuatku juga tergetar, karena aku juga lelaki normal, mungkin yang mengatakan kambing yang bisa bicara, aku tak akan perduli, sekarang yang mengatakan seorang gadis yang sempurna, sedang mimpi dia mengatakan seperti itu saja tak pernah terlintas di benakku.

Tapi aku jadi ingat, orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya, yang selalu terseret dan dituruti apa dan kemana nafsu itu menyeret.

Cepat-cepat aku tulis Asma Alloh di hatiku, ku pejamkan mata sesaat untuk menyempurnakan bentuknya, terasa aliran hangat mengaliri setiap nadi, menyadarkan dan membersihkan anasir jahat yang mulai mau menguasai, dan terasanya sangat nyata.

Siapa yang membaca boleh mempraktekkannya, dan akan merasakan apa yang aku rasakan, jika mengalami hal yang menimpa sepertiku.

Itu yang dinamakan, ja’al haq wa zahaqol batil.

Syaitan itu mengalir di aliran darah, lalu jika kita menghadirkan Asma Alloh, saat syaitan itu hampir menguasai dan mengalir di setiap darah kita, maka Asma Alloh yang kita konsentrasikan itu akan menetralisir kekuatan syaitan di tubuh, dan efeknya, alirannya bisa dirasakan benar-benar nyata.

Tanganku yang digenggam Lina sekarang tak bedanya, aku menggenggam kaki kursi atau meja yang patah, tak ada getaran apa-apa.

“Ku rasa kamu terlalu muluk-muluk, begini saja, kita biarkan seminggu, nanti kalau sudah seminggu, jika kamu masih suka denganku, aku yang akan menembakmu, dan kita langsung saja nikah. Bagaimana?” kataku.

“Bener mas?”

“Bener lah,”

Minggu, 28 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -19

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -19

“Tadi aku melihat, tapi sekarang aku tak melihat,” jawab Ikrom.

“Ya udah, ntar bilangin ya kalau aku nyari dia.”

“Kenapa ndak bilang sendiri aja.” jelas Ikrom.

“Iya deh…” kata Lina sambil berlalu.

“Sst… sst..! orangnya dah pergi..” kata Ikrom setelah Lina berlalu.

Pas kebetulan Edy pun datang membawa celana, dan akupun lekas memakainya, lalu cepat-cepat kembali ke tempat kerja.

Ternyata Lina sudah nunggu di tempat kerjaku toko sepatu bata.

“Kemana aja? ku cari-cari kemana-mana ndak ketemu.” sapanya dengan nada manja.

Aaah perempuan, bener-bener bisa membuat hati bercabang-cabang, herannya juga kenapa selalu lelaki normal suka sama perempuan, dan aku termasuk lelaki normal, tapi di dasar hatiku yang tengah bergulat selalu ada perang batin, perang antara menyenangkan nafsu, dan berusaha tak dikendalikan nafsu, dan terus terang kelemahan terbesarku adalah tak bisa tidak suka pada perempuan, karena aku lelaki, dan perempuan lawan jenisku, jika aku dicoba keimanan, maka aku akan memilih jangan dicoba dengan perempuan, sebab kebanyakan aku pasti yang kalah, tak bisa menolak cinta mereka, tak bisa menyakiti mereka.

Benar kalau Nabi sendiri menekankan, seakan ada unsur ancaman di dalamnya: MENIKAHLAH, MENIKAH ADALAH SUNNAHKU, SIAPA YANG TIDAK MENIKAH BUKAN TERMASUK GOLONGANKU.

Aku merasakan seakan Nabi mencintai Ummatnya dalam penekanan itu, agar umatnya tidak tergoda dengan lawan jenisnya, sebab beratnya godaan itu, sehingga Nabi menekankan ancaman yang tidak menikah bukan golongannya.

“Ada apa mbak nyari aku? Mau ngajak nikah ya..” aku mengucapkan dengan kata enteng.

“Eh kamu ngigau ya…?” kata Lina dan matanya menatapku dengan jeli, dan bening matanya seperti kilatan-kilatan listrik yang menggetarkan nadiku.

“Kenapa memandang aku seperti itu? Apa di wajahku telah tumbuh bunga?” kataku asal.

“Hm… kamu cakep.” katanya seperti dengan ketidaksadaran, karena pandangan matanya tak lepas dari wajahku seperti mata pisau yang mau mengoperasi kulit wajahku lalu menguraikan dagingku untuk mencari di dalam ada apanya.

“Kamu serius?” katanya kemudian dengan juga seperti seorang penantang, dadanya dibusungkan.

“Serius apa?” tanyaku, kubuat bloon, sebab aku sendiri tak berani menerima kenyataan, misal sampai terjadi menikah sama Lina.

“Ya soal nikah.” jawabnya setengah menggantung.

“Aku kan cuma nanya, Mbak Lina nyari aku, ada apa?” jawabku sambil membetulkan sepatu di jejeran rak pemajangan.

“Udah sini lihat aku.” katanya menarik tanganku.

“Maas…! Mas Ian..! ” panggilnya memaksaku mengalihkan perhatian dari deretan sepatu.

“Iya ada apa? Kita kan bisa omong sambil menata sepatu, soalnya ini tanggung jawabku, kerja di sini,” jelasku.

“Pindah aja kerja di tempaku, bagaimana?” katanya lembut.

Wah setan itu kalau kita mau berbuat dosa, nyatanya peluang ke sana dibuat semulus mungkin, ya mungkin saja jika di depan ada pohon perdu, setan akan berusaha menebanginya, kalau jalan dosa itu belum teraspal, setan akan berusaha mengaspalnya.

“Gak ah, ntar malah terjadi yang enggak-enggak.” kataku membuat batasan.

Aku bukan orang suci, dan hatiku amat pekat dilapisi nafsu, pandanganku saja jika melihat perempuan masih selalu terfokus pada kesempurnaan bentuk tubuhnya, jelas aku orang yang masih mudah sekali tergoda, jika aku tak membuat kendali sendiri, apa aku harus menunggu orang lain membuat kendali di leherku?

“Mas…!”

“Iya… ada apa? Bicara aja.” jawabku sambil tetap menata sepatu, anehnya dia malah memiringkan sepatu yang tatanannya udah ku benarkan, dia buat miring sehingga kami berdua muter-muter di situ-situ saja, padahal toko sepatu bata ini luas sekali.

“Terus terang, aku sayang, cinta, tak bisa melupakan mas…, siang malam selalu ku ingat, sehari tak bertemu, serasa kangeeen minta ampun, aku tak tau, tak sebelumnya aku dengan cowok lain seperti ini, aku merasa mas inilah yang terbaik untuk hidup dan masa depanku, yang pantas menjadi imamku, yang pantas membimbingku.” Lina mengutarakan semua unek-unek di hatinya, dan jongkok di depanku, karena aku juga sedang jongkok menata sepatu yang di bawah.

Aku menatap wajahnya, dan kulihat matanya menatapku dengan penuh cinta menggelora, tatapan yang seakan ada ribuan bintang di setiap inci matanya, dan aku amat tahu, jika aku menatap lama-lama, pasti akan membuatku hanyut oleh keindahan, wajah yang dibalur aura cinta memang adalah lain daripada yang lain.

Tapi aku menatapnya, malah ingin aku bisa tidak, sanggup tidak melawan tarikan kumparan magned gaib yang disebut kasih sayang.

Dadaku berdentuman, ada rasa sesak, ketika tarikan itu mencoba menarik dan meremas-remas jantungku, aku berusaha bertahan dalam logika totalitas kesadaran, dan perlahan gelombang magnet yang ada di wajah Lina terlihat biasa di mataku. Ku lihat masih ada getaran kecil di bibirnya karena luapan perasaannya.

“Kau kan belum tau siapa aku, terlalu jauh penilaian yang kau berikan, aku tak mau kau akan menyesal nanti, sebaiknya pikirkan dengan pikiran jernih.” kataku meredakan gejolaknya.

Orang yang mudah terseret pada satu keadaan, maka sulit bila menjadi pengayom dan pelindung orang lain, dan aku harus berlatih mengendalikan perasaanku sendiri.

“Mbak Lina ini kan belum tau secara keseluruhan, jadi dipikirkan dulu, sebab banyak sifat burukku, nanti jangan sampai penyesalan akan terjadi, dan itu sudah terlambat.” jelasku.

“Ya kita kan bisa pacaran dulu.” jelasnya juga tak mau kalah.

“Hm pacaran? Walau aku sendiri suka pacaran, tapi aku sekarang jika menyukai perempuan, maka akan ku nikahi saja, tak pakai pacaran.”

“Nah tu kan.!”

“Tuh kan kenapa?” tanyaku.

“Ya kelihatan, mas bukan lelaki yang jelek budinya.”

“Haha… bilang begitu, kamu anggap sudah baik budinya, wah dangkal dong nilai suatu budi pekerti yang baik, semua lelaki juga bisa mengucapkan seperti yang aku ucapkan, suatu budi pekerti yang baik itu perlu menjalani perjalanan panjang, untuk tau jelek atau baik budi pekerti seseorang, seseorang yang budi selalu memberimu barang berharga saja belum tentu dia budi pekertinya baik, sebab bisa saja dia ada maksud di balik pemberian-pemberiannya, orang yang selalu menemanimu, kesana kesini, membantumu, selalu kelihatan di depanmu murah senyum, bisa jadi di belakang dia menikammu, jadi budi pekerti seseorang itu tidak bisa di tentukan dengan sekali dua kali pertemuan, seseorang itu bisa di ketahui baik atau tidaknya, jika kau telah mengumpulinya dalam bersama mengecap keprihatinan, dan bersama memetik kebahagiaan, bisa saja seseorang itu jika dalam keprihatinan bisa seiya sekata, tapi jika ada emas di tanganmu, maka dia tak segan-segan menghunjamkan belati di jantungmu, jika kau maju, bisa saja dia iri dan berusaha menjatuhkanmu, aku jadinya kok banyak omong ya..!” kataku.

“Gak, aku suka, setahun sekalipun jika mas Ian bicara di depanku, aku akan rela duduk selalu mendengarkan.”

“Ah kau ngaco aja…, udah ah, tuh pemilik sepatu bata liatin kita, kamu balik ke butikmu sana gi…” kataku,

“Ntar istirahat siang, ke tempatku ya mas…, aku dah sediain makan siang spesial.”

“Iya entar aku kesana, sama Edy, juga Ikrom ya..?” tanyaku.

“Nggak mas sendiri.”

“Iya…, ntar habis sholat dzuhur aku kesana.” biasanya setiap siang ada istirahat 1 jam, dan penjaga toko bergiliran.

Rasanya dunia seperti ini benar-benar bukan duniaku, kalau aku tidak segera pergi meninggalkannya, sepertinya aku akan terseret pada pusarannya, aku harus mengambil keputusan final.

Jumat, 26 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -18

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -18

Setiap manusia itu selalu merasa cepat bosan bila berdiri dalam dunia yang tidak disukainya atau dunia yang bukan sama sekali dunianya, begitu juga aku, walaupun di dunia baruku itu semua materi selalu ada dan tercukupi, tapi hati yang dalam pencarian selalu cepat bosan dan seakan semuanya hambar sama sekali tak ada rasa manis yang bisa dikecap.

Aku telah pindah kerja di sepatu bata, kemaren malam bos sepatu bata yang dari Belanda datang menemuiku dan menawarkanku, untuk dijadikan kepala bagian pemasaran di Bali.

Jika dikumpulkan dengan orang bodoh, maka aku mungkin adalah barisan terdepan, sebab orang paling bodoh sekalipun pasti masih ingin uang banyak, tapi kenapa aku sama sekali tak menginginkan uang seperti orang lain.

Jika jalan kaki itu sama cepatnya dengan naik bus, maka aku lebih memilih jalan kaki, apapun yang tidak membutuhkan uang itu pasti jadi pilihan terdepanku, selalu terbersit dalam pikiranku, jika tidak memakai uang bisa, kenapa harus memakai uang, dan kenyataannya hidup di dunia ini bersebrangan dengan pola pikirku yang ngawur, sak karepe udele dewe, yah setidaknya itu yang selalu terlintas di pikiran dangkalku.

Terus terang menurut pendapatku, bila aku mempunyai uang, batinku akan terasa tak tenang, selalu ingin mencari lebih, dan selalu tak kerasan di tempat yang sama pada kesempatan yang sama, selalu ingin makan yang enak-enak, selalu ingin membeli apa saja yang nilai kemanfaatannya perlu diragukan untuk saat ini, jika haji ke Mekkah bisa tidak memakai uang, maka aku akan memilih barisan paling depan kloter penerbangan, tapi kenyataannya semua harus memakai uang.

“Aku tak kerasan Ed..” kataku kepada Edi.

“Maksudmu kamu mau pulang?” tanya Edi sambil berjalan menyusuri jalan rel kereta api.

“Iya, aku ingin pulang.”

“Bukannya kamu sudah dipercaya yang punya pabrik sepatu bata?”

“Tapi aku merasa ini bukan duniaku.”

“Lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Edi hambar.

“Ya aku pulang lah…”

Tiba-tiba urat leherku menegang, aku tak tau kenapa, tanganku mengepal, dan semua urat-uratku sulit ku kendalikan.

“Mas…! Kenapa…?” tanya Edi terkejut, ketika aku berguling ketika melintasi rel kereta api, Edi memburuku dan berusaha membangunkanku, tapi aku tepiskan, sehingga dia terlempar, lalu aku setengah sadar setengah tidak, mencoba melawan kekuatan yang berusaha menguasai alam bawah sadarku, aku melihat seperti ada bayangan hitam yang berusaha menguasaiku, aku pukul, aku tendang, tubuhku seperti orang yang kerasukan, Edi hanya memandang, aku kadang memukul kerikil yang ada di sekitar rel kereta, kadang seperti membanting sesuatu, Edi tak berani mendekat, sampai setengah jam berlalu, baru aku berhenti, duduk terengah-engah di tanah, lima menit kemudian baru Edi mendekatiku.

“Ian… kenapa kamu..?” tanya Edi masih setengah takut-takut.

Aku terdiam beberapa saat,

“Gak tau Ed…, kayak ada yang berusaha menguasaiku, aku tak tau itu apa…” kataku dengan heran dan melihat tanganku yang perih, ternyata tanganku lecet-lecet dan berdarah…

“Ayo… ayo kita pulang…” kata Edi sambil membimbingku bangun.

Aku tertatih, badan serasa letih, masih tak habis pikir, apa sebenarnya yang berusaha menguasai alam bawah sadarku.

“Ya udah kalau kamu dah pengen pulang, gak papa, tapi jangan ngamuk gitu, aku jadi sakit dadaku kena kamu pukul.” kata Edi sambil berjalan di sampingku.

“Aku gak marah kok Ed…, bener aku ndak sadar, kayak ada yang berusaha menguasaiku…” kataku menjelaskan, walau penjelasanku aku yakin, Edi tak akan mau mengerti.

Aku sendiri tak habis pikir, apa sebenarnya yang berusaha menguasaiku, ku lihat bayangannya tak jelas, hanya seperti warna hitam.

Sampai di rumah pak Sugeng, aku mandi karena tubuh kotor penuh debu, dan ketika tubuh ku guyur air, serasa perih semua, karena tubuh banyak yang lecet. Edi cerita pada Ikrom, sambil memuter lagu kesayangannya “mari bernyanyi bersama” aku ndak tau siapa yang nyanyi, moga bukan tukang siomay, sebab ku rasa suaranya gak seperti suara tukang siomay yang cempreng. Habis mandi, tanganku diberi obat merah sama Edi. Edi memang sudah menganggapku seperti saudara kandungnya.

“Ian ini ada titipan dari mbak yang jualan di warung tikungan,” kata Ikrom, sambil memberikan kresek berisi nasi bungkus.

“Mbak yang mana?” tanyaku.

“Itu mbak Ajeng apa mbak Endah sih kok lupa namanya?” kata Ikhrom,

“Ah aku juga namanya..” kata Ikhrom.

“Heran Ian, kenapa orang-orang pada suka padamu ya…, gak yang jual es krim, gak yang jual sepatu, gak orang warung, kenapa pada kasihan padamu?”

“Gak tau, kali aja wajahku kayak pengemis, hahahaha…”

“Aku malah lihat si Sita, yang penjaga toko emas, perasaan wira wiri entah sehari ada berapa kali di depan toko kita.” tambah Edi sambil membuka bungkusan tas kresek, ternyata isinya ayam panggang,

“Eee, perasaan mbak yang jual nasi di tikungan itu gak jual ayam panggang?” kata Edi sambil mengangkat potongan paha ayam.

“Tadi dia cuma bilang, untuk mas Ian, jangan-jangan dia naksir kamu Ian…?” kata Ikrom sambil mencomot ayam di bungkusan.

“Ngaco kamu Ik, dia kan dah punya suami,” bantahku,

“Kali aja mau dijadi’in simpenan, hahaha…” ejek Edi.

“Emang potonganku kayak uang receh, hahaha…” candaku.

“Terus terang aku ngiri Ian, la aku di sini sudah bertahun-tahun, masak gak ada yang sayang sama sekali.” kata Edi.

“Ya tampangmu aja kali kayak kriminal,” ejek Ikrom,

“Udah makan… enak juga ayamnya.” kata Ikrom sambil memotong sayap ayam.

“Ya namanya juga dikasih, ya enak lah…” kataku ikut makan tapi memang lumayan enak ayam kampung panggang, pasti udah rebus dengan bumbu, kerasa banget bumbunya, juga gak alot.

Taqdir, jika kita ditaqdirkan menjadi A bukan B, maka jalan ke arah A akan terbuka lebar, dan seakan kita akan seka saja ke arah A, dan jalan ke B akan seakan tak membuat kita senang.

Menjadi penjaga toko sepatu, rasanya benar-benar bukan jalanku, aku begitu bosan, pandangan kosong, dan serasa aku seperti robot, yang tak akan berkembang lagi menjadi manusia baru, hanya menjadi robot penjaga toko sepatu, seakan aku sudah mati terkubur dengan sepatu, hati sesek, padahal belum genap 2 bulan, dan ada saja kejadian yang membuatku tak kerasan, seperti saat itu, aku lagi memasang tulisan discount digantung, sejak berangkat kerja aku sudah tak enak, seperti mau terjadi sesuatu yang membuatku malu tapi aku tak tau apa itu, pagi berangkat memakai celana pemberian pak Sugeng, aku merasa celana itu tak enak, walau ukuran pak Sugeng gendut, dan aku agak kurusan, jelas celana pak Sugeng longgar ku pakai.

Tapi gara-gara kerja tak boleh memakai celana levis, padahal aku tak punya celana, selain celana levis yang menemaniku kemana-mana dan sudah sobek sana sini, celana levis saja sudah tidak boleh, apalagi yang sudah sobek sana sini, malah tak boleh lagi, maka Ikrom, pak Sugeng, Edi, semua memberi celana padaku, sekarang pas celana pak Sugeng yang ku pakai.

“Kenapa Ian?” tanya Edi yang sedang memakai hasprey.

“Ini Ed, aku gak nyaman aja sama celana ini.” jawabku sambil nunjukin celana warna coklat tua yang ku pakai.

“Ya pakai aja lah, wong yang dua juga belum kering.” kata Edi beranjak keluar kamar.

Dan apa yang ku kawatirkan terjadi juga.

Pas menaiki tangga stainles untuk memasang tulisan aku biasa saja, tapi pas kaki ku angkat ke arah tangga, terdengar kraaaak…! Celanaku robek memanjang, pas di tengah selangkangan, dari lutut kiri ke lutut kanan, aku cepat-cepat turun, walau memasang tulisan discount ku selesaikan tapi aku segera mepet ke tembok setelah turun, untung belum banyak orang yang lewat, juga belum banyak toko yang buka, aku berjalan dari toko sepatu bata, ke toko tempat Edi bekerja, tiap berpapasan sama orang aku menatap ke atas, supaya orang ikut menatap ke atas, tidak menatap ke celanaku yang robek tengah kayak rok, setelah orang lewat, aku berjalan beringsut-ingsut lagi ke arah toko tempat Edi bekerja, ku lihat Edi sedang menata sepatu jualannya, aku nyelonong saja, ke geladak penyimpanan sepatu…

“Eee ngapain kamu Ian??” tanya Edi.

“Anu…, celanaku robek.”

“Robek? sebelah mana?”

“Ini pas selangkangan sampai ke lutut.”

“Wah gimana?”

“Ya tolong ambilin celana yang di rumah.”

“Kan belum kering, jauh lagi.”

“Ya tolong deh Ed… masak aku kudu pakai celana kayak gini, gak lucu kan?”

“Tapi Ian… yang jagain tokoku siapa?”

“Ya aku kan bisa dari dalam kotak sini.”

“Iya deh, tunggu sebentar.”

Edi pun berlalu dengan cepat, aku jaga dagangan dia, dari dalam gerobak, cuma kelihatan kepala, geladak gerobak itu untuk menyimpan sepatu, sekaligus menata sepatu, bentuknya undak-undakan kayak tangga, di dalam ruangannya lebar, tapi aku terus berdo’a semoga tak ada yang beli, mengingat jika harus melayani, sementara aku seperti ini.

Kebetulan Ikrom datang sambil membawa ember dan alat pel, dia celingukan karena Edi tak ada, tempat kerja Ikrom beda toko, walau kedua toko adalah toko sepatunya pak Sugeng, dia melihatku.

“Ngapain di situ Ian..??” tanyanya dengan senyum khas bibir hitamnya. “Mana si Edi?”

“Si Edi pulang bentar.”

“Wah sembarangan si Edi, kalau pak Sugeng datang, dia tak ada, bisa dimarahi habis-habisan.”

“Dia lagi ngambilin celana untukku.”

“Lhah memang celanamu kenapa?”

“Robek Ik…”

“Wah bahaya…”

“Bahaya kenapa?”

“Di tokomu tadi mbak Lina nyari-nyari kamu.”

“Yang bener Ik??”

“Ya bener lah, napa aku bohong.”

“Nah tuh dia kesini tuh..”

“Ssst bilangin kamu ndak tau.”

“Ndak tau gimana? La jelas aku lihat gini, aku bohong dong.”

“La kan bohong demi kebaikan juga dibolehkan Ik.”

Aku langsung menyembunyikan diri di kotak.

“Lihat mas Ian gak Ik?” suara khas Lina yang lembut, setengah centil terdengar renyah kayak kacang sanghai waktu dikunyah.

“Ian….?” dug..dug.. aku khawatir pasti si Ikrom akan omong apa adanya.

Kamis, 25 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -17

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -17

Acara makan-makan pun cepat berlalu, apa yang dipesan tidak sampai seperempat jam telah pindah ke perut kami bertiga, dan terakhir ku sruput es kelapa muda, ah memang restoran memang kebanyakan cuma gengsinya doang, kelapa mudanya juga enakan yang bikinan pinggir jalan, bukannya aku ndak terima dengan apa yang telah aku telan, ini cuma bahan tulisan saja, atau kali aja lidahku yang lidah jalanan, tapi ndak kok emang ndak enak setidaknya menurut ukuran harga es kelapa muda di restoran kalau dibelikan kelapa muda di jalan, kayaknya dapat sejerigen, berlebihan ya, yang ku buat perumpamaan? Ya kalau ndak gitu nanti tidak ada yang diomongkan, nyatanya orang lebih suka menjual gengsi dari pada nilai suatu kejujuran, juga lebih suka bangga membeli gengsi dari pada makan yang sesuai di lidah, yah itulah perputaran kehidupan, kami segera naik mobil lagi, dan kami minta turun di lorong arah menuju ke tempat kami menginap yaitu di rumah pak Sugeng.

“Yan.., mbak Lina itu naksir kamu habis..” kata Edi saat kami berjalan bertiga di gang arah rumah menginap,

“Kok tau mas Edi..” kataku, sambil menyalakan rokok, yang selama di mobil ini aku tahan ingin ngrokok, minta ampun lebih kebelet dari pada orang yang mau ke toilet,

“Kita ini sudah enam tahun, baru sekarang mbak Lina ngajak kita makan-makan, la kalau ndak naksir kamu, apa alasan lain yang lebih masuk akal?” tanya Edi juga ikutan nyalain rokok. Ikhrom yang tidak ngrokok memang dia tidak merokok, itu aja bibirnya sudah hitam banget, mungkin alasan dia tidak ngrokok juga agar bibirnya tidak malah hitam, tapi aku tak pernah bertanya ke situ,

“Bisa saja karena alasan lain..” kataku sekenanya, karena juga aku bukan orang yang ingin ditaksir oleh mbak Lina, walau menurutku dia cantik lebih cantik dari setandar ukuran cantik yang ku pakai ukuran,

“Kita lihat aja nanti.” kataku menambahkan, sambil nyedot rokok kuat-kuat, biar agak mantepan dikit.

“Mbak Lina itu habis putus pacar lo Yan.” kata Ikhrom nambahi,

“Masak?” kataku agak neleng, kayak serius menanggapi,

“Iya.., cowoknya yang dulu ditendang, katanya ndak setia.” tambah Edi, kayak makin seneng aja ngomongin orang.

“Lah mbak Lina secantik itu masak cowoknya bisa ndak setia?” tanyaku asli merasa heran bukan ku buat-buat, karena memang aneh juga kalau orang cantik kok ada cowoknya yang ndak setia,

“Sebenarnya itu sih alasan aja, mbak Linanya sendiri yang udah bosen.” kata Edi menutup pembicaraan, karena kami sudah sampai pintu rumah pak Sugeng.

Setelah sholat isyak kami pun berangkat tidur, waktu telah menunjukkan jam 12 lebih lima menit, seperti biasa, aku dan Edi tidur satu kamar, dan Ikhrom tidur di kamar lain,

“Yan kalau mbak Lina naksir kamu beneran, kamu mau jadi cowoknya?” tanya Edi berbisik, padahal tidak usah berbisik juga suara Edi kurang keras, karena kebiasaan Edi kalau mau tidur nyalain tape recorder, dari tape mobil yang sudah bodol, dan yang diputer lagu itu-itu saja, lagunya Kus Plus kalau ndak salah judulnya Telaga Sunyi, dan urutannya yang aku sampai hapal itu lagu Mari Nyanyi Bersama, yah kalau di denger-denger lagu itu makin bosen, tapi lama-lama enak juga untuk pengantar tidur, tapi malah membuatku tidak konsentrasi untuk wirid dalam hati,

“Apa?” tanyaku karena memang suara Edi yang tak jelas,

“Ya kalau mbak Lina beneran naksir kamu, kamu mau gak jadi cowoknya?” tanyanya mengulang pertanyaannya dengan nada yang tak sama,

“Kalau nurut kamu aku mau apa ndak?” tanyaku.

“Lhoh ini kan yang jalanin kamu Yan kok malah tanya aku lagi?” rungut Edi.

“La aku sendiri tidak tau, aku baiknya mau apa nggak? Udahlah besok aja dibicarakan lagi, sekarang tidur..” kataku sambil menutupkan tangan pada atas mata.

Hari berlalu seperti melewati lingkaran yang berputar dalam satu poros, kami ini seperti tikus yang berlari dalam putaran roda, makin lama kami berlari, maka tetap saja kami ada di jalan yang sama, Matahari departement store, jalan rumah nginap, kok aku pikir makin jenuh saja, pagi jam sembilan berangkat kerja, jam sepuluh buka toko, sebelumnya sarapan dulu, menghadapi pembeli, sore pulang, kayaknya kalau kami pikir seperti robot saja, terus terang kalau aku ndak berjiwa muda, artinya masih anak muda, jenuhnya minta ampun, untung aku ini anak muda, sekali waktu nggodain cewek cantik yang jalan-jalan ngelewati toko kami, atau kadang kala aku iseng nggoda cewek, supaya membeli sepatu yang ku pajang, ku goda sampai akhirnya beli, padahal asal ngecap saja, kubilang kalau pakai sepatu yang ku pajang itu malah cakep, malah kelihatan modis, padahal aku ndak ngerti modis itu apa, dan kadang yang bikin aku ketawa, cewek yang jelas-jelas wanita, namanya juga cewek ya pasti wanita, ku godain supaya beli sepatu yang bergaya lelaki, dan ku bilang malah cuantik, dan akhirnya beli dan dipakai, padahal jelas nyalahi, tapi kok ya mau aja..,

Ah kalau di pikir emang makin ngawur dunia, kebanyakan remaja itu ngikuti kata orang, ndak tau kalau orang yang diikuti itu ngawur bicaranya ya mereka tetap saja ngikuti.

“Yan,.. sini.” tiba-tiba pak Sugeng manggil aku.

“Ada apa pak?” tanyaku setelah ada di depannya,

“Ya udah besok kamu kerja di sepatu bata, ndak usah potong rambut.” kata pak Sugeng.

“Oh gitu ya pak?” tanyaku.

“Iya.., orangnya bilang, kamu yang rapi aja, rambutnya di ikat ke belakang yang rapi, besok mulai kerja di sepatu bata ya..” tambah pak Sugeng jawab tanyaku.

“Iya pak..” kataku hormat, mengingat pak Sugeng banyak menolongku. Toko sepatu bata tak jauh dari tempatku kerja sekarang, dipisah empat toko, toko jam tangan, toko emas, butik bak lina, dan toko es krim, jadi toko sepatu bata pas sebelah toko es krim dan roti.

Waktu istirahat aku sempatkan nyamperi ke tempat toko septu bata, lalu berkenalan dengan pemiliknya dan dua gadis pelayannya yang nantinya jadi teman keseharianku,

“Mas ini ya yang besok kerja di sini?” tanya gadis bernama Mona, wajah gadis itu biasa saja, kayak gadis desa, rambut sebahu, tampang malu-malu, kulit sawo matang, tingginya pun paling seratus enampuluhan, dia memakai seragam, dan gadis yang satunya bernama Anna, cantik juga, lumayan tinggi mungkin tingginya seratus enampuluh enam, wajah cantik, bibir tipis, rambut lurus sepunggung, kulit kuning langsat, hidung mungil, cuma bedaknya rada tebal, mungkin untuk menyembunyikan jerawat yang ada di pipinya, padahal nurut aku makin banyak bedak, makin mudah jerawatan, karena pori-pori tertutup, itu juga menurut pendapat ndesoku.

Setelah kami melakukan perkenalan sebentar aku pun kembali ke tempat kerjaku setelah sholat dzuhur di masjid belakang plaza, esoknya pagi-pagi aku berangkat lagi sama Edi, walau mulai sekarang aku tak kerja lagi bareng Edi, tapi tetap tidurku bareng sama Edi di tempat pak Sugeng.

Kami berjalan, melewati lorong panjang pasar pagi dadakan, yang buka tiap pagi menjual sayur di jalur plaza, yah pasar yang entah berapa kali digusur oleh Satpol pp, tapi tetap saja buka tiap pagi, aku juga tak mau menyalahkan para pedagang yang tiap pagi jualan, mungkin mereka mau menyewa tempat untuk berdagang secara benar, tidak menggunakan ruas jalan, tapi mungkin harga sewa kios terlalu mahal, jadi karena modal cekak akhirnya juga tetep jualan di ruas jalan, dan yang terang saja mengganggu kelancaran lalu lintas, juga aku tak menyalahkan petugas Satpol pp, yang selalu mengobrak abrik dagangan mereka, karena tuntutan tugas menertibkan kota, tapi hari berlalu seperti itu akan terulang kalau pemerintah tak bijak mengambil keputusan, seakan pedagang itu bukan rakyat Indonesia, mereka digusur, padahal dagangan itu mungkin dari modal ngutang, untuk menghidupi keluarganya, ku rasa kalau ini berjalan terus tanpa adanya suatu solusi bijak, yang dirugikan akhirnya semua, orang yang lewat, juga pedagang kurasa tak banyak mengambil banyak untung dari dagangan yang diorat-arit,

Aku hanya menatap pada petugas Satpol pp, yang memakai tampang digarangkan, padahal mungkin orang tua mereka juga bisa saja salah satu yang digusur, andai orang Satpol pp itu sedikit berpikir andai mereka yang digusur bagaimana, dan pedagangnya yang sekali waktu disuruh jadi petugas Satpol pp, yah carut marut ini sebenarnya kuncinya ada di pemerintah, kalau rakyat tak miskin, kurasa kejadian seperti kejar-kejaran pedagang dan petugas tak mungkin terjadi.

Tapi inilah yang terjadi, terjadi dan terus terjadi entah sampai kapan?

“Yan…” suara Edi mengagetkanku.

“Ada apa.” kataku sambil menghindari orang yang hilir mudik di jalan yang hampir menabrakku.

“Soal mbak Lina, gimana tuh Yan ?” tanyanya lagi sambil berjalan cepat di sampingku.

“Gimana apanya?” aku balik bertanya.

“Maksudku apa ndak kamu kasih perhatian?”

“Perhatian yang gimana lagi?” aku balik bertanya.

“Ya apa kamu ndak nerima dia?” tanyanya lagi.

“Nerima gimana, la dia juga gak nyatain apa-apa, ndak ngasih apa-apa, aku mau nerima apa?” kataku dan kami mulai berjalan tenang karena telah melewati pasar sayur.

“Si Lina itu naksir aku, atau suka padaku, itu kan masih perkiraanmu saja, la kenapa harus ribut..” kataku ku buat dengan nada mangkel, tapi mulutku masih tertawa.

“Ya ndak gitu Yan, ya emang ini masih perkiraan, tapi andaikan ini bener-bener terjadi, dia jatuh cinta padamu, ini misalkan lo ya.., kalau dinilai dari sudut pandangmu, dia termasuk cewek tipe idamanmu gak?” tanyanya.

“Ya… ku akui si Lina tuh cantik, kaya, malah cantik dan kayanya sudah di atas bayanganku, tapi terus terang bukan aku takut apabila nanti aku jadi cowoknya, dia bosan, lalu aku dibuangnya kayak buang ingus, dicampakkannya kayak nyampakkan sampah ke tong sampah, bukan takut seperti itu, tapi jujur dia bukan typeku, terlalu muluk la bagiku, atau mungkin entahlah, walau aku jujur, aku juga lelaki normal, yang jelas tertarik dan merasa wah dengan kecantikannya dan keunggulannya, tapi kalau ditanya hati nuraniku, aku tak ingin jadi kekasihnya, hanya bikin kebat-kebit aja, nyiksa hati..” kataku panjang lebar, tak tau apa Edi paham dengan yang ku maksudkan.

“Wah kenapa kebat-kebit kuwatir Yan?”

“Banyaklah alasannya, kalau diuraikan satu persatu, akan makan waktu lama,” kataku singkat, tak terasa kami berdua telah sampai di belakang Plaza,

“Aku ndak ikut ke tempat mbak Ningsih ya.” kataku langsung masuk ke Plaza,

“Lhoh ndak sarapan?” kata Edi berhenti,

“Gampanglah nanti saja.” kataku nyelonong masuk lorong depan etalase kerja di sepatu bata, dan melakukan kesibukan tiap hari, membersihkan barang dagangan, menawarkan dan merayu pembeli yang datang, apalagi kalau gadis yang datang, pasti kena ku rayu untuk beli sepatu, kadang padahal aku rayu untuk beli sepatu pria, tapi karena rayuanku pas jadi ya akhirnya mau juga, apalagi aku copot sepatunya dan ku pakaikan sepatu baru, kayaknya ku lihat berbunga-bunga wajahnya pertama ada rasa senang.

Tapi mulai satu minggu bekerja ditemani pelayan wanita yang ada, membuatku bosan, walau dua wanita pelayan sering mengajakku ngobrol, ah kayaknya duniaku bukan di sini, aku seperti orang yang tersesat saja, monoton dan tak tau jalan, gelap dan teramat bisu dari perkembangan, aku seperti robot yang dipakaikan pakaian manusia, suntuk mulai menggelayuti pikiranku, untung ada hari jum’at libur giliran, jadi aku bisa menelaah diri, mengurai dan memikirkan apakah ini jalan yang ku ingini?

Seperti hari jum’at itu, aku libur dan ku pakai jalan, mengobati rasa rinduku, dari pagi aku sudah berangkat, bilang pada Edi dan Ikrom untuk jalan-jalan, karena liburan, aku tak mau suntuk dalam kamar, aku jalan saja, tak tau arah, dan tak memilih arah, jam sepuluh sudah sampai di pintu tol Porong, aku belok ketika ku lihat sebuah masjid, ah kurasakan batinku lebih tenang kalau aku jalan seperti ini lebih bebas dan tanpa terikat siapapun, lebih bebas merenungi dan menangkap segala gerak-gerik Alloh atas dunia ini, ku ambil wudhu dan masuk masjid lalu setelah sholat takhiyatul masjid, aku pun tiduran selonjoran, ah betapa damainya, dunia tanpa beban……

Seseorang setengah tua, menghampiriku, lalu mengucap salam, ku jawab, dan bersalaman dengan ku dia memperkenalkan diri bernama pak Teguh.

“Dari mana mas?” tanyanya sopan.

“Jalan aja pak, saya kerja di Matahari Plaza…” jawabku juga ku buat halus.

“Kok di masjid ini, apa gak kerja?” tanyanya lagi.

“Lagi libur pak…, ini lagi jalan-jalan, nyari suasana baru….” jawabku ringan.

Kami pun berdialog, yang asalnya membahas tentang perkenalan kami, sampai membahas tentang kesukaanku jalan kaki ternyata pak Teguh juga orang yang suka jalan, walau tak sesering sepertiku, dia juga cerita kalau dia asalnya bekerja di jawatan kereta api, sampai waktu azan kami ngobrol, dan adzan dikumandangkan, kami pun sibuk dengan diri masing-masing, aku mencari Al-qur’an ku baca sambil menunggu imam naik ke mimbar, untuk khotbah jum’ah.

Rabu, 24 Juni 2020

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -16

PERJALANAN HIDUP SANG KYAI -16

Karena tidak merasakan sakit, aku ya tetap diam saja, cuma suara cambuk ikat pinggang yang terus menghujaniku, bak-buk, bak-buk, “Sudah-sudah…!” teriak orang yang ada di ruangan itu, sementara orang yang ikut jum’atan pun sudah pada berdatangan memenuhi kaca, menatapku, juga dari pintu, dan segala lubang yang ada, aku seperti pencuri yang dinistakan.

“Ayo ngaku kau telah mencuri sandal.” kata orang yang memukuliku.

“La saya tidak nyuri sandal, gimana mau ngaku nyuri sandal.” kataku masih dengan tatapan heran.

“Benar, kamu tidak nyuri sandal?” tanya salah satu orang yang ada di dalam kantor itu.

“Tidak..!” kataku mantap.

“Gembel…, mau mungkir, kalau sandal yang kau pakai itu bukan sandal curian, apa ada gembel sandalnya bagus…?!” bentak orang yang memukuliku.

“Ini sandalku sendiri…” kataku.

“Puih, gembel hina… mau dihajar lagi?!” bentak orang yang memukuliku.

“Sudah-sudah…,” kata orang setengah baya yang tadi menyela,

“Benar kamu tidak mencuri sandal?”

“Tidak…!” jawabku.

“Apa buktinya kalau sandal itu sandalmu sendiri?” tanya orang setengah baya itu. Aku sebentar berpikir, lalu ku ingat,

“Sandal ini bawahnya japit ku kasih paku, karena sudah putus.” kataku mantap. Lalu orang yang memukuliku, menarik kedua sandal yang ku pakai, dan memandang dengan kecewa, karena apa yang ku katakan benar adanya. Dia menunjukkan sandal pada orang setengah baya itu,

“Makanya jangan nuduh sembarangan.” kata orang setengah baya itu,

“Kalau begini…, untung tidak sampai luka parah..” kata orang setengah baya itu menggerutu, sementra orang yang memukuliku, nampak serba salah, sandal kemudian diangsurkan padaku lagi.

“Heh… heh ada apa ini?” seorang pemuda tiba-tiba mendesak kerumunan di pintu dan masuk ke kantor masjid tempatku dipukuli, seorang pemuda yang seumuran denganku, berkulit kuning dan berwajah tenang, “Ada apa?” tanyanya lagi.

“Ini salah nangkap maling…” kata orang setengah baya yang melarang aku dipukuli terus, sambil tangannya menunjuk padaku, dan pemuda itupun memandangku.

“Maling gimana, ini temanku, kenapa dibilang maling?!” kata pemuda yang baru masuk, dengan nada marah, lalu menggelandangku berdiri.

“Ini temanku, kenapa dibilang maling?” tanyanya lagi, karena tak ada yang menjawab.

“Iya kami salah sangka, maaf…!” kata orang yang memukuliku.

“Maaf gimana? Mbok kalau ada masalah jangan langsung main pukul,” kata pemuda yang menyerobot masuk, yang terus terang aku pun tak kenal sama sekali, aku tetap diam saja, dan tak memperdulikan pembicaraan mereka, memang aku sendiri kadang merasa aneh, semakin ditimpa musibah, maka aku akan semakin tenang, pasrah, atau mungkin kalau dibilang tak terlalu, aku makin ngantuk, kalau tertimpa musibah, hati langsung terisi dengan Alloh jadi ketenangan teramat dalam, sampai rasanya mata jadi ngantuk.

Aku makin tak konsen dengan perdebatan mereka, sampai aku digeret oleh pemuda sebayaku, dan diajak jalan ke dalam Matahari plaza, aku nurut saja… lalu diajak duduk di etalase toko sepatu.

“Mana yang sakit?” tanyanya.

“Nggak ada yang sakit.” jawabku.

“Ah masak, coba lihat punggungmu?” katanya langsung ke belakangku dan membuka kaos kumal yang ku pakai.

“Heran, kok ndak luka sama sekali? Padahal ku lihat kamu dipukuli sampai ancur-ancuran.” katanya selesai melihat punggungku.

“Ndak tau ya, aku sendiri juga heran, kok ndak ada yang sakit, juga waktu dipukul ndak sakit.” kataku menimpali.

“Wah aneh juga, padahal baru seminggu yang lalu juga ada yang ditangkap, dituduh nyuri sendal, lalu dipukuli sampai hidung dan mulutnya berdarah, dan wajahnya bengep, njerit-njerit ndak karuan.” katanya menerangkan.

“Masak?” tanyaku heran.

“Iya, emang itu orang yang jaga masjid paling suka mukuli orang, udah nggak kehitung yang dipukuli.” katanya menjelaskan lagi. Lalu datang seorang lagi mendekat.

“Ada apa Ed?” tanya lelaki yang datang, orangnya juga seumuranku, kulitnya hitam.

“Ini tadi dipukuli penjaga masjid.”

“Wah…, salah apa?” tanya lelaki itu.

“Dituduh nyuri sandal.”

“Wah pasti lukanya parah…” kata pemuda yang baru datang yang ku tau bernama Ikhrom,

“Malah ndak luka sama sekali..” jawab pemuda yang bernama Edi yang menolongku. Mereka berdua ramai membicarakanku, aku tetap diam sampai Edi bertanya padaku.

“Kamu tinggal di mana?”

“Aku?” tanyaku lagi.

“Iya.., tinggal di mana?” ulang Edi menanyakan pertanyaannya.

“Wah aku ndak punya tempat tinggal.” jawabku enteng.

“La trus kalau tidur di mana?” tanyanya lagi.

“Ya di mana aja…,” jawabku masih enteng.

“Di mana aja gimana?” tanya Ikhrom nimbrung. Ya aku juga tak heran bila mendengar pertanyaan orang yang biasa tidur di rumah dengan kasur empuk, dan menyalakan musik pengantar tidur, aku tak menyalahkan mereka, yang pasti merasa aneh dengan orang-orang yang biasa tidur sembarangan, mungkin bayangan mereka andai digigit ular gimana? Andai dirampok orang gimana? Atau mungkin barang pertanyaan yang teramat sepele, wah kalau digigit nyamuk apa bisa tidur, tapi selama ini aku juga tidur-tidur aja, apa mungkin nyamuknya udah pada kenal, atau mungkin darahku yang pahit, karena makan dari tempat sampah.

“Ya kadang di jalan, di emperan toko, kadang di musolla, atau bahkan kadang tidur di kuburan…” jawabku sambil melirik mereka, dan menyalakan rokok Djisamsoe yang disodorkan padaku oleh Edi.

“Wah berani sekali.” desah Ikhrom. Sementara Edi masih terbelalak.

“Yang bener, di kuburan?” tanya Edi dengan nada heran dan kaget,

“Emangnya kenapa?” tanyaku.

“Apa ndak boleh?” sambungku.

“Ya bukan begitu, maksudku berani sekali, apa pernah didatangi pocong..?” tanya Edi.

“Pocong? Ya mungkin aja pernah, tapi kali aja pocongnya ngeliat aku ndak punya uang jadi ndak ditakut-takuti, mungkin dia malas nakuti aku, ya mungkin bauku lebih parah dari mereka, la mereka mau nyumpal hidung, tangannya diikat, jadi mending jangan mendekat..” jawabku asal aja. Yang tiap kata ngawurku pun makin membuat hubungan pertemanan kami pun makin akrab, dan selama itu aku tetap di tempat penjualan sepatu tempat Edi bekerja, tentunya dengan pandangan orang yang lewat di koridor merasa aneh padaku, tapi aku cuek aja, toh pandangan mengucilkan dan menghinakan tak sekali dua kali ku terima.

Malam itu aku diajak ke tempat tinggal Edi dan Ikhrom nginap di tempatnya, yaitu tempat tinggal bossnya, karena memang mereka berdua ditampung di rumah bossnya, aku dikenalkan, namanya pak Sugeng, orang dari Jogja, dan orangnya baik sekali, aku ditawari untuk bekerja, atau lebih tepatnya dicarikan pekerjaan, aku he-eh saja, walau niatku bukan untuk mencari pekerjaan, sehari dua hari seminggu dua minggu aku masih ikut jaga toko sepatunya pak Sugeng bossnya Edi dan Ikhrom, dan syukur penjualan meningkat beberapa kali lipat setelah ada aku, jadi pak Sugeng pun royal memberikan tip padaku, di samping makanku sudah terjamin, karena tiap hari diberi uang makan.

Pagi itu, aku berangkat kerja, dengan Edi dan Ikhrom, seperti hari biasa, kami mampir ke warung makan, untuk sarapan nasi bungkus di tempat mbak Asih, penjual nasi bungkus pojok, tiba-tiba, mbak Asih sudah keluar dari warung menyongsong kami, wajahnya nampak ceria sekali.

“Ayo-ayo cah bagus sini makan,” sambil menggelandang tanganku dan tangan Edi.

“Ada apa mbak?” tanya Edi, sementara aku diam saja.

“Udah ayo makan,” kata mbak Asih sambil menyodorkan nasi bungkus spesial, dibilang spesial karena pakai daging,

“Wah kami ndak pesan ini mbak..” kata Edi nolak,

“Udah ini gratis kok ndak bayar, malah adik Iyan boleh makan di sini terus nggak usah bayar…” kata mbak Asih dengan pandangan berbinar-binar.

“Ya ndak bisa gitu mbak..” kataku rikuh.

“La mbak ini kan jualan, kalau aku makan di sini ndak usah bayar, ya mbak Asih nanti yang bangkrut.” kataku.

“Udah…, ayo dimakan dulu…” kata mbak Asih. Kami pun makan dengan lahap.

“Wah ini pasti ada apa-apanya, kamu apain Yan mbak Asih?” kata Edi melirikku, sementara sejak tadi Ikhrom cuma mengsam-mengsem kaya makan permen kecut.

Dengan cepat nasi bungkus pun telah pindah tempat di dalam perut kami, tinggal bungkusnya doang, lalu kami seruput teh manis, mbak Asih mendekatiku dan menyodorkan rokok Djarum sebungkus, ku trima dan ku buka lalu ngambil satu dan ku nyalakan.

“Udah mbak, berapa?” tanya Edi, sementara Ikhrom telah keluar dari warung duluan.

“Weh dibilang gratis kok ndak percaya…” semprot mbak Asih.

“Udah gak usah bayar.” tambahnya.

“La ada apa to mbak? Apa mbak Asih sukuran?” tanya Edi sambil memasukkan uangnya kembali ke sakunya.

“He-eh..” jawab mbak Asih sambil memberesi piring dan gelas.

“Sukuran apa mbak?” tanya Edi iseng.

“Sini duduk dulu.., tuh rokoknya diambil dik Ian.., duduk dulu, akan mbak ceritakan, biar nak Ikhrom yang buka toko.” kata mbak Asih masih dengan wajah sumringah.

Kami pun duduk anteng.., lagian warung juga lagi sepi, jadi kami bisa ngobrol. Setelah mbak Asih duduk di salah satu kursi, lalu mulai bercerita, dan matanya selalu mengawasiku, si Edi sampai kelihatan curiga,

“Gini dik Edi…, mbak akhirnya hamil…, setelah sepuluh taun menunggu…, mbak akhirnya bisa hamil…” kata mbak Asih masih dengan mulutnya dipenuhi dengan senyum bahagia, karena mbak Asih sambil memandangku, jadi Edi pun ikut memandangku aneh.

“Kenapa Ed…?” tanyaku heran.

“Aku yang musti nanya kenapa.., bukan kamu…, kamu ada apa-apa ya sama mbak Asih?” tanya Edi.

“Kenapa kamu nyangka begitu Ed?’ tanyaku makin heran.

“Eee.ee.. dengar dulu apa yang mbak akan katakan, kenapa kalian malah ribut?”

“Iya ini harus jelas ini ada apa?!” kata Edi sambil menatapku curiga. Tiba-tiba dari warung muncul suami mbak Asih, bernama pak Wahyu… dia langsung menyalamiku.

“Makasih doanya adik Iyan…” katanya sambil air matanya mengembang di pelupuk mata, lalu memelukku dengan erat, jelas Edi makin bingung.

“Ini sebenarnya ada apa…?” tanya Edi setelah pak Wahyu melepaskan pelukannya padaku, dan kami semua duduk, mbak Asih mulai cerita.

“Gini lo Ed..” kata mbah Asih mulai cerita,

“Kamu kan tau, aku dan mas Wahyu sudah berumah tangga selama hampir 12 tahun tapi ndak juga di karunia anak,”

“Trus?” sela Edi ndak sabaran.

“Kami juga sudah berusaha dengan berbagai cara, ke dokter ke dukun, ke shinshe, ke paranormal, tapi hasilnya nihil, sampai rumah tangga kami sudah berumur 12 tahun, tetap saja kami tak punya anak, nah pada minggu yang lalu, waktu nak adik Ian kemari makan sendiri, iseng-iseng, kami minta didoakan, supaya mendapat keturunan, lalu nak Iyan mendoakan, dan seminggu kemudian aku mual-mual terus, lalu ku periksakan ke dokter kemaren, dan ternyata aku dipastikan positif hamil, jadi kami teramat berterimakasih sama nak Iyan,..” Edi menatapku.

“Wah diam-diam kamu paranormal?” tanya Edi, sambil matanya dipicingkan.

“Wah kalau berdoa., kamu juga bisa, berdoa juga ajarannya Nabi, apakah Nabi itu, nabinya paranormal?” tanyaku balik, yang memang orang kayak Edi, yang hidup bebas, pemuda yang tanpa kendali siapa pun, mungkin jangankan berdoa, mungkin sholat aja, setahun bisa dihitung dengan jari, aku juga maklum, maka aku memilih tak memperuncing masalah.

“Ooo gitu jadinya.”

“Pak Wahyu, mbak Asih, la ndak usah aku musti makan gratis di warung ini to, berdoa itu juga kan ndak pakai biaya, juga belum tentu, hamilnya mbak Asih karena doaku yang diijabahi Alloh. Jadi ndak usah memintaku makan di sini gratis, kayaknya kok ndak etis, rasanya juga ndak pantas kalau mendoakan minta balasan.” kataku pelan.

“Wah ndak bisa, pokoknya dek Ian harus makan di sini terus…!” kata mbak Asih sama pak Wahyu hampir berbarengan, itu sudah nadar kami…” kata mereka.

“Wah kalau gitu ya susah…” kataku berat.

“Udah kalau kamu ndak mau, biar aku yang gantiin… wong dikasih enak kok ndak mau..” kata Edi bercanda dan menyeretku keluar warung dan berjalan cepat ke arah plaza.

Pagi itu aku dipanggil pak Sugeng, “Ian, kamu dapat kerjaan di toko sepatu bata, mau nggak?” tanya pak Sugeng ketika aku ada di depannya,

“Ya mau aja pak..” jawabku.

“Tapi saratnya kamu musti potong rambut, kamu potong rambutmu yang panjang itu, mau kan?” tanya pak Sugeng lagi sambil melihat rambutku yang panjang sepunggung dan ku ikat ke belakang dengan karet.

“Ah, kalau syaratnya itu ya ndak usah aja la pak.” kataku berat,

“Lho kok gitu, la apa susahnya motong rambut, tinggal bawa ke salon, potong selesai, ndak sakit.” kata pak Sugeng bercanda.

“Ya bukan masalah itu pak, tapi ini ada maksudnya sendiri.” kataku berkilah.

“Maksud sendiri gimana? La kalau kamu potong dan kelihatan rapi, juga pasti tambah ganteng.” kata pak Sugeng ngojok-ojoki,

“Udah lah pak mending gak usah kerja aja aku, dari pada disuruh potong rambut.” jawabku agak ndumel. La kok sarat kok aneh-aneh, walau dalam pikiran wajarku, ya sebenarnya sah saja kalau kerja jadi pelayan toko itu harus rapi.

“Lagian aku juga ndak punya baju yang rapi pak, celana juga se blongsong ini aja, yang udah koyak sana-sini jadi ndak usah lah kalau syaratnya aneh-aneh, nanti dituruti malah saratnya nambah aneh lagi.” kataku membuat alasan.

“Ya udah kalau gitu nanti tak bilangi sama pak Joko, pemilik toko sepatu bata itu..” pak Sugeng berlalu sambil menepuk bahuku, menyuruh kembali ke tempat kerjaku.

“Ian dicari mbak Lina…” kata Edi setelah aku sampai di tempat toko tempat biasa aku nongkrong.

“Lina siapa? Aku ndak kenal.” kataku acuh.

“Itu Lina yang punya butik sebelah sana.., “kata Edi nambahin.

“Ah aku ndak kenal kok, malu ah..” jawabku sambil duduk di kursi dan buat TTS biasa tiap yang jaga toko untuk ngisi waktu luang biasa dipakai ngisi TTS, dan aku juga ikutan keranjingan, kayaknya waktu tak kerasa cepat berlalu kalau dipakai ngisi TTS.

“Kamu yang namanya Febrian?” tanya suara merdu di belakangku.

“Aku pun nengok, dan ku lihat gadis cantik kuning langsat, dengan rambut sebahu, dan aroma wangi bunga menabur, jadi napas sesek aja, dan wajahnya memang cantik banget, nurut ukuran aku yang orang desa, juga kulitnya halus mengkilat, kayak biasa mandi susu, bibirnya tipis dipoles lipstik warna natural, alisnya tertata rapi serasi dengan hidung yang kecil bangir dan mata yang indah lucu. Sebentar aku terpana, ya maklum kayak ngelihat boneka aja, maklum orang desa.

“He-eh, ” jawabku tanpa eksperi. Dia ngulurin tangannya.

“Kenalin aku Lina…” katanya masih dengan suara merdu. Setidaknya merdu menurut telingaku, yang kali aja udah diubek-ubek setan, ku jabat tangannya, hm… halus banget kayak megang meg aja. Kayak ndak kerasa, terus terang bayanganku malah kemana-mana, ya ndak usah munafik, terus terang belum pernah ku jabat tangan sehalus itu, kali ini tangan ndak pernah dipakai kerja, dan di rendam sama henbody semalaman, jadi halus banget, ya itu menurut prasangkaku.

“Yuuk main ke butikku..” katanya tanpa basa-basi, wah kalau diserang langsung tanpa tedeng aling-aling kayak gini aku malah keki.

“Anu.. mbak.. uh.. ak.. aku lagi kerja.. nanti dimarahi pak Sugeng.” kataku mencari alasan sekenanya. Lagian kalau dekat cewek terlalu cantik aku jadi agak kringetan dingin, entah kenapa kok gitu, padahal kalau dekat ama nenek-nenek gak sampai kringetan, ini kalau dekat cewek agak di atas takaran bayanganku tentang cewek cantik jadi kringetan ndak karuan, gupuh, entahlah.

“Udah ndak papa, om Sugeng baik kok sama aku, ndak bakalan apa-apa,” tambahnya memojokkanku.

“Ya udah Yan sana aja…” kata Edi dari jauh dan lagi ngelayani pembeli sepatu. Tapi aku diam aja.

“Ehm.. gimana ya… nanti aja deh aku main ke sana mbak…” kataku, sengaja manggil mbak, supaya ada tercipta jarak.

“Bener lo ya.. nanti main, awas kalau enggak..” katanya sambil berlalu. Aku mantuk aja, sambil pura-pura sibuk menata sepatu.., ampun jadi keki kayak gini serba salah,

Terus terang, kalau dalam itung-itungan kurang tambah, kali bagi, grogiku kepada cewek cantik bukan karena kurang pedenya aku, tapi lebih dititik beratkan pada mimpi yang sama, yang sering mendatangi dalam bawah sadarku, seorang tua berkepala gundul dan berbadan gemuk, dengan wajah wibawanya yang menciutkan nyaliku, orang tua itu selalu mengingatkanku, jangan terlalu banyak bergaul dengan wanita cantik, karena itu godamu yang utama, jangan terjerumus dalam nikmat semu yang tak ada nilainya, yang akan meruntuhkan tingkat yang kau buat. Itu kata orang tua itu, aku paham apa maksudnya tapi aku juga lelaki biasa. Yang ditakdirkan tertarik dengan lawan jenis, dan ketertarikan itu wajar, setidaknya menurut pikiran pembelaan terhadap nafsuku, aku mencari pembenaran atas jawaban pertanyaan di sudut hati setiap lelaki sejati, heh lelaki sejati? Sejati dinilai dari mana? Jiwaku berdebat. Ah ada apa dengan wanita? Kenapa wanita cobaan? Aku bukan orang suci? Ramai tanya jawab dalam hati. Itu dialog syaitan dan malaikat.

Malam itu toko seperti biasa tutup jam sepuluh malam, aku dan dua temanku Edi sama Ikhrom pun berjalan keluar dari plaza, tapi sampai di halaman, sebuah mobil avanza berhenti di depan kami,

“Mbak Lina..” kata Edi pelan di sampingku, memang kaca mobil terbuka, dan muncul seraut wajah ayu, yang sudah bikin aku was-was aja.

“Ayo masuk..!” katanya enteng dan merdu, kami bertiga diam, ndak ada yang nyaut, ya mungkin kami ini orang yang terlalu miskin, jangankan naik mobil mewah, menyentuhnya aja ndak berani, karena mungkin sering melihat mobil mewah yang kalau disentuh terus jadi bunyi tit-tit-tit, ribut banget, jangan-jangan kami sentuh nanti bunyi, itu mungkin pikiran terlalu ndeso ya? Ya setidaknya itu mungkin salah satu pikiran dari 700 pikiran yang melintas di otak kami bertiga, aku dua temanku ini berpikir lain aku juga ndak tau, tapi aku lebih memilih pikiran yang simpel aja, aku tak mau nyari masalah, atau nyari pintu menuju kesuntukan jalan pikiran, nambah beban, mungkin dari orang yang paling berpikir simpel, aku mungkin adalah orang yang paling mencari pikiran yang paling gampang dan paling ndak ada unsur njlimet, bukan takut terbeban dengan pikiran, tapi takut membuang waktu percuma, dan di akhirat nanti setiap tarikan napasku dipertanyakan, lalu aku harus menjelaskan setiap waktu yang aku lewati, ah betapa rumit, dan lamanya. Simpel kan jalan pikiranku, kalau menurut orang lain njlimet ya aku mau bilang apa?

“Ayo…!” kata Lina lagi.

“Kok malah pada bengong.” si Edi garuk-garuk kepala, si Ikhrom ku lirik dlengeh senyum dikit aja, membuka bibirnya yang memang hitam sejak dari sononya, aku mau bergaya apa, juga ndak ingin, juga ku pikir tak ada gunanya, maka aku manyun aja, tersenyum enggak, apalagi garuk-garuk, karena ndak punya alasan untuk menggaruk, la ndak ada yang gatal, terpaksa diam manyun aja, atau tidak terpaksa, tapi memang itu pembawaan orokku, cuwek, ndak perduli, tapi akhirnya kami pun masuk ke dalam mobil juga, ndak tau siapa yang mulai masuk dan tidak tau siapa yang ngasih komando, ya yang jelas kami bertiga sudah ada di dalam mobil, aku sama Ikhrom di jok belakang sementara Edi duduk di depan sama mbak Lina.

Dan mobil pun jalan, ku lihat wajah Ikhrom di sampingku nampak tegang tapi tersungging senyum, tapi aku biasa saja, apa ketegangan yang disemburatkan di wajah Ikhrom ini karena naik mobil mewah ini atau karena naik mobil yang disetiri si cewek cantik dan kaya Lina? Atau karena alasan lain, aku tak bertanya, dan tak ingin bertanya karena itu pasti kan membuatnya tersinggung dan tak nyaman di sampingku, biarlah kami menyimpan alasan masing-masing, sejahat atau sesadis alasan apapun asal masih disimpan di dalam hati kurasa tak membahayakan orang lain, dan masih tak terjangkau hukum dunia manapun, jadi andai Ikhrom punya alasan yang teramat sadis aku tak mau mempertanyakannya, dari pada alasan itu kalau ku tanya jadi keluar dan teramat berbahaya, ah kok aku malah nglantur.

Mobil sudah jalan, mungkin aku tak punya bayangan punya mobil mewah, atau mungkin tak punya keinginan seujung rambut pun untuk naik mobil mewah, malah punya 1 baut aja tak terbayangkan, dan tak termimpikan, jadi aku biasa-biasa naik mobil mewah, ndak geli, ndak kerasa apa-apa, juga tidak enak, malah menurutku enakan tidur molor di kasur yang udah kempir karena kapuknya udah nipis, tidur, dan tidur nunggu pagi.

16 (2)

“Mau kemana nih?” tanya mbak Lina membuka pembicaraan, kayak orang pikun ja, la wong dia yang ngajak kok bertanya, tapi pertanyaan ini jelas bukan pertanyaan orang yang lupa jalan.

“La kemana to mbak, mbak Lina kan yang ngajak kita, ya kita ngikut aja.” ku dengar jawaban Edi, bukan jawaban guru agama atau wakil DPR tapi jawabannya menurutku cukup diplomatis, setidaknya dalam mobil yang lagi jalan ini, karena ndak ada suara lainnya,

“Gimana mas Ian? Kemana kita?” tanya mbak Lina lagi ditujukan ke arahku, tanpa matanya beralih ke jalan.

“Ya kemana aja…, la kok malah tanya, dibawa kemana juga kita ndak bakalan ngelawan.” jawabanku lebih aneh di telinga siapa pun, bahkan di telingaku sendiri, bahkan aku tidak berpikir kalau jawaban itu kayaknya lebih pantas diucapkan oleh orang yang dalam keadaan di sandera,

“Ya udah ke restoran aja ya…?” tanya mbak Lina lagi, aku cuma mendengus, tapi dalam pikirku, la daripada ke restoran mending ke warung bakso, atau ke warung mi ayam, mungkin apa yang ku pikirkan tidak jauh beda amat dengan apa yang dipikirkan oleh Edi atau Ikhrom, ya mengingat pengalamanku sendiri, mungkin juga pengalaman mereka, kalau di restoran itu kebanyakan menjual gengsi aja, kalau enaknya makan ku rasa ndak ngalahin enaknya makan bakso, panas asli, atau mi ayam, habis makan lalu ngrokok, tapi ini kan dalam mobilnya mbak Lina, kayaknya bayangan pentol bakso harus dibuang jauh-jauh, dasar wong aku ini orangnya ndableg, tetep aja aku bertanya.

“La ada baksonya ndak mbak di sana?” tanyaku kayak anak kecil yang ngerasa kawatir dengan sesuatu yang tak didapat.

“Ada kok mas Ian, pingin bakso ya?” tanya mbak Lina sekaligus memberi jawaban atas pertanyaanku, Ikhrom mencolek tanganku, lalu bisiknya,

“Jangan kampungan, bikin malu.” aku cuma mengsem, la orang takut dibilang kampungan, lalu kelaparan karena mempertahankan gengsi yang tak ada isinya, dan tak ada nilainya, setidaknya menurut pandanganku, mending jujur aja, dari pada habis makan nggrundel, karena makanan ndak enak, la kok tidak besyukur itu kok salah satunya muncul dari sikap yang kayak gitu, ndak jujur, jadi yang diperoleh tidak sesuai takaran yang diinginkan, akibatnya nggrundel, kalau dalam hal makanan, ya kok kayaknya saru, nggrundeli makanan yang sudah terlanjur ditelan, tapi aku rasa juga banyak orang yang melakukan hal yang seperti itu, nggrundeli makanan yang sudah di telan, la kayak makanan yang sudah di telan itu mau untuk tabungan aja, atau mau untuk membuat apa gitu, la kok menurut aku keterlaluan banget nggrundeli, makanya kanjeng Nabi nglarang banget nggrundeli makanan yang tak kita sukai, karena makanan itu hanya untuk mencetak kotoran, yang susah-susah kita cetak juga ujung ujungnya dibuang, ndak ada orang yang kotorannya dipajang di lemari sebagai hiasan, walau kotoran itu dari barang yang paling mahal sekalipun, yang harga seporsi mencapai jutaan.

Tak terasa mobil berhenti, dan kami turun semua, ku lihat restoran lumayan mewah, dan kami masuk berendeng di belakang mbak Lina, nampak pelayan restoran juga sudah akrab sekali dengan mbak Lina, menunjukkan mbak Lina sering masuk ke restoran ini, kami bertiga pun duduk mojok kayak orang asing, yah malah kayak tawanan yang telah benar-benar ditaklukkan, mbak Lina yang wira-wiri, milih makanan,

“Kamu mau milih makanan apa mas Yan?” tanyanya padaku, aku diam, ah repot amat, kali aja di sini nama makanan jadi aneh-aneh, la mau makan apa juga jadi repot pesennya, pesennya harus dengan gaya gengsi yang tinggi, mungkin nama bakso juga jadi berubah di sini,

“Mbakso bener ada mbak di sini?” tanyaku, cuma dijawab mantuk oleh mbak Lina, lalu dia pesankan, dan penilaianku ternyata tidak jauh meleset, baksonya ndak enak. Air kuahnya aja dingin, la ini bakso apa sirup? Tapi aku ndak ngedumel ku seropot aja, Ikhrom sama Edi pesen nasi goreng, lah dasar orang kampung di restoran juga tetap pesennya balik-balik nasi goreng.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...