Sabtu, 30 Januari 2016

Repost dakwah walisongo

Nuruddin.
" BOROBUDUR, PRAMBANAN DAN WALI SONGO "

Jika melihat bentuk dan besarnya Candi Borobudur dan Prambanan sangat mungkin sekali bahwa pada zaman dahulu di Nusantara ini juga berdiri bangunan-bangunan tempat serupa di masing-masing daerah tempat tinggal masyarakat. Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat yang kecil-kecil dulu.

Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha amat sangatlah banyak. Bahasa kerennya masa kini adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?

Kalau Anda belajar sejarah, Anda bakal makin heran dengan Walisongo. Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah kedua, Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; orang Indonesia tetap tidak mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima orang Indonesia. Agama Islam hanya dipeluk segelintir orang asing.

Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Vietnam bagian utara. Setelah beberapa dekade, setelah dua anaknya tumbuh dewasa, yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat, dan beberapa muridnya juga sudah dewasa, misalnya Sunan Giri, maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi utamanya adalah menyebarkan agama Islam ke penduduk pribumi.

Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam. Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, dakwah Walisongo berhasil mengislamkan hampir semua manusia nusantara. Mungkin waktu itu populasinya belasan juta orang.

Harap diingat, zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam, jadi tantangan dakwahnya luar biasa berat. Jalanan pun tidak ada yang diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang, maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa berat.

Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana Walisongo bisa melakukan mission impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Para sejarawan dunia sepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat sukses besar. Menurut saya pribadi, jawaban para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya pribadi, tentu masih bisa salah. Pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma "bungkusnya", yang benar-benar bikin beda adalah "isi" dakwah Walisongo.

Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis "bungkus" dan "isi" yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu alim ulama "satu-satunya".

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar, sahabat Umar, sahabat Utsman, calon mantunya Ali, dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi benar-benar only one yang tidak sesat. Tapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mengikuti risalah yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW sangat amat sabar menerangi orang-orang yang tersesat. Meski kepalanya dilumuri kotoran, meski mukanya diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan.

Walisongo mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang. Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya selametan rumah dengan menaruh sesajen di sudut kamar. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, "Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya."

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid. "Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang tidak terurus?" Sunan yang ditanyai hanya tertawa mendengarnya, lalu minta ditemani nonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, "Bagus ya cerita wayangnya..." Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?" tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, "Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan."

Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah mengerti konsep tauhid. Begitulah "isi" dakwah walisongo; mengutamakan perasaan orang lain.

Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Beliau dengan bijaksana menyatakan bahwa tidak boleh ada yang menyembelih hewan sapi saat Idul Adha, walaupun syariat Islam jelas menghalalkan. Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf.

Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Dengan bercanda beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja. Jadi tidak perlu cari gara-gara, makan daging kerbau saja juga enak. Kemudian beliau menyampaikan di depan khalayak umum bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi.

Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat al-Baqarah (Sapi Betina). Kemudian dengan nuansa kekeluargaan, sama sekali tidak seperti gaya khotbah-khotbah di televisi kita, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut. Justru karena welas asihnya sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, malah gotong royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.

Kalau Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125. Ud'u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau'izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wa Huwa a'alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama ahlussunnah wal jama'ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud'u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah "Ajaklah ke jalan Tuhanmu", tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra. Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya adalah "mengajak", bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat "lebih baik" di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, jangan ditafsirkan secara terjemahan bahasa Indonesia apa adanya. Bisa kacau balau.

Para pendakwah justru harus menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Jelas itu ngawur. Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapat petunjuk. Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sok suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama menuju jalanNya.

Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, Anda sekalian jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, kesuksesan dakwah Walisongo bukanlah hal yang aneh. Kanjeng nabi yang sendirian saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang hanya ditugasi Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.

Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja. Pertama, karena niat yang suci. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi. Kalau ada yang sakit, tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau membangun rumah, murid-muridnya disuruh membantu. Bahkan, kepada yang menyakiti, beliau-beliau tersebut tetap mendoakan.

Kedua, karena satu kata satu perbuatan. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut yang menjadi pihak pertama yang mempraktekkan. Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya. Semuanya dimanusiakan, karena Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil-alamin. Bukannya rahmatan lil-kelompokku.

Begitulah... Saya sangat senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin tentunya. Pasalnya, di tengah ketidakberdayaan saya menatap para ustadz-ustadzah yang gemar memvonis orang lain masuk neraka, saya sering merindukan Walisongo.

Saat ini orang yang sudah masuk agama Islam malah didakwahi. Saat ini orang yang belum dijalanNya, malah dikejar-kejar lalu dipukuli. Tidak ada ruh dakwah, yang ada hanya hawa nafsu. Gaya dakwah ala Rasulullah SAW makin sulit ditemukan, karena gaya dakwah penuh kebencian sambil marah-marah ala Abu Jahal kini semakin menjadi tren.

Tulisan ini bukan untuk menjawab orang-orang yang sering meremehkan Walisongo. Tulisan ini hanyalah tulisan rindu suasana dakwah wali songo.

Senin, 18 Januari 2016

DIA, DIA DAN HANYA DIA

DIA, DIA DAN HANYA DIA

Tuhan...
Jika memang bukanlah dia yang seharusnya aku cinta
tapi mengapa mesti dia yang selalu ada dalam dada ?

Bila memang bukanlah dia yang semestinya aku rindu
tapi kenapa harus dia yang selalu hadir di dalam kalbu ?

Kalau memang benar-benar bukan dia yang seharusnya aku suka,
tapi mengapa dia yang tetap ada dalam relung jiwa ?

Jika memang bukanlah dia yang semestinya aku sayang
tapi entah kenapa dia,, dia  dan hanya dia yang tetap singgah dalam setiap
khayalan disaat ku tenggelam dalam lamunan ?

Tuhan ..
Jika memang bukanlah dia yang seharusnya aku ingat dalam fikiran
namun entah kenapa dia semakin sulit untuk dilupakan ?

Bila memang bukanlah dia yang semestinya aku puja
tapi mengapa diriku selalu saja membanggakan dirinya ?

*Kalau memang dia tercipta bukanlah untukku, *
namun entah kenapa di dalam benakku selalu terbersit sepercik harapan rasa inginku tuk memilikinya ?

Tuhan ..
Mengapa ini semua harus terjadi ?
Dalam kesendirianku, dia yang selalu hadir ke dalam lautan angan.
Dalam lamunanku, dia terkadang datang menyapa jiwa yang hampa.
Dalam diamku, hanya dia yang selalu aku kenang dan aku rindukan.
Dalam khayalan hanya dia yang selalu hadir terbayang.

Tuhan,,, Malam ini....
bintang bersinar cinta,
bulan tersenyum sayang,
angin mendesir rindu
Mereka mengerti kedalaman hatiku ..

Bahwa Aku mencintai dia..
Bukan kemarin atau saat ini..
tapi,, kemarin, kini dan nanti adalah saat saat aku kan terus mencintainya ...
Sungguh Aku Sangat mencintainya karenaMU ya _ALLAH_…

Baca Puisi terindah via yang laiinya _ _SATU RINDUKU hanya di http://goo.gl/OUnBo7

Kamis, 14 Januari 2016

"SULUK SYEIKH JANGKUNG"

SULUK SYAIKH JANGKUNG

MUQADIMAH
Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci.
Artinya :
Bismillah, malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yg suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.

Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah.
Artinya :
Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.
 
Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi.
Artinya :
Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yg mengawali, menulis surat yg dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.

Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati.
Artinya :
Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yg buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yg baik.

Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab.
Artinya :
Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yg bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.

Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci.
Artinya :
Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yg keluar, hati yg suci, tanda hidup yg sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yg suci.

Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang tinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi.
Artinya :
Yang tertulis bukan ajaran, yg tertulis bukan tuntunan, surat ini sekadar memahami, apa yg tersebut dalam Kitab Suci, surat ini sekadar mengetahui, perilaku hidup Kanjeng Nabi.

Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.
Artinya :
Apa yang ada di surat ini, hanya rasa kesedihan hati, hati yg tiada berdaya, melihat sikap perilaku saudara, yg jauh dari budi, budi rasa kemanusiaan, hilang sudah apa yg menjadi tuntunan.

Mugi2 dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur.
Artinya :
Semoga menjadi petunjuk, terhadap diri hamba sendiri, syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yg menjadi permohonan, di hadapan Dzat Yang Mahaagung.

1. SYARIAT

Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran.
Artinya :
Mengertilah kalian semua, terimalah dengan segala kerendahan jiwa, terimalah dengan tulus dan rela, apa yg menjadi ketetapan dan aturan, apa yg telah digariskan, untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.

Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi.
Artinya :
Istilah syarak adalah bahasa Arab, yg berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’, untuk itulah diperbolehkan memilih, mana yg akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri, guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.

Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti.
Artinya :
Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal, selama diri ini mampu untuk menjalankan, aturan yg menjadi pegangan hidup kita, aturan yg sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an, Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat.
Artinya :
Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan, bertemunya raga dengan apa yg dikata, ada juga yg memberi pengertian, bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat, menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.

Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton.
Artinya :
Syari`at atau Sembah Raga itu, merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri, dengan cara mengikuti peraturan2 yg ada, dan yg sudah ditentukan—rukun Islam.

Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu.
Artinya :
Maka ingat2lah apa yg tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.

Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri.
Artinya :
Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yg sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yg lain.

Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan.
Artinya :
Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.

SYAHADAT

Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman.
Artinya :
Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yg ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh2 membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.

Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi.
Artinya :
Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.

Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat.
Artinya :
Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.

SHALAT
Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat.
Artinya :
Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yg suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yg ditulis.

Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat.
Artinya :
Delapan belas yg menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yg mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.

Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah.
Artinya :
Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yg benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.

Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir,banjur maos pamuji dikir.
Artinya :
Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.

Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan,
sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan.
Artinya :
Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yg pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.

ZAKAT
Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan2 awak déwé leno.
Artinya :
Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yg hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali2 kita lupa.

Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo.
Artinya :
Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.

Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo.
Artinya :
Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.

PUASA
Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam.
Artinya :
Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yg mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.

Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah2 kang digawé.
Artinya :
Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati2, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.

Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos2 ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya.
Artinya :
Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati2 jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.

HAJI
Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah, menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan.
Artinya :
Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.

Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan.
Artinya :
Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yg betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.

Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali.
Artinya :
Ikhram beserta niat, menjadi rukun yg pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.

2. THARIQAT
Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling.
Artinya :
Puji syukur Dzat Yang Penyayang, tarekat hanyalah sekadar jalan, bertemunya ucapan dalam pikiran, menimbang memilih dengan tenang, benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.

Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara.
Artinya :
Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yg sebenarnya, mencegah nafsu yg merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.

Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu.
Artinya :
Kiranya juga memberi penuturan, makna tarekat yg luhur, diibaratkan laksana samudera, dengan syariat sebagai perahunya, yg ditemukan dengan ilmu.

Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti.
Artinya :
Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.

Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan, rahmat welas asihing Pangeran.
Artinya :
Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.

SYAHADAT
Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati.
Artinya :
Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.

Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi.
Artinya :
Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.

Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam, pat belas iku aran kadiran.
Artinya :
Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.

Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep.
Artinya :
Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yg tetap.

Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah, anteng-meneng teteping amanah.
Artinya :
Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.

Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi.
Artinya :
Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.

SHALAT
Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam.
Artinya :
Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama, agama budi yg bernama Islam, rasul Muhammad yg menjadi perantara, turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.

Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso.
Artinya :
Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.

Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.
Artinya :
Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar, sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.

Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan.
Artinya :
Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yg tersembunyi, makna sesungguhnya lima waktu, karenanya hamba memohon, tambahnya doa Anda sekalian.

ISYAK
Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan.
Artinya :
Hamba mulai dengan isyak, waktu gelap dalam jiwa, malam bersama cahaya bulan, bersanding bintang bertambah terang, menerangi gelapnya jalan.

Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti, ingkang tansah angrencangi.
Artinya :
Seperti itu jasad kamu, di dalam rahim seorang ibu, sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yg senantiasa menemani.

SHUBUH
Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan, sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan.
Artinya :
Kemudian shubuh setelah fajar, lalu matahari keluar bersinar, terang benderang semua keadaan, bersama tertawa badan sehat, berjalan mencari kehidupan.

Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur, batin ingkang agung.
Artinya :
Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yg luhur, batin yg agung.

ZHUHUR
Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé, lérén sedélok gonmu agawé.
Artinya :
Zhuhur terangnya siang, menancap di atas ubun2, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.

Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné.
Artinya :
Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu, dari kecil hingga dewasa, saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.

ASHAR
Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu.
Artinya :
Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan, hanya sekadar menuruti hawa nafsu.

Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso.
Artinya :
Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa, ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua, bisalah engkau merasa, janganlah engkau merasa bisa.

MAGHRIB
Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat.
Artinya :
Maghrib mendekati malam, matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.

Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika, wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa.
Artinya :
Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.

ZAKAT
Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah, ngedalaken zakat pitrah.
Artinya :
Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.

Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih, zakat mal kanthi pekulih.
Artinya :
Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.

Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam.
Artinya :
Fakir, miskin, orang berpergian, ibn sabil dinamakan, kemudian amil, orang yg banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang, muallaf yg baru masuk Islam.

Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman.
Artinya :
Zakat melatih jiwa dan raga, menjalankan kebajikan dengan rela, merasakan penderitaan sesame, mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.

PUASA
Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.
Artinya :
Puasa badan mudah dilakukan, mencegah makam dan minum sepanjang hari, namun puasa jiwa, itu yg seharusnya dijaga, menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.

Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi.
Artinya :
Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yg dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.

HAJI
Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo.
Artinya :
Haji menjadi kesempurnaan, rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yg mulia, jika ada kelebihan harta.

Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan.
Artinya :
Tapi janganlah engkau keliru, memahami apa yg dituju, karena haji hanya sekadar jalan, bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.

Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna.
Artinya :
Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga, karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah.

Sumber: alangalangkumitir

Rabu, 13 Januari 2016

"KENANGAN KU"

Kadang ku ingin dirimu ada di samping ku ketika ku rasa sendiri tapi itu tak mungkin dirimu ada dimana, dan diriku ada dimana mungkin itu hanya angan semata untukku..

wahai kau yang slalu ku puja mengapa kau berada jauh disana ? tak pernah disini, tuk temaniku berdiri mungkin hanya rasaku yang terlalu tinggi mencintaimu tanpa bisa dicintai. kau hanya hadir dalam hati..sampai saat ini ku tak tau mengapa ku sangat menyayangimu apa ini perasaan yang juga kau rasakan padaku ? atau mungkin hanya aku yang merasakan sesungguhnya, ku ingin kau rasa apa yang ku rasa tapi ku tak bisa memaksakan itu karna cinta memang tidak bisa dipaksakan bagiku kau adalah belahan jiwa bagiku kau adalah pengisi hati bagiku kau adalah segalanya dan bagiku kau adalah orang yang pantas untuk dicintai
.
Cinta ..
.
Sayang ..
.
Kata - kata yang manis ..
.
tapi itu hanyalah sebuah kata kata yang tak pernah ku dapatkan kenyataan itu dari mu dalam hati ku bertanya, kapan kan ku dapatkan itu ? semua kata manis yang maknanya benar - benar manis namun kini semua tinggal kenangan kenangan yang entah akan ku kenang atau mungkin ku lupakan kini telah hadir seseorang di hatimu yang kau tunggu dan itu bukan aku bukan aku yang ada di hatimuandai saja waktu dapat ku putar kembalikan ku bawa kau matiagar dapat hidup abadi bersama diriku yang sepi kini …

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...