Jumat, 31 Juli 2020

SANG KYAI -51

Sang kyai 51

Dalam dunia ini antara kebaikan dan keburukan itu saling ingin menguasai, kebaikan punya tentara, keburukan juga punya tentara, dan nafsu itu telah ditanamkan oleh Alloh di hati manusia, jadi sejak kecil manusia itu lebih mudah diseret oleh keinginan nafsunya, dan ditawan sekian lama, lalu kecendrungan nafsu senang kenikmatan, nama besar, pujian, itu telah menguasai, dan menyatu sehingga antara kebenaran dan kejahatan itu sudah sulit dibedakan, cenderung apa yang tidak menyenangkan nafsu maka dianggap suatu keburukan, sekalipun itu dari Alloh, sekian waktu hal itu menjadi keseharian dan membatu mengeraskan hati, maka ketika kebenaran datang, hati lebih suka dan lebih condong pada kejahiliahan, karena kebenaran itu sama sekali tak menguntungkan nafsunya.

Sah-sah saja manusia itu tak mau keluar dari nafsunya, dengan segala nikmat penjajahannya, dan boleh-boleh saja manusia itu mempertahankan kesalahan jalannya, tapi maut akhirnya juga datang, malaikat maut itu tak mau disogok, dibayar sekalipun uang dunia dikumpulkan selama ini diberikan, malaikat maut tetap akan mencabut nyawanya, dan malaikat maut ternyata anti sogok, dan jika setelah mati lalu menerima siksa, itu bukan salah siapa-siapa, apalagi salah Alloh, Alloh itu tak mendzolimi hambanya, jika ditaqdir buruk, Alloh telah menunjukkan cara benar berdo’a, agar ikatan taqdir buruk itu diurai ikatannya, dan dirubah menjadi baik, tapi itulah manusia, jika sudah meninggal dan ditunjukkan pada kenyataan akan siksa lalu baru menyesal, masa yang lewat itu tak akan bisa dibeli, jika berbuat baik dan beramal baik menunggu nanti-nanti, maka kerugian itu pasti datang, maut itu pasti datang.

Sekian lama di Pekalongan, hidup dan menjadi warganya, aku tak pernah menunjukkan bahwa aku ini orang apa, aliran apa, sehingga banyak orang yang meminta do’a atas penyakitnya, lalu sembuh, malah aku dianggap dukun, padahal dukun itu sangat dilaknat Nabi, yang paling getol memusuhiku adalah kyai Askan, aku digembar gemborkan dukun, tukang bakar menyan, padahal ndak pernah bakar menyan, tukang jual air yang ditiup, dan minta bayaran, padahal seringnya kalau ada yang minta air do’a malah aku yang harus mengeluarkan air mineral dan cuma dapat ucapan terima kasih, tapi aku yakin, seyakin-yakinnya kalau Alloh itu tau hati siapa saja yang ikhlas, dan hati siapa saja yang ngaco.

Dan selama sepuluh tahun pun aku tak pernah punya murid di Pekalongan, muridku pertama di Pekalongan bernama Nanang, aku juga tak kenal dengan Nanang, walau dia tetanggaku, karena memang disamping aku orangnya tak pernah nongkrong dengan tetangga, juga Nanang itu bukan asli tetanggaku tapi orang yang nikah dengan tetanggaku, perkenalanku dengan Nanang, hanya kebetulan dalam tahlilan bareng. Seperti biasa bila diundang tahlilan bareng, aku akan memilih berangkat belakangan, karena biasanya kalau berangkat depan dan duduk di dalam ruangan, maka aku akan diminta memimpin tahlil, dan itu pasti akan membuat kyai Askan marah, dan menganggapku merebut jatahnya, ya terpaksa aku memilih berangkat belakangan, dan biasanya akan bertempat di luar, la aku sendiri juga sebenarnya tak ingin diminta memimpin tahlil, bukan apa-apa, soalnya aku tak hapal tahlil. Hahaha… Bodoh ya diriku, memang aku bukan orang pinter, sampai tahlil saja ndak hapal, biasanya kalau diminta memimpin aku baca yang ingat ingat saja, dan kalau tidak disuruh memimpin ya aku malah senang.

“Mas ini orang toreqoh ya..?” tanya Nanang yang duduk di sampingku.

“Iya… kenapa?” tanyaku.

“Saya juga ingin belajar thoreqoh, boleh tidak mas saya menjadi muridnya?” tanyanya lagi, karena tahlilan belum dimulai, menunggu tamu undangan lain datang.

“Hehehe, thoreqoh itu berat pengamalannya, lebih baik jangan, apalagi jika masih mengutamakan dunia.” kataku. “Dan menjadi muridku itu berat, makanya aku sendiri tak mengangkat seseorang menjadi muridku, karena aku tak yakin kalau orang sini ada yang mampu, lebih baik ku amalkan sendiri.”

“Walau berat, saya siap mas mengamalkan,” jawabnya.

“Pikirkan dulu masak-masak, renungkan, dan kalau perlu meminta ijin istri, sebab bukan hanya menjadi muridku itu cuma menjalankan amalan dariku, tapi juga harus mau ku perintah apapun yang tidak melanggar syari’at agama.” jelasku.

“Baik nanti saya akan minta ijin istriku.”

“Ya baiknya begitu.” kataku dan tahlil pun telah dimulai.

Besok malamnya Nanang sudah datang ke rumah.

“Saya siap mas menjadi muridnya, ” kata Nanang setelah duduk di depanku.

“Aku di Pekalongan sini sudah sepuluh tahun, tapi belum pernah sekalipun mengangkat murid, dulu di pesantren muridku ratusan, sekarang di internet juga ratusan, tapi di Pekalongan sini, kau baru yang pertama, kenapa selama sepuluh tahun aku tidak mengangkat murid di Pekalongan, bahkan orang jarang tau aku ini manusia sebenarnya bagaimana, karena memang aku ini tak yakin orang Pekalongan itu mampu menjadi muridku, bukan aku merendahkan orang Pekalongan, tapi sebab selama aku di pekalongan ini yang ku temui hanya orang yang kejar-kejaran sama duniawi, jadi aku belum pernah melihat orang yang benar-benar tak hatinya dipenuhi dengan bayangan dunia, menjadi muridku itu berat, bukan berarti aku melarang orang tak mengejar dunia, kaya itu boleh, punya pesawat juga boleh, la haji saja butuh biaya, tapi jangan kekayaan itu menutupi diri dengan Alloh, benar kamu siap menjadi muridku, lahir bathin?”

“Siap mas, saya siap lahir batin.” jawab Nanang mantap.

“Masih ada waktu untuk mundur, jika memang tak siap, aku akan memberi tenggang masa tiga bulan, jika tak kuat, maka silahkan mengundurkan diri, sebab menjadi murid thoreqoh itu harus siap diperintah guru, tawadhu’ pada guru, bukan soal siapa gurunya, bukan karena aku mulia atau ingin dimulyakan, kalau guru thoreqoh kok pengen dimulyakan manusia, maka do’anya tak akan diijabah oleh Alloh, dan tinggalkan guru palsu seperti itu. Nah, murid itu punya keharusan tawadhu’ dan mengikuti taat kepada guru adalah demi murid itu sendiri, karena ilmu yang dititipkan Alloh kepada guru, akan mengalir kepada murid, jika hati murid terbuka, dan guru senang, seperti aliran air yang terbuka, dan murid menerima alirannya, karena menyenangkan guru, saya dulu juga begitu, dan hanya butuh waktu sebulan untuk menimba, jika murid tak taat kepada guru, maka dibutuhkan waktu seratus tahun juga belum tentu ilmu guru akan mengalir pada murid, karena pintu-pintu ilmu tak dibuka oleh Alloh. Sebab tidak adanya keta’atan dan ketawadhu’an murid kepada guru, jadi yang memberikan ilmu itu bukan guru, tapi Alloh, tapi lewat seorang guru, ilmu thoreqoh itu berhubungan dengan hati dan seluk beluknya, seorang sekalipun tak menjalankan amalan puasa, dzikir, tapi amat ta’at pada guru, maka ilmu juga dituangkan oleh Alloh, kepada murid itu, jadi keta’atan murid pada guru itu mutlak dibutuhkan. Tau Imam Ghozali, Imam Ghozali itu mempunyai adik, yang tak mau sholat berjama’ah menjadi makmumnya, ya Imam Ghozali malu, karena dia seorang imam besar, kok adiknya sendiri tak mau menjadi makmumnya, lalu Imam Ghozali meminta ibunya supaya membujuk adiknya agar mau menjadi makmumnya, maka ibunya pun membujuk adiknya, dan adiknya pun mau menjadi makmumnya, tapi di tengah sholat adiknya malah mufaroqoh memisahkan diri dari sholat berjama’ah, ya jelas makin membuat Imam Ghozali makin malu, lalu menanyakan kepada adiknya kenapa kok mufaroqoh, adiknya menjawab karena di hati Imam Ghozali dipenuhi nanah dan darah, tak ada sama sekali cahaya ilahiyah, Imam Ghozali kaget, kok adiknya bisa tau soal hati, dia bertanya kepada adiknya, ilmu seperti itu belajar kepada kyai siapa? Dijawab adiknya ilmu itu belajar dari kyai kampung, maka Imam Ghozali pun ingin berguru kepada kyai kampung itu, sampai di tempat kyai kampung itu dia mengutarakan maksudnya berguru, tapi sama kyai kampung itu ditegaskan kalau Imam Ghozali tak akan kuat berguru kepadanya, tapi Imam Ghozali ngotot dan mengatakan kuat apapun syaratnya. Kyai kampung mengatakan syaratnya tak banyak, hanya satu taat dan tunduk kepada perintah guru, sami’na wa ato’na, mendengar dan menta’ati, Imam Ghozali menyatakan sanggup dan siap menerima perintah. Lalu kyai kampung itu memerintah pada Imam Ghozali untuk menyapu jalan, Imam Ghozali pun siap, dan mengambil sapu, kata imam kampung, siapa yang menyuruhmu menyapu jalan dengan sapu, aku meyuruhmu menyapu jalan dengan jubah kebesaranmu, Imam Ghozali karena keinginan kuatnya menjadi murid, dia melepas jubah kebesarannya lalu menyapu jalan dengan jubahnya, menghilangkan kehormatannya dan ego-nya sebagai seorang imam, lalu menyapu jalanan dan membersihkannya, dengan jubahnya, baru berjalan beberapa meter, sudah cukup, kata kyai kampung, kamu sudah cukup menjadi muridku, dan menyerap semua ilmuku, sekarang kamu pulang, maka Imam Ghozali pulang dan kemudian menemukan rahasia-rahasia hati dan mengarang kitab ihya’. Itu kisah Imam Ghozali, tak beda dengan kisah Nabi Khaidir dan Nabi Musa. Jadi keta’atan murid kepada guru itu mutlak dan syarat utama dibutuhkan seorang murid kepada guru, sekalipun dalam lahirnya kedudukan murid anak presiden atau kaisar dan seorang gurunya seorang pengemis yang rumah saja tak punya, maka jika ilmu ingin didapat harus taat pada guru, jika tidak taat maka jangan harap seribu tahun akan mendapat ilmu, sebab Alloh menutup sumber-sumber ilmu itu, la ilma lana illa ma alamtana, jadi semua ilmu ilahiyah itu dari Alloh, seorang guru ditaati itu bukan jasad lahirnya, tapi karena seorang guru menjadi guru thoreqoh itu diangkat oleh Alloh, dipilih dan karena seorang guru itu seperti orang yang pernah melewati jalan, dan seorang murid akan melewati jalan yang sama, dan guru yang pernah melewati jalan itu lalu memberi petunjuk, agar murid tak salah jalan. Nah aku sudah menjelaskan panjang lebar, jika siap menjadi murid, apa kamu siap taat?” tanyaku.

“Ya saya taat.” jawab Nanang.

Lalu aku memberikan Nanang amalan dan menjelaskan cara pengamalannya.

Beberapa hari Nanang menjalankan puasa, dia datang ke rumahku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Anu mas saya ingin cerita, pertama menjalankan puasa, saya pas jalan sama anak saya pakai motor, lalu di jalan pas berhenti untuk beli sesuatu, ada seseorang berjenggot panjang, mendekatiku dan mengatakan, “Wahai kekasih kecil, taatlah pada gurumu.”, dia menepuk-nepuk pundakku, aku diam saja dan heran, orangnya kurus dan jenggotnya putih sedada panjangnya, lalu pas saya di jalan ada seorang gembel yang sepertinya gila, dia mendekatiku, dan mengatakan, ya habibi, kau seperti bambu kecil yang masih kecil, taatlah pada gurumu, kau akan menjadi bambu besar yang banyak manfaatnya.” cerita Nanang. “Itu siapa mas?”

“Itu para wali Alloh yang menyamar, sudah tak usah dihiraukan, lanjutkan saja amaliahmu dengan ikhlas.” kataku.

___________________________

Beberapa hari Nanang datang lagi, “Maaf mas, saya kan punya saudara, saudaraku itu orang yang mengobati orang dengan bantuan jin, biasanya dia mengobati orang harus makan menyan atau kembang, kemaren kan saya main ke rumahnya, kok dia kepanasan kalau aku mendekat, malah sekarang saya tidak boleh ke rumahnya karena dia kepanasan, itu kenapa?”

“Ya jelas kepanasan, antara ilmu dari syaitan sama ilmu dari Alloh kan bersebrangan.”

“Jadi itu tak apa-apa?”

“Tak apa-apa, lanjutkan saja menjalankan amaliyah, oh ya, besok aku dimintai bantuan mengecat masjid, kamu ikut, aku mengecatnya setelah sholat isya, sampai jam sebelum sholat subuh.”

“Iya mas saya siap.”

Malamnya aku dan Nanang selepas isya’ mengecat masjid dengan kompresor, sampai waktu mendekati subuh, berhari-hari ku jalani, sambil melatih keikhlasannya Nanang. Sementara orang-orang melihat kami seakan kami orang gajian.

“Nang, kamu harus ikhlas, lepas, los, walau ndak ada yang bayar, walau tak ada yang bantu, malah lebih baik, sebab kita borong kita sendiri pahalanya, selama masjid ini berdiri, dan dipakai sholat, kita akan selalu mendapat bagian tersendiri.” jelasku.

“Iya mas… saya ikut saja apa kata mas.” jawab Nanang. “Tapi saya kalau jam 12 malam tidur sebentar ya mas, soalnya besok kerja di sekolah jadi ngantuk.”

“Ooo kamu itu kerjanya di sekolah to?” tanyaku sambil naik turun seteger.

“Iya mas.”

“Kerja jadi guru?”

“Bukan mas, saya cuma TU.”

“TU, wah muridku hanya seorang TU, sudah nanti kamu jadi PENASEHAT SEKOLAH saja.” kataku.

“Hahaha… ya ndak level to mas, wong saya sekolah saja cuma sampai tsanawiyah, tak mungkin itu,”

“Lhoh kamu ndak percaya?”

“Heheheh…” Nanang cuma ketawa.

“Begini saja, kamu pegang ucapanku, setengah tahun lagi kamu jadi penasehat sekolah, kalau tak jadi penasehat sekolah, sudah kamu anggap saja aku ini orang yang cuma asbun alias asal bunyi, tak bisa dipegang ucapannya.”

“Tapi rasanya tak mungkin,”

“La kalau Alloh menghendaki terjadi memangnya siapa yang bisa menolak?” kataku meyakinkan.

“Oh ya mungkin di sekolahmu, sekolah mana itu?”

“Sekolah SMP Islam,”

“Ya di sekolah SMP Islam itu akan banyak kerasukan.”

“Apa benar?”

“Iya benar, nah ini ku kasih tau cara membereskan kerasukan itu.”

“Bagaimana mas caranya?”

“Ini ikuti kata-kataku…..(rahasian)…., sudah paham?”

Aku mengulang beberapa kali kata, agar Nanang hafal apa yang ku ajarkan.

“Lalu ngambilnya bagaimana?”

“Ya kayak ngambil barang saja, diambil lalu dibuang, nanti langsung sadar.” jelasku.

“Cuma begitu? Kok kalau di tv pakai jurus segala?” tanya Nanang.

“Ah itu akting.”

Besoknya Nanang ke rumahku lagi.

“Benar kata mas, di sekolah ada kerasukan masal, dan semua orang berusaha mengobati dan menyembuhkan, tapi tak ada yang bisa, kok aku lakukan yang mas ajarkan langsung mudah saja bisa, ternyata gampang sekali, dan hanya aku yang bisa mengeluarkan jinnya, wah jadi deg-degan rasanya tak percaya.” cerita Nanang.

“Ya sekalipun kamu tak percaya kan telah terjadi.” kataku.

“Aku sampai berpikiran, wah saya di-tes ilmuku sama mas.” kata Nanang.

“Sebenarnya secara teori, ngapa juga aku ngetes kamu lewat jin segala.”

“Tapi mas, guru yang lain, malah ada yang berpendapat, kalau aku memakai ilmu jin, soalnya tak ada yang sanggup mengeluarkan kecuali aku sendiri, jadi aku dikira memakai jin, bagaimana ini mas?”

“Ya biarkan saja, yang penting kamu kan tidak melakukan, sudah lakukan saja penolongan.”

“Iya mas, saya siap.”

“Saya juga heran, padahal di tempat saya kan banyak guru yang mempunyai kelebihan, kayak guru silat juga ada, muridnya habib Lutfi juga ada tapi kok ndak bisa mengeluarkan jin yang merasuk ya?”

“Jangan sombong, baru bisa seperti itu sudah sombong, manusia itu tak ada kekuatan sama sekali, kecuali Alloh mengijinkan dan menganugerahi punya kekuatan.”

“Maaf mas, saya hanya merasa aneh saja.”

“Sudah lakukan saja petunjuk yang ku berikan, dan kerasukan itu akan masih berlanjut.”

“Siap mas…”

Begitulah Nanang kemudian perlahan tapi pasti kemudian menjadi kepercayaan sekolah, dia mulai tidak diperintah apa-apa, hanya menjaga sekolah kalau ada apa-apa.

Setengah tahun sudah berlalu, dan Nanang menghadap kepadaku.

“Saya sudah diangkat menjadi penasehat sekolah mas, terimakasih atas do’anya.”

“Hehehe… bagaimana sekarang percaya?”

“Ya saya percaya mas.”

“Semua guru ingin mengikuti pengajian di majlis, boleh tidak.”

“Nanti saja, kalau aku bilang boleh, baru boleh kesini.”

“Semua kalau ingin sowan kesini boleh?”

“Jangan, nanti saja, aku masih menjalankan amalan, tak mau repot disibukkan tamu.”

“Baik mas..”

Jika seseorang itu telah dianugerahi oleh Alloh, suatu anugerah maka orang lain tak akan bisa memiliki anugerah itu, dan Alloh amat tau siapa-siapa yang pantas menerima anugerah, ingat apapun yang di luar kebiasaan, atau khorikul adat, yang berupa kelebihan dan kebisaan tertentu, bisa saja itu bukan dari Alloh.

Yang dari Alloh itu bisa saja Mu’jizat yang diberikan kepada Nabi, dan Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW, dan ada yang diberikan kepada wali, namanya karomah, lalu diberikan kepada orang yang bertaqwa, dinamakan ma’unah, atau pertolongan Alloh, ada juga istidroj atau pengelulu, kelebihan yang diberikan kepada orang yang suka maksiat, masih ada lagi, ada wali Alloh, ada wali syaitan, wali Alloh adalah orang yang punya karomah, dan orangnya juga tekun menjalankan laku ibadah, dan wali syaiton adalah orang yang mengajak pada kesesatan, tapi mempunyai kelebihan yang di luar nalar.

Ada juga ilmu dan kelebihan seseorang karena menjalankan ilmu hikmah, kesaktian, atau ilmu karuhun, atau kejawen.

Setiap amalan dan ilmu itu pasti ada efek baik, tapi juga ada efek buruk, termasuk kejawen, dan ilmu yang ada unsur khodamnya.


Kamis, 30 Juli 2020

SANG KYAI -50

Sang kyai 50

“Harapan dan angan-angan itu sangat berbeda sekali, harapan itu selalu dari sisi kebenaran dan akherat atau Alloh, tapi kalau angan-angan atau hayalan itu dari sisi dosa, dan dunia, contoh seseorang tak akan menyukai istri orang lain, itu namanya khayalan, kemudian dibawa hayalan itu di pikiran dipupuk dengan aneka gambar nafsu, tapi jika kemudian hayalan itu dibuktikan atau diusung kepada kenyataan maka akan bernama perselingkuhan, zina, padahal apa yang di kenyataannya tak enak, itu kalau diangan-angankan akan seakan-akan nikmat sekali, seperti orang ingin bakso, tapi baru habis 1 mangkok sudah lantas tak mau lagi, padahal semalaman tak bisa tidur karena menghayalkan dan menginginkan bakso itu dibayangkan dimakan segigit demi segigit, tapi setelah dirasakannya nikmatnya tak seberapa.”

“Sebaliknya harapan itu selalu berhubungan dengan akherat, atau perbuatan mulia, atau ridho Alloh, misal seseorang tak akan menyukai atau berharap agar orang yang sudah punya suami itu menjadi miliknya, sebab memang bukan miliknya, dan bukan haknya, antara harapan dan angan-angan itu sama-sama belum terjadi, tapi secara prakteknya dan jalur keluarnya beda. Walau secara bentuk tempat keluar sama dalam artian seperti dua paralon, satu mengeluarkan limbah, dan satu mengeluarkan air bersih.”

“Jadi orang yang menyukai saya itu tak benar kyai?” kata Dewi.

“Ya, dan lebih baik dihindari.”

“Lalu bagaimana solusi anak saya dengan suaminya kyai?” tanya ibunya Dewi.

“Itu suaminya berapa kali sebulan pulang ke rumah?” tanyaku.

“Biasanya sebulan datang sekali, itu juga tak menyentuh saya sama sekali, hanya sama anak-anak.” jawab Dewi.

“Apa mungkin dia punya penyakit?” tanyaku lagi.

“Iya itu yang selalu dijadikan alasan kenapa dia tak mau menyentuh saya.” jelas Dewi

“Lalu penyakitnya apa?”

“Dia punya penyakit di rusuknya, kalau kambuh ya katanya nyeri sekali, sudah diobatkan kemana-mana kyai, tapi sampai sekarang malah makin parah saja.”

“Begini saja nanti kalau suaminya pulang, dibawa kesini saja, biar aku bicara sama dia.”

“Dia seorang insinyur kyai, sepertinya akan susah bicara dengannya, dia selalu mengutamakan logika.” jelas Dewi.

“Iya tak apa-apa, bawa saja dia kemari.”

“Baik kyai kalau begitu nanti akan saya bawa ke sini, kami minta diri saja.” kata Dewi.

———————–

Seminggu kemudian Dewi datang lagi membawa suaminya, seorang pemuda yang berkulit kuning, tinggi sedang, di wajahnya ada sedikit keangkuhan, aku juga tak heran jika seseorang bekerja sebagai seorang manager sebuah perusahaan besar, itu biarlah menjadi pembawaannya, dia mengenalkan diri bernama Suryo Wisanggeni, nama yang aneh menurut penilaianku, mengingat nama adalah do’a setiap kita memanggil orang yang mempunyai nama indah, maka akan seperti mendo’akan orang yang kita panggil.

Aku sebelumnya telah memberitahu Dewi agar suaminya dibawa ke rumahku dengan alasan mau diobatkan penyakit di rusuknya yang nyeri, yang menurut Dewi bahwa penyakit itu telah dibawa berobat ke dokter atau ke shinse, atau paranormal terkenal, tapi tak juga sembuh.

Ketika Suryo menatapku, aku melihat pancaran keraguan di wajahnya, sebab aku memang selalu terlihat kecil tak berdaya.

“Sakitnya apa mas?” tanyaku ku tujukan pada Suryo.

“Aku sakit di rusuk sebelah kiri.” kata Suryo.

“Lalu sudah diobatkan di mana saja?” tanyaku.

“Ah sudah pegel aku nyari obatnya mas.”

“Apa sama sekali tak ada perubahan?” tanyaku.

“Sama sekali tak ada mas, tapi ada satu yang menjadikanku agak enak, yaitu minum darah ular kobra, maka beberapa hari sakitku seperti hilang, tapi seminggu kemudian aku sakit lagi, lalu aku konsumsi darah ular kobra lagi, maka sakitku pun mendingan lagi, dan seminggu kemudian sakit lagi, dan mulai ku hentikan, ketika di tubuhku banyak timbul benjolan-benjolan,” kata Suryo sambil menunjukkan benjolan di lengan, pundak, punggung, dan di bagian tubuh yang lain.

“Apapun walau pengobatan sekalipun kok itu dari hal yang diharamkan Alloh, maka pasti ada akibat buruknya, dan juga ada akibat baiknya, tapi akibat buruknya lebih mendominasi.”

“Lalu penyakitku ini bisa diobati tidak?”

“Ya semua penyakit bisa diobati. Cuma kadang suatu penyakit itu harus didiagnosa dulu, agar penyebab penyakit bisa diketahui, dan solusi obat bisa ditepatkan dalam mengobati, jadi tak asal, kalau asal saja mengobati ya tak akan sembuh, karena penyebab penyakit tak dipotong akarnya.”

“Memangnya bisa didiagnosa.” tanya Suryo ragu.

“Mendiagnosa penyakit sebenarnya gampang-gampang susah, begini saja, kalau menurutku segala penyakit itu pemberian Alloh, kadang dengan maksud menegur, seperti kenapa sampean penyakitnya di rusuk, kenapa tidak di mata, atau di jempol, atau di tempat lain? Kenapa di rusuk? Sampean mestinya orang cerdas, wong sekolahnya tinggi, la saya malah ndak pernah sekolah.”

“Maaf, apa bisa penjelasannya tidak muter-muter?” kata Suryo.

“Begini, manusia itu kan diciptakan Alloh, itu mau diakui atau tidak diakui, manusia itu tetap penciptanya adalah Alloh, juga segala pengaturan hidupnya itu di bawah cengkeraman Alloh, bahkan orang yang Alloh kehendaki mati, ya pasti mati, sekalipun dia lari bersembunyi di lubang semut sekalipun, maka akan tetap nyawanya bisa dicabut oleh malaikat maut, juga Alloh memberikan penyakit di tempat-tempat tertentu, agar kita sadar isyarat yang Alloh berikan lewat penyakit itu, namanya membaca khalil akhwal, membaca kehendak Alloh mencangkup segala kejadian itu ada maksudnya, seperti penyakit sampean yang kenapa diletakkan di rusuk, kenapa rusuk yang sakit? kenapa tidak di tempat lain? padahal bisa saja sakit di tempat lain, karena wanita itu diciptakan dari rusuk lelaki, dan jika seorang suami itu mendzolimi istrinya, maka akan diletakkan penyakit di rusuk lelaki itu agar suami menyadari kekeliruannya, iya bisa saja jika diobatkan penyakit itu akan sembuh, tapi jika suami tak mau menyadari kekeliruannya, dan meminta maaf pada istrinya, maka dijamin penyakit itu akan datang-datang lagi, sebab akar permasalahannya penyakit tidak berusaha diselesaikan, obat ampuh seharga jutaan bahkan trilyunan apa bisa mengalahkan kehendak Alloh?”

“Iya memang kalau dipikir-pikir memang masuk akal.” jawab Suryo.

“Ya sekarang dihubungkan pada kenyataannya, apa yang ku katakan itu benar apa tidak?” tanyaku.

“Iya memang benar mas.”

“Nah sekarang mas Suryo ini pengen sembuh atau tak pengen sembuh?” tanyaku.

“Iya saya pengen sembuh.” jawabnya.

“Kan mudah, tinggal minta maaf sama istri, lalu nanti soal kesembuhan biar ku do’akan, bagaimana? Nanti dilihat sembuh apa tidak? Kan bisa dibuktikan. Bagaimana? Ingat meminta maafnya yang tulus, dari lubuk hati terdalam, dan jika kembali mendzolimi istri, ya saya sendiri tak bisa menjamin jika penyakitnya tak kembali lagi, nah sekarang ku tinggal sama istri, silahkan saling mema’afkan.” kataku lalu berdiri dari kursi dan membiarkan dua orang itu mencurahkan hatinya.

Seperempat jam kembali aku ke ruang tamu, dan kedua orang itu saling berpelukan dan saling mengakui kesalahan.

“Ehmm..!, bagaimana mas Suryo? Sudah minta ma’afnya?”

“Sudah mas..” kata Suryo dengan air mata masih berlinang.

“Sudah yang lalu jangan diungkit-ungkit, sekarang mulai membuka lembaran baru, saling terbuka sesama suami istri, bagaimana rasa sakit di rusuknya mas?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah enakan mas…,”

“Ingat jangan lagi mendzolimi istri, jadilah pasangan yang saling melengkapi, saling terbuka dan saling mengerti, dunia kalian berdua, adalah dunia kalian berdua, buatlah dunia kalian berdua senyaman dan sebahagia sesuai yang kalian harapkan,”

“Kami sangat berterima kasih mas, dan kami tak bisa membalas dengan apapun yang lebih berharga dari apa yang mas lakukan pada kami berdua,” kata Suryo.

“Bagiku kalian saling rukun dan saling sabar menghadapi cobaan hidup, itu lebih dari cukup, sehingga tak bertambah lagi anak yang menjadi tersia-sia, kurang perawatan dan perhatian, karena orang tuanya berpisah, lalu anak tak mendapat kasih sayang, lalu tentu saja akan mempengaruhi kejiwaannya, yang pada akhirnya akan menyusahkan orang lain.” jelasku.

——————————————-

Beberapa hari kemudian Dewi dan Suryo datang dengan kedua anaknya, ku lihat mereka sudah rukun.

“Kedatangan kami ke sini, yang pertama mau mengucapkan terima kasih, dan yang kedua kok waktu air dari kyai itu kami pel kan rumah, kok kedua anak kami sakit panas sehari, itu kenapa kyai?”

“Wah aku juga ndak tau, aku tidak semua tau, tapi itu biasanya, jin yang ada di rumah membuat serangan karena mereka merasa diusir.”

“Jadi tak masalah kyai?”

“Tak apa-apa, la sekarang rumah kalian rasanya bagaimana?”

“Alhamdulillah rasanya tentram kyai.”

“Ya itu sudah bagus, segala sesuatu itu yang penting hasilnya, bagaimanapun cara, itu hanya cara, semua tergantung hasilnya baik, atau tak baik, jadi jangan takjub dengan cara aneh-aneh untuk menyelesaikan masalah, jika hasilnya tak baik juga untuk apa perlunya cara yang aneh.” jelasku.

“Iya kyai kami mengerti.”

“Lalu bagaimana penyakitnya mas Suryo?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah baikan mas, juga benjolan-benjolannya kok sudah kempes.”

“Syukur kalau begitu, tapi ingat sama istrinya yang baik.”

“InsaAlloh mas… do’anya, semoga saya tak mudah lagi tergoda..”

“Ya harus dari kemauan diri juga mas, misalkan mau nikah lagi lakukan dengan cara yang benar, ijin istri, kalau istri tak mengijinkan ya jangan maksa. Wong semua wanita itu rasanya sama, seperti makanan kalau sudah masuk perut, mahal atau murah di perut tiada beda, yang membedakan wanita itu kesolihannya, jika sholekhah ya akan menjadi penerang rumah tangga, jika ditinggal maka akan menjaga harta dan kehormatannya, selalu membantu suami seperti tangan satu dengan tangan lainnya, tangan satu memakai jam tangan, tangan lainnya memakaikan, tak masalah tangan lain itu tidak ikut dilingkari jam, sebab kehormatannya sudah terbawa oleh tangan satunya, istri yang solekhah juga penentu mutu anak nanti akankah menjadi anak yang kasar atau anak yang lemah lembut, penuh kasih, jika sang ibu suka membentak, maka akan mempengaruhi detak jantung anak, jadi anak akan lebih cepat detak jantungnya, dan akan lebih cepat pemompaan darahnya, secara otomatis anak akan menjadi kayak motor ngebut, apa-apa serba ingin buru-buru, apa-apa ingin cepat selesai, tapi jika ibu itu lemah lembut, mengutamakan pengertian, menasehati dari hati ke hati, maka anak juga akan dewasa berpikir, penuh perhitungan, menjalankan segala sesuatu dengan kehati-hatian. Ayah ibu yang suka cekcok, mendahulukan ego, saling pengen menang sendiri, sering banting pintu, maka akan menjadikan anak juga suka menang sendiri, jadi pelajaran dalam keluarga itu akan menjadikan anak nantinya akan menjadi seorang garong, atau seorang yang berjiwa lemah lembut, dulu ibuku semasa aku kecil, suka menceritakan, kisah para sufi, kisah para ulama’ besar, seperti kisah syaikh Abdul qodir jailani, atau syaikh Abu khasan Assadzili, atau Robi’ah adawiyah, ketika aku mau tidur, itu sangat mempengaruhi kejiwaan anak, sehingga tidak matrialis, tidak tamak, rakus, loba, dan akan dengan sendirinya terpatri dalam ingatan, lalu perlahan menjadi suritauladan yang harus dianut, dan menjadikan anak punya pikiran yang dewasa, maka itu dibiasakan, apalagi di jaman ini berbagai tontonan yang tak mendidik mudah sekali diikuti oleh anak, dan gaya-gayaan, hanya karena mengikuti teman-temannya, ujung-ujungnya kerusakan.”

“Makasih kata petuahnya pak.”

“Ya sama-sama, ini juga menasehatiku.”

Kedua orang itupun pulang, sedikit mungkin yang aku beri, tapi dalam hatiku, aku tak akan berhenti untuk berbuat baik untuk orang lain, bukan karena aku merasa pintar, tapi aku merasa jika aku mengandalkan amalku sendiri, maka aku sama sekali tak punya amal ibadah apa-apa, karena aku merasa belum ikhlas dalam beramal, dan masih jauh dari akan diterima Alloh, kalau aku tak menanam modal amal dengan mengajak orang lain menjadi baik, maka aku akan mati dalam kerugian yang nyata.

Di manapun, kapanpun, bagiku tak ada kata berhenti, untuk mengajak pada kebaikan, agar aku bisa menanam modal amal pada orang yang ku ajak, soal merela mau atau tidak mau itu bukan lagi urusanku, tapi kuasa Alloh, aku hanya melaksanakan perintah Alloh “wa’mur bil urfi, wanha ‘anil mungkar” perintah kebaikan dan cegah perbuatan merusak, tak perlu dengan kekerasan, tapi dengan kasih sayang, dengan kelembutan, dengan bukti nyata kebenaran itu adalah mendamaikan, dan keburukan itu merusak, dengan alasan apapun, merusak itu tak benar, dan mengajak orang lain dengan membakar, merusak, menghancurkan, dengan kemarahan, sama sekali tak akan diikuti, malah orang akan antipati, dan benci, aku hanya ingin menjadi air bening, yang tak menyembunyikan batu di dasar sungai, semua wajar, batu terlihat jelas, orang yang melihat, tak rela jika tak meminum airnya, dan merasakan kesegaran merambati tenggorokan, dan orang yang telah minum akan merasa ingin mencuci muka, dan orang yang mencuci muka akan berhasrat untuk mandi.


Rabu, 29 Juli 2020

SANG KYAI -49

Sang kyai 49


Masuk dua perempuan setengah baya lagi,

“Mari silahkan duduk.” kataku mempersilahkan duduk di karpet.

Laila Latoifa dan ibunya terdiam.

“Ketaatan seorang istri itu pada suaminya, dan ketaatan seorang anak lelaki itu pada Ibunya, kenapa seperti itu? Agar keterikatan seseorang itu menyambung seperti rantai yang saling melengkapi, kedurhakaan selain pada Alloh itu ada tiga, durhakanya anak lelaki pada ibunya, durhakanya seorang pejuang lari dari barisan perangnya, dan kedurhakaan istri pada suaminya, ketika dewi Fatimah putrinya Nabi, menangis karena kesusahan hidupnya, maka Nabi datang, dan melihat keadaan Fatimah, lalu menasehati, kata Nabi SAW, ‘jika aku perintahkan penggilingan gandum berputar niscaya gilingan gandum akan berputar terus untuk meringankan bebanmu menggiling gandum, tapi aku tak melakukan untukmu, agar kau menggiling gandum dengan tanganmu dan memasakkan untuk suamimu, sebab dalam kelelahan ada nilai pengabdian, dalam nilai pengabdian menunjukkan nilai keta’atan, dalam keta’atan ada pahala kesabaran, dan kenaikan pangkat kedudukan di sisi Alloh,’”

“Makanan yang dibuat oleh seorang ibu, dengan ketulusan cinta, dan ada do’a malaikat di dalamnya, akan mempengaruhi jiwa, dan kepribadian seorang anak, jika makanan dibeli dengan jadi, jajan sana sini, bisa dipastikan telah mendidik anak untuk menjadi materialis, menilai apapun dengan nilai uang, dan menghargai apapun dengan uang, jika tidak ada unsur uangnya maka tidak dianggap berharga atau pantas dinilai. Jadi anak itu bagaimana orang tua menulisi, itu contoh kecil yang mungkin lepas dari perhatian kita.” kataku.

“Ada apa ibu berdua?” tanyaku kepada dua orang yang baru datang, yang satu masih muda yang satunya lagi sudah setengah tua.

“Masalah apa?” tanyaku.

“Masalah keluarga kyai.” kata perempuan muda yang mengenalkan diri bernama Maslihah.

“Diceritakan saja, mungkin saya bisa membantu.” kataku.

“Itu kyai, suamiku menyeleweng.” jawab Muslihah.

“Biasanya lelaki itu menyeleweng karena kurangnya saling mengerti dan tak ada komunikasi di rumah, seringnya antara istri dan suami tidak saling terbuka, dan istri tak ada kemauan untuk membahagiakan suami, istri tak menjaga penampilan untuk suami, tapi kebanyakan malah bersolek waktu keluar rumah, sering kali tak ada komunikasi maka yang terjadi istri pengen suami mengelus kepalanya, tapi karena tak ada komunikasi, suami malah yang dielus dengkulnya istri terus, sehingga istri kecewa, karena harapannya ingin kepala dielus tak pernah kesampaian, karena tak ada komunikasi, harusnya suami istri saling terbuka, jangan saling rikuh, membicarakan entah soal hubungan suami istri di atas ranjang, atau hubungan keseharian, sebab dua orang yang menyatu, tentu tak tau apa-apa yang diinginkan suami dan apa-apa yang diinginkan istri, juga biasanya istri kurang mau menjaga merawat diri, misal memakai gurah, agar suami terpuaskan.”

“Saya sudah tua masak memakai seperti itu kyai.” tanya Muslihah.

“Malah kalau sudah tua itu malah lebih rajin merawat diri, biasanya cenderung istri menyeleweng itu karena suami tak perkasa lagi di ranjang, belum apa-apa sudah KO, ya kan istri yang tidak terpuaskan akan mencari kepuasan, ingat syaitan itu menggoda manusia, hal yang haram itu selalu indah dibayangan, seorang suami yang punya istri cantik bisa nyeleweng dengan pembantunya yang jelek karena bisikan syaitan, dan syaitan memberikan bayangan-bayangan hayal yang indah.”

“Bagaimana solusi permasalahan saya kyai?” tanya Muslihah.

“Mbak Muslihah ini rawatlah diri, kalau perlu memakai gurah, dan rawat kecantikan, layani suami dengan penuh cinta, cintai suaminya bukan karena siapa suaminya siapa, tapi sayangi suaminya karena menyayangi Alloh, rindu akan surganya, lakukan semua pelayanan dengan membayangkan kalau pelayanan itu akan mendapat ganti yang setimpal yaitu surga yang kekal, jadi jangan dipandang lahirnya suami.” jelasku.

“Lalu bagaimana, sekarang saja dia menyeleweng.”

“Mbak Muslihah masih ingin kan kumpul sama suami?” tanyaku.

“Ya masih kyai, karena anak-anak kami sudah agak besar.”

“Ya kalau begitu kembali ke suami.”

“Tapi saya sakit hati kyai.”

“La sakit hati itu kan ndak ada yang mbayar, hanya menjadikan tekanan mental, menyiksa diri, tapi sama sekali tak ada manfaatnya, tenangkan diri, jangan ada tekanan batin.”

“Bagaimana mungkin kyai, kenyataannya aku disakiti, bagaimana hatiku tak sakit.”

“Sakit hati itu sama sekali tak menyelesaikan masalah, hanya menimbulkan dendam, dan kebencian, jika dalam rumah tangga kemudian ada bara yang dipendam, yang suatu saat bisa meledak, maka ku jamin rumah tangga itu tak akan bahagia…, ingat mbak Muslihah suamimu itu cuma batu loncatanmu ke surga, jangan kemudian malah menjerumuskanmu ke neraka, neraka dunia karena memendam sakit hati, dan neraka akherat karena tidak taat pada suami, ya saya sendiri jika istri saya menyeleweng juga belum tentu saya kuat menanggungnya, tapi bagi saya pribadi, rumah tangga itu jangan dikotak-kotakkan, itu yang sering terjadinya percekcokan, ini milikku, ini milikmu, jangan memakai milikku, padahal dalam rumah tangga, kan satu kesatuan, kedua suami istri itu seperti mengelola bahtera, la kalau yang satu merasa miliknya, yang lain kemudian membatasi hak lainnya, ya sudah pasti akan timbul curiga, seperti anjing dan kucing dalam satu perahu, aku sendiri sebagai suami, malah kadang masak, nyuci piring, itu tak akan menjadikanku rendah, sekalipun aku dipanggil kyai, aku juga menyapu dan mengepel, kita itu kok bisa kita lakukan, kenapa menyuruh orang lain? sebab orang lain juga punya tangan dua, kita juga, jika bisa melakukan sendiri, maka akan ku lakukan sendiri, jika suatu rumah tangga kok di antara istri atau suami merasa derajatnya lebih tinggi, maka akan timbul perbudakan, bisa saja seorang istri memperbudak suami, menyuruh ini itu, atau sebaliknya, dan pasti ujung-ujungnya akan timbul percekcokan, suami marah karena merasa tidak ditaati istri, la lalu tujuannya rumah tangga itu maunya apa?”

“Jika rumah tangga itu dibangun suatu kasih sayang yang disandarkan kepada kasih sayangnya sang Maha Pemilik Kasih Sayang, maka rumah itu akan menjadi surga, suami menjadi pelindung dan pemimpin rumah tangga yang bijak dan adil, istri menjadi pewangi rumah dan selalu membuat udara cerah, anak-anak seperti kerlip bintang, menjadi tauladan di luar, dan menjadi pelita hati keluarga, maka baru bisa dikatakan keluarga itu sakinah penuh ketenangan, dan hal itu harus dibangun dari hal-hal kecil, seperti diadakannya sholat berjama’ah, lalu setelah selesai suami istri saling berkecupan, anak-anak mencium tangan ibu, sholatnya semua rukunnya disempurnakan, sehingga rumah tangga penuh cahaya keimanan.”

“Rasanya ingin saya cepat menikah pak kyai, agar saya bisa menjemput pahala.” kata Laila.

“Menikah itu menyempurnakan agama, sunnah Nabi, kata Nabi, menikah itu sunahku, siapa yang tidak suka menikah maka tidak suka pada sunahku, dan siapa yang tidak suka pada sunnahku, maka bukan golonganku lalu kalau tidak ikut golongan Nabi, lalu mau ikut golongan siapa? Siapa yang sekalipun punya amal setinggi gunung amal baik, dan berhak masuk surga, tapi tak mau mengikuti Nabi, maka jikalau dia masuk surga, maka tak pernah tau kemana jalannya surga.”

Tiba-tiba Muslihah menangis. Mengguguk… aku berhenti bicara.

“Ampunkan aku ya Alloh… do’akan saya bisa taat pada suamiku kyai, dan do’akan saya, suami saya kembali padaku, aku maafkan semua kesalahannya, asal Alloh ridho padaku.”

“Amiin… insaAlloh suaminya besok kembali, dan jangan lupa layani sebaik-baiknya, jangan melihat tingkah lakunya, jangan melihat bentuk fisiknya, atau kekurangan-kekurangan dalam pribadinya, kalau diteliti, maka semua orang itu pasti ada kekurangannya, tapi jadikan dia, suamimu, adalah batu loncatanmu meraih ridho dan surga Alloh.”

“Baik kyai, hati saya legaaa sekali.” kata Muslihah.

Ke empat perempuan itupun minta diri, aku hanya berharap apa yang ku sampaikan bisa bermanfaat bagi mereka.

Kalau tamu lagi musim masalah rumah tangga dan ada hubungan dengan perkawinan, anehnya yang datang selalu soal hubungan rumah tangga dan yang berurusan dengan itu.

Sehabis isyak ini juga ada tamu seorang gadis disertai ibunya.

“Ada apa bu? Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku.

“Ini soal anak saya kyai.”

“Ada apa dengan anaknya?” tanyaku.

“Anak gadis saya ini apa mungkin diikat orang kyai?” tanya ibu si gadis.

“Diikat? Kok ku lihat tangan dan kakinya tak ada ikatannya?”

“Maksudku diikat agar tak bisa nikah sama orang.” jelas wanita setengah baya.

“Wah aku tak tau bu, la saya ini sebenarnya tak bisa apa-apa dan tak mengerti apa-apa, jika orang kesini juga cuma minta dido’ain, jadi bukan berarti saya tau apa-apa, malah saya tak tau sama sekali apa do’a saya diijabah apa tidak, bagi saya berdo’a dengan cara yang benar, soal ijabah itu hak Alloh, la orang kesini minta dido’ain, ya tentu saya do’ain, sebenarnya Ibu juga bisa, atau mbaknya ini juga bisa, siapa namanya mbak?”

“Saya, Ainun Farihah.” kata gadis manis yang sudah matang.

“Soalnya anak saya ini sudah berkali-kali mau nikah tapi tak pernah jadi, pernah kartu undangan sudah tersebar, tapi malah nikahnya dibatalkan oleh calon mempelai putra, juga pernah malah sudah mau akad nikah, penganten prianya malah tak pernah datang, dan kejadian kayak itu terjadi berulang kali sampai 20 kali, bukankah itu sudah di luar kewajaran to kyai?” jelasnya.

“Iya memang di luar kewajaran, tapi aku sendiri tak dikasih isyarat apapun oleh Alloh, maka aku tak bisa main tebak-tebakan, yang Alloh isyaratkan adalah, mbak Ainun ini bermasalah dengan adik lelakinya.” kataku.

“Iya itu betul kyai, karena Ainun ini tak nikah-nikah jadi adik lelakinya yang ingin menikah jadi harus nunggu kakaknya.” jelasnya.

“Kalau saya belum punya istri, akan ku nikahi sendiri, sayangnya aku sudah beristri, hehehe.” candaku.

“Wah kalau kyai berkenan dengan Ainun, saya sama bapaknya sangat bahagia sekali, dan sangat menyetujuinya, biar Ainun jadi istri kedua atau ketiga, kurasa tak masalah, biar keluarga kami ada bibit unggul, orang-orang berilmu.”

“Ah aku hanya bercanda kok bu.” elakku.

“Ya kenapa ndak sungguhan, Ainun pasti juga mau, benar kan Ain..?” kata ibunya Ainun sambil mencolek anaknya.

Anehnya Ainun malah mengangguk sambil wajahnya ditutupi jilbabnya.

“Udahlah bu jangan diperpanjang, ini nanti ku do’akan. Semoga mendapat jodoh yang sholeh dan dipilihkan Alloh.” kataku.

“Maaf kyai ini tehnya kyai tiup agar berkah.” kata ibunya Ainun, sambil memajukan teh yang disediakan untuknya, maju ke arahku.

Tanpa banyak basa-basi teh ku tiup, dan langsung diminum oleh ibu itu, dan Ainun juga menyodorkan teh nya ke depanku.

“Saya juga kyai.” kata Ainun.

Aku juga segera meniupnya, dan Ainun meminum habis teh yang ku tiup.

Ainun pun pamit pergi, aku mau beranjak ke dalam ada yang mengucap salam lagi, seorang perempuan muda dengan ditemani juga oleh ibu dan kedua anaknya.

Aku pun kembali lagi ke tempat menemui tamu lagi.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku, setelah aku mempersilahkan duduk pada tamuku.

“Ini mas, saya mengantar anak saya.” jawab ibunya

“Kenapa anaknya?” tanyaku.

“Ini soal anak lelaki kecil saya.” jawab perempuan mudanya yang bernama Dewi Aminah.

“Kenapa dengan anak kecilnya mbak?” tanyaku.

“Anak lelaki saya ini mengalami kebocoran jantung menurut diagnosa rumah sakit, jadi saya minta do’anya agar anak saya ini diberi kesembuhan dari derita penyakitnya.” jelas Dewi.

“InsaAlloh akan saya do’akan, semoga Alloh memberi kesembuhan.”

“Amin, trimakasih mas kyai sebelumya, dan kedua ini tentang suami saya, sudah sejak lama suami saya ini saya dengar selingkuh.” kata Dewi.

“Lhoh kok saya dengar?” tanyaku.

“Iya mas kyai, karena suaminya kerjanya di Jakarta, sedang dia sendiri tinggal di sini, dan di Jakarta Dewi sendiri tak tau tempat kerja suaminya. Jadi tak tau bagaimana suaminya di Jakarta, ya pernah ada perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya.”

“Wah-wah kok bisa rumit gitu ya?”

“La anak saya Dewi ini, juga punya teman yang juga menjadi teman suaminya, maksudnya lelaki yang menjadi teman suaminya, yang selama ini dijadikan penghubung, dan sudah sangat baik sekali dengan Dewi, yang kasihan dan iba akan nasib Dewi, nah kami ingin menanyakan apa benar, suami anak saya Dewi ini di Jakarta memang selingkuh, lalu bagaimana solusi terbaik menurut panjenengan.”

“Wah rumit sekali itu.” jawabku.

“Rumit bagaimana mas kyai?” tanya Dewi.

“Ya kalau suaminya ada di depanku kan lebih gampang, akan ku tanya apa kamu selingkuh?”

“Ya dia tak akan mau mengaku mas kyai…, saya sendiri berulang kali bertanya saja dia tak mau mengaku,” jawab Dewi.

“Dia tak mau mengaku itu kan urusan dia sama Alloh, karena saya akan menyumpahnya dengan Qur’an, kalau dia tak mengaku.” jelasku.

“Maunya anak saya Dewi ini kyai, bagaimana kalau misal si Dewi ini cerai sama suaminya, dan menikah dengan teman suaminya yang juga teman Dewi.”

“Suatu perbuatan halal yang paling di benci Alloh, adalah perceraian, kalau bisa perceraian itu di jadikan keputusan paling final, menikah dengan lelaki yang dekat dengan Dewi sekarang itu? Seorang lelaki yang memasuki kehidupan wanita sementara wanita itu dalam masalah, juga bersuami yang masih sah maka lelaki itu syaitan dari golongan manusia, percayalah kalau dia jadi sampean nikah, setahun kemudian sampean akan dicampakkan, seperti mencampakkan ingus yang menjijikkan, bisa jadi sekarang ini dia mengincar harta atau kesepian hatimu, agar dia bisa mengambil manfaat untuk nafsunya.” jelasku.

“Tapi dia baik pak kyai.” jelas Dewi.

“Ya namanya juga mau mencari perhatian, tentu saja baik, akan sering-sering memberi.”

“Iya memang dia sering memberi pak.”

“Tapi dia sering mengucapkan cinta, dengan kata cinta yang indah.” jelas Dewi.

“Malah makin jelas, orang yang muluk-muluk mengungkapkan kata cinta itu bisa dipastikan kalau cintanya palsu,”

“Lhoh kok bisa gitu mas kyai?” tanya Dewi,

“Ya orang yang muluk-muluk mengutarakan kata cinta, itu tak mencintai kecuali dirinya sendiri, kata cinta diungkapkan muluk-muluk karena ingin adanya balasan cinta dari lawan jenisnya, dan lawan jenisnya akan memenuhi nafsunya, jika nafsunya dan keinginannya sudah terlaksana, maka segera saja orang yang sebelumnya dia katakan dia cintai, akan segera dibenci, karena apa yang dia inginkan sudah didapat, jadi orang yang muluk-muluk mengutarakan cinta itu tak mencintai kecuali keinginan nafsunya ingin mendapat apa yang jadi keinginannya, jika seseorang itu mencintai orang lain dengan benar, maka seorang yang mencintai dengan benar itu akan berusaha orang yang dicintai selalu bahagia tak rela yang dicintai bersedih dan tak rela yang dicintai masuk neraka, bukannya orang punya suami lantas diganggu,” kataku.

“Dia tak mengganggu saya kok kyai.” sangkal Dewi.

“Ya… saya hanya menunjukkan kebenaran, sebab namanya dikatakan mengganggu kan juga bukan hanya memukul, tapi ada orang punya suami, lantas diajak selingkuh juga kan namanya ganggu,.!”


Selasa, 28 Juli 2020

SANG KYAI -48

Sang kyai 48

“Ya Alloh… abdi minta diberi kekuatan untuk sabar ya Alloh…” suara Kyai menahan sakit yang dideritanya. Terdengar berulang-ulang.

Sekali waktu pakaian dan sarung yang Kyai pakai harus ganti karena sudah basah oleh keringat, dan keringat itu berbau kelabang dan kalajengking, dan kasur juga bawahnya diberi koran sebentar-sebentar diganti, karena telah basah oleh keringat, sementara aku yang bagian menarik panas di tubuh Kyai, sebentar-sebentar tanganku yang memerah kepanasan ku tempel ke lantai untuk menetralisir panas dengan kekuatan inti bumi, jika aku lena sedikit, dan tertidur dalam dzikir, maka aku terjengkang, terhantam kekuatan yang tak terlihat.

“Kyai…, biar saya memagar rumah ya…” kataku.

“Ya apapun yang kau anggap perlu dan bisa, ini sudah menjadi tanggung jawab santri… aduuh… ya Alloh beri hamba kuat menjalani…” jawab Kyai.

Aku pun beranjak, keluar dari kamar dan menyiapkan pagaran.

Setelah selesai, maka pagar kerikil ku tanam di setiap sudut rumah. Setelah ku tanam, suasana agak mereda, tapi hanya untuk sehari dua hari, begitu banyaknya yang menyantet, pageranku jebol, bahkan tembok luar rumah, terhantam ambrol, sudah tiga tembok yang ambrol, mau dikatakan tak masuk akal, kenyataannya terjadi.

Kadang rumah kayak digoncang gempa, dan aku terjengkang terhantam kekuatan yang tak terlihat.

Sudah dua minggu aku mengobati Kyai, segala daya upaya telah ku lakukan, tapi hasilnya tak banyak, begitu banyak tukang santet yang harus kami hadapi.

Sering ketika tidur, tubuhku terangkat beberapa senti dari lantai, karena tidur kami di lantai, dan terhempas, semua santri sadar yang dihadapi bukan main-main, ada yang menyerang memakai santet, ada juga yang memakai hizib, ada tukang santet dari orang dayak, orang badui, leak dari Bali, dari gunung himalaya, juga perguruan santet seIndonesia, yang tak bisa ku sebut daerahnya, padahal guru besarnya pernah datang, dan minta maaf, tapi kadang ketakutan mereka, karena kami bersebrangan dengan mereka, dan jika orang-orang yang menjalankan ilmu hitam, maka dengan sendirinya kami akan menjadi penghalang, walau kami sama sekali tiada maksud menghalangi sekalipun.

Sebenarnya secara dilihat dari apa yang kami amalkan, maka tiada satupun yang berhubungan dengan segala macam tetek bengek santet, kami hanya menjalankan ibadah yang berusaha ikhlas, menjalankan ibadah yang sesuai syari’at yang dibawa Nabi, bahkan hanya menjalankan yang ada sanad menyambung pada Nabi SAW, karena kemurnian aqidah itulah setiap amalan langsung keluar efeknya, langsung keluar sawabnya, bahkan orang-orang prewangan (yang memakai ilmu dengan bantuan jin) akan kepanasan jika berdekatan dengan kami, bahkan murid terendah dari toreqoh qodiriyah wa naqsabandiyah.

Seperti pengaduan muridku di rumah, yang baru puasa 21 hari, dia punya saudara perempuan yang mengobati orang dengan bantuan jin, jadi sebelum mengobati, adiknya itu makan kembang dan menyan, lalu bisa mengobati, jika muridku itu main ke rumah saudarinya itu, saudarinya itu kepanasan, dan lari, sampai muridku tak boleh ke rumahnya, karena kepanasan.

Juga batu, atau keris, atau benda bertuah, jika dipegang orang lain, misal tahan cukur, atau tahan bacok, orang lain diiris rambutnya tak akan putus, karena jin yang ada di benda yang dipegang, tapi jika ku pegang, aku dicukur rambutku ya tetap putus, karena jin yang ada di benda kabur, jadi benda sudah tak ada kekuatannya.

Apa aku atau kyaiku sakti? ya malah ndak sakti wong dibacok saja megang benda bertuah tetep luka, berarti kan gak sakti, tapi kami lebih mengutamakan keikhlasan dan kebenaran amaliyah, kemurnian aqidah, keutamaan sanad shohihnya amalan, yang kami terima dari guru-guru besar kami, seperti Tubagus Qodim Asnawi Caringin, syaih Asnawi, syaih Nawawi Banten, syaih Abdul Karim, syaikh Tolkhah, dan syaikh Ahmad Khotib Sambas, karena murninya akidah yang kami terima dari Rosululloh, penyambungannya juga shohih atau kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan, maka dengan sendirinya amaliyah yang kami jalankan sangat menghambat dan menghalangi segala ilmu hitam, walau kami hanya melulu ibadah, dan ibadah kami secara lahirnya sama dengan ibadah orang lain, tapi ibadah orang lain itu tak menyambung ke Rosululloh, dan ibadah kami itu menyambung ke Rosululloh, sebenarnya hanya itu perbedaannya.

Sehingga ibadah orang lain yang tak menyambung ke Rosululloh itu seperti orang yang punya paralon tapi sanyonya tak menyambung ke sumur, dan paralon kami, sanyonya nyambung ke sumur.

Orang yang berakal tentu akan lebih memilih cara ibadah, yang menyambung pada Alloh lewat malaikat jibril, ke Rasululloh, daripada melakukan ibadah mengandalkan itak-ituk diri sendiri, tak jelas hanya dari mempelajari mujarobat, makanya dikatakan ilmu thoreqoh itu ilmu tertinggi, dari segala macam cabang ilmu, karena bukan masalah pengamalnya, tapi sambungan ilmu itu dari Alloh, dan apa ada yang tingginya melebihi kedudukan Alloh? tentu tak ada. Sebab sampai sekarang, sejak bumi dan langit diciptakan, belum ada yang mampu membuat bumi, matahari, dan langit tandingan.

Aku pamit pulang, karena bagaimanapun aku juga punya kewajiban menafkahi anak istri.

Jadi selama setengah tahun aku wira-wiri, ke tempat Kyai, untuk mengobati Kyai, bukan aku yang bisa mengobati, tapi karena Kyai tak mau mengobati diri sendiri, dan selalu saja santet diterima masuk ke tubuhnya dijadikan cobaan agar lebih dekat dengan Alloh. Juga tentunya tubuh Kyai seperti sarana praktek untuk ilmu kami, apa ada seorang guru yang menyediakan diri untuk praktek muridnya? Kalau aku sendiri belum pernah menemui selain guruku ini, yang mau saja disantet orang, diterima dengan lapang dada, dengan kesabaran yang sudah tak masuk akal, padahal kalau mau menuntaskan, ya tinggal berdo’a, paling tak sampai 5 menit ijabah akan datang, tapi Kyai tak melakukan.

Di perjalanan, aku membayangkan andai aku punya majlis yang besar, yang terbuka dan tak terbatas seperti sekarang, untuk semua murid toreqohku yang entah pengen mampir ke majlisku dengan keluarganya atau rombongannya, maka tempat tersedia, kamar menginap ada, dan bisa untuk transit jika ada yang pulang ke Jawa dari Jakarta, sekalian berkumpul menuangkan rindu, hati yang terikat saling mencintai karena Alloh, aku selalu ingat kata-kata Kyaiku, murid-muridku adalah keluargaku.

Aku juga ingin seperti Kyai, kesusahan mereka juga berarti kesusahanku, bahagia mereka berarti kebahagiaanku, kasih kami melebihi kasih saudara, ketika berkumpul, tak ada sama sekali saling merasa lebih baik, atau lebih tinggi, semua sama, kekerabatan karena Alloh… kecintaan karena Alloh, dan aku ingin menjadi fasilisator, tempatku yang dijadikan berkumpul, tapi sepertinya jika mengandalkan himah kemauan kuatku, rasanya masih jauh, apalagi soal dana, aku termasuk minim, sering juga menolong orang hanya diberi terimakasih saja, bahkan kalau ada orang minta tolong, jika miskin aku usahakan memberinya apa-apa yang bisa ku berikan.

Sebenarnya tempat membangun majlis yang besar, yang bisa dijadikan tempat semua murid internetku berkumpul, sudah ada, tapi dana pembangunan yang mungkin akan sulit aku mendapatkannya, ya harus dari mana aku bisa mendapatkan??

Ada tanah juga dulu mau diwakafkan padaku, lalu ku jawab nanti saja, belakangan malah tanah mau dijual, tak jadi diwakafkan.

Tak apa-apa, mungkin belum rizqi toreqohku.

Malah kemaren waktu kyai Askan menjelek-jelekkanku, dia mengatakan, orang toreqoh itu miskin, tak punya apa-apa.

Aku sempat panas juga, tapi aku segera istighfar, ya tak apa-apalah miskin, asal berguna bagi orang lain, sebab kebahagiaan bisa mendo’akan orang sakit, yang kemudian sembuh, itu tak bisa dirasakan orang yang seperti kyai Askan itu. Yang di pikirannya takut kesaingan, la kok agama kok saing-saingan, memangnya ada.

Yang terakhir ini dia mau membuat jama’ah dzikir tandingan, katanya untuk umur panjang, memangnya orang bisa memulur panjang pendekkan umur, ada-ada saja, lagian orang umur seratus saja tak mati-mati, juga jadi jompo dan tersiksa, kemana-mana sudah jalan susah, makan jagung goreng satu biji saja bisa sebulan tak hancur-hancur, cuma diemut aja.

Apalagi kalau umur sampai 300an tahun, gak kebayang lah, kecuali orang-orang yang memang diberi keutamaan oleh Alloh.

“Daaarrr…!, daaar..!” tedengar ledakan berkali-kali, di sampingku, di luar bus, seperti petasan, bus pun berhenti dan menepi, kondektur memeriksa roda, lalu masuk lagi.

“Apa ada yang meletus rodanya?” tanya sopir.

“Ndak ada, tak tau apa yang meledak, mungkin dilempar petasan sama bonek.” jawab kondektur.

Aku diam saja, tentu tak bilang, kalau itu adalah santet yang diarahkan padaku, ya kalau aku bilang bisa-bisa diturunkan, demi keselamatan penumpang lain, aku hanya konsentrasi, mengitari bus dengan kekuatan prana, dan do’a, agar bus selamat sampai tujuan.

Di jalan ada dua orang naik bus, seorang tua dengan anak gadisnya yang seperti pincang mengaduh-aduh.

Duduk di kursi berseberangan di kursi yang aku duduki.

“Sudah jangan mengeluh, nanti setelah sampai kita pijitkan ke tukang urut, agar kesleonya dibetulkan.” kata Bapaknya.

“Tapi sakitnya minta ampun paak…” kata anak perempuannya.

Aku segera konsentrasi, dengan kekuatan do’a dan prana, ku raba kaki perempuan itu, lalu ku betulkan tanpa menyentuh barang sedikitpun.

“Lho kok sakitnya hilang pak…” kata perempuan itu bahagia.

“Ah jangan ngayal kamu.”

“Iya pak benar sudah sembuh.” jawab anaknya, dan berdiri melompat-lompat di dalam bus.

“Sudah-sudah jangan ribut.” kata bapaknya.

Aku hanya senyum bahagia, syukur alhamdulillah, Alloh memberi anugerah kebisaan padaku.

Sampai juga Bus di Pekalongan, Kota yang menurutku sangat tak bersahabat udaranya, karena pencemaran yang telah melewati batas, sungai yang menghitam, dan udara yang berdebu, juga membawa angin yang kental berisi obat pewarna kimia, sungai yang airnya menghitam diserap matahari menjadi uap, dan dihembus angin menjadi udara yang dihisap manusia, aneh aku kalau di Pekalongan pastilah terkena Asma, tapi kalau keluar dari Pekalongan asma kok sembuh.

Sampai di rumah, Husna istriku mengatakan, kalau banyak orang yang mau minta dido’akan tapi pulang lagi, karena aku tak di rumah.

“Lho kenapa tidak nelpon, ngasih kabar, kan do’anya bisa ditransfer,” kataku.

“Ya Abah sebelumnya ndak bilang gitu, ya aku ndak berani ganggu, takutnya di Banten sibuk.” jawab Husna.

“Ya udah tak apa-apa, nanti juga pada kembali ke sini, kalau memang butuh.” kataku, tak mempermasalahkan.

Dan memang benar, pagi-pagi aku belum lama tidur, sudah ada tamu yang datang, suami istri yang membawa anaknya yang lumpuh.

“Kenapa anaknya bu?” tanyaku.

“Ini pak kyai, anak saya lumpuh,” jawab ibunya.

“Awalnya kenapa?” tanyaku lagi.

“Awalnya tak tau, tiba-tiba jatuh dan lumpuh, dan sudah lima bulan, jadi sudah kami bawa berobat kemana-mana tapi kok ya ndak sembuh juga, lalu ada orang yang menyarankan untuk meminta do’a pada pak kyai, siapa tau jodoh…” jelas ibu itu.

“Coba kesinikan anaknya.” kataku sambil mengambil anaknya dan ku pangku, lalu ku sentuh kakinya perlahan, kemudian malah akan bingung sendiri.

Setelah selesai ku berikan lagi ke ibunya, dan ku berikan air mineral sambil menjelaskan cara pakainya, setelah dirasa cukup, suami istri itu pamitan.

Seminggu kemudian sudah datang lagi, sambil membawa satu dus oleh-oleh,

“Ini untuk pak Kyai,” kata perempuannya.

“Wah apa ini bu…?” tanyaku.

“Ini hanya sekedar rasa terima kasih kami.”

“Wah kok ngerepotin diri to bu, la bagaimana adik kecilnya sudah bisa jalan?”

“Sudah, tapi tertatih-tatih.” kata ibunya.

“Coba adik kecil jalan ayo…! Ayo paman ditunjukin bagaimana jalannya…” kataku.

Ibunya pun menegakkan anaknya, dan perlahan mulai jalan.

“Hm… ya sudah bagus perkembangannya.”

“Iya pak kyai, makasih sekali pak kyai, tak terbayangkan jika anak kami tak bisa jalan sampai dewasa, dan kami sekeluarga tak bisa memberi apa-apa.”

“Oalah ibu kok jadi dramatis gini, saya malah bisanya cuma do’a bu… jadi ya cuma bisa do’a, orang lain juga bisa.” kataku.

_________________________________



Tanda Alloh itu menghendaki seseorang itu agar dekat dengan-Nya, maka akan ditanamkan di hati orang tersebut berkeinginan dekat dengan Alloh, dan keinginan itu amat kuat, tak bisa ditahan, dan ada kerinduan seperti rindu pada kekasih, dalam menjalankan amaliyah.

Sebaliknya jika Alloh menghendaki seseorang itu celaka, maka akan dijauhkan dari keinginan berbuat baik, bahkan sekalipun Nabi Muhammad SAW sendiri menceramahinya, maka akan dimentahkan. Makanya hidayah itu mahal, sebab akan menjadi awal seseorang itu celaka atau untung, bejo.

Dan sebodoh-bodohnya orang jika di hatinya timbul niat berbuat baik, kemudian menunda-nunda, karena disibukkan mencari hari yang lebih baik. Atau karena alasan yang menjadikan perbuatan baik itu tertunda, dan akhirnya tak pernah dilakukan sama sekali.

Sore hari datang pasangan suami istri, yang juga membawa anaknya yang lumpuh.

“Anaknya kenapa ini pak?” tanyaku.

“Ini mas kyai, anak saya lumpuh.” jawab si lelaki, yang bernama Parman.

“Lumpuhnya kenapa pak?” tanyaku.

“Tak tau kyai.” jawab istrinya Parman.

“Apa tak pernah dibawa ke dokter.”

“Ooo boro-boro ke dokter pak kyai, makan saja kami susah, tak punya uang untuk membawa ke dokter.” jawab Parman.

“Oo ini dulu tinggal di rumah yang angker ya?”

“Kok mas kyai tau?”

“Wah aku hanya mengira-ngira saja.”

“Ini dulu tinggal sama neneknya di rumah dekat pasar ?”

“Iya kyai..”

“Hm… pantes.”

“Pantes kenapa kyai?”

“Ya lumpuhnya hanya tempat tinggalnya ada jin yang berbentuk ular, nah jin itu yang menghisap saripati bayi, sehingga jadinya tumbuhnya tak wajar, ini umur berapa?”

“Ini umurnya sudah 8 tahun kyai.” jawab Parman.

“Iya nanti saya kasih air, tolong diminumkan kalau mau tidur, dan kalau bangun tidur, juga diusapkan ke kakinya.” jelasku.

“Maaf kami tak bisa memberi apa-apa kyai..” kata Parman.

“Apa aku ini kelihatan minta apa-apa to pak Parman?”

“Tidak kyai…, oh ya saya juga ingin dido’akan, agar saya dimudahkan dalam mencari rizqi, sebab selama ini kok hidup saya susah terus.” kata pak Parman.

“Ikut saja dzikir di majlis dzikirku, insaAlloh rizqinya akan dimudahkan.”

“Wah maaf kyai…, saya kalau duduk lama suka kesemuten.”

“Lho kalau suka kesemuten kurasa semua orang mengalami kesemuten to pak Parman, la wong saya saja kesemuten.”

“Iya kyai, kapan-kapan saja..”

“Ya tak apa-apa.”

_________________________________

Sebulan kemudian istri Parman datang ke rumah.

Dia menangis-nangis.

“Lho kenapa bu…? ” tanyaku heran.

“Tolong saya kyai…”

“La kenapa? Anaknya sudah bisa jalan belum?”

“Sudah kyai, tapi ini bukan masalah itu”

“Terus masalah apa?”

“Ini masalah Bapaknya.”

“Kenapa dengan suaminya?”

“Kang Parman ditangkap polisi, dan sekarang di penjara.”

“Lhoh masalahnya apa?”

“Ya saya juga sudah memperingatkan ke bapaknya, jangan suka main judi togel, tapi bapaknya itu tak mau dengar, waktu ada penggrebegan, lalu bapaknya tertangkap, tolong kyai, tolong hanya dia sandaran keluarga kami, kalau dia di penjara, kami harus bagaimana.”

“Maaf bu, saya kan cuma berdo’a pada Alloh, jadi saya itu tak bisa apa-apa, kayak anak ibu bisa jalan yang asalnya kakinya lumpuh itu, itu sama sekali bukan perbuatan saya, tapi pertolongan Alloh, dan Alloh itu maha suci, dia melarang perbuatan yang merusak, seperti judi, zina, jadi kalau Alloh kemudian membantu orang berjudi, atau membantu orang yang menggugurkan kandungan karena perbuatan zina, maka bukan lagi namanya Alloh yang suci dari cela.” kataku.

“Jadi Kyai tak bisa menolong?”

“Ya aku juga tak punya kedudukan di kepolisian, tentu aku tak bisa menolong bu, maaf.” kataku.

Jika seseorang diperingatkan dengan cara halus, yaitu puasa, dzikir, uzlah, duduk istiqomah, tak mau, maka seseorang akan diperingatkan dengan cara kasar, seperti makan tak bisa, bisa karena sakit, atau tak punya uang, atau dalam penjara, atau lari dari desanya, digulung banjir, diguncang gempa.

Dan Alloh itu sanggup membolak-balikkan hati, juga sanggup membolak-balikkan bumi.

Itulah, hidayah itu amat mahal, jika sebelumnya orang tau akan nasib yang dialami, ku kira seperti Parman juga akan lebih memilih duduk semuten daripada duduk di balik terali besi.

Pagi jam 8, sebenarnya aku juga baru sebentar tidur, tapi sudah ada tamu, maka aku tetap harus menemui, menjadi pelayan Alloh, maka siapapun yang datang, dan kapanpun waktunya kita harus siap, ketika kyaiku memintaku melatih diri menjadi lima, aku masih takut-takut, dan aku belum berani, tapi saat jiwa dan raga lelah, rasanya ilmu menjadikan diri menjadi lima perlu juga, jadi aku bisa satu sedang dzikir, satu sedang melayani tamu, satu sedang mencari maisyah, satu memijit satunya, dan satu membantu yang lain, sering sekali terlintas, tapi rasa takut menjadi lima lebih mendomisili pikiran dan hatiku.

Ku temui seorang perempuan muda dengan ibunya.

“Ada apa bu?…” tanyaku masih dengan mata dihinggapi kantuk yang sangat.

“Anu ini anak saya…” kata Ibunya, jawil ibu kepada anak gadisnya.

“Ada apa to..?” tanyaku.

Mata si gadis berlinang,

“Saya minta do’anya guru, agar saya bisa tenang menjalani pernikahan yang rumit.”

“Rumit bagaimana?” tanyaku.

“Tolong kyai ini air ditiup dulu, biar saya minum biar saya tenang.” kata gadis itu sambil mengeluarkan botol aqua.

“Wah saya belum sikat gigi.. hehehe, baru bangun tidur, nafas saya kan bau.” kataku bercanda.

“Tak apa-apa kyai, biar saya dapat berkahnya…”

“Wah bukan berkah nanti yang didapat, malah penyakit.” kataku

“Tidak kyai…, monggo kyai tiup, biar saya minum.” kata gadis itu lagi, sambil mendekatkan air mineral ke depanku.

“Monggo to kyai, biar anak saya dapat barokah dari kyai.” kata ibunya.

“Ini bener saya tiup? ” tanyaku.

“Ya iya, saya sudah dari tadi menunggu.” kata gadis di depanku.

“Baiklah.” kataku ngalah.

Sebenarnya nafasku asli bau, walau semaleman dzikir sampai pagi, dan pagi habis subuh dzikir sebentar, dan baru mau tidur sudah ada tamu.

Air selesai ku tiup dan ku serahkan, lalu diminum oleh gadis yang bernama Laila Lataifa, dan air diletakkan di dekatnya, ee ibunya langsung mengambil air dalam botol mineral itu dan ikut meminum airnya.

“Ibuu…! Jangan dihabiskan.”

Dunia aneh-aneh saja, dan ku lihat Laila Lataifa pun tenang.

“Terima kasih mas kyai, hatiku jadi tenang.” kata Laila Lataifa.

“Ini masalahnya sebenarnya apa?” kataku.

“Ya saya mau menikah dengan orang di luar Jawa kyai, dan calon suamiku itu ingin aku ikut dengannya, sementara ayahku ingin aku di sini dan suamiku di sini, ayah kalau aku tidak di sini, maunya pernikahanku dibatalkan saja.” jelas Laila.

“Hanya soal seperti itu?”

“Iya kyai.” kataku.

“Lalu Laila ini apa sudah cinta lahir batin dengan calon suami? ” tanyaku.

“Saya sudah sangat mencintainya, dan saya tak tau jika harus tak menikah dengannya, hubungan kami juga sudah berjalan enam tahunan, kami sama-sama kuliah di jurusan yang sama, yaitu kedokteran.”

“Jadi sampean ini dokter to?”

“Iya kyai.”

“Aneh…”

“Apa yang aneh kyai?”

“La dokter kok minta air untuk ditiup apa ndak aneh?” kataku.

“Tapi nyatanya saya langsung merasa tenang.” jelas Laila.

“Biasanya dokter kan tak percaya hal yang seperti ini.”

“Ah tidak juga kok kyai, kami juga percaya.” jelas perempuan itu.

“Pernikahan itu tidak hanya sekedar cinta, upayakan menyandarkan cinta pada suami, karena mencintai Alloh, karena cinta disandarkan pada Dzat yang kekal, maka cinta akan kekal, jauh dari kepentingan ego nafsu, Alloh memerintahkan seorang istri tunduk pada suami, jadi tunduklah dan layani suami karena Alloh memerintah, bukan karena siapa suaminya, siapa yang melayani suami, dengan ikhlas dan cinta karena Alloh maka bila diajak tidur, pahalanya akan seperti pahala haji dan umroh, yang diterima, wanita itu. Jadi istri itu menjadikan suami sebagai ladang pahala, tempat istri mencari keridhoan Alloh. Jika perkawinan didasarkan bukan karena cinta nafsu, wajah tampan, maka cinta itu akan kekal, istri akan berusaha sekuat daya membahagiakan suami dengan pelayanannya yang maksimal, karena harapan untuk memperoleh ridho Alloh. Jika istri takut tak bisa membuat suami bahagia, dan dalam hatinya tetanam rasa takut akan murka Alloh, karena tidak bisa menjaga keutuhan bahtera rumah tangga, istri yang suaminya selalu ridho dan senang, maka istri seperti itu akan diperintah memilih dari pintu mana dia mau masuk surga.” jelasku.

“Begitu juga seorang suami, yang mencintai istri karena Alloh, bukan karena sekedar kecantikan, yang selalu melindungi dan memberi bimbingan. Ingat memberi bimbingan bukan mengalahkan atau menguasai, tapi memberi contoh dengan ahlak mulia. Memerintah dengan dialog cinta dan kasih sayang. Bukan memaksakan kehendak segala kemauan dan perintah wajib diikuti, sebab seorang yang ikhlas memerintah itu sama sekali tak ingin perintahnya diikuti. Kalau ingin perintahnya diikuti, ditaati, maka dia telah gagal menjadi suami, dan upayanya menjadi Tuhan atas istrinya tak akan terlaksana, sebab sejak dulu manusia yang berusaha menjadi Tuhan itu tak pernah sukses kecuali pasti ditentang, sebab kodrat manusia itu sebagai hamba, bukan sebagai Tuhan.”


Senin, 27 Juli 2020

SANG KYAI -47

Sang kyai 47

“Pak Tohir ini menjalankan toreqoh sudah berapa tahun?” tanyaku.

“Ya sudah lama sekali, mungkin sudah dua puluh tahun, la umurku sudah hampir enampuluh kok mas kyai.” jawab pak Tohir.

“Lama juga ya…”

“Ya anehnya kok hidup saya susah terus, ya rizqi sih cukup, ya semua anak saya juga kuliahan, tapi cukup untuk itu saja.” jelas pak Tohir.

“Ya yang penting disyukuri.”

“Saya kesini juga ingin menjadi murid panjenengan, melihat panjenengan seperti itu, masih muda, ilmu apa saja ada, kelebihan juga menakjubkan, sampai tak masuk di akal, saya jauh-jauh juga mendengar pembicaraan orang akan kelebihan panjenengan, sedang guru mursid di Pekalongan itu juga kan banyak, tapi kenapa mereka tidak memiliki kelebihan yang panjenengan miliki?” kata pak Tohir.

“Saya itu manusia kosong, tak ada apa-apanya pak Tohir, apa yang saya miliki ini semata-mata anugerah Alloh, kapan saja bisa diminta kembali, jadi saya hanya ketitipan menjaga, titipan dari guru saya, karena saya diserahi menjadi pemimpin Jawa Tengah, maka saya juga dibekali kelebihan, jadi bukan masalah saya sakti atau hebat, ya kalau saya sendiri ya sama dengan panjenengan, jadi ini bukan karena saya mempelajari atau tekun, tapi karena saya kepasrahan amanat, jadi didukung dengan pakaian kebesaran, ya kalau kedudukan saya dicabut oleh Alloh karena saya seenaknya sendiri menyelewengkan kepercayaan yang diamanatkan pada saya, ya bahayanya besar, sebab langsung urusannya sama Alloh.”

“Oo begitu rupanya.”

“Ya sebenarnya siapa saja bisa menjadi seperti saya, wong dalam toreqoh itu di samping istiqomah menjalankan amaliyah, puasa siang hari, dzikir di malam hari, dilakukan dengan konsisten, sehingga menjadi suatu amal yang seperti membuang kotoran di kamar kecil, kebiasaan yang tidak dipikirkan, karena biasa, menjadi ikhlas dengan sendirinya, karena amal telah menjadi kebiasaan bukan suatu hal yang aneh, yang menjadikan hati bangga, lalu menjaga makan dari makanan haram dan subhat yang tak jelas halal haramnya, menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, lebih baik diam jika tidak bisa bicara yang tak ada manfaatnya, menjaga orang lain jangan sampai tersakiti, selalu berkasih sayang pada siapa saja, menghilangkan iri, dengki, hasad, sombong, loba, tamak, riak, ujub, membanggakan amal, buruk sangka, kikir, maka bisa mendapatkan anugerah dari Alloh, dan semua itu tak bisa dicapai, jika tanpa ada yang mengarahkan dan membimbing, saya diarahkan oleh guruku, maka bapak ku arahkan, bukan saya lebih mulya atau lebih hebat, tapi hanya karena saya sudah pernah lewat jalannya, jadi saya bisa tau jalan daripada orang yang belum pernah melewati jalannya, jadi bukan karena saya lebih baik dari bapak, dan seorang murid itu harus takdzim, hormat kepada guru, bukan juga karena gurunya hebat, sekalipun guru itu anak kecil yang miskin dan yatim yang tak punya apa-apa, maka seorang murid tetap harus taat pada guru, takdzim, mengagungkan, bukan mengagungkan jasad guru, tapi mengagungkan ilmu yang dititipkan Alloh yang bersanad menyambung pada Nabi SAW, jadi bukan tentang siapa gurunya, kalau jasad lahir guru maka sama dengan jasad yang terdiri dari darah daging, tapi ilmu toreqoh itulah yang menjadikan guru itu utama, dan dihormati, sebab seorang guru itu dipilih oleh Alloh, tidak bisa ilmu toreqoh itu dititipkan kepada seseorang yang bukan di bidangnya, beda dengan ilmu IPA, biologi, sains, siapa saja mau mempelajari maka akan bisa mempelajari dan memperoleh predikat profesor, tapi kalau guru mursid toreqoh, tidak bisa semua orang menjadi seorang mursid, walau puluhan tahun belajar, sebab yang menjadi mursid dan kedudukan itu dipilih oleh Alloh, apa saya sendiri mengajukan diri untuk dipilih, la setitik debu saja saya tak ingin menjadi pemimpin dan punya kedudukan dalam toreqoh, sebab bagi saya berat, amanah yang sangat berat, tapi karena sudah diletakkan di pundakku, maka aliran darah saya, degup jantung saya, adalah toreqoh, setiap langkah saya adalah toreqoh, lihat saya sama sekali tak kerja apa-apa. Karena jika toreqoh itu ibarat air sungai yang mengalir, dan saya itu orang yang mandi, lalu hanyut dan menjadi ikan, sehingga jika saya dipisahkan dari air, maka saya akan megap-megap, sebab saya membutuhkan air.” kataku panjang lebar.

Orang yang ada semua terdiam.

“Orang itu di dunia ini diciptakan untuk mengabdi kepada Alloh, pengabdian itu bukan untuk Alloh, sebab Alloh tak butuh pengabdian siapapun, tapi untuk diri pengabdi itu yaitu kita, mengabdilah pada Alloh sampai engkau didatangi keyakinan di hatimu, dan keyakinan itu hadir karena adanya sebab yang terlihat sehingga menimbulkan keyakinan, dan adanya sebab itu benar-benar menimbulkan akibat, orang memegang pisau, melihat tepi yang tajam dari pisau dan dia pakai mengiris daging, menjadikan dia tak ragu mengiris karena melihat hasil irisan awal yang mudah memotong daging, sehingga irisan selanjutnya tak ada keraguan. Sama soal ibadah, bisa menimbulkan yakin sebab melihat hasil dari apa yang diharap terjadinya, misal berdo’a, maka menjadi yakin setelah pernah melihat dengan mata kepala sendiri kalau do’anya diijabah Alloh, makanya bapak dan semua yang hadir terijabahnya do’a itu bisa kita lihat hasil nyatanya, kalau kita sendiri tak terpisah dari do’a, sudah seperti tangan yang memegang pisau, dan tak bisa dibedakan mana tangan dan mana pisau, sebab gerakan maju mundurnya mengiris seirama, kita itulah pisau, pisau ya kita itu, sebab penyatuan kehendak, antara pisau dan kita sendiri, sebab penyatuan kehendak antara kita, do’a dan pemberi ijabah yaitu Alloh, sebab adanya Alloh di hati setiap waktu, setiap tarikan nafas, dan setiap bergerak dan berhenti.”

“Wah aku rada kurang paham… hehehe… maaf pak kyai.”

“Ndak papa…, manusia itu sebenarnya kalau menyandarkan pada kecerdasan dan pemahaman sendiri, maka akan dangkal dan pendek pemikirannya, bos pabrik kain sutra, kok dia dari menanam bibit kepompong dijalankan sendiri, nyangkul tanah, menanam bunga tempat kupu bertelur sampai memanen kepompong itu dijalankan sendiri, lalu mengurai benang kepompong dilakukan sendiri, menjadikannya kain dilakukan sendiri, sampai menjahit kain dilakukan sendiri, setelah jadi pakaian lalu dijual sendiri, ku ragukan kalau tiga tahun orang itu akan bisa membuat pakaian satu, sama dengan amaliyah, jika kita fardan atau sendirian mengandalkan amal sendiri, maka lama sekali orang itu akan maju, la amalnya sendiri saja masih diragukan bisa menembus langit tujuh, apa tidak bisa menembus, karena ketidak adanya keikhlasan amal, atau sebab lain entah makanannya yang selalu haram, atau diri yang sombong, dan melakukan sesuatu yang menjadikan diri terhalang amal bisa menembus ke langit, dan mendapat ACC dari Alloh bahwa amal kita itu pantas diterima, maka dari itu kita butuh pendukung, kaya orang membuat pakaian sutra, jika ingin produksi sehari jutaan kodi, maka butuh petani kepompong, butuh pekerja pemintal benang sutra, penjahit, pemasaran, maka jadilah pabrik, sama dengan ibadah, butuh penyokong ibadah kita, ajak orang lain, maka kita akan mendapat apa yang dikerjakan orang itu malah langsung diterima di sisi Alloh sebab tidak berhubungan lagi dengan ikhlas tidaknya dengan orang yang kita ajak, seperti orang yang punya karyawan penjahit, maka akan menerima pakaian yang dijahit karyawan itu, tak perduli karyawan itu punya utang di luaran, tetapi itu bukan urusan kita.”

“Nah kalau ini aku paham,” sela pak Tohir.

“Juga kita butuh penyokong amal, jika kita tidak bisa mengajak orang lain untuk beramal, umpama kita tidak bisa mendirikan perusahaan, kenapa kita tidak tanam modal dalam perusahaan, jika tidak bisa mengajak orang lain melakukan amal ibadah, kenapa tak menyokong orang yang beribadah dengan harta yang kita miliki, setiap ibadah itu dilakukan kita akan mendapat bagian dari modal yang kita tanamkan, semakin besar modal yang kita tanam maka akan makin besar bagian yang kita dapat, teori tentang tanam modal orang bisnis semua juga tahu, seperti kita menanam modal di pabrik, kok di pabrik ada karyawan yang sakit maka tidak akan mempengaruhi penanam modal, penanam modal akan tetap memperoleh bagian selama pabrik itu tidak gulung tikar, begitu juga orang yang melakukan amaliyah menanam modal misal memberi dana kepada majlis dzikir, maka penanam akan mendapat hasil bersih dari apa yang ditanamkan, jika pabrik makmur, artinya semakin banyak jama’ah yang ikut akan makin banyak penanam modal menerima bagian itu tak mempengaruhi antara ikhlasnya pendzikir dan akibat atau hasil yang dicapai penanam modal. Selama majlis itu berdiri maka selama itu juga penanam akan mendapat bagian sesuai modal yang ditanam, dan itu akan terjadi dan kita lihat hasilnya jika kita praktekkan, segala sesuatu seribu tahun hanya teori tanpa dipraktekkan, maka jangan harap ada hasilnya, nah praktek kemudian melihat hasil yang dicapai dengan kepala sendiri ini dinamakan ainul yaqin dan setelah mempraktekkan lalu melihat hasil lalu menambah-nambah perbuatan serupa ini dinamakan haqul yaqin, seperti orang yang tak ragu mengiris daging karena mengiris yang pertama hasil potongannya sempurna. Maka kedua dan seterusnya tak lagi ragu memotong daging, sebab telah yakin potongannya bagus.”

“Maaf kyai, kalau saya ini kenapa diikuti jin?”

“Oh ya tadi itu kenapa bapak sampai jatuh berguling? Karena bapak biasanya disokong khodam jin, dan waktu masuk rumahku jinnya tak berani masuk, lantas bapak yang biasanya disokong kemudian jalan sendiri, jelas jadi lemah dan terasa pening yang teramat sangat.” jelasku.

“Lho kyai, bukankah saya itu mengamalkan toreqoh, kenapa diikuti jin?” tanya Tohir.

“Begini setiap amaliyah zikir yang dijalankan, itu pasti akan ada jin yang mendekat, jika ada jin atau syaitan yang mengganggu, jin yang mendekat ada yang mau mengganggu, ada juga yang mau menjadi khodam, jika kita didatangi jin yang akan menjadi khodam kemudian kita terima, maka ya sudah kita mentok sampai di situ, dan tak lagi beranjak mendekat pada Alloh, tapi jika kita tolak, maka kita tak apa-apa, arti kata kita tolak itu dalam perbuatan bisa saja luas, misal tidak diperduli, dan terus istiqomah dzikir, setelah itu akan ada malaikat yang datang untuk menjadi khodam, dan kita juga kalau menerima, maka kita akan mandek sampai di situ, tak lagi beranjak mendekat pada Alloh, la malaikat itu kan memang sudah diciptakan untuk melayani manusia, ya ndak usah kita minta, atau kita terima, mereka itu kan kodratnya melayani.”

“Apa buktinya kalau malaikat itu pelayan manusia?” tanya Khusain salah satu tamuku.

“Kan jelas, kita ini beramal baik atau buruk sudah ada malaikat pencatat amal baik di pundak kanan, dan malaikat pencatat amal buruk di pundak kiri, kita tak usah mencatat sendiri, yang akan menghabiskan beberapa juta kertas tiap bulan, juga kita mau hujan, ada malaikat yang manurunkan hujan, kita amal mau dikirim ke langit kita juga tak usah repot nunggu pak pos, sudah ada malaikat yang mengantar amal kita ke langit.”

Datang suami istri masuk ketika kami bicara, setelah bersalaman denganku yang lalu mereka nimbrung, aku lihat perempuannya, aku kaget, karena ku rasakan jin yang kuat, mengikutinya, ku katakan kuat karena sudah kuat masuk rumahku yang ku pagar gaib.

“Ibu ini ada keperluan apa?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan kepada perempuan yang baru datang.

“Ini pak kyai, saya kakinya sakit, dan entah kenapa kayak ada yang nggandoli.” jelasnya.

“Ibu kerjanya apa?” tanyaku.

“Saya kerjanya memandikan mayat.” jawabnya.

“Hm pantes..! Sebentar ya bu.” aku bangkit, dan mengambil air mineral, lalu ku tiup dengan do’a.

“Tolong ini diminum bu…” kataku sambil menyerahkan air mineral, dan segera diminum ibu tersebut.

Ku rasakan jin keluar dari tubuh ibu tersebut dan lari, ku biarkan saja.

“Coba bu, dirasakan kakinya, dipakai berdiri, dan jalan.” kataku. Lalu ibu itu berdiri dan jalan.

“Bagaimana bu, masih ada yang sakit dan berat tidak kakinya?” tanyaku.

“Sudah enteng dan ringan.” jawabnya.

“Maaf ya bu…, ibu ini pernah memandikan seorang yang mati, dan orang itu melakukan laku pesugihan, dan jin yang diajak melakukan amal pesugihan itu nempel ke ibu, tadi saya lihat heran kok jin masuk ke rumahku dengan minta gendong ke ibu, makanya saya cepat ibu minum air agar dia lepas.” jelasku.

“Wah kok menakutkan to pak kyai…? Tapi memang ini saya alami sejak saya memandikan seorang perempuan yang meninggalkan rusak wajahnya, dan sakit yang di kaki saya itu kok sering jalan.” kata Ibu itu.

“Ya ndak papa, sekarang sudah pergi, jadi tak usah ditakutkan lagi.”

“Anu pak kyai, saya punya cucu di Jakarta, ini baru menempati tempat kontrakan baru, tapi terus-terusan kok anaknya nangis terus tiap hari, apa bisa dibantu pak kyai.” cerita ibu itu.

“Cucunya itu umur berapa bu?” tanyaku.

“Umur 5 tahun pak.”

“Suruh saja menyediakan air, nanti ku transfer, tolong bilang anaknya dikasih minum air itu, dan airnya dipakai memandikan anaknya sebagian, dan sebagian lagi dipakai mengepel rumah, ingat jangan sampai ada yang tertinggal, artinya semua tempat di-pel,”

“Kalau tempatnya ada barang-barangnya bagaimana pak kyai?”

“Ya kan bisa disemprot memakai semprotan air yang kayak semprotan untuk setrikaan.”

“Oo gitu ya pak.?”

“Iya soalnya kalau tidak nanti kayak kemaren ada yang kesini, anaknya rewel, lalu ku kasih air, dan ku suruh mengepel semua, artinya semua tempat harus kena cipratan air, nah pada saat itu ada yang terlewat yaitu di atas lemari, dan anaknya tetap menangis, katanya kalau melihat ke lemari menangis sambil takut dan menyembunyikan diri, ya karena atas lemari tak di-pel, maka jin yang menyerupai kunti itu duduk di atas lemari, jadi anaknya melihat.” jelasku.

“Iya makasih penjelasannya kyai,”

“Kalau gitu saya telponnya dulu kyai…”

“Iya.. suruh saja sedia air,”

Sebentar ibu itu menelepon.

“Maaf kyai, airnya baru dicarikan, apa ada syarat lain pak?”

“Ini air yang aku transfer sifatnya sementara, jadi hanya untuk kepeluan yang mendadak saja, jadi entah di bulan berikutnya, bisa saja jin itu akan kembali lagi.”

“La saya harus bagaimana pak?” tanya Ibu itu.

“Ya biar tidak kembali lagi, maka sebaiknya rumahnya dipagar dengan ditanami batu kerikil yang ditanam di pojokan rumah.”

“Begitu ya pak kyai?”

“Iya, agar jinnya tak kembali lagi, air dan batu itu bukan apa-apa, tak ada apa-apanya, saya hanya mentransfer do’a ke air itu, dan mengisikan do’a ke batu itu…”

“Iya pak kyai, saya paham.”

“Kebetulan, dua hari lagi saya sudah ada rencana ke jakarta, jadi apa besok batunya sudah bisa saya bawa?”

“Bisa, besok saja kesini lagi.” kataku.

“Baik kami berdua mohon diri.” kata Ibu itu.

“Hp ku bunyi.” ku lihat ternyata dari Ibuku di Tuban.

Ku jawab salam lalu ku tanya.

“Ada apa Bu?”

“Ini diminta menyampaikan pesannya pak Muhadi, kakinya sudah sembuh, dan terimakasih banyak, gitu bilangnya.”

“Iya bu.”

…………………………………………..

Dalam niat, kita selalu membekali gerak dan laku dengan niat itu, menjadi bernilai atau tak bernilai setiap perbuatan amaliyah, disandarkan pada niat awal akan melakukan suatu perbuatan, jika kita menjalankan amaliyah dengan disertai niat ikhlas karena semata-mata memenuhi semua perintah Alloh, maka semua gerak selangkah atau setengah langkah, setarikan nafas sekalipun akan bernilai pahala.

Betapa pentingnya menata niat di hati, jangan sampai sudah seribu perjalanan kita tempuh, tapi semua hanya perbuatan sia-sia, seorang yang berakal dan selalu menghitung dengan akalnya, akan menimbang, betapa pendek umur kita di dunia, seandainya banyak sudah perjalanan ditempuh, dan ternyata kebanyakan sia-sia, sedang umur itu mendekati ajal, kontrak kita di dunia itu setiap waktu berkurang masanya, kalau seseorang tak juga menyadari maka pasti akan merugi.

Jika bapak kita mati, ibu kita mati, nenek kita mati, kakek kita mati, apalagi kita yang menjadi anaknya.

Siapa yang bertaqwa pada Alloh, maka Alloh akan memberi jalan keluar terbaik dari permasalahan, dan akan diberi rizqi yang tidak bisa disangka-sangka datangnya.

Jika seseorang tak memotifasi diri, motifasi orang lainpun tak akan membuat diri beranjak dari tidur panjangnya hati, kadang hati itu harus ditundukkan dengan apa yang disenangi, dan apa yang disenangi itu selalu apa yang diharap untuk terjadi di kehidupan kita, orang miskin ingin kaya, orang susah ingin bahagia, orang sakit ingin sembuh, orang tak punya jodoh ingin nikah, dan banyak lagi apa yang kita senangi, apa yang kita senangi sah-sah saja dijadikan motifasi untuk mendekatkan diri pada Alloh, jika miskin perbanyak dzikir yang jalurnya rizqi, apabila sakit perbanyak dzikir yang untuk menyembuhkan penyakit, apabila tak punya jodoh, perbanyak dzikir untuk menyatukan jodoh, jika ketika kita miskin kemudian dzikir yang unsurnya meminta rizqi, itu terijabah, maka akan menumbuhkan rasa cinta akan dzikir.

Memang seseorang itu tak langsung bisa mencapai ikhlas yang paling tinggi, maka tak masalah kita menapak ikhlas paling rendah, dengan membuat harapan balasan atas apa yang diamalkan, setelah apa yang didzikirkan atas rizqi kemudian sering terwujud, maka akan menimbulkan rasa cinta akan dzikir, walau cintanya masih cinta yang dipenuhi berbagai maksud dan keinginan, sebab seorang itu tak bisa menapak langsung ke tataran yang tertinggi, kecuali dari tangga terendah suatu proses cinta Alloh yang hakiki.

Diriku juga masih dalam proses, belum seorang yang ikhlas yang mutlak, tanpa tapi,

Dulu waktu masih masa latihan agar bisa setiap malam tak tidur selamanya, aku melatihnya dengan tiap malam selalu pergi, dari mulai setelah isya’, aku pergi menjelajah malam, sampai pagi datang, berganti teman-teman yang ku ajak menemani, tanpa dzikir, hanya kelayapan, agar aku terbiasa dengan tak tidur malam sama sekali, itu sekitar tiga tahun ku jalankan, setelah itu aku melatih untuk suka dan cinta pada dzikir, aku meminta dalam dzikir dan menyondongkan dengan apa yang di sukai nafsuku, entah perempuan atau uang, sampai waktu dalam latihan, aku selalu punya pacar ada dua puluhan dan mendapat rizqi yang tak disangka-sangka, yang di luar nalar, agar kecendrungan nafsuku tertaklukkan, dan yakin dengan haqul yakin apa yang ku do’akan mendapat ijabah dengan nyata, setelah terbiasa dzikir, maka dzikir malah menjadi cinta, jika tidak dzikir akan terasa hati benar-benar rindu, dan ingin selalu dzikir setiap waktu.

Dan kecendrungan nafsu pun akan menapak pada penundukan kehendak yang lebih remeh dari sekedar apa yang bisa didapat dengan gampang, ingin melihat Alloh menunjukkan hal-hal yang di luar nalar dan logika, tapi kemudian nafsu perlahan tertaklukkan, lalu mendapat hidayah seperti angin yang menghembus dan air yang mengalir, tujuan yang satu kemudian menjadi fokus, kecintaan pada dzikir karena kecintaan pada yang didzikirkan, sedetik tak menyebut Alloh rasa hati seperti kosong berlubang, dan sepi lebih sepi dari kuburan yang tak pernah diziarahi.

Sampai aku menemukan guru, Kyai ku, yang sekarang, perjalanan panjang itu seperti menemukan jawab, apa yang ku perjuangkan dalam proses yang panjang, ternyata telah dirangkum dalam paket-paket tertentu, dan dzikirnya telah tertulis dengan rapi, tak perlu susah melewati proses panjang sepertiku, makanya siapa yang mengamalkan amalan yang ku beri, dan sesuai petunjuk yang telah diijazahkan Kyai ku padaku, akan mendapat anugerah Alloh seperti yang dianugerahkan padaku.

Memang menjadi suatu amalan yang simpel dan tak neko-neko, tapi tetap hidayah itu di tangan Alloh, walau kelihatan sederhana di mataku, juga belum tentu mudah di mata orang lain, sebab ada unsur hidayah di dalamnya.

 Aku yang menjalankan pencarian panjang, dan menemukan hasil dari proses simpel yang diberikan guruku, tak perlu lagi susah melatih bertahun-tahun, malah sepertinya kadang membuat orang tak percaya, jika akan menjalankan, karena sebuah proses begitu mudahnya, itu juga yang kadang menjadi kendala seseorang tak yakin dengan hasil yang akan diperoleh. Sebab masak semudah itu untuk menjadi orang utama, jadinya timbul keraguan karena masih mengukur dengan kemungkinan dan itung-itungan matematika.

Kadang aku sengaja membuat pembuktian-pembuktian pada teman-teman, akan betapa do’a diijabah itu bukan rekayasa, bukan isapan jempol saja, jika ada yang sakit ayo aku obati, gratis dengan do’a, dan itu bukan untuk dianggap sakti, sebab aku sendiri hanya berdo’a, Allohlah yang waidza marid’tu fahua yaswin, yang menyembuhkan segala penyakit jika kita sakit, Allohlah khoirorroziqin, Allohlah yang paling baik pemberi rizqi, itu kita buktikan, kita praktekkan kenyataannya bersama, agar iman kita menjadi iman yang haqul yaqin, kayakinan yang tak tergoyah.

Tiba-tiba aku amat kangen dengan Kyai, aku lalu menanyakan ke santri yang aku tau nomer hp nya, di mana keberadaan Kyai, dan setelah menunggu agak lama, karena bertemu Kyai sedang dibatasi, Kyai sedang ujlah dan tak menemui siapa saja.

Aku diijinkan bertemu tapi harus menunggu dua hari di Cipacung, dan diperintah tidur dulu di kuburan Cipacung, yang sangat angker, orang kampung saja biasanya siang hari tak berani ke kuburan angker itu sendirian, dan kuburannya juga setelah di hutan, tidur di kuburan di tengah hutan, ya biasa saja, karena ketakutan itu hanya milik orang yang tak ada iman kecuali senyala ujung lidi yang terbakar.

Aku pun berangkat ke Pandeglang, dan bermalam di makam.

Tapi baru semalaman kami nginep di kuburan, Kyai sudah menyuruh orang menjemput kami, untuk bertemu.

Dan kami meluncur ke tempat Kyai tinggal, ternyata di rumah orang China yang masuk Islam, dan aku dan teman-teman pun tinggal di rumah itu, yang ku rasakan betapa walau mereka orang China aku merasakan sinar keikhlasan di hati mereka memancar ke setiap gerak gerik mereka mengurus kami para santri Kyai, mereka begitu bersemangat menyediakan saur dan buka kami, dan memberi kejutan-kejutan bingkisan yang membuat hatiku merasa amat jauh dari keikhlasan mereka. Pantesan Kyai yang bisa membaca hati orang lain mengambil keputusan tinggal di rumah orang itu.

Dan kami dianggap seperti saudara sendiri, tentu saja Kyai tinggal di situ, berkah Kyai ku juga seperti matahari yang menyinari daun, dan manusia juga hewan tanpa membedakan.

Namun sayang, Kyai sedang sakit, sakit kali ini bukan asal sakit biasa, tapi sakit karena disantet, keberadaan Kyai sangat dirahasiakan, sehingga tak bisa setiap orang bisa dengan seenaknya menemui. Kyai memanggilku ke dalam ruangan pribadi yang disediakan untuknya, aku duduk takdzim mendengar uraiannya.

“Kyai sedang sakit Ian…, karena dikeroyok oleh banyak tukang santet seantero Indonesia, yang ada sembilan ratusan tukang santet lebih, jika seandainya Kyai tolak, maka sungguh Kyai tak enak sama Alloh, baru diberi cobaan seperti ini, masak Kyai tak mau, jadi semua santet Kyai terima, Kyai biarkan masuk ke tubuh, agar bisa menjadikan Kyai makin dekat dengan Alloh, sekarang tugasmu, juga tugas santri yang lain, untuk melindungi dan mengobati Kyai, memakai ilmu yang pernah Kyai berikan, sekaranglah sa’atnya menunjukkan ketaatan murid pada guru.” kata Kyai sambil duduk, dan sekali waktu salah seorang santri mengusap dengan tisu darah yang bercampur keringat yang keluar dari pori-porinya.

“Iya Kyai… saya siap.” jawabku, “Dengan segenap kemampuanku.”

“Ian.., sekarang kamu obati Kyai, dengan segala daya yang kamu miliki, jika Kyai menyembuhkan diri sendiri amatlah mudah, tapi ini saatnya murid menunjukkan ketaatan dan keperdulian pada seorang guru, sekarang saatmu membuktikan darma baktimu.”

“Murid siap Kyai.., mohon Kyai selalu membimbing murid, agar murid bisa memberikan yang terbaik.” kataku.

“Kau tariklah panas di tubuhku, tubuhku rasanya seperti direbus dan dibakar dengan api.” kata Kyai.

Aku pun mulai mengusahakan kesembuhan Kyai dengan caraku, yang diajarkan Kyai, setiap kali tanganku kubuat menarik kekuatan jahat yang mengeram di badan Kyai, maka tanganku sampai sebatas pergelangan terasa panas kayak orang kena cabe. Juga lenganku agak memerah, karena panasnya. Sementara dari pori-pori Kyai merembes keluar keringat yang bercampur darah, sehingga jika diusap dengan tisu maka di tisu akan ada bekas darah bening, karena keringat yang bercampur darah, aku tak kuasa membayangkan, rasanya disantet dikroyok ratusan orang, aku sampai meneteskan air mata, jika membayangkan hal seperti itu.

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...