Sang kyai 74 (1)
Aku sendiri, terus terang masih kadang menemukan kebuntuan atas apa yang jelas-jelas ku alami, sehingga mau menceritakan juga selalu timbul tarik ulur, apa ini ku tulis sebagai kisah yang selayaknya dibaca orang lain apa tidak, atau hanya untuk konsumsiku sendiri saja, sering seorang temanku yang misal berbareng denganku, padahal ku beritahu kisah sedikit dari yang ku alami, ujungnya juga akan timbul menghina dalam tanda kutip, penghinaan yang disembunyikan di balik senyum sinis dan kata pedas di telinga dengan apa yang ku alami itu hanyalah buah dari terlalu menghayalnya aku. La padahal aku sendiri juga tak sedang menghayal apa-apa, karena semua juga terjadi sebagaimana terjadi mengalir dengan sewajarnya.
Jadi ini anggap saja aku sedang bermimpi. Jadi kisahku setelah ini adalah mimpi.
Mimpi yang panjang, dan teramat panjang.
Aku bermimpi, mimpi yang amat buruk, mimpi yang orang pun tak mau mendapat mimpi sebagaimana mimpi yang ku alami, karena betapa buruk mimpiku ini, mimpi dihianati muridku sendiri, dan muridku itu lantas membayar banyak dukun santet, yang tak perduli, siang, malam, terus terusan menyerangku dengan ilmu santet, kepada keluargaku, dan juga kepada para muridku yang lain. Jadi ingat guruku yang sudah ogah ogahan menerima murid, karena banyak sekali pengalaman beliau dihianati muridnya, bukan hanya satu dua, tapi sampai ribuan yang menghianatinya. Sementara aku baru satu dua, sudah terasa berat.
Kadang dalam diri juga timbul tak percaya, walau jelas-jelas dihianati, tapi dalam batin, menelisik apa yang ku lakukan ku rasakan tak benar, padahal yang ku lakukan ku rasakan benar-benar saja, juga tak menyalahi agama, dan aturan syariat, kok ya aku dihianati…? Dicari celah juga tak akan ketemu, karena mungkin di mataku sendiri, aku merasa selalu benar, juga belum tentu di mata orang lain.
Kembali ke mimpi malam yang tak habis.
Aku bermimpi, para jin dari segala penjuru bumi datang berduyun-duyun padaku, dari segala penjuru, dari bumi lapis tuju ke bawah, dan dari langit lapis tuju ke atas, dari jin yang tinggal di kayangan, ada yang berbentuk gareng, semar, bahkan kera beraneka kera, bahkan ada yang berbentuk kera putih. Semua berbondong-bondong masuk Islam, atau ingin ku Islamkan.
Suasana jadi masukkan Islam jin. Dan terus datang silih berganti, sementara itu juga serangan para dukun santet juga memberondongku dari segenap penjuru.
Di mimpi, datang juga nabi Sulaiman bin Daud, beliau memberikan cincin gaib di jariku, namanya juga sudah mimpi dan gaib lagi, ya jelas makin gak ada wujudnya, lalu memakaikan aku mahkota, aku pakai saja, karena gaib, aku sendiri tak tau aku ini memakai atau bukan. Jin dari pengikutnya nabi Sulaiman juga berduyun-duyun menghadap padaku, dan masuk Islam, gantian jin dari penguasa seluruh gunung di Jawa, dari gunung semua gunung, dan dari penguasa sungai dan hutan, semua datang bergantian menghadap padaku, untuk minta diIslamkan, sampai akhirnya seluruh Jawa, meluas ke semua gunung, lembah, dan hutan juga kawasan di seluruh Indonesia, lalu meluas sampai ke kawasan seluruh dunia, dan jin penguasa seluruh dunia sampai semua laut. Sampai laut merah dan raja-raja semua jin dari semua dunia datang menyatakan takluk dan siap di bawahku. La kok mimpi kok jadi penguasa segala jin, dan sampai raja diraja jin seluruh dunia yang sudah ada sejak jaman nabi Adam AS, menghadapku, dan siap takluk di bawah perintahku, walah mimpi memang tak ada batasnya. Untung hanya mimpi.
Resmi sudah aku menjadi raja diraja yang dipertuan raja segala jin seluruh dunia, sadar dari mimpi misalkan, ingin jadi hansipnya jin saja aku gak ingin sama sekali apalagi jadi rajanya, pikiranku simpel saja ndak muluk-muluk, hidup tentram dan selalu berkecukupan, untungnya ini hanya mimpi, jadi ya jadi raja jin juga gak ada salahnya.
Bergantian semua raja jin menghadapku, dan jin semua kawasan juga bergantian menghadapku. Akhirnya banyak yang ku tahu nama-nama raja atau ratu jin dari semua kawasan gunung, dan sungai, juga lembah dan daerah.
Mungkin akan ku tulis dari beberapa mimpiku. Dialogku dengan jin, namanya juga mimpi, kali aja dialognya amburadul.
RAJA JIN LAUT MERAH.
“Siapa ini?” tanyaku pada raja jin yang bermahkota yang menghadapku.
“Saya bernama Najwa kyai, saya raja jin di laut merah.”
“Ada apa menghadapku?”
“Saya ingin menakluk pada kyai, sebagai raja segala jin sekarang.” katanya membungkuk.
“Wah kata siapa, saya ini raja segala jin?”
“Semua jin tau itu kyai..”
“Wah itu berlebihan.”
“Tidak kyai sangat tinggi ilmunya, kami tau dan semua membicarakan, ilmu kyai amat tinggi, dan tak satupun jin bisa mengalahkan.”
“Ah itu berlebihan raja Najwa.”
“Sama sekali tidak kyai, kyai sudah mengalahkan kerajaan jin laut selatan yang disegani, nyai Roro Kidul, dan semua pasukannya, hanya kyai hadapi sendirian tanpa ada yang membantu, sedang saya dan pasukan saya saja tak bisa mengalahkan mereka, hanya menghalaunya tak sampai mengalahkan, tapi kyai sanggup menumpas habis trilyunan pasukan mereka, nyai Roro Kidul dan pasukannya, hanya sendirian tanpa bala tentara, sebelumnya saya sendiri membayangkan saja, saya ndak percaya, dan jika saya membayangkan kyai, tentu kyai amatlah pemuda yang besar, dan tinggi, mungkin tubuhnya tembus langit, dan tangannya berjuta-juta, tapi setelah melihat kyai, sungguh membuat saya amat terheran-heran, karena kyai adalah pemuda biasa, sebagaimana pemuda lainnya, sebagaimana manusia lainnya, bahkan kyai kelihatan lemah, tapi ketika aku sendiri mau mencoba menyerang kyai, ternyata kyai menyimpan kekuatan yang tak bisa diukur dengan logika kami bangsa jin, jika semua pasukanku sekalipun ku kerahkan untuk menyerang kyai, sudah pasti kami akan binasa sebagaimana nyai Roro Kidul binasa, maka saya dengan kesungguhan hati, sudilah kyai menerima takluknya saya, dan segenap kerajaan laut merah, juga kalau kyai sudi menerima saya sebagai murid kyai…”
“Wah raja Najwa jangan berlebihan, demi Allah aku ini tak ada kekuatan apa-apanya, dan raja Najwa yang mengunggul-unggulkanku, semua tak ada di diriku, sungguh, aku tak punya apa-apa, apalagi, kalau raja Najwa yang umurnya lebih tua dariku lantas mau menjadikan aku sebagai guru, para nyamuk juga akan ketawa sampai perutnya kesakitan.”
“Sudah tinggi ilmu, masih saja tidak sombong…, mau kan kyai menjadikan aku yang bodoh ini menjadi murid.”
“Heheheh… raja Najwa.. raja Najwa… ya sudah kalau maksa, tapi aku ini siapa saja yang jadi muridku ku wajibkan tunduk dan taat padaku, apa raja Najwa sanggup.”
“Saya siap taat, kalau kyai perlu, silahkan saja panggil saya… silahkan perintahkan pada saya, saya akan siap menjalankan perintah kyai, kapan pun kyai perintahkan, saya dan segenap rakyat jin laut merah, siap menjalankan.”
“Baik kalau begitu…”
Ku lihat raja Najwa bersedih.
“Kenapa murung?” tanyaku, karena melihat raja Najwa murung.
“Maaf kyai, aku ini sekarang sendirian, istriku sudah meninggal.”
“Selain Allah itu pasti mati.”
“Bukan masalah itu kyai.”
“Lalu apa?”
“Istriku meninggal setelah beberapa tahun dia sakit, karena memikirkan anak kami yang hilang, ketika dulu terjadi perang antara laut merah dan laut pantai selatan, saat perang itu anak kami hilang, padahal dia anak satu-satunya kami, yang kami harapkan menjadi pewaris tahta, tapi malah anak itu hilang, dia hilang waktu masih bayi.”
“Ooo begitu rupanya.”
“Iya kami sudah mengusahakan sudah sampai ratusan tahun, pergi ke orang pintar, untuk menemukan anak kami, tapi tetap saja anak kami tak kami temukan, sampai istriku juga akhirnya amat sedihnya jadi akhirnya sakit dan meninggal.”
Tiba-tiba tanganku seperti ada yang menggerakkan, dan mengambil sesuatu. Lalu mulutku, berbicara,
“Apa ini anakmu raja Najwa?”
“Ha, benar kyai… ini anakku, ini pakaian yang dia pakai, juga selimutnya, masih utuh, subhanallah, tak salah kyai memang orang yang sakti…, padahal selama ini saya mengusahakan untuk mencarinya ke segala penjuru, kami tanyakan ke orang-orang pintar dari kalangan kami dan manusia, tapi tak juga ketemu, sedang kyai hanya menggerakkan tangan sedikit, dan anakku sudah ada di tangan kyai…. maha besar Allah yang menciptakan orang-orang yang dianugerahi kelebihan…, terimakasih kyai… terimakasih kyai..” kata raja Najwa sambil mengguguk menangis, dan sujud-sujud di depanku.
“Sudah… sudah… raja Najwa, jangan berlebihan.”
“Ooooh ya Allah… maha agung, terimakasih ya Allah… engkau mengirimkan anakku lewat tangan mulia kekasihmu..”
“Sudah raja Najwa… ini anaknya diberi makan.” kataku sambil memberikan bunga dari alam hayalku.
Dan diterima raja Najwa, lalu diberikan kepada anaknya dan dia terkejut sekali, karena menurutnya anaknya jadi membesar, bisa jalan langsung yang asalnya bayi, dan bisa sebesar ayahnya.
“Ooooh kyai selama aku hidup tak pernah ku lihat keajaiban sedasyad ini, maha besar Allah, tak heran kalau kyai itu jadi raja segala jin, karena kyai punya banyak keajaiban, tak percaya rasa mataku melihat, kyai saya ingin pulang dulu, nanti kalau kyai ingin memanggilku, silahkan saja kyai panggil, saya akan siap diperintah apapun oleh kyai..”
“Ya.. ya.. silahkan raja Najwa.”
Raja Najwa dan anaknya segera pergi.
RAJA JIN BRUNEI DARUSSALAM.
Mimpi masih berlanjut. Suasana tak ada yang aneh dan tak ada yang disertai suasana seram, semua ya biasa saja, tak seperti film hantu, atau horor, tak ada juga musik pengiring.
Seorang raja bermahkota menghadapku. Dia bersimpuh menunduk di depanku.
“Siapa?” tanyaku pelan.
“Hamba, raja dari Brunei Darussalam,”
“Ada keperluan apa?”
“Saya ingin menakluk dan menjadi bawahan kekuasaan kyai..”
“Boleh…, tapi harus menjadi muslim di bawahku.”
“Iya saya siap sedia.”
Lalu ku ajari membaca dua kalimat sahadat.
“Maaf kyai, boleh saya tinggal di sini.”
“Untuk apa, bukannya kamu punya tanggung jawab atas kerajaan jin di Brunei?”
“Iya, tapi saya ingin menjadi murid kyai yang taat, saya melihat semua jin di sini, semua begitu taat, wajah mereka memancarkan cahaya, dan mereka semua ku lihat bahagia, jadi membuat saya ingin bertempat tinggal di sini, bagaimana kyai, saya ingin mengabdikan diri pada kyai…”
“Jangan, kamu kembali saja ke Brunei, pimpin kerajaan jin di sana, sebagai bawahanku, lakukan ibadah yang taat.”
“Tapi kyai… saya cinta kyai… saya ingin mengabdi pada kyai..” kata raja jin Brunei sambil menangis.
Wah, jin kok pada aleman kalau denganku.
“Kan sama saja, kamu di sana juga mengabdi padaku, memajukan Islam di sana juga sama, Islamkan dan sebarkan Islam kyai kepada semua rakyat jin di Brunei.”
“Besar harapan saya selalu dekat dengan kyai… tapi kalau memang kyai menghendaki saya ke Brunei, saya turut perintah.”
Raja jin Brunei segera berlalu pergi setelah meminta ijin sebentar tinggal di sudut majlis, untuk bisa menatapku agak lama, permintaannya kok ya aneh-aneh saja, lalu datang raja jin dari Mesir, dan Arab Saudi. Sampai datang raja segala raja jin yang sudah hidup sejak jaman nabi Adam.
“Siapa ini…?” tanyaku.
“Saya Mohammad Tolkhah, raja segalan jin, dari penjuru bumi, semua jin tunduk kepadaku, karena usiaku di atas nabi Adam.”
“Wah berarti sudah teramat tua sekali.”
“Iya kyai…, tapi ilmuku tak ada seujung kuku dari ilmu kyai.”
“Wah, wah… jangan berlebihan seperti itu, malah aku tak ada ilmunya sama sekali.”
“Sudah ku kira jawaban kyai seperti itu…, kyai saya ingin menjadi bawahan kyai… bolehkan.”
“Ee ee.. raja Tolkhah, bukankah kamu raja segala jin di seluruh dunia, bagaimana mungkin akan menjadi bawahanku.”
“Kekuasaan kyai di atas saya, saya hanya raja jin di dunia, sementara kyai menjadi raja jin tuju lapis bumi, dan tuju lapis langit, sewajarnya kalau saya tunduk dan taat pada kyai, dan kalau boleh saya mohon diangkat kyai menjadi murid kyai..”
“Hahahaha… raja Tolkhah kan jin umurnya yang sudah ratusan juta tahun, bagaimana akan menjadi murid saya yang muda ini, hahahah… nanti semua jin akan mentertawakan.”
“Tak ada jin yang berani mentertawakan kyai…”
“Wah, wah… aku ini orang biasa …”
“Tidak semua jin tau, jin yang mempunyai pandangan jauh, semua tau kyai siapa.”
“Memangnya aku siapa? Aku orang yang ndak punya apa-apa..”
“Saya tak boleh mengungkapkan kyai… yang jelas semua tentara langit tunduk atas perintah kyai.”
“Wah, wah… jangan berlebih lah raja tolkhah..”
“Kyai saya siap diperintah sama kyai, kerajaan saya bersebelahan dengan raja jin Saudi Arabia, dekat di Masjidil Haram, jika kyai ke Makkah, akan kami sanggup dan kami sediakan tempat yang mulia.”
“Tak usah berlebihan, saya hanya manusia biasa.”
“Benar apa kata semua raja jin yang bertemu denganku.”
“Apa kata mereka?”
“Kyai orang yang ilmunya sulit diukur, dan tak tau sampai di mana, sakti, menghadapi dukun jahat, dan menghadapi trilyunan juta milyar keroyokan jin, hanya dihadapi sendirian, tapi semua bisa dikalahkan, dan orangnya selalu merendah, bersahaja..”
“Weslah dipuji setinggi gunung begitu, nanti lalu jatuh sampai hancur…”
“Tidak kyai saya mengatakan apa adanya..”
“Sudah, jangan berlebihan.”
“Silahkan kyai perintahkan apa, akan saya laksanakan, apa perlu, rumah kyai akan saya bawa ke Makkah, dan kyai tinggal di sana..”
“Ah tak usah… di sini saja..”
“Silahkan jika kyai ingin memerintahkanku, silahkan memanggilku.”
“Ya nanti.”
“Baik kyai saya mohon diri.”
Raja segala jin pun segera berlalu.
Mimpi kok ya aneh-aneh, panjang amat kalau diceritakan.
______________________________
Mengislamkan jin, seperti sudah keseharian yang tak aneh, tapi kejadian-kejadian yang ku alami kadang juga membuatku menjadi takut terjerumus ke lembah kesesatan, yang nyata saja sering menipu, dan banyak tipuan di dalamnya, apalagi yang gaib, ketakutan yang ku alami sangat mendasar bagiku, yang memang terus terang tak pernah mengalami kegaiban yang di luar nalar dan logika warasku, ya… ya memang aku sadar sesadar sadarnya, aku ini sama sekali tak memiliki kelebihan apa-apa, tak ada kelebihan kesaktian sebagaimana orang-orang yang mengamalkan ilmu hikmah, jadi ketakutanku pada ketipu apa yang ada di dunia gaib, makin membuatku membutuhkan suatu jawaban setidaknya yang bisa membuatku sedikit tak kawatir lagi.
Dan aku memutuskan untuk menghadap guruku, kyai cilik, bagiku beliaulah yang bisa dimintai solusi, maka ku ajak muridku satu rombongan mobil untuk menghadap guruku, agar permasalahan makin bisa diuraikan dengan jelas pokok permasalahannya.
Sebenarnya awalnya adalah, kejadian banyaknya serangan santet dari segala penjuru, yang ditujukan padaku juga keluargaku, walau aku sendiri sebenarnya telah membaca kejadian yang terjadi, santet juga tak akan berlaku, dan mempan, kalau Allah sendiri tak mengijinkan terjadi, maka kemudian aku memberikan do’a rofitoh kepada muridku, ada beberapa tujuan yang terlintas di hatiku, mengapa memberikan doa rofitoh itu, awalnya karena tau pasti bahwa serangan dari dukun santet segala penjuru itu tak lain adalah maksud Allah untuk menaikkan derajad dan maqomku, rasanya tak afdhol kalau aku meningkat derajad sendiri, tanpa nantinya para muridku ikut naik derajad dan maqomnya, maka solusinya agar ikut terangkat derajadnya adalah dengan memberikan doa rofitoh, yang mana dengan doa itu para muridku akan merasakan akan apa yang ku rasakan, dengan sendirinya, juga akan menaikkan level para muridku, mengikuti levelku, sehingga jika aku nantinya ku ajak membahas masalah rumit, mereka akan tau dan mudah mencerna penjelasan yang ku berikan.
Doa rofitoh pun ku gelar di muridku, dan praktis mereka akan merasakan apa yang ku rasakan, santet yang menyerangku dari segala penjuru, otomatis mereka akan merasakan ujian yang ku rasakan, walau sedikit, setidaknya mereka merasakan, dan terangkat derajatnya. Walau akhirnya ketahuan mana yang benar-benar muridku, dan mana yang bukan, yang hanya orang latah ikut-ikutan jadi murid thoreqoh, mana yang pantas ku jadikan pasukan dan mana yang bukan, ya dengan doa rofithoh itu juga ku kirimkan khodam malaikat yang ku punya untuk menelusur doa yang ditujukan padaku, dan para malaikat itu ku perintahkan mendampingi, sekali dua kali ku pantau, apa mereka sungguh-sungguh atau hanya ikut-ikutan, yang ku lihat kesungguhannya, ku suruh malaikat lebih mendekat, agar mereka dapat merasakan kehadiran malaikat yang datang, dengan aura dingin yang menyelimuti, lalu muridku yang serius ku arahkan untuk mengucapkan salam pada malaikat itu dan juga mengajak kenalan pada mereka, agar mulai kenal pada malaikat, memang mengajari mereka harus pelan-pelan, sabar dan telaten, apalagi mereka tak pernah tau soal khodam malaikat, dan satu dua mulai ada yang kenal, dan mulai menjadi khodamnya, tanpa aku arahkan.
Dan dengan cara extrim pengajaran ini, juga ada efek buruk dan baiknya, namanya juga gaib, pasti banyak tipuan di dalamnya, di antara malaikat yang datang, pasti juga banyak jin yang mengambil kesempatan. di sini juga berguna aku menggeluti dunia jin, dan berbagai persifatan mereka, dan berbagai kebiasaan yang mereka lakukan, aku sudah mengira kalau akan banyak jin yang menyusup pada muridku, yang mengaku malaikat, padahal sebenarnya jin, awalnya ku tahan, dengan cara ku perintahkan jika ada yang datang, salami, tanya siapa, itu hanya trik saja, suruh melihat fotoku, jika jin biasanya akan langsung kabur, jika malaikat akan tak takut padaku, dan menyebutkan siapa aku dengan jelas dan gamblang.
Eee setelah berlalu beberapa minggu, ternyata tak efektif, sebab mereka tetap tak silau melihat wajahku, karena ketika disuruh menatap, dia akan berpaling, dan soal kenal, juga semua jin akan kenal, dan ujung-ujungnya, banyak jin yang tetap bisa merasuk, aku tafakur, bagaimana langkah yang seharusnya ku lakukan, maka aku berinisiatif, udah biarkan saja semua jin masuk, nanti kalau sudah di dalam dimanfaatkan saja untuk membuat lubang di penghubung antara alam gaib dan alam nyata, pikirku kalau mereka masuk, aku juga bisa menariknya dari jauh…. maka muridku pada dirasuki jin semua, karena memang sengaja ku biarkan, agar masuk saja, dan biarkan saja masuk sebanyaknya, secara niat agar mereka bisa membuat tubuh yang dirasuki akan banyak ditemukan lubang.
Ya memang mungkin pelajaran dalam berthoreqoh seperti itu kayaknya tak ada di manapun, mungkin hanya aku yang mengajarkan, kayak ngawur ya? ya memang kelihatannya ngawur, tapi sebenarnya sudah ku susun secara rapi… anak muridku banyak yang dirasuki jin, di mana-mana dirasuki jin, tapi beda dengan anak sekolah kerasukan lo, walau yang merasuk sebanyak jutaan jin, tapi orang yang dirasuki sama sekali tak akan kenapa-napa, ini menurut prediksiku.
Dan ternyata prediksiku agak meleset, walau tak fatal, setidaknya meleset, dan membuatku kebingungan juga ketika itu apa solusi yang harus ku buat selanjutnya, aku sama sekali tak berpikir jauh, walau sudah ku pikirkan jauh sekali kedepan, ternyata tetap saja ada saja yang di luar prediksiku, ya memang tak apa-apa, siapa yang dirasuki jin tak apa-apa, tapi ketika yang merasuk jin yang tingkatannya iblis, aku keteter juga, untuk mengeluarkan mereka, belum lagi pas mengeluarkan ada saja muridku yang kena hasut, lantas berhianat, dan ilmu yang ku berikan lantas dipakai menghianatiku, ini seperti memberi golok pada perampok yang mau merampokku, belum lagi serangan dukun santet, dan para jin dari penjuru bumi, berduyun-duyun berbondong-bondong menyerangku, aku harus jantan, dan sebagai orang yang bertanggung jawab, maka aku menghadapi sendiri ratusan trilyun jin yang menyerangku, ada yang mengaku dari hutan alas purwo Banyuwangi, atau dari Jember, serombongan raja babi ngepet, dan dukun-dukun santet ada ratusan ribu mengeroyokku dari segala penjuru, semua ku hadapi sendiri, langsung saja ku minta berbarengan menyerangku, aneka jin berbentuk raksasa, dan macan, singa, naga, dan juga serangan para dukun menghujaniku dengan serangan bertubi-tubi, aku duduk terdiam, khusuk dalam kepasrahan pada Allah, ribuan trilyun kekuatan Allah didatangkan melingkupi tubuhku, aku mutlak dalam kepasrahan, mati sekarang dan nanti sama saja, asal mati dalam keislaman, dan keteguhan iman.
Pagi, siang, malam, serangan tak henti, jika serangan datang, aku segera duduk atau berdiri, membuka dada, mau mana saja yang mau ditombak, atau ditusuk dengan berbagai macam senjata, nekad? ya memang aku nekad, dengan keyakinan Allah akan menolongku, semingguan, serangan reda juga, ada yang menyerah dan masuk Islam, ada juga yang kembali.
Memang harus aku yang menghadapi sendiri, aku seperti panglima yang sendirian maju ke medan laga, dan memberi contoh, ini lo kalau jadi seorang panglima, harus bertanggung jawab.
Padahal aku sama sekali tak punya kesaktian apa-apa, hanya modal pasrah saja pada Allah, bagiku, jika ajalku tiba nanti, tak akan ada yang mampu memajukan atau memundurkannya.
Serangan berhenti, tapi aku kembali dihadapkan masalah baru, soal jin yang sudah pada merasuk ke tubuh murid-muridku, ternyata banyak sekali murid yang dirasuki, membuatku kelelahan sendiri untuk mengeluarkannya, aku sangat kelelahan dan terkuras habis tenagaku, kadang sampai rasanya, ini nafas terakhirku, nafas sudah putus-putus, karena mengeluarkan banyak jin dari tubuh muridku dari segala penjuru, kadang dalam 1 orang bisa trilyunan jin, walau aku misal kuat mengeluarkan satu sampai sepuluh juta sekali tarik, tetap saja menguras energiku. Belum lagi yang dikeluarkan lantas masuk lagi, wah makin membuatku benar-benar kehabisan akal juga.
Maka aku kemudian mencari solusi yang bisa diambil. Yaitu pergi menghadap pada guruku.
Dan kyaiku memang lantas memberi solusi, tapi beliau sampai terkaget-kaget melihat jin yang ada di dalam 1 muridku, dan alhamdulillah setelah diberi solusi beliau, sedikit banyak permasalahan agar tercairkan. Rupanya yang di luar perhitunganku adalah, ternyata jin itu juga bisa saja mengambil ruh muridku, itu yang sama sekali tak aku ketahui.
Solusi yang sangat aneh dari guruku itu apa, mungkin itu ilmu bagiku, dan bagi orang lain bisa saja menjadi musibah, kata guruku:
“Ikuti saja kata hatimu, kamu itu sudah dibimbing,”
Aku tenger-tenger, bengong dalam hati, tapi otakku lantas bekerja cepat, dan ilmu yang tak terhingga lantas ku dapat dari apa yang disampaikan oleh guruku.
Dari menghadap kepada guruku, lantas aku ke Tuban, sekalian menghadap orang tuaku yang lama tak ku kunjungi, karena sibuk bergelut di duniaku yang baru.
Karena kebanyakan muridku yang ku bawa sudah mempunyai khodam malaikat, dan sudah terbuka mata batinnya, mereka pada ramai di sepanjang perjalanan, karena para jin di sepanjang perjalanan pada berbaris di tepi jalan, menghormat, seperti menyambut presiden yang datang di sepanjang perjalanan, ya di alas roban, ya di mana saja yang banyak jinnya, lalu mereka ada yang terbang, di atas mobil ada yang berlari, ada juga yang berbentuk raksasa pada mengikuti mobil yang ku naiki, dan ada jin yang mau masuk Islam, ada juga jin yang berusaha menyerang, ada juga yang ingin ikut.
Sampai di Tuban, di rumah, langsung saja para jin yang ada di desaku dan sekitarnya pada berbondong-bondong datang ke rumah, ingin diIslamkan, sehingga lagi-lagi ribuan trilyun jin dari penjuru datang minta diIslamkan, belum lagi datang tamu dari manusia biasa yang sakit dan ingin diobati, aku benar-benar tak ada waktu istirahat, maka ku putuskan untuk selekasnya kembali ke Pekalongan melihat tak ada waktu untuk istirahat. Apalagi muridku sering mau ditarik nyawanya oleh jin fasik yang tak rela jin-jin pada masuk Islam.
Alhamdulillah perjalanan kembali ke Pekalongan lancar, dan ilmuku seperti dituang dari langit, dan setiap detik bertambah dan bertambah.
Segala sesuatu aku yakin ada maksud Allah di sebalik kejadian yang terjadi, dan maksud Allah itu pastilah baik, karena sifat Allah itu semua baik.
______________________________
Sepertinya akhir-akhir ini tulisanku kurang ada bumbu kata-kata indah, juga penggambaran alam, dan lingkungan kurang ku bahas, ya karena memang kesibukan kepada bermanja-manja kata memang sekarang sudah tak seperti dulu lagi, waktu sibuk sekali, dan seringnya tak ada waktu menulis. Dan kadang rasa ingin menulis itu makin berat, sebenarnya, butuh seorang penulis yang bisa menuangkan ke dalam nyata, kejadian yang tiap hari terjadi, cenderungnya, kalau ada kejadian lantas, tak segera dituang dalam tulisan itu akan hilang terhapus dari ingatan.
Padahal kejadian-kejadian yang terjadi itu setiap hari terjadi, dan terjadi ya bukan kejadian yang kebanyakan terjadi, jadi aku karena sendiri, seringnya kejadian yang terjadi, momen-momen yang tak akan terjadi lagi itu yang amat penting itu begitu saja dilupakan dari ingatan. Jadi aku terus terang sudah terlalu banyak yang harus aku ceritakan, lantas tak sempat ku ceritakan, lantas kisah itu hanya dilupakan begitu saja, padahal itu amat sarat pelajaran hidup di dalamnya.
Mengislamkan semua raja jin di Jawa.
Semua jin dari tanah Jawa berbondong-bondong menghadapku ingin diIslamkan, suasana tak mistis sama sekali, suasana biasa saja, hanya karena banyak sekali jin yang datang, maka agak serasa merinding, di antara jin yang datang,
Di daerah Maospati yang datang bernama Durgo Neluh dan Raja Baurekso, di Blambangan ada Sang Bolo Batu, di Kedhiri ada Bhuto Locaya, di Giri Pura ada Prabu Jaksa, di Pacitan ada Sida Kare, di Kheduwang ada Klenthingmungil, di Magetan ada Endrayaksa, di Jenggala ada Tunjung Puri, di Prang Muka ada Surabanggi, dan di daerah Panggung ada Aburaduk.
Selanjutnya, di daerah Jipang dikuasai Sapujagad, di Madiun ada Kalasekti, di Ponorogo ada Si Korep, di Majenang ada Trenggiling Wesi, di Grobogan ada Macan Guguh, di Singosari ada Kala Johar, di Srengat ada Baru Kuping, di Blitar ada Kalakathung, di daerah Rawa ada Bhuta Krodha, di Kalangbret ada Sekar Gambir, dan di Lamongan ada Caru Bawor.
Kemudian, di Puspoloyo dikuasai Gurnita, di Kasur Putih ada Si Lengkur, di Blora ada Si Lancur, di Gambiran ada Kolodurgi, di Kedhunggede ada Ni jenggi, di Batang ada Si Klewer. Di Lassem ada Kala Prahara, di Sedayu ada Dhandang Murti, di Candhi ada Widalangking, di Semarang ada Barat Katiga, di Pekalongan ada Guntur Geni, dan di Pemalang ada Ki Sembung Yudha.
Di wilayah Sokawati ada penguasa bernama Suwarda, di daerah Tandhes ada Nyi Ragil, di Suruh ada Jaya lelana, di Kendal ada Gunting Geni, di Kaliwungu ada Gutukapi, di Cincin ada Ki Somaita, di Brebes ada Dhadung Awuk, di Panjang ada Bhuto Salewah, di Mentawis ada Monda-Monda, di Plered ada rajeg Wesi, dan Kuthogede ada Nyai Theatre.
Berikutnya, di daerah Kartosuro ada pemuka lelembut bernama Pragota, di Cirebon ada Setan Kabiri, di Tegalayung ada JuruTaman, di daerah Siluman ada Genowati, di Waringin Putih ada Kemandhang, di Pajajaran ada Si Kareteg, di Betawi ada Sapuregel, dan di Gunung Agung ada Wirasuli Waringin.
Memasuki wilayah Ngawang-awang, anda akan mengenal Kalekah. Lalu di Gunung Merapi ada Parpala, di Tunjung Bang ada Ni Taluki, di Sendhang ada Setan Kowak, di Pamasuhan ada Sapu Angin, di Rangkudan ada Sonodpodo, di Tarisig ada Pandansari, di Wanagiri ada Ki Sadungan, di Pelabuhan ada Duduk Warih, di Pelayangan ada Butho Tukang, dan di Tawang ada Ni Raraamis.
Selanjutnya di wilayah gunung-gunung, antara lain di Gunung Tidar dikuasai Kala Sekti, di Gunung Sindara ada Madu Retno, di Gunung Sumbing ada Jalalela, di Gunung Ngungrungan ada Sidomokti, di Gunung Merbabu ada Terapa, di Gunung Kombang ada Bangsan, di Gunung Kolir ada Prabu Jaksa (lagi / lainnya), dan di Gunung Kendeng ada Aji Dipo.
Di Daerah Argopuro ada Sunan Lawu, di Bayat ada Ki Malangganti, di Toyamas ada Kolo nadah, di Segaluh ada Si Renthil, di Pegunungan ada Ki Wosasih, di Lowanu ada Si Korok, di Gunung Duk ada Genioro, di Parang Tritis ada Mbok Bereng, di Purbalingga ada Drembamoha, di Karang Bolong ada Si Kreta, di Banarawi ada Si Belen, di Jenu ada Karung Kala, di Pengging ada Banjaran Sari, di Dhung Winong ada Andonsari, di Bagelen ada Ki Condrolatu, dan di Gunung Kendalisada ada Khetek Putih.
Menapaki daerah ngayah, ada pemuka lelembut bernama Butho Glemboh. Di Demak ada Rara Denok, di Tuban ada Si Bathilhi, di Talsanga ada Juwalpasal, di Tremas ada Si Kujang, di Trenggalek ada Nyai Kuring, di Cemorosewu ada Si Kuncung, di Benthongan ada Kaladhadung, di daerah Taji ada Asmoro, di Kudus ada Bagus Anom, di Imogiri ada Manglarmungo, di gadhing ada Ki Puspogati, dan di daerah Kartika ada Cucuk Dhandang.
Di Sungai Opak ada Songgabuana, di Pejarakan ada Pak Keyek, di Kali Bening ada Cincinggolong, di Dhahrama ada Korowelang, di Warulandeyan ada pasangan Ki Daruna dan Ni Daruni, di Alas Roban ada Bagus Karang, di Pasujayan ada Udan Riris, di Dalepih ada Wodonongga, di Kadunggarunggung ada Si gadhung, di Karabean ada Citranaya, di Majaraga ada Genapura, di Juwana ada Logenjeng, dan di Rembang ada Bajul Bali.
Menapaki daerah Wirasaba, di sana ada penguasa Si Londir. Di Madura ada Bhuta Carigis, di Matesih ada Jaran Panolih, di Pecangakan ada Si Gober, di Jatisari ada Danapi, di Jatirnalang ada Obarabir, di Lodhaya ada Haryo Tiron, di Pening ada Sarpa Bongsa, di Pesayangan ada Udan Gelap, di Tegil ada Bhuto Gigis, di Grenggeng ada Caping Warih, di Penawangan ada Gutukwatu, dan di Tengger ada Ni Otarwiyah.
Kemudian, di Wiradesa ada Gustigeni, di Penarukan ada Setan Korokan, di Randulawang ada Rara Dungik, di Menthahang ada Retno Pengasih, di Prambanan ada Bhuto Kepala, di Gunung Wilis ada Mbok sampur, di Gunung Gajah Mungkur ada Raden Gelanggangiati, di Tal Pegat ada Si Gedruk, di Ngembel ada Raden Panji, di Pagerwaja ada Raden Kusumoyudho, di Kacangan ada Si Penthul, di Pecabakan ada Dodol Kawit, dan di Jepara ada Si Kunthung.
Di daerah Pati ada Gambir Anom, di Ngremo ada Tambak Suli, di Delanggu ada Yudhapaksa, di Pesisir ada Butho Kala, di Kadilangu ada Si Kecubung, di daerah Jenar ada Nini gelu, di Banjarsari ada Klabang Curing, di Watukura ada Talengkung, di Tal Rukmi ada Si kuris, di Semeru ada Pujongga dan Pujonggi, di Ardi Baita ada bancuri dan Bancuring, serta di Tegal Pat ada Si Bedreg.
Di Subang ada Si Lowar, di Kuwu ada Ondar-Andir, di Comal ada Si Barandang, di Duduk jalmi ada Si Kalunthung, di Tegala Pasir ada Si Jalilung, di Tuntang ada Kala ngadang, di daerah Bocor ada Si Kuru, di Petanahan ada Singanadha , di Cilacap ada Telohbrojo, di Nusabarong ada Burat Wangi, di Singgela ada Ki Nayadipa, dan Weleri ada Si Dulit.
Di wilayah Pring Tulis ada Udan Geni, di Kandang Wesi ada Gendir Diyu, di Kejayan ada Barukin, di Jeruk Legi ada DirGabu, di Nusa Kambangan ada Mahesa Kuda, di Mancingan ada Rara dulek, di Guwa Langse ada Raja Putri, dan di Parang Wedang ada Raden Arya Jeyeng Westhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar