Rabu, 26 Agustus 2020

SANG KYAI -74 (2)

Sang kyai 74 (2)

Untung aku pakai metode, jika jin yang datang belum trilyunan, maka aku belum mau mengislamkan, kecuali sudah berkumpul trilyunan jin, maka satu jin ku minta jadi wakil jin yang lain masuk ke dalam tubuh mediator, sehingga hanya dia yang menirukan secara langsung bacaan sahadat, sehingga proses pengislaman jin cepat dan efektif, dan pengislaman jin lebih tak memakan waktu banyak.

Tak akan semua dialog jin masuk Islam ku tulis, hanya beberapa, untuk kisah saja, sebab hampir semua dialognya sama.

“Siapa ini yang menghadap?” tanyaku.

“Saya ratu Nyai Ganda Sari.” jawabnya dengan logat bahasa Jawa yang kental.

“Nyai Ganda Sari? Yang pernah menyerang kyai itu yang menjadi muridnya Sunan Gunung Jati.”

“Bukan, bukan pak kyai, beda, saya dari keraton Jogyakarta…”

“Ooo pantesan berbicara bahasa Jawa..”

“Nyai ratu, kok dipanggil ratu, apa nyai yang menguasai keraton?”

“Benar sekali kyai, maaf baru bisa menghadap sekarang, karena di keraton sibuk..”

“Ya, ya gak papa..”

“Yang dibawa ada berapa orang?”

“Banyak kyai… semua prajurit jin keraton Jogya…”

“Ooo ya ya… kenal dengan jin yang di Malioboro?”

“Kenal sekali kyai… itu sekarang kok yang dilagukan bukan lagi gending Jawa.”

“Lhoh apa yang dilagukan?” tanyaku heran.

“Yang dilagukan ayat-ayat qur’an, saya sempat heran, lalu saya tanya, apa yang dibaca kok sejuk didengar,”

“Jawabnya ayat qur’an, pak kyai yang mengajari, mendengar itu saya ingin sekali sowan ke sini, tapi saya ndak berani…”

“Wah kenapa ndak berani…?”

“Kyai orang besar saya hanya penguasa kerajaan kecil… tak pantas menghadap kyai..”

“Walah-walah, saya orang biasa nyai…”

“Ndak kyai… saya saja ndak berani melihat kyai..”

“Lhoh kenapa..”

“Saya silau kyai..”

“Di seluruh tubuh kyai banyak sekali malaikatnya..”

“Nyai Ganda Sari sudah Islam?”

“Hehehe, sudah kyai, tapi Islam Islaman…”

“Ya ndak papa… nanti diIslamkan lagi, oh ya kalau penguasa keraton Solo, namanya siapa?”

“Itu ki Ajeng…”

“Apa dia tak ikut menghadap?”

“Dia juga takut menghadap pak kyai…”

“Walah kok pada takut to.., coba panggil sekalian dia menghadap.”

Maka dipanggilah ki Ajeng…

Dan tanpa banyak kata keduanya beserta pengikutnya ku Islamkan. Dan ku minta supaya kembali ke kerajaan masing-masing.

______________________________

Datang berbondong-bondong jin dari Ujung Kulon…

“Siapa ini?” tanyaku.

“Kami dari Ujung Kulon kyai….”

“Wah banyak juga…”

“Kalau di Ujung Kulon, sering melihat kyai kalau ke Banten.”

“Sering sekali kyai… tapi kami tak berani menyapa…”

“Kenal sama nyai Mayang Sari… penguasa laut Ujung Kulon?”

“Kenal kyai, belau baik, kami bersahabat.”

“Apa dia tak ikut hadir?”

“Tidak kyai… beliau tak berani menghadap kalau tidak dipanggil kyai.”

“Ooo coba panggil kesini, diperintah menghadap kyai.”

Nyai Mayang Sari sebentar kemudian sudah datang… dan ku minta masuk saja ke mediator.

“Ini benar, nyai Mayang Sari.. penguasa laut Ujung Kulon,”

“Benar sekali kyai… saya nyai Mayang Sari.”

“Nyai Mayang Sari sudah Islam..”

“Alhamdulillah sudah kyai, tapi kalau boleh saya ingin masuk lagi ke Islamnya kyai, dan menjadi muridnya kyai, boleh kan kyai…?”

“Boleh saja… mari tirukan saya mengislamkan.”

Lalu ku tuntun para jin dari Ujung Kulon dan nyai Mayang Sari untuk masuk Islam. Setelah ku Islamkan lalu ku perintah untuk kembali ke wilayah masing-masing.

______________________________

Ada tamu dari Bojonegoro, daerah Padangan. Jadi ingat Bengawan Solo… sering banjir… ku panggil jin penguasa Bengawan Solo menghadap.

“Assalamualaikum wr.wb…”

“Wah sudah Islam ya… ini jin penguasa Bengawan Solo?”

“Benar kyai… ada apa kyai memanggilku..”

“Mau kamu menjadi pengikutku?”

“Mau sekali kyai…”

“Ku lihat kok Bengawan Solo itu sering banjir…? Bagaimana itu?”

“Maaf kyai… beribu maaf, karena di sana sering diserang jin lain yang sering ingin menguasai sehingga aliran Bengawan kadang sampai berbalik…”

“Kok bisa begitu..?”

“Ya begitulah kyai….”

“Sekarang masuk Islam dahulu… nanti ku beri senjata untuk mempertahankan Bengawan Solo dari serangan..”

“Terimakasih kyai..”

Lalu dia masuk Islam menganut Islamku. Setelah ku ajari dua kalimat sahadat dan ku beri ilmu cara menjalankan ibadah yang benar lalu kami bicara lagi.

“Saya dulu juga menyebrangi Bengawan Solo yang di daerah Padangan, ingat?”

“Ingat kyai… itu kemaren kyai…”

“Kok kemaren?”

“Ya tahun 94 di jaman manusia itu di kami seperti kemaren saja…”

“Ooo begitu…”

“Ya kyai…”

“Bisa tidak Bengawan Solo itu diperdalam, biar gak meluap, tanahnya di perdalam?”

“InsaAllah bisa kyai..”

“Nah lakukan itu…”

“Baik kyai, kami taat menjalankan perintah.”

Lalu penguasa Bengawan Solo mau segera pergi untuk menjalankan apa yang ku perintahkan.

_______________________________

Yang ku lakukan itu bukan apa-apa, juga tak bernilai apa-apa, efektif atau tidaknya juga aku belum tau, semua masih belum bisa dipastikan apa hasilnya.

Ada kabar dari gunung merapi. Semenjak penguasa gunung merapi ku lempar ke neraka, aku sampai lupa menempatkan penguasa baru sebagai ganti penguasa lama yang sudah tak ada… dan akhirnya timbul banyak perebutan kekuasaan di alam jin memperebutkan kekuasaan di gunung merapi, karena kesibukan, aku sampai lupa pada keadaan di gunung merapi, sampai ada orang yang dibawa ke rumahku oleh muridku yang mengalami dikuasai jin, dan tubuhnya sudah berubah menjadi seperti warna debu.

Setelah dihadapkan padaku, maka aku mediumisasi jin yang ada di dalamnya.

“Maaf kyai…”

“Siapa ini?”

“Aku ki Joko..”

“Ki Joko dari mana kok di dalam tubuh anak ini?”

“Aku dari merapi kyai…”

“Kok di dalam tubuh anak ini…”

“Ya kan dia rumahnya dekat merapi.”

“Maksudku kenapa ki Joko masuk ke dalam dia.”

“Ampun beribu ampun kyai, apa kyai tak tau..”

“Tau apa..?”

“Setelah kyai melempar ki Semar ke neraka, gunung merapi tak ada penguasanya, maka antara kami bangsa jin sering terjadi perebutan kekuasaan, kami sering berperang antara para jin sendiri, ingin menguasai tlatah merapi..”

“Wah ada kayak begitu..”

“Makanya saya masuk ke dalam tubuhnya anak ini, dan juga teman-teman saya, karena saya melarikan diri dari serangan, maaf kyai, saya juga takut mati, di merapi banyak sekali jin yang saling bunuh membunuh.”

“Wah kok bisa begitu…” aku tertegun memikirkan kejadian itu.

“Ki Joko…”

“Dalem kyai..”

“Kamu saja yang jadi penguasa merapi, apa kamu mau?”

“Waduh kyai, la wong saya masih kecil kyai, saya lemah, yang lain saja….”

“Kamu menjadi besar..”

“Waduh kyai tubuhku membesar, bagaimana ini kyai.”

“Nah kamu sudah besar kan…?”

“Ya kyai… tapi… saya ndak punya ilmu apa-apa, bagaimana kalau saya diserang?”

“Kamu masuk Islam dulu, nanti ku beri senjata..”

“Wah terima kasih kyai… di negara kami, kyai terkenal sakti, pasti banyak sekali senjata.”

Lalu ki Joko membaca dua kalimat sahadat, dan masuk Islam.

Semoga dia bisa menjalankan amanah yang ku berikan.

Dunia gaib, mungkin hanya hayal atau bukan nyata di mata orang awam, tapi sebenarnya juga apa yang terjadi di dunia gaib itu mempengaruhi kejadian-kejaidan yang terjadi di dunia nyata.

Sebenarnya kalau orang mau berpikiran logis dan jauh kedepan dan jauh ke belakang, maka akan mempunyai kesimpulan yang akurat tentang kejadian yang terjadi. Mungkin masih belum ngeh dengan maksud dari apa yang ku tulis.

Begini, manusia itu di jaman diciptakan oleh Allah, ada kisah bersama iblis, Ibnu Katsier dan penafsir lainnya menulis bahwa Azazil nama asli iblis adalah seorang Malaikat yang rupawan dengan memiliki empat sayap, bahkan menjadi Sayyidul Malaaikat sebagai pemimpin malaikat KARUBIYYIN dan juga mendapat tugas sebagai Khoziin al-Jannah (Bendaharawan sorga) selama beberapa puluh ribu tahun sebelum membangkang kepada Allah (Hadist riwayat Ibnu Abbas dari Muhammad bin Ishaq, dari Kholad, dari Ibnu ‘Atho’, dari Thowus, dan dari beberapa hadist yang lain). Namun kalau dihadapkan pada ayat: “Laa ya’shuunalloha maa amarohum wayaf’aluuna maa yu’marun ..” = “.. dan para malaikat itu tidak akan mendurhakai Allah dan mereka akan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan … “. (At-Tahrim 6), maka IJAJIL ini mungkin hanya hidup dekat dengan para malaikat tapi ia sendiri BUKAN MALAIKAT, namun level ibadahnya setara dengan malaikat, seperti JIBRIL, Izrail, Isrofil, MIKAIL dll. Dan ini sesuai dengan pernyataan Iblis sendiri: “Kholaqtanii min naar” = “Engkau Ciptakan aku dari api …”, sedangkan kita tahu para malaikat itu diciptakan dari NUR, bukan dari api.

Dalam ayat lain disebutkan: “Kaana minal Jinn” = Iblis itu bagian dari bangsa Jin …” (Al-Kahfi 51) Demikian juga mereka berkeluarga dan punya anak turun temurun seperti IFRIT-Naml 39), sebagaimana disampaikan oleh Imam Mujahid dan Qotadah: “Innahum yatawalladuuna kama yatawalladu banuu Adam” – tidak sebagaimana malaikat yang tidak beranak tidak beristri. (Al-Khoziin / Al-Baghowi III-1/212 – 216 / Surat Al-Kahfi 50).

Namanya berubah menjadi Iblis



Ketika Allah menciptakan Adam AS sebagai calon kholifah di bumi dan memerintahkan seluruh malaikat untuk SUJUD HORMAT (bukan sujud menyembah) kepada Adam yang telah diberikan beberapa kelebihan ilmu, maka seluruh malaikat pun bersujud, menghormat Adam, kecuali IJAJIL, karena dipengaruhi oleh karakter aslinya, yakni: DENGKI (hasad) dan SOMBONG (takabbur). Dia menolak karena Adam hanyalah makhluq yang diciptakan dari tanah, sedang dia diciptakan dari api. “Abaa wastakbaro wakaana minal kaafiriin = Dia menolak dan menyombongkan diri, maka dia termasuk kedalam kelompok mereka-mereka yang kafir.” (Al-Baqoroh 34).
Maka sejak pembangkangan dan kesombongannya itu runtuhlah kemuliaan dan ketinggian namanya (Ibrani: Aza = Izzah = mulia , El = Eli = Allah ==> Azazil = makhluk yang dimuliakan Allah). Rupanya pun berubah buruk menakutkan dan sebutan panggilannya diganti oleh Allah menjadi IBLIS laknatullah, dari kalimat yang artinya adalah “terputus dari rahmat Allah”.

Maka siapapun, bahkan termasuk makhluq yang pada awalnya mulia seperti Ijajil yang amaliyahnya setara atau bahkan mengungguli amaliyah para malaikat, ketika dia melakukan dua hal tersebut diatas, yakni: 1 – Abaa (membangkang), dan 2 – Istakbaro (pembangkangannya dilakukan karena kesombongan hatinya), maka akan jatuhlah ia pada kekafiran.

Iblis, bapak segala setan, hidup sampai akhir zaman.

Karena pembangkangannya, maka Allah pun melaknatinya dan mengancam siapapun yang ikut membangkang bersama dia dengan firman Nya: “Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan segala orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (Shood 85).

Karena ia menganggap kemuliaannya runtuh gara-gara Adam, iapun mendendam dan bersumpah akan menggoda dan merayu Adam dan seluruh keturunannya, kecuali mereka-mereka yang hatinya bersih dan ikhlas. (Shod 83).

“Maka segala godaan dan rayuan tak akan mempan menghadapi orang-orang yang hati dan jiwanya bersih. Untuk melampiaskan dendamnya, ia memohon kepada Allah agar kematiannya ditunda sampai hari kiamat, iapun memohon:

“Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” (Al-Hijr 36 / Shod 79).

Allah mengabulkan permintaan Iblis tersebut dengan firman Nya:

“Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan (ajalnya). Sampai waktu yang telah dimaklumi (yakni hari kiamat).” QS. Shod 80 – 81.

Demikianlah, Iblis dan segala zuriyatnya tak akan mati dan terus beranak pinak sampai hari kiamat tiba, dan terus menerus tanpa kenal lelah akan menggoda dan merayu zurriyyat Adam.

Jangan mengira kalau iblis itu ciptaan Allah yang buruk, dahulu kala, ribuan tahun jauh sebelum manusia diciptakan. Setelah Lauhful Mahfudz, bumi, langit, surga, neraka diciptakan. Saat dimana malaikat dan iblis hidup berdampingan, dalam damai. Saat itu Iblis adalah bagian dari malaikat. Wajahnya sangat tampan, sayapnya hitam berkilau, perangainya sangat baik, cerdas, rajin, sopan, juga sangat taat kepada Allah. Selalu beribadah dengan penuh keikhlasan, karena ketaatannya Iblis pun menjadi makhluk kesayangan Allah saat itu. Tak hanya Allah saja, para Malaikat di Bumi, Langit, dan Arsh pun sangat menyayangi dan menghormatinya. Iblis sangat pandai, dengan kepandaiannya itu tidak membuat dirinya sombong, dan dia tetap rajin belajar di Perpustakaan Langit. Semua malaikat tahu bahwa tak sembarang Malaikat yang diizinkan untuk ikut membaca Kitab Lauhful Mahfudz, Iblis pernah memiliki izin khusus tersebut.

Dalam sebuah kitab disebutkan, karena berbagai keistimewaannya, Allah dan para malaikat memberinya Laqob (julukan, panggilan kehormatan) sampai tujuh nama yaitu, “Al-Abid”, “Az-Zahid”, “Al-Arif billah”, “Al-Wali” , “At-Taqin”, “Al-Khodim”, “Al-Wira’i” (Ikhlas). Malaikat di Langit Pertama lebih suka memanggilnya dengan nama “Al-Abid”, yang berarti Hamba Allah. Meskipun semua makhluk pada dasarnya adalah Abid (Hamba Allah), tapi saat itu hanya Iblis yang menyandang gelar “Al-Abid”, hamba kepercayaan Allah yang paling taat.

Malaikat di Langit Ke-Dua memanggilnya dengan sebutan “Al-Zahid”, makhluk yang paling Zuhud. Waktu telah membuktikan, selama 80.000 tahun sejak penciptaannya Iblis bersama para malaikat terus menerus thowaf di Baitul Makmur, Ka’bah yang ada di langit. Setelah itu, selama 40.000 tahun lamanya Iblis menjabat menjadi Pemimpin Malaikat di Surga. Kemudian Iblis mengundurkan diri dari jabatannya dan menjadi Penasehat selama 20.000 tahun. Iblis juga pernah beribadah bersama para Malaikat Arsh selama 100.000 tahun, padahal kita tahu bahwa hanya malaikat tingkat tinggi saja yang bisa naik ke Arsh Allah. Tak hanya itu, Iblis juga pernah beribadah dan berkumpul bersama Malaikat Karobiyin dan Malaikat Rohaniyin masing-masing selama 100.000 tahun. Hal itu tidak menyebabkan Iblis menjadi sombong, hatinya benar-benar tulus dan ikhlas beribadah kepada Allah.

Malaikat Langit ke-Tiga sepakat memanggilnya “Al-Arif Billah”. Karena kedekatannya dengan Allah, Malaikat Langit ke-Empat memanggilnya “Al-Wali”, kekasih Allah. Bila Allah memanggil “Ya Waliy” (Wahai Kekasihku), tak ada satupun makhluk yang berani menjawab kecuali Iblis, karena mereka tahu hanya Iblis lah yang dimaksud. Saat itu, tak ada satupun makhluk yang lebih dekat posisinya dengan Allah kecuali Iblis.

Ketakwaannya pada Allah yang luar biasa membuatnya mendapat gelar “At-Taqin”, Sang Ahli Taat. Karena tak ada satupun perintah Allah yang tidak dilaksanakannya. Tak ada satupun dosa yang pernah dilakukannya. Tak ada satu pun hal yang dilakukannya kecuali dengan izin Allah. Sehingga Malaikat Langit ke-Enam memanggilnya dengan sebutan “Al-Khodim”, Sang Pelayan-Kepercayaan Allah. Malaikat Langit ke Tujuh pun tak mau kalah dan memanggil Iblis dengan sebutan “Al-Wira’i”, Makhluk yang Paling Wira’i.

Begitu setia dan percayanya Iblis kepada Allah, tak ada apapun yang dapat membuatnya mengkhianati Allah. Tak ada yang dia sembah selain Allah. Tak ada yang dapat menggantikan posisi Allah di hatinya.

Hingga saat diciptakannya Adam, semua malaikat protes kepada Allah. “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau ciptakan makhluk yang hanya akan mengakibatkan pertumpahan darah di bumi?”. Iblis dengan kearifan dan ketaatannya hanya diam.

Allah menjawab, “Aku lebih tahu, dan Engkau tak tahu.”

Para malaikatpun akhirnya menyadari kesalahannya dan minta maaf.

Allah menciptakan Adam dari tanah dan meniupkan Ruh-Nya agar tanah itu hidup. Kemudian Allah memerintahkan kepada para malaikatnya untuk bersujud kepada Adam (bukan sujud untuk menyembah tetapi sujud penghormatan). Para malaikat pun patuh dan sujud kepada Adam. Hanya satu malaikat yang enggan sujud kepada Adam, yaitu Iblis. Malaikat bersayap hitam itu tetap berdiri tegak, hatinya galau. Dengan ketaatan dan kesetiaannya, dia ingin tetap menjaga hatinya bahwa tak ada Tuhan selain Allah, Tak ada sesuatu yang pantas disembah kecuali Allah, Tak ada apapun yang pantas dihormati selain Allah, karena pada dasarnya semua itu adalah ciptaan Allah. Jika dia harus mengakui kebesaran Allah karena menciptakan makhluk sehebat Adam, maka Allah lah yang patut tuk disembah, bukan Adam. Hatinya ingin memberontak, “wahai kekasihku, Tuan-ku, begitu teganya dirimu menyuruhku untuk menyembah kepada sesama makhluk?!”.

Melihat hal itu, Allah pun bertanya kepada Iblis, “Mengapa engkau tidak sujud, wahai Iblis? Bukankah biasanya engkau adalah makhlukku yang paling taat. Tak biasanya kau mengabaikan perintahku. Apa gerangan yang membuatmu diam?”

Dengan penuh kerendahan hati dan sikap hormat, Iblis pun menjawab “Engkau ciptakan aku dari Api dan Adam dari tanah,” maksudnya, kita kan sama-sama makhlukMu ya Allah. Maafkan aku Ya Allah, di hatiku tak ada yang pantas disembah selain Engkau ya Allah. Bagaimana bisa Allah lebih memuliakan Adam yang baru saja dibuat dari kami yang telah lama taat?

(Secara pribadi, mana ada sih kantor, mantan presiden yang mau melayankan diri kepada seorang “bocah wingi sore”? Wajar bila Iblis gak mau sujud kepada Adam.)

Iblis dalam hatinya bertanya, Ya Allah, salahkah bila aku cemburu pada Adam karena Engkau lebih menyayangi Adam. Padahal Iblis tahu bahwa manusia bukanlah makhluk yang kuat. Manusia adalah makhluk yang sangat lemah di mata Iblis. Iblis pun merasa bahwa makhluk selemah Adam tak pantas untuk dihormati atau mendapat kehormatan seperti itu.

Tak salah Iblis menjawab demikian, karena kedekatannya dengan Allah. Sementara para malaikat hanya bisa terdiam, terkejut menyaksikan hal itu. Baru kali ini Iblis yang begitu taat berani menentang Allah. Yah walau tidak sepenuhnya menentang sih. Hanya satu perintah saja. Namun, agaknya hal itu cukup membuat murka Allah. Dengan bijaksana, Allah pun memerintahkan Iblis untuk kembali ke asalnya yaitu Neraka. Mencabut semua kehormatan dan hak prerogatif Iblis.

Melihat hal itu, para malaikat serempak memohonkan ampun untuk Iblis. Namun, Iblis dengan lapang dada dan sabar tetap menerima keputusan Allah.

Rasa penasarannya kepada manusia membuatnya berani tuk memohon ijin kepada Allah untuk menggoda manusia, karena semua yang dilakukannya selalu dengan izin pada Allah. Wahai Adam mari kita buktikan, benarkah engkau memang layak untuk ku hormati? Benarkah engkau memang pantas untuk diistimewakan oleh Allah?

Allah pun mengerti akan rasa penasaran Iblis dan mengijinkan Iblis untuk menguji Adam beserta keturunannya.

Karena Iblis tahu bahwa Allah memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Iblis juga tahu bahwa Allah Maha Adil. Hanya Allah yang mengetahui segala kebenaran. Dan Iblis tetap mempertahankan kebenaran yang dia yakini.

Untung iblis itu hanya menggoda iman, bukan minta ijin pada Allah untuk menyerang dan menaklukkan manusia dengan serangan nyata, kalau saja waktu itu iblis meminta Allah untuk diberi ijin menyerang manusia maka manusia akan kalah melawan iblis, karena iblis itu hanya meminta ijin menggoda, menguji dengan ujian, lantas karena hanya menguji dan menggoda, iblis lalu tak berdaya apa-apa, dan mengapa-apakan manusia, dia akhirnya tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menggoda saja, dan merancang aneka godaan, tentu saja iblis yang cerdas tak begitu saja menyerah, dia lalu menggoda manusia untuk mengganggu manusia yang lain, meniupkan rasa iri dan dengki, menggoda jin juga yang lebih punya daya pada manusia untuk bisa di godanya untuk menggoda manusia dengan merasukinya, dan iblis memberi hadiah keilmuan kepada jin atau manusia yang mau bersekutu dengannya.


Dari situlah timbul masalah, penyakit atau apa juga yang menimpa manusia sebenarnya kalau ditelusuri itu adalah ulah iblis, dan Allah memberi ijin pada iblis untuk melakukan itu, seperti terjadi kejadian medis atau kejadian alam sebenarnya kalau orang mau menelusuri asal kejadian akan ditemukan kenyataan hakikat kejadian, ada penyakit di diri manusia, dan ada sebab musababnya, sering kali manusia hanya menghilangkan efeknya, dan mengobati boroknya, dan sebab borok itu terjadi sama sekali tak diobati, sering menebang pohon, tapi akar dari pohon itu tak dicabut.

Entah kejadian alam, atau kejadian sakit di tubuh, jika ditelusuri dengan akal yang cerdas, bahkan jika manusia itu dibukakan asli kejadian, ya akan kembali pada penciptaan Adam, seperti gunung berapi saja, jika orang itu tau, sebenarnya ada para jin yang menyalakan kompor atau perapian besar di bawah tanah, logika saja, apa ada barang yang bisa terbakar, kalau tanpa pencampuran bahan bakar yang tepat, manusia saja kalau mau menyalakan kompor, harus ada gas, harus gasnya disimpen dalam tabung gas, ada selang dan lain-lain, sampai kompor bisa menyala, kalau gas habis juga tak akan menyala lagi itu kompor, jadi itu yang terjadi sebagaimana kenapa kejadian alam itu terjadi, tak bisa terjadi dengan sendirinya, di alam ini Allah telah menentukan hukum, sarat sareat, sebab akibat, dan manusia menggali sunnatulloh itu, menggali aturan atau sarat dan sareatnya, ada unsur, namanya sarat, dan ada perbuatan menyatukan unsur dengan ramuan yang pas, sehingga memperoleh hasil yang diharapkan, semua mobil, pesawat, makan, minum, dan apa saja, itu memadukan unsur alam, dengan paduan yang tepat, sehingga dihasilkan apa yang di inginkan, pesawat bisa terbang, mobil bisa jalan, makanan asin karena kebanyakan garam, memadukan unsur dengan tepat itu namanya sareat, tujuan dicapainya tujuan pengambilan sarat, atau benda, atau perbuatan, dan memadukan lalu tujuan yang akan dicapai itu namanya hakikat, dan menjalankan semua sampai dari adanya sarat, sareat, hakekat, dijalankan di satu perbuatan itu namanya tarekat.

Senin, 24 Agustus 2020

SANG KYAI -74 (1)

Sang kyai 74 (1) 

Aku sendiri, terus terang masih kadang menemukan kebuntuan atas apa yang jelas-jelas ku alami, sehingga mau menceritakan juga selalu timbul tarik ulur, apa ini ku tulis sebagai kisah yang selayaknya dibaca orang lain apa tidak, atau hanya untuk konsumsiku sendiri saja, sering seorang temanku yang misal berbareng denganku, padahal ku beritahu kisah sedikit dari yang ku alami, ujungnya juga akan timbul menghina dalam tanda kutip, penghinaan yang disembunyikan di balik senyum sinis dan kata pedas di telinga dengan apa yang ku alami itu hanyalah buah dari terlalu menghayalnya aku. La padahal aku sendiri juga tak sedang menghayal apa-apa, karena semua juga terjadi sebagaimana terjadi mengalir dengan sewajarnya.

Jadi ini anggap saja aku sedang bermimpi. Jadi kisahku setelah ini adalah mimpi.

Mimpi yang panjang, dan teramat panjang.

Aku bermimpi, mimpi yang amat buruk, mimpi yang orang pun tak mau mendapat mimpi sebagaimana mimpi yang ku alami, karena betapa buruk mimpiku ini, mimpi dihianati muridku sendiri, dan muridku itu lantas membayar banyak dukun santet, yang tak perduli, siang, malam, terus terusan menyerangku dengan ilmu santet, kepada keluargaku, dan juga kepada para muridku yang lain. Jadi ingat guruku yang sudah ogah ogahan menerima murid, karena banyak sekali pengalaman beliau dihianati muridnya, bukan hanya satu dua, tapi sampai ribuan yang menghianatinya. Sementara aku baru satu dua, sudah terasa berat.

Kadang dalam diri juga timbul tak percaya, walau jelas-jelas dihianati, tapi dalam batin, menelisik apa yang ku lakukan ku rasakan tak benar, padahal yang ku lakukan ku rasakan benar-benar saja, juga tak menyalahi agama, dan aturan syariat, kok ya aku dihianati…? Dicari celah juga tak akan ketemu, karena mungkin di mataku sendiri, aku merasa selalu benar, juga belum tentu di mata orang lain.

Kembali ke mimpi malam yang tak habis.

Aku bermimpi, para jin dari segala penjuru bumi datang berduyun-duyun padaku, dari segala penjuru, dari bumi lapis tuju ke bawah, dan dari langit lapis tuju ke atas, dari jin yang tinggal di kayangan, ada yang berbentuk gareng, semar, bahkan kera beraneka kera, bahkan ada yang berbentuk kera putih. Semua berbondong-bondong masuk Islam, atau ingin ku Islamkan.

Suasana jadi masukkan Islam jin. Dan terus datang silih berganti, sementara itu juga serangan para dukun santet juga memberondongku dari segenap penjuru.

Di mimpi, datang juga nabi Sulaiman bin Daud, beliau memberikan cincin gaib di jariku, namanya juga sudah mimpi dan gaib lagi, ya jelas makin gak ada wujudnya, lalu memakaikan aku mahkota, aku pakai saja, karena gaib, aku sendiri tak tau aku ini memakai atau bukan. Jin dari pengikutnya nabi Sulaiman juga berduyun-duyun menghadap padaku, dan masuk Islam, gantian jin dari penguasa seluruh gunung di Jawa, dari gunung semua gunung, dan dari penguasa sungai dan hutan, semua datang bergantian menghadap padaku, untuk minta diIslamkan, sampai akhirnya seluruh Jawa, meluas ke semua gunung, lembah, dan hutan juga kawasan di seluruh Indonesia, lalu meluas sampai ke kawasan seluruh dunia, dan jin penguasa seluruh dunia sampai semua laut. Sampai laut merah dan raja-raja semua jin dari semua dunia datang menyatakan takluk dan siap di bawahku. La kok mimpi kok jadi penguasa segala jin, dan sampai raja diraja jin seluruh dunia yang sudah ada sejak jaman nabi Adam AS, menghadapku, dan siap takluk di bawah perintahku, walah mimpi memang tak ada batasnya. Untung hanya mimpi.

Resmi sudah aku menjadi raja diraja yang dipertuan raja segala jin seluruh dunia, sadar dari mimpi misalkan, ingin jadi hansipnya jin saja aku gak ingin sama sekali apalagi jadi rajanya, pikiranku simpel saja ndak muluk-muluk, hidup tentram dan selalu berkecukupan, untungnya ini hanya mimpi, jadi ya jadi raja jin juga gak ada salahnya.

Bergantian semua raja jin menghadapku, dan jin semua kawasan juga bergantian menghadapku. Akhirnya banyak yang ku tahu nama-nama raja atau ratu jin dari semua kawasan gunung, dan sungai, juga lembah dan daerah.

Mungkin akan ku tulis dari beberapa mimpiku. Dialogku dengan jin, namanya juga mimpi, kali aja dialognya amburadul.

RAJA JIN LAUT MERAH.

“Siapa ini?” tanyaku pada raja jin yang bermahkota yang menghadapku.

“Saya bernama Najwa kyai, saya raja jin di laut merah.”

“Ada apa menghadapku?”

“Saya ingin menakluk pada kyai, sebagai raja segala jin sekarang.” katanya membungkuk.

“Wah kata siapa, saya ini raja segala jin?”

“Semua jin tau itu kyai..”

“Wah itu berlebihan.”

“Tidak kyai sangat tinggi ilmunya, kami tau dan semua membicarakan, ilmu kyai amat tinggi, dan tak satupun jin bisa mengalahkan.”

“Ah itu berlebihan raja Najwa.”

“Sama sekali tidak kyai, kyai sudah mengalahkan kerajaan jin laut selatan yang disegani, nyai Roro Kidul, dan semua pasukannya, hanya kyai hadapi sendirian tanpa ada yang membantu, sedang saya dan pasukan saya saja tak bisa mengalahkan mereka, hanya menghalaunya tak sampai mengalahkan, tapi kyai sanggup menumpas habis trilyunan pasukan mereka, nyai Roro Kidul dan pasukannya, hanya sendirian tanpa bala tentara, sebelumnya saya sendiri membayangkan saja, saya ndak percaya, dan jika saya membayangkan kyai, tentu kyai amatlah pemuda yang besar, dan tinggi, mungkin tubuhnya tembus langit, dan tangannya berjuta-juta, tapi setelah melihat kyai, sungguh membuat saya amat terheran-heran, karena kyai adalah pemuda biasa, sebagaimana pemuda lainnya, sebagaimana manusia lainnya, bahkan kyai kelihatan lemah, tapi ketika aku sendiri mau mencoba menyerang kyai, ternyata kyai menyimpan kekuatan yang tak bisa diukur dengan logika kami bangsa jin, jika semua pasukanku sekalipun ku kerahkan untuk menyerang kyai, sudah pasti kami akan binasa sebagaimana nyai Roro Kidul binasa, maka saya dengan kesungguhan hati, sudilah kyai menerima takluknya saya, dan segenap kerajaan laut merah, juga kalau kyai sudi menerima saya sebagai murid kyai…”

“Wah raja Najwa jangan berlebihan, demi Allah aku ini tak ada kekuatan apa-apanya, dan raja Najwa yang mengunggul-unggulkanku, semua tak ada di diriku, sungguh, aku tak punya apa-apa, apalagi, kalau raja Najwa yang umurnya lebih tua dariku lantas mau menjadikan aku sebagai guru, para nyamuk juga akan ketawa sampai perutnya kesakitan.”

“Sudah tinggi ilmu, masih saja tidak sombong…, mau kan kyai menjadikan aku yang bodoh ini menjadi murid.”

“Heheheh… raja Najwa.. raja Najwa… ya sudah kalau maksa, tapi aku ini siapa saja yang jadi muridku ku wajibkan tunduk dan taat padaku, apa raja Najwa sanggup.”

“Saya siap taat, kalau kyai perlu, silahkan saja panggil saya… silahkan perintahkan pada saya, saya akan siap menjalankan perintah kyai, kapan pun kyai perintahkan, saya dan segenap rakyat jin laut merah, siap menjalankan.”

“Baik kalau begitu…”

Ku lihat raja Najwa bersedih.

“Kenapa murung?” tanyaku, karena melihat raja Najwa murung.

“Maaf kyai, aku ini sekarang sendirian, istriku sudah meninggal.”

“Selain Allah itu pasti mati.”

“Bukan masalah itu kyai.”

“Lalu apa?”

“Istriku meninggal setelah beberapa tahun dia sakit, karena memikirkan anak kami yang hilang, ketika dulu terjadi perang antara laut merah dan laut pantai selatan, saat perang itu anak kami hilang, padahal dia anak satu-satunya kami, yang kami harapkan menjadi pewaris tahta, tapi malah anak itu hilang, dia hilang waktu masih bayi.”

“Ooo begitu rupanya.”

“Iya kami sudah mengusahakan sudah sampai ratusan tahun, pergi ke orang pintar, untuk menemukan anak kami, tapi tetap saja anak kami tak kami temukan, sampai istriku juga akhirnya amat sedihnya jadi akhirnya sakit dan meninggal.”

Tiba-tiba tanganku seperti ada yang menggerakkan, dan mengambil sesuatu. Lalu mulutku, berbicara,

“Apa ini anakmu raja Najwa?”

“Ha, benar kyai… ini anakku, ini pakaian yang dia pakai, juga selimutnya, masih utuh, subhanallah, tak salah kyai memang orang yang sakti…, padahal selama ini saya mengusahakan untuk mencarinya ke segala penjuru, kami tanyakan ke orang-orang pintar dari kalangan kami dan manusia, tapi tak juga ketemu, sedang kyai hanya menggerakkan tangan sedikit, dan anakku sudah ada di tangan kyai…. maha besar Allah yang menciptakan orang-orang yang dianugerahi kelebihan…, terimakasih kyai… terimakasih kyai..” kata raja Najwa sambil mengguguk menangis, dan sujud-sujud di depanku.

“Sudah… sudah… raja Najwa, jangan berlebihan.”

“Ooooh ya Allah… maha agung, terimakasih ya Allah… engkau mengirimkan anakku lewat tangan mulia kekasihmu..”

“Sudah raja Najwa… ini anaknya diberi makan.” kataku sambil memberikan bunga dari alam hayalku.

Dan diterima raja Najwa, lalu diberikan kepada anaknya dan dia terkejut sekali, karena menurutnya anaknya jadi membesar, bisa jalan langsung yang asalnya bayi, dan bisa sebesar ayahnya.

“Ooooh kyai selama aku hidup tak pernah ku lihat keajaiban sedasyad ini, maha besar Allah, tak heran kalau kyai itu jadi raja segala jin, karena kyai punya banyak keajaiban, tak percaya rasa mataku melihat, kyai saya ingin pulang dulu, nanti kalau kyai ingin memanggilku, silahkan saja kyai panggil, saya akan siap diperintah apapun oleh kyai..”

“Ya.. ya.. silahkan raja Najwa.”

Raja Najwa dan anaknya segera pergi.

RAJA JIN BRUNEI DARUSSALAM.

Mimpi masih berlanjut. Suasana tak ada yang aneh dan tak ada yang disertai suasana seram, semua ya biasa saja, tak seperti film hantu, atau horor, tak ada juga musik pengiring.

Seorang raja bermahkota menghadapku. Dia bersimpuh menunduk di depanku.

“Siapa?” tanyaku pelan.

“Hamba, raja dari Brunei Darussalam,”

“Ada keperluan apa?”

“Saya ingin menakluk dan menjadi bawahan kekuasaan kyai..”

“Boleh…, tapi harus menjadi muslim di bawahku.”

“Iya saya siap sedia.”

Lalu ku ajari membaca dua kalimat sahadat.

“Maaf kyai, boleh saya tinggal di sini.”

“Untuk apa, bukannya kamu punya tanggung jawab atas kerajaan jin di Brunei?”

“Iya, tapi saya ingin menjadi murid kyai yang taat, saya melihat semua jin di sini, semua begitu taat, wajah mereka memancarkan cahaya, dan mereka semua ku lihat bahagia, jadi membuat saya ingin bertempat tinggal di sini, bagaimana kyai, saya ingin mengabdikan diri pada kyai…”

“Jangan, kamu kembali saja ke Brunei, pimpin kerajaan jin di sana, sebagai bawahanku, lakukan ibadah yang taat.”

“Tapi kyai… saya cinta kyai… saya ingin mengabdi pada kyai..” kata raja jin Brunei sambil menangis.

Wah, jin kok pada aleman kalau denganku.

“Kan sama saja, kamu di sana juga mengabdi padaku, memajukan Islam di sana juga sama, Islamkan dan sebarkan Islam kyai kepada semua rakyat jin di Brunei.”

“Besar harapan saya selalu dekat dengan kyai… tapi kalau memang kyai menghendaki saya ke Brunei, saya turut perintah.”

Raja jin Brunei segera berlalu pergi setelah meminta ijin sebentar tinggal di sudut majlis, untuk bisa menatapku agak lama, permintaannya kok ya aneh-aneh saja, lalu datang raja jin dari Mesir, dan Arab Saudi. Sampai datang raja segala raja jin yang sudah hidup sejak jaman nabi Adam.

“Siapa ini…?” tanyaku.

“Saya Mohammad Tolkhah, raja segalan jin, dari penjuru bumi, semua jin tunduk kepadaku, karena usiaku di atas nabi Adam.”

“Wah berarti sudah teramat tua sekali.”

“Iya kyai…, tapi ilmuku tak ada seujung kuku dari ilmu kyai.”

“Wah, wah… jangan berlebihan seperti itu, malah aku tak ada ilmunya sama sekali.”

“Sudah ku kira jawaban kyai seperti itu…, kyai saya ingin menjadi bawahan kyai… bolehkan.”

“Ee ee.. raja Tolkhah, bukankah kamu raja segala jin di seluruh dunia, bagaimana mungkin akan menjadi bawahanku.”

“Kekuasaan kyai di atas saya, saya hanya raja jin di dunia, sementara kyai menjadi raja jin tuju lapis bumi, dan tuju lapis langit, sewajarnya kalau saya tunduk dan taat pada kyai, dan kalau boleh saya mohon diangkat kyai menjadi murid kyai..”

“Hahahaha… raja Tolkhah kan jin umurnya yang sudah ratusan juta tahun, bagaimana akan menjadi murid saya yang muda ini, hahahah… nanti semua jin akan mentertawakan.”

“Tak ada jin yang berani mentertawakan kyai…”

“Wah, wah… aku ini orang biasa …”

“Tidak semua jin tau, jin yang mempunyai pandangan jauh, semua tau kyai siapa.”

“Memangnya aku siapa? Aku orang yang ndak punya apa-apa..”

“Saya tak boleh mengungkapkan kyai… yang jelas semua tentara langit tunduk atas perintah kyai.”

“Wah, wah… jangan berlebih lah raja tolkhah..”

“Kyai saya siap diperintah sama kyai, kerajaan saya bersebelahan dengan raja jin Saudi Arabia, dekat di Masjidil Haram, jika kyai ke Makkah, akan kami sanggup dan kami sediakan tempat yang mulia.”

“Tak usah berlebihan, saya hanya manusia biasa.”

“Benar apa kata semua raja jin yang bertemu denganku.”

“Apa kata mereka?”

“Kyai orang yang ilmunya sulit diukur, dan tak tau sampai di mana, sakti, menghadapi dukun jahat, dan menghadapi trilyunan juta milyar keroyokan jin, hanya dihadapi sendirian, tapi semua bisa dikalahkan, dan orangnya selalu merendah, bersahaja..”

“Weslah dipuji setinggi gunung begitu, nanti lalu jatuh sampai hancur…”

“Tidak kyai saya mengatakan apa adanya..”

“Sudah, jangan berlebihan.”

“Silahkan kyai perintahkan apa, akan saya laksanakan, apa perlu, rumah kyai akan saya bawa ke Makkah, dan kyai tinggal di sana..”

“Ah tak usah… di sini saja..”

“Silahkan jika kyai ingin memerintahkanku, silahkan memanggilku.”

“Ya nanti.”

“Baik kyai saya mohon diri.”

Raja segala jin pun segera berlalu.

Mimpi kok ya aneh-aneh, panjang amat kalau diceritakan.

______________________________



Mengislamkan jin, seperti sudah keseharian yang tak aneh, tapi kejadian-kejadian yang ku alami kadang juga membuatku menjadi takut terjerumus ke lembah kesesatan, yang nyata saja sering menipu, dan banyak tipuan di dalamnya, apalagi yang gaib, ketakutan yang ku alami sangat mendasar bagiku, yang memang terus terang tak pernah mengalami kegaiban yang di luar nalar dan logika warasku, ya… ya memang aku sadar sesadar sadarnya, aku ini sama sekali tak memiliki kelebihan apa-apa, tak ada kelebihan kesaktian sebagaimana orang-orang yang mengamalkan ilmu hikmah, jadi ketakutanku pada ketipu apa yang ada di dunia gaib, makin membuatku membutuhkan suatu jawaban setidaknya yang bisa membuatku sedikit tak kawatir lagi.

Dan aku memutuskan untuk menghadap guruku, kyai cilik, bagiku beliaulah yang bisa dimintai solusi, maka ku ajak muridku satu rombongan mobil untuk menghadap guruku, agar permasalahan makin bisa diuraikan dengan jelas pokok permasalahannya.

Sebenarnya awalnya adalah, kejadian banyaknya serangan santet dari segala penjuru, yang ditujukan padaku juga keluargaku, walau aku sendiri sebenarnya telah membaca kejadian yang terjadi, santet juga tak akan berlaku, dan mempan, kalau Allah sendiri tak mengijinkan terjadi, maka kemudian aku memberikan do’a rofitoh kepada muridku, ada beberapa tujuan yang terlintas di hatiku, mengapa memberikan doa rofitoh itu, awalnya karena tau pasti bahwa serangan dari dukun santet segala penjuru itu tak lain adalah maksud Allah untuk menaikkan derajad dan maqomku, rasanya tak afdhol kalau aku meningkat derajad sendiri, tanpa nantinya para muridku ikut naik derajad dan maqomnya, maka solusinya agar ikut terangkat derajadnya adalah dengan memberikan doa rofitoh, yang mana dengan doa itu para muridku akan merasakan akan apa yang ku rasakan, dengan sendirinya, juga akan menaikkan level para muridku, mengikuti levelku, sehingga jika aku nantinya ku ajak membahas masalah rumit, mereka akan tau dan mudah mencerna penjelasan yang ku berikan.

Doa rofitoh pun ku gelar di muridku, dan praktis mereka akan merasakan apa yang ku rasakan, santet yang menyerangku dari segala penjuru, otomatis mereka akan merasakan ujian yang ku rasakan, walau sedikit, setidaknya mereka merasakan, dan terangkat derajatnya. Walau akhirnya ketahuan mana yang benar-benar muridku, dan mana yang bukan, yang hanya orang latah ikut-ikutan jadi murid thoreqoh, mana yang pantas ku jadikan pasukan dan mana yang bukan, ya dengan doa rofithoh itu juga ku kirimkan khodam malaikat yang ku punya untuk menelusur doa yang ditujukan padaku, dan para malaikat itu ku perintahkan mendampingi, sekali dua kali ku pantau, apa mereka sungguh-sungguh atau hanya ikut-ikutan, yang ku lihat kesungguhannya, ku suruh malaikat lebih mendekat, agar mereka dapat merasakan kehadiran malaikat yang datang, dengan aura dingin yang menyelimuti, lalu muridku yang serius ku arahkan untuk mengucapkan salam pada malaikat itu dan juga mengajak kenalan pada mereka, agar mulai kenal pada malaikat, memang mengajari mereka harus pelan-pelan, sabar dan telaten, apalagi mereka tak pernah tau soal khodam malaikat, dan satu dua mulai ada yang kenal, dan mulai menjadi khodamnya, tanpa aku arahkan.

Dan dengan cara extrim pengajaran ini, juga ada efek buruk dan baiknya, namanya juga gaib, pasti banyak tipuan di dalamnya, di antara malaikat yang datang, pasti juga banyak jin yang mengambil kesempatan. di sini juga berguna aku menggeluti dunia jin, dan berbagai persifatan mereka, dan berbagai kebiasaan yang mereka lakukan, aku sudah mengira kalau akan banyak jin yang menyusup pada muridku, yang mengaku malaikat, padahal sebenarnya jin, awalnya ku tahan, dengan cara ku perintahkan jika ada yang datang, salami, tanya siapa, itu hanya trik saja, suruh melihat fotoku, jika jin biasanya akan langsung kabur, jika malaikat akan tak takut padaku, dan menyebutkan siapa aku dengan jelas dan gamblang.

Eee setelah berlalu beberapa minggu, ternyata tak efektif, sebab mereka tetap tak silau melihat wajahku, karena ketika disuruh menatap, dia akan berpaling, dan soal kenal, juga semua jin akan kenal, dan ujung-ujungnya, banyak jin yang tetap bisa merasuk, aku tafakur, bagaimana langkah yang seharusnya ku lakukan, maka aku berinisiatif, udah biarkan saja semua jin masuk, nanti kalau sudah di dalam dimanfaatkan saja untuk membuat lubang di penghubung antara alam gaib dan alam nyata, pikirku kalau mereka masuk, aku juga bisa menariknya dari jauh…. maka muridku pada dirasuki jin semua, karena memang sengaja ku biarkan, agar masuk saja, dan biarkan saja masuk sebanyaknya, secara niat agar mereka bisa membuat tubuh yang dirasuki akan banyak ditemukan lubang.

Ya memang mungkin pelajaran dalam berthoreqoh seperti itu kayaknya tak ada di manapun, mungkin hanya aku yang mengajarkan, kayak ngawur ya? ya memang kelihatannya ngawur, tapi sebenarnya sudah ku susun secara rapi… anak muridku banyak yang dirasuki jin, di mana-mana dirasuki jin, tapi beda dengan anak sekolah kerasukan lo, walau yang merasuk sebanyak jutaan jin, tapi orang yang dirasuki sama sekali tak akan kenapa-napa, ini menurut prediksiku.

Dan ternyata prediksiku agak meleset, walau tak fatal, setidaknya meleset, dan membuatku kebingungan juga ketika itu apa solusi yang harus ku buat selanjutnya, aku sama sekali tak berpikir jauh, walau sudah ku pikirkan jauh sekali kedepan, ternyata tetap saja ada saja yang di luar prediksiku, ya memang tak apa-apa, siapa yang dirasuki jin tak apa-apa, tapi ketika yang merasuk jin yang tingkatannya iblis, aku keteter juga, untuk mengeluarkan mereka, belum lagi pas mengeluarkan ada saja muridku yang kena hasut, lantas berhianat, dan ilmu yang ku berikan lantas dipakai menghianatiku, ini seperti memberi golok pada perampok yang mau merampokku, belum lagi serangan dukun santet, dan para jin dari penjuru bumi, berduyun-duyun berbondong-bondong menyerangku, aku harus jantan, dan sebagai orang yang bertanggung jawab, maka aku menghadapi sendiri ratusan trilyun jin yang menyerangku, ada yang mengaku dari hutan alas purwo Banyuwangi, atau dari Jember, serombongan raja babi ngepet, dan dukun-dukun santet ada ratusan ribu mengeroyokku dari segala penjuru, semua ku hadapi sendiri, langsung saja ku minta berbarengan menyerangku, aneka jin berbentuk raksasa, dan macan, singa, naga, dan juga serangan para dukun menghujaniku dengan serangan bertubi-tubi, aku duduk terdiam, khusuk dalam kepasrahan pada Allah, ribuan trilyun kekuatan Allah didatangkan melingkupi tubuhku, aku mutlak dalam kepasrahan, mati sekarang dan nanti sama saja, asal mati dalam keislaman, dan keteguhan iman.

Pagi, siang, malam, serangan tak henti, jika serangan datang, aku segera duduk atau berdiri, membuka dada, mau mana saja yang mau ditombak, atau ditusuk dengan berbagai macam senjata, nekad? ya memang aku nekad, dengan keyakinan Allah akan menolongku, semingguan, serangan reda juga, ada yang menyerah dan masuk Islam, ada juga yang kembali.

Memang harus aku yang menghadapi sendiri, aku seperti panglima yang sendirian maju ke medan laga, dan memberi contoh, ini lo kalau jadi seorang panglima, harus bertanggung jawab.

Padahal aku sama sekali tak punya kesaktian apa-apa, hanya modal pasrah saja pada Allah, bagiku, jika ajalku tiba nanti, tak akan ada yang mampu memajukan atau memundurkannya.

Serangan berhenti, tapi aku kembali dihadapkan masalah baru, soal jin yang sudah pada merasuk ke tubuh murid-muridku, ternyata banyak sekali murid yang dirasuki, membuatku kelelahan sendiri untuk mengeluarkannya, aku sangat kelelahan dan terkuras habis tenagaku, kadang sampai rasanya, ini nafas terakhirku, nafas sudah putus-putus, karena mengeluarkan banyak jin dari tubuh muridku dari segala penjuru, kadang dalam 1 orang bisa trilyunan jin, walau aku misal kuat mengeluarkan satu sampai sepuluh juta sekali tarik, tetap saja menguras energiku. Belum lagi yang dikeluarkan lantas masuk lagi, wah makin membuatku benar-benar kehabisan akal juga.

Maka aku kemudian mencari solusi yang bisa diambil. Yaitu pergi menghadap pada guruku.

Dan kyaiku memang lantas memberi solusi, tapi beliau sampai terkaget-kaget melihat jin yang ada di dalam 1 muridku, dan alhamdulillah setelah diberi solusi beliau, sedikit banyak permasalahan agar tercairkan. Rupanya yang di luar perhitunganku adalah, ternyata jin itu juga bisa saja mengambil ruh muridku, itu yang sama sekali tak aku ketahui.

Solusi yang sangat aneh dari guruku itu apa, mungkin itu ilmu bagiku, dan bagi orang lain bisa saja menjadi musibah, kata guruku:

“Ikuti saja kata hatimu, kamu itu sudah dibimbing,”

Aku tenger-tenger, bengong dalam hati, tapi otakku lantas bekerja cepat, dan ilmu yang tak terhingga lantas ku dapat dari apa yang disampaikan oleh guruku.

Dari menghadap kepada guruku, lantas aku ke Tuban, sekalian menghadap orang tuaku yang lama tak ku kunjungi, karena sibuk bergelut di duniaku yang baru.

Karena kebanyakan muridku yang ku bawa sudah mempunyai khodam malaikat, dan sudah terbuka mata batinnya, mereka pada ramai di sepanjang perjalanan, karena para jin di sepanjang perjalanan pada berbaris di tepi jalan, menghormat, seperti menyambut presiden yang datang di sepanjang perjalanan, ya di alas roban, ya di mana saja yang banyak jinnya, lalu mereka ada yang terbang, di atas mobil ada yang berlari, ada juga yang berbentuk raksasa pada mengikuti mobil yang ku naiki, dan ada jin yang mau masuk Islam, ada juga jin yang berusaha menyerang, ada juga yang ingin ikut.

Sampai di Tuban, di rumah, langsung saja para jin yang ada di desaku dan sekitarnya pada berbondong-bondong datang ke rumah, ingin diIslamkan, sehingga lagi-lagi ribuan trilyun jin dari penjuru datang minta diIslamkan, belum lagi datang tamu dari manusia biasa yang sakit dan ingin diobati, aku benar-benar tak ada waktu istirahat, maka ku putuskan untuk selekasnya kembali ke Pekalongan melihat tak ada waktu untuk istirahat. Apalagi muridku sering mau ditarik nyawanya oleh jin fasik yang tak rela jin-jin pada masuk Islam.

Alhamdulillah perjalanan kembali ke Pekalongan lancar, dan ilmuku seperti dituang dari langit, dan setiap detik bertambah dan bertambah.

Segala sesuatu aku yakin ada maksud Allah di sebalik kejadian yang terjadi, dan maksud Allah itu pastilah baik, karena sifat Allah itu semua baik.

______________________________

Sepertinya akhir-akhir ini tulisanku kurang ada bumbu kata-kata indah, juga penggambaran alam, dan lingkungan kurang ku bahas, ya karena memang kesibukan kepada bermanja-manja kata memang sekarang sudah tak seperti dulu lagi, waktu sibuk sekali, dan seringnya tak ada waktu menulis. Dan kadang rasa ingin menulis itu makin berat, sebenarnya, butuh seorang penulis yang bisa menuangkan ke dalam nyata, kejadian yang tiap hari terjadi, cenderungnya, kalau ada kejadian lantas, tak segera dituang dalam tulisan itu akan hilang terhapus dari ingatan.

Padahal kejadian-kejadian yang terjadi itu setiap hari terjadi, dan terjadi ya bukan kejadian yang kebanyakan terjadi, jadi aku karena sendiri, seringnya kejadian yang terjadi, momen-momen yang tak akan terjadi lagi itu yang amat penting itu begitu saja dilupakan dari ingatan. Jadi aku terus terang sudah terlalu banyak yang harus aku ceritakan, lantas tak sempat ku ceritakan, lantas kisah itu hanya dilupakan begitu saja, padahal itu amat sarat pelajaran hidup di dalamnya.

Mengislamkan semua raja jin di Jawa.

Semua jin dari tanah Jawa berbondong-bondong menghadapku ingin diIslamkan, suasana tak mistis sama sekali, suasana biasa saja, hanya karena banyak sekali jin yang datang, maka agak serasa merinding, di antara jin yang datang,

Di daerah Maospati yang datang bernama Durgo Neluh dan Raja Baurekso, di Blambangan ada Sang Bolo Batu, di Kedhiri ada Bhuto Locaya, di Giri Pura ada Prabu Jaksa, di Pacitan ada Sida Kare, di Kheduwang ada Klenthingmungil, di Magetan ada Endrayaksa, di Jenggala ada Tunjung Puri, di Prang Muka ada Surabanggi, dan di daerah Panggung ada Aburaduk.

Selanjutnya, di daerah Jipang dikuasai Sapujagad, di Madiun ada Kalasekti, di Ponorogo ada Si Korep, di Majenang ada Trenggiling Wesi, di Grobogan ada Macan Guguh, di Singosari ada Kala Johar, di Srengat ada Baru Kuping, di Blitar ada Kalakathung, di daerah Rawa ada Bhuta Krodha, di Kalangbret ada Sekar Gambir, dan di Lamongan ada Caru Bawor.

Kemudian, di Puspoloyo dikuasai Gurnita, di Kasur Putih ada Si Lengkur, di Blora ada Si Lancur, di Gambiran ada Kolodurgi, di Kedhunggede ada Ni jenggi, di Batang ada Si Klewer. Di Lassem ada Kala Prahara, di Sedayu ada Dhandang Murti, di Candhi ada Widalangking, di Semarang ada Barat Katiga, di Pekalongan ada Guntur Geni, dan di Pemalang ada Ki Sembung Yudha.

Di wilayah Sokawati ada penguasa bernama Suwarda, di daerah Tandhes ada Nyi Ragil, di Suruh ada Jaya lelana, di Kendal ada Gunting Geni, di Kaliwungu ada Gutukapi, di Cincin ada Ki Somaita, di Brebes ada Dhadung Awuk, di Panjang ada Bhuto Salewah, di Mentawis ada Monda-Monda, di Plered ada rajeg Wesi, dan Kuthogede ada Nyai Theatre.

Berikutnya, di daerah Kartosuro ada pemuka lelembut bernama Pragota, di Cirebon ada Setan Kabiri, di Tegalayung ada JuruTaman, di daerah Siluman ada Genowati, di Waringin Putih ada Kemandhang, di Pajajaran ada Si Kareteg, di Betawi ada Sapuregel, dan di Gunung Agung ada Wirasuli Waringin.

Memasuki wilayah Ngawang-awang, anda akan mengenal Kalekah. Lalu di Gunung Merapi ada Parpala, di Tunjung Bang ada Ni Taluki, di Sendhang ada Setan Kowak, di Pamasuhan ada Sapu Angin, di Rangkudan ada Sonodpodo, di Tarisig ada Pandansari, di Wanagiri ada Ki Sadungan, di Pelabuhan ada Duduk Warih, di Pelayangan ada Butho Tukang, dan di Tawang ada Ni Raraamis.

Selanjutnya di wilayah gunung-gunung, antara lain di Gunung Tidar dikuasai Kala Sekti, di Gunung Sindara ada Madu Retno, di Gunung Sumbing ada Jalalela, di Gunung Ngungrungan ada Sidomokti, di Gunung Merbabu ada Terapa, di Gunung Kombang ada Bangsan, di Gunung Kolir ada Prabu Jaksa (lagi / lainnya), dan di Gunung Kendeng ada Aji Dipo.

Di Daerah Argopuro ada Sunan Lawu, di Bayat ada Ki Malangganti, di Toyamas ada Kolo nadah, di Segaluh ada Si Renthil, di Pegunungan ada Ki Wosasih, di Lowanu ada Si Korok, di Gunung Duk ada Genioro, di Parang Tritis ada Mbok Bereng, di Purbalingga ada Drembamoha, di Karang Bolong ada Si Kreta, di Banarawi ada Si Belen, di Jenu ada Karung Kala, di Pengging ada Banjaran Sari, di Dhung Winong ada Andonsari, di Bagelen ada Ki Condrolatu, dan di Gunung Kendalisada ada Khetek Putih.

Menapaki daerah ngayah, ada pemuka lelembut bernama Butho Glemboh. Di Demak ada Rara Denok, di Tuban ada Si Bathilhi, di Talsanga ada Juwalpasal, di Tremas ada Si Kujang, di Trenggalek ada Nyai Kuring, di Cemorosewu ada Si Kuncung, di Benthongan ada Kaladhadung, di daerah Taji ada Asmoro, di Kudus ada Bagus Anom, di Imogiri ada Manglarmungo, di gadhing ada Ki Puspogati, dan di daerah Kartika ada Cucuk Dhandang.

Di Sungai Opak ada Songgabuana, di Pejarakan ada Pak Keyek, di Kali Bening ada Cincinggolong, di Dhahrama ada Korowelang, di Warulandeyan ada pasangan Ki Daruna dan Ni Daruni, di Alas Roban ada Bagus Karang, di Pasujayan ada Udan Riris, di Dalepih ada Wodonongga, di Kadunggarunggung ada Si gadhung, di Karabean ada Citranaya, di Majaraga ada Genapura, di Juwana ada Logenjeng, dan di Rembang ada Bajul Bali.

Menapaki daerah Wirasaba, di sana ada penguasa Si Londir. Di Madura ada Bhuta Carigis, di Matesih ada Jaran Panolih, di Pecangakan ada Si Gober, di Jatisari ada Danapi, di Jatirnalang ada Obarabir, di Lodhaya ada Haryo Tiron, di Pening ada Sarpa Bongsa, di Pesayangan ada Udan Gelap, di Tegil ada Bhuto Gigis, di Grenggeng ada Caping Warih, di Penawangan ada Gutukwatu, dan di Tengger ada Ni Otarwiyah.

Kemudian, di Wiradesa ada Gustigeni, di Penarukan ada Setan Korokan, di Randulawang ada Rara Dungik, di Menthahang ada Retno Pengasih, di Prambanan ada Bhuto Kepala, di Gunung Wilis ada Mbok sampur, di Gunung Gajah Mungkur ada Raden Gelanggangiati, di Tal Pegat ada Si Gedruk, di Ngembel ada Raden Panji, di Pagerwaja ada Raden Kusumoyudho, di Kacangan ada Si Penthul, di Pecabakan ada Dodol Kawit, dan di Jepara ada Si Kunthung.

Di daerah Pati ada Gambir Anom, di Ngremo ada Tambak Suli, di Delanggu ada Yudhapaksa, di Pesisir ada Butho Kala, di Kadilangu ada Si Kecubung, di daerah Jenar ada Nini gelu, di Banjarsari ada Klabang Curing, di Watukura ada Talengkung, di Tal Rukmi ada Si kuris, di Semeru ada Pujongga dan Pujonggi, di Ardi Baita ada bancuri dan Bancuring, serta di Tegal Pat ada Si Bedreg.

Di Subang ada Si Lowar, di Kuwu ada Ondar-Andir, di Comal ada Si Barandang, di Duduk jalmi ada Si Kalunthung, di Tegala Pasir ada Si Jalilung, di Tuntang ada Kala ngadang, di daerah Bocor ada Si Kuru, di Petanahan ada Singanadha , di Cilacap ada Telohbrojo, di Nusabarong ada Burat Wangi, di Singgela ada Ki Nayadipa, dan Weleri ada Si Dulit.

Di wilayah Pring Tulis ada Udan Geni, di Kandang Wesi ada Gendir Diyu, di Kejayan ada Barukin, di Jeruk Legi ada DirGabu, di Nusa Kambangan ada Mahesa Kuda, di Mancingan ada Rara dulek, di Guwa Langse ada Raja Putri, dan di Parang Wedang ada Raden Arya Jeyeng Westhi.


Sabtu, 22 Agustus 2020

SANG KYAI -73

Sang kyai 73

“Siapa ini?” tanyaku.

“Kami para dukun yang mengabdi pada nyai roro kidul.” jawab ruh para dukun.

“Dari mana saja?”

“Kami dari mana-mana, kami ada 600 orang.”

“Kalian berani melawan ini yang bersamaku?”

Mereka melihat pada yang di sampingku, ada syaikh Abdul Qodir Jailani RA, syaikh Nawawi, syaikh Abdul Karim, syaikh Tolkhah, dan kyai Cilik, dalam bentuk sukma, dan mereka silau, sambil menyembunyikan wajahnya.

“Aku tak berani, tapi kami berani melawanmu, apa kamu berani melawan kami semua?”

“Boleh, ayo aku dilawan.”

Para prajurit jin, sebanyak 1 juta dan para arwah dukun segera mempersiapkan diri menyerang, aku tak mau repot, segera ku panggil malaikat Malik penjaga neraka jahanam dan malaikat maut untuk membantuku, beratus-ratus juta yang datang, semua siap sedia (siapa saja boleh tak percaya dengan cerita ini, mungkin lebih baik kalau yang tak percaya, bisa memediumisasi jin, ke tubuh manusia, dan ditanyakan apa ceritaku soal melempar nyai Roro Kidul ke neraka dan apa yang ku tulis ini benar atau tidak, sebab aku sendiri juga tak melihat, hehehe..), mungkin akan timbul pertanyaan kok tau yang datang malaikat beratus juta, itu namanya pertanyaan bodoh, kan aku yang minta pada Allah, supaya didatangkan malaikat beratus juta malaikat, dan siapa saja boleh meminta pada Allah, semilyar malaikat juga boleh ndak ada yang melarang.

Para malaikat yang datang ku perintahkan untuk mencambuk pada pasukan jinnya nyai Roro Kidul dan ku suruh mencambuki para arwah dukun yang akan menyerangku, dan mediator pun menggeliat kesana kemari, aku tinggal duduk santai.

“Bagaimana… menyerah tidak?” tanyaku di antara geliat mereka karena kena cambukan.

“Hah, kau curang, siapa mereka?”

“Curang bagaimana, kalian satu pasukan, kan aku juga punya pasukan malaikat.”

“Kami tak akan menyerah.”

“Cabut nyawanya dan lempar ke neraka yang tak mau menyerah, dan mau masuk Islam.” kataku pada malaikat, dan semua segera diboyong ke neraka oleh malaikat Malik.

Pertarungan hanya sebentar hampir hanya sekitar 5 menit atau 10 menit, tapi belum lama berselang, datang lagi pasukan dari kirimannya Sengkuni, walau tak banyak hanya beberapa ribu jin, yang berupa kera, mereka semua tak bisa bicara. Hanya aa uu, aa uu, dan menggaruk-garuk, jin diambil dari tempat Situ di daerah Bandung, dan semua tak berani melawanku, ku suruh masuk Islam juga tak mau, maka daripada di belakang hari merepotkan, semuanya ku minta malaikat maut yang masih menunggu perintah, ku minta mencabut nyawanya.

_________________________________________________

Akhir-akhir ini kejadian yang ku alami, seperti roda kereta api yang berkejaran, susul menyusul, waktu serasa teramat cepat dan kejadian di dalamnya teramat banyak, seperti aku sendiri masuk ke dimensi waktu yang bukan manusia, cobaan beruntun, tindih menindih, dan kadang sepertinya aku ini amat sendirian, sangat sendiri, harus menghadapi sendirian, semua serasa menjauh dan meninggalkanku hanya bisa berharap pada Allah, jika Allah juga tak memperdulikanku, maka jadinya apa dengan diriku, aku seperti panglima tanpa tentara, tanpa senjata, tanpa apa-apa yang dijadikan kekuatan dalam berperang, hanya Allah dan Allah tempat bersandar, dikeroyok dari mana-mana, hm, rasanya tak mungkin akan menang, kecuali Allah menolongku, dan aku yakin Allah menolongku. Cuma pertolongannya bagaimana itu aku yang tak tau, tapi sekalipun tanpa pasukan dan tanpa senjata, aku akan terus maju ke medan laga, syukur tak apa-apa mati sahid, semua orang hidup juga akan mati, mati sebagai orang yang gugur di medan laga, selalu siap insaAllah.

Kembali lagi datang sisa-sisa pasukan nyai Roro Kidul, segera ku tangkap dan aku sudah tak mau banyak tarung-tarungan yang tak ada perlunya, ada seribu yang sedang melayang di udara, ku tangkap saja semua, dan ku masukkan botol, siapa tau ada yang ingin diberi oleh-oleh jin.

Sementara itu juga, serangan dari Sengkuni juga masih terus menggebu, lebih sering lagi kepada anak istriku, juga pada murid internetku yang ketahuan membantuku, ada murid internetku yang takut karena serangan itu ada yang tetap bertahan, memang iman sedang diuji, ketahanan sedang dipertaruhkan, maju terus atau berhenti, memang banyak juga yang memilih berhenti, jadi ingat kata guruku, “sama muridku atau muridmu, nanti akan disaring oleh waktu dan kejadian, orang-orang pilihan akan jadi orang pilihan, akan maju menjadi orang yang utama, yang gagal memang sebaiknya mundur dari sekarang, dari awal, daripada nanti hanya akan menjadi beban di perjalanan” terngiang selalu pesan itu.

Sengkuni itu, kyaiku juga selalu memanggilnya setan, walau beliau kadang menyebutnya dengan bercanda, tapi berulang kali, dan kadang dengan kata mendadak “SETAN SENGKUNI!!” seperti kata sumpahan, ya aku tak tau apa yang diucapkan beliau, itu dari dulu, saat beliau masih disantet, dan aku yang mengobati di sebelah beliau, beliau selalu menyumpahi Sengkuni, padahal orangnya tak ada, tak terpikir sama sekali apa maksudnya, padahal itu tahun 2011, baru sekarang aku pahami maksudnya, kyai disantet, yang nyantet Sengkuni, sementara Sengkuni itu tak ada, dan juga sering hadir di depan kyai, bagaimana perasaan orang yang tau jelas siapa yang nyantet, karena terbuka hijab penglihatannya, sementara yang nyantet itu selalu hadir di depannya, dengan pura-pura baik, kalau aku tak kemplang kepalanya, tapi kyai tetap tersenyum, bahkan selalu bersikap baik, seperti tak terjadi apa-apa, bahkan kalau aku mengatakan : ini yang berbuat Sengkuni kyai… kyai jawab, bukan, bukan Sengkuni, tapi setan yang berupa Sengkuni, seakan mau membuat perumpamaan, dengan kata yang membingungkan, kalau orang yang tak paham akan mengatakan yang melakukan adalah orang lain.

Kalau berhadapan dengan guruku, dan membahas sesuatu kadang beliau melarang yang jelas-jelas itu menurutku sangat menguntungkan, tapi malah beliau melarang, dan memang kemudian di akhirnya, ketahuan itu adalah hal yang merugikanku di suatu saat nanti, kita seperti berjalan ke depan dengan orang yang paham akan ada jalan begini dan begitu yang kita lewati, dan kita dituntun agar selamat sampai tujuan, disuruh belok kanan dan kiri, sementara tanpa penjelasan kenapa ke kanan kenapa kekiri? Jadi seringnya sangat membingungkan, paling baik adalah berlagak seperti orang tidur, dan menjadi penumpang yang yakin akan dibawa kemana oleh sopir, pasti sopir tak akan memasukkan kendaraan ke jurang, karena itu sama saja memasukkan diri sopirnya ke dalam jurang.

______________________________________________

“Kyai… ada yang mau menangkapku lagi kyai..” kata Aisyah di satu kesempatan, dan saat Sengkuni makin getol untuk menyerangku, biasanya di waktu-waktu akan ada dzikir di majlisku. Ku tarik saja jin yang mau menangkap Aisyah dan ku mediumisasi.

“Apa maksudmu mau menangkap Aisyah, apa maksudnya Sengkuni?” tanyaku pada jin yang sudah ku masukkan ke tubuh orang.

“Ya agar dia tak membantumu…” jawab jin dalam tubuh mediator.

“Aneh, aku tak dibantu dia juga tak apa-apa..”

“Tapi dia yang selalu membantumu, mengobati penyakit,”

“La apa urusannya dengan Sengkuni?”

“Dia benci, kamu mengobati orang.”

“Benci bagaimana? Aku kan menolong orang yang minta tolong.”

“Apa urusanmu menolong orang?”

“Ya menolong orang itu kan sifat orang muslim saling tolong menolong, mati saja tak akan berangkat ke kuburan menggali kuburan sendiri, tapi harus digalikan orang tanah, juga orang mati tak bisa berangkat ke kuburan sendiri, tapi harus dibawa dengan keranda… coba kalau gak ada yang membawa keranda, gak ada yang mau ngubur, kan membusuk dimakan belatung, dan baunya kemana-mana.”

“Aku tak perduli, pokoknya kamu dilarang menolong orang, dan aku diperintah menghalang-halangi.”

“Ooo rupanya begitu, makanya kamu mau menangkap Aisyah dengan jaring yang kamu bawa dengan teman-temanmu itu?”

“Iya..”

“Ya kalau begitu memang kamu harus mati saja.”

“He he he.. apa kamu bisa membunuhku?”

“Kenapa tak bisa?”

“Alah ilmumu sekukuku..”

“Ya dengan ilmuku sekukuku, aku apa bisa atau tidak membunuhmu dilihat saja, kita buktikan saja.”

Ku keluarkan pedang gaib, dan ku ambil dari neraka jahanam, pedang yang dipakai anak buah malaikat Malik menyiksa di neraka jahanam, (orang yang memakai logika sebaiknya tak usah ikut baca, sebab yang kutulis ini daya hayal), setelah pedang kupegang dan kutusukkan ke perutnya, dia menjerit, dan ku tebaskan pada lehernya dia menjerit.

“Ampuuun, ampuun, tobat, aku menyerah.”

“Menyerah beneran?”

“Ya…. aku menyerah, aku mau masuk Islam dan menjadi pengikutmu.”

Ku panggil malaikat maut… untuk mencabut nyawanya jika jin ini bohong, dan tak mencabut nyawanya jika jin ini jujur dari hatinya mau masuk Islam. Tapi ternyata malaikat maut mencabut nyawanya, tapi sebelum mencabut nyawanya, ku minta malaikat maut mencabut nyawa jin sebanyak 450 ribu yang ada di tempat Sengkuni, dan dipersiapkan Sengkuni untuk menyerangku.

Jin itu tidak bisa dipercaya 100%, jadi kita jangan begitu saja melepaskan kepercayaan padanya.

Sebab beberapa hari yang lalu, Aisyah tertipu mentah-mentah karena aku percaya dengan jin kirimannya Sengkuni yang ku tangkap, dia ku beri nama Abdul, karena seakan berniat baik, dan seakan mau menjadi pengikutku, malah seakan mau bersaksi atas apa yang dilakukan Sengkuni, Abdul termasuk tampan, dan dia berbentuk elang, dengan keluarga Aisyah juga sangat baik, dengan Latifah adiknya Aisyah dia juga baik dan suka membantu dan mengajari Latifah yang masih belajar terbang, karena sikapnya yang baik itu, sampai Aisyah jatuh hati pada Abdul yang seakan berbudi pekerti baik, Aisyah pun pacaran dengan Abdul, dan dia meminta ijin padaku menikah dengan Abdul, dan hari pernikahan pun sudah dirancang, diumpamakan di alam manusia itu undangan sudah disebar.

Untungnya Allah maha adil, pernikahan masih seminggu lagi, hujan sangat deras, aneh, kenapa semua atap majlis bocor, dan majlis basah semua, heran juga aku, juga banyak genteng yang bergeser tak wajar, juga jalur air disumpal. Aku heran ketika hujan deras naik ke genteng, karena di atas jalur air disumpal pakai kertas semen yang disumpalkan kayak oleh manusia, kayaknya gak mungkin, sebab selama ini juga tak ada kebocoran, heran, aku turun.

“Aisyah siapa yang melakukan ini, yang menyumpal jalur air..?” tanyaku pada Aisyah, dan Aisyah menangis. ”Lihat semua majlis banjir seperti ini, ini kalau pas hujan lagi ada dzikir bersama bukannya jamaah akan buyar? kamu jangan menangis, siapa yang melakukan?”

“Huuu huuu, Abdul kyai… Abdul penghianat.” jawab Aisyah sambil menangis.

“Jadi dia yang melakukan menyumbat saluran, dan membuat genteng pada longsor ke bawah?”

“Iya kyai… ternyata dia hanya pura-pura baik, dan seakan baik sama Aisyah, padahal dia sebenarnya penghianat, ampun kyai, ampuni Aisyah…”

“Jadi dia selama ini pura-pura?”

“Iya kyai… dia setiap hari laporan pada Sengkuni kejadian di sini, sehingga Sengkuni tau keadaan di sini.” jelas Aisyah sambil menangis. “Dia menyumbat saluran itu atas perintahnya Sengkuni, agar kalau pas ada pengajian, pas ada hujan nanti pengajiannya bubar, karena bocor.”

“Sekarang dia di mana?”

“Sekarang dia terbang, menjauh dari sini.”

Aku sudah marah, ku minta pada Allah kekuatan malaikat maut di tanganku, dan Abdul langsung ku tarik nyawanya… dan ku lempar ke neraka jahanam.

“Ampuni Aisyah kyai, Aisyah menyusahkan kyai..”

“Sudah nduk tak papa, itu bukan salah Aisyah.”

Sepeninggal Abdul, Aisyah beberapa hari dirundung murung, mungkin patah hati. Aku coba menghiburnya, dengan memenuhi permintaannya, dia ingin kambing dari surga, maka ku mintakan pada Allah kambing dari surga ada 3 (ingat ini hanya hayalan saja, jadi jangan diartikan yang sesungguhnya). Dia agak terhibur, tapi serangan dari Sengkuni ada saja, kadang merantai tangan Aisyah, sehingga tangannya tak bisa untuk mengobati orang, heran juga apa maunya orang itu, karena sering aku tak bisa menjaga Aisyah, maka Aisyah lantas ku beri cambuknya malaikat pemecah mendung, malaikat Khamlatul Barqi, malaikat pembawa petir, dan ku berikan Aisyah ku perintahkan kalau ada jin yang akan menangkapnya supaya dipukul saja dengan cambuknya, dan alhamdulillah, pengalaman demi pengalaman di dunia jin itu membuatku menemukan berbagai solusi, yang awalnya tak tau, kemudian jadi tau, Aisyah setelah punya senjata cambuk juga lebih aman, dia selalu mencambuk jin kirimannya Sengkuni yang mau mendekat, dan ingin menangkapnya.

_________________________________________________

Kenapa kok aku urusannya jin mulu, atau santet, kadang ada yang bertanya seperti itu, sebenarnya kalau orang pemikirannya luas, tentu tak akan bertanya, tapi tak semua orang yang memahami apa kandungan atau kenapa bisa begitu, mungkin bisa ku berikan beberapa alternatif jawaban.

Seperti orang yang sakit gigi, ada gak orang yang bercita-cita sakit gigi? Kurasa tak ada, kecuali orang bodoh, yang bercita-cita sakit, walau cuma sakit gigi seumur hidup, orang yang waras akalnya akan berharap selalu sehat, lalu bagaimana kalau sakit gigi? Tentu yang diurusi ya gigi, bahkan dibawa ke dokter untuk dicabut paksa kalau gigi rewel, sakit terus.

Disantet, dikirimi jin, itu kan bukan kehendak saya, tapi kalau saya dikirimi santet ya jadi urusannya jadi ngurus santet, sebagaimana orang yang sakit gigi, tentu yang diurus sakit giginya, ya tak mungkin kalau orang sakit gigi malah yang dicabuti jari kakinya.

Jawaban kedua kenapa kok yang diurusi jin mulu, mungkin ada yang membaca bukan orang Islam, jadi biar ku jelaskan sedikit dalam kitab kami orang Islam, orang Islam itu diperintah untuk mengikuti nabinya, menjadikan nabinya sebagai suri tauladan, contoh segala perbuatan baik. Dan dalam surat alqur’an nabi memberi contoh bagaimana nabi mengislamkan sekumpulan jin, jadi kita kalau bisa juga meniru nabi, bukan hanya mengaku-aku ahli sunah, yang paling menjalankan sunnah nabi tapi hanya ngaku-ngaku.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1)

“(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami,” (QS. Al Jin: 2)

“Dan bahwasannya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (QS. Al Jin: 3)

“Dan bahwasannya: orang yang kurang akal dari kami sebelumnya selalu mengatakan (kata) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. Al Jin: 4)

“Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.” (QS. Al Jin: 5)

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”(QS. Al Jin: 6)

Semoga kita bisa mengislamkan jin yang kafir, dan bisa mentauladani nabi Muhammad SAW, bukannya malah menyembah mereka, tapi mengajak mereka untuk melakukan kebaikan beramal sholeh, tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah. Jadi jin juga beribadah, sebagaimana manusia beribadah. Jin itu mendapat pahalanya sendiri, dan manusia itu mendapat pahalanya sendiri, tidak ada jin mencuri pahala manusia, atau sebaliknya, tak ada manusia mencuri pahala jin. Pahala itu akan hilang, dan diambil orang lain, kalau kita ghibah, membicarakan keburukan orang lain, keburukan itu boleh dibicarakan yang bukan ghibah, sebagaimana alqur’an memberi contoh, di dalamnya ada membicarakan Fir’aun, Namrud, orang munafik, orang kafir, orang bani siroil, dan alqur’an malah memberi contoh, boleh membicarakan mereka, karena keburukan mereka itu melampaui batas.

Kembali ke topik cerita,

Di MTS Wali Songo, ada kerasukan lagi, heran juga awalnya, karena yang awalnya mengganggu MTS adalah jin yang sekelompok dengan Aisyah, tapi kenapa kok sudah ku bersihkan masih saja ada kerasukan, setelah ku selidiki lewat terawang yang ku transfer pada Aisyah, ternyata itu ulah dukunnya sendiri yang punya kepentingan dengan mengirimi siswa jin yang merasuk, nanti dia akan tampil mengobati, dengan harapan, banyak yang tau, jadi kalau ada apa-apa akan minta bantuan padanya, jadi kata gampangnya IKLAN, memang ada-ada saja hal seperti itu, ku biarkan saja berlalu, karena itu urusan sekolah, kalau mereka berjodoh dan ada kemauan mau datang ke tempatku ya ku tolong, kalau tidak, ya biarkan saja..

Ternyata gurunya datang juga walau tak bawa muridnya yang kerasukan, hanya ingin konsultasi, dan ku beri arahan, kalau ingin mengobatkan yang kerasukan sebaiknya dibawa saja menghadapku, dan diiyakan, tapi untuk meyakinkan, ku tarik jin yang ditaruh di sekolahan sebanyak 75 jin, yang semua diperintah dukun untuk merasuki siswa. Para jin ku tanya setelah ku tarik 1 jin pemimpinnya.

“Kenapa kamu merasuki siswa?” tanyaku setelah jin ku masukkan ke siswa. Dia diam saja. Cuma menunduk tak berani menatapku.

“Kenapa diam saja, apa mulutmu dikunci?”

Dia manggut-manggut pertanda mulutnya dikunci agar tak buka suara. Lalu ku buka kunci yang mengunci mulut jin itu.

“Kenapa kamu merasuki siswa?” ku ulangi pertanyaanku.

“Saya disuruh..”

“Sama siapa?”

“Sama dukun yang memerintahkan kami..”

“Siapa?”

Dia diam.

“Tak mau ngaku… takut?”

“Ya…”

“Takut mana denganku?”

Dia mencoba menatapku tapi tak berani.

“Apa mencoba melawanku dulu, biar tau kadar ilmu.”

Dia segera siaga, mau menyerangku. Aku langsung mencabut pedang gaib, dan ku arahkan ke lehernya, dia minta ampun.

“Ampuuun aku mau masuk Islam…”

“Benar mau masuk Islam?”

“Ya…..”

“Siapa dukun yang memerintahmu?”

“Kami masing-masing diperintah sama dukun masing-masing, supaya merasuki siswa, ada yang karena dukunnya suka sama salah satu siswa, ada yang kepentingan agar perdukunannya laku..”

“Siapa saja nama dukunnya?”

Lalu jin itu menyebut satu persatu nama dukun yang memerintah jin agar masuk ke siswa, guru yang hadir gak percaya dengan apa yang didengarnya karena menurut mereka, para dukun itu malah yang selalu menolong kerasukan.

“Ah apa mungkin pak kyai, la mereka yang selalu menolong kalau ada kerasukan di sekolah kok.” kata bu guru yang bertubuh pendek gemuk.

“Ya percaya atau tidak itu urusan bu guru sendiri… saya hanya menunjukkan yang benar.”

“Ya setengah tak percaya lah pak, soalnya mereka baik semua.”

“Ada berapa temanmu?” tanyaku pada jin yang ada di dalam tubuh mediator.

“Ada seratus…”

“Seratus ribu?”

“Tidak hanya seratus saja.”

“Coba panggil kesini semua..”

Dia diam dalam memanggil temannya.

“Mereka tak mau datang.”

“Kenapa…?”

“Ya tak mau datang..”

“Apa tak takut denganku?”

“Tidak.”

“Baik kalau begitu..”

Pedang di tanganku ku panjangkan sampai ke sekolah MTS yang berjarak 1 KM, dan ku tebas kepala jin yang ada.. tiba-tiba ada yang datang dan langsung masuk ke mediator.

“Siapa kau, kenapa menyerang semua temanku, kenapa menebas kepala mereka dengan pedang?”

“Aku orang biasa…”

“Hmmm heh..” dia menyerangku, segera pedang ku tebaskan ke tubuhnya, sehingga badannya terbelah, dan ku ulang-ulang…

“Ampun.. ampuun.”

“Mau terus menyerangku?”

Dia berusaha menyerang lagi, dan ku tebas sampai puluhan kali. Berulang-ulang seperti itu, maka sekalian ku bunuh.


Sang kyai 73 (2)

Kembali yang muncul jin yang pertama masuk, “Sudah, Islamkan aku.” katanya.

“Ajak temanmu yang lain.”

“Ah perduli dengan temanku, yang penting aku selamat, aku cari selamat saja sendiri.”

“Ya kalau begitu kamu ku bunuh saja.”

“Ya… ya… aku akan memanggil temanku…” maka dia memanggil temannya.

“Bagaimana, apa ada yang mau melawanku?” tanyaku memastikan.

“Tidak, kami semua takluk dan minta diIslamkan.”

Lalu ku tuntun mereka semua masuk Islam, mengucapkan dua kalimat sahadat, setelah selesai, ku tanya.

“Ada berapa jin ini?”

“Ada 75 jin, jawab mereka..”

“Loh kok 75 jin? Yang 25 di mana, katanya ada 100 jin?”

“Yang 25 masih ada di dalam tubuhnya siswa, ikut pulang ke rumah siswa.”

“Ooo begitu… ya… ya.. sudah kalian keluar semua..”

“Baik kami mohon diri, dan kami minta maaf kalau kami mengganggu.”

“Ya sudah tak papa..” mereka segera keluar dari tubuh mediator.

Hari itu selesai dengan lancar, membereskan jin yang masuk pada siswa, semoga ini jadi pelajaran bagi siapa saja yang membaca kisah ini, jadi misal ada kerasukan masal itu bisa saja hanya permainan dukun, sebab hal seperti itu sangat mudah, tak perlu punya ilmu tinggi juga bisa melakukan, misal memakai batu akik yang punya power, atau memakai keris yang di dalamnya ada jinnya yang lebih kuat. Jadi memasukkan jin dalam pabrik atau sekolah, itu bisa direkayasa, dan amat mudah. Semoga ini bisa menjadi pelajaran.

Beberapa hari setelah kejadian di rumahku, ternyata masih ada kerasukan lagi, tapi kali ini ku dengar kabar dibawa kerumah sakit, ya jelas tak sembuh, ku biarkan saja, mungkin sekolah punya aturan sendiri, sampai akhirnya, karena tak sembuh dibawa lagi ke rumahku.dalam keadaan pingsan.

“Ini pak kyai ada kerasukan lagi.” kata mbak Sun yang kebagian memboncengkan siswi.

Segera ku ambil semua, ternyata di dalam ada ratusan jin, untung dengan perkembangan waktu, metode yang ku miliki untuk mengambil jin dari tubuh seseorang tak seperti dulu lagi, yang harus mengambilnya satu demi satu, sekarang sekali tarik 50, sampai 100 jin sekaligus juga bisa. Dan segera anaknya sadar.

Lalu anak yang kedua dan ketiga. Pertama ku mediumisasi, dan ketahuan dari kata jin yang masuk bahwa yang memasukkan masih dukun yang sama. Ketika pengobatan selesai, dukunnya ternyata mengirim jin, mungkin dianggepnya aku ini sekelasnya, sehingga dia begitu semangat menyerangku, sekali ku tarik jinnya yang dipakai menyerang, setelah 3 kali, maka semua jinnya yang dia simpan ku kirim malaikat maut, jinnya ada 600 ribu lebih, semua ke perintahkan malaikat mau mencabutnya dengan ijin Allah, maka semua jinnya mati, seharusnya seseorang itu mengaca diri, ee beberapa hari ke depan dia masih berusaha menyerang dengan mengambil jin dari beberapa tempat, awalnya ku biarkan paling jin yang berbentuk macan yang dia kirim ku tangkap dan ku remas menjadi tepung, tapi dia masih mengirim juga, maka ku cabut ilmunya, dan dia berhenti, kalau masih juga dengan ijin Allah, ku mintakan saja malaikat maut mencabut nyawanya, orang seperti itu tak akan kapok kalau tak masuk neraka.

Aku selalu memberi tempo, tak asal serang dan hancurkan, sebab dukun santet sekalipun juga punya keluarga, jadi tak asal bunuh, selalu memberi tenggang, dan memberi waktu buat dia untuk berfikir jernih, tapi kadang orang yang sudah dipengaruhi setan, akan membabi buta.

Segala permasalahan harus sebijak mungkin menyelesaikan, dan aku juga manusia biasa kadang juga marah jika orang yang sudah keterlaluan, melakukan kemungkaran sudah sangat terlalu, merusak banyak orang, ingat ini hanya cerita, jadi bacalah dengan santai. Jangan terlalu tegang terbawa alur ceritanya.

Semoga saja permasalahan di sekolah MTS Walisongo segera selesai.

___________________________________________________

Ada kejadian lagi di sekolah Safi’i Akrom, karena sekolah banyak ditambah ruangnya, sehingga banyak bangunan yang harus dibangun, untuk menambah ruang sekolah yang masih kurang karena bertambahnya siswa. Sehingga dibutuhkan membuka lahan baru, dan harus memotong pohon, dan tanpa disadari di pohon itu ada sekerajaan jin. Tentu saja banyak siswa yang dirasuki.

Jadi perlu diingat, kita ini berdampingan dengan jin, walau dengan dimensi dan alam berbeda, tapi kita ini berdampingan, jadi bisa saja siapa saja, akan bisa dirasuki jin tanpa diri sendiri merasa, bisa siapa saja, belum lagi karena belajar keilmuan yang melenceng kita akan mudah dirasuki jin, yang jelas jin itu kalau selalu di dalam tubuh manusia jelas akan mengganggu manusia, karena mereka tak seharusnya di dalam tubuh manusia.

Anak perempuan yang dibawa ke rumahku ini juga kesehariannya biasa saja, tak ada yang aneh, juga secara tingkah laku juga tak aneh sama sekali, sama sebagaimana anak perempuan lain, namun ketika dibawa ke rumahku ternyata di dalam tubuhnya ada ribuan macan, yang pindahan dari sekolahnya. Semua macan mengamuk ketika akan ku keluarkan, dan berusaha menyerangku, lalu ku panggil pemimpinnya, yang datang malah ratunya, dan ketika adu kekuatan denganku dia menyerah dan mau masuk Islam, tapi rajanya dan anak buahnya tak mau masuk Islam, dan lebih memilih melawanku, maka aku dikeroyok ribuan macan, karena melayani mereka aku lelah sendiri, walau banyak jin yang mati, sempat juga aku kena cakar, akhirnya ku buat latihan muridku, dan menemukan metode-metode baru mengeluarkan jin, sampai akhirnya ratunya sendiri yang datang, dan mengeluarkan satu persatu anak buahnya dari tubuh anak yang kerasukan, setidaknya itu membantu tugasku.

Malah berlanjut pada ratu mau mengobati orang yang hadir di majlis, ya sedikit ada manfaatnya. Cuma sayang dia tak mau berkomunikasi, hanya diam saja. Sambil melakukan gerakan-gerakan mengobati orang. Aneh juga.

__________________________________________________

Setelah kerajaan Samudra laut selatan ku taklukkan, laut menjadi kosong, dan ku perintahkan Ratu pantai selatan memimpin, ku coba melihat Aisyah, aneh nyai Ratu pantai selatan tak ada di singgasana laut, maka ku panggil beliau. Sebentar sudah masuk ke tubuh mediator, dan mengucapkan salam, sambil tangannya ditaruh di dada menghormat.

“Ada apa kyai memanggil saya?”

“Nyai ratu, kok nyai tak terlihat duduk di singgasana samudra selatan, kenapa tetap di pantai selatan?”

“Ampun saya kyai, saya tak kuat duduk di singgasana laut selatan.”

“Kenapa?”

“Bagi saya amat berat kyai.”

“Ku beri kekuatan tambahan ya?”

“Iya kyai…”

Lalu ku salurkan energi ke tubuh nyai Ratu laut selatan.

“Bagaimana sekarang? Apa siap?”

“InsaAllah kyai, doakan saya mampu menjaga amanah ini.”

“Silahkan nyai Ratu berangkat ke laut selatan.”

Nyai Ratu pantai selatan segera pergi setelah mengucapkan salam dengan menghormat sebagaimana biasanya.

Setelah dua hari menaklukkan laut selatan, kok gunung merapi meletus, dengan letusan intensitas ringan, dan tanpa terjadinya tanda-tanda sebelumnya.

Aku tak perduli, dan tidak membaca berita kecuali setelah teman-teman memberitahu, aku juga tak menduga itu ada hubungannya dengan apa yang ku lakukan.

“Kyai…. ki Semar ayahnya Permono marah kyai…” kata Aisyah di waktu sore.

“Ki Semar siapa nduk?”

“Ki Semar itu ya ayahnya Permono, Permono itu penguasa gunung Merapi kyai, Permono itu yang menjadi kusir kereta kencananya nyai Roro Kidul kyai..” jelas Aisyah.

Wah baru tahu aku, memang aku sendiri tak perduli dengan siapa jadi penguasa mana, karena sama sekali tak ada urusannya.

“Ooo jadi gunung Merapi itu ada penguasanya to nduk?”

“Ya kyai… yang jadi penguasanya itu Permono, nah karena kyai melempar nyai Roro Kidul ke neraka, maka ki Semar marah, dan di bawah sekali di dalam merapi dia menggerakkan anak buahnya untuk membakar lahar dan meledakkan merapi.”

“Wah kok ada kejadian seperti itu, berarti Merapi itu sebenarnya bisa dikendalikan ledakannya?”

“Iya lah kyai, kan di dalam ada para jin yang bekerja membakar lahar, panas itu kan tidak bisa menyala kalau tidak ada yang menaruh sesuatu yang bisa menyala mencampurnya menjadi lahar yang panas, dengan komposisi yang pas, kyai kan tau sendiri, masak nasi kalau kurang air, nasinya tak akan matang, nyalakan kompor tanpa bahan bakar juga tak akan nyala apinya.”

“Oooo ya.. ya… jadi di dalamnya ada jinnya pada bekerja?”

“Iya kyai… banyak jin yang bekerja..”

“Wah jadi meletusnya merapi kemaren itu juga ada yang melakukannya?”

“Ya begitulah kyai…., sebenarnya gunung-gunung juga semua begitu, jika tidak dibakar di bawah juga tak akan meledak, dan hanya akan menjadi gunung yang dijadikan Allah sebagai paku bumi.”

“Wah makin banyak pengetahuanku, rasanya makin banyak yang belum ku ketahui, trus nyai Blorong itu… tuaan mana dan sakti mana dengan nyai Roro Kidul?”

“Ya saktian nyai Blorong lah kyai, kan nyai Roro Kidul itu yang menjadikan ratu di samudra selatan adalah nyai Blorong.” jelas Aisyah.

“Lhoh kok dalam cerita yang sering ku baca, kalau nyai Blorong itu anak angkat nyai Roro Kidul..?”

“Ah ya gak lah kyai, kan nyai Blorong itu lebih tua dari nyai Roro Kidul, nyai Roro Kidul itu yang mengangkat jadi ratu samudera ya nyai Blorong.”

“Wah bingung aku soal gaib begini.. lalu..”

“Lalu apa pak kyai?”

“Lalu nyai Blorong itu Islam bukan?"

“Nyai Blorong itu bukan Islam, dulu pernah menjadi Islam, tapi murtad, lalu dia menjadi sumber segala ilmu hitam, dan juga yang dijadikan memberikan pesugihan.”

“Ooo begitu..”

“Ya kyai…”

“Bagaimana kalau ku hancurkan nyai Blorong…? Apa ilmuku mampu.”

“Ya jelas nyai Blorong kalah kalau melawan kyai, tapi….”

“Tapi kenapa?”

“Tapi kyai apa siap dikeroyok semua dukun ilmu hitam seluruh Indonesia? Misal kyai mampu, bagaimana dengan anak istri kyai, bagaimana dengan Aisyah?”

“Ya… ya…., lalu bagaimana dengan ki Semar? Siapa dia?”

“Dia awalnya dari jin di atas angin, di planet lain kyai, yang turun ke sini, dan kemudian jadi menakluk pada nyai Ratu kidul, dan diserahi untuk menguasai gunung Merapi.”

“Ooo begitu rupanya…?”

“Menurut cerita itu nyai Roro Kidul itu nikah sama Senopati? Apa benar begitu?”

“Ah tidak kyai, itu hanya cerita yang dibuat-buat orang, ya tidaklah, kan kyai sendiri sudah melawan suami nyai Roro Kidul, bukan Senopati,”

“Kata cerita juga nyai Roro Kidul itu dari manusia, apa benar begitu?”

“Tidak kyai, dia dari bangsa jin.”

“Asli jin..”

“Asli… kan bentuk aslinya ular, cuma dia sering membuat bentuk sebagai perempuan cantik, kayak Aisyah sering menyerupai bentuk wanita cantik, tapi bentuk Aisyah adalah burung dara, atau Dewi Lanjar asli bentuknya ular, tapi sering menyerupai bentuk wanita cantik, itu kan hanya bentuk yang disukai kyai.”

“Wah makin bingung aku dengan soal gaib, ya sudahlah, memang namanya juga gaib..”

“Kyai… ada yang melarang Aisyah.”

“Melarang Aisyah untuk apa?"

“Untuk banyak bercerita soal dunia jin yang sesungguhnya pada kyai.”

“Siapa yang melarang nduk?” kadang risih juga memanggil Aisyah dengan panggilan nduk, padahal Aisyah itu sudah ada sebelum kakek nenekku ada, karena dia sudah berumur ratusan tahun, tapi kalau melihat lagak lagunya yang secara manusia berumur manusia 20an tahun, maka dengan sendirinya aku memanggil nduk, padahal umurnya sudah 300-400 tahunan. Makin aneh saja.

“Yang melarang tak tau pak kyai…”

“Oo ya, tadi ki Semar bagaimana?”

“Apa kyai mau menariknya?”

“Ya…”

“Silahkan kyai.”

Aku segera menarik ki Semar ku masukkan ke tubuh mediator.

“Apa ini ki Semar?”

“Ya…. hm…”

“Apa ki Semar yang membuat gunung Merapi meletus..?”

“Iya… hm kamu yang melempar nyai Roro ke neraka.”

“Iya aku yang melemparkan.”

“Hm..” ki Semar pasang kuda-kuda mau menyerangku.

“Aku lagi malas bertarung ki, kalau ki Semar memaksa, maka akan ku lempar ke neraka.” jelasku disertai ancaman, tapi ki Semar tetap menyerangku. Maka ku pegang kepalanya, dan ku tarik ruhnya ku lemparkan ke neraka. Permono pun datang tanpa bilang ba-bi-bu langsung menyerangku setelah masuk ke mediator, maka tanpa peringatan juga, ku tangkap dan ku lemparkan ke neraka.

“Sudah…” suara Aisyah.

“Sudah apa Aisyah?”

“Sudah wassalam semua… semua mati.., pak kyai kalau marah galak ya… Aisyah jadi takut, tubuh pak kyai diliputi cahaya dari neraka… hiiii takut, hawanya malaikat maut sama hawanya malaikat Malik penguasa neraka nyatu… hiii Aisyah takut sekali kyai… kalau kyai marah.”

“Kyai kan gak marah sama Aisyah..”

_________________________________________________

Makin hari, makin banyak jin dari segala penjuru yang datang ingin masuk Islam, ada yang datang sendiri-sendiri, ada yang datang bergerombol, ada serombongan sebanyak ratusan ribu jin, ada juga berombongan jin berbentuk kera putih, yang berombongan sebanyak ratusan ribu, mengakunya lewat menulis di kertas, mereka dari langit ke empat, ah tak tau juga, semuanya tak bisa bicara, hanya ha-hu-ha-hu…. setelah ku Islamkan, mereka ku suruh tinggal bersama Dewi Lanjar, yang memang sudah ku pesan sebelumnya kalau ada jin yang masuk Islam, akan ku kirim ke sana, karena tempatku sudah penuh.

Sementara itu Sengkuni makin gencar saja serangannya, karena menangkap Aisyah berulang kali gagal, maka dia memakai strategi lain, dia memakai jurus pelet jaran goyang, yang dipelet adalah mbaknya Yaya, yang biasa ku pakai mediumisasi Aisyah, mbaknya Yaya merasa rindu dan ingin bertemu Sengkuni, siang malam yang dibicarakan ingin ke tempatnya Sengkuni di Surabaya, dan ingin bersama Sengkuni, dan membawa Yaya, untuk diserahkan Sengkuni. Sama suaminya lalu dibawa ke rumahku.

“Ini bagaimana mas, ini istri saya mau terus ketemu Sengkuni.” kata kang Slamet.

“Ditempel saja kang, biar jinnya bangkit.” jelasku.

Maka kang Slamet segera menempel tubuhnya mbak Sun, agar jinnya bangkit.

“Ampuun panas.. ampun panas..” kata jin dalam tubuhnya mbak Sun.

“Siapa, dari mana, dan perintahan siapa?”

Si jin diam, dan tak bicara.

“Aisyah..”

“Iya pak kyai..”

“Ayo Aisyah melatih cambuk api yang kyai berikan pada Aisyah. Cambuk jin itu yang ada di tubuhnya mbak Sun.”

“Iya kyai..”

Aisyah segera mengeluarkan cambuk sesuai kunci mengeluarkan cambuk api yang ku ajarkan, dan mulai mencambuk jin yang ada di tubuh mbak Sun.

“Aduuh ampuuun…. panas… panaass…! Iya iya aku mengaku. Aku jangan dicambuk lagi.”

“Jawab pertanyaanku tadi.”

“Aku diperintah Sengkuni.”

“Siapa dukunnya?”

“Dukunnya adiknya sendiri, yang ada di Surabaya, yang tinggalnya dekat tugu.”

“Diperintah apa?”

“Diperintah mempengaruhi perempuan ini, agar mau membawa adiknya menghadapnya, nanti mau dibunuh, agar tak bisa membantumu.”

“Kamu dari mana?”

“Aku dari Alas Roban… aku saudaranya jin yang mencuri ilmunya Aisyah itu.”

“Ha jadi kamu saudaranya dia..?”

“Ya…”

“Di mana sekarang saudaramu? Coba panggil ke sini.”

“Saudara saya sedang sakit kyai, dia ada di Alas Roban..”

“Panggil kesini..”

“Hm… panggil kesini, sakit juga panggil kesini.”

“Ya.. akan saya panggil.”

Sebentar kemudian jin yang dipanggil datang.

“Kamu yang mencuri ilmunya Aisyah dulu,”

“Iya, ampun kyai.”

“Hm, aku akan cabut nyawamu, atas kelancanganmu mengambil ilmu aisyah.”

“Ampun kyai.”

Aku lalu berdoa pada Allah agar nyawa jin ini dicabut…. dan alhamdulillah Allah mengabulkan, dan nyawa jin itu pun tercabut dan dilempar ke neraka. Kembali yang muncul jin yang tadi dikirim Sengkuni.

“Ampun kyai saya jangan dimatikan.”

“Dengan ilmu apa Sengkuni mengirimmu?”

“Dengan ilmu jarang goyang, ilmu pelet..”

“Apa dia bisa ilmu pelet?”

“Tidak kyai, dia membayar dukun, dan menyuruh adiknya.”

“Memang adiknya bisa?”

"Sengkuni itu mencari ilmu sebanyaknya di Banten, dan yang disuruh mengamalkan adiknya, dia juga banyak meminta ilmu pada kyai Cilik lalu diberikan pada adiknya untuk diamalkan, cuma kemudian diamalkan dengan cara sesat.”

“Bagaimana kamu keluar sendiri?”

“Ya saya mau keluar sendiri, tapi saya ingin diIslamkan sama kyai..”

“Baik tirukan saya membaca dua kalimat sahadat. Ada berapa temanmu di dalam yang disuruh Sengkuni?”

“Ada tiga kyai..”

“Apa semua mau masuk Islam?”

“Ya kyai.”

“Suruh semua menirukan ucapanku.”

Maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat.

___________________________________________________

Ingat cerita yang ku tulis tanpa pakem cerita, atau mengekor pada cerita siapa saja, ku tulis hanya sekedar pengalaman, bisa saja benar, dan juga bisa saja salah, jadi apa yang terjadi pada cerita ini bisa saja tak sama dengan cerita siapa saja, karena bukan meniru, atau mengekor pada cerita siapa saja atau cerita yang sudah menjadi mitos. Ini hanya kejadian yang ku alami, yang lantas ku tulis menjadi satu kisah, malah cenderung yang ku anggap kok terlalu di luar nalar, aku memilihnya tak ku tulis saja, daripada nantinya menjadi polemik, karena ketidak percayaan orang dan menjadi perdebatan panjang, apa yang ku tulis ini yang ku anggap masih dalam kepatutan untuk dikisahkan, jadi masih banyak yang belum dan tak ku tulis, yang akan menjadi konsumsi pribadiku, semoga apa yang ku tulis ini bisa membawa manfaat, dan yang membaca tak bosan dengan tulisan-tulisanku. Dan maaf jika ada salah kata dan tulisan selama ini, yang mungkin bahasa yang ku pakai tanpa adanya aturan bahasa yang benar, dan cenderung ku tulis dengan tulisan apa adanya. Karena juga tulisan ini ku tulis di saat-saat waktu luangku. Jadi kadang ceritanya gak nyambung antara satu yang lainnya, endingnya tak jelas, sebab bukan kisah yang dengan memakai sutradara, ini hanya kejadian keseharian, tak ada yang hebat, karena setiap orang pasti juga punya kisah hariannya, asal orang itu hidup, pasti tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, pasti punya kisah, mungkin kisahnya lebih dasyad dariku…. dan kisahku ini masih berlanjut……………..

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...